Internasional
Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026

Trending
Pemerintah Evakuasi WNI dari Iran, Dua Pekerja Migran Sudah Tiba di Indonesia
Internasional
| Rabu, 11 Maret 2026

7 WNI Tewas dalam Insiden Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia
Internasional
| Rabu, 13 Mei 2026

Indonesia Pimpin Sidang ke-61 Dewan HAM PBB, Angkat Tema “Presidensi untuk Semua”
Internasional
| Jumat, 20 Februari 2026

Iran Dikabarkan Serang Pangkalan Diego Garcia, Tunjukkan Jangkauan Rudal Jarak Jauh
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Internasional
| Sabtu, 16 Mei 2026

FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global “W3LL”, Ribuan Korban Terdampak
Internasional
| Kamis, 23 April 2026

Iran Klaim Lebih Siap Hadapi Serangan, Ketegangan dengan AS Kian Memuncak
Internasional
| Selasa, 27 Januari 2026

Iran Ancam Balasan Tanpa Batas Jika Infrastruktur Diserang Israel
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Parlemen Inggris Desak Penguatan Pertahanan Mandiri, Kurangi Ketergantungan pada AS
Internasional
| Jumat, 27 Maret 2026

Menlu Sugiono Tegaskan Komitmen RI Dukung Palestina dan Dorong Resolusi Konflik Myanmar di Dewan HAM PBB
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026

Berita Terbaru
Internasional

Trump Klaim AS–Iran Hampir Capai Kesepakatan Damai, Negosiasi Masuk Tahap Akhir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan. Dalam pernyataannya di Ruang Oval pada Kamis (11/6), Trump mengatakan bahwa dokumen kesepakatan sudah berada pada tahap final dan tinggal menunggu penyelesaian akhir. “Dokumen-dokumennya sudah hampir final, jadi kita lihat saja nanti. Seharusnya bisa diselesaikan dengan cukup cepat,” ujar Trump. Di sisi lain, pejabat Iran juga menyampaikan optimisme serupa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa proses negosiasi antara kedua pihak belum pernah sedekat ini dengan kesepakatan final. Ia menyebut bahwa tahap akhir pembahasan sedang berlangsung, meski mengingatkan agar media tidak berspekulasi mengenai isi detail kesepakatan sebelum diumumkan secara resmi. Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa sebagian besar isu utama telah disepakati dan saat ini kedua pihak berada pada tahap akhir konsultasi internal. Menurut laporan, kesepakatan yang sedang dibahas mencakup isu-isu strategis seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, keamanan kawasan termasuk Selat Hormuz, serta dinamika konflik di Lebanon. Jika finalisasi tercapai, penandatanganan kesepakatan disebut kemungkinan akan dilakukan di Jenewa, Swiss, dan akan dilanjutkan dengan fase negosiasi teknis selama 60 hari. Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan panjang antara kedua negara yang meningkat sejak konflik militer besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Meski sempat terjadi gencatan senjata pada April, situasi di lapangan masih fluktuatif akibat saling serang dan perbedaan kepentingan strategis antara Washington dan Teheran.
Internasional
| Sabtu, 13 Juni 2026
Internasional

Iran Tegaskan Tetap Berhak Perkaya Uranium dan Kendalikan Selat Hormuz dalam Negosiasi dengan AS
Iran dilaporkan tetap bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium serta mengatur lalu lintas di Selat Hormuz dalam proses negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa draf kesepakatan antara Washington dan Teheran telah rampung. Namun, pihak Iran menegaskan bahwa sejumlah isu utama masih menjadi posisi yang tidak bisa dinegosiasikan. Media resmi Iran IRNA, dikutip AFP, menyebut bahwa hak untuk memperkaya uranium serta penyimpanan material nuklir yang diperkaya akan tetap menjadi bagian yang diperjuangkan dalam perjanjian akhir. Iran menilai hal tersebut sebagai hak kedaulatan yang tidak dapat dihapuskan dari meja perundingan. Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat disebut telah berlangsung secara tidak langsung selama beberapa minggu terakhir, sebagai upaya untuk meredakan konflik yang meningkat sejak eskalasi militer pada 28 Februari. Meski sempat terjadi gencatan senjata pada April, ketegangan di lapangan dilaporkan masih berlanjut secara sporadis. Dalam laporan yang sama, Iran juga menegaskan posisinya terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Teheran disebut ingin memiliki kendali ketat terhadap lalu lintas kapal yang melintas, termasuk pemberian izin oleh otoritas militer Iran. Sementara itu, Israel sebagai sekutu dekat AS menyatakan bahwa Washington berkomitmen dalam setiap kesepakatan untuk memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap material uranium yang diperkaya untuk kepentingan militer. Namun, Iran membantah bahwa klausul tersebut termasuk dalam agenda resmi pembahasan. Perbedaan pandangan yang tajam ini membuat proses negosiasi masih jauh dari kata final, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan kembalinya eskalasi konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah.
Internasional
| Jumat, 12 Juni 2026
Internasional

