Internasional
20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa hingga kini sudah ada 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut. “Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian isi pernyataan bersama itu. Keenam negara tersebut menegaskan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional serta rantai pasok energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan penerapan moratorium yang komprehensif dan segera untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas. Pada pembaruan pernyataan Sabtu ini, sebanyak 14 negara tambahan menyatakan kesiapan bergabung. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Rumania. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global—dilaporkan sempat terhenti total. Dampaknya, sejumlah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi dunia.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Trending
Perahu Migran Terbalik di Lepas Pantai Kreta, Lima Tewas dan 25 Dilaporkan Hilang
Internasional
| Sabtu, 21 Februari 2026

Trump Sumbang 10 Miliar Dolar AS untuk Rekonstruksi Gaza, Prabowo Hadiri Pertemuan di Washington
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Trump Harap Dewan Perdamaian Dapat Awasi PBB di Masa Depan, Prabowo Hadiri Pertemuan Perdana
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026

Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15 Persen Usai Putusan Mahkamah Agung AS
Internasional
| Minggu, 22 Februari 2026

Kemlu RI Siagakan Opsi Evakuasi WNI di Iran di Tengah Ketegangan dengan AS
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026

PBB Hadapi Krisis Likuiditas, Guterres Peringatkan Ancaman Keruntuhan Keuangan
Internasional
| Sabtu, 31 Januari 2026

Trump Klaim Iran Minta Maaf ke Negara-negara Timur Tengah Usai Serangan AS-Israel
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026

Prabowo dan Mohammed bin Salman Bahas Eskalasi Militer Timur Tengah Lewat Sambungan Telepon
Internasional
| Kamis, 12 Maret 2026

Sekutu AS di Timur Tengah Desak Trump Tahan Diri dari Opsi Serangan ke Iran
Internasional
| Kamis, 29 Januari 2026

UE Tegaskan Dukungan bagi Perdamaian Adil di Ukraina
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026

Berita Terbaru
Internasional

Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara untuk Buka Jalan Negosiasi Timur Tengah
Pemerintah Turki mengusulkan gencatan senjata sementara guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka peluang dimulainya perundingan damai. Menurut laporan Middle East Eye, Senin (23/3), Ankara tengah aktif melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan. Sumber diplomatik Turki menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri Turki saat ini juga tengah membentuk kelompok perundingan bersama mitra dari Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Upaya ini bertujuan untuk meredam konflik serta menyeimbangkan pengaruh Israel di kawasan. Namun demikian, Ankara disebut masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata jangka panjang, termasuk komitmen Israel untuk tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium dinilai menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, keduanya juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026
Internasional

Ketua Parlemen Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Isu Hoaks Manipulasi Pasar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya perundingan antara negaranya dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai “berita palsu”. “Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel,” ujar Ghalibaf melalui akun media sosial X, Senin. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang tegas bagi pihak yang dianggap sebagai agresor. Menurutnya, seluruh pejabat Iran tetap solid mendukung kepemimpinan negara hingga tujuan perang tercapai. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut dialog dengan Teheran dalam dua hari terakhir berlangsung “sangat baik dan produktif”. Trump juga menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi Iran selama lima hari sebagai bagian dari upaya membuka ruang diplomasi. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026
Internasional

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Senin, 23 Maret 2026
Berita Populer
Internasional

20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa hingga kini sudah ada 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut. “Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian isi pernyataan bersama itu. Keenam negara tersebut menegaskan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional serta rantai pasok energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan penerapan moratorium yang komprehensif dan segera untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas. Pada pembaruan pernyataan Sabtu ini, sebanyak 14 negara tambahan menyatakan kesiapan bergabung. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Rumania. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global—dilaporkan sempat terhenti total. Dampaknya, sejumlah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi dunia.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026
Internasional

