Internasional
Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko
PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.
Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026

Trending
Trump Harap Dewan Perdamaian Dapat Awasi PBB di Masa Depan, Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Komite PBB Desak Israel Cabut UU Hukuman Mati bagi Warga Palestina, Dinilai Diskriminasi Rasial
Internasional
| Jumat, 1 Mei 2026

Singapura Siapkan Hukuman Cambuk bagi Siswa Pelaku Perundungan di Sekolah
Internasional
| Selasa, 5 Mei 2026

Palestina Kecam Israel Culik Relawan Flotilla Termasuk WNI
Internasional
| Selasa, 19 Mei 2026

Kemlu RI Dorong Penyelidikan Ledakan Tugboat Musaffah 2 di Selat Hormuz, Libatkan WNI
Internasional
| Minggu, 8 Maret 2026

Trump Klaim Xi Jinping Siap Bantu Buka Selat Hormuz
Internasional
| Kamis, 14 Mei 2026

PBB: Saat Ini Risiko Penggunaan Senjata Nuklir Berada di Level Tertinggi dalam Beberapa Dekade Terakhir
Internasional
| Kamis, 5 Februari 2026

AS Disebut Diam-diam Kumpulkan Data Militer Greenland
Internasional
| Senin, 19 Januari 2026

Trump: AS Akan Ambil Uranium Iran Jika Tercapai Kesepakatan
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim
Internasional
| Senin, 23 Maret 2026

Berita Terbaru
Internasional

Korban Tewas Ledakan Tambang Batu Bara di China Bertambah Jadi 90 Orang
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi 90 orang pada Sabtu (23/5/2026). Insiden tersebut kini menjadi bencana tambang batu bara paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade. Ledakan terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) saat ratusan pekerja berada di bawah tanah. Berdasarkan laporan media setempat, sebanyak 247 orang sedang bekerja ketika ledakan terjadi. Sebagian besar pekerja berhasil dievakuasi pada Sabtu pagi. Namun hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang karena diduga terjebak di dalam tambang. Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban dan menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab ledakan. “Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini. Tetap waspada terhadap keselamatan kerja,” ujar Xi. Laporan kantor berita Xinhua menyebut sejumlah eksekutif perusahaan tambang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut telah ditahan aparat berwenang. Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Namun laporan awal menyebut kadar karbon monoksida di tambang diduga telah melampaui batas aman. Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan pertambangan di negara itu disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat lemahnya penerapan protokol keselamatan kerja. Data Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di negara tersebut sepanjang 2010 hingga 2025.
Internasional
| Sabtu, 23 Mei 2026
Internasional

Wali Kota London Sadiq Khan Soroti Demo Besar: Lawan Islamofobia
Wali Kota London Sadiq Khan buka suara terkait demonstrasi besar bertajuk “Unite the Kingdom” yang berlangsung di ibu kota Inggris pada pekan lalu. Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (18/5/2026), Khan menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Metropolitan London yang telah menjaga keamanan selama aksi berlangsung. “London akan selalu berdiri melawan rasisme, islamofobia, antisemit, dan kebencian dalam bentuk apa pun,” tulis Khan. Ia juga berterima kasih kepada petugas kepolisian yang dinilai berhasil menjaga situasi kota tetap aman selama demonstrasi berlangsung. Khan turut membagikan ulang unggahan akun resmi Metropolitan Police yang menyoroti video viral mengenai petugas polisi Muslim yang mengalami pelecehan saat bertugas mengamankan demo. Polisi menyebut insiden serupa kembali terjadi dalam aksi terbaru tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada petugas yang seharusnya mengalami pelecehan di tempat kerja. “Tidak seorang pun seharusnya harus menoleransi pelecehan di tempat kerja, dan itu termasuk petugas polisi,” demikian pernyataan kepolisian. Pihak kepolisian juga mengonfirmasi telah melakukan sejumlah penangkapan dan akan mendorong proses penuntutan terhadap pelaku. Demonstrasi “Unite the Kingdom” digelar pada Sabtu (16/5/2026) dan diikuti kelompok serta tokoh sayap kanan Inggris, termasuk Tommy Robinson. Dalam aksi itu, sejumlah peserta menyuarakan penolakan terhadap imigran di Inggris dan menyerukan kebijakan yang lebih ketat terkait tunjangan sosial. Kepolisian Metropolitan London mengerahkan pengamanan besar-besaran untuk mengantisipasi potensi bentrokan dengan aksi pro-Palestina yang berlangsung di lokasi lain di kota tersebut.
Internasional
| Jumat, 22 Mei 2026
Internasional

