Internasional
Serangan Sekolah di Minab Diduga Terkait Target Pangkalan IRGC
PIFA, Internasional – Serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan puluhan anak-anak diduga berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan pangkalan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di dekat lokasi tersebut. Hal itu dilaporkan oleh surat kabar The New York Times pada Kamis (5/3), berdasarkan analisis citra satelit, unggahan media sosial, serta rekaman video yang telah diverifikasi. Menurut laporan tersebut, pernyataan publik pejabat Amerika Serikat menunjukkan bahwa pesawat militer AS memang melakukan operasi di kawasan tersebut pada hari terjadinya serangan terhadap sekolah, termasuk operasi yang menargetkan fasilitas milik IRGC. The New York Times juga menyebutkan bahwa gedung sekolah tersebut sebelumnya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC. Namun, citra satelit menunjukkan bangunan itu telah dipisahkan dari kompleks militer sejak September 2016 melalui pembangunan pagar pembatas. Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Serangan terhadap Iran tersebut terjadi di tengah proses perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman di kota Jenewa. Pada hari pertama konflik, sebuah sekolah perempuan di Minab menjadi sasaran serangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan sedikitnya 171 siswi tewas dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyerukan agar ada pertanggungjawaban atas serangan mematikan yang menimpa para pelajar tersebut.
Internasional
| Jumat, 6 Maret 2026

Trending
Menteri Perminyakan Iran Buka Peluang Kerja Sama Migas dengan AS di Tengah Perundingan Nuklir
Internasional
| Jumat, 20 Februari 2026

China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran Usai Serangan AS dan Israel
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026

Kedubes Iran di Jakarta Tegaskan Komitmen Jaga Hubungan Persahabatan dengan Negara Timur Tengah
Internasional
| Minggu, 8 Maret 2026

Ketua Parlemen Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Isu Hoaks Manipulasi Pasar
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Trump Sumbang 10 Miliar Dolar AS untuk Rekonstruksi Gaza, Prabowo Hadiri Pertemuan di Washington
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Iran Tegaskan Akan Ambil Semua Langkah untuk Lindungi Kedaulatan Negara
Internasional
| Rabu, 11 Maret 2026

Menlu Sugiono Tegaskan Komitmen Indonesia pada Pelucutan Senjata di Sidang Dewan HAM PBB
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026

Prabowo Dukung Penuh Rencana Perdamaian Trump dalam KTT Dewan Perdamaian di Washington
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026

Trump: AS Akan Ambil Uranium Iran Jika Tercapai Kesepakatan
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

Berita Terbaru
Internasional

Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara untuk Buka Jalan Negosiasi Timur Tengah
Pemerintah Turki mengusulkan gencatan senjata sementara guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka peluang dimulainya perundingan damai. Menurut laporan Middle East Eye, Senin (23/3), Ankara tengah aktif melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan. Sumber diplomatik Turki menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri Turki saat ini juga tengah membentuk kelompok perundingan bersama mitra dari Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Upaya ini bertujuan untuk meredam konflik serta menyeimbangkan pengaruh Israel di kawasan. Namun demikian, Ankara disebut masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata jangka panjang, termasuk komitmen Israel untuk tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium dinilai menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, keduanya juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026
Internasional

Ketua Parlemen Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Isu Hoaks Manipulasi Pasar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya perundingan antara negaranya dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai “berita palsu”. “Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel,” ujar Ghalibaf melalui akun media sosial X, Senin. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang tegas bagi pihak yang dianggap sebagai agresor. Menurutnya, seluruh pejabat Iran tetap solid mendukung kepemimpinan negara hingga tujuan perang tercapai. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut dialog dengan Teheran dalam dua hari terakhir berlangsung “sangat baik dan produktif”. Trump juga menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi Iran selama lima hari sebagai bagian dari upaya membuka ruang diplomasi. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026
Internasional

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Senin, 23 Maret 2026
Berita Populer
Internasional

