Internasional
Trump Ancam Serang Iran Lagi dan Kuasai Selat Hormuz, Negosiasi Damai di Swiss Terganggu
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah melontarkan ancaman serangan baru di tengah berlangsungnya negosiasi damai antara kedua negara di Swiss, Minggu (21/6). Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mendesak Iran segera menghentikan aktivitas kelompok proksi Hizbullah di Lebanon yang menurutnya terus menimbulkan masalah. Ia juga memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan yang lebih besar jika tuntutannya tidak dipenuhi. "Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan lebih keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, lebih keras," tulis Trump. Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan mengambil alih Selat Hormuz apabila Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut. Ia bahkan mengklaim Amerika Serikat dapat menjadi "pelindung" Selat Hormuz dan menguasai sebagian pasokan minyak yang melintas di kawasan itu. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump turut menyoroti pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menegaskan Teheran akan tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium. Trump meminta Pezeshkian mengubah sikapnya atau menghadapi konsekuensi yang lebih besar. Pernyataan keras tersebut memicu kemarahan delegasi Iran yang sedang mengikuti perundingan damai di Swiss. Iran dilaporkan memilih keluar dari proses negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat dengan mediasi Qatar dan Pakistan. Menurut laporan CNN yang mengutip sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan di Hotel Burgenstock, ancaman Trump dianggap sebagai langkah yang memperburuk suasana diplomatik dan menghambat upaya mencari solusi damai. Tidak lama setelah pernyataan Trump muncul, Ketua Delegasi Iran, Mohammed Ghalibaf, memberikan respons tegas melalui media sosial X. "Mereka sebaiknya berhati-hati dengan kata-kata mereka. Angkatan bersenjata kami siap memberi mereka tanggapan dengan cara yang berbeda," tulis Ghalibaf. Ancaman terbaru Trump muncul ketika delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menyatakan ingin membuka "lembaran baru" dalam hubungan dengan rakyat Iran melalui jalur diplomasi. Namun, pernyataan Trump justru memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian terhadap masa depan perundingan damai antara kedua negara.
Internasional
| Senin, 22 Juni 2026

Trending
AS Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 45 Hari
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

Ekspor Senjata Israel Tembus Rekor, Capai Rp342 Triliun di Tengah Konflik Global
Internasional
| Selasa, 2 Juni 2026

Diktator Portugal António Salazar Tak Menyukai Sepak Bola, Namun Memanfaatkannya untuk Propaganda
Internasional
| Sabtu, 4 Juli 2026

Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Terdampak Gempa 7,4 dan Tsunami di Jepang
Internasional
| Senin, 20 April 2026

Korsel Sambut Gencatan Senjata 10 Hari Israel-Lebanon, Apresiasi Peran AS
Internasional
| Jumat, 17 April 2026

AS Mulai Blokade Laut Iran, Risiko Konflik di Selat Hormuz Meningkat
Internasional
| Selasa, 14 April 2026

Trump Ancam Gempur Iran Lagi usai Sebut MoU Perdamaian "Sudah Berakhir"
Internasional
| Rabu, 8 Juli 2026

China Sambut Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Serukan Stabilitas Energi Global
Internasional
| Jumat, 17 April 2026

Saling Tuding di Teluk: Iran Sebut AS Dalang Serangan Kilang Fujairah, UEA Ancam Balas Dendam
Internasional
| Selasa, 5 Mei 2026

Wall Street Journal: AS Akan Tarik 1.000 Pasukan Tersisa dari Suriah dalam Dua Bulan
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Berita Terbaru
Internasional

Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai memburuknya kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan bulan.Kapal tersebut sebagian besar digunakan untuk mendukung operasi militer AS dalam perang melawan Iran. Namun, Trump justru menilai masa penugasan kapal itu belum berlangsung cukup lama."Tidak. Tidak. Tidak. Belum cukup lama," kata Trump saat ditanya apakah dirinya mengkhawatirkan kesehatan mental awak kapal dan apakah pengerahan USS Abraham Lincoln sudah terlalu panjang, dikutip dari The New York Times, Jumat (14/8).Trump juga menepis kekhawatiran keluarga para personel yang berada di kapal induk tersebut."Tidak, mereka tidak khawatir," ujar Trump ketika ditanya apakah keluarga awak kapal mencemaskan kondisi anggota keluarga mereka yang bertugas di USS Abraham Lincoln.Laporan Kondisi Kapal Jadi SorotanMenurut The New York Times, USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan setengah bulan. Sebagian besar periode tersebut dihabiskan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.Sejumlah laporan sebelumnya menyoroti kondisi di dalam kapal, mulai dari kekurangan kebutuhan dasar, persoalan kebersihan dan keselamatan hingga kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan mental para awak.Meski membantah adanya masalah serius, Trump mengakui USS Abraham Lincoln akan segera digantikan oleh kapal induk lain.Angkatan Laut AS disebut akan mengerahkan USS George Washington untuk menggantikan kapal tersebut. Informasi itu disampaikan seorang pejabat AS kepada The New York Times dengan syarat anonim karena tidak memiliki kewenangan untuk berbicara secara terbuka mengenai jadwal pengerahan kapal.Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga membantah laporan mengenai kondisi buruk di USS Abraham Lincoln. Ia menyebut kondisi yang diberitakan telah "disalahgambarkan".Namun, persoalan tersebut tetap mendapat perhatian dari Kongres AS.Senator Demokrat dari Connecticut Richard Blumenthal mengirim surat kepada Hegseth dan pejabat sementara Angkatan Laut Hung Cao pada Kamis (13/8).Dalam surat tersebut, Blumenthal menyoroti berbagai persoalan yang dilaporkan terjadi di kapal, termasuk kekurangan kebutuhan dasar, kontaminasi air, gangguan saluran air, memburuknya kondisi kesehatan mental awak serta persoalan keselamatan di dek.Sistem pengiriman surat juga menjadi sorotan. Sejumlah paket dari keluarga awak kapal dilaporkan hilang dalam proses pengiriman dan baru diterima setelah berbulan-bulan.Perang Iran Berlangsung Lebih LamaLaporan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahan Trump.Trump berulang kali menyatakan operasi militer Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan militer Iran. Ia juga cenderung mengecilkan dampak perang terhadap AS, termasuk korban tewas maupun personel yang terluka.The New York Times mencatat sedikitnya 18 personel militer AS tewas dan ratusan lainnya mengalami luka dalam konflik tersebut.Dalam pernyataan terpisah di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump kembali membela operasi militer AS dan mengeklaim adanya kemajuan dalam perang."Segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump.Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim strategis bagi pasokan minyak dunia. Selama perang, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.Trump juga kembali membela kebijakan perang dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia mengatakan tujuan tersebut sebanding dengan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika akibat kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan lainnya."Jadi ingat itu-ketika Anda harus membayar sedikit lebih mahal, harga bensin mencapai US$4, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujar Trump.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Internasional