Netanyahu Klaim Sepakat dengan Trump, Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya telah mencapai kesepakatan penuh dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dalam pernyataan resminya pada Jumat (12/6), Netanyahu menegaskan bahwa selama dirinya menjabat, Iran tidak akan dibiarkan memiliki kemampuan nuklir militer. “Selama saya menjadi perdana menteri Israel, Iran tak akan punya senjata nuklir,” kata Netanyahu, dikutip AFP. Ia juga menyebut bahwa terdapat kesamaan pandangan antara dirinya dan Trump dalam isu tersebut. “Ada kesepakatan penuh antara saya dan Presiden Trump soal masalah ini,” ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa bulan terakhir saling melancarkan serangan dan serangan balasan di berbagai titik konflik. Israel dan AS diketahui menjadikan isu program nuklir Iran sebagai salah satu alasan utama dalam tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran. Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari itu disebut telah menimbulkan korban besar, termasuk warga sipil di beberapa wilayah terdampak. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan energi, bukan untuk senjata nuklir. Teheran juga menolak tekanan Washington untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Sementara itu, upaya gencatan senjata permanen antara kedua pihak masih belum menunjukkan kemajuan berarti, di tengah perbedaan tajam terkait masa depan program nuklir Iran dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Internasional
| Jumat, 12 Juni 2026
Berita Populer
Internasional

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026
Internasional

Pemerintah Evakuasi WNI dari Iran, Dua Pekerja Migran Sudah Tiba di Indonesia
PIFA, Internasional - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) Christina Aryani mengapresiasi langkah cepat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam memfasilitasi evakuasi warga negara Indonesia (WNI), termasuk dua pekerja migran Indonesia (PMI), dari Iran. “Kami mengapresiasi langkah cepat Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI yang telah memfasilitasi pemulangan WNI dari Iran, termasuk dua pekerja migran Indonesia. Keselamatan warga negara, termasuk PMI, menjadi prioritas pemerintah,” kata Christina dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (11/3). Evakuasi tersebut dilakukan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Christina mengatakan langkah evakuasi ini menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan WNI di luar negeri, termasuk para pekerja migran. Secara keseluruhan, sebanyak 32 WNI dijadwalkan dievakuasi secara bertahap dari Iran. Mereka terdiri atas 10 pekerja profesional, satu pengajar atau jurnalis, 14 pelajar atau mahasiswa, dua pekerja migran Indonesia, serta lima wisatawan. Dua PMI yang telah dipulangkan adalah Ali Husein dan Tetap Segar, yang berasal dari Jawa Barat dan bekerja di sektor manufaktur. Keduanya telah tiba di Indonesia pada 10 Maret 2026. “Berdasarkan koordinasi dengan Direktorat Pelindungan WNI Kemlu, kedua pekerja migran ini juga pernah dievakuasi tahun lalu,” ujar Christina. Berdasarkan rilis Kemlu, proses evakuasi dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, sebanyak 22 WNI telah tiba dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa setelah menempuh perjalanan dari Baku, Azerbaijan. Sementara itu, 10 WNI lainnya dijadwalkan tiba pada tahap kedua pada Rabu. Christina menegaskan bahwa meskipun Iran bukan negara penempatan resmi pekerja migran Indonesia, pemerintah tetap memberikan pelindungan kepada seluruh WNI yang berada di wilayah tersebut. “Meski Iran bukan negara penempatan resmi PMI, pemerintah tetap hadir untuk memastikan setiap warga negara Indonesia mendapatkan pelindungan, terutama dalam situasi darurat seperti konflik,” katanya. Ia menambahkan bahwa kementeriannya terus berkoordinasi dengan Kemlu dan perwakilan RI di kawasan Timur Tengah untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan para PMI tetap mendapat pelindungan. Berdasarkan data KBRI Teheran, saat ini terdapat sekitar 329 WNI yang berada di Iran. Mayoritas merupakan pelajar atau mahasiswa yang terkonsentrasi di kota Qom, sementara sisanya adalah pekerja serta ekspatriat.
Internasional
| Rabu, 11 Maret 2026
Internasional