Serangan Sekolah di Minab Diduga Terkait Target Pangkalan IRGC
PIFA, Internasional – Serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan puluhan anak-anak diduga berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan pangkalan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di dekat lokasi tersebut. Hal itu dilaporkan oleh surat kabar The New York Times pada Kamis (5/3), berdasarkan analisis citra satelit, unggahan media sosial, serta rekaman video yang telah diverifikasi. Menurut laporan tersebut, pernyataan publik pejabat Amerika Serikat menunjukkan bahwa pesawat militer AS memang melakukan operasi di kawasan tersebut pada hari terjadinya serangan terhadap sekolah, termasuk operasi yang menargetkan fasilitas milik IRGC. The New York Times juga menyebutkan bahwa gedung sekolah tersebut sebelumnya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC. Namun, citra satelit menunjukkan bangunan itu telah dipisahkan dari kompleks militer sejak September 2016 melalui pembangunan pagar pembatas. Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Serangan terhadap Iran tersebut terjadi di tengah proses perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman di kota Jenewa. Pada hari pertama konflik, sebuah sekolah perempuan di Minab menjadi sasaran serangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan sedikitnya 171 siswi tewas dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyerukan agar ada pertanggungjawaban atas serangan mematikan yang menimpa para pelajar tersebut.
Internasional
| Jumat, 6 Maret 2026
Internasional

Menteri Perminyakan Iran Buka Peluang Kerja Sama Migas dengan AS di Tengah Perundingan Nuklir
PIFA, Internasional - Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, membuka peluang kerja sama sektor minyak dan gas dengan Amerika Serikat, sebuah pernyataan langka di tengah ketegangan panjang antara kedua negara. “Segala sesuatu mungkin terjadi,” kata Paknejad, seperti dikutip media lokal pada Jumat, saat ditanya mengenai prospek kerja sama energi antara Teheran dan Washington. Meski demikian, ia menegaskan belum ada kepastian apakah kerja sama bilateral di bidang energi tersebut dapat segera terealisasi. Pernyataan itu muncul di tengah perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran antara Teheran dan Washington yang dimediasi oleh Oman. Putaran terbaru digelar di Jenewa pada Selasa, beberapa pekan setelah pertemuan awal di Muscat. Kedua pihak mengakui adanya kemajuan dalam pembahasan prinsip-prinsip dasar dan menyebut dialog tersebut sebagai langkah maju untuk memecahkan kebuntuan panjang terkait program nuklir Iran. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Diplomasi Ekonomi, Hamid Ghanbari, mengatakan dalam pertemuan di Kamar Dagang Iran bahwa kepentingan bersama di sektor minyak dan gas, ladang energi bersama, investasi pertambangan, hingga pembelian pesawat menjadi bagian dari kerangka pembahasan dengan AS. Industri minyak Iran selama bertahun-tahun dikenai sanksi berat oleh AS dan negara-negara Eropa, sehingga sebagian besar ekspornya dialihkan ke mitra regional, terutama China dan Rusia. Iran sendiri memiliki salah satu cadangan minyak dan gas alam terbesar di dunia. Sejumlah survei menempatkan negara tersebut di peringkat kedua untuk cadangan gas dan ketiga untuk cadangan minyak secara global. Iran dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik maupun dagang resmi sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan pemerintahan Pahlavi yang didukung AS, disusul penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran. Sejumlah analis memperingatkan peluang terwujudnya kerja sama energi untuk pertama kalinya sejak 1979 masih rendah, mengingat perundingan yang dimediasi Oman belum sepenuhnya menyelesaikan sengketa nuklir. Ketegangan kawasan yang meningkat, termasuk pengerahan militer besar-besaran AS dan latihan militer Iran, juga terus membayangi proses negosiasi tersebut.
Internasional
| Jumat, 20 Februari 2026
Internasional

