2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Internasional

Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk

PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kerangka kerja untuk potensi perjanjian terkait Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas telah berhasil dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu (21/1) usai bertemu dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte. Trump menyebut pertemuannya dengan Rutte berlangsung sangat produktif dan menghasilkan fondasi awal bagi kesepakatan di masa depan. “Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara saya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan di masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh Wilayah Arktik,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social. Trump menambahkan, apabila perjanjian tersebut dapat diselesaikan, manfaatnya tidak hanya akan dirasakan oleh Amerika Serikat, tetapi juga oleh seluruh negara anggota NATO. Menurutnya, kesepakatan itu berpotensi memperkuat kerja sama strategis dan keamanan kawasan, mengingat posisi Greenland dan wilayah Arktik yang dinilai semakin penting dalam dinamika geopolitik global.

Internasional
| Kamis, 22 Januari 2026
Foto: Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Internasional

Foto:  Trump Tegaskan Tolak Aneksasi Tepi Barat, Sebut AS Tak Perlu Tambah Masalah Baru | Pifa Net

Trump Tegaskan Tolak Aneksasi Tepi Barat, Sebut AS Tak Perlu Tambah Masalah Baru

PIFA, Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan menentang langkah Israel untuk mencaplok wilayah pendudukan Tepi Barat. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (10/2) saat diwawancarai media berbasis di AS, Axios. Dalam wawancara tersebut, Trump dimintai tanggapan mengenai kebijakan terbaru yang disetujui kabinet keamanan Israel terkait wilayah Tepi Barat. Meski tidak merinci kebijakan yang dimaksud, Trump menegaskan sikapnya secara jelas. “Saya menentang pencaplokan,” ujar Trump. Ia juga menambahkan bahwa AS saat ini sudah memiliki banyak persoalan untuk dipikirkan. “Kita sudah memiliki cukup banyak hal untuk dipikirkan saat ini. Kita tidak perlu berurusan dengan Tepi Barat,” lanjutnya. Pernyataan itu muncul setelah pada Minggu (8/2), kabinet keamanan Israel memutuskan mencabut undang-undang yang melarang penjualan tanah Palestina kepada warga Yahudi di Tepi Barat. Selain itu, Israel juga membuka segel catatan kepemilikan tanah serta mengalihkan kewenangan penerbitan izin bangunan di blok permukiman Hebron dari otoritas kota Palestina kepada administrasi sipil Israel. Langkah tersebut turut memperluas pengawasan serta penegakan hukum Israel ke wilayah yang diklasifikasikan sebagai Area A dan Area B, dengan alasan dugaan pelanggaran pembangunan tanpa izin, persoalan air, serta kerusakan situs arkeologi dan lingkungan. Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah Israel juga telah meninjau rencana pembangunan sekitar 50.000 unit permukiman di Tepi Barat. Bahkan, sekitar 60.000 dunam lahan atau setara 14.826 acre dilaporkan telah disita Israel sejak dimulainya perang dengan Hamas pada Oktober 2023. Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ) dalam opini penting pada Juli 2024 menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menyerukan pengosongan seluruh permukiman di Tepi Barat serta Yerusalem Timur. Wilayah Tepi Barat sendiri berdasarkan Perjanjian Oslo II tahun 1993 dibagi menjadi tiga area administratif, yakni Area A, B, dan C. Pembagian tersebut awalnya dimaksudkan sebagai transisi sementara untuk peralihan kendali kepada Otoritas Palestina, namun hingga kini masih berlaku secara permanen. Area A mencakup sekitar 18 persen wilayah Tepi Barat, termasuk kota-kota besar Palestina, di mana Otoritas Palestina memiliki kendali penuh atas urusan sipil dan keamanan. Sementara Area B mencakup sekitar 22 persen wilayah, di mana Otoritas Palestina mengendalikan urusan sipil, namun keamanan dikelola secara bersama dengan Israel. Adapun Area C mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat yang berada di bawah kendali penuh Israel, baik dalam urusan sipil maupun keamanan, termasuk pemukiman dan infrastruktur. Di sisi lain, Israel terus melakukan pembongkaran rumah dan bangunan milik warga Palestina di seluruh Tepi Barat dengan alasan tidak memiliki izin pembangunan. Kebijakan tersebut dinilai warga Palestina sangat membatasi dan menyulitkan proses perolehan izin. Menurut data Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok, lembaga pemerintah Palestina, Israel melakukan 538 pembongkaran sepanjang 2025 yang berdampak pada sekitar 1.400 rumah dan bangunan, angka yang disebut meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Internasionald
| Rabu, 11 Februari 2026

Internasional

Foto: Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko | Pifa Net

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko

PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.​Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.​Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.

Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026

Internasional

Foto: Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik | Pifa Net

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik

PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.

Internasional
| Senin, 9 Februari 2026

Berita Populer

Internasional

Foto: Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk | Pifa Net

Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk

PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kerangka kerja untuk potensi perjanjian terkait Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas telah berhasil dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu (21/1) usai bertemu dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte. Trump menyebut pertemuannya dengan Rutte berlangsung sangat produktif dan menghasilkan fondasi awal bagi kesepakatan di masa depan. “Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara saya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan di masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh Wilayah Arktik,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social. Trump menambahkan, apabila perjanjian tersebut dapat diselesaikan, manfaatnya tidak hanya akan dirasakan oleh Amerika Serikat, tetapi juga oleh seluruh negara anggota NATO. Menurutnya, kesepakatan itu berpotensi memperkuat kerja sama strategis dan keamanan kawasan, mengingat posisi Greenland dan wilayah Arktik yang dinilai semakin penting dalam dinamika geopolitik global.

Internasional
| Kamis, 22 Januari 2026

Internasional

Foto: Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko | Pifa Net

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko

PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.​Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.​Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.

Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026

Internasional

Foto: PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan | Pifa Net

PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan

PIFA, Internasional – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan kondisi keuangan organisasi dunia tersebut yang kian mengkhawatirkan akibat banyaknya negara anggota yang tidak membayar iuran wajib. Dalam surat yang dikirimkan kepada negara-negara anggota dan dilihat Anadolu pada Jumat (30/1), Guterres menegaskan bahwa situasi keuangan PBB saat ini berada pada tingkat yang serius dan berbeda dari krisis sebelumnya. “Keputusan untuk tidak menghormati iuran wajib yang membiayai sebagian besar anggaran reguler yang disetujui kini telah diumumkan secara resmi,” tulis Guterres. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat dipertahankan.” Guterres mengungkapkan, PBB kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Pertama, negara-negara anggota harus menyepakati perombakan aturan keuangan organisasi. Kedua, menerima risiko nyata terjadinya keruntuhan keuangan PBB. “Dengan kata lain, kita terjebak dalam siklus Kafkaesque; diharapkan untuk mengembalikan uang tunai yang tidak ada,” tegasnya. Ia menilai manajemen likuiditas PBB saat ini sudah tidak lagi layak. Menurutnya, berdasarkan aturan keuangan yang berlaku, semakin besar penghematan yang dilakukan, justru semakin besar pula sanksi yang diterima organisasi. “Krisis semakin memburuk, mengancam pelaksanaan program dan berisiko menyebabkan keruntuhan keuangan. Situasi ini akan semakin buruk dalam waktu dekat,” kata Guterres. Dalam surat tersebut, Guterres juga mengungkapkan bahwa PBB menutup tahun 2025 dengan tunggakan iuran mencapai 1,568 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,6 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Tanpa peningkatan drastis dalam pengumpulan dana, ia memperingatkan PBB tidak akan mampu sepenuhnya melaksanakan anggaran program 2026 yang telah disetujui pada Desember lalu. Bahkan, berdasarkan tren historis, dana anggaran reguler berpotensi habis pada Juli 2026. Sebagai dampak lanjutan, PBB juga telah mengurangi operasi penjaga perdamaian untuk periode 2025–2026 sebesar 15 persen. Guterres pun mendesak adanya upaya bersama dari seluruh negara anggota untuk memutus “siklus setan” tersebut. Menurutnya, hanya ada dua jalan keluar, yakni seluruh negara anggota memenuhi kewajiban pembayaran iuran secara penuh dan tepat waktu, atau dilakukan perombakan mendasar terhadap aturan keuangan PBB. Sementara itu, Juru Bicara Sekjen PBB Farhan Haq membenarkan isi surat tersebut dan menegaskan bahwa PBB saat ini menghadapi krisis likuiditas yang nyata. “Poin kuncinya adalah untuk menggarisbawahi keseriusan situasi keuangan yang dihadapi Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujar Haq dalam konferensi pers. Ia menyebut tunggakan iuran yang belum dibayarkan telah mencapai sekitar 1,56 miliar dolar AS, sehingga PBB berada dalam bahaya nyata kehabisan dana operasional. Menurut Haq, PBB kini tidak lagi memiliki cadangan kas dan likuiditas yang memadai untuk terus berfungsi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menanggapi kemungkinan perubahan aturan anggaran dengan menekankan peran negara anggota. “Negara-negara anggota dapat mengubah peraturan mereka, tetapi kami mengandalkan mereka untuk memahami beratnya situasi yang kita hadapi dan mengambil tindakan yang tepat,” katanya.

