Internasional
Harapan Damai: Iran Kirim Tanggapan Atas Proposal AS Melalui Mediator Pakistan
ISLAMABAD – Upaya pengakhiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan perkembangan baru. Pemerintah Iran secara resmi telah mengirimkan tanggapan terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington melalui pihak mediator, Pakistan.Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan pada Minggu (10/5) bahwa dalam draf rencana yang diusulkan, tahap pertama negosiasi akan difokuskan sepenuhnya pada pengakhiran permusuhan atau hostilities di antara kedua belah pihak.Reporter Al Jazeera, Kamal Hyder, yang melaporkan dari Islamabad, mengonfirmasi bahwa pihak Pakistan telah menerima dokumen respons dari Teheran tersebut."Pihak Pakistan mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima tanggapan Iran terhadap proposal AS," ujar Kamal. "Sekarang setelah Pakistan menerimanya, langkah penting selanjutnya adalah melihat kapan tanggapan itu dikomunikasikan ke Amerika Serikat, dan bagaimana reaksi dari Washington."Nota Kesepahaman 14 PoinKabar mengenai respons Iran ini sejalan dengan laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS dan Iran dijadwalkan akan melanjutkan negosiasi damai secara langsung pada pekan depan di Pakistan. Saat ini, kedua negara disebut tengah menggodok nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin krusial.Draf kesepakatan tersebut kabarnya akan mencakup isu-isu sensitif, mulai dari keberlanjutan program nuklir Iran, upaya penurunan ketegangan di Selat Hormuz, hingga mekanisme penanganan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya.Berdasarkan laporan Anadolu Agency, kesepakatan ini dirancang untuk memiliki masa berlaku awal yang fleksibel. "Jika negosiasi lancar, periode awal satu bulan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama," demikian bunyi laporan tersebut.Meskipun status gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April lalu, proses diplomasi antara Washington dan Teheran sejauh ini belum mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang. Gencatan senjata memang terus diperpanjang, namun kepastian mengenai berakhirnya konflik secara menyeluruh masih bergantung pada hasil perundingan intensif yang akan digelar di Pakistan pekan depan.
Internasional
| Minggu, 10 Mei 2026

Trending
83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026

Eks Dubes Daniel Carmon Labeli Aksi Penyerangan Biarawati Prancis sebagai 'Terorisme Yahudi'
Internasional
| Jumat, 1 Mei 2026

Serangan Sekolah di Minab Diduga Terkait Target Pangkalan IRGC
Internasional
| Jumat, 6 Maret 2026

AS Kecewa Skala Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran, Picu Perbedaan Pendapat
Internasional
| Senin, 9 Maret 2026

Lebanon Tegaskan Pisahkan Isu Iran dalam Negosiasi dengan Israel
Internasional
| Senin, 13 April 2026

Sindikat Penipuan Daring Asal China Minta Maaf Sebelum Dieksekusi Mati
Internasional
| Kamis, 12 Februari 2026

Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15 Persen Usai Putusan Mahkamah Agung AS
Internasional
| Minggu, 22 Februari 2026

AS Veto Resolusi DK PBB Usulan Rusia soal Gencatan Senjata di Timur Tengah
Internasional
| Kamis, 12 Maret 2026

Trump Harap Dewan Perdamaian Dapat Awasi PBB di Masa Depan, Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara untuk Buka Jalan Negosiasi Timur Tengah
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Berita Terbaru
Internasional