China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran Usai Serangan AS dan Israel
PIFA, Internasional - Pemerintah China menegaskan dukungan politiknya kepada Iran setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Namun Beijing enggan menjelaskan lebih jauh mengenai bentuk dukungan lain yang mungkin diberikan kepada Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan negaranya menentang serangan militer terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional. "China menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional. Kami mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, integritas teritorial, dan martabat nasionalnya serta dalam menegakkan hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum," kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (6/3). Pernyataan tersebut disampaikan Mao Ning saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang sebelumnya menyebut Rusia dan China terus memberikan dukungan politik kepada Iran di tengah operasi militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, Mao Ning tidak menjelaskan lebih rinci apakah ada dukungan lain selain dukungan politik yang diberikan Beijing kepada Teheran. Ia menegaskan bahwa China selalu mendorong penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomatik. "China selalu menganjurkan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik. Kami menyerukan penghentian segera tindakan militer untuk mencegah konflik menyebar dan meluas serta menghindari eskalasi situasi lebih lanjut," ujarnya. Mao Ning juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas kawasan, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan global. "Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi. China mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah gejolak regional yang dapat menyebabkan kerusakan lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global," tambahnya. Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah China juga melakukan evaluasi terhadap warga negaranya yang berada di kawasan konflik. Mao Ning menyebut hampir 300 warga China telah berhasil dipulangkan. Menurutnya, pada 4 Maret malam, ratusan warga China tiba dengan selamat di Guangzhou dari Dubai melalui penerbangan internasional. Sejumlah maskapai seperti Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Hainan Airlines juga mulai kembali mengoperasikan penerbangan menuju negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi sejak 5 Maret. Mao Ning juga mengingatkan warga China untuk menghindari perjalanan ke wilayah yang terdampak konflik karena situasi di Timur Tengah masih kompleks dan penuh ketidakpastian. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak memiliki batas waktu mengenai berapa lama perang dengan Iran akan berlangsung. Sebelumnya, Trump memperkirakan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Operasi militer tersebut dilaporkan telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 926 warga sipil. Trump menyebut tujuan operasi tersebut antara lain untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik, serta memastikan kepemimpinan baru di Iran yang dinilai lebih rasional. Sebagai respons, Iran disebut telah meluncurkan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026
Feeds
Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara untuk Buka Jalan Negosiasi Timur Tengah
Pemerintah Turki mengusulkan gencatan senjata sementara guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka peluang dimulainya perundingan damai. Menurut laporan Middle East Eye, Senin (23/3), Ankara tengah aktif melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan. Sumber diplomatik Turki menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri Turki saat ini juga tengah membentuk kelompok perundingan bersama mitra dari Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Upaya ini bertujuan untuk meredam konflik serta menyeimbangkan pengaruh Israel di kawasan. Namun demikian, Ankara disebut masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata jangka panjang, termasuk komitmen Israel untuk tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium dinilai menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, keduanya juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Ketua Parlemen Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Isu Hoaks Manipulasi Pasar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya perundingan antara negaranya dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai “berita palsu”. “Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel,” ujar Ghalibaf melalui akun media sosial X, Senin. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang tegas bagi pihak yang dianggap sebagai agresor. Menurutnya, seluruh pejabat Iran tetap solid mendukung kepemimpinan negara hingga tujuan perang tercapai. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut dialog dengan Teheran dalam dua hari terakhir berlangsung “sangat baik dan produktif”. Trump juga menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi Iran selama lima hari sebagai bagian dari upaya membuka ruang diplomasi. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Senin, 23 Maret 2026

Trump: AS Akan Ambil Uranium Iran Jika Tercapai Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan mengambil uranium yang telah diperkaya milik Iran jika kedua pihak mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Senin, saat ditanya mengenai bagaimana AS akan memperoleh uranium Iran yang selama ini menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. “Sangat mudah. Jika kita memiliki kesepakatan dengan mereka, kita akan mengambilnya sendiri,” ujar Trump. Trump juga mengklaim bahwa putaran pembicaraan terbaru antara Washington dan Teheran terjadi pada Minggu malam, meskipun hal itu dibantah oleh pihak Iran. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Kami juga ingin membuat kesepakatan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan kemungkinan akan dilakukan melalui sambungan telepon, dengan peluang pertemuan langsung antara pejabat kedua negara dalam waktu dekat. Menurut Trump, kondisi saat ini membuat pejabat Iran sulit untuk bepergian ke luar negeri, namun ia tetap optimistis bahwa pertemuan tatap muka akan segera terjadi. Sebelumnya, Trump juga mengumumkan jeda selama lima hari dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi. “Kita akan lihat bagaimana hasilnya, dan jika berjalan dengan baik, kita akan menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, kita akan terus membombardir sesuka hari kita,” tegasnya.
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