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Ancam Iran dengan Serangan 100 Kali Lebih Keras
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya telah menguasai penuh Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras jika kembali menyerang Amerika Serikat."Kami sepenuhnya mengendalikan, kami memiliki, dalam arti yang sebenarnya, kami memiliki Selat Hormuz," kata Trump dilansir dari Fox News, Jumat (14/8).Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini menerapkan blokade di kawasan tersebut yang ia ibaratkan sebagai "tembok baja". Menurutnya, kapal hanya dapat melintasi Selat Hormuz apabila mendapat izin dari Washington."Kami hanya mengizinkan kapal masuk jika kami menginginkan mereka masuk," ujarnya.Trump juga mengeklaim blokade tersebut telah membuat Iran kehilangan pendapatan hingga ratusan juta dolar AS setiap hari. Selain blokade, sanksi ekonomi yang diberlakukan Washington disebut semakin memberikan tekanan terhadap pemerintahan Teheran.Trump kemudian melontarkan ancaman keras apabila Iran kembali melakukan serangan terhadap Amerika Serikat."Jika mereka menyerang, kami akan menyerang balik 100 kali lebih keras," kata Trump.Ia juga mengaku tidak khawatir konflik dengan Iran akan berdampak terhadap posisi politiknya menjelang pemilu paruh waktu AS. Trump kembali menyinggung persoalan harga bahan bakar dan alasan pemerintahannya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir."Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana," kata Trump.Trump kembali menegaskan klaim mengenai blokade di Selat Hormuz dan menggambarkan kekuatan Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya."Kami memiliki blokade yang seperti tembok baja. Tidak ada yang pernah melihat sesuatu seperti ini," ujarnya.Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengungkapkan rencana untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat jika Iran berhasil dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, seperti dikutip AFP.Iran Bantah AS Kuasai Selat HormuzKonflik antara AS dan Israel dengan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Washington dan Tel Aviv menyatakan serangan tersebut bertujuan menghentikan program nuklir Teheran.Iran kemudian membalas serangan dan memperkuat kendali de facto atas sebagian besar wilayah Selat Hormuz.Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dan berbagai komoditas dunia. Kebuntuan antara Washington dan Teheran mengenai akses pelayaran pun hingga kini masih berlangsung.Iran menolak membuka kembali jalur tersebut bagi sebagian besar kapal sipil. Di sisi lain, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian Teheran.Hingga Jumat (14/8), lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah dua kapal kembali diserang di kawasan tersebut.Teheran juga membantah klaim Trump bahwa Amerika Serikat telah menguasai sepenuhnya Selat Hormuz. Iran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum sejumlah tuntutan dipenuhi.Di antara tuntutan Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.Di tengah kebuntuan tersebut, Trump terus mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Namun, pada awal pekan ini, ia memberi sinyal bahwa Washington akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi dibandingkan memperluas operasi militer untuk menghadapi Iran.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Internasional

Iran Balas Ancaman Trump soal Selat Hormuz: Kami Tidak Takut
Pemerintah Iran menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mengklaim Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS setelah perang dengan Iran berakhir.Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Teheran tidak akan mundur hanya karena mendapat ancaman maupun menghadapi unjuk kekuatan militer dari Washington.Melalui unggahan di platform X, Gharibabadi menyatakan keputusan untuk membuka atau menutup Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran."Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui cuitan, kapal induk, perintah, maupun pidato kampanye pemilu," tulis Gharibabadi di X."Iran tidak takut pada ancaman maupun gentar menghadapi unjuk kekuatan," imbuhnya.Gharibabadi bahkan mengklaim Amerika Serikat telah mengalami "kekalahan strategis yang telak" dalam konflik tersebut. Ia menegaskan Teheran tidak akan menyerahkan kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu."Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawa kendali Iran. Teheran akan mempertahankan blokade ini sampai AS menerima kenyataan akan kekalahan," kata dia.Pernyataan tersebut merupakan respons langsung terhadap ucapan Trump sebelumnya. Dalam sebuah pertemuan di Nassau County, New York, Trump mengatakan dirinya akan menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump sambil terkekeh."Itu benar," imbuhnya, seperti dikutip AFP.Pernyataan Trump muncul ketika Washington dan Teheran masih berada dalam kebuntuan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.Iran menolak memberikan akses kepada sebagian besar kapal sipil, sementara Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.Di tengah ketegangan tersebut, Trump pada awal pekan ini mengisyaratkan bahwa pemerintahannya akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi untuk menghadapi Iran dibandingkan meningkatkan operasi militer.Namun, respons keras dari Teheran menunjukkan bahwa perselisihan mengenai Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026
Berita Populer
Internasional

Trump Ancam Serang Iran Lagi dan Kuasai Selat Hormuz, Negosiasi Damai di Swiss Terganggu
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah melontarkan ancaman serangan baru di tengah berlangsungnya negosiasi damai antara kedua negara di Swiss, Minggu (21/6). Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mendesak Iran segera menghentikan aktivitas kelompok proksi Hizbullah di Lebanon yang menurutnya terus menimbulkan masalah. Ia juga memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan yang lebih besar jika tuntutannya tidak dipenuhi. "Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan lebih keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, lebih keras," tulis Trump. Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan mengambil alih Selat Hormuz apabila Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut. Ia bahkan mengklaim Amerika Serikat dapat menjadi "pelindung" Selat Hormuz dan menguasai sebagian pasokan minyak yang melintas di kawasan itu. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump turut menyoroti pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menegaskan Teheran akan tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium. Trump meminta Pezeshkian mengubah sikapnya atau menghadapi konsekuensi yang lebih besar. Pernyataan keras tersebut memicu kemarahan delegasi Iran yang sedang mengikuti perundingan damai di Swiss. Iran dilaporkan memilih keluar dari proses negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat dengan mediasi Qatar dan Pakistan. Menurut laporan CNN yang mengutip sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan di Hotel Burgenstock, ancaman Trump dianggap sebagai langkah yang memperburuk suasana diplomatik dan menghambat upaya mencari solusi damai. Tidak lama setelah pernyataan Trump muncul, Ketua Delegasi Iran, Mohammed Ghalibaf, memberikan respons tegas melalui media sosial X. "Mereka sebaiknya berhati-hati dengan kata-kata mereka. Angkatan bersenjata kami siap memberi mereka tanggapan dengan cara yang berbeda," tulis Ghalibaf. Ancaman terbaru Trump muncul ketika delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menyatakan ingin membuka "lembaran baru" dalam hubungan dengan rakyat Iran melalui jalur diplomasi. Namun, pernyataan Trump justru memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian terhadap masa depan perundingan damai antara kedua negara.
Internasional
| Senin, 22 Juni 2026
Internasional

AS Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 45 Hari
Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama 45 hari mulai Jumat (15/5/2026). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memberi ruang bagi kemajuan proses negosiasi antara kedua pihak. “Penghentian permusuhan pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut,” kata Pigott melalui akun media sosial X. Pengumuman tersebut disampaikan meski serangan Israel di Lebanon dilaporkan masih terus terjadi sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku. Pigott menyebut Departemen Luar Negeri AS akan melanjutkan upaya negosiasi politik pada 2 hingga 3 Juni mendatang. Selain itu, pembentukan “jalur keamanan” yang melibatkan delegasi militer Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Pentagon pada 29 Mei. “Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing, serta membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka,” ujar Pigott. Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan setelah putaran ketiga perundingan yang dimediasi AS digelar di Departemen Luar Negeri AS. Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS, delegasi Amerika dipimpin Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, serta Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa. Sementara pihak Lebanon diwakili Duta Besar Nada Hamadeh Moawad dan utusan presiden Lebanon Simon Karam.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026
Internasional

