2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Internasional

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Internasional
| Senin, 23 Maret 2026
Foto: Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Internasional

Foto: AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza | Pifa Net

AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan Israel agar tetap mendukung rencana 20 poin Board of Peace (BoP) terkait rekonstruksi dan penyelesaian konflik di Gaza. Seorang pejabat senior AS menyatakan Trump akan "sangat kecewa" jika Israel mengingkari kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui. Peringatan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan keberatan terhadap usulan pelucutan senjata Hamas, yang dinilai belum memenuhi tuntutan Israel mengenai demiliterisasi penuh Jalur Gaza. Meski demikian, Washington optimistis Israel akan tetap mematuhi kesepakatan. Pemerintah AS juga menegaskan Qatar, Turki, dan Mesir memiliki peran penting dalam menjaga gencatan senjata serta mendorong proses perdamaian di Gaza terus berjalan.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Internasional

Foto: Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap | Pifa Net

Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan khusus negaranya siap melakukan operasi penyelamatan jika dirinya ditangkap saat berada di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News di tengah kembali mencuatnya surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Netanyahu tidak menjelaskan bagaimana operasi tersebut akan dilakukan. Sejumlah negara Eropa sebelumnya menyatakan akan mematuhi kewajiban hukum internasional apabila Netanyahu memasuki wilayah mereka, sesuai ketentuan Statuta Roma. Pernyataan tersebut memicu sorotan karena operasi militer di wilayah negara lain tanpa persetujuan dapat menimbulkan persoalan hukum internasional dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik. Sementara itu, surat perintah ICC disebut telah memengaruhi rencana perjalanan luar negeri Netanyahu.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Internasional

Foto: Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington | Pifa Net

Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington

Aksi demonstrasi pro-Palestina mewarnai kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC, AS. Sejumlah demonstran menerobos masuk ke Hotel Four Seasons dan berusaha mendekati restoran tempat Netanyahu sedang makan malam sambil meneriakkan, "Penjahat perang" dan "Pembunuh bayi." Petugas keamanan segera mengamankan lokasi dan mengeluarkan para demonstran dari hotel. Di luar gedung, massa juga menggelar aksi dengan membawa bendera Palestina serta menuntut pemerintah Amerika Serikat menindaklanjuti surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang telah dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Insiden ini terjadi di tengah kunjungan Netanyahu untuk bertemu Presiden Donald Trump, sekaligus kembali memicu sorotan terhadap dukungan AS kepada Israel di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026

Berita Populer

Internasional

Foto: Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim | Pifa Net

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Internasional
| Senin, 23 Maret 2026

Internasional

Foto: Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen | Pifa Net

Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan dirinya tidak akan ragu membubarkan parlemen dan menggelar pemilu sela jika keretakan di dalam pemerintahan persatuan atau unity government terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan Anwar saat memberikan pidato utama dalam Konvensi Pakatan Harapan pada Minggu (17/5/2026). Anwar mengaku mendengar berbagai rumor mengenai ketidakstabilan politik di tingkat bawah, meski hubungan antarpartai di pemerintahan federal saat ini masih berjalan baik. Namun, ia memperingatkan partai-partai mitra koalisi agar tidak membelot dari kesepakatan politik yang telah dibangun bersama. “Saya akan mengadakan pertemuan dengan kepemimpinan Pakatan mengenai masalah ini dan jika perlu, kami akan menyerukan pemilu sela,” ujar Anwar seperti dikutip The Star. Menurut Anwar, jika konflik politik terus memanas, dampaknya tidak hanya akan terjadi di Johor, tetapi juga berpotensi meluas ke wilayah strategis lain seperti Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, dan Penang. Ia menegaskan prioritas utama pemerintahannya adalah menjaga stabilitas politik demi memperkuat tata kelola pemerintahan dan pemulihan ekonomi Malaysia. “Kami tidak akan bisa diancam. Namun, jika mereka ingin bernegosiasi dengan cara yang baik, kami selalu bersedia,” tegas Anwar. Dalam kesempatan itu, Anwar juga mengkritik sejumlah pemerintah negara bagian yang disebut membagikan bantuan sosial menjelang masa pemilihan. Menurutnya, praktik tersebut dapat mencederai proses demokrasi yang sehat. Meski isu perpecahan terus berkembang, Anwar memastikan tiga partai utama dalam koalisi Pakatan Harapan, yakni Parti Keadilan Rakyat, Democratic Action Party, dan Parti Amanah Negara tetap solid dan stabil.

Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

Internasional

Foto: IRGC Klaim Buru 11 Ribu Tentara AS di Timur Tengah di Tengah Memanasnya Perang Iran vs AS-Israel | Pifa Net

IRGC Klaim Buru 11 Ribu Tentara AS di Timur Tengah di Tengah Memanasnya Perang Iran vs AS-Israel

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikabarkan tengah memburu sekitar 11 ribu tentara Amerika Serikat yang berada di wilayah Timur Tengah di tengah memanasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Badan intelijen IRGC bahkan disebut telah meminta warga Iran di wilayah Timur Tengah untuk memberikan informasi mengenai keberadaan para tentara AS tersebut. Mengutip laporan Al Jazeera dari kantor berita Tasnim, IRGC menyerukan masyarakat untuk membantu mengidentifikasi lokasi tentara Amerika yang disebut berada di berbagai tempat penginapan. “Organisasi intelijen IRGC menyerukan informasi tentang pasukan AS di seluruh wilayah. Badan intelijen IRGC telah menyerukan kepada warga di seluruh wilayah untuk menemukan 11.000 tentara AS yang tinggal di hotel dan akomodasi pribadi,” tulis laporan tersebut. Dalam pesan itu, IRGC juga mengklaim bahwa pasukan AS ingin “menggunakan saudara-saudara Arab kita sebagai perisai manusia.” IRGC turut meminta masyarakat Iran untuk tidak melindungi tentara AS di tengah konflik yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya, IRGC bahkan menyebut tentara Amerika sebagai teroris. “Kita terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan orang Amerika. Oleh karena itu, lebih baik tidak melindungi mereka di hotel dan menjauhi lokasi mereka,” tulis pihak IRGC. Selain itu, IRGC menyerukan agar masyarakat melaporkan keberadaan tentara AS melalui aplikasi Telegram. “Adalah kewajiban Islam Anda untuk melaporkan secara akurat tempat persembunyian teroris Amerika dan mengirimkan informasi tersebut kepada kami melalui Telegram,” sambung pernyataan tersebut. Situasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel disebut semakin memanas. Ketegangan meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan akan melakukan balas dendam atas serangan pada 28 Februari lalu yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah pemimpin Iran. Selain itu, serangan yang dilancarkan Amerika Serikat di Kota Minab disebut menewaskan lebih dari 170 siswi perempuan sekolah dasar. Menanggapi pernyataan Mojtaba Khamenei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan akan membunuh pemimpin tertinggi baru Iran tersebut.

Internasional
| Jumat, 13 Maret 2026

Feeds

AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan Israel agar tetap mendukung rencana 20 poin Board of Peace (BoP) terkait rekonstruksi dan penyelesaian konflik di Gaza. Seorang pejabat senior AS menyatakan Trump akan "sangat kecewa" jika Israel mengingkari kesepakatan yang sebelumnya telah disetujui. Peringatan itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan keberatan terhadap usulan pelucutan senjata Hamas, yang dinilai belum memenuhi tuntutan Israel mengenai demiliterisasi penuh Jalur Gaza. Meski demikian, Washington optimistis Israel akan tetap mematuhi kesepakatan. Pemerintah AS juga menegaskan Qatar, Turki, dan Mesir memiliki peran penting dalam menjaga gencatan senjata serta mendorong proses perdamaian di Gaza terus berjalan.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: AS Peringatkan Israel, Trump Akan "Sangat Kecewa" Jika Tolak Kesepakatan Gaza | Pifa Net

Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan khusus negaranya siap melakukan operasi penyelamatan jika dirinya ditangkap saat berada di luar negeri. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan Fox News di tengah kembali mencuatnya surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Netanyahu tidak menjelaskan bagaimana operasi tersebut akan dilakukan. Sejumlah negara Eropa sebelumnya menyatakan akan mematuhi kewajiban hukum internasional apabila Netanyahu memasuki wilayah mereka, sesuai ketentuan Statuta Roma. Pernyataan tersebut memicu sorotan karena operasi militer di wilayah negara lain tanpa persetujuan dapat menimbulkan persoalan hukum internasional dan berpotensi memicu ketegangan diplomatik. Sementara itu, surat perintah ICC disebut telah memengaruhi rencana perjalanan luar negeri Netanyahu.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Netanyahu Sesumbar Pasukan Khusus Israel Akan Selamatkan Jika Ditangkap | Pifa Net

Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington

Aksi demonstrasi pro-Palestina mewarnai kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC, AS. Sejumlah demonstran menerobos masuk ke Hotel Four Seasons dan berusaha mendekati restoran tempat Netanyahu sedang makan malam sambil meneriakkan, "Penjahat perang" dan "Pembunuh bayi." Petugas keamanan segera mengamankan lokasi dan mengeluarkan para demonstran dari hotel. Di luar gedung, massa juga menggelar aksi dengan membawa bendera Palestina serta menuntut pemerintah Amerika Serikat menindaklanjuti surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang telah dikeluarkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Insiden ini terjadi di tengah kunjungan Netanyahu untuk bertemu Presiden Donald Trump, sekaligus kembali memicu sorotan terhadap dukungan AS kepada Israel di tengah konflik yang masih berlangsung di Gaza.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Netanyahu Diteriaki "Pembunuh Bayi" Saat Makan Malam di Washington | Pifa Net

Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone

Militer Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone ke Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber di Kuwait pada Jumat (31/7). Teheran menyebut sasaran serangan meliputi hanggar pesawat, sistem komunikasi satelit, dan gudang peralatan militer sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat di Pulau Qeshm. Hingga kini, pemerintah maupun militer Kuwait belum memberikan konfirmasi terkait klaim tersebut. Sebelumnya, Iran juga mengaku menyerang Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania dan mengklaim menghancurkan sejumlah jet tempur F-35 milik AS, meski klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen. Serangan terbaru ini menandai eskalasi lanjutan dalam konflik Iran dan Amerika Serikat yang terus meluas ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Iran Klaim Serang Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone | Pifa Net

Houthi Diduga Serang Arab Saudi dari Wilayah Irak, Ketegangan Timur Tengah Meningkat

Milisi Houthi diduga melancarkan serangan ke Arab Saudi dari wilayah Irak melalui koordinasi dengan kelompok bersenjata setempat. Analisis Saudi dan mitra regional menyebut operasi tersebut berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), meski hingga kini belum ada konfirmasi dari Houthi, milisi Irak, maupun Iran. Kerja sama Houthi dengan kelompok bersenjata Irak disebut telah berlangsung sejak lama dan semakin erat setelah pembentukan ruang operasi gabungan pada 2024. Jika benar dilakukan bersama, serangan ini dinilai menunjukkan semakin kuatnya jaringan "Poros Perlawanan" yang didukung Iran di kawasan. Dugaan serangan itu terjadi di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah. Arab Saudi sebelumnya melancarkan operasi militer ke Irak sebagai respons atas serangan yang diklaim berasal dari wilayah tersebut, sementara ketegangan dengan Houthi di Laut Merah juga terus meningkat.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto: Houthi Diduga Serang Arab Saudi dari Wilayah Irak, Ketegangan Timur Tengah Meningkat | Pifa Net

