2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Internasional

Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel

Iran mengancam akan memadamkan listrik di sejumlah negara Teluk jika Amerika Serikat atau Israel menyerang pembangkit listrik di Teheran.Ancaman tersebut disampaikan Iran melalui perantara kepada sejumlah negara Arab setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.Dua pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP bahwa Iran secara khusus mengancam negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat."Iran mengancam akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk, satu per satu, jika Trump menyerang pembangkit listriknya," kata salah satu pejabat tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Arab lainnya.Kedua pejabat tersebut berbicara kepada AFP dengan syarat anonim karena membahas persoalan yang sensitif.Ancaman Iran muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan rencana untuk melancarkan "serangan terbesar sejak Perang Dunia II" terhadap Iran. Infrastruktur energi disebut-sebut menjadi salah satu kemungkinan sasaran serangan.Iran kemudian menyampaikan pesan kepada negara-negara Teluk bahwa pembangkit listrik mereka akan menjadi sasaran Teheran apabila ancaman serangan Amerika Serikat benar-benar direalisasikan.Sejumlah negara Arab kemudian berupaya mencegah eskalasi konflik. Pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dilaporkan menghubungi Trump untuk memintanya menahan diri dan tidak melanjutkan rencana serangan tersebut.Ancaman Iran disebut berbeda dari peringatan-peringatan sebelumnya. Salah satu pejabat Arab menyebut ancaman kali ini sangat serius.Jika benar terjadi, serangan terhadap fasilitas energi negara-negara Teluk berpotensi memperluas konflik dan berdampak terhadap pasokan listrik serta infrastruktur energi di kawasan.Rencana serangan Trump sendiri pada akhirnya tidak dilakukan setelah negara-negara Arab turun tangan untuk meredakan ketegangan.Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memicu respons yang lebih luas, termasuk terhadap negara-negara Teluk yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat.

Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026
Foto: Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Internasional

Foto:  Dibuat Modal Rp3,5 Juta, Animasi Niu Lai Raup Rp68,6 Miliar di China | Pifa Net

Dibuat Modal Rp3,5 Juta, Animasi Niu Lai Raup Rp68,6 Miliar di China

Film animasi Niu Lai atau The Arrival of the Ox menjadi salah satu film paling menguntungkan tahun ini setelah meraih pendapatan puluhan miliar rupiah di box office China. Film yang sempat mendapat cibiran setelah dirilis itu hingga Rabu (19/8) telah meraup pendapatan kotor 26 juta yuan atau sekitar Rp68,6 miliar, menurut data China Film Data Information Network. Menariknya, film tersebut dibuat dengan bujet yang sangat kecil. Niu Lai disebut hanya menghabiskan sekitar US$200 atau setara Rp3,5 juta. Dengan pendapatan tersebut, Niu Lai mencatat keuntungan yang sangat besar dibandingkan modal produksinya. Film ini juga bersaing di box office China bersama sejumlah film besar seperti The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day. Niu Lai merupakan film animasi berdurasi 86 menit yang mengisahkan seekor anak sapi yang meninggalkan perlindungan kawanannya setelah mengikuti seekor burung skylark. Anak sapi tersebut kemudian memasuki dunia mimpi surealis dan menghadapi berbagai tema tentang keberanian, kehidupan, serta kematian. Sempat Disebut Film Terburuk Niu Lai dirilis di bioskop China pada 5 Agustus tanpa trailer maupun acara promosi. Setelah tayang, film tersebut justru mendapat respons negatif dan sempat dijuluki sebagai "film terburuk tahun 2026" di media sosial. Beijing News bahkan mengkritik kualitas animasi yang dinilai patah-patah serta pengisi suara yang terdengar canggung. Namun, cibiran tersebut justru memicu rasa penasaran penonton. Banyak orang kemudian menonton Niu Lai untuk mengetahui alasan film tersebut begitu ramai diperbincangkan. Cuplikan film yang mulai beredar di media sosial kemudian membantu meningkatkan perhatian terhadap film tersebut. Pendapatan Niu Lai pun perlahan meningkat meski sempat mengalami awal yang lambat di box office. Dibuat Hanya Dua Orang Kesuksesan Niu Lai semakin menarik karena film tersebut dikerjakan hanya oleh dua orang. Sutradara Xin Yumeng menggarap film tersebut bersama ibunya, Sun Lifang, yang menulis naskah sekaligus mengisi seluruh suara karakter. Keduanya juga tidak memiliki latar belakang di industri perfilman. Meski demikian, kesuksesan Niu Lai membuat Xin Yumeng mulai mempersiapkan pembuatan sekuel film tersebut.

Internasional
| Jumat, 21 Agustus 2026

Internasional

Foto: Tuntutan Dipenuhi, Pemimpin Mahasiswa India Akhiri Mogok Makan 16 Hari | Pifa Net

Tuntutan Dipenuhi, Pemimpin Mahasiswa India Akhiri Mogok Makan 16 Hari

Pemimpin mahasiswa India, Davendra Nath Mahto, mengakhiri aksi mogok makan setelah berlangsung selama 16 hari pada Senin (17/8). Aksi tersebut dihentikan setelah pemerintah negara bagian Jharkhand memenuhi tuntutan mahasiswa terkait ujian rekrutmen pegawai negeri.Pemerintah Jharkhand membatalkan ujian rekrutmen pegawai negeri tingkat sarjana yang diselenggarakan Jharkhand Staff Selection Commission (JSSC). Ujian tersebut sebelumnya menuai protes karena diduga terjadi kebocoran soal dan kecurangan."Hari ini menandai hari ke-16 mogok makan. Perjuangan ini dimulai 2 Juli," kata Mahto di hadapan Menteri Herman Soren, Pemimpin Kongres Rahul Gandhi, dan Menteri Negara Bagian Dipiki Pandey, dikutip dari Times of India.Mahto mengapresiasi keputusan pemerintah Jharkhand membatalkan ujian tersebut. Menurut dia, pembatalan ujian merupakan keputusan penting untuk merespons dugaan berbagai kecurangan."Saya berterimakasih kepada pemerintah Jharkhand karena telah menunjukkan keberanian untuk mengambil keputusan penting seperti itu, membatalkan ujian adalah tantangan terbesar," kata Mahto.Meski menghentikan aksi mogok makan, Mahto menegaskan akan tetap mengawal proses reformasi sistem rekrutmen pegawai negeri di Jharkhand."Jika ini mengharuskan Majelis Legislatif untuk memberlakukan undang-undang baru atau memberlakukan amendemen konstitusi, maka biarlah demikian," ujarnya.Aksi mogok makan Mahto merupakan bagian dari demonstrasi ribuan mahasiswa dan pencari kerja di Jharkhand yang berlangsung sejak Juli. Mereka menuntut reformasi terhadap lembaga yang bertanggung jawab atas pelaksanaan ujian rekrutmen pegawai negeri.Para demonstran juga menuntut pencopotan Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan terkait dugaan kebocoran soal ujian dan berbagai persoalan dalam sistem pendidikan.Aksi tersebut dipimpin Cockroach Janta Party, partai politik yang dibentuk sebagai respons terhadap pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India yang menyamakan kaum muda pengangguran dengan kecoak.Dharmendra Pradhan kemudian mengundurkan diri pada Sabtu (25/7), salah satu tuntutan yang sebelumnya disuarakan para demonstran.

