2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Internasional

Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, secara terbuka menolak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Ia bahkan menyebut Lebanon seharusnya menjadi "arena bermain" bagi Israel dalam menghadapi ancaman keamanan di kawasan. Dalam wawancara dengan stasiun televisi publik Israel KAN pada Senin (22/6), Ben Gvir menegaskan Israel tidak boleh menyetujui penghentian operasi militer di Lebanon. "Israel tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," kata Ben Gvir. Ia juga mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyampaikan penolakan tersebut kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut Ben Gvir, meskipun Trump merupakan sekutu dekat Israel, keputusan terkait keamanan nasional harus tetap ditentukan oleh pemerintah Israel. "Trump adalah teman sejati. Kami harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," ujarnya. "Kamilah yang membuat keputusan, dan ada hasil baik bagi para prajurit kami," lanjut Ben Gvir. Pernyataan itu bertolak belakang dengan upaya diplomasi yang sedang didorong Washington. Pada Jumat (19/6), Trump menyatakan Israel telah menyetujui gencatan senjata baru dengan Lebanon setelah melakukan komunikasi dengan pihak Tel Aviv. "Ini adalah hal positif. Ini seperti pelengkap yang sempurna," kata Trump saat itu. Sementara itu, sumber dari kelompok Hizbullah menyatakan pihaknya bersedia mematuhi gencatan senjata. Namun mereka menuduh Israel masih melanjutkan serangan dan memperluas operasi militernya di wilayah Lebanon. Penolakan Ben Gvir muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Israel terkait kesepakatan sementara antara AS dan Iran. Sejumlah tokoh politik Israel menilai nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Washington dan Teheran tidak mengakomodasi kepentingan keamanan Israel. Mereka mengkritik karena isu program rudal Iran dan hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok proksinya di kawasan tidak menjadi fokus utama dalam kesepakatan tersebut. Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, juga mengkritik pendekatan yang diambil dalam proses perdamaian tersebut. "Kita harus bertindak sesuai kepentingan Israel, bukan sesuai harga bahan bakar di bursa saham dunia," katanya. Konflik antara Israel dan Hizbullah telah menyebabkan korban besar di Lebanon. Sejak 2 Maret, serangan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya. Hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah diduduki selama puluhan tahun, sementara lainnya direbut dalam konflik yang berlangsung pada 2023–2024. Pernyataan Ben Gvir memperlihatkan semakin dalamnya perbedaan pandangan di dalam elite politik Israel terkait arah kebijakan keamanan dan hubungan dengan Amerika Serikat di tengah upaya meredakan ketegangan kawasan.

Internasional
| Selasa, 23 Juni 2026
Foto: Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Internasional

Foto: AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza | Pifa Net

AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan Israel agar tetap mendukung rencana 20 poin Board of Peace (BoP) terkait rekonstruksi dan penyelesaian konflik di Gaza. Seorang pejabat senior AS menyatakan Trump akan "sangat kecewa" jika Israel mengingkari kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui. Peringatan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan keberatan terhadap usulan pelucutan senjata Hamas, yang dinilai belum memenuhi tuntutan Israel mengenai demiliterisasi penuh Jalur Gaza. Meski demikian, Washington optimistis Israel akan tetap mematuhi kesepakatan. Pemerintah AS juga menegaskan Qatar, Turki, dan Mesir memiliki peran penting dalam menjaga gencatan senjata serta mendorong proses perdamaian di Gaza terus berjalan.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Internasional

Foto: Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap | Pifa Net

Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan khusus negaranya siap melakukan operasi penyelamatan jika dirinya ditangkap saat berada di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News di tengah kembali mencuatnya surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Netanyahu tidak menjelaskan bagaimana operasi tersebut akan dilakukan. Sejumlah negara Eropa sebelumnya menyatakan akan mematuhi kewajiban hukum internasional apabila Netanyahu memasuki wilayah mereka, sesuai ketentuan Statuta Roma. Pernyataan tersebut memicu sorotan karena operasi militer di wilayah negara lain tanpa persetujuan dapat menimbulkan persoalan hukum internasional dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik. Sementara itu, surat perintah ICC disebut telah memengaruhi rencana perjalanan luar negeri Netanyahu.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Internasional