Internasional
| Sabtu, 31 Januari 2026

Feeds

Trump Tegaskan Tolak Aneksasi Tepi Barat, Sebut AS Tak Perlu Tambah Masalah Baru

PIFA, Internasional – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan menentang langkah Israel untuk mencaplok wilayah pendudukan Tepi Barat. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Selasa (10/2) saat diwawancarai media berbasis di AS, Axios. Dalam wawancara tersebut, Trump dimintai tanggapan mengenai kebijakan terbaru yang disetujui kabinet keamanan Israel terkait wilayah Tepi Barat. Meski tidak merinci kebijakan yang dimaksud, Trump menegaskan sikapnya secara jelas. “Saya menentang pencaplokan,” ujar Trump. Ia juga menambahkan bahwa AS saat ini sudah memiliki banyak persoalan untuk dipikirkan. “Kita sudah memiliki cukup banyak hal untuk dipikirkan saat ini. Kita tidak perlu berurusan dengan Tepi Barat,” lanjutnya. Pernyataan itu muncul setelah pada Minggu (8/2), kabinet keamanan Israel memutuskan mencabut undang-undang yang melarang penjualan tanah Palestina kepada warga Yahudi di Tepi Barat. Selain itu, Israel juga membuka segel catatan kepemilikan tanah serta mengalihkan kewenangan penerbitan izin bangunan di blok permukiman Hebron dari otoritas kota Palestina kepada administrasi sipil Israel. Langkah tersebut turut memperluas pengawasan serta penegakan hukum Israel ke wilayah yang diklasifikasikan sebagai Area A dan Area B, dengan alasan dugaan pelanggaran pembangunan tanpa izin, persoalan air, serta kerusakan situs arkeologi dan lingkungan. Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah Israel juga telah meninjau rencana pembangunan sekitar 50.000 unit permukiman di Tepi Barat. Bahkan, sekitar 60.000 dunam lahan atau setara 14.826 acre dilaporkan telah disita Israel sejak dimulainya perang dengan Hamas pada Oktober 2023. Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ) dalam opini penting pada Juli 2024 menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menyerukan pengosongan seluruh permukiman di Tepi Barat serta Yerusalem Timur. Wilayah Tepi Barat sendiri berdasarkan Perjanjian Oslo II tahun 1993 dibagi menjadi tiga area administratif, yakni Area A, B, dan C. Pembagian tersebut awalnya dimaksudkan sebagai transisi sementara untuk peralihan kendali kepada Otoritas Palestina, namun hingga kini masih berlaku secara permanen. Area A mencakup sekitar 18 persen wilayah Tepi Barat, termasuk kota-kota besar Palestina, di mana Otoritas Palestina memiliki kendali penuh atas urusan sipil dan keamanan. Sementara Area B mencakup sekitar 22 persen wilayah, di mana Otoritas Palestina mengendalikan urusan sipil, namun keamanan dikelola secara bersama dengan Israel. Adapun Area C mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat yang berada di bawah kendali penuh Israel, baik dalam urusan sipil maupun keamanan, termasuk pemukiman dan infrastruktur. Di sisi lain, Israel terus melakukan pembongkaran rumah dan bangunan milik warga Palestina di seluruh Tepi Barat dengan alasan tidak memiliki izin pembangunan. Kebijakan tersebut dinilai warga Palestina sangat membatasi dan menyulitkan proses perolehan izin. Menurut data Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok, lembaga pemerintah Palestina, Israel melakukan 538 pembongkaran sepanjang 2025 yang berdampak pada sekitar 1.400 rumah dan bangunan, angka yang disebut meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Internasionald
| Rabu, 11 Februari 2026
Foto:  Trump Tegaskan Tolak Aneksasi Tepi Barat, Sebut AS Tak Perlu Tambah Masalah Baru | Pifa Net

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko

PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.​Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.​Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.

Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026
Foto: Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko | Pifa Net

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik

PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.