Ekspor Senjata Israel Tembus Rekor, Capai Rp342 Triliun di Tengah Konflik Global
Kementerian Pertahanan Israel melaporkan bahwa ekspor senjata negara tersebut kembali mencetak rekor tertinggi untuk tahun kelima berturut-turut, di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik di berbagai wilayah dunia. Dalam pernyataan yang dikutip AFP pada Selasa (2/6), Kementerian Pertahanan Israel menyebut nilai ekspor pertahanan pada 2025 mencapai 19,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp342 triliun. “Rekor ekspor pertahanan Israel sepanjang masa pecah untuk tahun kelima berturut-turut,” demikian pernyataan Kemhan Israel. Angka tersebut disebut meningkat hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan telah naik lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir serta empat kali lipat dalam satu dekade. Israel merupakan salah satu eksportir senjata terbesar di dunia. Produk utama yang diekspor mencakup sistem rudal, roket, dan pertahanan udara yang menyumbang sekitar 29 persen dari total transaksi. Selain itu, sistem observasi dan teknologi optronik juga mengalami peningkatan signifikan dalam penjualan. Dari sisi pasar, Eropa menjadi pembeli terbesar dengan porsi 36 persen, disusul kawasan Asia-Pasifik sebesar 32 persen, serta Timur Tengah dan Afrika Utara sebesar 15 persen. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengaitkan lonjakan ekspor ini dengan keberhasilan militer Israel di berbagai medan konflik. Ia menyebut adanya keterkaitan antara pencapaian di lapangan perang, kemampuan industri pertahanan, dan meningkatnya permintaan global terhadap produk militer Israel. “Benang merah yang jelas dan tak terbantahkan menghubungkan prestasi medan perang IDF di semua lini, kemampuan luar biasa industri pertahanan Israel dan keberhasilan ekspor pertahanan Israel di seluruh dunia,” ujar Katz. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel diketahui terlibat dalam berbagai konflik dan operasi militer di sejumlah kawasan, termasuk Palestina, Lebanon, Iran, Suriah, dan Yaman. Di tengah situasi tersebut, pemerintah Israel kerap menegaskan klaim keberhasilan dalam operasi militernya serta berkomitmen menghadapi kelompok yang dianggap sebagai ancaman keamanan negara.
Internasional
| Selasa, 2 Juni 2026
Feeds
Trump Bantah Kondisi Awak USS Abraham Lincoln Memburuk: Belum Cukup Lama
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan mengenai memburuknya kondisi awak kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan bulan.Kapal tersebut sebagian besar digunakan untuk mendukung operasi militer AS dalam perang melawan Iran. Namun, Trump justru menilai masa penugasan kapal itu belum berlangsung cukup lama."Tidak. Tidak. Tidak. Belum cukup lama," kata Trump saat ditanya apakah dirinya mengkhawatirkan kesehatan mental awak kapal dan apakah pengerahan USS Abraham Lincoln sudah terlalu panjang, dikutip dari The New York Times, Jumat (14/8).Trump juga menepis kekhawatiran keluarga para personel yang berada di kapal induk tersebut."Tidak, mereka tidak khawatir," ujar Trump ketika ditanya apakah keluarga awak kapal mencemaskan kondisi anggota keluarga mereka yang bertugas di USS Abraham Lincoln.Laporan Kondisi Kapal Jadi SorotanMenurut The New York Times, USS Abraham Lincoln telah menjalani penugasan selama lebih dari delapan setengah bulan. Sebagian besar periode tersebut dihabiskan untuk mendukung operasi militer Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.Sejumlah laporan sebelumnya menyoroti kondisi di dalam kapal, mulai dari kekurangan kebutuhan dasar, persoalan kebersihan dan keselamatan hingga kekhawatiran mengenai kondisi kesehatan mental para awak.Meski membantah adanya masalah serius, Trump mengakui USS Abraham Lincoln akan segera digantikan oleh kapal induk lain.Angkatan Laut AS disebut akan mengerahkan USS George Washington untuk menggantikan kapal tersebut. Informasi itu disampaikan seorang pejabat AS kepada The New York Times dengan syarat anonim karena tidak memiliki kewenangan untuk berbicara secara terbuka mengenai jadwal pengerahan kapal.Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya juga membantah laporan mengenai kondisi buruk di USS Abraham Lincoln. Ia menyebut kondisi yang diberitakan telah "disalahgambarkan".Namun, persoalan tersebut tetap mendapat perhatian dari Kongres AS.Senator Demokrat dari Connecticut Richard Blumenthal mengirim surat kepada Hegseth dan pejabat sementara Angkatan Laut Hung Cao pada Kamis (13/8).Dalam surat tersebut, Blumenthal menyoroti berbagai persoalan yang dilaporkan terjadi di kapal, termasuk kekurangan kebutuhan dasar, kontaminasi air, gangguan saluran air, memburuknya kondisi kesehatan mental awak serta persoalan keselamatan di dek.Sistem pengiriman surat juga menjadi sorotan. Sejumlah paket dari keluarga awak kapal dilaporkan hilang dalam proses pengiriman dan baru diterima setelah berbulan-bulan.Perang Iran Berlangsung Lebih LamaLaporan mengenai kondisi USS Abraham Lincoln muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal pemerintahan Trump.Trump berulang kali menyatakan operasi militer Amerika Serikat telah menghancurkan kemampuan militer Iran. Ia juga cenderung mengecilkan dampak perang terhadap AS, termasuk korban tewas maupun personel yang terluka.The New York Times mencatat sedikitnya 18 personel militer AS tewas dan ratusan lainnya mengalami luka dalam konflik tersebut.Dalam pernyataan terpisah di Garden City, New York, Jumat (14/8), Trump kembali membela operasi militer AS dan mengeklaim adanya kemajuan dalam perang."Segera saya akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump.Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim strategis bagi pasokan minyak dunia. Selama perang, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut terganggu akibat konflik antara AS-Israel dan Iran.Trump juga kembali membela kebijakan perang dengan alasan mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia mengatakan tujuan tersebut sebanding dengan beban ekonomi yang dirasakan masyarakat Amerika akibat kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan lainnya."Jadi ingat itu-ketika Anda harus membayar sedikit lebih mahal, harga bensin mencapai US$4, tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf. Saya melakukan hal yang benar," ujar Trump.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Ancam Iran dengan Serangan 100 Kali Lebih Keras
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim negaranya telah menguasai penuh Selat Hormuz. Ia juga memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih keras jika kembali menyerang Amerika Serikat."Kami sepenuhnya mengendalikan, kami memiliki, dalam arti yang sebenarnya, kami memiliki Selat Hormuz," kata Trump dilansir dari Fox News, Jumat (14/8).Trump mengatakan Amerika Serikat saat ini menerapkan blokade di kawasan tersebut yang ia ibaratkan sebagai "tembok baja". Menurutnya, kapal hanya dapat melintasi Selat Hormuz apabila mendapat izin dari Washington."Kami hanya mengizinkan kapal masuk jika kami menginginkan mereka masuk," ujarnya.Trump juga mengeklaim blokade tersebut telah membuat Iran kehilangan pendapatan hingga ratusan juta dolar AS setiap hari. Selain blokade, sanksi ekonomi yang diberlakukan Washington disebut semakin memberikan tekanan terhadap pemerintahan Teheran.Trump kemudian melontarkan ancaman keras apabila Iran kembali melakukan serangan terhadap Amerika Serikat."Jika mereka menyerang, kami akan menyerang balik 100 kali lebih keras," kata Trump.Ia juga mengaku tidak khawatir konflik dengan Iran akan berdampak terhadap posisi politiknya menjelang pemilu paruh waktu AS. Trump kembali menyinggung persoalan harga bahan bakar dan alasan pemerintahannya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir."Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana," kata Trump.Trump kembali menegaskan klaim mengenai blokade di Selat Hormuz dan menggambarkan kekuatan Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya."Kami memiliki blokade yang seperti tembok baja. Tidak ada yang pernah melihat sesuatu seperti ini," ujarnya.Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump sebelumnya mengungkapkan rencana untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat jika Iran berhasil dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, seperti dikutip AFP.Iran Bantah AS Kuasai Selat HormuzKonflik antara AS dan Israel dengan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Washington dan Tel Aviv menyatakan serangan tersebut bertujuan menghentikan program nuklir Teheran.Iran kemudian membalas serangan dan memperkuat kendali de facto atas sebagian besar wilayah Selat Hormuz.Selat tersebut merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi dan berbagai komoditas dunia. Kebuntuan antara Washington dan Teheran mengenai akses pelayaran pun hingga kini masih berlangsung.Iran menolak membuka kembali jalur tersebut bagi sebagian besar kapal sipil. Di sisi lain, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian Teheran.Hingga Jumat (14/8), lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah dua kapal kembali diserang di kawasan tersebut.Teheran juga membantah klaim Trump bahwa Amerika Serikat telah menguasai sepenuhnya Selat Hormuz. Iran menegaskan jalur tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum sejumlah tuntutan dipenuhi.Di antara tuntutan Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.Di tengah kebuntuan tersebut, Trump terus mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Namun, pada awal pekan ini, ia memberi sinyal bahwa Washington akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi dibandingkan memperluas operasi militer untuk menghadapi Iran.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Iran Balas Ancaman Trump soal Selat Hormuz: Kami Tidak Takut
Pemerintah Iran menanggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berencana mengklaim Selat Hormuz sebagai bagian dari wilayah AS setelah perang dengan Iran berakhir.Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Teheran tidak akan mundur hanya karena mendapat ancaman maupun menghadapi unjuk kekuatan militer dari Washington.Melalui unggahan di platform X, Gharibabadi menyatakan keputusan untuk membuka atau menutup Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran."Selat Hormuz tidak bisa direbut hanya melalui cuitan, kapal induk, perintah, maupun pidato kampanye pemilu," tulis Gharibabadi di X."Iran tidak takut pada ancaman maupun gentar menghadapi unjuk kekuatan," imbuhnya.Gharibabadi bahkan mengklaim Amerika Serikat telah mengalami "kekalahan strategis yang telak" dalam konflik tersebut. Ia menegaskan Teheran tidak akan menyerahkan kendali atas jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur perdagangan energi terpenting dunia itu."Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka di bawa kendali Iran. Teheran akan mempertahankan blokade ini sampai AS menerima kenyataan akan kekalahan," kata dia.Pernyataan tersebut merupakan respons langsung terhadap ucapan Trump sebelumnya. Dalam sebuah pertemuan di Nassau County, New York, Trump mengatakan dirinya akan menetapkan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat setelah Iran dikalahkan."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump sambil terkekeh."Itu benar," imbuhnya, seperti dikutip AFP.Pernyataan Trump muncul ketika Washington dan Teheran masih berada dalam kebuntuan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.Iran menolak memberikan akses kepada sebagian besar kapal sipil, sementara Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.Di tengah ketegangan tersebut, Trump pada awal pekan ini mengisyaratkan bahwa pemerintahannya akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi untuk menghadapi Iran dibandingkan meningkatkan operasi militer.Namun, respons keras dari Teheran menunjukkan bahwa perselisihan mengenai Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik kedua negara.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Trump Ingin Klaim Selat Hormuz sebagai Wilayah Amerika Serikat Setelah Perang Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait Selat Hormuz. Ia mengatakan akan menyatakan jalur perairan strategis tersebut sebagai bagian dari wilayah Amerika Serikat setelah perang dengan Iran berakhir.Pernyataan itu disampaikan Trump dalam sebuah rapat di akademi kepolisian New York. Ia menyampaikannya sambil terkekeh ketika berbicara mengenai perang yang masih berlangsung dengan Iran."Setelah kita selesai mengalahkan Iran yang sedang mengalami kekalahan telak, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump."Itu benar," imbuhnya, seperti dikutip AFP.Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari. Washington dan Tel Aviv sebelumnya menyatakan operasi tersebut bertujuan menghentikan program nuklir Iran.Namun, konflik tersebut justru membuat situasi di Selat Hormuz semakin tegang. Iran membangun kendali secara de facto atas sebagian besar jalur perairan tersebut, yang merupakan salah satu rute utama pengiriman energi dan berbagai komoditas dunia.Hingga kini, Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kebuntuan terkait akses melalui Selat Hormuz. Iran menolak memberikan akses pelayaran kepada sebagian besar kapal sipil, sedangkan Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebagai bagian dari upaya menekan perekonomian Teheran.Pada Jumat (14/8), lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh total setelah dua kapal kembali diserang di kawasan tersebut.Seorang pejabat senior Iran juga menyatakan bahwa belum ada perkembangan dalam pembicaraan lanjutan untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang.Situasi tersebut terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata yang diperbarui pada Juni lalu gagal bertahan. Iran kemudian kembali menyerang kapal-kapal yang dituding melintasi Selat Hormuz tanpa izin.Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan meningkatkan serangan militer dan "menghantam Iran dengan keras".Iran membantah klaim tersebut. Teheran menegaskan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali sebelum tuntutan mereka dipenuhi.Salah satu syarat yang diajukan Iran adalah pencabutan sanksi ekonomi serta pelepasan aset Iran yang saat ini dibekukan.Di tengah kebuntuan tersebut, Trump pada awal pekan ini memberikan sinyal bahwa pemerintahannya akan lebih mengandalkan tekanan ekonomi terhadap Iran dibandingkan meningkatkan operasi militer.Pernyataan Trump mengenai rencana menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat pun menambah ketegangan dalam konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan tersebut. Selat itu sendiri merupakan jalur perdagangan internasional yang sangat penting bagi pasokan energi global.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Trump dan Teori Orang Gila: Strategi Intimidasi dalam Perang Melawan Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan karena gaya komunikasinya yang keras dan penuh ancaman selama perang dengan Iran.Pernyataan Trump di media sosial kerap memperlihatkan sikap konfrontatif, bahkan ketika menyangkut ancaman terhadap sebuah negara. Salah satu contohnya terjadi pada 7 April lalu, ketika Trump memperingatkan Iran bahwa "seluruh peradaban Iran akan musnah malam ini" apabila Teheran menolak berpartisipasi dalam perundingan damai.Dalam pernyataan tersebut, Trump juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil serta pembangkit listrik Iran.Ancaman itu pada akhirnya tidak direalisasikan setelah pembicaraan tatap muka bersejarah dijadwalkan berlangsung di Pakistan. Namun, gaya komunikasi Trump kembali terlihat ketika ia mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz."Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di neraka - lihat saja! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J TRUMP," tulisnya.Cara Trump menyampaikan ancaman tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan strategi yang dikenal sebagai "Madman Theory" atau Teori Orang Gila.Teori Orang Gila NixonKonsep tersebut pertama kali dikenal luas melalui Presiden AS Richard Nixon ketika menghadapi Perang Vietnam pada awal 1970-an.Nixon berusaha membangun persepsi bahwa dirinya tidak dapat diprediksi dan bersedia mengambil tindakan ekstrem demi memaksa lawannya menghentikan perang.Dalam percakapannya dengan calon kepala staf Gedung Putih Bob Haldeman pada 1968, Nixon bahkan menjelaskan gagasan tersebut secara terbuka."Saya menyebutnya 'teori orang gila' Bob," katanya kepada Haldeman, seperti diceritakan Anthony Summers dalam buku The Arrogance of Power.Nixon ingin Vietnam Utara percaya bahwa dirinya telah mencapai titik di mana ia mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang."Saya ingin Vietnam Utara percaya bahwa saya telah mencapai titik di mana saya mungkin melakukan apa saja untuk menghentikan perang. Kita akan menyelipkan pesan kepada mereka bahwa 'demi Tuhan, Anda tahu Nixon terobsesi dengan komunis. Kita tidak bisa menahannya ketika dia marah, dan dia memegang kendali atas tombol nuklir', dan Ho Chi Minh sendiri akan berada di Paris dalam dua minggu memohon perdamaian," dikutip dari The Guardian.Strategi tersebut pada dasarnya bertumpu pada ketidakpastian. Lawan dibuat percaya bahwa pemimpin yang dihadapinya bisa mengambil keputusan ekstrem, sehingga ancaman yang disampaikan menjadi lebih sulit diabaikan.Trump Disebut Mengadopsi Strategi SerupaTrump disebut memiliki ketertarikan terhadap pendekatan tersebut dan menggunakannya dalam menghadapi Iran.Robert Tait, yang menganalisis penerapan Teori Orang Gila pada Trump, melihat adanya kemiripan antara strategi Trump saat ini dengan pendekatan Nixon ketika menghadapi Vietnam Utara pada 1972.Trump berulang kali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran, kemudian mengambil langkah mundur ketika kondisi memungkinkan tercapainya kesepakatan tertentu.Namun, persoalannya adalah Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah setelah hampir enam pekan pengeboman.Di tengah situasi tersebut, Trump membutuhkan cara untuk menghindari kesan bahwa perang berakhir tanpa kemenangan yang jelas bagi Amerika Serikat.Ali Vaez, Direktur Program Iran dari International Crisis Group, menilai Trump mungkin sedang mencari jalan keluar yang memungkinkan dirinya mengklaim kemenangan tanpa harus memperpanjang konflik."Karena dia belum mampu meraih kemenangan telak dari konflik ini sejauh ini, dia mungkin sedang mencari semacam langkah besar agar bisa mundur dan menyatakan kemenangan tanpa para kritikusnya mampu membantah narasi kemenangannya," kata Vaez.Ancaman terhadap Selat Hormuz juga dapat menjadi salah satu cara bagi Trump untuk mendapatkan hasil yang bisa dipresentasikan sebagai kemenangan. Dengan menekan Teheran agar membuka kembali jalur perdagangan penting tersebut, Trump dapat menghindari pilihan yang jauh lebih berisiko, yakni mengerahkan pasukan darat.Trump juga mengklaim Iran telah berjanji untuk "menggali dan menyingkirkan" material nuklir.Bukan Pertama Kali Trump Menggunakan Gaya "Orang Gila"Daniel Drezner, Profesor Politik Internasional di The Fletcher School, Tufts University, juga pernah mengulas pendekatan Trump tersebut.Menurut analisis Drezner, Trump telah membangun reputasi sebagai pemimpin yang sulit diprediksi sejak masa jabatan pertamanya. Pendekatan tersebut paling terlihat dalam kebijakannya terhadap Korea Utara dan Korea Selatan.Pada 2017, Trump meningkatkan tekanan verbal terhadap Korea Utara. Dalam sebuah pernyataan pada Agustus tahun itu, Trump memperingatkan Pyongyang dengan ancaman keras."Korea Utara sebaiknya tidak lagi mengancam Amerika Serikat.Mereka akan dihadapi dengan api, amarah, dan terus terang kekuatan yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya."Sebulan kemudian, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Trump menyebut pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sebagai "Manusia Roket" dan memperingatkan bahwa Amerika Serikat dapat "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya."Pendekatan serupa juga diterapkan Trump dalam hubungan dagang dengan Korea Selatan.Pada 2017, pemerintahannya berupaya menegosiasikan ulang ketentuan Perjanjian Perdagangan Bebas AS-Korea. Menurut laporan Jonathan Swan di Axios, Trump bahkan memerintahkan kepala negosiator perdagangan Robert Lighthizer untuk memberi tahu pihak Korea Selatan bahwa dirinya adalah orang yang tidak dapat diprediksi."Katakan kepada mereka, 'Orang ini sangat gila sehingga dia bisa menarik diri kapan saja.' Katakan kepada mereka jika mereka tidak memberikan konsesi sekarang, orang gila ini akan menarik diri dari kesepakatan."Swan kemudian mencatat bahwa sejumlah pemimpin dunia menganggap Trump benar-benar gila, sementara Trump sendiri tampaknya melihat reputasi tersebut sebagai sebuah keuntungan.Dalam konteks perang dengan Iran, pola komunikasi Trump kembali memunculkan pertanyaan mengenai apakah ancaman-ancaman ekstrem tersebut merupakan luapan emosi atau justru bagian dari strategi yang sengaja dibangun.Jika mengikuti logika Madman Theory, ketidakpastian justru menjadi senjata. Trump tidak harus benar-benar melakukan seluruh ancamannya. Cukup dengan membuat lawan percaya bahwa ia mungkin melakukannya, tekanan psikologis dan diplomatik dapat digunakan untuk memaksa lawan mengambil langkah yang menguntungkan Washington.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Krisis Listrik Venezuela Memburuk, Pegawai Negeri Diminta Kerja Setiap Dua Hari
Pemerintah Venezuela memangkas jam kerja pegawai negeri sebagai upaya mengurangi beban konsumsi listrik yang terus meningkat dan menekan jaringan kelistrikan nasional.Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez mengumumkan bahwa pegawai sektor publik akan menerapkan pola kerja bergantian sebagai bagian dari langkah penghematan energi."pekerja sektor publik akan bekerja setiap dua hari sekali dan setengah hari kerja untuk semua karyawan," kata Rodriguez, Rabu (12/8).Kebijakan tersebut tidak diberlakukan untuk layanan yang dianggap vital, termasuk sektor kesehatan.Langkah penghematan diambil setelah permintaan listrik Venezuela mencapai level tertinggi dalam hampir satu dekade. Sepanjang tahun ini, kebutuhan listrik tercatat mencapai 15.726 megawatt (MW), sementara kapasitas pasokan yang tersedia hanya sekitar 12.000 MW.Rodriguez mengatakan lonjakan konsumsi listrik tidak semata-mata disebabkan kondisi cuaca. Pertumbuhan ekonomi juga disebut ikut meningkatkan kebutuhan energi nasional."Jaringan listrik nasional telah mengalami permintaan yang tinggi bukan hanya karena situasi iklim, tetapi juga karena pertumbuhan ekonomi," ujar Rodriguez, Selasa (11/8).Krisis listrik tersebut paling terasa di wilayah di luar Caracas. Pemadaman yang semakin sering terjadi dalam beberapa pekan terakhir bahkan memicu aksi protes masyarakat.Sejumlah daerah pedalaman Venezuela diketahui telah mengalami pemadaman listrik selama bertahun-tahun. Para ahli mengaitkan persoalan tersebut dengan buruknya pengelolaan jaringan serta minimnya perawatan infrastruktur kelistrikan.Berbeda dengan daerah lain, Caracas relatif lebih jarang mengalami pemadaman. Meski demikian, sejumlah gangguan listrik mulai dilaporkan terjadi di ibu kota dalam beberapa pekan terakhir.Rodriguez mengumumkan kebijakan pengurangan jam kerja tersebut ketika menandatangani perjanjian dengan perusahaan Argentina IMPSA. Kesepakatan itu ditujukan untuk menyelesaikan proyek pembangkit listrik tenaga air di wilayah selatan negara bagian Bolivar.Sebelumnya, pemerintah Venezuela juga mencapai kesepakatan dengan perusahaan utilitas asal Amerika Serikat, General Electric, untuk meningkatkan pasokan listrik pada Juni.Di tengah tekanan dari Washington, pemerintahan Rodriguez juga mulai membuka sektor ekonomi dan sumber daya Venezuela bagi perusahaan-perusahaan asing.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