7 WNI Tewas dalam Insiden Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia
Sebanyak tujuh warga negara Indonesia (WNI) ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya hilang dalam insiden kapal tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Perak, Malaysia, Senin (11/5/2026). Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengatakan ketujuh korban ditemukan dalam proses pencarian yang dilakukan otoritas Malaysia. “Dari 14 orang WNI yang sebelumnya dalam proses pencarian, tujuh orang telah ditemukan meninggal dunia,” kata Heni dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026). Saat ini, jenazah para korban berada di rumah sakit di Perak untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang setempat. Sementara itu, tujuh WNI lainnya hingga kini masih dalam pencarian. Sebelumnya, kapal yang membawa 37 WNI tenggelam di perairan Pulau Pangkor. Sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan, sedangkan 14 lainnya dinyatakan hilang. Berdasarkan hasil penyelidikan awal Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA), para penumpang diduga berangkat dari Kisaran, Sumatra Utara, pada 9 Mei dengan tujuan sejumlah wilayah di Malaysia seperti Penang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur untuk bekerja. Kemlu RI menyebut sebagian besar WNI tersebut tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah. Pemerintah Indonesia juga akan mengirim tim untuk menelusuri keluarga korban yang diduga berasal dari Sumatra Utara guna membantu proses identifikasi dan penanganan administrasi. Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur saat ini terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia terkait penanganan korban dan fasilitasi kekonsuleran bagi para WNI terdampak. Pemerintah turut mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan jalur ilegal atau nonprosedural untuk bekerja ke luar negeri.
Internasional
| Rabu, 13 Mei 2026
Feeds
Trump Klaim AS–Iran Hampir Capai Kesepakatan Damai, Negosiasi Masuk Tahap Akhir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington dan Teheran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan. Dalam pernyataannya di Ruang Oval pada Kamis (11/6), Trump mengatakan bahwa dokumen kesepakatan sudah berada pada tahap final dan tinggal menunggu penyelesaian akhir. “Dokumen-dokumennya sudah hampir final, jadi kita lihat saja nanti. Seharusnya bisa diselesaikan dengan cukup cepat,” ujar Trump. Di sisi lain, pejabat Iran juga menyampaikan optimisme serupa. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa proses negosiasi antara kedua pihak belum pernah sedekat ini dengan kesepakatan final. Ia menyebut bahwa tahap akhir pembahasan sedang berlangsung, meski mengingatkan agar media tidak berspekulasi mengenai isi detail kesepakatan sebelum diumumkan secara resmi. Senada dengan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menegaskan bahwa sebagian besar isu utama telah disepakati dan saat ini kedua pihak berada pada tahap akhir konsultasi internal. Menurut laporan, kesepakatan yang sedang dibahas mencakup isu-isu strategis seperti program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, keamanan kawasan termasuk Selat Hormuz, serta dinamika konflik di Lebanon. Jika finalisasi tercapai, penandatanganan kesepakatan disebut kemungkinan akan dilakukan di Jenewa, Swiss, dan akan dilanjutkan dengan fase negosiasi teknis selama 60 hari. Negosiasi ini berlangsung di tengah ketegangan panjang antara kedua negara yang meningkat sejak konflik militer besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Meski sempat terjadi gencatan senjata pada April, situasi di lapangan masih fluktuatif akibat saling serang dan perbedaan kepentingan strategis antara Washington dan Teheran.
Internasional
| Sabtu, 13 Juni 2026