Iran Disebut Segera Terima Ratusan Peluncur Rudal dari China, Beijing Membantah

Iran dilaporkan akan menerima pengiriman ratusan sistem peluncur rudal pertahanan udara portabel (MANPADS) buatan China dalam beberapa pekan ke depan. Menurut laporan Reuters, kesepakatan tersebut mencakup sekitar 300 hingga 400 unit rudal QW-12 dan FN-16 yang dirancang untuk menghadapi pesawat, helikopter, hingga drone yang terbang rendah. Nilai kontrak disebut mencapai sekitar US$60-70 juta, dengan pengiriman diduga dilakukan melalui jalur darat untuk mengurangi risiko gangguan. Langkah ini dinilai akan memperkuat kemampuan pertahanan udara jarak pendek Iran setelah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Namun, pemerintah China membantah laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri China menegaskan informasi itu "sama sekali tidak berdasar" dan menyatakan Beijing tetap berkomitmen mendorong perdamaian serta mengakhiri konflik. Sementara itu, Kementerian Pertahanan China mengaku tidak mengetahui adanya pengiriman senjata tersebut.

Internasional
| Jumat, 31 Juli 2026
Foto:  Iran Disebut Segera Terima Ratusan Peluncur Rudal dari China, Beijing Membantah | Pifa Net

Israel Disebut Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran di Tengah Memburuknya Ekonomi Teheran

Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan kembali opsi melancarkan serangan terhadap Iran di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat. Mengutip laporan CNN, tiga sumber Israel menyebut otoritas negara itu telah menyusun rencana operasional untuk kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam konflik dan menempatkan pasukan dalam status siaga tinggi. Meski demikian, ketiga sumber tersebut mengatakan Amerika Serikat hingga kini belum meminta Israel untuk terlibat langsung dalam operasi militer yang dimulai pada awal Juli 2026. "Kami akan siap," kata salah satu sumber saat ditanya mengenai kemungkinan Israel membantu jika sewaktu-waktu diminta oleh Washington. Salah satu sumber menilai serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jembatan di Iran telah memberikan pukulan besar terhadap jaringan transportasi dan perdagangan negara tersebut. "Ekonomi Iran sedang runtuh, dan pada akhirnya ini akan semakin melemahkan rezim," ujar sumber itu. Menurut sumber tersebut, Israel memandang kondisi ekonomi Iran sebagai salah satu titik lemah utama pemerintah Teheran. Penilaian itu turut didasarkan pada gelombang protes akibat tingginya inflasi yang terjadi di Iran pada Januari lalu. Meski telah menyiapkan berbagai skenario, salah satu pejabat menyebut Israel sejauh ini masih merasa diuntungkan dengan tetap berada di luar konflik langsung, sementara Amerika Serikat dan Iran terus berhadapan dan belum mencapai kesepakatan terkait program nuklir. Seorang pejabat senior Israel juga mengatakan risiko eskalasi di Selat Hormuz yang dapat menyeret Israel ke dalam perang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan situasi masih sangat dinamis karena Tel Aviv terus memantau berbagai upaya mediasi regional untuk meredakan konflik. "Situasinya dinamis," katanya. Sumber lain mengungkapkan, jika Israel akhirnya terlibat dalam perang, sasaran utama yang akan dibidik adalah target bernilai strategis, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran. "Ini adalah target yang bisa menentukan hasil akhir perang, tetapi juga membawa risiko besar bagi negara-negara Teluk dan harga minyak, dan sampai sekarang, Amerika belum ingin mengambil risiko itu," ujar sumber tersebut. Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menggelar rapat keamanan terbatas pada Senin malam untuk membahas perkembangan terbaru. Dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah kemungkinan yang dapat membuat Israel ikut terlibat dalam konflik, mulai dari permintaan langsung Amerika Serikat, aksi Iran yang memicu serangan balasan, hingga kemungkinan serangan pendahuluan Israel untuk menggagalkan ancaman dari Teheran. Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, menegaskan kesiapan militernya. "Kami siap untuk segera kembali berperang dan akan bertindak dengan kekuatan besar terhadap siapa pun yang membahayakan kami," kata Zamir.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Israel Disebut Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran di Tengah Memburuknya Ekonomi Teheran | Pifa Net