Iran Ancam Balasan Jika Fasilitas Energi Diserang, AS Ultimatum Soal Selat Hormuz
Iran menegaskan akan mengambil langkah balasan jika fasilitas energi negaranya menjadi target serangan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan menargetkan fasilitas strategis milik AS dan sekutunya di kawasan. “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” ujar Zolfaghari, seperti dikutip kantor berita Fars. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya, dimulai dari yang terbesar. Ketegangan ini merupakan lanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta berbagai target militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara itu juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Israel Perintahkan Penghancuran Jembatan di Lebanon, Targetkan Jalur Hizbullah
Militer Israel diperintahkan untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa perbatasan Lebanon guna menetralkan ancaman terhadap komunitas Israel di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa langkah tersebut mengacu pada preseden operasi militer sebelumnya di Beit Hanoun dan Rafah di Jalur Gaza. Selain itu, Katz juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk segera menghancurkan seluruh jembatan yang melintasi Sungai Litani. “Kami telah menginstruksikan IDF untuk segera menghancurkan semua jembatan di atas Sungai Litani guna mencegah pergerakan pejuang dan senjata Hizbullah ke arah selatan,” ujar Katz, Minggu. Langkah ini diambil karena jembatan-jembatan tersebut disebut dimanfaatkan oleh kelompok Hizbullah untuk memindahkan senjata. Sebelumnya pada pekan ini, militer Israel telah melancarkan serangan terhadap dua penyeberangan di Sungai Litani yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah lain di negara tersebut. Menurut pihak militer, fasilitas tersebut digunakan sebagai jalur distribusi senjata. Ketegangan meningkat sejak awal Maret ketika Hizbullah kembali mengaktifkan operasi militernya terhadap Israel, menyusul terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan intensif ke pinggiran selatan ibu kota Beirut serta puluhan kota dan desa di Lebanon bagian selatan dan timur. Berdasarkan data resmi, sedikitnya 826 orang tewas, lebih dari 2.000 lainnya terluka, dan lebih dari 800.000 warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa hingga kini sudah ada 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut. “Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian isi pernyataan bersama itu. Keenam negara tersebut menegaskan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional serta rantai pasok energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan penerapan moratorium yang komprehensif dan segera untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas. Pada pembaruan pernyataan Sabtu ini, sebanyak 14 negara tambahan menyatakan kesiapan bergabung. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Rumania. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global—dilaporkan sempat terhenti total. Dampaknya, sejumlah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi dunia.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Iran Dikabarkan Serang Pangkalan Diego Garcia, Tunjukkan Jangkauan Rudal Jarak Jauh
Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer Inggris yang digunakan oleh Amerika Serikat di Pulau Diego Garcia, menurut laporan media pada Sabtu. Laporan tersebut disampaikan oleh Al Jazeera yang mengutip kantor berita Iran, Mehr. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut terkait dampak atau hasil serangan tersebut. Pulau Diego Garcia yang berada di gugus Kepulauan Chagos dikenal sebagai lokasi strategis militer Barat di tengah Samudra Hindia. Jarak dari ibu kota Iran, Teheran, ke wilayah tersebut diperkirakan melebihi 5.000 kilometer. Serangan ini dinilai menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan rudal jarak jauh yang lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan oleh pihak lawan. Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Dalam serangan awal tersebut, dilaporkan sekitar 1.300 orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran terus melancarkan serangan ke wilayah Israel serta berbagai target militer AS di Timur Tengah. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menilai keputusan pemerintah Inggris yang mengizinkan penggunaan pangkalan militernya oleh AS justru membahayakan warga negaranya sendiri. “Sebagian besar rakyat Inggris tidak ingin terlibat dalam perang pilihan Israel-AS terhadap Iran. Dengan mengabaikan rakyatnya sendiri, Starmer membahayakan nyawa warga Inggris dengan mengizinkan pangkalan-pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran. Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri,” tulis Araghchi di media sosial X. Keputusan Inggris tersebut muncul setelah pemerintahnya menyetujui penggunaan pangkalan militer oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap situs-situs rudal Iran.
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Iran Tegaskan Tak Berunding dengan AS, Peringatkan Negara Pendukung Musuh
Pejabat senior parlemen Iran menegaskan bahwa negaranya saat ini tidak sedang melakukan perundingan dengan Amerika Serikat, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyampaikan pernyataan tersebut usai pertemuan dengan pejabat militer dan pertahanan untuk membahas operasi di medan perang melawan AS dan Israel. Menurut Rezaei, Iran juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang mengizinkan wilayah atau pangkalannya digunakan untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai musuh. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut para pejabat Iran ingin bernegosiasi, namun belum siap untuk melakukannya. Di sisi lain, Rezaei memastikan bahwa kondisi keamanan di Pulau Kharg telah pulih dan aktivitas ekspor minyak tetap berjalan normal. Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa serangan Amerika telah menghancurkan sebagian besar fasilitas militer di pulau tersebut, namun tidak merusak pusat-pusat produksi minyak. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Iran Ancam Balasan Tanpa Batas Jika Infrastruktur Diserang Israel
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menahan diri jika infrastrukturnya menjadi target serangan di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi informasi intelijen terkait rencana Israel untuk menyerang fasilitas vital Iran. “Kami memiliki informasi intelijen tentang rencana Israel untuk menyerang infrastruktur. Sekali lagi: Tidak akan ada pengekangan sama sekali jika infrastruktur kami diserang,” tulis Araghchi melalui akun media sosial X. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran bukan pihak yang memulai serangan, namun akan memberikan respons keras jika diserang. “Rakyat Iran adalah pria dan wanita yang berprinsip. Kami tidak melakukan serangan mendadak saat sedang berdialog. Hanya ketika diserang barulah kami merespons dengan kuat,” ujarnya. Dalam unggahan tersebut, Araghchi juga menyertakan video pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran berpotensi menyerang Amerika Serikat
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Serangan Sekolah di Minab Diduga Terkait Target Pangkalan IRGC
PIFA, Internasional – Serangan terhadap sebuah sekolah di kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan puluhan anak-anak diduga berkaitan dengan operasi militer Amerika Serikat yang menargetkan pangkalan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) di dekat lokasi tersebut. Hal itu dilaporkan oleh surat kabar The New York Times pada Kamis (5/3), berdasarkan analisis citra satelit, unggahan media sosial, serta rekaman video yang telah diverifikasi. Menurut laporan tersebut, pernyataan publik pejabat Amerika Serikat menunjukkan bahwa pesawat militer AS memang melakukan operasi di kawasan tersebut pada hari terjadinya serangan terhadap sekolah, termasuk operasi yang menargetkan fasilitas milik IRGC. The New York Times juga menyebutkan bahwa gedung sekolah tersebut sebelumnya merupakan bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC. Namun, citra satelit menunjukkan bangunan itu telah dipisahkan dari kompleks militer sejak September 2016 melalui pembangunan pagar pembatas. Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di kalangan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Serangan terhadap Iran tersebut terjadi di tengah proses perundingan nuklir antara Washington dan Teheran yang dimediasi Oman di kota Jenewa. Pada hari pertama konflik, sebuah sekolah perempuan di Minab menjadi sasaran serangan. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan sedikitnya 171 siswi tewas dalam peristiwa tersebut. Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyerukan agar ada pertanggungjawaban atas serangan mematikan yang menimpa para pelajar tersebut.
Internasional
| Jumat, 6 Maret 2026
Internasional