Foto: Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington | Pifa Net

Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington

Aksi demonstrasi pro-Palestina mewarnai kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC, AS. Sejumlah demonstran menerobos masuk ke Hotel Four Seasons dan berusaha mendekati restoran tempat Netanyahu sedang makan malam sambil meneriakkan, "Penjahat perang" dan "Pembunuh bayi." Petugas keamanan segera mengamankan lokasi dan mengeluarkan para demonstran dari hotel. Di luar gedung, massa juga menggelar aksi dengan membawa bendera Palestina serta menuntut pemerintah Amerika Serikat menindaklanjuti surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang telah dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Insiden ini terjadi di tengah kunjungan Netanyahu untuk bertemu Presiden Donald Trump, sekaligus kembali memicu sorotan terhadap dukungan AS kepada Israel di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Berita Populer

Internasional

Foto: Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel | Pifa Net

Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, secara terbuka menolak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Ia bahkan menyebut Lebanon seharusnya menjadi "arena bermain" bagi Israel dalam menghadapi ancaman keamanan di kawasan. Dalam wawancara dengan stasiun televisi publik Israel KAN pada Senin (22/6), Ben Gvir menegaskan Israel tidak boleh menyetujui penghentian operasi militer di Lebanon. "Israel tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," kata Ben Gvir. Ia juga mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyampaikan penolakan tersebut kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut Ben Gvir, meskipun Trump merupakan sekutu dekat Israel, keputusan terkait keamanan nasional harus tetap ditentukan oleh pemerintah Israel. "Trump adalah teman sejati. Kami harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," ujarnya. "Kamilah yang membuat keputusan, dan ada hasil baik bagi para prajurit kami," lanjut Ben Gvir. Pernyataan itu bertolak belakang dengan upaya diplomasi yang sedang didorong Washington. Pada Jumat (19/6), Trump menyatakan Israel telah menyetujui gencatan senjata baru dengan Lebanon setelah melakukan komunikasi dengan pihak Tel Aviv. "Ini adalah hal positif. Ini seperti pelengkap yang sempurna," kata Trump saat itu. Sementara itu, sumber dari kelompok Hizbullah menyatakan pihaknya bersedia mematuhi gencatan senjata. Namun mereka menuduh Israel masih melanjutkan serangan dan memperluas operasi militernya di wilayah Lebanon. Penolakan Ben Gvir muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Israel terkait kesepakatan sementara antara AS dan Iran. Sejumlah tokoh politik Israel menilai nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Washington dan Teheran tidak mengakomodasi kepentingan keamanan Israel. Mereka mengkritik karena isu program rudal Iran dan hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok proksinya di kawasan tidak menjadi fokus utama dalam kesepakatan tersebut. Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, juga mengkritik pendekatan yang diambil dalam proses perdamaian tersebut. "Kita harus bertindak sesuai kepentingan Israel, bukan sesuai harga bahan bakar di bursa saham dunia," katanya. Konflik antara Israel dan Hizbullah telah menyebabkan korban besar di Lebanon. Sejak 2 Maret, serangan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya. Hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah diduduki selama puluhan tahun, sementara lainnya direbut dalam konflik yang berlangsung pada 2023–2024. Pernyataan Ben Gvir memperlihatkan semakin dalamnya perbedaan pandangan di dalam elite politik Israel terkait arah kebijakan keamanan dan hubungan dengan Amerika Serikat di tengah upaya meredakan ketegangan kawasan.

Internasional
| Selasa, 23 Juni 2026

Internasional

Foto: Saling Tuding di Teluk: Iran Sebut AS Dalang Serangan Kilang Fujairah, UEA Ancam Balas Dendam | Pifa Net

Saling Tuding di Teluk: Iran Sebut AS Dalang Serangan Kilang Fujairah, UEA Ancam Balas Dendam