Korban Tewas Ledakan Tambang Batu Bara di China Bertambah Jadi 90 Orang
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi 90 orang pada Sabtu (23/5/2026). Insiden tersebut kini menjadi bencana tambang batu bara paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade. Ledakan terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) saat ratusan pekerja berada di bawah tanah. Berdasarkan laporan media setempat, sebanyak 247 orang sedang bekerja ketika ledakan terjadi. Sebagian besar pekerja berhasil dievakuasi pada Sabtu pagi. Namun hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang karena diduga terjebak di dalam tambang. Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban dan menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab ledakan. “Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini. Tetap waspada terhadap keselamatan kerja,” ujar Xi. Laporan kantor berita Xinhua menyebut sejumlah eksekutif perusahaan tambang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut telah ditahan aparat berwenang. Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Namun laporan awal menyebut kadar karbon monoksida di tambang diduga telah melampaui batas aman. Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan pertambangan di negara itu disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat lemahnya penerapan protokol keselamatan kerja. Data Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di negara tersebut sepanjang 2010 hingga 2025.
Internasional
| Sabtu, 23 Mei 2026
Internasional

Wali Kota London Sadiq Khan Soroti Demo Besar: Lawan Islamofobia
Wali Kota London Sadiq Khan buka suara terkait demonstrasi besar bertajuk “Unite the Kingdom” yang berlangsung di ibu kota Inggris pada pekan lalu. Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (18/5/2026), Khan menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Metropolitan London yang telah menjaga keamanan selama aksi berlangsung. “London akan selalu berdiri melawan rasisme, islamofobia, antisemit, dan kebencian dalam bentuk apa pun,” tulis Khan. Ia juga berterima kasih kepada petugas kepolisian yang dinilai berhasil menjaga situasi kota tetap aman selama demonstrasi berlangsung. Khan turut membagikan ulang unggahan akun resmi Metropolitan Police yang menyoroti video viral mengenai petugas polisi Muslim yang mengalami pelecehan saat bertugas mengamankan demo. Polisi menyebut insiden serupa kembali terjadi dalam aksi terbaru tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada petugas yang seharusnya mengalami pelecehan di tempat kerja. “Tidak seorang pun seharusnya harus menoleransi pelecehan di tempat kerja, dan itu termasuk petugas polisi,” demikian pernyataan kepolisian. Pihak kepolisian juga mengonfirmasi telah melakukan sejumlah penangkapan dan akan mendorong proses penuntutan terhadap pelaku. Demonstrasi “Unite the Kingdom” digelar pada Sabtu (16/5/2026) dan diikuti kelompok serta tokoh sayap kanan Inggris, termasuk Tommy Robinson. Dalam aksi itu, sejumlah peserta menyuarakan penolakan terhadap imigran di Inggris dan menyerukan kebijakan yang lebih ketat terkait tunjangan sosial. Kepolisian Metropolitan London mengerahkan pengamanan besar-besaran untuk mengantisipasi potensi bentrokan dengan aksi pro-Palestina yang berlangsung di lokasi lain di kota tersebut.
Internasional
| Jumat, 22 Mei 2026
Internasional

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026
Berita Populer
Internasional

Harapan Damai: Iran Kirim Tanggapan Atas Proposal AS Melalui Mediator Pakistan
ISLAMABAD – Upaya pengakhiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan perkembangan baru. Pemerintah Iran secara resmi telah mengirimkan tanggapan terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington melalui pihak mediator, Pakistan.Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan pada Minggu (10/5) bahwa dalam draf rencana yang diusulkan, tahap pertama negosiasi akan difokuskan sepenuhnya pada pengakhiran permusuhan atau hostilities di antara kedua belah pihak.Reporter Al Jazeera, Kamal Hyder, yang melaporkan dari Islamabad, mengonfirmasi bahwa pihak Pakistan telah menerima dokumen respons dari Teheran tersebut."Pihak Pakistan mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima tanggapan Iran terhadap proposal AS," ujar Kamal. "Sekarang setelah Pakistan menerimanya, langkah penting selanjutnya adalah melihat kapan tanggapan itu dikomunikasikan ke Amerika Serikat, dan bagaimana reaksi dari Washington."Nota Kesepahaman 14 PoinKabar mengenai respons Iran ini sejalan dengan laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS dan Iran dijadwalkan akan melanjutkan negosiasi damai secara langsung pada pekan depan di Pakistan. Saat ini, kedua negara disebut tengah menggodok nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin krusial.Draf kesepakatan tersebut kabarnya akan mencakup isu-isu sensitif, mulai dari keberlanjutan program nuklir Iran, upaya penurunan ketegangan di Selat Hormuz, hingga mekanisme penanganan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya.Berdasarkan laporan Anadolu Agency, kesepakatan ini dirancang untuk memiliki masa berlaku awal yang fleksibel. "Jika negosiasi lancar, periode awal satu bulan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama," demikian bunyi laporan tersebut.Meskipun status gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April lalu, proses diplomasi antara Washington dan Teheran sejauh ini belum mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang. Gencatan senjata memang terus diperpanjang, namun kepastian mengenai berakhirnya konflik secara menyeluruh masih bergantung pada hasil perundingan intensif yang akan digelar di Pakistan pekan depan.
Internasional
| Minggu, 10 Mei 2026
Internasional