Bangladesh Kembali Cantumkan Aturan 'Kecuali Israel' di Paspor

Bangladesh kembali menerapkan aturan yang menyatakan paspornya tidak berlaku untuk perjalanan ke Israel. Kebijakan tersebut diumumkan pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri dan akan kembali dicantumkan dalam paspor elektronik negara itu. Dalam pernyataan pada Minggu (19/7/2026), Kementerian Dalam Negeri Bangladesh menyebut frasa "Paspor ini berlaku untuk semua negara di dunia kecuali Israel" akan kembali dicetak di paspor elektronik. Pemerintah menegaskan langkah tersebut sejalan dengan kebijakan luar negeri Bangladesh yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel serta tidak mengakui negara tersebut. Kebijakan itu juga disebut mencerminkan dukungan Bangladesh terhadap perjuangan rakyat Palestina. Sebelumnya, Bangladesh juga pernah menerapkan aturan serupa pada 2020 ketika negara itu masih dipimpin oleh Sheikh Hasina. Selain perubahan terkait Israel, Kementerian Dalam Negeri juga menginstruksikan adanya penambahan tanda penghormatan bagi tokoh-tokoh yang tewas dalam pemberontakan pada Juli–Agustus 2024. Gelombang demonstrasi saat itu menuntut Sheikh Hasina mundur setelah lebih dari satu dekade memimpin Bangladesh. Aksi protes kemudian berubah menjadi bentrokan yang mengakibatkan sekitar 1.400 orang tewas dan puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka. Setelah peristiwa tersebut, Hasina meninggalkan Bangladesh dan hingga kini diketahui tinggal di India. Pemerintah Bangladesh juga merevisi desain paspor elektronik dengan menghapus sejumlah gambar dan simbol yang berkaitan dengan pendiri negara, Sheikh Mujibur Rahman.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Bangladesh Kembali Cantumkan Aturan 'Kecuali Israel' di Paspor | Pifa Net

Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS

Masoud Pezeshkian menyatakan Iran telah memasuki perang total atau "skala penuh" melawan Amerika Serikat. Menurutnya, konflik yang dihadapi Teheran kini tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga merambah sektor ekonomi. Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam rapat Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (20/7/2026). Ia menilai tekanan terhadap Iran kini lebih banyak diarahkan untuk melemahkan perekonomian dan kehidupan masyarakat. "Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal; musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer," kata Pezeshkian, seperti dikutip kantor berita negara IRNA. Ia menambahkan bahwa sektor ekonomi dan kesejahteraan masyarakat kini menjadi medan konfrontasi utama. "Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh," ujarnya. Pezeshkian juga kembali menyoroti dampak ekonomi dan sosial dari konflik dengan Amerika Serikat. Ia menilai pemerintah harus mencegah tekanan ekonomi semakin membebani masyarakat. "Tidak dapat diterima bagi kita untuk hidup dalam masyarakat di mana orang-orang berjuang dengan masalah mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan," katanya. Menurut Pezeshkian, jika tekanan ekonomi memicu ketidakpuasan sosial secara luas, kondisi tersebut dapat menggerus kepercayaan publik terhadap negara. Dalam pertemuan dengan para pemimpin media pada bulan lalu, Pezeshkian juga menegaskan bahwa menjaga persatuan dan kohesi nasional menjadi prioritas utama pemerintah Iran di tengah situasi yang sedang dihadapi. Sejak itu, Amerika Serikat disebut melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta melancarkan serangan terhadap sejumlah infrastruktur penting, seperti jalan raya, jalur kereta api, jembatan, dan terowongan. Konflik yang berkepanjangan turut memperburuk kondisi ekonomi Iran. Tingkat pengangguran dilaporkan meningkat, sementara nilai mata uang Iran kembali menyentuh titik terendah. Data resmi pemerintah Iran juga mencatat inflasi tahunan mencapai 88 persen pada Juni 2026.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Presiden Iran Nyatakan Negara Masuki 'Perang Skala Penuh' Melawan AS | Pifa Net

Pakar Sebut Stok Rudal AS Bisa Jadi Kendala Jika Perang dengan Iran Berlarut-larut