TEHERAN/ABU DHABI – Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Iran menuduh Amerika Serikat sebagai dalang di balik serangan drone dan rudal yang menghantam kilang minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/5). Tuduhan ini muncul sebagai respons setelah UEA secara resmi menyalahkan Teheran atas insiden tersebut.Seorang pejabat militer Iran yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki agenda untuk menyerang fasilitas energi negara tetangganya. Ia justru menuding aksi tersebut adalah skenario Amerika Serikat untuk membenarkan kehadiran militer mereka di perairan strategis."Republik Islam tak punya program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan, dan apa yang terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS yang bertujuan menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz," ujar pejabat tersebut kepada Al Jazeera.Lebih lanjut, ia mendesak agar dunia internasional meminta pertanggungjawaban Washington. "Militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini," tegasnya.Kronologi Serangan dan Versi UEAKetegangan bermula ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mencegah kapal perang AS memasuki Selat Hormuz. Pihak Iran mengeklaim telah menghantam sebuah fregat AS dengan dua rudal di dekat Pulau Jask, meski klaim ini dibantah keras oleh militer Amerika.Tak lama setelah insiden tersebut, pihak UEA melaporkan bahwa dua drone Iran telah menyerang kapal tanker Barakah milik Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) yang sedang melintasi selat. Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, mengutuk aksi tersebut sebagai bentuk "pembajakan maritim".Serangan kemudian meluas ke daratan. Otoritas Fujairah menyatakan serangan drone Iran memicu kebakaran besar di Zona Industri Perminyakan Fujairah. Insiden ini mengakibatkan tiga warga negara India mengalami luka-luka.Kementerian Pertahanan UEA juga mengeklaim sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 12 rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran.Respons Keras Uni Emirat ArabKementerian Luar Negeri UEA mengeluarkan pernyataan sangat keras menanggapi rangkaian serangan tersebut. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai tindakan terorisme yang tidak beralasan terhadap fasilitas sipil."[Kami mengutuk keras] serangan teroris Iran yang kembali terjadi dan tidak beralasan, yang menargetkan lokasi dan fasilitas sipil di negara tersebut," bunyi rilis resmi Kemlu UEA.Pemerintah UEA menegaskan tidak akan tinggal diam atas ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya. Mereka memperingatkan bahwa UEA memiliki "hak penuh dan sah untuk menanggapi" serangan tersebut, yang mengisyaratkan potensi adanya balasan militer di masa mendatang.

Internasional
| Selasa, 5 Mei 2026

Internasional

Foto: Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS | Pifa Net

Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS

Masoud Pezeshkian menyatakan Iran telah memasuki perang total atau "skala penuh" melawan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik yang dihadapi Teheran kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah sektor ekonomi. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam rapat Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (20/7/2026). Ia menilai tekanan terhadap Iran kini lebih banyak diarahkan untuk melemahkan perekonomian dan kehidupan masyarakat. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal; musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer," kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita negara IRNA. Ia menambahkan bahwa sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kini menjadi medan konfrontasi utama. "Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh," ujarnya. Pezeshkian juga kembali menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari konflik dengan Amerika Serikat. Ia menilai pemerintah harus mencegah tekanan ekonomi semakin membebani masyarakat. "Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan," katanya. Menurut Pezeshkian, jika tekanan ekonomi memicu ketidakpuasan sosial secara luas, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap negara. Dalam pertemuan dengan para pemimpin media pada bulan lalu, Pezeshkian juga menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kohesi nasional menjadi prioritas utama pemerintah Iran di tengah situasi yang sedang dihadapi. Sejak itu, Amerika Serikat disebut melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting, seperti jalan raya, jalur kereta api, jembatan, dan terowongan. Konflik yang berkepanjangan turut memperburuk kondisi ekonomi Iran. Tingkat pengangguran dilaporkan meningkat, sementara nilai mata uang Iran kembali menyentuh titik terendah. Data resmi pemerintah Iran juga mencatat inflasi tahunan mencapai 88 persen pada Juni 2026.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026

Feeds

AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan Israel agar tetap mendukung rencana 20 poin Board of Peace (BoP) terkait rekonstruksi dan penyelesaian konflik di Gaza. Seorang pejabat senior AS menyatakan Trump akan "sangat kecewa" jika Israel mengingkari kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui. Peringatan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan keberatan terhadap usulan pelucutan senjata Hamas, yang dinilai belum memenuhi tuntutan Israel mengenai demiliterisasi penuh Jalur Gaza. Meski demikian, Washington optimistis Israel akan tetap mematuhi kesepakatan. Pemerintah AS juga menegaskan Qatar, Turki, dan Mesir memiliki peran penting dalam menjaga gencatan senjata serta mendorong proses perdamaian di Gaza terus berjalan.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza | Pifa Net

Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan khusus negaranya siap melakukan operasi penyelamatan jika dirinya ditangkap saat berada di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News di tengah kembali mencuatnya surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Netanyahu tidak menjelaskan bagaimana operasi tersebut akan dilakukan. Sejumlah negara Eropa sebelumnya menyatakan akan mematuhi kewajiban hukum internasional apabila Netanyahu memasuki wilayah mereka, sesuai ketentuan Statuta Roma. Pernyataan tersebut memicu sorotan karena operasi militer di wilayah negara lain tanpa persetujuan dapat menimbulkan persoalan hukum internasional dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik. Sementara itu, surat perintah ICC disebut telah memengaruhi rencana perjalanan luar negeri Netanyahu.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap | Pifa Net

Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington

Aksi demonstrasi pro-Palestina mewarnai kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC, AS. Sejumlah demonstran menerobos masuk ke Hotel Four Seasons dan berusaha mendekati restoran tempat Netanyahu sedang makan malam sambil meneriakkan, "Penjahat perang" dan "Pembunuh bayi." Petugas keamanan segera mengamankan lokasi dan mengeluarkan para demonstran dari hotel. Di luar gedung, massa juga menggelar aksi dengan membawa bendera Palestina serta menuntut pemerintah Amerika Serikat menindaklanjuti surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang telah dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Insiden ini terjadi di tengah kunjungan Netanyahu untuk bertemu Presiden Donald Trump, sekaligus kembali memicu sorotan terhadap dukungan AS kepada Israel di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington | Pifa Net

Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone

Militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber di Kuwait pada Jumat (31/7). Teheran menyebut sasaran serangan meliputi hanggar pesawat, sistem komunikasi satelit, dan gudang peralatan militer sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat di Pulau Qeshm. Hingga kini, pemerintah maupun militer Kuwait belum memberikan konfirmasi terkait klaim tersebut. Sebelumnya, Iran juga mengaku menyerang Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania dan mengklaim menghancurkan sejumlah jet tempur F-35 milik AS, meski klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen. Serangan terbaru ini menandai eskalasi lanjutan dalam konflik Iran dan Amerika Serikat yang terus meluas ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone | Pifa Net

Houthi Diduga Serang Arab Saudi dari Wilayah Irak, Ketegangan Timur Tengah Meningkat

Milisi Houthi diduga melancarkan serangan ke Arab Saudi dari wilayah Irak melalui koordinasi dengan kelompok bersenjata setempat. Analisis Saudi dan mitra regional menyebut operasi tersebut berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), meski hingga kini belum ada konfirmasi dari Houthi, milisi Irak, maupun Iran. Kerja sama Houthi dengan kelompok bersenjata Irak disebut telah berlangsung sejak lama dan semakin erat setelah pembentukan ruang operasi gabungan pada 2024. Jika benar dilakukan bersama, serangan ini dinilai menunjukkan semakin kuatnya jaringan "Poros Perlawanan" yang didukung Iran di kawasan. Dugaan serangan itu terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Arab Saudi sebelumnya melancarkan operasi militer ke Irak sebagai respons atas serangan yang diklaim berasal dari wilayah tersebut, sementara ketegangan dengan Houthi di Laut Merah juga terus meningkat.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Houthi Diduga Serang Arab Saudi dari Wilayah Irak, Ketegangan Timur Tengah Meningkat | Pifa Net

Iran Disebut Segera Terima Ratusan Peluncur Rudal dari China, Beijing Membantah

Iran dilaporkan akan menerima pengiriman ratusan sistem peluncur rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) buatan China dalam beberapa pekan ke depan. Menurut laporan Reuters, kesepakatan tersebut mencakup sekitar 300 hingga 400 unit rudal QW-12 dan FN-16 yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, hingga drone yang terbang rendah. Nilai kontrak disebut mencapai sekitar US$60-70 juta, dengan pengiriman diduga dilakukan melalui jalur darat untuk mengurangi risiko gangguan. Langkah ini dinilai akan memperkuat kemampuan pertahanan udara jarak pendek Iran setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, pemerintah China membantah laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri China menegaskan informasi itu "sama sekali tidak berdasar" dan menyatakan Beijing tetap berkomitmen mendorong perdamaian serta mengakhiri konflik. Sementara itu, Kementerian Pertahanan China mengaku tidak mengetahui adanya pengiriman senjata tersebut.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto:  Iran Disebut Segera Terima Ratusan Peluncur Rudal dari China, Beijing Membantah | Pifa Net