83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut. Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu. Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur. Penangkapan Maduro dan Proses Hukum Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan. Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu. Reaksi Internasional dan Dampak Politik Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional. Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026
Internasional

Eks Dubes Daniel Carmon Labeli Aksi Penyerangan Biarawati Prancis sebagai 'Terorisme Yahudi'
YERUSALEM – Mantan Duta Besar Israel untuk India, Daniel Carmon, melontarkan kecaman keras terhadap aksi penyerangan brutal yang dilakukan oleh seorang warga Israel terhadap seorang biarawati asal Prancis. Insiden yang terjadi di wilayah pendudukan Yerusalem Timur tersebut memicu kemarahan diplomatik dan sorotan internasional.Tanpa ragu, Carmon melabeli tindakan kekerasan tersebut sebagai bentuk nyata dari ekstremisme domestik yang berbahaya. "Jika ini bukan Terorisme Yahudi, lalu apa lagi?" tulis Carmon dalam unggahannya di platform media sosial X, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Jumat (1/5).Pihak kepolisian Israel dilaporkan telah menangkap seorang pria berusia 36 tahun pada Rabu (29/4) setelah melakukan penganiayaan terhadap biarawati tersebut. Polisi mengategorikan serangan ini sebagai tindakan yang "bermotif rasial".Daniel Carmon mendeskripsikan kekejaman yang dialami korban di tengah jalanan Yerusalem. "Seorang biarawati, yang sedang berjalan dengan tenang di jalanan Yerusalem, diidentifikasi sebagai non-Yahudi, lalu didorong, diseret, dihempaskan ke tanah, dan kemudian ditendang oleh pelaku yang sama," ungkapnya.Menanggapi insiden yang menimpa warga negaranya, Konsulat Prancis di Yerusalem segera mengeluarkan pernyataan resmi. Paris "mengutuk keras serangan terhadap biarawati warga negara Prancis tersebut" dan mendesak otoritas terkait agar pelaku segera diadili serta mendapatkan hukuman yang setimpal.Pihak kepolisian, yang selama ini sering mendapat kritik karena dianggap abai terhadap kasus serupa, kini menunjukkan keseriusan dengan merilis foto korban yang memperlihatkan luka di bagian kepala akibat serangan tersebut."Kami memandang serius segala bentuk kekerasan, terutama serangan bermotif rasisme yang menargetkan pemuka agama," ujar juru bicara kepolisian Israel.Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang menargetkan komunitas agama di Yerusalem. Ratusan pastor dan biarawati dari seluruh dunia yang melayani di Yerusalem Timur kini berada di bawah bayang-bayang ancaman.Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi lonjakan serangan oleh ekstremis Israel terhadap rohaniwan Muslim maupun Kristen, serta situs-situs suci. Bulan lalu, publik juga dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus menggunakan palu godam.
Internasional
| Jumat, 1 Mei 2026
Feeds
Korban Tewas Ledakan Tambang Batu Bara di China Bertambah Jadi 90 Orang
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi 90 orang pada Sabtu (23/5/2026). Insiden tersebut kini menjadi bencana tambang batu bara paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade. Ledakan terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) saat ratusan pekerja berada di bawah tanah. Berdasarkan laporan media setempat, sebanyak 247 orang sedang bekerja ketika ledakan terjadi. Sebagian besar pekerja berhasil dievakuasi pada Sabtu pagi. Namun hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang karena diduga terjebak di dalam tambang. Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban dan menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab ledakan. “Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini. Tetap waspada terhadap keselamatan kerja,” ujar Xi. Laporan kantor berita Xinhua menyebut sejumlah eksekutif perusahaan tambang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut telah ditahan aparat berwenang. Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Namun laporan awal menyebut kadar karbon monoksida di tambang diduga telah melampaui batas aman. Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan pertambangan di negara itu disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat lemahnya penerapan protokol keselamatan kerja. Data Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di negara tersebut sepanjang 2010 hingga 2025.
Internasional
| Sabtu, 23 Mei 2026