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026
Berita Populer
Internasional

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko
PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.
Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026
Internasional

Trump Harap Dewan Perdamaian Dapat Awasi PBB di Masa Depan, Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dapat berperan mengawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di masa mendatang. Hal itu disampaikan Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace yang digelar di United States Institute of Peace, Washington, Kamis. "Suatu hari nanti, saya tidak akan berada di sini. Perserikatan Bangsa-Bangsa akan tetap ada dan saya pikir akan menjadi jauh lebih kuat,” kata Trump. Ia menambahkan, Dewan Perdamaian nantinya hampir akan mengawasi PBB untuk memastikan organisasi tersebut berjalan sebagaimana mestinya. “Dan Dewan Perdamaian hampir akan mengawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memastikan organisasi itu berjalan dengan semestinya. Namun kami akan memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tuturnya. Trump menilai PBB membutuhkan dukungan, baik dalam operasional fasilitas maupun dari sisi pendanaan. "Kami akan memastikan Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap berjalan... Saya sudah mengatakannya selama bertahun-tahun, Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki potensi yang luar biasa,” ujarnya. Presiden AS itu juga meyakini organisasi tersebut pada akhirnya akan “memenuhi potensinya.” Pada Januari lalu, Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian dan mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington DC tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto hadir memenuhi undangan Trump selaku tuan rumah dan inisiator BoP. Sejumlah pemimpin negara anggota lainnya turut hadir, antara lain dari Albania, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Kazakhstan, Hungaria, Pakistan, Paraguay, Uzbekistan, Vietnam, dan Mesir.
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026
Internasional

Komite PBB Desak Israel Cabut UU Hukuman Mati bagi Warga Palestina, Dinilai Diskriminasi Rasial
JENEWA – Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial melontarkan kecaman keras terhadap undang-undang baru Israel yang mengizinkan eksekusi hukuman mati bagi warga Palestina. Komite tersebut mendesak agar aturan tersebut segera dicabut karena dinilai sebagai bentuk pengikisan hak asasi manusia (HAM) yang sangat serius.Dalam keterangannya, Komite PBB menyebut langkah ini telah merusak kebijakan penangguhan eksekusi yang selama ini dipegang oleh Israel."Undang-undang baru ini merupakan pukulan berat bagi hak asasi manusia, membatalkan moratorium de facto Israel yang telah lama berlaku terhadap eksekusi sejak tahun 1962 dan memperluas penggunaan hukuman mati," demikian pernyataan komite tersebut seperti dikutip dari AFP, Jumat (1/5).Berdasarkan undang-undang yang disahkan parlemen Israel pada Maret lalu, warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat yang dihukum oleh pengadilan militer karena serangan yang diklasifikasikan sebagai "terorisme" akan menghadapi hukuman mati sebagai standar hukuman.Aturan tersebut dinilai diskriminatif karena secara de facto hanya menyasar warga Palestina dan menetapkan batas waktu eksekusi yang sangat singkat, yakni 90 hari setelah putusan akhir dikeluarkan.Terkait hal itu, Komite PBB menegaskan bahwa Israel berkewajiban menjamin hak-hak seluruh warga Palestina yang ditahan. Komite mendesak agar mereka, "Dijamin hak-hak mereka untuk mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum, keamanan pribadi, perlindungan terhadap kekerasan atau cedera fisik, dan akses terhadap keadilan."Selain menuntut pencabutan UU tersebut, komite yang beranggotakan 18 pakar independen ini menyerukan agar Israel mengakhiri segala bentuk kebijakan segregasi dan diskriminasi rasial terhadap warga Palestina.Dunia internasional juga diminta bersikap tegas dengan "memastikan bahwa sumber daya mereka tidak digunakan untuk menegakkan atau mendukung kebijakan dan praktik diskriminatif terhadap warga Palestina yang tinggal di Wilayah Palestina yang Diduduki."Sebagai informasi, Israel telah meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial sejak tahun 1979. Sepanjang sejarahnya, Israel tercatat sangat jarang menerapkan hukuman mati. Tercatat hanya dua kali eksekusi dilakukan: pertama pada tahun 1948 terhadap seorang kapten militer atas tuduhan pengkhianatan, dan kedua pada tahun 1962 terhadap penjahat perang Nazi, Adolf Eichmann.Langkah pengesahan UU hukuman mati ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat tajam di Tepi Barat sejak konflik Gaza pecah pada 7 Oktober 2023 lalu. Kecaman terhadap undang-undang ini sebelumnya juga telah disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk Indonesia, negara-negara Arab, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Internasional
| Jumat, 1 Mei 2026
Feeds
Korban Tewas Ledakan Tambang Batu Bara di China Bertambah Jadi 90 Orang
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi 90 orang pada Sabtu (23/5/2026). Insiden tersebut kini menjadi bencana tambang batu bara paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade. Ledakan terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) saat ratusan pekerja berada di bawah tanah. Berdasarkan laporan media setempat, sebanyak 247 orang sedang bekerja ketika ledakan terjadi. Sebagian besar pekerja berhasil dievakuasi pada Sabtu pagi. Namun hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang karena diduga terjebak di dalam tambang. Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban dan menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab ledakan. “Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini. Tetap waspada terhadap keselamatan kerja,” ujar Xi. Laporan kantor berita Xinhua menyebut sejumlah eksekutif perusahaan tambang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut telah ditahan aparat berwenang. Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Namun laporan awal menyebut kadar karbon monoksida di tambang diduga telah melampaui batas aman. Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan pertambangan di negara itu disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat lemahnya penerapan protokol keselamatan kerja. Data Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di negara tersebut sepanjang 2010 hingga 2025.
Internasional
| Sabtu, 23 Mei 2026