Perahu Migran Terbalik di Lepas Pantai Kreta, Lima Tewas dan 25 Dilaporkan Hilang
PIFA, Internasional - Sedikitnya lima migran dilaporkan tewas dan sekitar 25 lainnya masih hilang setelah perahu kayu yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani, Sabtu (21/2). Informasi tersebut disampaikan stasiun televisi pemerintah ERT. Sebanyak 20 orang berhasil diselamatkan dalam insiden tersebut. Para korban selamat mengungkapkan bahwa sekitar 50 orang berada di dalam perahu saat kecelakaan terjadi. Operasi pencarian masih terus berlangsung untuk menemukan para penumpang yang dilaporkan hilang. Angin kencang dan gelombang tinggi disebut memicu situasi darurat, sehingga para migran sempat mengirimkan permintaan pertolongan. Pusat pencarian dan penyelamatan Yunani kemudian meminta kapal-kapal dagang di sekitar lokasi untuk memberikan bantuan. Sebuah kapal berbendera Panama mendekati titik kejadian. Namun, perahu kayu itu miring dan akhirnya terbalik ketika para penumpang berusaha berpindah ke kapal penyelamat. Operasi pencarian melibatkan sejumlah kapal penjaga pantai Yunani, kapal dagang, helikopter dan pesawat angkatan udara, serta satu fregat angkatan laut untuk menyisir area perairan yang terdampak. Seluruh korban selamat akan dibawa ke Heraklion, kota utama di Kreta, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Laporan menyebutkan para penyintas merupakan pemuda. Dalam operasi terpisah, sebuah pesawat patroli juga mendeteksi perahu lain yang membawa sekitar 40 migran di wilayah yang sama. Otoritas setempat segera meluncurkan misi penyelamatan kedua guna mencegah insiden serupa. Yunani hingga kini masih menjadi salah satu jalur transit utama bagi migran dari Timur Tengah, Asia, dan Afrika yang berupaya mencapai Eropa. Sebagian besar perjalanan dilakukan melalui jalur laut dari Turki menuju pulau-pulau Yunani di kawasan Laut Aegea dan Mediterania timur.
Internasional
| Sabtu, 21 Februari 2026
Internasional

Trump Sumbang 10 Miliar Dolar AS untuk Rekonstruksi Gaza, Prabowo Hadiri Pertemuan di Washington
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya akan menyumbang 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp162 triliun untuk mendukung rekonstruksi Jalur Gaza, Palestina. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace). Pengumuman itu disampaikan Trump dalam pertemuan perdana dewan tersebut yang digelar di Washington pada Kamis (19/2). Dewan Perdamaian dibentuk atas inisiatif Trump untuk menangani krisis di Gaza. "Dewan Perdamaian menunjukkan bagaimana masa depan yang lebih baik dapat dibangun, dimulai dari ruangan ini," kata Trump, seperti dikutip RIA Novosti. Trump menilai nilai sumbangan tersebut mungkin terlihat besar, namun masih sangat kecil jika dibandingkan dengan biaya perang. Ia menyebut jumlah itu setara dengan sekitar dua pekan pertempuran. Menurutnya, Dewan Perdamaian berpotensi mewujudkan keharmonisan jangka panjang di kawasan yang selama berabad-abad dilanda konflik. Ia juga berharap forum tersebut dapat menjadi contoh penyelesaian konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia lainnya. Lebih dari 20 negara diperkirakan menghadiri pertemuan tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah pemimpin dunia akan hadir dalam forum itu. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diketahui tengah berada di Washington untuk menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian tersebut. Trump sebelumnya telah mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian pada 16 Januari dan mengundang sekitar 50 pemimpin negara untuk bergabung, termasuk Indonesia.
Internasional
| Kamis, 19 Februari 2026
Feeds
Turki Usulkan Gencatan Senjata Sementara untuk Buka Jalan Negosiasi Timur Tengah
Pemerintah Turki mengusulkan gencatan senjata sementara guna meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan membuka peluang dimulainya perundingan damai. Menurut laporan Middle East Eye, Senin (23/3), Ankara tengah aktif melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan Iran untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan. Sumber diplomatik Turki menyebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri Turki saat ini juga tengah membentuk kelompok perundingan bersama mitra dari Eropa, Timur Tengah, dan kawasan lainnya. Upaya ini bertujuan untuk meredam konflik serta menyeimbangkan pengaruh Israel di kawasan. Namun demikian, Ankara disebut masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata jangka panjang, termasuk komitmen Israel untuk tidak kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Di sisi lain, tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium dinilai menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyatakan serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, keduanya juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Ketua Parlemen Iran Bantah Negosiasi dengan AS, Sebut Isu Hoaks Manipulasi Pasar
Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya perundingan antara negaranya dengan Amerika Serikat dan menyebut kabar tersebut sebagai “berita palsu”. “Tidak ada negosiasi yang berjalan dengan Amerika Serikat. Laporan berita palsu tersebut dimaksudkan untuk memanipulasi pasar finansial dan minyak serta untuk melarikan diri dari kekacauan yang menjebak AS dan Israel,” ujar Ghalibaf melalui akun media sosial X, Senin. Ia menambahkan bahwa rakyat Iran menuntut hukuman yang tegas bagi pihak yang dianggap sebagai agresor. Menurutnya, seluruh pejabat Iran tetap solid mendukung kepemimpinan negara hingga tujuan perang tercapai. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut dialog dengan Teheran dalam dua hari terakhir berlangsung “sangat baik dan produktif”. Trump juga menyatakan telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur pembangkit listrik dan energi Iran selama lima hari sebagai bagian dari upaya membuka ruang diplomasi. Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Selasa, 24 Maret 2026