Internasional
| Senin, 9 Februari 2026
Foto: Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik | Pifa Net

Sumber Iran: Hasil Perundingan Nuklir dengan AS Sulit Diprediksi

PIFA, Internasional — Hasil perundingan nuklir yang akan datang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai sulit diprediksi. Penilaian tersebut disampaikan seorang sumber Iran kepada RIA Novosti, Jumat. Menurut sumber itu, “kerumitan situasi dan tindakan AS” menjadi faktor utama yang membuat hasil dialog dengan Iran sulit diperkirakan. Kurangnya kepercayaan terhadap Washington disebut masih menjadi tantangan besar dalam setiap upaya perundingan. “Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama (perundingan), khususnya setelah langkah militer agresif yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat,” kata sumber tersebut. Ia menilai, langkah-langkah agresif tersebut telah memperdalam jurang ketidakpercayaan sekaligus meningkatkan tingkat kehati-hatian Iran secara signifikan dalam menghadapi perundingan lanjutan. Pada Jumat, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan menggelar perundingan terkait isu nuklir di Oman. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk kembali membahas program nuklir Iran di tengah ketegangan yang masih berlangsung. Sebelumnya, pada Januari lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran. Ia juga menyampaikan harapannya agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen untuk sepenuhnya meninggalkan senjata nuklir. Trump turut memperingatkan bahwa apabila tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan sebelumnya.

Internasional
| Jumat, 6 Februari 2026
Foto: Sumber Iran: Hasil Perundingan Nuklir dengan AS Sulit Diprediksi | Pifa Net

PBB: Saat Ini Risiko Penggunaan Senjata Nuklir Berada di Level Tertinggi dalam Beberapa Dekade Terakhir

PIFA, Internasional - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menilai risiko penggunaan senjata nuklir saat ini berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Pernyataan tersebut disampaikan menyusul berakhirnya Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru atau New START antara Rusia dan Amerika Serikat. Seperti dilaporkan RIA Novosti pada Kamis (5/2), Guterres menyampaikan keprihatinannya melalui pernyataan resmi yang dikeluarkan setelah perjanjian New START resmi berakhir pada Rabu. Ia menyayangkan berakhirnya perjanjian yang disebut sebagai hasil kerja keras selama puluhan tahun itu, terlebih karena terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Guterres menilai berakhirnya New START terjadi “pada waktu terburuk”, ketika hubungan internasional berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian dan risiko eskalasi konflik. “Namun, bahkan di tengah ketidakpastian ini, kita harus mencari harapan. Ini merupakan kesempatan untuk mengatur ulang dan menciptakan sistem pengendalian senjata yang sesuai dengan konteks yang berkembang pesat,” kata Guterres. Meski demikian, Guterres menyambut baik penegasan dari Amerika Serikat dan Rusia terkait pemahaman bersama mengenai dampak destabilisasi dari perlombaan senjata nuklir. Ia juga menekankan pentingnya mencegah dunia kembali memasuki era proliferasi nuklir yang tidak terkendali. Sebagai informasi, New START merupakan perjanjian terakhir yang mengatur pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia. Perjanjian tersebut membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis jarak jauh yang boleh dimiliki kedua negara dan mulai berlaku sejak 5 Februari 2011. Berakhirnya New START memunculkan kekhawatiran baru terkait masa depan rezim pengendalian senjata nuklir global, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.

Internasional
| Kamis, 5 Februari 2026
Foto: PBB: Saat Ini Risiko Penggunaan Senjata Nuklir Berada di Level Tertinggi dalam Beberapa Dekade Terakhir | Pifa Net