Wali Kota London Sadiq Khan Soroti Demo Besar: Lawan Islamofobia
Wali Kota London Sadiq Khan buka suara terkait demonstrasi besar bertajuk “Unite the Kingdom” yang berlangsung di ibu kota Inggris pada pekan lalu. Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (18/5/2026), Khan menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Metropolitan London yang telah menjaga keamanan selama aksi berlangsung. “London akan selalu berdiri melawan rasisme, islamofobia, antisemit, dan kebencian dalam bentuk apa pun,” tulis Khan. Ia juga berterima kasih kepada petugas kepolisian yang dinilai berhasil menjaga situasi kota tetap aman selama demonstrasi berlangsung. Khan turut membagikan ulang unggahan akun resmi Metropolitan Police yang menyoroti video viral mengenai petugas polisi Muslim yang mengalami pelecehan saat bertugas mengamankan demo. Polisi menyebut insiden serupa kembali terjadi dalam aksi terbaru tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada petugas yang seharusnya mengalami pelecehan di tempat kerja. “Tidak seorang pun seharusnya harus menoleransi pelecehan di tempat kerja, dan itu termasuk petugas polisi,” demikian pernyataan kepolisian. Pihak kepolisian juga mengonfirmasi telah melakukan sejumlah penangkapan dan akan mendorong proses penuntutan terhadap pelaku. Demonstrasi “Unite the Kingdom” digelar pada Sabtu (16/5/2026) dan diikuti kelompok serta tokoh sayap kanan Inggris, termasuk Tommy Robinson. Dalam aksi itu, sejumlah peserta menyuarakan penolakan terhadap imigran di Inggris dan menyerukan kebijakan yang lebih ketat terkait tunjangan sosial. Kepolisian Metropolitan London mengerahkan pengamanan besar-besaran untuk mengantisipasi potensi bentrokan dengan aksi pro-Palestina yang berlangsung di lokasi lain di kota tersebut.
Internasional
| Jumat, 22 Mei 2026

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026

Kemlu RI: 9 WNI yang Ditangkap Israel Kini Berada di Pelabuhan Ashdod
Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap pasukan Israel kini berada di Pelabuhan Ashdod, Israel selatan. Sembilan WNI tersebut merupakan bagian dari Global Peace Convoy Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza untuk menembus blokade Israel dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. “Kalau info dari sekretariat GPCI, semua relawan dibawa ke pelabuhan Ashdod termasuk 9 WNI,” kata juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, Rabu (20/5/2026). Sebelumnya, otoritas Israel menyebut sekitar 430 relawan dari armada tersebut sedang dibawa menuju Israel setelah dicegat di perairan internasional. “Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel. Kelompok hak asasi manusia Adalah mengecam tindakan tersebut dan menyebut para relawan sipil telah “diculik secara paksa” dari perairan internasional lalu dibawa ke wilayah Israel. Menurut Adalah, tindakan itu merupakan bagian dari kebijakan hukuman kolektif terhadap warga Palestina di Gaza. Sementara itu, video yang beredar di media sosial memperlihatkan tentara Israel menjambak dan mendorong salah satu relawan saat Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengunjungi pelabuhan Ashdod. Dalam rekaman tersebut, sejumlah relawan tampak dalam kondisi tangan terikat di belakang tubuh dan dipaksa berlutut. Beberapa lainnya terlihat diseret oleh aparat Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengecam armada flotilla tersebut dan menyebutnya sebagai upaya untuk mematahkan blokade Israel terhadap Hamas di Gaza.
Internasional
| Rabu, 20 Mei 2026