Iran Tegaskan Tetap Berhak Perkaya Uranium dan Kendalikan Selat Hormuz dalam Negosiasi dengan AS
Iran dilaporkan tetap bersikeras mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium serta mengatur lalu lintas di Selat Hormuz dalam proses negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa draf kesepakatan antara Washington dan Teheran telah rampung. Namun, pihak Iran menegaskan bahwa sejumlah isu utama masih menjadi posisi yang tidak bisa dinegosiasikan. Media resmi Iran IRNA, dikutip AFP, menyebut bahwa hak untuk memperkaya uranium serta penyimpanan material nuklir yang diperkaya akan tetap menjadi bagian yang diperjuangkan dalam perjanjian akhir. Iran menilai hal tersebut sebagai hak kedaulatan yang tidak dapat dihapuskan dari meja perundingan. Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat disebut telah berlangsung secara tidak langsung selama beberapa minggu terakhir, sebagai upaya untuk meredakan konflik yang meningkat sejak eskalasi militer pada 28 Februari. Meski sempat terjadi gencatan senjata pada April, ketegangan di lapangan dilaporkan masih berlanjut secara sporadis. Dalam laporan yang sama, Iran juga menegaskan posisinya terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk. Teheran disebut ingin memiliki kendali ketat terhadap lalu lintas kapal yang melintas, termasuk pemberian izin oleh otoritas militer Iran. Sementara itu, Israel sebagai sekutu dekat AS menyatakan bahwa Washington berkomitmen dalam setiap kesepakatan untuk memastikan Iran tidak memiliki akses terhadap material uranium yang diperkaya untuk kepentingan militer. Namun, Iran membantah bahwa klausul tersebut termasuk dalam agenda resmi pembahasan. Perbedaan pandangan yang tajam ini membuat proses negosiasi masih jauh dari kata final, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan kembalinya eskalasi konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah.
Internasional
| Jumat, 12 Juni 2026

Netanyahu Klaim Sepakat dengan Trump, Tegaskan Iran Tak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan dirinya telah mencapai kesepakatan penuh dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait upaya mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Dalam pernyataan resminya pada Jumat (12/6), Netanyahu menegaskan bahwa selama dirinya menjabat, Iran tidak akan dibiarkan memiliki kemampuan nuklir militer. “Selama saya menjadi perdana menteri Israel, Iran tak akan punya senjata nuklir,” kata Netanyahu, dikutip AFP. Ia juga menyebut bahwa terdapat kesamaan pandangan antara dirinya dan Trump dalam isu tersebut. “Ada kesepakatan penuh antara saya dan Presiden Trump soal masalah ini,” ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa bulan terakhir saling melancarkan serangan dan serangan balasan di berbagai titik konflik. Israel dan AS diketahui menjadikan isu program nuklir Iran sebagai salah satu alasan utama dalam tekanan militer dan diplomatik terhadap Teheran. Konflik yang berlangsung sejak 28 Februari itu disebut telah menimbulkan korban besar, termasuk warga sipil di beberapa wilayah terdampak. Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa program pengayaan uraniumnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan energi, bukan untuk senjata nuklir. Teheran juga menolak tekanan Washington untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium. Sementara itu, upaya gencatan senjata permanen antara kedua pihak masih belum menunjukkan kemajuan berarti, di tengah perbedaan tajam terkait masa depan program nuklir Iran dan keamanan kawasan Timur Tengah.
Internasional
| Jumat, 12 Juni 2026