Internasional
| Jumat, 21 Agustus 2026

Internasional

Foto: Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama | Pifa Net

Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai memburuknya kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan bulan.Kapal tersebut sebagian besar digunakan untuk mendukung operasi militer AS dalam perang melawan Iran. Namun, Trump justru menilai masa penugasan kapal itu belum berlangsung cukup lama."Tidak. Tidak. Tidak. Belum cukup lama," kata Trump saat ditanya apakah dirinya mengkhawatirkan kesehatan mental awak kapal dan apakah pengerahan USS Abraham Lincoln sudah terlalu panjang, dikutip dari The New York Times, Jumat (14/8).Trump juga menepis kekhawatiran keluarga para personel yang berada di kapal induk tersebut."Tidak, mereka tidak khawatir," ujar Trump ketika ditanya apakah keluarga awak kapal mencemaskan kondisi anggota keluarga mereka yang bertugas di USS Abraham Lincoln.Laporan Kondisi Kapal Jadi SorotanMenurut The New York Times, USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan setengah bulan. Sebagian besar periode tersebut dihabiskan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.Sejumlah laporan sebelumnya menyoroti kondisi di dalam kapal, mulai dari kekurangan kebutuhan dasar, persoalan kebersihan dan keselamatan hingga kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan mental para awak.Meski membantah adanya masalah serius, Trump mengakui USS Abraham Lincoln akan segera digantikan oleh kapal induk lain.Angkatan Laut AS disebut akan mengerahkan USS George Washington untuk menggantikan kapal tersebut. Informasi itu disampaikan seorang pejabat AS kepada The New York Times dengan syarat anonim karena tidak memiliki kewenangan untuk berbicara secara terbuka mengenai jadwal pengerahan kapal.Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga membantah laporan mengenai kondisi buruk di USS Abraham Lincoln. Ia menyebut kondisi yang diberitakan telah "disalahgambarkan".Namun, persoalan tersebut tetap mendapat perhatian dari Kongres AS.Senator Demokrat dari Connecticut Richard Blumenthal mengirim surat kepada Hegseth dan pejabat sementara Angkatan Laut Hung Cao pada Kamis (13/8).Dalam surat tersebut, Blumenthal menyoroti berbagai persoalan yang dilaporkan terjadi di kapal, termasuk kekurangan kebutuhan dasar, kontaminasi air, gangguan saluran air, memburuknya kondisi kesehatan mental awak serta persoalan keselamatan di dek.Sistem pengiriman surat juga menjadi sorotan. Sejumlah paket dari keluarga awak kapal dilaporkan hilang dalam proses pengiriman dan baru diterima setelah berbulan-bulan.Perang Iran Berlangsung Lebih LamaLaporan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahan Trump.Trump berulang kali menyatakan operasi militer Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan militer Iran. Ia juga cenderung mengecilkan dampak perang terhadap AS, termasuk korban tewas maupun personel yang terluka.The New York Times mencatat sedikitnya 18 personel militer AS tewas dan ratusan lainnya mengalami luka dalam konflik tersebut.Dalam pernyataan terpisah di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump kembali membela operasi militer AS dan mengeklaim adanya kemajuan dalam perang."Segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump.Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim strategis bagi pasokan minyak dunia. Selama perang, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.Trump juga kembali membela kebijakan perang dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia mengatakan tujuan tersebut sebanding dengan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika akibat kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan lainnya."Jadi ingat itu-ketika Anda harus membayar sedikit lebih mahal, harga bensin mencapai US$4, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujar Trump.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Berita Populer

Internasional

Foto: Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel | Pifa Net

Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel

Iran mengancam akan memadamkan listrik di sejumlah negara Teluk jika Amerika Serikat atau Israel menyerang pembangkit listrik di Teheran.Ancaman tersebut disampaikan Iran melalui perantara kepada sejumlah negara Arab setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.Dua pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP bahwa Iran secara khusus mengancam negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat."Iran mengancam akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk, satu per satu, jika Trump menyerang pembangkit listriknya," kata salah satu pejabat tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Arab lainnya.Kedua pejabat tersebut berbicara kepada AFP dengan syarat anonim karena membahas persoalan yang sensitif.Ancaman Iran muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan rencana untuk melancarkan "serangan terbesar sejak Perang Dunia II" terhadap Iran. Infrastruktur energi disebut-sebut menjadi salah satu kemungkinan sasaran serangan.Iran kemudian menyampaikan pesan kepada negara-negara Teluk bahwa pembangkit listrik mereka akan menjadi sasaran Teheran apabila ancaman serangan Amerika Serikat benar-benar direalisasikan.Sejumlah negara Arab kemudian berupaya mencegah eskalasi konflik. Pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dilaporkan menghubungi Trump untuk memintanya menahan diri dan tidak melanjutkan rencana serangan tersebut.Ancaman Iran disebut berbeda dari peringatan-peringatan sebelumnya. Salah satu pejabat Arab menyebut ancaman kali ini sangat serius.Jika benar terjadi, serangan terhadap fasilitas energi negara-negara Teluk berpotensi memperluas konflik dan berdampak terhadap pasokan listrik serta infrastruktur energi di kawasan.Rencana serangan Trump sendiri pada akhirnya tidak dilakukan setelah negara-negara Arab turun tangan untuk meredakan ketegangan.Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memicu respons yang lebih luas, termasuk terhadap negara-negara Teluk yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat.

Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Internasional

Foto: Pezeshkian Tegaskan Rudal Balistik Iran Tak Bisa Ditawar dalam Negosiasi | Pifa Net

Pezeshkian Tegaskan Rudal Balistik Iran Tak Bisa Ditawar dalam Negosiasi

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa program rudal balistik negaranya tidak akan menjadi bahan perundingan dengan Amerika Serikat maupun negara lain. Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menggelar konferensi pers bersama Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Selasa (23/6). Menurut Pezeshkian, kemampuan pertahanan Iran merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang tidak dapat dinegosiasikan dalam kondisi apa pun. "Iran tidak akan pernah membahas kemampuan militernya dengan pihak mana pun dan dalam keadaan apa pun," tegas Pezeshkian. Ia menilai rudal balistik memiliki peran vital dalam menjaga keamanan negara dari ancaman eksternal. Menurutnya, tanpa kemampuan pertahanan tersebut, Iran berpotensi mengalami nasib serupa dengan wilayah konflik lain di kawasan. "Jika rudal yang kami miliki untuk pertahanan negara tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan menghancurkan Iran seperti halnya Gaza, tanpa menunjukkan belas kasihan kepada yang tua maupun muda," ujarnya. Pakistan Dukung Sikap Iran Dalam kesempatan yang sama, Sharif menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat tidak memasukkan isu rudal balistik sebagai bagian dari kesepakatan. Ia juga menolak adanya perlakuan berbeda terhadap Iran dibanding negara-negara lain yang memiliki kemampuan militer serupa. "Tidak boleh ada standar ganda bahwa beberapa negara boleh memiliki rudal balistik tetapi Iran tidak boleh memilikinya. Anda tidak boleh menoleransi kemunafikan ini," kata Sharif. Bahas Kelanjutan Negosiasi AS-Iran Kunjungan Pezeshkian ke Pakistan dilakukan beberapa hari setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman perdamaian serta menggelar pembicaraan teknis lanjutan di Swiss. Selain membahas perkembangan negosiasi dengan Washington, kedua pemimpin juga membicarakan penguatan hubungan bilateral antara Iran dan Pakistan. Pakistan bersama Qatar diketahui menjadi mediator dalam proses perundingan antara Teheran dan Washington. Sharif menegaskan negaranya akan terus berupaya mendukung proses diplomasi demi terciptanya stabilitas dan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah. Isu Rudal Jadi Perdebatan Lama Sebelum tercapainya kesepakatan awal, Amerika Serikat dan Israel sempat berupaya memasukkan program rudal balistik Iran serta hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah ke dalam agenda negosiasi. Namun Iran secara konsisten menolak pembahasan tersebut dan menegaskan bahwa kemampuan militernya bukan bagian dari kompromi diplomatik. Selama bertahun-tahun, Israel memandang rudal balistik Iran sebagai salah satu ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya. Meski demikian, dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani antara Washington dan Teheran, isu rudal balistik tidak menjadi bagian dari kesepakatan. Kondisi itu memicu kritik dari sejumlah kalangan di Israel yang menilai hasil perundingan lebih menguntungkan Iran dibanding kepentingan keamanan Tel Aviv. Pernyataan terbaru Pezeshkian semakin menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka ruang negosiasi terkait kemampuan rudal balistiknya, sekalipun proses diplomasi dengan Amerika Serikat terus berlanjut.