Palestina Kecam Israel Culik Relawan Flotilla Termasuk WNI
Kedutaan Besar Palestina di Indonesia mengecam tindakan Israel yang mencegat hingga menangkap relawan kemanusiaan, aktivis, dan jurnalis yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla. Dalam pernyataan resminya pada Selasa (19/5/2026), Kedubes Palestina menyebut tindakan Israel sebagai aksi kriminal terhadap para pembela hak asasi manusia dan hukum internasional. “Kedutaan Besar Negara Palestina untuk Republik Indonesia mengecam keras tindakan kriminal Israel yang dilakukan oleh tentara pendudukan terhadap para peserta Armada Keteguhan Global,” demikian pernyataan Kedubes Palestina. Kedubes Palestina juga menyatakan solidaritas kepada seluruh peserta armada, khususnya relawan asal Indonesia, serta berharap mereka dapat kembali ke tanah air dengan selamat. Selain itu, Kedubes Palestina menegaskan tidak terkejut dengan tindakan militer Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang disebut terus melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Mereka mengecam pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, perampasan tanah, hingga pembakaran dan penjarahan harta benda warga Palestina. “Kejahatan yang dilakukan tentara Israel maupun pemukim ilegal tidak akan pernah menggoyahkan ketabahan rakyat Palestina,” lanjut pernyataan tersebut. Kedubes Palestina juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, pemerintah Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia atas dukungan historis terhadap perjuangan Palestina. Sebelumnya, pasukan Israel mencegat armada kapal GSF di perairan internasional pada Senin pagi dan menahan ratusan relawan, termasuk lima warga negara Indonesia (WNI). Lima WNI tersebut yakni jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, jurnalis Tempo TV Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis iNews Rahendro Herubowo, serta aktivis Rumah Zakat Andi Angga Prasadewa. Mereka mengikuti pelayaran bersama Global Peace Convoy Indonesia yang tergabung dalam inisiatif GSF untuk menerobos blokade Israel ke Gaza. GSF menyebut beberapa kapal dicegat di wilayah barat Siprus dan mendesak pemerintah dunia segera bertindak menghentikan tindakan ilegal Israel yang dianggap mempertahankan blokade terhadap Gaza.
Internasional
| Selasa, 19 Mei 2026

Kemlu Siapkan Rencana Pemulangan WNI yang Ditangkap Israel
Kementerian Luar Negeri RI menyiapkan langkah kontingensi untuk memulangkan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel dalam pelayaran bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza. Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan berbagai pihak guna memperoleh informasi terbaru terkait kondisi para WNI yang ditahan. “Sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” ujar Yvonne, Senin (18/5/2026). Ia menegaskan perlindungan WNI menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang cepat. Pemerintah Indonesia juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan ke rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional. Kemlu RI menyatakan Direktorat Perlindungan WNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan mempercepat proses pemulangan para WNI. Selain itu, Kemlu mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat armada Global Sumud Flotilla 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Hingga kini sedikitnya 10 kapal dilaporkan telah ditahan, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, seorang WNI bernama Andi Angga Prasadewa berada di kapal Josef sebagai delegasi GPCI-Rumah Zakat. Sementara itu, kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono hingga kini masih belum dapat dihubungi dan statusnya belum diketahui. Menurut laporan, total sembilan WNI ditangkap Israel dalam misi tersebut, di antaranya Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo. Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyidin, menyatakan keselamatan para relawan kemanusiaan menjadi perhatian serius dan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional.
Internasional
| Senin, 18 Mei 2026

Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan dirinya tidak akan ragu membubarkan parlemen dan menggelar pemilu sela jika keretakan di dalam pemerintahan persatuan atau unity government terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan Anwar saat memberikan pidato utama dalam Konvensi Pakatan Harapan pada Minggu (17/5/2026). Anwar mengaku mendengar berbagai rumor mengenai ketidakstabilan politik di tingkat bawah, meski hubungan antarpartai di pemerintahan federal saat ini masih berjalan baik. Namun, ia memperingatkan partai-partai mitra koalisi agar tidak membelot dari kesepakatan politik yang telah dibangun bersama. “Saya akan mengadakan pertemuan dengan kepemimpinan Pakatan mengenai masalah ini dan jika perlu, kami akan menyerukan pemilu sela,” ujar Anwar seperti dikutip The Star. Menurut Anwar, jika konflik politik terus memanas, dampaknya tidak hanya akan terjadi di Johor, tetapi juga berpotensi meluas ke wilayah strategis lain seperti Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, dan Penang. Ia menegaskan prioritas utama pemerintahannya adalah menjaga stabilitas politik demi memperkuat tata kelola pemerintahan dan pemulihan ekonomi Malaysia. “Kami tidak akan bisa diancam. Namun, jika mereka ingin bernegosiasi dengan cara yang baik, kami selalu bersedia,” tegas Anwar. Dalam kesempatan itu, Anwar juga mengkritik sejumlah pemerintah negara bagian yang disebut membagikan bantuan sosial menjelang masa pemilihan. Menurutnya, praktik tersebut dapat mencederai proses demokrasi yang sehat. Meski isu perpecahan terus berkembang, Anwar memastikan tiga partai utama dalam koalisi Pakatan Harapan, yakni Parti Keadilan Rakyat, Democratic Action Party, dan Parti Amanah Negara tetap solid dan stabil.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