China–Rusia Pererat Hubungan Strategis untuk Hadapi Tantangan Keamanan Global

PIFA, Internasional - Pemerintah China dan Rusia menegaskan kedekatan hubungan kedua negara ditujukan untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan global. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu yang berlangsung di Beijing. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan China dan Rusia, sebagai dua negara besar sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berkomitmen mempraktikkan multilateralisme sejati dan menjunjung tinggi sistem internasional yang berpusat pada PBB. “China dan Rusia, sebagai dua negara besar dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, akan mempraktikkan multilateralisme sejati, dan menjunjung tinggi sistem internasional yang berpusat pada PBB,” kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (2/2). Lin Jian menyebut kedua negara juga menyerukan terciptanya dunia multipolar yang setara serta globalisasi ekonomi yang inklusif dan membawa manfaat secara universal. Selain itu, China dan Rusia mendorong pembangunan sistem tata kelola global yang dinilai lebih adil dan merata. Pertemuan Wang Yi dan Sergei Shoigu berlangsung pada Minggu (1/2) di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing. Dalam kesempatan tersebut, China dan Rusia menegaskan posisi sebagai mitra strategis komprehensif untuk koordinasi di era baru. “Kedua negara telah menjaga komunikasi yang erat mengenai isu-isu utama yang menyangkut hubungan bilateral, saling mendukung dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan inti masing-masing, dan melindungi kepentingan masing-masing maupun kepentingan bersama kedua negara,” ujar Lin Jian. Wang Yi dalam pertemuan itu menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar dan gejolak yang kian meningkat. Menurutnya, tatanan internasional pascaperang serta norma-norma hubungan internasional menghadapi tantangan serius, bahkan berisiko kembali pada situasi “hukum rimba”. Ia menegaskan, sebagai negara bertetangga terbesar sekaligus mitra strategis komprehensif, China dan Rusia perlu terus menjaga komunikasi erat, meningkatkan dukungan timbal balik terkait kepentingan inti masing-masing, serta melindungi kepentingan bersama. Wang Yi juga menyatakan kesiapan China untuk bekerja sama dengan Rusia dalam mengimplementasikan pemahaman penting yang telah dicapai oleh kedua kepala negara. Kerja sama tersebut mencakup peningkatan komunikasi dan koordinasi strategis guna membuka prospek baru hubungan China–Rusia di tahun yang baru. Sementara itu, Sergei Shoigu menegaskan Rusia secara konsisten menjunjung tinggi prinsip satu China. Rusia, kata dia, juga mencermati langkah-langkah kekuatan yang dinilai berupaya merusak stabilitas di Selat Taiwan, serta menentang upaya Jepang untuk mempercepat remiliterisasi. Rusia menyatakan kesiapannya untuk terus memperkuat dukungan timbal balik dengan China, meningkatkan kerja sama bilateral, serta memperdalam koordinasi dalam berbagai mekanisme multilateral, seperti PBB, Shanghai Cooperation Organization (SCO), dan BRICS. Kedua pihak juga melakukan komunikasi strategis mendalam mengenai berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dengan tujuan bersama membangun dunia multipolar yang lebih adil dan setara serta arsitektur keamanan Eurasia yang dinilai tak terpisahkan.

Internasional
| Selasa, 3 Februari 2026
Foto: China–Rusia Pererat Hubungan Strategis untuk Hadapi Tantangan Keamanan Global | Pifa Net

AS Buka Peluang Perundingan dengan Iran di Tengah Peningkatan Kehadiran Militer

PIFA, Internasional - Pemerintah Amerika Serikat menyampaikan kepada Iran melalui jalur diplomatik bahwa Washington tetap membuka peluang perundingan, meskipun AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk Persia. Informasi tersebut dilaporkan Axios pada Minggu (1/2). Mengutip seorang pejabat senior AS, laporan itu menyebutkan Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan final untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran. Hingga kini, Gedung Putih masih mengupayakan penyelesaian melalui jalur diplomatik. Axios juga melaporkan bahwa Turki, Mesir, dan Qatar tengah berupaya memfasilitasi pertemuan di Ankara pada pekan ini antara utusan Gedung Putih, Steve Witkoff, dan pejabat senior Iran. Dua sumber di kawasan menyebut ketiga negara tersebut menjalin koordinasi erat dengan Amerika Serikat dan Iran untuk mendorong dialog. “Prosesnya sedang berjalan. Kami mengusahakan yang terbaik,” kata seorang pejabat dari salah satu negara mediator. Upaya diplomatik tersebut berlangsung setelah Presiden Trump menyampaikan dalam unggahan media sosial pada Rabu lalu bahwa sebuah “armada besar” tengah bergerak menuju Iran. Dalam pernyataannya, Trump juga mendesak Teheran agar segera memasuki perundingan. Sebelumnya, Presiden AS itu mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan, menyusul aksi unjuk rasa anti pemerintah di negara tersebut pada akhir Desember 2025. Menanggapi hal itu, pemerintah Iran memperingatkan bahwa setiap serangan militer Amerika Serikat akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh.”