Internasional
| Rabu, 24 Juni 2026

Internasional

Foto: Terjerat Korupsi, Dua Mantan Menteri Pertahanan China Divonis Mati dengan Penangguhan | Pifa Net

Terjerat Korupsi, Dua Mantan Menteri Pertahanan China Divonis Mati dengan Penangguhan

BEIJING – Pengadilan Militer China menjatuhkan vonis mati dengan penangguhan dua tahun terhadap dua mantan Menteri Pertahanan, Wei Fenghe dan Li Shangfu, pada Kamis (7/5). Keduanya dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus korupsi besar yang mengguncang internal militer Negeri Tirai Bambu tersebut.Berdasarkan sistem hukum di China, hukuman mati dengan penangguhan berarti kedua terpidana tidak akan langsung dieksekusi, melainkan diberikan masa percobaan selama dua tahun."Dua mantan menteri pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, sama-sama dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun atas tuduhan korupsi," demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua.Pengadilan menjelaskan bahwa jika selama masa penangguhan dua tahun tersebut Wei dan Li menunjukkan perilaku baik serta tidak melakukan pelanggaran hukum lainnya, maka hukuman mereka akan diubah menjadi penjara seumur hidup."Putusan pengadilan menyatakan tidak akan ada lagi pengurangan hukuman atau pembebasan bersyarat yang diizinkan setelah hukuman mereka dikurangi menjadi penjara seumur hidup sesuai dengan hukum usai masa penangguhan selama dua tahun berakhir," lanjut laporan tersebut.Kedua mantan petinggi militer ini dijatuhi hukuman dalam persidangan terpisah. Wei Fenghe dinyatakan bersalah atas kejahatan menerima suap. Sementara itu, Li Shangfu dinyatakan bersalah atas kejahatan menerima sekaligus menawarkan suap. Selain hukuman fisik, pengadilan juga mencabut hak politik mereka seumur hidup dan menyita seluruh harta pribadi milik keduanya.Wei Fenghe (72) menjabat sebagai Menteri Pertahanan China pada periode 2018 hingga 2023. Posisinya kemudian digantikan oleh Li Shangfu, yang hanya menjabat kurang dari delapan bulan sebelum akhirnya menghilang dari publik pada tahun 2023. Li sempat diduga menjadi tahanan rumah sebelum akhirnya Komisi Anti-Korupsi China mengumumkan penyelidikan resmi terhadap dirinya dan pendahulunya, Wei Fenghe.Kasus ini menjadi bagian dari perombakan besar-besaran yang dilakukan Presiden Xi Jinping di tubuh militer China. Selain memecat Li dan Wei, Xi juga telah merombak seluruh jajaran pimpinan elit pasukan Roket demi memberantas korupsi dan memastikan loyalitas mutlak kepada Partai Komunis China.

Internasional
| Kamis, 7 Mei 2026

Feeds

Dibuat Modal Rp3,5 Juta, Animasi Niu Lai Raup Rp68,6 Miliar di China

Film animasi Niu Lai atau The Arrival of the Ox menjadi salah satu film paling menguntungkan tahun ini setelah meraih pendapatan puluhan miliar rupiah di box office China. Film yang sempat mendapat cibiran setelah dirilis itu hingga Rabu (19/8) telah meraup pendapatan kotor 26 juta yuan atau sekitar Rp68,6 miliar, menurut data China Film Data Information Network. Menariknya, film tersebut dibuat dengan bujet yang sangat kecil. Niu Lai disebut hanya menghabiskan sekitar US$200 atau setara Rp3,5 juta. Dengan pendapatan tersebut, Niu Lai mencatat keuntungan yang sangat besar dibandingkan modal produksinya. Film ini juga bersaing di box office China bersama sejumlah film besar seperti The Odyssey dan Spider-Man: Brand New Day. Niu Lai merupakan film animasi berdurasi 86 menit yang mengisahkan seekor anak sapi yang meninggalkan perlindungan kawanannya setelah mengikuti seekor burung skylark. Anak sapi tersebut kemudian memasuki dunia mimpi surealis dan menghadapi berbagai tema tentang keberanian, kehidupan, serta kematian. Sempat Disebut Film Terburuk Niu Lai dirilis di bioskop China pada 5 Agustus tanpa trailer maupun acara promosi. Setelah tayang, film tersebut justru mendapat respons negatif dan sempat dijuluki sebagai "film terburuk tahun 2026" di media sosial. Beijing News bahkan mengkritik kualitas animasi yang dinilai patah-patah serta pengisi suara yang terdengar canggung. Namun, cibiran tersebut justru memicu rasa penasaran penonton. Banyak orang kemudian menonton Niu Lai untuk mengetahui alasan film tersebut begitu ramai diperbincangkan. Cuplikan film yang mulai beredar di media sosial kemudian membantu meningkatkan perhatian terhadap film tersebut. Pendapatan Niu Lai pun perlahan meningkat meski sempat mengalami awal yang lambat di box office. Dibuat Hanya Dua Orang Kesuksesan Niu Lai semakin menarik karena film tersebut dikerjakan hanya oleh dua orang. Sutradara Xin Yumeng menggarap film tersebut bersama ibunya, Sun Lifang, yang menulis naskah sekaligus mengisi seluruh suara karakter. Keduanya juga tidak memiliki latar belakang di industri perfilman. Meski demikian, kesuksesan Niu Lai membuat Xin Yumeng mulai mempersiapkan pembuatan sekuel film tersebut.

Internasional
| Jumat, 21 Agustus 2026
Foto:  Dibuat Modal Rp3,5 Juta, Animasi Niu Lai Raup Rp68,6 Miliar di China | Pifa Net

Tuntutan Dipenuhi, Pemimpin Mahasiswa India Akhiri Mogok Makan 16 Hari

Pemimpin mahasiswa India, Davendra Nath Mahto, mengakhiri aksi mogok makan setelah berlangsung selama 16 hari pada Senin (17/8). Aksi tersebut dihentikan setelah pemerintah negara bagian Jharkhand memenuhi tuntutan mahasiswa terkait ujian rekrutmen pegawai negeri.Pemerintah Jharkhand membatalkan ujian rekrutmen pegawai negeri tingkat sarjana yang diselenggarakan Jharkhand Staff Selection Commission (JSSC). Ujian tersebut sebelumnya menuai protes karena diduga terjadi kebocoran soal dan kecurangan."Hari ini menandai hari ke-16 mogok makan. Perjuangan ini dimulai 2 Juli," kata Mahto di hadapan Menteri Herman Soren, Pemimpin Kongres Rahul Gandhi, dan Menteri Negara Bagian Dipiki Pandey, dikutip dari Times of India.Mahto mengapresiasi keputusan pemerintah Jharkhand membatalkan ujian tersebut. Menurut dia, pembatalan ujian merupakan keputusan penting untuk merespons dugaan berbagai kecurangan."Saya berterimakasih kepada pemerintah Jharkhand karena telah menunjukkan keberanian untuk mengambil keputusan penting seperti itu, membatalkan ujian adalah tantangan terbesar," kata Mahto.Meski menghentikan aksi mogok makan, Mahto menegaskan akan tetap mengawal proses reformasi sistem rekrutmen pegawai negeri di Jharkhand."Jika ini mengharuskan Majelis Legislatif untuk memberlakukan undang-undang baru atau memberlakukan amendemen konstitusi, maka biarlah demikian," ujarnya.Aksi mogok makan Mahto merupakan bagian dari demonstrasi ribuan mahasiswa dan pencari kerja di Jharkhand yang berlangsung sejak Juli. Mereka menuntut reformasi terhadap lembaga yang bertanggung jawab atas pelaksanaan ujian rekrutmen pegawai negeri.Para demonstran juga menuntut pencopotan Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan terkait dugaan kebocoran soal ujian dan berbagai persoalan dalam sistem pendidikan.Aksi tersebut dipimpin Cockroach Janta Party, partai politik yang dibentuk sebagai respons terhadap pernyataan kontroversial Ketua Mahkamah Agung India yang menyamakan kaum muda pengangguran dengan kecoak.Dharmendra Pradhan kemudian mengundurkan diri pada Sabtu (25/7), salah satu tuntutan yang sebelumnya disuarakan para demonstran.