AS Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 45 Hari
Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama 45 hari mulai Jumat (15/5/2026). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memberi ruang bagi kemajuan proses negosiasi antara kedua pihak. “Penghentian permusuhan pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut,” kata Pigott melalui akun media sosial X. Pengumuman tersebut disampaikan meski serangan Israel di Lebanon dilaporkan masih terus terjadi sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku. Pigott menyebut Departemen Luar Negeri AS akan melanjutkan upaya negosiasi politik pada 2 hingga 3 Juni mendatang. Selain itu, pembentukan “jalur keamanan” yang melibatkan delegasi militer Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Pentagon pada 29 Mei. “Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing, serta membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka,” ujar Pigott. Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan setelah putaran ketiga perundingan yang dimediasi AS digelar di Departemen Luar Negeri AS. Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS, delegasi Amerika dipimpin Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, serta Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa. Sementara pihak Lebanon diwakili Duta Besar Nada Hamadeh Moawad dan utusan presiden Lebanon Simon Karam.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pasukan Israel kini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza di tengah terus berlangsungnya konflik dengan Hamas. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam acara peringatan Jerusalem Day pada Kamis (14/5/2026). Ia menegaskan Israel tidak akan menghentikan operasi militernya di Gaza meski mendapat tekanan internasional. “Ada yang mengatakan: keluar, keluar! Kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai 60 persen; besok kita akan lihat,” ujar Netanyahu seperti dikutip AFP. Pernyataan tersebut dinilai memperkuat dugaan bahwa pasukan Israel terus memperluas wilayah kontrolnya melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu yang dimediasi Amerika Serikat. Berdasarkan ketentuan gencatan senjata itu, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang “Garis Kuning” dan hanya menguasai sekitar 50 persen wilayah Gaza. Namun berbagai laporan media menyebut militer Israel terus bergerak maju ke area yang disebut “Garis Oranye”. Dalam pidatonya, Netanyahu juga mengklaim Israel telah berhasil memulangkan seluruh sandera yang sebelumnya ditahan Hamas. Sementara itu, kekerasan di Gaza dilaporkan masih terus terjadi meski gencatan senjata telah berlaku. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas menyebut lebih dari 850 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober lalu. Selain di Gaza, situasi di Tepi Barat juga terus memanas. Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel menewaskan seorang remaja Palestina berusia 15 tahun bernama Fahd Zidan Oweis di wilayah Nablus pada Jumat (15/5/2026). Menurut data yang dihimpun AFP dari Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 1.072 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Sementara pihak Israel menyebut sedikitnya 46 warga Israel tewas dalam serangan Palestina atau operasi militer selama periode yang sama.
Internasional
| Sabtu, 16 Mei 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pasukan Israel kini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza di tengah terus berlangsungnya konflik dengan Hamas. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam acara peringatan Jerusalem Day pada Kamis (14/5/2026). Ia menegaskan Israel tidak akan menghentikan operasi militernya di Gaza meski mendapat tekanan internasional. “Ada yang mengatakan: keluar, keluar! Kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai 60 persen; besok kita akan lihat,” ujar Netanyahu seperti dikutip AFP. Pernyataan tersebut dinilai memperkuat dugaan bahwa pasukan Israel terus memperluas wilayah kontrolnya melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu yang dimediasi Amerika Serikat. Berdasarkan ketentuan gencatan senjata itu, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang “Garis Kuning” dan hanya menguasai sekitar 50 persen wilayah Gaza. Namun berbagai laporan media menyebut militer Israel terus bergerak maju ke area yang disebut “Garis Oranye”. Dalam pidatonya, Netanyahu juga mengklaim Israel telah berhasil memulangkan seluruh sandera yang sebelumnya ditahan Hamas. Sementara itu, kekerasan di Gaza dilaporkan masih terus terjadi meski gencatan senjata telah berlaku. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas menyebut lebih dari 850 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober lalu. Selain di Gaza, situasi di Tepi Barat juga terus memanas. Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel menewaskan seorang remaja Palestina berusia 15 tahun bernama Fahd Zidan Oweis di wilayah Nablus pada Jumat (15/5/2026). Menurut data yang dihimpun AFP dari Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 1.072 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Sementara pihak Israel menyebut sedikitnya 46 warga Israel tewas dalam serangan Palestina atau operasi militer selama periode yang sama.
Internasional
| Jumat, 15 Mei 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Harapan Damai: Iran Kirim Tanggapan Atas Proposal AS Melalui Mediator Pakistan
ISLAMABAD – Upaya pengakhiran konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan perkembangan baru. Pemerintah Iran secara resmi telah mengirimkan tanggapan terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington melalui pihak mediator, Pakistan.Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan pada Minggu (10/5) bahwa dalam draf rencana yang diusulkan, tahap pertama negosiasi akan difokuskan sepenuhnya pada pengakhiran permusuhan atau hostilities di antara kedua belah pihak.Reporter Al Jazeera, Kamal Hyder, yang melaporkan dari Islamabad, mengonfirmasi bahwa pihak Pakistan telah menerima dokumen respons dari Teheran tersebut."Pihak Pakistan mengonfirmasi bahwa mereka telah menerima tanggapan Iran terhadap proposal AS," ujar Kamal. "Sekarang setelah Pakistan menerimanya, langkah penting selanjutnya adalah melihat kapan tanggapan itu dikomunikasikan ke Amerika Serikat, dan bagaimana reaksi dari Washington."Nota Kesepahaman 14 PoinKabar mengenai respons Iran ini sejalan dengan laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa AS dan Iran dijadwalkan akan melanjutkan negosiasi damai secara langsung pada pekan depan di Pakistan. Saat ini, kedua negara disebut tengah menggodok nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin krusial.Draf kesepakatan tersebut kabarnya akan mencakup isu-isu sensitif, mulai dari keberlanjutan program nuklir Iran, upaya penurunan ketegangan di Selat Hormuz, hingga mekanisme penanganan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya.Berdasarkan laporan Anadolu Agency, kesepakatan ini dirancang untuk memiliki masa berlaku awal yang fleksibel. "Jika negosiasi lancar, periode awal satu bulan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan bersama," demikian bunyi laporan tersebut.Meskipun status gencatan senjata telah diberlakukan sejak 8 April lalu, proses diplomasi antara Washington dan Teheran sejauh ini belum mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang. Gencatan senjata memang terus diperpanjang, namun kepastian mengenai berakhirnya konflik secara menyeluruh masih bergantung pada hasil perundingan intensif yang akan digelar di Pakistan pekan depan.
Internasional
| Minggu, 10 Mei 2026
Internasional