Serangan Udara Israel Hantam Area Rumah Sakit di Tyre, Lebanon: 1 Tewas dan 17 Terluka
Serangan udara Israel dilaporkan menghantam sebuah bangunan permukiman yang berada di dekat rumah sakit di Kota Tyre, Lebanon selatan, pada Kamis (11/6). Insiden tersebut menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil serta tenaga medis. Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), sedikitnya satu orang tewas dan 17 lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah korban luka, 10 di antaranya merupakan tenaga kesehatan, termasuk perawat, yang terkena pecahan kaca dan puing bangunan akibat ledakan. Serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada fasilitas rumah sakit di sekitar lokasi. Sejumlah ruang gawat darurat serta kamar pasien dilaporkan terdampak akibat kuatnya ledakan yang mengguncang kawasan tersebut. Bangunan yang menjadi sasaran disebut merupakan gedung permukiman yang berlokasi dekat fasilitas kesehatan di Tyre. Hingga kini, identitas korban tewas maupun kondisi detail para korban luka belum diumumkan secara resmi. Kerusakan ini menambah kekhawatiran atas keselamatan warga sipil dan layanan kesehatan di Lebanon selatan, wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir kerap menjadi titik ketegangan dan serangan lintas perbatasan. Sementara itu, pihak berwenang Lebanon masih melakukan pendataan korban serta menilai tingkat kerusakan di lokasi kejadian. Hingga laporan ini disusun, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait serangan tersebut.
Internasional
| Kamis, 11 Juni 2026

Iran–AS Saling Ancaman, Parlemen Iran: “Trump Harus Menyerah”
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak setelah kedua negara saling melontarkan ancaman di tengah eskalasi serangan militer di sejumlah wilayah Iran. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran Ebrahim Rezaei menyatakan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi yang harus mengalah dalam konflik yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa tidak ada opsi lain bagi Washington selain menyerah dalam situasi tersebut. “Ini tidak diragukan lagi bahwa Amerika lah yang harus menyerah dalam pertempuran ini,” kata Rezaei. Dalam pernyataan di platform X, Rezaei juga menyindir Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan mengatakan bahwa Trump hanya memiliki dua pilihan dalam konflik ini: menyerah atau menyerah. “Trump tidak memiliki lebih dari dua jalan: dia harus menyerah, atau dia harus menyerah,” tulisnya. Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan yang dilakukan Amerika Serikat ke wilayahnya dan menilai bahwa proses gencatan senjata yang sebelumnya diupayakan kini menjadi tidak bermakna akibat eskalasi terbaru. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan melakukan serangan balasan terhadap posisi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Media Iran menyebut target serangan mencakup fasilitas militer di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Iran juga dikabarkan mengambil langkah memperketat kontrol di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia. Sementara itu, Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan meningkatkan tekanan militer terhadap Iran. Ia menyebut Washington akan melancarkan serangan besar terhadap sejumlah target dan mengisyaratkan rencana penguasaan fasilitas strategis minyak Iran, termasuk Pulau Kharg. Militer AS sebelumnya mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran dengan alasan pertahanan diri. Serangan tersebut dilaporkan terjadi di beberapa wilayah, termasuk Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Sirik, Minab, hingga Karaj di dekat Teheran. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat rangkaian serangan terbaru tersebut, di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.
Internasional
| Kamis, 11 Juni 2026

Trump Marah ke Iran, Sebut Negosiasi Terlalu Lama dan Ancam Konsekuensi
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap Iran, dengan menilai proses negosiasi antara Washington dan Teheran berjalan terlalu lambat dan tidak menghasilkan kesepakatan yang cepat. Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Iran sebagai “si perundung Timur Tengah” dan menegaskan bahwa negara tersebut akan “membayar harga” atas keterlambatan dalam mencapai kesepakatan. “Si perundung Timur Tengah telah mati! Mereka terlalu lama bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan sangat menguntungkan mereka, sekarang mereka harus membayar harganya!” tulis Trump. Pernyataan itu kontras dengan sebelumnya, ketika Trump sempat menyatakan optimisme bahwa kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dapat tercapai dalam hitungan hari. Ia bahkan menyebut negosiasi berada di tahap akhir untuk menghasilkan perjanjian yang mencegah pengembangan senjata nuklir. Namun, situasi kemudian kembali memburuk setelah Trump menuduh Iran menembak jatuh sebuah helikopter militer AS jenis Apache di dekat Selat Hormuz. Ia menilai insiden tersebut sebagai provokasi yang memaksa Washington untuk merespons secara militer. “AS harus merespons ini,” tulisnya dalam pernyataan terpisah. Tak lama setelah tuduhan tersebut, militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Iran di sekitar Selat Hormuz. Serangan itu kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang fasilitas militer AS di kawasan negara-negara Teluk. Eskalasi terbaru ini kembali memperburuk ketegangan yang sebelumnya sempat diupayakan diredakan melalui jalur diplomasi, namun kini kembali memasuki fase konfrontasi terbuka antara kedua negara.
Internasional
| Rabu, 10 Juni 2026