Wali Kota London Sadiq Khan Soroti Demo Besar: Lawan Islamofobia
Wali Kota London Sadiq Khan buka suara terkait demonstrasi besar bertajuk “Unite the Kingdom” yang berlangsung di ibu kota Inggris pada pekan lalu. Melalui unggahan di media sosial X pada Senin (18/5/2026), Khan menyampaikan apresiasi kepada Kepolisian Metropolitan London yang telah menjaga keamanan selama aksi berlangsung. “London akan selalu berdiri melawan rasisme, islamofobia, antisemit, dan kebencian dalam bentuk apa pun,” tulis Khan. Ia juga berterima kasih kepada petugas kepolisian yang dinilai berhasil menjaga situasi kota tetap aman selama demonstrasi berlangsung. Khan turut membagikan ulang unggahan akun resmi Metropolitan Police yang menyoroti video viral mengenai petugas polisi Muslim yang mengalami pelecehan saat bertugas mengamankan demo. Polisi menyebut insiden serupa kembali terjadi dalam aksi terbaru tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada petugas yang seharusnya mengalami pelecehan di tempat kerja. “Tidak seorang pun seharusnya harus menoleransi pelecehan di tempat kerja, dan itu termasuk petugas polisi,” demikian pernyataan kepolisian. Pihak kepolisian juga mengonfirmasi telah melakukan sejumlah penangkapan dan akan mendorong proses penuntutan terhadap pelaku. Demonstrasi “Unite the Kingdom” digelar pada Sabtu (16/5/2026) dan diikuti kelompok serta tokoh sayap kanan Inggris, termasuk Tommy Robinson. Dalam aksi itu, sejumlah peserta menyuarakan penolakan terhadap imigran di Inggris dan menyerukan kebijakan yang lebih ketat terkait tunjangan sosial. Kepolisian Metropolitan London mengerahkan pengamanan besar-besaran untuk mengantisipasi potensi bentrokan dengan aksi pro-Palestina yang berlangsung di lokasi lain di kota tersebut.
Internasional
| Jumat, 22 Mei 2026