83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut. Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu. Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur. Penangkapan Maduro dan Proses Hukum Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan. Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu. Reaksi Internasional dan Dampak Politik Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional. Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026
Internasional

Eks Dubes Daniel Carmon Labeli Aksi Penyerangan Biarawati Prancis sebagai 'Terorisme Yahudi'
YERUSALEM – Mantan Duta Besar Israel untuk India, Daniel Carmon, melontarkan kecaman keras terhadap aksi penyerangan brutal yang dilakukan oleh seorang warga Israel terhadap seorang biarawati asal Prancis. Insiden yang terjadi di wilayah pendudukan Yerusalem Timur tersebut memicu kemarahan diplomatik dan sorotan internasional.Tanpa ragu, Carmon melabeli tindakan kekerasan tersebut sebagai bentuk nyata dari ekstremisme domestik yang berbahaya. "Jika ini bukan Terorisme Yahudi, lalu apa lagi?" tulis Carmon dalam unggahannya di platform media sosial X, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Jumat (1/5).Pihak kepolisian Israel dilaporkan telah menangkap seorang pria berusia 36 tahun pada Rabu (29/4) setelah melakukan penganiayaan terhadap biarawati tersebut. Polisi mengategorikan serangan ini sebagai tindakan yang "bermotif rasial".Daniel Carmon mendeskripsikan kekejaman yang dialami korban di tengah jalanan Yerusalem. "Seorang biarawati, yang sedang berjalan dengan tenang di jalanan Yerusalem, diidentifikasi sebagai non-Yahudi, lalu didorong, diseret, dihempaskan ke tanah, dan kemudian ditendang oleh pelaku yang sama," ungkapnya.Menanggapi insiden yang menimpa warga negaranya, Konsulat Prancis di Yerusalem segera mengeluarkan pernyataan resmi. Paris "mengutuk keras serangan terhadap biarawati warga negara Prancis tersebut" dan mendesak otoritas terkait agar pelaku segera diadili serta mendapatkan hukuman yang setimpal.Pihak kepolisian, yang selama ini sering mendapat kritik karena dianggap abai terhadap kasus serupa, kini menunjukkan keseriusan dengan merilis foto korban yang memperlihatkan luka di bagian kepala akibat serangan tersebut."Kami memandang serius segala bentuk kekerasan, terutama serangan bermotif rasisme yang menargetkan pemuka agama," ujar juru bicara kepolisian Israel.Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang menargetkan komunitas agama di Yerusalem. Ratusan pastor dan biarawati dari seluruh dunia yang melayani di Yerusalem Timur kini berada di bawah bayang-bayang ancaman.Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi lonjakan serangan oleh ekstremis Israel terhadap rohaniwan Muslim maupun Kristen, serta situs-situs suci. Bulan lalu, publik juga dihebohkan dengan video viral yang memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus menggunakan palu godam.