Internasional
| Senin, 2 Februari 2026
Foto: AS Buka Peluang Perundingan dengan Iran di Tengah Peningkatan Kehadiran Militer | Pifa Net

PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan

PIFA, Internasional – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan kondisi keuangan organisasi dunia tersebut yang kian mengkhawatirkan akibat banyaknya negara anggota yang tidak membayar iuran wajib. Dalam surat yang dikirimkan kepada negara-negara anggota dan dilihat Anadolu pada Jumat (30/1), Guterres menegaskan bahwa situasi keuangan PBB saat ini berada pada tingkat yang serius dan berbeda dari krisis sebelumnya. “Keputusan untuk tidak menghormati iuran wajib yang membiayai sebagian besar anggaran reguler yang disetujui kini telah diumumkan secara resmi,” tulis Guterres. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat dipertahankan.” Guterres mengungkapkan, PBB kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Pertama, negara-negara anggota harus menyepakati perombakan aturan keuangan organisasi. Kedua, menerima risiko nyata terjadinya keruntuhan keuangan PBB. “Dengan kata lain, kita terjebak dalam siklus Kafkaesque; diharapkan untuk mengembalikan uang tunai yang tidak ada,” tegasnya. Ia menilai manajemen likuiditas PBB saat ini sudah tidak lagi layak. Menurutnya, berdasarkan aturan keuangan yang berlaku, semakin besar penghematan yang dilakukan, justru semakin besar pula sanksi yang diterima organisasi. “Krisis semakin memburuk, mengancam pelaksanaan program dan berisiko menyebabkan keruntuhan keuangan. Situasi ini akan semakin buruk dalam waktu dekat,” kata Guterres. Dalam surat tersebut, Guterres juga mengungkapkan bahwa PBB menutup tahun 2025 dengan tunggakan iuran mencapai 1,568 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,6 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Tanpa peningkatan drastis dalam pengumpulan dana, ia memperingatkan PBB tidak akan mampu sepenuhnya melaksanakan anggaran program 2026 yang telah disetujui pada Desember lalu. Bahkan, berdasarkan tren historis, dana anggaran reguler berpotensi habis pada Juli 2026. Sebagai dampak lanjutan, PBB juga telah mengurangi operasi penjaga perdamaian untuk periode 2025–2026 sebesar 15 persen. Guterres pun mendesak adanya upaya bersama dari seluruh negara anggota untuk memutus “siklus setan” tersebut. Menurutnya, hanya ada dua jalan keluar, yakni seluruh negara anggota memenuhi kewajiban pembayaran iuran secara penuh dan tepat waktu, atau dilakukan perombakan mendasar terhadap aturan keuangan PBB. Sementara itu, Juru Bicara Sekjen PBB Farhan Haq membenarkan isi surat tersebut dan menegaskan bahwa PBB saat ini menghadapi krisis likuiditas yang nyata. “Poin kuncinya adalah untuk menggarisbawahi keseriusan situasi keuangan yang dihadapi Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujar Haq dalam konferensi pers. Ia menyebut tunggakan iuran yang belum dibayarkan telah mencapai sekitar 1,56 miliar dolar AS, sehingga PBB berada dalam bahaya nyata kehabisan dana operasional. Menurut Haq, PBB kini tidak lagi memiliki cadangan kas dan likuiditas yang memadai untuk terus berfungsi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menanggapi kemungkinan perubahan aturan anggaran dengan menekankan peran negara anggota. “Negara-negara anggota dapat mengubah peraturan mereka, tetapi kami mengandalkan mereka untuk memahami beratnya situasi yang kita hadapi dan mengambil tindakan yang tepat,” katanya.

Internasional
| Sabtu, 31 Januari 2026
Foto: PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan | Pifa Net

Sekutu AS di Timur Tengah Desak Trump Tahan Diri dari Opsi Serangan ke Iran

PIFA, Internasional - Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah dilaporkan berupaya menahan langkah Presiden AS Donald Trump terkait rencana serangan terhadap Iran. Upaya diplomatik tersebut dilakukan dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan regional. The New York Times melaporkan, negara-negara sekutu AS khawatir serangan militer terhadap Iran berpotensi memicu konflik berskala besar yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah secara menyeluruh. Kekhawatiran itu mendorong intensifikasi komunikasi dengan Washington agar opsi militer tidak menjadi pilihan utama. Sebagaimana dilaporkan Sputnik pada Kamis, para sekutu AS menilai eskalasi konflik dengan Iran akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi kawasan Teluk, tetapi juga bagi kepentingan global. Sejumlah negara Teluk disebut aktif melakukan pendekatan langsung kepada Presiden Trump. Qatar, Arab Saudi, dan Oman dilaporkan telah menyampaikan pesan agar AS menghindari langkah militer terhadap Teheran. Menurut laporan News Nation awal bulan ini, negara-negara tersebut meminta Trump untuk “memberi Iran kesempatan.” Permintaan itu disampaikan melalui jalur diplomatik dengan harapan ketegangan dapat diredam tanpa penggunaan kekuatan bersenjata. Di sisi lain, situasi di dalam negeri Iran sendiri tengah memanas. Sejak akhir Desember 2025, gelombang protes meluas di berbagai wilayah menyusul kekhawatiran publik terhadap meningkatnya inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang rial. Aksi unjuk rasa dilaporkan semakin intens sejak 8 Januari, setelah seruan yang disampaikan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran memblokir akses internet di seluruh negeri. Di sejumlah kota, protes tersebut berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah, sementara laporan menyebutkan adanya korban di pihak demonstran maupun aparat. Sebelumnya, pada akhir Desember, Presiden Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran apabila Teheran berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Pernyataan itu kembali mempertegas sikap keras Washington terhadap Iran. Ketegangan semakin meningkat ketika Trump, di tengah gelombang protes di Iran, mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap negara tersebut jika ada demonstran yang terbunuh. Ancaman itu menambah kekhawatiran berbagai pihak akan potensi eskalasi konflik di kawasan.