Internasional
| Jumat, 21 Agustus 2026
Foto: Tuntutan Dipenuhi, Pemimpin Mahasiswa India Akhiri Mogok Makan 16 Hari | Pifa Net

Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama

Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai memburuknya kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan bulan.Kapal tersebut sebagian besar digunakan untuk mendukung operasi militer AS dalam perang melawan Iran. Namun, Trump justru menilai masa penugasan kapal itu belum berlangsung cukup lama."Tidak. Tidak. Tidak. Belum cukup lama," kata Trump saat ditanya apakah dirinya mengkhawatirkan kesehatan mental awak kapal dan apakah pengerahan USS Abraham Lincoln sudah terlalu panjang, dikutip dari The New York Times, Jumat (14/8).Trump juga menepis kekhawatiran keluarga para personel yang berada di kapal induk tersebut."Tidak, mereka tidak khawatir," ujar Trump ketika ditanya apakah keluarga awak kapal mencemaskan kondisi anggota keluarga mereka yang bertugas di USS Abraham Lincoln.Laporan Kondisi Kapal Jadi SorotanMenurut The New York Times, USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan setengah bulan. Sebagian besar periode tersebut dihabiskan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.Sejumlah laporan sebelumnya menyoroti kondisi di dalam kapal, mulai dari kekurangan kebutuhan dasar, persoalan kebersihan dan keselamatan hingga kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan mental para awak.Meski membantah adanya masalah serius, Trump mengakui USS Abraham Lincoln akan segera digantikan oleh kapal induk lain.Angkatan Laut AS disebut akan mengerahkan USS George Washington untuk menggantikan kapal tersebut. Informasi itu disampaikan seorang pejabat AS kepada The New York Times dengan syarat anonim karena tidak memiliki kewenangan untuk berbicara secara terbuka mengenai jadwal pengerahan kapal.Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga membantah laporan mengenai kondisi buruk di USS Abraham Lincoln. Ia menyebut kondisi yang diberitakan telah "disalahgambarkan".Namun, persoalan tersebut tetap mendapat perhatian dari Kongres AS.Senator Demokrat dari Connecticut Richard Blumenthal mengirim surat kepada Hegseth dan pejabat sementara Angkatan Laut Hung Cao pada Kamis (13/8).Dalam surat tersebut, Blumenthal menyoroti berbagai persoalan yang dilaporkan terjadi di kapal, termasuk kekurangan kebutuhan dasar, kontaminasi air, gangguan saluran air, memburuknya kondisi kesehatan mental awak serta persoalan keselamatan di dek.Sistem pengiriman surat juga menjadi sorotan. Sejumlah paket dari keluarga awak kapal dilaporkan hilang dalam proses pengiriman dan baru diterima setelah berbulan-bulan.Perang Iran Berlangsung Lebih LamaLaporan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahan Trump.Trump berulang kali menyatakan operasi militer Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan militer Iran. Ia juga cenderung mengecilkan dampak perang terhadap AS, termasuk korban tewas maupun personel yang terluka.The New York Times mencatat sedikitnya 18 personel militer AS tewas dan ratusan lainnya mengalami luka dalam konflik tersebut.Dalam pernyataan terpisah di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump kembali membela operasi militer AS dan mengeklaim adanya kemajuan dalam perang."Segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump.Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim strategis bagi pasokan minyak dunia. Selama perang, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.Trump juga kembali membela kebijakan perang dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia mengatakan tujuan tersebut sebanding dengan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika akibat kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan lainnya."Jadi ingat itu-ketika Anda harus membayar sedikit lebih mahal, harga bensin mencapai US$4, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujar Trump.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama | Pifa Net

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Ancam Iran dengan Serangan 100 Kali Lebih Keras

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya telah menguasai penuh Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras jika kembali menyerang Amerika Serikat."Kami sepenuhnya mengendalikan, kami memiliki, dalam arti yang sebenarnya, kami memiliki Selat Hormuz," kata Trump dilansir dari Fox News, Jumat (14/8).Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini menerapkan blokade di kawasan tersebut yang ia ibaratkan sebagai "tembok baja". Menurutnya, kapal hanya dapat melintasi Selat Hormuz apabila mendapat izin dari Washington."Kami hanya mengizinkan kapal masuk jika kami menginginkan mereka masuk," ujarnya.Trump juga mengeklaim blokade tersebut telah membuat Iran kehilangan pendapatan hingga ratusan juta dolar AS setiap hari. Selain blokade, sanksi ekonomi yang diberlakukan Washington disebut semakin memberikan tekanan terhadap pemerintahan Teheran.Trump kemudian melontarkan ancaman keras apabila Iran kembali melakukan serangan terhadap Amerika Serikat."Jika mereka menyerang, kami akan menyerang balik 100 kali lebih keras," kata Trump.Ia juga mengaku tidak khawatir konflik dengan Iran akan berdampak terhadap posisi politiknya menjelang pemilu paruh waktu AS. Trump kembali menyinggung persoalan harga bahan bakar dan alasan pemerintahannya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir."Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana," kata Trump.Trump kembali menegaskan klaim mengenai blokade di Selat Hormuz dan menggambarkan kekuatan Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya."Kami memiliki blokade yang seperti tembok baja. Tidak ada yang pernah melihat sesuatu seperti ini," ujarnya.Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengungkapkan rencana untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat jika Iran berhasil dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, seperti dikutip AFP.Iran Bantah AS Kuasai Selat HormuzKonflik antara AS dan Israel dengan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Washington dan Tel Aviv menyatakan serangan tersebut bertujuan menghentikan program nuklir Teheran.Iran kemudian membalas serangan dan memperkuat kendali de facto atas sebagian besar wilayah Selat Hormuz.Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dan berbagai komoditas dunia. Kebuntuan antara Washington dan Teheran mengenai akses pelayaran pun hingga kini masih berlangsung.Iran menolak membuka kembali jalur tersebut bagi sebagian besar kapal sipil. Di sisi lain, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian Teheran.Hingga Jumat (14/8), lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah dua kapal kembali diserang di kawasan tersebut.Teheran juga membantah klaim Trump bahwa Amerika Serikat telah menguasai sepenuhnya Selat Hormuz. Iran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum sejumlah tuntutan dipenuhi.Di antara tuntutan Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.Di tengah kebuntuan tersebut, Trump terus mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Namun, pada awal pekan ini, ia memberi sinyal bahwa Washington akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi dibandingkan memperluas operasi militer untuk menghadapi Iran.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Ancam Iran dengan Serangan 100 Kali Lebih Keras | Pifa Net