Israel Disebut Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran di Tengah Memburuknya Ekonomi Teheran

Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan kembali opsi melancarkan serangan terhadap Iran di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat. Mengutip laporan CNN, tiga sumber Israel menyebut otoritas negara itu telah menyusun rencana operasional untuk kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam konflik dan menempatkan pasukan dalam status siaga tinggi. Meski demikian, ketiga sumber tersebut mengatakan Amerika Serikat hingga kini belum meminta Israel untuk terlibat langsung dalam operasi militer yang dimulai pada awal Juli 2026. "Kami akan siap," kata salah satu sumber saat ditanya mengenai kemungkinan Israel membantu jika sewaktu-waktu diminta oleh Washington. Salah satu sumber menilai serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jembatan di Iran telah memberikan pukulan besar terhadap jaringan transportasi dan perdagangan negara tersebut. "Ekonomi Iran sedang runtuh, dan pada akhirnya ini akan semakin melemahkan rezim," ujar sumber itu. Menurut sumber tersebut, Israel memandang kondisi ekonomi Iran sebagai salah satu titik lemah utama pemerintah Teheran. Penilaian itu turut didasarkan pada gelombang protes akibat tingginya inflasi yang terjadi di Iran pada Januari lalu. Meski telah menyiapkan berbagai skenario, salah satu pejabat menyebut Israel sejauh ini masih merasa diuntungkan dengan tetap berada di luar konflik langsung, sementara Amerika Serikat dan Iran terus berhadapan dan belum mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Seorang pejabat senior Israel juga mengatakan risiko eskalasi di Selat Hormuz yang dapat menyeret Israel ke dalam perang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan situasi masih sangat dinamis karena Tel Aviv terus memantau berbagai upaya mediasi regional untuk meredakan konflik. "Situasinya dinamis," katanya. Sumber lain mengungkapkan, jika Israel akhirnya terlibat dalam perang, sasaran utama yang akan dibidik adalah target bernilai strategis, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran. "Ini adalah target yang bisa menentukan hasil akhir perang, tetapi juga membawa risiko besar bagi negara-negara Teluk dan harga minyak, dan sampai sekarang, Amerika belum ingin mengambil risiko itu," ujar sumber tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menggelar rapat keamanan terbatas pada Senin malam untuk membahas perkembangan terbaru. Dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah kemungkinan yang dapat membuat Israel ikut terlibat dalam konflik, mulai dari permintaan langsung Amerika Serikat, aksi Iran yang memicu serangan balasan, hingga kemungkinan serangan pendahuluan Israel untuk menggagalkan ancaman dari Teheran. Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, menegaskan kesiapan militernya. "Kami siap untuk segera kembali berperang dan akan bertindak dengan kekuatan besar terhadap siapa pun yang membahayakan kami," kata Zamir.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Israel Disebut Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran di Tengah Memburuknya Ekonomi Teheran | Pifa Net

Bangladesh Kembali Cantumkan Aturan 'Kecuali Israel' di Paspor

Bangladesh kembali menerapkan aturan yang menyatakan paspornya tidak berlaku untuk perjalanan ke Israel. Kebijakan tersebut diumumkan pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan akan kembali dicantumkan dalam paspor elektronik negara itu. Dalam pernyataan pada Minggu (19/7/2026), Kementerian Dalam Negeri Bangladesh menyebut frasa "Paspor ini berlaku untuk semua negara di dunia kecuali Israel" akan kembali dicetak di paspor elektronik. Pemerintah menegaskan langkah tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri Bangladesh yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel serta tidak mengakui negara tersebut. Kebijakan itu juga disebut mencerminkan dukungan Bangladesh terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sebelumnya, Bangladesh juga pernah menerapkan aturan serupa pada 2020 ketika negara itu masih dipimpin oleh Sheikh Hasina. Selain perubahan terkait Israel, Kementerian Dalam Negeri juga menginstruksikan adanya penambahan tanda penghormatan bagi tokoh-tokoh yang tewas dalam pemberontakan pada Juli–Agustus 2024. Gelombang demonstrasi saat itu menuntut Sheikh Hasina mundur setelah lebih dari satu dekade memimpin Bangladesh. Aksi protes kemudian berubah menjadi bentrokan yang mengakibatkan sekitar 1.400 orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka. Setelah peristiwa tersebut, Hasina meninggalkan Bangladesh dan hingga kini diketahui tinggal di India. Pemerintah Bangladesh juga merevisi desain paspor elektronik dengan menghapus sejumlah gambar dan simbol yang berkaitan dengan pendiri negara, Sheikh Mujibur Rahman.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Bangladesh Kembali Cantumkan Aturan 'Kecuali Israel' di Paspor | Pifa Net

Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS

Masoud Pezeshkian menyatakan Iran telah memasuki perang total atau "skala penuh" melawan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik yang dihadapi Teheran kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah sektor ekonomi. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam rapat Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (20/7/2026). Ia menilai tekanan terhadap Iran kini lebih banyak diarahkan untuk melemahkan perekonomian dan kehidupan masyarakat. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal; musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer," kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita negara IRNA. Ia menambahkan bahwa sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kini menjadi medan konfrontasi utama. "Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh," ujarnya. Pezeshkian juga kembali menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari konflik dengan Amerika Serikat. Ia menilai pemerintah harus mencegah tekanan ekonomi semakin membebani masyarakat. "Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan," katanya. Menurut Pezeshkian, jika tekanan ekonomi memicu ketidakpuasan sosial secara luas, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap negara. Dalam pertemuan dengan para pemimpin media pada bulan lalu, Pezeshkian juga menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kohesi nasional menjadi prioritas utama pemerintah Iran di tengah situasi yang sedang dihadapi. Sejak itu, Amerika Serikat disebut melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting, seperti jalan raya, jalur kereta api, jembatan, dan terowongan. Konflik yang berkepanjangan turut memperburuk kondisi ekonomi Iran. Tingkat pengangguran dilaporkan meningkat, sementara nilai mata uang Iran kembali menyentuh titik terendah. Data resmi pemerintah Iran juga mencatat inflasi tahunan mencapai 88 persen pada Juni 2026.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS | Pifa Net

Pakar Sebut Stok Rudal AS Bisa Jadi Kendala Jika Perang dengan Iran Berlarut-larut

Washington – Sejumlah analis pertahanan menilai Amerika Serikat berpotensi menghadapi tantangan besar apabila konflik dengan Iran berlangsung dalam jangka panjang. Kekhawatiran itu muncul terkait menipisnya persediaan rudal jarak jauh dan amunisi sistem pertahanan udara. Peneliti senior bidang studi pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute, Katherine Thompson, mengatakan faktor waktu menjadi penentu utama kemampuan militer AS mempertahankan operasi berkepanjangan. "Waktu adalah faktor utama di sini. Jika ini berlanjut selama berminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja," kata Thompson, dikutip New York Post. Namun, ia memperingatkan kondisi akan berbeda jika perang berlangsung hingga bertahun-tahun. "Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi," ujarnya. Perlindungan Pasukan Jadi Tantangan Thompson menyoroti serangan balasan Iran yang belakangan menewaskan dua personel militer Amerika Serikat. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan besarnya tantangan logistik yang dihadapi Washington dalam melindungi sekitar 50.000 personel militernya yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Ia juga menilai keberadaan pasukan AS dalam jumlah besar justru meningkatkan kebutuhan penggunaan sistem pertahanan udara dan rudal pencegat. "Ini menunjukkan dampaknya ke persediaan kita yang digunakan untuk melindungi kehadiran tersebut, karena serangan balasan masih terus terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan," katanya. Selain itu, Thompson menyebut sebagian besar rudal yang digunakan AS selama hari-hari awal operasi militer telah dikonsumsi dalam jumlah besar, sementara Iran masih mampu melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone. "Ternyata, Iran masih punya akses ke rudal dan drone. Serangan balasan Iran tidak akan besar di hari-hari awal perang, tetapi mereka menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang," ujarnya. Ribuan Rudal Telah Digunakan Kekhawatiran terhadap stok amunisi AS sebenarnya telah disampaikan sejumlah pakar sejak beberapa bulan terakhir. Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat Amerika Serikat telah menggunakan lebih dari 3.000 rudal jenis Tomahawk, Patriot, dan JASSM dalam berbagai operasi terhadap Iran sebelum konflik saat ini. Selain itu, AS juga dilaporkan telah menghabiskan ratusan sistem persenjataan canggih lainnya, termasuk rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Sejumlah laporan menyebut pemulihan stok ke tingkat sebelum perang diperkirakan baru dapat tercapai menjelang akhir dekade ini. Pentagon Pastikan Persediaan Masih Aman Meski muncul berbagai kekhawatiran, pemerintah Amerika Serikat menegaskan kemampuan militernya tetap memadai untuk menghadapi konflik berkepanjangan. Juru Bicara Departemen Pertahanan AS Sean Parnell mengatakan operasi militer tetap berjalan tanpa mengorbankan kesiapan persenjataan nasional. "Kami sudah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Parnell.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Pakar Sebut Stok Rudal AS Bisa Jadi Kendala Jika Perang dengan Iran Berlarut-larut | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Internasional