MbS Rombak Kabinet Arab Saudi, Dua Pimpinan Lembaga Strategis Diganti
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) melakukan perombakan kabinet pemerintahan kerajaan pada Kamis (14/8).Perombakan tersebut dilakukan melalui dekret yang memberikan kewenangan kepada MbS, selaku pemimpin de facto Arab Saudi, untuk membentuk kembali Dewan Menteri sesuai ketentuan masa jabatan empat tahun dalam Undang-Undang Dewan Menteri.Menurut Kantor Berita Saudi (SPA), pembentukan kembali Dewan Menteri dilakukan berdasarkan aturan yang mengatur masa jabatan pemerintahan selama empat tahun.Selain perubahan dalam Dewan Menteri, Raja Salman juga mengeluarkan dekret terpisah terkait pergantian pimpinan dua lembaga penting Arab Saudi.Dua lembaga tersebut adalah Otoritas Konten Lokal dan Pengadaan Pemerintah serta Otoritas Pasar Modal.Menteri Energi sekaligus Menteri Perindustrian dan Sumber Daya Mineral, Pangeran Abdulaziz bin Salman, ditunjuk sebagai Ketua Dewan Otoritas Konten Lokal dan Pengadaan Pemerintah.Ia menggantikan Bandar Al Khorayef yang diberhentikan dari posisi tersebut.Sementara itu, Mazen Al-Sudairy ditunjuk sebagai Ketua Otoritas Pasar Modal dengan pangkat menteri. Ia menggantikan Mohammed Al Quwaiz yang juga dicopot dari jabatannya.Perombakan tersebut menjadi bagian dari penataan kembali struktur pemerintahan Arab Saudi di bawah kepemimpinan MbS. Sebagai putra mahkota sekaligus pemimpin de facto, MbS memegang peran penting dalam arah kebijakan politik dan ekonomi kerajaan.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Trump Tertekan, Perang Iran Berlarut dan Masalah Internal AS Makin Rumit
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi semakin banyak persoalan seiring perang dengan Iran yang berlangsung lebih lama dari perkiraan pemerintahannya.Analisis Aaron Blake dari CNN menyoroti sejumlah persoalan yang kini menjadi beban politik dan militer bagi Trump, mulai dari ancaman terhadap keselamatan presiden, menipisnya persediaan amunisi, perpecahan di internal pemerintahan hingga kondisi prajurit AS yang menjalani penugasan panjang.Salah satu sorotan muncul ketika Trump diam-diam berganti pesawat dalam perjalanan pulang dari KTT NATO di Turki. Ia disebut meninggalkan Air Force One dan menggunakan jet militer sebagai langkah pengamanan setelah muncul informasi mengenai ancaman serangan.Media Amerika Serikat melaporkan Trump bahkan berpindah pesawat melalui kontainer katering agar keberadaannya tidak diketahui. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya informasi mengenai seseorang di sekitar lokasi KTT NATO yang diduga membawa rudal bahu.Pergantian pesawat tersebut memang dapat dipandang sebagai upaya melindungi keselamatan presiden. Namun, situasi itu sekaligus menimbulkan pertanyaan karena rombongan pers dan sebagian staf tetap berada di pesawat yang sebelumnya akan membawa Trump.Para jurnalis disebut tidak mendapatkan informasi mengenai potensi ancaman rudal tersebut. Kondisi ini dinilai berbeda dari prosedur perjalanan rahasia yang biasanya mengharuskan rombongan pers diberi tahu mengenai perubahan keamanan dan diminta menjaga kerahasiaannya.Situasi tersebut juga dianggap berlawanan dengan klaim Trump bahwa kekuatan militer Iran telah dihancurkan. Jika ancaman dari Iran masih dianggap cukup serius hingga presiden harus berpindah pesawat secara diam-diam, klaim tersebut kembali menjadi sorotan.Amunisi AS Mulai Jadi KekhawatiranPersoalan lain yang menghantui pemerintahan Trump adalah persediaan amunisi Amerika Serikat.Sebelum perang dimulai, Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine telah memperingatkan bahwa stok amunisi dapat menjadi persoalan apabila konflik berlangsung dalam waktu lama.Trump sebelumnya optimistis Iran dapat dihancurkan dalam waktu empat hingga enam minggu. Namun, kenyataannya perang telah memasuki bulan keenam.CNN melaporkan hampir 80 persen rudal pencegat AS telah digunakan dalam perang melawan Iran. Trump membantah kekhawatiran mengenai menipisnya persediaan tersebut dan menyatakan AS masih memiliki cukup amunisi untuk menyelesaikan misinya.Meski demikian, pernyataan tersebut belum menjawab persoalan mengenai kemampuan Amerika Serikat mempertahankan stok persenjataan penting jika konflik terus berlangsung.Produksi amunisi membutuhkan waktu. Kondisi tersebut berpotensi membuat AS berada dalam posisi lebih rentan, termasuk menghadapi kemungkinan negara lain memanfaatkan keterbatasan persenjataan Amerika.Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah China dapat melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan tekanan terhadap Taiwan, yang selama ini sangat bergantung pada persenjataan dari AS.Perpecahan Mulai Muncul di Lingkaran TrumpTekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri. Sejumlah tokoh yang sebelumnya mendukung kebijakan perang mulai menunjukkan kelelahan dan memberikan sinyal bahwa konflik sebaiknya segera dihentikan.CNN sebelumnya melaporkan Jenderal Dan Caine telah berbicara dengan para penasihat Trump mengenai perlunya mengakhiri pertempuran. Menurut Caine, opsi militer yang tersedia justru berpotensi menjadi bumerang bagi Trump, sementara serangan udara saja kemungkinan tidak cukup untuk mencapai tujuan perang.Ketua DPR AS Mike Johnson juga mulai menyerukan penghentian konflik."Kita harus mengakhirinya," kata Johnson.Sementara itu, pembawa acara Fox News Laura Ingraham yang sebelumnya mendukung perang mulai menyampaikan kekhawatiran bahwa "waktu terus berjalan".Sikap tersebut muncul ketika Amerika Serikat juga mulai mendekati pemilihan paruh waktu. Johnson disebut khawatir perang berkepanjangan dapat menjadi persoalan politik bagi Partai Republik.Dukungan dari kalangan konservatif juga mulai retak. Benny Johnson, salah satu pendukung Trump dari kubu kanan, bahkan meminta presiden mengakhiri perang dan kembali memusatkan perhatian pada persoalan domestik."Perang di luar negeri yang tak kunjung usai selalu tidak disukai. Perang seperti itu akan selalu menjadi kanker politik," tulis Johnson di X pekan lalu."Akhiri perang. Selesaikan. Fokus kembali pada Amerika. Bensin, bahan makanan, harga rumah, dan imigrasi. Itulah cara kita menang."Kondisi Prajurit AS Ikut Jadi SorotanMasalah lainnya berkaitan dengan kondisi personel militer Amerika Serikat yang berada di kawasan konflik.Perang yang berkepanjangan dilaporkan berdampak terhadap kondisi fisik dan mental para prajurit maupun personel nonmiliter. Sejumlah keluarga personel bahkan mengeluhkan lamanya masa penugasan yang membuat mereka tidak kunjung pulang.Media seperti MS NOW, Military Times, dan Navy Times melaporkan keluarga para pelaut dan marinir yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln semakin frustrasi akibat panjangnya penugasan.Beberapa personel bahkan dilaporkan nekat terjun ke laut karena ingin segera mengakhiri penugasan dan kembali ke rumah.USS Abraham Lincoln disebut telah mencatat salah satu masa penugasan terpanjang, yakni lebih dari 260 hari. Kapal tersebut telah berada di kawasan Timur Tengah sejak November 2025.Sejumlah personel kepada keluarganya menggambarkan kondisi kapal yang memprihatinkan. Mereka mengeluhkan kekurangan makanan dan air bersih, hingga keterbatasan kebutuhan dasar seperti sabun, pasta gigi, dan deodoran.Kondisi fisik kapal juga disebut mengalami masalah, termasuk bagian dek penerbangan yang berlubang.Para personel mengaku kelelahan karena jarang mendapatkan waktu istirahat dan tidak tahan dengan panjangnya masa penugasan.Angkatan Laut AS menyatakan bahwa mereka "menanggapi kesejahteraan setiap anggota dengan serius dan memiliki tenaga profesional di bidang keagamaan, medis, dan kesehatan mental yang siap menilai dan mengatasi masalah yang muncul."Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa perang dengan Iran tidak hanya menjadi tantangan militer bagi Trump. Konflik yang berlarut-larut juga mulai menimbulkan tekanan terhadap persediaan senjata, kondisi pasukan, soliditas politik, hingga dukungan dari kelompok yang selama ini berada di belakang pemerintahannya.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Menlu Turki Tuduh Israel Bertujuan Mengusir Seluruh Warga Palestina dari Gaza
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menilai kebijakan Israel di Jalur Gaza menunjukkan adanya tujuan untuk mengusir seluruh warga Palestina dari wilayah tersebut.Fidan juga menyerukan agar tekanan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus ditingkatkan. Menurutnya, tekanan internasional diperlukan agar pemerintah Israel mematuhi hukum dan tuntutan internasional.Pernyataan itu disampaikan Fidan dalam konferensi pers saat melakukan kunjungan ke El Alamein, Mesir. Ia menilai kebijakan yang dijalankan Netanyahu telah mengabaikan nilai kemanusiaan dan martabat manusia."Netanyahu mengembangkan kebijakan yang menginjak-injak martabat manusia," kata Fidan yang dikutip dari Al Jazeera.Dalam kesempatan tersebut, Fidan juga menyinggung keterlibatan Turki dan Mesir dalam Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP), yang didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.Menurut Fidan, keikutsertaan kedua negara dalam forum tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menghentikan kekerasan dan genosida di Gaza."Syukurlah, bersama-sama kita berhasil dalam hal ini. Kita telah menghentikan genosida sampai batas tertentu," tambahnya.Meski berbagai upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata terus dilakukan, situasi di Gaza masih belum sepenuhnya mereda. Israel masih melancarkan serangan di sejumlah wilayah di Jalur Gaza.Dikutip dari Middle East Eye, serangan Israel di Gaza telah menyebabkan lebih dari 73.389 orang tewas. Ribuan orang lainnya masih dinyatakan hilang dan diperkirakan berada di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan.Fidan sebelumnya juga terus mendorong peningkatan tekanan internasional terhadap Israel. Ia menilai langkah tersebut diperlukan untuk memastikan hukum internasional dihormati dan mencegah semakin buruknya kondisi kemanusiaan di Gaza.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026