Washington – Sejumlah analis pertahanan menilai Amerika Serikat berpotensi menghadapi tantangan besar apabila konflik dengan Iran berlangsung dalam jangka panjang. Kekhawatiran itu muncul terkait menipisnya persediaan rudal jarak jauh dan amunisi sistem pertahanan udara. Peneliti senior bidang studi pertahanan dan kebijakan luar negeri di Cato Institute, Katherine Thompson, mengatakan faktor waktu menjadi penentu utama kemampuan militer AS mempertahankan operasi berkepanjangan. "Waktu adalah faktor utama di sini. Jika ini berlanjut selama berminggu-minggu dan kemudian kita mencapai gencatan senjata, semuanya baik-baik saja," kata Thompson, dikutip New York Post. Namun, ia memperingatkan kondisi akan berbeda jika perang berlangsung hingga bertahun-tahun. "Tapi saya rasa persediaan amunisi kita tak akan dalam kondisi baik jika ini berlanjut satu atau dua tahun lagi," ujarnya. Perlindungan Pasukan Jadi Tantangan Thompson menyoroti serangan balasan Iran yang belakangan menewaskan dua personel militer Amerika Serikat. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan besarnya tantangan logistik yang dihadapi Washington dalam melindungi sekitar 50.000 personel militernya yang ditempatkan di kawasan Timur Tengah. Ia juga menilai keberadaan pasukan AS dalam jumlah besar justru meningkatkan kebutuhan penggunaan sistem pertahanan udara dan rudal pencegat. "Ini menunjukkan dampaknya ke persediaan kita yang digunakan untuk melindungi kehadiran tersebut, karena serangan balasan masih terus terjadi dengan kecepatan yang mengkhawatirkan," katanya. Selain itu, Thompson menyebut sebagian besar rudal yang digunakan AS selama hari-hari awal operasi militer telah dikonsumsi dalam jumlah besar, sementara Iran masih mampu melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone. "Ternyata, Iran masih punya akses ke rudal dan drone. Serangan balasan Iran tidak akan besar di hari-hari awal perang, tetapi mereka menunjukkan kemampuan untuk terus menyerang," ujarnya. Ribuan Rudal Telah Digunakan Kekhawatiran terhadap stok amunisi AS sebenarnya telah disampaikan sejumlah pakar sejak beberapa bulan terakhir. Lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat Amerika Serikat telah menggunakan lebih dari 3.000 rudal jenis Tomahawk, Patriot, dan JASSM dalam berbagai operasi terhadap Iran sebelum konflik saat ini. Selain itu, AS juga dilaporkan telah menghabiskan ratusan sistem persenjataan canggih lainnya, termasuk rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Sejumlah laporan menyebut pemulihan stok ke tingkat sebelum perang diperkirakan baru dapat tercapai menjelang akhir dekade ini. Pentagon Pastikan Persediaan Masih Aman Meski muncul berbagai kekhawatiran, pemerintah Amerika Serikat menegaskan kemampuan militernya tetap memadai untuk menghadapi konflik berkepanjangan. Juru Bicara Departemen Pertahanan AS Sean Parnell mengatakan operasi militer tetap berjalan tanpa mengorbankan kesiapan persenjataan nasional. "Kami sudah melaksanakan berbagai operasi yang sukses di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki persenjataan yang lengkap untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami," kata Parnell.

Internasional
| Selasa, 21 Juli 2026
Foto: Pakar Sebut Stok Rudal AS Bisa Jadi Kendala Jika Perang dengan Iran Berlarut-larut | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Internasional

Foto: Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim | Pifa Net

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.