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026

Kemlu RI: 9 WNI yang Ditangkap Israel Kini Berada di Pelabuhan Ashdod
Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap pasukan Israel kini berada di Pelabuhan Ashdod, Israel selatan. Sembilan WNI tersebut merupakan bagian dari Global Peace Convoy Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla menuju Jalur Gaza untuk menembus blokade Israel dan menyalurkan bantuan kemanusiaan. “Kalau info dari sekretariat GPCI, semua relawan dibawa ke pelabuhan Ashdod termasuk 9 WNI,” kata juru bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, Rabu (20/5/2026). Sebelumnya, otoritas Israel menyebut sekitar 430 relawan dari armada tersebut sedang dibawa menuju Israel setelah dicegat di perairan internasional. “Ke-430 aktivis telah dipindahkan ke kapal-kapal Israel dan sedang menuju Israel, di mana mereka dapat bertemu dengan perwakilan konsuler mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel. Kelompok hak asasi manusia Adalah mengecam tindakan tersebut dan menyebut para relawan sipil telah “diculik secara paksa” dari perairan internasional lalu dibawa ke wilayah Israel. Menurut Adalah, tindakan itu merupakan bagian dari kebijakan hukuman kolektif terhadap warga Palestina di Gaza. Sementara itu, video yang beredar di media sosial memperlihatkan tentara Israel menjambak dan mendorong salah satu relawan saat Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir mengunjungi pelabuhan Ashdod. Dalam rekaman tersebut, sejumlah relawan tampak dalam kondisi tangan terikat di belakang tubuh dan dipaksa berlutut. Beberapa lainnya terlihat diseret oleh aparat Israel. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengecam armada flotilla tersebut dan menyebutnya sebagai upaya untuk mematahkan blokade Israel terhadap Hamas di Gaza.
Internasional
| Rabu, 20 Mei 2026

Palestina Kecam Israel Culik Relawan Flotilla Termasuk WNI
Kedutaan Besar Palestina di Indonesia mengecam tindakan Israel yang mencegat hingga menangkap relawan kemanusiaan, aktivis, dan jurnalis yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla. Dalam pernyataan resminya pada Selasa (19/5/2026), Kedubes Palestina menyebut tindakan Israel sebagai aksi kriminal terhadap para pembela hak asasi manusia dan hukum internasional. “Kedutaan Besar Negara Palestina untuk Republik Indonesia mengecam keras tindakan kriminal Israel yang dilakukan oleh tentara pendudukan terhadap para peserta Armada Keteguhan Global,” demikian pernyataan Kedubes Palestina. Kedubes Palestina juga menyatakan solidaritas kepada seluruh peserta armada, khususnya relawan asal Indonesia, serta berharap mereka dapat kembali ke tanah air dengan selamat. Selain itu, Kedubes Palestina menegaskan tidak terkejut dengan tindakan militer Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang disebut terus melakukan kekerasan terhadap warga Palestina. Mereka mengecam pembunuhan warga sipil, penghancuran rumah, perampasan tanah, hingga pembakaran dan penjarahan harta benda warga Palestina. “Kejahatan yang dilakukan tentara Israel maupun pemukim ilegal tidak akan pernah menggoyahkan ketabahan rakyat Palestina,” lanjut pernyataan tersebut. Kedubes Palestina juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, pemerintah Indonesia, dan seluruh rakyat Indonesia atas dukungan historis terhadap perjuangan Palestina. Sebelumnya, pasukan Israel mencegat armada kapal GSF di perairan internasional pada Senin pagi dan menahan ratusan relawan, termasuk lima warga negara Indonesia (WNI). Lima WNI tersebut yakni jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, jurnalis Tempo TV Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis iNews Rahendro Herubowo, serta aktivis Rumah Zakat Andi Angga Prasadewa. Mereka mengikuti pelayaran bersama Global Peace Convoy Indonesia yang tergabung dalam inisiatif GSF untuk menerobos blokade Israel ke Gaza. GSF menyebut beberapa kapal dicegat di wilayah barat Siprus dan mendesak pemerintah dunia segera bertindak menghentikan tindakan ilegal Israel yang dianggap mempertahankan blokade terhadap Gaza.
Internasional
| Selasa, 19 Mei 2026