Prancis Desak Israel Tangkap Pemukim yang Kepung Rumah Warga Palestina di Qusra
Pemerintah Prancis mendesak Israel segera menangkap dan mengadili warga Israel yang diduga mengepung serta memblokade rumah-rumah warga Palestina di Desa Qusra, Tepi Barat.Kementerian Luar Negeri Prancis menilai aksi yang dilakukan para pemukim Israel tersebut merupakan tindakan ilegal. Paris juga meminta otoritas Israel memastikan perlindungan terhadap warga sipil Palestina di wilayah pendudukan."Prancis mengecam sekeras-kerasnya pendudukan sejumlah rumah warga Palestina di desa Qusra, Tepi Barat, oleh para pemukim Israel, serta tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap warga sipil Palestina," kata Kemlu Prancis.Kementerian tersebut juga menyerukan agar para pelaku segera diproses secara hukum."Prancis menyerukan kepada otoritas Israel untuk menangkap dan membawa mereka yang bertanggung jawab atas tindakan tersebut ke pengadilan," bunyi pernyataan kementerian itu menambahkan.Dilansir AFP, aksi pengepungan di Qusra, yang berada di dekat Nablus, telah berlangsung sejak Minggu pekan lalu. Para pemukim Israel disebut menolak upaya militer untuk memindahkan mereka dari lokasi tersebut.Akibat pengepungan, warga Palestina di kawasan itu mengaku kesulitan mendapatkan pasokan makanan dan berbagai kebutuhan pokok lainnya.Aksi tersebut juga mendapat kecaman dari Amerika Serikat, yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekutu utama Israel. Namun, kecaman dari Washington belum menghentikan aksi pengepungan terhadap rumah-rumah warga Palestina.Prancis menyebut kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat dan Yerusalem Timur terus mengalami peningkatan. Paris juga kembali menyoroti kebijakan pembangunan permukiman Israel yang dinilai memperburuk situasi di lapangan."Prancis kembali menegaskan kecamannya terhadap kebijakan permukiman Israel, yang mengancam solusi dua negara dan memperburuk ketegangan di lapangan," kata Kemlu Prancis.Kecaman serupa juga disampaikan Inggris. Menteri Urusan Timur Tengah Inggris Stephen Doughty melalui akun X miliknya menyatakan keprihatinan atas laporan kekerasan yang terjadi di Qusra."Saya terkejut dengan laporan kekerasan pemukim di #Qusra," kata dia di X pada Kamis (13/8).Doughty menegaskan warga yang menjadi korban harus mendapatkan perlindungan, sementara pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan tersebut harus dimintai pertanggungjawaban."Permukiman ilegal melanggar hukum internasional dan merusak upaya terwujudnya solusi dua negara," kata dia.
Internasional
| Sabtu, 15 Agustus 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Trump Ancam Serang Iran Lagi dan Kuasai Selat Hormuz, Negosiasi Damai di Swiss Terganggu
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu ketegangan dengan Iran setelah melontarkan ancaman serangan baru di tengah berlangsungnya negosiasi damai antara kedua negara di Swiss, Minggu (21/6). Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump mendesak Iran segera menghentikan aktivitas kelompok proksi Hizbullah di Lebanon yang menurutnya terus menimbulkan masalah. Ia juga memperingatkan bahwa AS akan melancarkan serangan yang lebih besar jika tuntutannya tidak dipenuhi. "Jika mereka tidak melakukannya, kami akan menyerang Iran dengan lebih keras lagi, seperti yang kami lakukan minggu lalu, lebih keras," tulis Trump. Tak hanya itu, Trump juga mengancam akan mengambil alih Selat Hormuz apabila Iran menutup jalur pelayaran strategis tersebut. Ia bahkan mengklaim Amerika Serikat dapat menjadi "pelindung" Selat Hormuz dan menguasai sebagian pasokan minyak yang melintas di kawasan itu. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump turut menyoroti pernyataan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menegaskan Teheran akan tetap mempertahankan haknya untuk memperkaya uranium. Trump meminta Pezeshkian mengubah sikapnya atau menghadapi konsekuensi yang lebih besar. Pernyataan keras tersebut memicu kemarahan delegasi Iran yang sedang mengikuti perundingan damai di Swiss. Iran dilaporkan memilih keluar dari proses negosiasi yang melibatkan Amerika Serikat dengan mediasi Qatar dan Pakistan. Menurut laporan CNN yang mengutip sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan di Hotel Burgenstock, ancaman Trump dianggap sebagai langkah yang memperburuk suasana diplomatik dan menghambat upaya mencari solusi damai. Tidak lama setelah pernyataan Trump muncul, Ketua Delegasi Iran, Mohammed Ghalibaf, memberikan respons tegas melalui media sosial X. "Mereka sebaiknya berhati-hati dengan kata-kata mereka. Angkatan bersenjata kami siap memberi mereka tanggapan dengan cara yang berbeda," tulis Ghalibaf. Ancaman terbaru Trump muncul ketika delegasi AS yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance sebelumnya menyatakan ingin membuka "lembaran baru" dalam hubungan dengan rakyat Iran melalui jalur diplomasi. Namun, pernyataan Trump justru memperkeruh situasi dan menambah ketidakpastian terhadap masa depan perundingan damai antara kedua negara.
Internasional
| Senin, 22 Juni 2026
Internasional