Iran Balas Ancaman Trump soal Selat Hormuz: Kami Tidak Takut

Pemerintah Iran menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mengklaim Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS setelah perang dengan Iran berakhir.Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Teheran tidak akan mundur hanya karena mendapat ancaman maupun menghadapi unjuk kekuatan militer dari Washington.Melalui unggahan di platform X, Gharibabadi menyatakan keputusan untuk membuka atau menutup Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran."Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui cuitan, kapal induk, perintah, maupun pidato kampanye pemilu," tulis Gharibabadi di X."Iran tidak takut pada ancaman maupun gentar menghadapi unjuk kekuatan," imbuhnya.Gharibabadi bahkan mengklaim Amerika Serikat telah mengalami "kekalahan strategis yang telak" dalam konflik tersebut. Ia menegaskan Teheran tidak akan menyerahkan kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu."Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawa kendali Iran. Teheran akan mempertahankan blokade ini sampai AS menerima kenyataan akan kekalahan," kata dia.Pernyataan tersebut merupakan respons langsung terhadap ucapan Trump sebelumnya. Dalam sebuah pertemuan di Nassau County, New York, Trump mengatakan dirinya akan menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump sambil terkekeh."Itu benar," imbuhnya, seperti dikutip AFP.Pernyataan Trump muncul ketika Washington dan Teheran masih berada dalam kebuntuan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.Iran menolak memberikan akses kepada sebagian besar kapal sipil, sementara Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.Di tengah ketegangan tersebut, Trump pada awal pekan ini mengisyaratkan bahwa pemerintahannya akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi untuk menghadapi Iran dibandingkan meningkatkan operasi militer.Namun, respons keras dari Teheran menunjukkan bahwa perselisihan mengenai Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Iran Balas Ancaman Trump soal Selat Hormuz: Kami Tidak Takut | Pifa Net

Trump Ingin Klaim Selat Hormuz sebagai Wilayah Amerika Serikat Setelah Perang Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz. Ia mengatakan akan menyatakan jalur perairan strategis tersebut sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat setelah perang dengan Iran berakhir.Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah rapat di akademi kepolisian New York. Ia menyampaikannya sambil terkekeh ketika berbicara mengenai perang yang masih berlangsung dengan Iran."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump."Itu benar," imbuhnya, seperti dikutip AFP.Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Washington dan Tel Aviv sebelumnya menyatakan operasi tersebut bertujuan menghentikan program nuklir Iran.Namun, konflik tersebut justru membuat situasi di Selat Hormuz semakin tegang. Iran membangun kendali secara de facto atas sebagian besar jalur perairan tersebut, yang merupakan salah satu rute utama pengiriman energi dan berbagai komoditas dunia.Hingga kini, Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kebuntuan terkait akses melalui Selat Hormuz. Iran menolak memberikan akses pelayaran kepada sebagian besar kapal sipil, sedangkan Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan perekonomian Teheran.Pada Jumat (14/8), lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah dua kapal kembali diserang di kawasan tersebut.Seorang pejabat senior Iran juga menyatakan bahwa belum ada perkembangan dalam pembicaraan lanjutan untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.Situasi tersebut terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata yang diperbarui pada Juni lalu gagal bertahan. Iran kemudian kembali menyerang kapal-kapal yang dituding melintasi Selat Hormuz tanpa izin.Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan meningkatkan serangan militer dan "menghantam Iran dengan keras".Iran membantah klaim tersebut. Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tuntutan mereka dipenuhi.Salah satu syarat yang diajukan Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset Iran yang saat ini dibekukan.Di tengah kebuntuan tersebut, Trump pada awal pekan ini memberikan sinyal bahwa pemerintahannya akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran dibandingkan meningkatkan operasi militer.Pernyataan Trump mengenai rencana menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat pun menambah ketegangan dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan tersebut. Selat itu sendiri merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat penting bagi pasokan energi global.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Trump Ingin Klaim Selat Hormuz sebagai Wilayah Amerika Serikat Setelah Perang Iran | Pifa Net

Trump dan Teori Orang Gila: Strategi Intimidasi dalam Perang Melawan Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan karena gaya komunikasinya yang keras dan penuh ancaman selama perang dengan Iran.Pernyataan Trump di media sosial kerap memperlihatkan sikap konfrontatif, bahkan ketika menyangkut ancaman terhadap sebuah negara. Salah satu contohnya terjadi pada 7 April lalu, ketika Trump memperingatkan Iran bahwa "seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini" apabila Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai.Dalam pernyataan tersebut, Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil serta pembangkit listrik Iran.Ancaman itu pada akhirnya tidak direalisasikan setelah pembicaraan tatap muka bersejarah dijadwalkan berlangsung di Pakistan. Namun, gaya komunikasi Trump kembali terlihat ketika ia mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz."Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka - lihat saja! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP," tulisnya.Cara Trump menyampaikan ancaman tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan strategi yang dikenal sebagai "Madman Theory" atau Teori Orang Gila.Teori Orang Gila NixonKonsep tersebut pertama kali dikenal luas melalui Presiden AS Richard Nixon ketika menghadapi Perang Vietnam pada awal 1970-an.Nixon berusaha membangun persepsi bahwa dirinya tidak dapat diprediksi dan bersedia mengambil tindakan ekstrem demi memaksa lawannya menghentikan perang.Dalam percakapannya dengan calon kepala staf Gedung Putih Bob Haldeman pada 1968, Nixon bahkan menjelaskan gagasan tersebut secara terbuka."Saya menyebutnya 'teori orang gila' Bob," katanya kepada Haldeman, seperti diceritakan Anthony Summers dalam buku The Arrogance of Power.Nixon ingin Vietnam Utara percaya bahwa dirinya telah mencapai titik di mana ia mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang."Saya ingin Vietnam Utara percaya bahwa saya telah mencapai titik di mana saya mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Kita akan menyelipkan pesan kepada mereka bahwa 'demi Tuhan, Anda tahu Nixon terobsesi dengan komunis. Kita tidak bisa menahannya ketika dia marah, dan dia memegang kendali atas tombol nuklir', dan Ho Chi Minh sendiri akan berada di Paris dalam dua minggu memohon perdamaian," dikutip dari The Guardian.Strategi tersebut pada dasarnya bertumpu pada ketidakpastian. Lawan dibuat percaya bahwa pemimpin yang dihadapinya bisa mengambil keputusan ekstrem, sehingga ancaman yang disampaikan menjadi lebih sulit diabaikan.Trump Disebut Mengadopsi Strategi SerupaTrump disebut memiliki ketertarikan terhadap pendekatan tersebut dan menggunakannya dalam menghadapi Iran.Robert Tait, yang menganalisis penerapan Teori Orang Gila pada Trump, melihat adanya kemiripan antara strategi Trump saat ini dengan pendekatan Nixon ketika menghadapi Vietnam Utara pada 1972.Trump berulang kali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, kemudian mengambil langkah mundur ketika kondisi memungkinkan tercapainya kesepakatan tertentu.Namun, persoalannya adalah Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah setelah hampir enam pekan pengeboman.Di tengah situasi tersebut, Trump membutuhkan cara untuk menghindari kesan bahwa perang berakhir tanpa kemenangan yang jelas bagi Amerika Serikat.Ali Vaez, Direktur Program Iran dari International Crisis Group, menilai Trump mungkin sedang mencari jalan keluar yang memungkinkan dirinya mengklaim kemenangan tanpa harus memperpanjang konflik."Karena dia belum mampu meraih kemenangan telak dari konflik ini sejauh ini, dia mungkin sedang mencari semacam langkah besar agar bisa mundur dan menyatakan kemenangan tanpa para kritikusnya mampu membantah narasi kemenangannya," kata Vaez.Ancaman terhadap Selat Hormuz juga dapat menjadi salah satu cara bagi Trump untuk mendapatkan hasil yang bisa dipresentasikan sebagai kemenangan. Dengan menekan Teheran agar membuka kembali jalur perdagangan penting tersebut, Trump dapat menghindari pilihan yang jauh lebih berisiko, yakni mengerahkan pasukan darat.Trump juga mengklaim Iran telah berjanji untuk "menggali dan menyingkirkan" material nuklir.Bukan Pertama Kali Trump Menggunakan Gaya "Orang Gila"Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School, Tufts University, juga pernah mengulas pendekatan Trump tersebut.Menurut analisis Drezner, Trump telah membangun reputasi sebagai pemimpin yang sulit diprediksi sejak masa jabatan pertamanya. Pendekatan tersebut paling terlihat dalam kebijakannya terhadap Korea Utara dan Korea Selatan.Pada 2017, Trump meningkatkan tekanan verbal terhadap Korea Utara. Dalam sebuah pernyataan pada Agustus tahun itu, Trump memperingatkan Pyongyang dengan ancaman keras."Korea Utara sebaiknya tidak lagi mengancam Amerika Serikat.Mereka akan dihadapi dengan api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya."Sebulan kemudian, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Trump menyebut pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai "Manusia Roket" dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya."Pendekatan serupa juga diterapkan Trump dalam hubungan dagang dengan Korea Selatan.Pada 2017, pemerintahannya berupaya menegosiasikan ulang ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea. Menurut laporan Jonathan Swan di Axios, Trump bahkan memerintahkan kepala negosiator perdagangan Robert Lighthizer untuk memberi tahu pihak Korea Selatan bahwa dirinya adalah orang yang tidak dapat diprediksi."Katakan kepada mereka, 'Orang ini sangat gila sehingga dia bisa menarik diri kapan saja.' Katakan kepada mereka jika mereka tidak memberikan konsesi sekarang, orang gila ini akan menarik diri dari kesepakatan."Swan kemudian mencatat bahwa sejumlah pemimpin dunia menganggap Trump benar-benar gila, sementara Trump sendiri tampaknya melihat reputasi tersebut sebagai sebuah keuntungan.Dalam konteks perang dengan Iran, pola komunikasi Trump kembali memunculkan pertanyaan mengenai apakah ancaman-ancaman ekstrem tersebut merupakan luapan emosi atau justru bagian dari strategi yang sengaja dibangun.Jika mengikuti logika Madman Theory, ketidakpastian justru menjadi senjata. Trump tidak harus benar-benar melakukan seluruh ancamannya. Cukup dengan membuat lawan percaya bahwa ia mungkin melakukannya, tekanan psikologis dan diplomatik dapat digunakan untuk memaksa lawan mengambil langkah yang menguntungkan Washington.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Trump dan Teori Orang Gila: Strategi Intimidasi dalam Perang Melawan Iran | Pifa Net