Foto: Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel | Pifa Net

Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Lebanon 'Arena Bermain' Israel

Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, secara terbuka menolak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Ia bahkan menyebut Lebanon seharusnya menjadi "arena bermain" bagi Israel dalam menghadapi ancaman keamanan di kawasan. Dalam wawancara dengan stasiun televisi publik Israel KAN pada Senin (22/6), Ben Gvir menegaskan Israel tidak boleh menyetujui penghentian operasi militer di Lebanon. "Israel tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," kata Ben Gvir. Ia juga mendesak Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyampaikan penolakan tersebut kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurut Ben Gvir, meskipun Trump merupakan sekutu dekat Israel, keputusan terkait keamanan nasional harus tetap ditentukan oleh pemerintah Israel. "Trump adalah teman sejati. Kami harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," ujarnya. "Kamilah yang membuat keputusan, dan ada hasil baik bagi para prajurit kami," lanjut Ben Gvir. Pernyataan itu bertolak belakang dengan upaya diplomasi yang sedang didorong Washington. Pada Jumat (19/6), Trump menyatakan Israel telah menyetujui gencatan senjata baru dengan Lebanon setelah melakukan komunikasi dengan pihak Tel Aviv. "Ini adalah hal positif. Ini seperti pelengkap yang sempurna," kata Trump saat itu. Sementara itu, sumber dari kelompok Hizbullah menyatakan pihaknya bersedia mematuhi gencatan senjata. Namun mereka menuduh Israel masih melanjutkan serangan dan memperluas operasi militernya di wilayah Lebanon. Penolakan Ben Gvir muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Israel terkait kesepakatan sementara antara AS dan Iran. Sejumlah tokoh politik Israel menilai nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Washington dan Teheran tidak mengakomodasi kepentingan keamanan Israel. Mereka mengkritik karena isu program rudal Iran dan hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok proksinya di kawasan tidak menjadi fokus utama dalam kesepakatan tersebut. Pemimpin Partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, juga mengkritik pendekatan yang diambil dalam proses perdamaian tersebut. "Kita harus bertindak sesuai kepentingan Israel, bukan sesuai harga bahan bakar di bursa saham dunia," katanya. Konflik antara Israel dan Hizbullah telah menyebabkan korban besar di Lebanon. Sejak 2 Maret, serangan Israel dilaporkan menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya. Hingga kini, Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Sebagian wilayah tersebut telah diduduki selama puluhan tahun, sementara lainnya direbut dalam konflik yang berlangsung pada 2023–2024. Pernyataan Ben Gvir memperlihatkan semakin dalamnya perbedaan pandangan di dalam elite politik Israel terkait arah kebijakan keamanan dan hubungan dengan Amerika Serikat di tengah upaya meredakan ketegangan kawasan.