Kemlu Siapkan Rencana Pemulangan WNI yang Ditangkap Israel
Kementerian Luar Negeri RI menyiapkan langkah kontingensi untuk memulangkan warga negara Indonesia (WNI) yang ditangkap Israel dalam pelayaran bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza. Juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, mengatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan berbagai pihak guna memperoleh informasi terbaru terkait kondisi para WNI yang ditahan. “Sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” ujar Yvonne, Senin (18/5/2026). Ia menegaskan perlindungan WNI menjadi prioritas utama pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang cepat. Pemerintah Indonesia juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan serta menjamin penyaluran bantuan kemanusiaan ke rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional. Kemlu RI menyatakan Direktorat Perlindungan WNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk menyiapkan langkah antisipatif demi memastikan keselamatan dan mempercepat proses pemulangan para WNI. Selain itu, Kemlu mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat armada Global Sumud Flotilla 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Hingga kini sedikitnya 10 kapal dilaporkan telah ditahan, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys. Berdasarkan informasi dari Global Peace Convoy Indonesia, seorang WNI bernama Andi Angga Prasadewa berada di kapal Josef sebagai delegasi GPCI-Rumah Zakat. Sementara itu, kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono hingga kini masih belum dapat dihubungi dan statusnya belum diketahui. Menurut laporan, total sembilan WNI ditangkap Israel dalam misi tersebut, di antaranya Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo. Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyidin, menyatakan keselamatan para relawan kemanusiaan menjadi perhatian serius dan menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional.
Internasional
| Senin, 18 Mei 2026

Politik Malaysia Memanas, PM Anwar Ancam Bubarkan Parlemen
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan dirinya tidak akan ragu membubarkan parlemen dan menggelar pemilu sela jika keretakan di dalam pemerintahan persatuan atau unity government terus berlanjut. Pernyataan itu disampaikan Anwar saat memberikan pidato utama dalam Konvensi Pakatan Harapan pada Minggu (17/5/2026). Anwar mengaku mendengar berbagai rumor mengenai ketidakstabilan politik di tingkat bawah, meski hubungan antarpartai di pemerintahan federal saat ini masih berjalan baik. Namun, ia memperingatkan partai-partai mitra koalisi agar tidak membelot dari kesepakatan politik yang telah dibangun bersama. “Saya akan mengadakan pertemuan dengan kepemimpinan Pakatan mengenai masalah ini dan jika perlu, kami akan menyerukan pemilu sela,” ujar Anwar seperti dikutip The Star. Menurut Anwar, jika konflik politik terus memanas, dampaknya tidak hanya akan terjadi di Johor, tetapi juga berpotensi meluas ke wilayah strategis lain seperti Negeri Sembilan, Selangor, Pahang, dan Penang. Ia menegaskan prioritas utama pemerintahannya adalah menjaga stabilitas politik demi memperkuat tata kelola pemerintahan dan pemulihan ekonomi Malaysia. “Kami tidak akan bisa diancam. Namun, jika mereka ingin bernegosiasi dengan cara yang baik, kami selalu bersedia,” tegas Anwar. Dalam kesempatan itu, Anwar juga mengkritik sejumlah pemerintah negara bagian yang disebut membagikan bantuan sosial menjelang masa pemilihan. Menurutnya, praktik tersebut dapat mencederai proses demokrasi yang sehat. Meski isu perpecahan terus berkembang, Anwar memastikan tiga partai utama dalam koalisi Pakatan Harapan, yakni Parti Keadilan Rakyat, Democratic Action Party, dan Parti Amanah Negara tetap solid dan stabil.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