Trump Klaim Ada Diskusi Intens dengan Iran, Singgung Perubahan Rezim
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa negaranya telah melakukan diskusi “intens” dengan Iran, meskipun klaim tersebut dibantah oleh pihak Teheran. Dalam wawancara telepon yang dilaporkan media AS, Trump bahkan menyebut bahwa situasi yang terjadi di Iran saat ini dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”. Dalam laporan CNBC, Trump mengisyaratkan adanya perubahan besar dalam upaya menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama tiga pekan. Namun, detail mengenai pembicaraan tersebut—termasuk siapa saja yang terlibat serta di mana berlangsung—tidak dijelaskan secara rinci. Sementara itu, pihak Teheran dengan tegas membantah adanya negosiasi, dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Trump juga menyatakan bahwa AS sangat bertekad untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, serta berharap pembicaraan tersebut dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa ia telah menginstruksikan militer untuk menghentikan sementara serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, guna membuka peluang diplomasi. Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan internasional.
Internasional
| Senin, 23 Maret 2026

Trump: AS Akan Ambil Uranium Iran Jika Tercapai Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya akan mengambil uranium yang telah diperkaya milik Iran jika kedua pihak mencapai kesepakatan. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan pada Senin, saat ditanya mengenai bagaimana AS akan memperoleh uranium Iran yang selama ini menjadi sumber perselisihan antara kedua negara. “Sangat mudah. Jika kita memiliki kesepakatan dengan mereka, kita akan mengambilnya sendiri,” ujar Trump. Trump juga mengklaim bahwa putaran pembicaraan terbaru antara Washington dan Teheran terjadi pada Minggu malam, meskipun hal itu dibantah oleh pihak Iran. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Kami juga ingin membuat kesepakatan,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa komunikasi lanjutan kemungkinan akan dilakukan melalui sambungan telepon, dengan peluang pertemuan langsung antara pejabat kedua negara dalam waktu dekat. Menurut Trump, kondisi saat ini membuat pejabat Iran sulit untuk bepergian ke luar negeri, namun ia tetap optimistis bahwa pertemuan tatap muka akan segera terjadi. Sebelumnya, Trump juga mengumumkan jeda selama lima hari dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi. “Kita akan lihat bagaimana hasilnya, dan jika berjalan dengan baik, kita akan menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, kita akan terus membombardir sesuka hari kita,” tegasnya.
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