Internasional
| Selasa, 23 Juni 2026

Internasional

Foto: Saling Tuding di Teluk: Iran Sebut AS Dalang Serangan Kilang Fujairah, UEA Ancam Balas Dendam | Pifa Net

Saling Tuding di Teluk: Iran Sebut AS Dalang Serangan Kilang Fujairah, UEA Ancam Balas Dendam

TEHERAN/ABU DHABI – Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Iran menuduh Amerika Serikat sebagai dalang di balik serangan drone dan rudal yang menghantam kilang minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/5). Tuduhan ini muncul sebagai respons setelah UEA secara resmi menyalahkan Teheran atas insiden tersebut.Seorang pejabat militer Iran yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa Teheran tidak memiliki agenda untuk menyerang fasilitas energi negara tetangganya. Ia justru menuding aksi tersebut adalah skenario Amerika Serikat untuk membenarkan kehadiran militer mereka di perairan strategis."Republik Islam tak punya program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan, dan apa yang terjadi adalah hasil dari petualangan militer AS yang bertujuan menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz," ujar pejabat tersebut kepada Al Jazeera.Lebih lanjut, ia mendesak agar dunia internasional meminta pertanggungjawaban Washington. "Militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini," tegasnya.Kronologi Serangan dan Versi UEAKetegangan bermula ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan mencegah kapal perang AS memasuki Selat Hormuz. Pihak Iran mengeklaim telah menghantam sebuah fregat AS dengan dua rudal di dekat Pulau Jask, meski klaim ini dibantah keras oleh militer Amerika.Tak lama setelah insiden tersebut, pihak UEA melaporkan bahwa dua drone Iran telah menyerang kapal tanker Barakah milik Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) yang sedang melintasi selat. Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, mengutuk aksi tersebut sebagai bentuk "pembajakan maritim".Serangan kemudian meluas ke daratan. Otoritas Fujairah menyatakan serangan drone Iran memicu kebakaran besar di Zona Industri Perminyakan Fujairah. Insiden ini mengakibatkan tiga warga negara India mengalami luka-luka.Kementerian Pertahanan UEA juga mengeklaim sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat 12 rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Iran.Respons Keras Uni Emirat ArabKementerian Luar Negeri UEA mengeluarkan pernyataan sangat keras menanggapi rangkaian serangan tersebut. Mereka menyebut aksi tersebut sebagai tindakan terorisme yang tidak beralasan terhadap fasilitas sipil."[Kami mengutuk keras] serangan teroris Iran yang kembali terjadi dan tidak beralasan, yang menargetkan lokasi dan fasilitas sipil di negara tersebut," bunyi rilis resmi Kemlu UEA.Pemerintah UEA menegaskan tidak akan tinggal diam atas ancaman terhadap kedaulatan wilayahnya. Mereka memperingatkan bahwa UEA memiliki "hak penuh dan sah untuk menanggapi" serangan tersebut, yang mengisyaratkan potensi adanya balasan militer di masa mendatang.

Internasional
| Selasa, 5 Mei 2026

Internasional

Foto: Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS | Pifa Net

Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS

Masoud Pezeshkian menyatakan Iran telah memasuki perang total atau "skala penuh" melawan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik yang dihadapi Teheran kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah sektor ekonomi. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam rapat Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (20/7/2026). Ia menilai tekanan terhadap Iran kini lebih banyak diarahkan untuk melemahkan perekonomian dan kehidupan masyarakat. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal; musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer," kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita negara IRNA. Ia menambahkan bahwa sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kini menjadi medan konfrontasi utama. "Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh," ujarnya. Pezeshkian juga kembali menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari konflik dengan Amerika Serikat. Ia menilai pemerintah harus mencegah tekanan ekonomi semakin membebani masyarakat. "Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan," katanya. Menurut Pezeshkian, jika tekanan ekonomi memicu ketidakpuasan sosial secara luas, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap negara. Dalam pertemuan dengan para pemimpin media pada bulan lalu, Pezeshkian juga menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kohesi nasional menjadi prioritas utama pemerintah Iran di tengah situasi yang sedang dihadapi. Sejak itu, Amerika Serikat disebut melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting, seperti jalan raya, jalur kereta api, jembatan, dan terowongan. Konflik yang berkepanjangan turut memperburuk kondisi ekonomi Iran. Tingkat pengangguran dilaporkan meningkat, sementara nilai mata uang Iran kembali menyentuh titik terendah. Data resmi pemerintah Iran juga mencatat inflasi tahunan mencapai 88 persen pada Juni 2026.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5