Menteri Perminyakan Iran Buka Peluang Kerja Sama Migas dengan AS di Tengah Perundingan Nuklir
PIFA, Internasional - Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, membuka peluang kerja sama sektor minyak dan gas dengan Amerika Serikat, sebuah pernyataan langka di tengah ketegangan panjang antara kedua negara. “Segala sesuatu mungkin terjadi,” kata Paknejad, seperti dikutip media lokal pada Jumat, saat ditanya mengenai prospek kerja sama energi antara Teheran dan Washington. Meski demikian, ia menegaskan belum ada kepastian apakah kerja sama bilateral di bidang energi tersebut dapat segera terealisasi. Pernyataan itu muncul di tengah perundingan tidak langsung terkait program nuklir Iran antara Teheran dan Washington yang dimediasi oleh Oman. Putaran terbaru digelar di Jenewa pada Selasa, beberapa pekan setelah pertemuan awal di Muscat. Kedua pihak mengakui adanya kemajuan dalam pembahasan prinsip-prinsip dasar dan menyebut dialog tersebut sebagai langkah maju untuk memecahkan kebuntuan panjang terkait program nuklir Iran. Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Diplomasi Ekonomi, Hamid Ghanbari, mengatakan dalam pertemuan di Kamar Dagang Iran bahwa kepentingan bersama di sektor minyak dan gas, ladang energi bersama, investasi pertambangan, hingga pembelian pesawat menjadi bagian dari kerangka pembahasan dengan AS. Industri minyak Iran selama bertahun-tahun dikenai sanksi berat oleh AS dan negara-negara Eropa, sehingga sebagian besar ekspornya dialihkan ke mitra regional, terutama China dan Rusia. Iran sendiri memiliki salah satu cadangan minyak dan gas alam terbesar di dunia. Sejumlah survei menempatkan negara tersebut di peringkat kedua untuk cadangan gas dan ketiga untuk cadangan minyak secara global. Iran dan AS tidak memiliki hubungan diplomatik maupun dagang resmi sejak Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan pemerintahan Pahlavi yang didukung AS, disusul penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran. Sejumlah analis memperingatkan peluang terwujudnya kerja sama energi untuk pertama kalinya sejak 1979 masih rendah, mengingat perundingan yang dimediasi Oman belum sepenuhnya menyelesaikan sengketa nuklir. Ketegangan kawasan yang meningkat, termasuk pengerahan militer besar-besaran AS dan latihan militer Iran, juga terus membayangi proses negosiasi tersebut.
Internasional
| Jumat, 20 Februari 2026
Internasional