Iran Ancam Balasan Jika Fasilitas Energi Diserang, AS Ultimatum Soal Selat Hormuz
Iran menegaskan akan mengambil langkah balasan jika fasilitas energi negaranya menjadi target serangan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Juru Bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan menargetkan fasilitas strategis milik AS dan sekutunya di kawasan. “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran diserang oleh musuh, seluruh infrastruktur energi, serta fasilitas teknologi informasi dan desalinasi air milik AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran sesuai peringatan sebelumnya,” ujar Zolfaghari, seperti dikutip kantor berita Fars. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum bahwa Iran harus membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya, dimulai dari yang terbesar. Ketegangan ini merupakan lanjutan dari konflik yang pecah sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta berbagai target militer AS di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri. Awalnya, Amerika Serikat dan Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap dugaan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara itu juga menyatakan keinginan untuk melihat terjadinya perubahan kekuasaan di Iran.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Israel Perintahkan Penghancuran Jembatan di Lebanon, Targetkan Jalur Hizbullah
Militer Israel diperintahkan untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah warga di desa-desa perbatasan Lebanon guna menetralkan ancaman terhadap komunitas Israel di wilayah tersebut. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa langkah tersebut mengacu pada preseden operasi militer sebelumnya di Beit Hanoun dan Rafah di Jalur Gaza. Selain itu, Katz juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk segera menghancurkan seluruh jembatan yang melintasi Sungai Litani. “Kami telah menginstruksikan IDF untuk segera menghancurkan semua jembatan di atas Sungai Litani guna mencegah pergerakan pejuang dan senjata Hizbullah ke arah selatan,” ujar Katz, Minggu. Langkah ini diambil karena jembatan-jembatan tersebut disebut dimanfaatkan oleh kelompok Hizbullah untuk memindahkan senjata. Sebelumnya pada pekan ini, militer Israel telah melancarkan serangan terhadap dua penyeberangan di Sungai Litani yang menghubungkan Lebanon selatan dengan wilayah lain di negara tersebut. Menurut pihak militer, fasilitas tersebut digunakan sebagai jalur distribusi senjata. Ketegangan meningkat sejak awal Maret ketika Hizbullah kembali mengaktifkan operasi militernya terhadap Israel, menyusul terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan intensif ke pinggiran selatan ibu kota Beirut serta puluhan kota dan desa di Lebanon bagian selatan dan timur. Berdasarkan data resmi, sedikitnya 826 orang tewas, lebih dari 2.000 lainnya terluka, dan lebih dari 800.000 warga terpaksa mengungsi akibat eskalasi konflik yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Internasional
| Minggu, 22 Maret 2026