Internasional
| Senin, 23 Maret 2026

Internasional

Foto: Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen | Pifa Net

Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan dirinya tidak akan ragu membubarkan parlemen dan menggelar pemilu sela jika keretakan di dalam pemerintahan persatuan atau unity government terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan Anwar saat memberikan pidato utama dalam Konvensi Pakatan Harapan pada Minggu (17/5/2026). Anwar mengaku mendengar berbagai rumor mengenai ketidakstabilan politik di tingkat bawah, meski hubungan antarpartai di pemerintahan federal saat ini masih berjalan baik. Namun, ia memperingatkan partai-partai mitra koalisi agar tidak membelot dari kesepakatan politik yang telah dibangun bersama. “Saya akan mengadakan pertemuan dengan kepemimpinan Pakatan mengenai masalah ini dan jika perlu, kami akan menyerukan pemilu sela,” ujar Anwar seperti dikutip The Star. Menurut Anwar, jika konflik politik terus memanas, dampaknya tidak hanya akan terjadi di Johor, tetapi juga berpotensi meluas ke wilayah strategis lain seperti Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, dan Penang. Ia menegaskan prioritas utama pemerintahannya adalah menjaga stabilitas politik demi memperkuat tata kelola pemerintahan dan pemulihan ekonomi Malaysia. “Kami tidak akan bisa diancam. Namun, jika mereka ingin bernegosiasi dengan cara yang baik, kami selalu bersedia,” tegas Anwar. Dalam kesempatan itu, Anwar juga mengkritik sejumlah pemerintah negara bagian yang disebut membagikan bantuan sosial menjelang masa pemilihan. Menurutnya, praktik tersebut dapat mencederai proses demokrasi yang sehat. Meski isu perpecahan terus berkembang, Anwar memastikan tiga partai utama dalam koalisi Pakatan Harapan, yakni Parti Keadilan Rakyat, Democratic Action Party, dan Parti Amanah Negara tetap solid dan stabil.

Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

Internasional

Foto: IRGC Klaim Buru 11 Ribu Tentara AS di Timur Tengah di Tengah Memanasnya Perang Iran vs AS-Israel | Pifa Net

IRGC Klaim Buru 11 Ribu Tentara AS di Timur Tengah di Tengah Memanasnya Perang Iran vs AS-Israel

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikabarkan tengah memburu sekitar 11 ribu tentara Amerika Serikat yang berada di wilayah Timur Tengah di tengah memanasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Badan intelijen IRGC bahkan disebut telah meminta warga Iran di wilayah Timur Tengah untuk memberikan informasi mengenai keberadaan para tentara AS tersebut. Mengutip laporan Al Jazeera dari kantor berita Tasnim, IRGC menyerukan masyarakat untuk membantu mengidentifikasi lokasi tentara Amerika yang disebut berada di berbagai tempat penginapan. “Organisasi intelijen IRGC menyerukan informasi tentang pasukan AS di seluruh wilayah. Badan intelijen IRGC telah menyerukan kepada warga di seluruh wilayah untuk menemukan 11.000 tentara AS yang tinggal di hotel dan akomodasi pribadi,” tulis laporan tersebut. Dalam pesan itu, IRGC juga mengklaim bahwa pasukan AS ingin “menggunakan saudara-saudara Arab kita sebagai perisai manusia.” IRGC turut meminta masyarakat Iran untuk tidak melindungi tentara AS di tengah konflik yang sedang berlangsung. Dalam pernyataannya, IRGC bahkan menyebut tentara Amerika sebagai teroris. “Kita terpaksa mengidentifikasi dan menargetkan orang Amerika. Oleh karena itu, lebih baik tidak melindungi mereka di hotel dan menjauhi lokasi mereka,” tulis pihak IRGC. Selain itu, IRGC menyerukan agar masyarakat melaporkan keberadaan tentara AS melalui aplikasi Telegram. “Adalah kewajiban Islam Anda untuk melaporkan secara akurat tempat persembunyian teroris Amerika dan mengirimkan informasi tersebut kepada kami melalui Telegram,” sambung pernyataan tersebut. Situasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel disebut semakin memanas. Ketegangan meningkat setelah Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyatakan akan melakukan balas dendam atas serangan pada 28 Februari lalu yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei. Serangan tersebut juga dilaporkan menewaskan sejumlah pemimpin Iran. Selain itu, serangan yang dilancarkan Amerika Serikat di Kota Minab disebut menewaskan lebih dari 170 siswi perempuan sekolah dasar. Menanggapi pernyataan Mojtaba Khamenei, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyatakan akan membunuh pemimpin tertinggi baru Iran tersebut.

Internasional
| Jumat, 13 Maret 2026
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5