China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran Usai Serangan AS dan Israel
PIFA, Internasional - Pemerintah China menegaskan dukungan politiknya kepada Iran setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Namun Beijing enggan menjelaskan lebih jauh mengenai bentuk dukungan lain yang mungkin diberikan kepada Teheran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan negaranya menentang serangan militer terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional. "China menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional. Kami mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, integritas teritorial, dan martabat nasionalnya serta dalam menegakkan hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum," kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (6/3). Pernyataan tersebut disampaikan Mao Ning saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang sebelumnya menyebut Rusia dan China terus memberikan dukungan politik kepada Iran di tengah operasi militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Meski demikian, Mao Ning tidak menjelaskan lebih rinci apakah ada dukungan lain selain dukungan politik yang diberikan Beijing kepada Teheran. Ia menegaskan bahwa China selalu mendorong penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomatik. "China selalu menganjurkan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik. Kami menyerukan penghentian segera tindakan militer untuk mencegah konflik menyebar dan meluas serta menghindari eskalasi situasi lebih lanjut," ujarnya. Mao Ning juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas kawasan, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan global. "Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi. China mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah gejolak regional yang dapat menyebabkan kerusakan lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global," tambahnya. Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah China juga melakukan evaluasi terhadap warga negaranya yang berada di kawasan konflik. Mao Ning menyebut hampir 300 warga China telah berhasil dipulangkan. Menurutnya, pada 4 Maret malam, ratusan warga China tiba dengan selamat di Guangzhou dari Dubai melalui penerbangan internasional. Sejumlah maskapai seperti Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Hainan Airlines juga mulai kembali mengoperasikan penerbangan menuju negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi sejak 5 Maret. Mao Ning juga mengingatkan warga China untuk menghindari perjalanan ke wilayah yang terdampak konflik karena situasi di Timur Tengah masih kompleks dan penuh ketidakpastian. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak memiliki batas waktu mengenai berapa lama perang dengan Iran akan berlangsung. Sebelumnya, Trump memperkirakan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Operasi militer tersebut dilaporkan telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 926 warga sipil. Trump menyebut tujuan operasi tersebut antara lain untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik, serta memastikan kepemimpinan baru di Iran yang dinilai lebih rasional. Sebagai respons, Iran disebut telah meluncurkan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.