20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa hingga kini sudah ada 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut. “Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian isi pernyataan bersama itu. Keenam negara tersebut menegaskan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional serta rantai pasok energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan penerapan moratorium yang komprehensif dan segera untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas. Pada pembaruan pernyataan Sabtu ini, sebanyak 14 negara tambahan menyatakan kesiapan bergabung. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Rumania. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global—dilaporkan sempat terhenti total. Dampaknya, sejumlah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi dunia.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Iran Dikabarkan Serang Pangkalan Diego Garcia, Tunjukkan Jangkauan Rudal Jarak Jauh
Iran dilaporkan meluncurkan dua rudal balistik yang menargetkan pangkalan militer Inggris yang digunakan oleh Amerika Serikat di Pulau Diego Garcia, menurut laporan media pada Sabtu. Laporan tersebut disampaikan oleh Al Jazeera yang mengutip kantor berita Iran, Mehr. Namun, tidak ada rincian lebih lanjut terkait dampak atau hasil serangan tersebut. Pulau Diego Garcia yang berada di gugus Kepulauan Chagos dikenal sebagai lokasi strategis militer Barat di tengah Samudra Hindia. Jarak dari ibu kota Iran, Teheran, ke wilayah tersebut diperkirakan melebihi 5.000 kilometer. Serangan ini dinilai menunjukkan bahwa Iran memiliki kemampuan rudal jarak jauh yang lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan oleh pihak lawan. Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Dalam serangan awal tersebut, dilaporkan sekitar 1.300 orang tewas, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran terus melancarkan serangan ke wilayah Israel serta berbagai target militer AS di Timur Tengah. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menilai keputusan pemerintah Inggris yang mengizinkan penggunaan pangkalan militernya oleh AS justru membahayakan warga negaranya sendiri. “Sebagian besar rakyat Inggris tidak ingin terlibat dalam perang pilihan Israel-AS terhadap Iran. Dengan mengabaikan rakyatnya sendiri, Starmer membahayakan nyawa warga Inggris dengan mengizinkan pangkalan-pangkalan Inggris digunakan untuk agresi terhadap Iran. Iran akan menggunakan haknya untuk membela diri,” tulis Araghchi di media sosial X. Keputusan Inggris tersebut muncul setelah pemerintahnya menyetujui penggunaan pangkalan militer oleh Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap situs-situs rudal Iran.
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Iran Tegaskan Tak Berunding dengan AS, Peringatkan Negara Pendukung Musuh
Pejabat senior parlemen Iran menegaskan bahwa negaranya saat ini tidak sedang melakukan perundingan dengan Amerika Serikat, di tengah meningkatnya ketegangan konflik di kawasan Timur Tengah. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyampaikan pernyataan tersebut usai pertemuan dengan pejabat militer dan pertahanan untuk membahas operasi di medan perang melawan AS dan Israel. Menurut Rezaei, Iran juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang mengizinkan wilayah atau pangkalannya digunakan untuk menyerang Iran akan dianggap sebagai musuh. Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyebut para pejabat Iran ingin bernegosiasi, namun belum siap untuk melakukannya. Di sisi lain, Rezaei memastikan bahwa kondisi keamanan di Pulau Kharg telah pulih dan aktivitas ekspor minyak tetap berjalan normal. Sebelumnya, Trump mengklaim bahwa serangan Amerika telah menghancurkan sebagian besar fasilitas militer di pulau tersebut, namun tidak merusak pusat-pusat produksi minyak. Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta sejumlah negara di kawasan seperti Yordania dan Irak, termasuk negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026

Iran Ancam Balasan Tanpa Batas Jika Infrastruktur Diserang Israel
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menahan diri jika infrastrukturnya menjadi target serangan di tengah eskalasi konflik kawasan Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi informasi intelijen terkait rencana Israel untuk menyerang fasilitas vital Iran. “Kami memiliki informasi intelijen tentang rencana Israel untuk menyerang infrastruktur. Sekali lagi: Tidak akan ada pengekangan sama sekali jika infrastruktur kami diserang,” tulis Araghchi melalui akun media sosial X. Ia menegaskan bahwa rakyat Iran bukan pihak yang memulai serangan, namun akan memberikan respons keras jika diserang. “Rakyat Iran adalah pria dan wanita yang berprinsip. Kami tidak melakukan serangan mendadak saat sedang berdialog. Hanya ketika diserang barulah kami merespons dengan kuat,” ujarnya. Dalam unggahan tersebut, Araghchi juga menyertakan video pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Iran berpotensi menyerang Amerika Serikat
Internasional
| Jumat, 20 Maret 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

20 Negara Siap Amankan Selat Hormuz di Tengah Konflik Timur Tengah
Pemerintah Inggris menyatakan bahwa hingga kini sudah ada 20 negara yang menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya pada Kamis (19/3), enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang telah mengeluarkan pernyataan bersama terkait komitmen tersebut. “Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian isi pernyataan bersama itu. Keenam negara tersebut menegaskan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional serta rantai pasok energi global merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan dunia. Selain itu, mereka juga menyerukan penerapan moratorium yang komprehensif dan segera untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas. Pada pembaruan pernyataan Sabtu ini, sebanyak 14 negara tambahan menyatakan kesiapan bergabung. Negara-negara tersebut antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, Latvia, Slovenia, Estonia, Norwegia, Swedia, Finlandia, Republik Ceko, dan Rumania. Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Akibat eskalasi tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar global—dilaporkan sempat terhenti total. Dampaknya, sejumlah negara mengalami lonjakan harga bahan bakar akibat terganggunya pasokan energi dunia.
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026
Internasional