AS Umumkan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Diperpanjang 45 Hari
Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon diperpanjang selama 45 hari mulai Jumat (15/5/2026). Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, mengatakan perpanjangan dilakukan untuk memberi ruang bagi kemajuan proses negosiasi antara kedua pihak. “Penghentian permusuhan pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut,” kata Pigott melalui akun media sosial X. Pengumuman tersebut disampaikan meski serangan Israel di Lebanon dilaporkan masih terus terjadi sejak gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku. Pigott menyebut Departemen Luar Negeri AS akan melanjutkan upaya negosiasi politik pada 2 hingga 3 Juni mendatang. Selain itu, pembentukan “jalur keamanan” yang melibatkan delegasi militer Israel dan Lebanon dijadwalkan dimulai di Pentagon pada 29 Mei. “Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas teritorial masing-masing, serta membangun keamanan nyata di sepanjang perbatasan bersama mereka,” ujar Pigott. Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan setelah putaran ketiga perundingan yang dimediasi AS digelar di Departemen Luar Negeri AS. Menurut pejabat Departemen Luar Negeri AS, delegasi Amerika dipimpin Penasihat Departemen Luar Negeri Michael Needham, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee, serta Duta Besar AS untuk Lebanon Michel Issa. Sementara pihak Lebanon diwakili Duta Besar Nada Hamadeh Moawad dan utusan presiden Lebanon Simon Karam.
Internasional
| Minggu, 17 Mei 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pasukan Israel kini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza di tengah terus berlangsungnya konflik dengan Hamas. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam acara peringatan Jerusalem Day pada Kamis (14/5/2026). Ia menegaskan Israel tidak akan menghentikan operasi militernya di Gaza meski mendapat tekanan internasional. “Ada yang mengatakan: keluar, keluar! Kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai 60 persen; besok kita akan lihat,” ujar Netanyahu seperti dikutip AFP. Pernyataan tersebut dinilai memperkuat dugaan bahwa pasukan Israel terus memperluas wilayah kontrolnya melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu yang dimediasi Amerika Serikat. Berdasarkan ketentuan gencatan senjata itu, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang “Garis Kuning” dan hanya menguasai sekitar 50 persen wilayah Gaza. Namun berbagai laporan media menyebut militer Israel terus bergerak maju ke area yang disebut “Garis Oranye”. Dalam pidatonya, Netanyahu juga mengklaim Israel telah berhasil memulangkan seluruh sandera yang sebelumnya ditahan Hamas. Sementara itu, kekerasan di Gaza dilaporkan masih terus terjadi meski gencatan senjata telah berlaku. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas menyebut lebih dari 850 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober lalu. Selain di Gaza, situasi di Tepi Barat juga terus memanas. Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel menewaskan seorang remaja Palestina berusia 15 tahun bernama Fahd Zidan Oweis di wilayah Nablus pada Jumat (15/5/2026). Menurut data yang dihimpun AFP dari Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 1.072 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Sementara pihak Israel menyebut sedikitnya 46 warga Israel tewas dalam serangan Palestina atau operasi militer selama periode yang sama.
Internasional
| Sabtu, 16 Mei 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim pasukan Israel kini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza di tengah terus berlangsungnya konflik dengan Hamas. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam acara peringatan Jerusalem Day pada Kamis (14/5/2026). Ia menegaskan Israel tidak akan menghentikan operasi militernya di Gaza meski mendapat tekanan internasional. “Ada yang mengatakan: keluar, keluar! Kami tidak keluar. Hari ini kami menguasai 60 persen; besok kita akan lihat,” ujar Netanyahu seperti dikutip AFP. Pernyataan tersebut dinilai memperkuat dugaan bahwa pasukan Israel terus memperluas wilayah kontrolnya melebihi batas yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober lalu yang dimediasi Amerika Serikat. Berdasarkan ketentuan gencatan senjata itu, pasukan Israel seharusnya mundur ke belakang “Garis Kuning” dan hanya menguasai sekitar 50 persen wilayah Gaza. Namun berbagai laporan media menyebut militer Israel terus bergerak maju ke area yang disebut “Garis Oranye”. Dalam pidatonya, Netanyahu juga mengklaim Israel telah berhasil memulangkan seluruh sandera yang sebelumnya ditahan Hamas. Sementara itu, kekerasan di Gaza dilaporkan masih terus terjadi meski gencatan senjata telah berlaku. Data Kementerian Kesehatan Gaza yang berada di bawah pemerintahan Hamas menyebut lebih dari 850 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober lalu. Selain di Gaza, situasi di Tepi Barat juga terus memanas. Otoritas Palestina menyebut pasukan Israel menewaskan seorang remaja Palestina berusia 15 tahun bernama Fahd Zidan Oweis di wilayah Nablus pada Jumat (15/5/2026). Menurut data yang dihimpun AFP dari Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya 1.072 warga Palestina di Tepi Barat telah tewas sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Sementara pihak Israel menyebut sedikitnya 46 warga Israel tewas dalam serangan Palestina atau operasi militer selama periode yang sama.
Internasional
| Jumat, 15 Mei 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Bad Bunny Guncang Super Bowl dengan Pertunjukan Bersejarah Penuh Identitas Puerto Riko
PIFA, Internasional - Penampilan Bad Bunny di halftime show Super Bowl 2026 di Levi’s Stadium, Santa Clara, California, berubah menjadi momen bersejarah yang tak hanya menghibur, tetapi juga menegaskan kekuatan budaya Latin di panggung paling bergengsi di Amerika Serikat. Dalam durasi sekitar 13 menit yang disponsori Apple Music dan Roc Nation, pelantun reggaeton asal Puerto Riko itu tampil sepenuhnya dalam bahasa Spanyol, sebuah keputusan yang disambut hangat sebagai bentuk afirmasi identitas di tengah tekanan untuk “beradaptasi” ke dominasi bahasa Inggris.Bad Bunny membuka penampilannya dari balik barisan tebu raksasa yang menjadi simbol kuat sejarah kolonial Puerto Riko, lalu melanjutkan dengan lagu “Tití Me Preguntó” yang enerjik dan penuh gerakan koreografi tajam. Menurut analisis TIME, set panggung ini bukan sekadar latar estetis, melainkan narasi visual tentang masa lalu dan masa kini Puerto Riko, termasuk keterkaitannya dengan kolonialisme dan ketimpangan sosial. Dalam penampilan itu, Bad Bunny juga menegaskan bahwa pertunjukan ini “bukan sekadar konser, melainkan persembahan untuk budaya, masyarakat, dan sejarahnya”, sebagaimana ia sampaikan sebelum Super Bowl.Salah satu momen paling mengejutkan adalah kehadiran Lady Gaga sebagai bintang tamu, yang menyanyikan versi salsa dari lagunya “Die With a Smile” sebelum berduet dan menari bersama Bad Bunny. TIME menyebut momen ini sebagai bentuk “reverse assimilation”, di mana seorang bintang pop kulit putih besar justru menyesuaikan diri dengan dunia musik dan bahasa yang dipimpin Bad Bunny. Kehadiran Lady Gaga juga menambah lapisan dramaturgi sejarah, mengingat ia pernah menjadi bintang utama halftime Super Bowl sebelumnya, sehingga kolaborasi ini seolah menjadi serah terima simbolik antar generasi.Puncak pertunjukan datang saat Bad Bunny membawakan “El Apagón”, lagu elektronik berenergi tinggi yang dipadukan dengan koreografi akrobatik para penari berpakaian seperti pekerja listrik di tiang tinggi. Adegan ini dikaitkan dengan simbol pemadaman listrik di Puerto Riko dan krisis infrastruktur yang berulang kali melanda pulau tersebut, sekaligus menjadi kritik halus terhadap penanganan bencana dan ketimpangan di bawah kekuasaan Amerika Serikat.Di akhir penampilan, Bad Bunny menyampaikan kalimat yang menarik perhatian banyak media: “God Bless America,” lalu menyebut sejumlah negara Karibia, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, sebelum menutup dengan “And my mother land, Puerto Rico.” Kalimat ini dikutip langsung oleh Associated Press sebagai penegasan bahwa cintanya terhadap Amerika tidak menghapus kritik terhadap kebijakan yang menindas komunitas Latin dan Puerto Riko. Banyak komentator menilai bahwa dengan mengucapkan “God Bless America” sambil menegaskan identitas Puerto Riko, Bad Bunny berhasil menegaskan bahwa orang Puerto Riko adalah bagian dari Amerika, tetapi dengan hak untuk mengkritik dan memperjuangkan keadilan.Sebelum tampil, Bad Bunny sempat menyatakan bahwa penampilan ini “untuk rakyat, budaya, dan sejarah Puerto Riko”. Pernyataan ini menjadi kunci memahami seluruh pertunjukan: setiap elemen panggung, kostum, dan pilihan lagu dirancang sebagai pernyataan politik sekaligus perayaan. Dalam konteks politik Amerika yang sering meminggirkan suara Latin, penampilan Bad Bunny di Super Bowl justru menempatkan budaya Puerto Riko di pusat perhatian global, bukan sebagai “tambahan eksotis”, tetapi sebagai pusat narasi utama.
Internasional
| Selasa, 10 Februari 2026
Internasional