Pangkalan Udara Israel Dilaporkan Rusak Usai Serangan Rudal Iran
Pangkalan Angkatan Udara Israel dilaporkan mengalami kerusakan signifikan setelah dihujani rudal Iran dalam eskalasi terbaru konflik di awal Juni. Kerusakan terparah disebut terjadi pada hanggar jet tempur di Pangkalan Udara Ramat David yang berada di wilayah utara Israel. Berdasarkan analisis citra satelit beresolusi rendah dari Soar pada Senin (8/6), media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan adanya perubahan visual berupa “titik gelap” di area hanggar tersebut jika dibandingkan dengan citra pada 5 Juni. Laporan itu mengindikasikan kemungkinan hanggar tersebut terkena serangan saat eskalasi dengan Iran, meski detail tingkat kerusakan masih belum dapat dipastikan. Namun demikian, laporan tersebut juga menyebut bahwa belum ada kejelasan mengenai kondisi di dalam fasilitas tersebut saat serangan terjadi, termasuk seberapa besar dampak kerusakan yang ditimbulkan. Hingga kini, militer Israel belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Sebelumnya, Iran mengklaim telah menargetkan Pangkalan Udara Ramat David menggunakan rudal balistik sebagai bagian dari balasan atas serangan Israel di kawasan, termasuk di Lebanon. Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian aksi saling balas yang kembali memanas antara kedua pihak. Eskalasi konflik meningkat setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut, Lebanon, meskipun terdapat gencatan senjata yang masih berlaku. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel utara, yang kemudian dibalas dengan serangan udara Israel ke sejumlah target di Iran. Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat sejak akhir Februari, ketika serangan udara besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu rangkaian aksi balasan lintas negara di kawasan tersebut. Hingga kini, upaya diplomatik untuk meredakan konflik masih belum membuahkan hasil signifikan.
Internasional
| Rabu, 10 Juni 2026

India Tembus Himalaya dengan Terowongan 13 Km di Dekat Perbatasan China
India berhasil mencatat tonggak penting dalam pembangunan infrastruktur dengan menembus lapisan terakhir Pegunungan Himalaya melalui proyek Terowongan Zojila sepanjang 13,14 kilometer yang menghubungkan wilayah menuju Ladakh, kawasan perbatasan strategis dekat China. Proyek besar ini dikerjakan oleh para insinyur India yang berhasil melakukan pengeboran hingga tembus pada Senin (8/6), dengan ekskavator memotong batuan terakhir di jalur terowongan yang akan menghubungkan dua wilayah yang selama ini terputus akibat salju ekstrem di musim dingin. Wilayah Ladakh sendiri merupakan salah satu titik sensitif di perbatasan antara India dan China yang kerap menjadi lokasi ketegangan militer kedua negara. Kedua negara sempat terlibat bentrokan paling serius pada 2020, meski hubungan diplomatik kemudian membaik, kawasan tersebut tetap dianggap rawan konflik. Pemerintah India menyebut proyek ini sebagai bagian dari strategi besar penguatan konektivitas dan pertahanan di wilayah perbatasan. Terowongan tersebut akan memungkinkan mobilitas kendaraan, logistik, dan personel militer berlangsung sepanjang tahun, tanpa terhambat kondisi salju ekstrem yang selama ini memutus akses darat. Menteri Jalan Raya India Nitin Gadkari menyebut proyek ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi jalur kehidupan bagi masyarakat di wilayah pegunungan tinggi tersebut. “Ini bukan sekadar terowongan, tetapi juga jalur kehidupan,” ujarnya dalam peresmian proyek tersebut. Proyek Terowongan Zojila merupakan bagian dari jaringan infrastruktur besar yang mencakup beberapa terowongan lain serta pengembangan jalur kereta api senilai miliaran dolar. Salah satunya adalah proyek Jembatan Chenab, yang kini menjadi jembatan kereta tertinggi di dunia. Pembangunan terowongan ini melibatkan lebih dari 3.000 pekerja sejak 2020 dan menjadi salah satu proyek teknik paling ambisius di India. Pemerintah menargetkan sistem konektivitas baru ini akan beroperasi penuh pada 2028, memperkuat akses ke wilayah Kashmir dan Ladakh yang memiliki nilai strategis tinggi di tengah dinamika hubungan India–China.
Internasional
| Selasa, 9 Juni 2026