AS Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 45 Hari
Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama 45 hari mulai Jumat (15/5/2026). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memberi ruang bagi kemajuan proses negosiasi antara kedua pihak. “Penghentian permusuhan pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut,” kata Pigott melalui akun media sosial X. Pengumuman tersebut disampaikan meski serangan Israel di Lebanon dilaporkan masih terus terjadi sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku. Pigott menyebut Departemen Luar Negeri AS akan melanjutkan upaya negosiasi politik pada 2 hingga 3 Juni mendatang. Selain itu, pembentukan “jalur keamanan” yang melibatkan delegasi militer Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Pentagon pada 29 Mei. “Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing, serta membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka,” ujar Pigott. Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan setelah putaran ketiga perundingan yang dimediasi AS digelar di Departemen Luar Negeri AS. Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS, delegasi Amerika dipimpin Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, serta Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa. Sementara pihak Lebanon diwakili Duta Besar Nada Hamadeh Moawad dan utusan presiden Lebanon Simon Karam.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026
Internasional

Ekspor Senjata Israel Tembus Rekor, Capai Rp342 Triliun di Tengah Konflik Global
Kementerian Pertahanan Israel melaporkan bahwa ekspor senjata negara tersebut kembali mencetak rekor tertinggi untuk tahun kelima berturut-turut, di tengah meningkatnya ketegangan dan konflik di berbagai wilayah dunia. Dalam pernyataan yang dikutip AFP pada Selasa (2/6), Kementerian Pertahanan Israel menyebut nilai ekspor pertahanan pada 2025 mencapai 19,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp342 triliun. “Rekor ekspor pertahanan Israel sepanjang masa pecah untuk tahun kelima berturut-turut,” demikian pernyataan Kemhan Israel. Angka tersebut disebut meningkat hampir 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan telah naik lebih dari dua kali lipat dalam lima tahun terakhir serta empat kali lipat dalam satu dekade. Israel merupakan salah satu eksportir senjata terbesar di dunia. Produk utama yang diekspor mencakup sistem rudal, roket, dan pertahanan udara yang menyumbang sekitar 29 persen dari total transaksi. Selain itu, sistem observasi dan teknologi optronik juga mengalami peningkatan signifikan dalam penjualan. Dari sisi pasar, Eropa menjadi pembeli terbesar dengan porsi 36 persen, disusul kawasan Asia-Pasifik sebesar 32 persen, serta Timur Tengah dan Afrika Utara sebesar 15 persen. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengaitkan lonjakan ekspor ini dengan keberhasilan militer Israel di berbagai medan konflik. Ia menyebut adanya keterkaitan antara pencapaian di lapangan perang, kemampuan industri pertahanan, dan meningkatnya permintaan global terhadap produk militer Israel. “Benang merah yang jelas dan tak terbantahkan menghubungkan prestasi medan perang IDF di semua lini, kemampuan luar biasa industri pertahanan Israel dan keberhasilan ekspor pertahanan Israel di seluruh dunia,” ujar Katz. Dalam beberapa tahun terakhir, Israel diketahui terlibat dalam berbagai konflik dan operasi militer di sejumlah kawasan, termasuk Palestina, Lebanon, Iran, Suriah, dan Yaman. Di tengah situasi tersebut, pemerintah Israel kerap menegaskan klaim keberhasilan dalam operasi militernya serta berkomitmen menghadapi kelompok yang dianggap sebagai ancaman keamanan negara.