Internasional
| Kamis, 29 Januari 2026
Foto: Sekutu AS di Timur Tengah Desak Trump Tahan Diri dari Opsi Serangan ke Iran | Pifa Net

Iran Klaim Lebih Siap Hadapi Serangan, Ketegangan dengan AS Kian Memuncak

PIFA, Internasional - Pemerintah Iran menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi segala bentuk potensi serangan, di tengah meningkatnya ketegangan secara signifikan dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, menyusul gelombang protes besar yang melanda Iran dan berujung pada bentrokan berdarah. Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut kondisi yang dihadapi negaranya sebagai bentuk “perang hibrida”. Ia merujuk pada konflik selama 12 hari yang terjadi pada Juni lalu, serta aksi protes kekerasan terbaru yang menurut Teheran dipicu oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel. Baghaei mengatakan Iran terus menghadapi ancaman dan “klaim tanpa dasar” dari AS dan Israel. Ia menyinggung pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump serta laporan pergerakan kapal-kapal perang Amerika menuju kawasan Teluk Persia sebagai bagian dari tekanan yang semakin meningkat terhadap Teheran. Menurut Baghaei, negara-negara di kawasan memahami bahwa instabilitas regional tidak akan berhenti pada satu negara saja. Ia menekankan adanya kekhawatiran bersama di antara negara-negara tetangga Iran mengenai dampak luas yang bisa ditimbulkan apabila AS melancarkan serangan militer, seraya mendesak mereka untuk “mengambil sikap yang jelas” terhadap ancaman tersebut. “Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri serta pengalaman berharga di masa lalu, Iran lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara komprehensif, tegas, dan dengan cara yang akan disesalkan terhadap setiap potensi agresi,” tegas Baghaei. Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah aksi protes di Iran berubah menjadi kekerasan dan menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut klaim pemerintah Iran. Situasi tersebut memicu serangkaian pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump. Pada puncak gelombang protes awal bulan ini, Trump memperingatkan bahwa ia akan “datang menyelamatkan” para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan. Beberapa hari kemudian, ia kembali mendorong para pengunjuk rasa untuk terus berdemonstrasi dan mengambil alih lembaga-lembaga negara dengan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan. Trump juga menyatakan bahwa sudah waktunya terjadi perubahan kepemimpinan di Iran. Pernyataan tersebut ditafsirkan luas di Teheran sebagai ancaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Situasi kian memanas setelah pada Sabtu lalu Trump mengumumkan bahwa sebuah “armada” militer Amerika Serikat sedang bergerak menuju Timur Tengah. Ia menegaskan AS memantau kondisi Iran secara cermat, sekaligus mengonfirmasi laporan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali akan tiba di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan. Pengumuman itu memicu reaksi keras dari pimpinan politik dan militer Iran, yang memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan respons kuat dan tegas.