AS Dilaporkan Tak Lagi Cegat Rudal Iran ke Israel di Tengah Eskalasi Konflik
Amerika Serikat dilaporkan tidak lagi mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran saat serangan ke wilayah Israel kembali terjadi. Informasi tersebut disampaikan oleh CNN dengan mengutip sejumlah sumber anonim dari pejabat militer Amerika Serikat. Menurut laporan itu, sikap tersebut menandai perubahan signifikan dalam keterlibatan militer AS di konflik yang terus memanas di Timur Tengah sejak akhir Februari. Pada fase awal konflik, Amerika Serikat diketahui aktif mengerahkan sistem pertahanan udara untuk membantu Israel mencegat serangan rudal dari Iran, termasuk dengan mengoperasikan sistem pertahanan di wilayah pendudukan Israel guna melindungi Tel Aviv. Namun, dalam perkembangan terbaru, militer AS disebut tidak lagi melakukan intersepsi langsung terhadap serangan yang dilancarkan Teheran. Perubahan ini disebut terjadi di tengah meningkatnya kompleksitas konflik regional. Meski demikian, koordinasi militer antara kedua negara tetap berlangsung. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir dilaporkan telah melakukan dua kali komunikasi dengan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper untuk membahas perkembangan situasi di lapangan. Ketegangan di kawasan meningkat setelah Israel melancarkan serangan ke Beirut, Lebanon, meski gencatan senjata masih berlaku. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel utara, yang kemudian dibalas dengan serangan udara oleh Israel ke sejumlah target di Iran. Situasi ini memperpanjang rangkaian konflik yang telah berlangsung sejak operasi militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Eskalasi tersebut memicu siklus serangan balasan yang melibatkan berbagai negara di kawasan, termasuk negara yang menjadi lokasi aset militer AS. Meskipun sempat dicapai gencatan senjata sementara pada 8 April, proses negosiasi lanjutan kembali tersendat akibat perbedaan pandangan mengenai implementasi kesepakatan. Di tengah situasi yang terus berkembang, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Iran dapat segera tercapai. Ia menyebut peluang kesepakatan bisa terjadi dalam hitungan hari dan menegaskan bahwa perjanjian tersebut akan mencakup komitmen untuk mencegah pengembangan senjata nuklir. Namun, Trump juga mengakui bahwa proses negosiasi masih dinamis, dengan kedua pihak masih melakukan penyesuaian sebelum kesepakatan final dapat dicapai.
Internasional
| Selasa, 9 Juni 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026
Internasional