Krisis Listrik Venezuela Memburuk, Pegawai Negeri Diminta Kerja Setiap Dua Hari

Pemerintah Venezuela memangkas jam kerja pegawai negeri sebagai upaya mengurangi beban konsumsi listrik yang terus meningkat dan menekan jaringan kelistrikan nasional.Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan bahwa pegawai sektor publik akan menerapkan pola kerja bergantian sebagai bagian dari langkah penghematan energi."pekerja sektor publik akan bekerja setiap dua hari sekali dan setengah hari kerja untuk semua karyawan," kata Rodriguez, Rabu (12/8).Kebijakan tersebut tidak diberlakukan untuk layanan yang dianggap vital, termasuk sektor kesehatan.Langkah penghematan diambil setelah permintaan listrik Venezuela mencapai level tertinggi dalam hampir satu dekade. Sepanjang tahun ini, kebutuhan listrik tercatat mencapai 15.726 megawatt (MW), sementara kapasitas pasokan yang tersedia hanya sekitar 12.000 MW.Rodriguez mengatakan lonjakan konsumsi listrik tidak semata-mata disebabkan kondisi cuaca. Pertumbuhan ekonomi juga disebut ikut meningkatkan kebutuhan energi nasional."Jaringan listrik nasional telah mengalami permintaan yang tinggi bukan hanya karena situasi iklim, tetapi juga karena pertumbuhan ekonomi," ujar Rodriguez, Selasa (11/8).Krisis listrik tersebut paling terasa di wilayah di luar Caracas. Pemadaman yang semakin sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir bahkan memicu aksi protes masyarakat.Sejumlah daerah pedalaman Venezuela diketahui telah mengalami pemadaman listrik selama bertahun-tahun. Para ahli mengaitkan persoalan tersebut dengan buruknya pengelolaan jaringan serta minimnya perawatan infrastruktur kelistrikan.Berbeda dengan daerah lain, Caracas relatif lebih jarang mengalami pemadaman. Meski demikian, sejumlah gangguan listrik mulai dilaporkan terjadi di ibu kota dalam beberapa pekan terakhir.Rodriguez mengumumkan kebijakan pengurangan jam kerja tersebut ketika menandatangani perjanjian dengan perusahaan Argentina IMPSA. Kesepakatan itu ditujukan untuk menyelesaikan proyek pembangkit listrik tenaga air di wilayah selatan negara bagian Bolivar.Sebelumnya, pemerintah Venezuela juga mencapai kesepakatan dengan perusahaan utilitas asal Amerika Serikat, General Electric, untuk meningkatkan pasokan listrik pada Juni.Di tengah tekanan dari Washington, pemerintahan Rodriguez juga mulai membuka sektor ekonomi dan sumber daya Venezuela bagi perusahaan-perusahaan asing.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Krisis Listrik Venezuela Memburuk, Pegawai Negeri Diminta Kerja Setiap Dua Hari | Pifa Net

MbS Rombak Kabinet Arab Saudi, Dua Pimpinan Lembaga Strategis Diganti

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) melakukan perombakan kabinet pemerintahan kerajaan pada Kamis (14/8).Perombakan tersebut dilakukan melalui dekret yang memberikan kewenangan kepada MbS, selaku pemimpin de facto Arab Saudi, untuk membentuk kembali Dewan Menteri sesuai ketentuan masa jabatan empat tahun dalam Undang-Undang Dewan Menteri.Menurut Kantor Berita Saudi (SPA), pembentukan kembali Dewan Menteri dilakukan berdasarkan aturan yang mengatur masa jabatan pemerintahan selama empat tahun.Selain perubahan dalam Dewan Menteri, Raja Salman juga mengeluarkan dekret terpisah terkait pergantian pimpinan dua lembaga penting Arab Saudi.Dua lembaga tersebut adalah Otoritas Konten Lokal dan Pengadaan Pemerintah serta Otoritas Pasar Modal.Menteri Energi sekaligus Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral, Pangeran Abdulaziz bin Salman, ditunjuk sebagai Ketua Dewan Otoritas Konten Lokal dan Pengadaan Pemerintah.Ia menggantikan Bandar Al Khorayef yang diberhentikan dari posisi tersebut.Sementara itu, Mazen Al-Sudairy ditunjuk sebagai Ketua Otoritas Pasar Modal dengan pangkat menteri. Ia menggantikan Mohammed Al Quwaiz yang juga dicopot dari jabatannya.Perombakan tersebut menjadi bagian dari penataan kembali struktur pemerintahan Arab Saudi di bawah kepemimpinan MbS. Sebagai putra mahkota sekaligus pemimpin de facto, MbS memegang peran penting dalam arah kebijakan politik dan ekonomi kerajaan.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: MbS Rombak Kabinet Arab Saudi, Dua Pimpinan Lembaga Strategis Diganti | Pifa Net