Internasional
| Selasa, 27 Januari 2026
Foto: Iran Klaim Lebih Siap Hadapi Serangan, Ketegangan dengan AS Kian Memuncak | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Internasional

Foto: Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk | Pifa Net

Trump Klaim Kerangka Kesepakatan Greenland dan Arktik Telah Dibentuk

PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa kerangka kerja untuk potensi perjanjian terkait Greenland dan wilayah Arktik yang lebih luas telah berhasil dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan Trump pada Rabu (21/1) usai bertemu dengan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Mark Rutte. Trump menyebut pertemuannya dengan Rutte berlangsung sangat produktif dan menghasilkan fondasi awal bagi kesepakatan di masa depan. “Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif antara saya dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan di masa depan terkait Greenland dan, pada kenyataannya, seluruh Wilayah Arktik,” tulis Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social. Trump menambahkan, apabila perjanjian tersebut dapat diselesaikan, manfaatnya tidak hanya akan dirasakan oleh Amerika Serikat, tetapi juga oleh seluruh negara anggota NATO. Menurutnya, kesepakatan itu berpotensi memperkuat kerja sama strategis dan keamanan kawasan, mengingat posisi Greenland dan wilayah Arktik yang dinilai semakin penting dalam dinamika geopolitik global.

Internasional
| Kamis, 22 Januari 2026

Internasional

Foto: Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko | Pifa Net

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko

PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.​Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.​Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.

Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026

Internasional

Foto: PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan | Pifa Net

PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan

PIFA, Internasional – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan kondisi keuangan organisasi dunia tersebut yang kian mengkhawatirkan akibat banyaknya negara anggota yang tidak membayar iuran wajib. Dalam surat yang dikirimkan kepada negara-negara anggota dan dilihat Anadolu pada Jumat (30/1), Guterres menegaskan bahwa situasi keuangan PBB saat ini berada pada tingkat yang serius dan berbeda dari krisis sebelumnya. “Keputusan untuk tidak menghormati iuran wajib yang membiayai sebagian besar anggaran reguler yang disetujui kini telah diumumkan secara resmi,” tulis Guterres. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat dipertahankan.” Guterres mengungkapkan, PBB kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama sulit. Pertama, negara-negara anggota harus menyepakati perombakan aturan keuangan organisasi. Kedua, menerima risiko nyata terjadinya keruntuhan keuangan PBB. “Dengan kata lain, kita terjebak dalam siklus Kafkaesque; diharapkan untuk mengembalikan uang tunai yang tidak ada,” tegasnya. Ia menilai manajemen likuiditas PBB saat ini sudah tidak lagi layak. Menurutnya, berdasarkan aturan keuangan yang berlaku, semakin besar penghematan yang dilakukan, justru semakin besar pula sanksi yang diterima organisasi. “Krisis semakin memburuk, mengancam pelaksanaan program dan berisiko menyebabkan keruntuhan keuangan. Situasi ini akan semakin buruk dalam waktu dekat,” kata Guterres. Dalam surat tersebut, Guterres juga mengungkapkan bahwa PBB menutup tahun 2025 dengan tunggakan iuran mencapai 1,568 miliar dolar AS atau sekitar Rp23,6 triliun, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Tanpa peningkatan drastis dalam pengumpulan dana, ia memperingatkan PBB tidak akan mampu sepenuhnya melaksanakan anggaran program 2026 yang telah disetujui pada Desember lalu. Bahkan, berdasarkan tren historis, dana anggaran reguler berpotensi habis pada Juli 2026. Sebagai dampak lanjutan, PBB juga telah mengurangi operasi penjaga perdamaian untuk periode 2025–2026 sebesar 15 persen. Guterres pun mendesak adanya upaya bersama dari seluruh negara anggota untuk memutus “siklus setan” tersebut. Menurutnya, hanya ada dua jalan keluar, yakni seluruh negara anggota memenuhi kewajiban pembayaran iuran secara penuh dan tepat waktu, atau dilakukan perombakan mendasar terhadap aturan keuangan PBB. Sementara itu, Juru Bicara Sekjen PBB Farhan Haq membenarkan isi surat tersebut dan menegaskan bahwa PBB saat ini menghadapi krisis likuiditas yang nyata. “Poin kuncinya adalah untuk menggarisbawahi keseriusan situasi keuangan yang dihadapi Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ujar Haq dalam konferensi pers. Ia menyebut tunggakan iuran yang belum dibayarkan telah mencapai sekitar 1,56 miliar dolar AS, sehingga PBB berada dalam bahaya nyata kehabisan dana operasional. Menurut Haq, PBB kini tidak lagi memiliki cadangan kas dan likuiditas yang memadai untuk terus berfungsi seperti tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menanggapi kemungkinan perubahan aturan anggaran dengan menekankan peran negara anggota. “Negara-negara anggota dapat mengubah peraturan mereka, tetapi kami mengandalkan mereka untuk memahami beratnya situasi yang kita hadapi dan mengambil tindakan yang tepat,” katanya.

Internasional
| Sabtu, 31 Januari 2026
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5