Pemerintah Evakuasi WNI dari Iran, Dua Pekerja Migran Sudah Tiba di Indonesia
PIFA, Internasional - Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia) Christina Aryani mengapresiasi langkah cepat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dalam memfasilitasi evakuasi warga negara Indonesia (WNI), termasuk dua pekerja migran Indonesia (PMI), dari Iran. “Kami mengapresiasi langkah cepat Kementerian Luar Negeri dan perwakilan RI yang telah memfasilitasi pemulangan WNI dari Iran, termasuk dua pekerja migran Indonesia. Keselamatan warga negara, termasuk PMI, menjadi prioritas pemerintah,” kata Christina dalam pernyataan di Jakarta, Rabu (11/3). Evakuasi tersebut dilakukan menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Christina mengatakan langkah evakuasi ini menunjukkan komitmen pemerintah Indonesia untuk memastikan keselamatan WNI di luar negeri, termasuk para pekerja migran. Secara keseluruhan, sebanyak 32 WNI dijadwalkan dievakuasi secara bertahap dari Iran. Mereka terdiri atas 10 pekerja profesional, satu pengajar atau jurnalis, 14 pelajar atau mahasiswa, dua pekerja migran Indonesia, serta lima wisatawan. Dua PMI yang telah dipulangkan adalah Ali Husein dan Tetap Segar, yang berasal dari Jawa Barat dan bekerja di sektor manufaktur. Keduanya telah tiba di Indonesia pada 10 Maret 2026. “Berdasarkan koordinasi dengan Direktorat Pelindungan WNI Kemlu, kedua pekerja migran ini juga pernah dievakuasi tahun lalu,” ujar Christina. Berdasarkan rilis Kemlu, proses evakuasi dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, sebanyak 22 WNI telah tiba dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa setelah menempuh perjalanan dari Baku, Azerbaijan. Sementara itu, 10 WNI lainnya dijadwalkan tiba pada tahap kedua pada Rabu. Christina menegaskan bahwa meskipun Iran bukan negara penempatan resmi pekerja migran Indonesia, pemerintah tetap memberikan pelindungan kepada seluruh WNI yang berada di wilayah tersebut. “Meski Iran bukan negara penempatan resmi PMI, pemerintah tetap hadir untuk memastikan setiap warga negara Indonesia mendapatkan pelindungan, terutama dalam situasi darurat seperti konflik,” katanya. Ia menambahkan bahwa kementeriannya terus berkoordinasi dengan Kemlu dan perwakilan RI di kawasan Timur Tengah untuk memantau perkembangan situasi serta memastikan para PMI tetap mendapat pelindungan. Berdasarkan data KBRI Teheran, saat ini terdapat sekitar 329 WNI yang berada di Iran. Mayoritas merupakan pelajar atau mahasiswa yang terkonsentrasi di kota Qom, sementara sisanya adalah pekerja serta ekspatriat.
Internasional
| Rabu, 11 Maret 2026
Internasional

7 WNI Tewas dalam Insiden Kapal Tenggelam di Perairan Malaysia
Sebanyak tujuh warga negara Indonesia (WNI) ditemukan meninggal dunia setelah sebelumnya hilang dalam insiden kapal tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Perak, Malaysia, Senin (11/5/2026). Direktur Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengatakan ketujuh korban ditemukan dalam proses pencarian yang dilakukan otoritas Malaysia. “Dari 14 orang WNI yang sebelumnya dalam proses pencarian, tujuh orang telah ditemukan meninggal dunia,” kata Heni dalam keterangan tertulis, Rabu (13/5/2026). Saat ini, jenazah para korban berada di rumah sakit di Perak untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh pihak berwenang setempat. Sementara itu, tujuh WNI lainnya hingga kini masih dalam pencarian. Sebelumnya, kapal yang membawa 37 WNI tenggelam di perairan Pulau Pangkor. Sebanyak 23 orang berhasil diselamatkan, sedangkan 14 lainnya dinyatakan hilang. Berdasarkan hasil penyelidikan awal Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA), para penumpang diduga berangkat dari Kisaran, Sumatra Utara, pada 9 Mei dengan tujuan sejumlah wilayah di Malaysia seperti Penang, Terengganu, Selangor, dan Kuala Lumpur untuk bekerja. Kemlu RI menyebut sebagian besar WNI tersebut tidak memiliki dokumen perjalanan yang sah. Pemerintah Indonesia juga akan mengirim tim untuk menelusuri keluarga korban yang diduga berasal dari Sumatra Utara guna membantu proses identifikasi dan penanganan administrasi. Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur saat ini terus berkoordinasi dengan otoritas Malaysia terkait penanganan korban dan fasilitasi kekonsuleran bagi para WNI terdampak. Pemerintah turut mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan jalur ilegal atau nonprosedural untuk bekerja ke luar negeri.