Trump Tertekan, Perang Iran Berlarut dan Masalah Internal AS Makin Rumit

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi semakin banyak persoalan seiring perang dengan Iran yang berlangsung lebih lama dari perkiraan pemerintahannya.Analisis Aaron Blake dari CNN menyoroti sejumlah persoalan yang kini menjadi beban politik dan militer bagi Trump, mulai dari ancaman terhadap keselamatan presiden, menipisnya persediaan amunisi, perpecahan di internal pemerintahan hingga kondisi prajurit AS yang menjalani penugasan panjang.Salah satu sorotan muncul ketika Trump diam-diam berganti pesawat dalam perjalanan pulang dari KTT NATO di Turki. Ia disebut meninggalkan Air Force One dan menggunakan jet militer sebagai langkah pengamanan setelah muncul informasi mengenai ancaman serangan.Media Amerika Serikat melaporkan Trump bahkan berpindah pesawat melalui kontainer katering agar keberadaannya tidak diketahui. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya informasi mengenai seseorang di sekitar lokasi KTT NATO yang diduga membawa rudal bahu.Pergantian pesawat tersebut memang dapat dipandang sebagai upaya melindungi keselamatan presiden. Namun, situasi itu sekaligus menimbulkan pertanyaan karena rombongan pers dan sebagian staf tetap berada di pesawat yang sebelumnya akan membawa Trump.Para jurnalis disebut tidak mendapatkan informasi mengenai potensi ancaman rudal tersebut. Kondisi ini dinilai berbeda dari prosedur perjalanan rahasia yang biasanya mengharuskan rombongan pers diberi tahu mengenai perubahan keamanan dan diminta menjaga kerahasiaannya.Situasi tersebut juga dianggap berlawanan dengan klaim Trump bahwa kekuatan militer Iran telah dihancurkan. Jika ancaman dari Iran masih dianggap cukup serius hingga presiden harus berpindah pesawat secara diam-diam, klaim tersebut kembali menjadi sorotan.Amunisi AS Mulai Jadi KekhawatiranPersoalan lain yang menghantui pemerintahan Trump adalah persediaan amunisi Amerika Serikat.Sebelum perang dimulai, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine telah memperingatkan bahwa stok amunisi dapat menjadi persoalan apabila konflik berlangsung dalam waktu lama.Trump sebelumnya optimistis Iran dapat dihancurkan dalam waktu empat hingga enam minggu. Namun, kenyataannya perang telah memasuki bulan keenam.CNN melaporkan hampir 80 persen rudal pencegat AS telah digunakan dalam perang melawan Iran. Trump membantah kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan tersebut dan menyatakan AS masih memiliki cukup amunisi untuk menyelesaikan misinya.Meski demikian, pernyataan tersebut belum menjawab persoalan mengenai kemampuan Amerika Serikat mempertahankan stok persenjataan penting jika konflik terus berlangsung.Produksi amunisi membutuhkan waktu. Kondisi tersebut berpotensi membuat AS berada dalam posisi lebih rentan, termasuk menghadapi kemungkinan negara lain memanfaatkan keterbatasan persenjataan Amerika.Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah China dapat melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, yang selama ini sangat bergantung pada persenjataan dari AS.Perpecahan Mulai Muncul di Lingkaran TrumpTekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri. Sejumlah tokoh yang sebelumnya mendukung kebijakan perang mulai menunjukkan kelelahan dan memberikan sinyal bahwa konflik sebaiknya segera dihentikan.CNN sebelumnya melaporkan Jenderal Dan Caine telah berbicara dengan para penasihat Trump mengenai perlunya mengakhiri pertempuran. Menurut Caine, opsi militer yang tersedia justru berpotensi menjadi bumerang bagi Trump, sementara serangan udara saja kemungkinan tidak cukup untuk mencapai tujuan perang.Ketua DPR AS Mike Johnson juga mulai menyerukan penghentian konflik."Kita harus mengakhirinya," kata Johnson.Sementara itu, pembawa acara Fox News Laura Ingraham yang sebelumnya mendukung perang mulai menyampaikan kekhawatiran bahwa "waktu terus berjalan".Sikap tersebut muncul ketika Amerika Serikat juga mulai mendekati pemilihan paruh waktu. Johnson disebut khawatir perang berkepanjangan dapat menjadi persoalan politik bagi Partai Republik.Dukungan dari kalangan konservatif juga mulai retak. Benny Johnson, salah satu pendukung Trump dari kubu kanan, bahkan meminta presiden mengakhiri perang dan kembali memusatkan perhatian pada persoalan domestik."Perang di luar negeri yang tak kunjung usai selalu tidak disukai. Perang seperti itu akan selalu menjadi kanker politik," tulis Johnson di X pekan lalu."Akhiri perang. Selesaikan. Fokus kembali pada Amerika. Bensin, bahan makanan, harga rumah, dan imigrasi. Itulah cara kita menang."Kondisi Prajurit AS Ikut Jadi SorotanMasalah lainnya berkaitan dengan kondisi personel militer Amerika Serikat yang berada di kawasan konflik.Perang yang berkepanjangan dilaporkan berdampak terhadap kondisi fisik dan mental para prajurit maupun personel nonmiliter. Sejumlah keluarga personel bahkan mengeluhkan lamanya masa penugasan yang membuat mereka tidak kunjung pulang.Media seperti MS NOW, Military Times, dan Navy Times melaporkan keluarga para pelaut dan marinir yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln semakin frustrasi akibat panjangnya penugasan.Beberapa personel bahkan dilaporkan nekat terjun ke laut karena ingin segera mengakhiri penugasan dan kembali ke rumah.USS Abraham Lincoln disebut telah mencatat salah satu masa penugasan terpanjang, yakni lebih dari 260 hari. Kapal tersebut telah berada di kawasan Timur Tengah sejak November 2025.Sejumlah personel kepada keluarganya menggambarkan kondisi kapal yang memprihatinkan. Mereka mengeluhkan kekurangan makanan dan air bersih, hingga keterbatasan kebutuhan dasar seperti sabun, pasta gigi, dan deodoran.Kondisi fisik kapal juga disebut mengalami masalah, termasuk bagian dek penerbangan yang berlubang.Para personel mengaku kelelahan karena jarang mendapatkan waktu istirahat dan tidak tahan dengan panjangnya masa penugasan.Angkatan Laut AS menyatakan bahwa mereka "menanggapi kesejahteraan setiap anggota dengan serius dan memiliki tenaga profesional di bidang keagamaan, medis, dan kesehatan mental yang siap menilai dan mengatasi masalah yang muncul."Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa perang dengan Iran tidak hanya menjadi tantangan militer bagi Trump. Konflik yang berlarut-larut juga mulai menimbulkan tekanan terhadap persediaan senjata, kondisi pasukan, soliditas politik, hingga dukungan dari kelompok yang selama ini berada di belakang pemerintahannya.

Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Foto: Trump Tertekan, Perang Iran Berlarut dan Masalah Internal AS Makin Rumit | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Internasional

Foto: Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel | Pifa Net

Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel

Iran mengancam akan memadamkan listrik di sejumlah negara Teluk jika Amerika Serikat atau Israel menyerang pembangkit listrik di Teheran.Ancaman tersebut disampaikan Iran melalui perantara kepada sejumlah negara Arab setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.Dua pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP bahwa Iran secara khusus mengancam negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat."Iran mengancam akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk, satu per satu, jika Trump menyerang pembangkit listriknya," kata salah satu pejabat tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Arab lainnya.Kedua pejabat tersebut berbicara kepada AFP dengan syarat anonim karena membahas persoalan yang sensitif.Ancaman Iran muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan rencana untuk melancarkan "serangan terbesar sejak Perang Dunia II" terhadap Iran. Infrastruktur energi disebut-sebut menjadi salah satu kemungkinan sasaran serangan.Iran kemudian menyampaikan pesan kepada negara-negara Teluk bahwa pembangkit listrik mereka akan menjadi sasaran Teheran apabila ancaman serangan Amerika Serikat benar-benar direalisasikan.Sejumlah negara Arab kemudian berupaya mencegah eskalasi konflik. Pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dilaporkan menghubungi Trump untuk memintanya menahan diri dan tidak melanjutkan rencana serangan tersebut.Ancaman Iran disebut berbeda dari peringatan-peringatan sebelumnya. Salah satu pejabat Arab menyebut ancaman kali ini sangat serius.Jika benar terjadi, serangan terhadap fasilitas energi negara-negara Teluk berpotensi memperluas konflik dan berdampak terhadap pasokan listrik serta infrastruktur energi di kawasan.Rencana serangan Trump sendiri pada akhirnya tidak dilakukan setelah negara-negara Arab turun tangan untuk meredakan ketegangan.Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memicu respons yang lebih luas, termasuk terhadap negara-negara Teluk yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat.

Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Internasional

Foto: Pezeshkian Tegaskan Rudal Balistik Iran Tak Bisa Ditawar dalam Negosiasi | Pifa Net

Pezeshkian Tegaskan Rudal Balistik Iran Tak Bisa Ditawar dalam Negosiasi

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa program rudal balistik negaranya tidak akan menjadi bahan perundingan dengan Amerika Serikat maupun negara lain. Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menggelar konferensi pers bersama Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada Selasa (23/6). Menurut Pezeshkian, kemampuan pertahanan Iran merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang tidak dapat dinegosiasikan dalam kondisi apa pun. "Iran tidak akan pernah membahas kemampuan militernya dengan pihak mana pun dan dalam keadaan apa pun," tegas Pezeshkian. Ia menilai rudal balistik memiliki peran vital dalam menjaga keamanan negara dari ancaman eksternal. Menurutnya, tanpa kemampuan pertahanan tersebut, Iran berpotensi mengalami nasib serupa dengan wilayah konflik lain di kawasan. "Jika rudal yang kami miliki untuk pertahanan negara tidak ada, Israel dan Amerika Serikat akan menghancurkan Iran seperti halnya Gaza, tanpa menunjukkan belas kasihan kepada yang tua maupun muda," ujarnya. Pakistan Dukung Sikap Iran Dalam kesempatan yang sama, Sharif menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat tidak memasukkan isu rudal balistik sebagai bagian dari kesepakatan. Ia juga menolak adanya perlakuan berbeda terhadap Iran dibanding negara-negara lain yang memiliki kemampuan militer serupa. "Tidak boleh ada standar ganda bahwa beberapa negara boleh memiliki rudal balistik tetapi Iran tidak boleh memilikinya. Anda tidak boleh menoleransi kemunafikan ini," kata Sharif. Bahas Kelanjutan Negosiasi AS-Iran Kunjungan Pezeshkian ke Pakistan dilakukan beberapa hari setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman perdamaian serta menggelar pembicaraan teknis lanjutan di Swiss. Selain membahas perkembangan negosiasi dengan Washington, kedua pemimpin juga membicarakan penguatan hubungan bilateral antara Iran dan Pakistan. Pakistan bersama Qatar diketahui menjadi mediator dalam proses perundingan antara Teheran dan Washington. Sharif menegaskan negaranya akan terus berupaya mendukung proses diplomasi demi terciptanya stabilitas dan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah. Isu Rudal Jadi Perdebatan Lama Sebelum tercapainya kesepakatan awal, Amerika Serikat dan Israel sempat berupaya memasukkan program rudal balistik Iran serta hubungan Teheran dengan kelompok-kelompok sekutunya di Timur Tengah ke dalam agenda negosiasi. Namun Iran secara konsisten menolak pembahasan tersebut dan menegaskan bahwa kemampuan militernya bukan bagian dari kompromi diplomatik. Selama bertahun-tahun, Israel memandang rudal balistik Iran sebagai salah satu ancaman utama terhadap keamanan nasionalnya. Meski demikian, dalam nota kesepahaman yang telah ditandatangani antara Washington dan Teheran, isu rudal balistik tidak menjadi bagian dari kesepakatan. Kondisi itu memicu kritik dari sejumlah kalangan di Israel yang menilai hasil perundingan lebih menguntungkan Iran dibanding kepentingan keamanan Tel Aviv. Pernyataan terbaru Pezeshkian semakin menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka ruang negosiasi terkait kemampuan rudal balistiknya, sekalipun proses diplomasi dengan Amerika Serikat terus berlanjut.

Internasional
| Rabu, 24 Juni 2026

Internasional

Foto: Terjerat Korupsi, Dua Mantan Menteri Pertahanan China Divonis Mati dengan Penangguhan | Pifa Net

Terjerat Korupsi, Dua Mantan Menteri Pertahanan China Divonis Mati dengan Penangguhan

BEIJING – Pengadilan Militer China menjatuhkan vonis mati dengan penangguhan dua tahun terhadap dua mantan Menteri Pertahanan, Wei Fenghe dan Li Shangfu, pada Kamis (7/5). Keduanya dinyatakan terbukti bersalah dalam kasus korupsi besar yang mengguncang internal militer Negeri Tirai Bambu tersebut.Berdasarkan sistem hukum di China, hukuman mati dengan penangguhan berarti kedua terpidana tidak akan langsung dieksekusi, melainkan diberikan masa percobaan selama dua tahun."Dua mantan menteri pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, sama-sama dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun atas tuduhan korupsi," demikian laporan kantor berita resmi China, Xinhua.Pengadilan menjelaskan bahwa jika selama masa penangguhan dua tahun tersebut Wei dan Li menunjukkan perilaku baik serta tidak melakukan pelanggaran hukum lainnya, maka hukuman mereka akan diubah menjadi penjara seumur hidup."Putusan pengadilan menyatakan tidak akan ada lagi pengurangan hukuman atau pembebasan bersyarat yang diizinkan setelah hukuman mereka dikurangi menjadi penjara seumur hidup sesuai dengan hukum usai masa penangguhan selama dua tahun berakhir," lanjut laporan tersebut.Kedua mantan petinggi militer ini dijatuhi hukuman dalam persidangan terpisah. Wei Fenghe dinyatakan bersalah atas kejahatan menerima suap. Sementara itu, Li Shangfu dinyatakan bersalah atas kejahatan menerima sekaligus menawarkan suap. Selain hukuman fisik, pengadilan juga mencabut hak politik mereka seumur hidup dan menyita seluruh harta pribadi milik keduanya.Wei Fenghe (72) menjabat sebagai Menteri Pertahanan China pada periode 2018 hingga 2023. Posisinya kemudian digantikan oleh Li Shangfu, yang hanya menjabat kurang dari delapan bulan sebelum akhirnya menghilang dari publik pada tahun 2023. Li sempat diduga menjadi tahanan rumah sebelum akhirnya Komisi Anti-Korupsi China mengumumkan penyelidikan resmi terhadap dirinya dan pendahulunya, Wei Fenghe.Kasus ini menjadi bagian dari perombakan besar-besaran yang dilakukan Presiden Xi Jinping di tubuh militer China. Selain memecat Li dan Wei, Xi juga telah merombak seluruh jajaran pimpinan elit pasukan Roket demi memberantas korupsi dan memastikan loyalitas mutlak kepada Partai Komunis China.

Internasional
| Kamis, 7 Mei 2026
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5