Trump Harap Dewan Perdamaian Dapat Awasi PBB di Masa Depan, Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dapat berperan mengawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di masa mendatang. Hal itu disampaikan Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace yang digelar di United States Institute of Peace, Washington, Kamis. "Suatu hari nanti, saya tidak akan berada di sini. Perserikatan Bangsa-Bangsa akan tetap ada dan saya pikir akan menjadi jauh lebih kuat,” kata Trump. Ia menambahkan, Dewan Perdamaian nantinya hampir akan mengawasi PBB untuk memastikan organisasi tersebut berjalan sebagaimana mestinya. “Dan Dewan Perdamaian hampir akan mengawasi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan memastikan organisasi itu berjalan dengan semestinya. Namun kami akan memperkuat Perserikatan Bangsa-Bangsa,” tuturnya. Trump menilai PBB membutuhkan dukungan, baik dalam operasional fasilitas maupun dari sisi pendanaan. "Kami akan memastikan Perserikatan Bangsa-Bangsa tetap berjalan... Saya sudah mengatakannya selama bertahun-tahun, Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki potensi yang luar biasa,” ujarnya. Presiden AS itu juga meyakini organisasi tersebut pada akhirnya akan “memenuhi potensinya.” Pada Januari lalu, Trump mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian dan mengundang sekitar 50 negara untuk bergabung. Dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington DC tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto hadir memenuhi undangan Trump selaku tuan rumah dan inisiator BoP. Sejumlah pemimpin negara anggota lainnya turut hadir, antara lain dari Albania, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Kazakhstan, Hungaria, Pakistan, Paraguay, Uzbekistan, Vietnam, dan Mesir.
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026
Internasional