Perahu Migran Terbalik di Lepas Pantai Kreta, Lima Tewas dan 25 Dilaporkan Hilang
PIFA, Internasional - Sedikitnya lima migran dilaporkan tewas dan sekitar 25 lainnya masih hilang setelah perahu kayu yang mereka tumpangi terbalik di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani, Sabtu (21/2). Informasi tersebut disampaikan stasiun televisi pemerintah ERT. Sebanyak 20 orang berhasil diselamatkan dalam insiden tersebut. Para korban selamat mengungkapkan bahwa sekitar 50 orang berada di dalam perahu saat kecelakaan terjadi. Operasi pencarian masih terus berlangsung untuk menemukan para penumpang yang dilaporkan hilang. Angin kencang dan gelombang tinggi disebut memicu situasi darurat, sehingga para migran sempat mengirimkan permintaan pertolongan. Pusat pencarian dan penyelamatan Yunani kemudian meminta kapal-kapal dagang di sekitar lokasi untuk memberikan bantuan. Sebuah kapal berbendera Panama mendekati titik kejadian. Namun, perahu kayu itu miring dan akhirnya terbalik ketika para penumpang berusaha berpindah ke kapal penyelamat. Operasi pencarian melibatkan sejumlah kapal penjaga pantai Yunani, kapal dagang, helikopter dan pesawat angkatan udara, serta satu fregat angkatan laut untuk menyisir area perairan yang terdampak. Seluruh korban selamat akan dibawa ke Heraklion, kota utama di Kreta, untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Laporan menyebutkan para penyintas merupakan pemuda. Dalam operasi terpisah, sebuah pesawat patroli juga mendeteksi perahu lain yang membawa sekitar 40 migran di wilayah yang sama. Otoritas setempat segera meluncurkan misi penyelamatan kedua guna mencegah insiden serupa. Yunani hingga kini masih menjadi salah satu jalur transit utama bagi migran dari Timur Tengah, Asia, dan Afrika yang berupaya mencapai Eropa. Sebagian besar perjalanan dilakukan melalui jalur laut dari Turki menuju pulau-pulau Yunani di kawasan Laut Aegea dan Mediterania timur.
Internasional
| Sabtu, 21 Februari 2026
Internasional

Trump Sumbang 10 Miliar Dolar AS untuk Rekonstruksi Gaza, Prabowo Hadiri Pertemuan di Washington
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa negaranya akan menyumbang 10 miliar dolar AS atau sekitar Rp162 triliun untuk mendukung rekonstruksi Jalur Gaza, Palestina. Bantuan tersebut akan disalurkan melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace). Pengumuman itu disampaikan Trump dalam pertemuan perdana dewan tersebut yang digelar di Washington pada Kamis (19/2). Dewan Perdamaian dibentuk atas inisiatif Trump untuk menangani krisis di Gaza. "Dewan Perdamaian menunjukkan bagaimana masa depan yang lebih baik dapat dibangun, dimulai dari ruangan ini," kata Trump, seperti dikutip RIA Novosti. Trump menilai nilai sumbangan tersebut mungkin terlihat besar, namun masih sangat kecil jika dibandingkan dengan biaya perang. Ia menyebut jumlah itu setara dengan sekitar dua pekan pertempuran. Menurutnya, Dewan Perdamaian berpotensi mewujudkan keharmonisan jangka panjang di kawasan yang selama berabad-abad dilanda konflik. Ia juga berharap forum tersebut dapat menjadi contoh penyelesaian konflik berkepanjangan di berbagai belahan dunia lainnya. Lebih dari 20 negara diperkirakan menghadiri pertemuan tersebut. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sebelumnya menyampaikan bahwa sejumlah pemimpin dunia akan hadir dalam forum itu. Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diketahui tengah berada di Washington untuk menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian tersebut. Trump sebelumnya telah mengumumkan pembentukan Dewan Perdamaian pada 16 Januari dan mengundang sekitar 50 pemimpin negara untuk bergabung, termasuk Indonesia.