Komite PBB Desak Israel Cabut UU Hukuman Mati bagi Warga Palestina, Dinilai Diskriminasi Rasial
JENEWA – Komite PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Rasial melontarkan kecaman keras terhadap undang-undang baru Israel yang mengizinkan eksekusi hukuman mati bagi warga Palestina. Komite tersebut mendesak agar aturan tersebut segera dicabut karena dinilai sebagai bentuk pengikisan hak asasi manusia (HAM) yang sangat serius.Dalam keterangannya, Komite PBB menyebut langkah ini telah merusak kebijakan penangguhan eksekusi yang selama ini dipegang oleh Israel."Undang-undang baru ini merupakan pukulan berat bagi hak asasi manusia, membatalkan moratorium de facto Israel yang telah lama berlaku terhadap eksekusi sejak tahun 1962 dan memperluas penggunaan hukuman mati," demikian pernyataan komite tersebut seperti dikutip dari AFP, Jumat (1/5).Berdasarkan undang-undang yang disahkan parlemen Israel pada Maret lalu, warga Palestina di wilayah pendudukan Tepi Barat yang dihukum oleh pengadilan militer karena serangan yang diklasifikasikan sebagai "terorisme" akan menghadapi hukuman mati sebagai standar hukuman.Aturan tersebut dinilai diskriminatif karena secara de facto hanya menyasar warga Palestina dan menetapkan batas waktu eksekusi yang sangat singkat, yakni 90 hari setelah putusan akhir dikeluarkan.Terkait hal itu, Komite PBB menegaskan bahwa Israel berkewajiban menjamin hak-hak seluruh warga Palestina yang ditahan. Komite mendesak agar mereka, "Dijamin hak-hak mereka untuk mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum, keamanan pribadi, perlindungan terhadap kekerasan atau cedera fisik, dan akses terhadap keadilan."Selain menuntut pencabutan UU tersebut, komite yang beranggotakan 18 pakar independen ini menyerukan agar Israel mengakhiri segala bentuk kebijakan segregasi dan diskriminasi rasial terhadap warga Palestina.Dunia internasional juga diminta bersikap tegas dengan "memastikan bahwa sumber daya mereka tidak digunakan untuk menegakkan atau mendukung kebijakan dan praktik diskriminatif terhadap warga Palestina yang tinggal di Wilayah Palestina yang Diduduki."Sebagai informasi, Israel telah meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Semua Bentuk Diskriminasi Rasial sejak tahun 1979. Sepanjang sejarahnya, Israel tercatat sangat jarang menerapkan hukuman mati. Tercatat hanya dua kali eksekusi dilakukan: pertama pada tahun 1948 terhadap seorang kapten militer atas tuduhan pengkhianatan, dan kedua pada tahun 1962 terhadap penjahat perang Nazi, Adolf Eichmann.Langkah pengesahan UU hukuman mati ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat tajam di Tepi Barat sejak konflik Gaza pecah pada 7 Oktober 2023 lalu. Kecaman terhadap undang-undang ini sebelumnya juga telah disuarakan oleh berbagai pihak, termasuk Indonesia, negara-negara Arab, hingga Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.





