Internasional
83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut. Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu. Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur. Penangkapan Maduro dan Proses Hukum Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan. Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu. Reaksi Internasional dan Dampak Politik Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional. Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026

Trending
Eropa Siapkan Kesepakatan Empat Poin dengan AS soal Greenland
Internasional
| Jumat, 23 Januari 2026

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026

Iran Buka Kembali Wilayah Udara Secara Bertahap dalam Empat Fase
Internasional
| Minggu, 19 April 2026

Netanyahu Klaim Israel Sudah Kuasai 60 Persen Wilayah Gaza
Internasional
| Jumat, 15 Mei 2026

Pemerintah Evakuasi WNI dari Iran, Dua Pekerja Migran Sudah Tiba di Indonesia
Internasional
| Rabu, 11 Maret 2026

Iran Tegaskan Tetap Berhak Perkaya Uranium dan Kendalikan Selat Hormuz dalam Negosiasi dengan AS
Internasional
| Jumat, 12 Juni 2026

Pangkalan Udara Israel Dilaporkan Rusak Usai Serangan Rudal Iran
Internasional
| Rabu, 10 Juni 2026

Menlu Tegaskan Indonesia Tak Akan Kenakan Tarif di Selat Malaka
Internasional
| Kamis, 23 April 2026

Bentrokan Antargeng di Penjara Sri Lanka Tewaskan 26 Orang, Lebih dari 100 Terluka
Internasional
| Senin, 6 Juli 2026

Palestina Kecam Israel Culik Relawan Flotilla Termasuk WNI
Internasional
| Selasa, 19 Mei 2026

Berita Terbaru
Internasional

Belgia Kirim 30 Tentara ke Greenland, Jaga Arktik dari Ambisi Trump
Belgia akan mengirim sekitar 30 personel militernya ke Greenland sebagai bagian dari misi NATO untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik. Pengerahan pasukan ini dilakukan di tengah pernyataan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin menguasai Greenland.Pasukan Belgia dijadwalkan dikerahkan pada awal September dalam misi baru NATO bernama "Arctic Sentry". Misi tersebut bertujuan memperkuat kehadiran aliansi di kawasan Arktik, termasuk Greenland, Islandia, dan wilayah Samudra Arktik.Personel yang dikirim Belgia berasal dari Brigade ke-1 yang bermarkas di Leopoldsburg serta anggota Pasukan Khusus Belgia, dikutip dari Anadolu Agency.Dalam misi tersebut, pasukan Belgia akan menjalankan berbagai kegiatan pencegahan dan pelatihan. Mereka antara lain akan mengoperasikan pesawat nirawak atau drone serta menguji sistem untuk menangkal ancaman drone.Otoritas keamanan Belgia menyebut kondisi geografis Greenland yang luas menyediakan lingkungan yang sesuai untuk menjalankan berbagai latihan tersebut.Belgia akan memimpin operasi bersama sejumlah negara NATO lainnya, yakni Kanada, Denmark, Prancis, Finlandia, Belanda, Slovenia, dan Swedia.Menurut VTM, keterlibatan sejumlah negara tersebut juga dimaksudkan untuk mengirimkan pesan bahwa NATO memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan kawasan Arktik, termasuk Greenland.Penguatan kehadiran NATO di Greenland berlangsung ketika isu mengenai masa depan wilayah otonom Denmark tersebut kembali menjadi sorotan setelah Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland.Trump bahkan menyebut penguasaan Greenland sebagai kepentingan historis dan strategis bagi Amerika Serikat.Greenland sendiri merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark. Letaknya yang strategis di kawasan Arktik membuat wilayah tersebut memiliki nilai penting bagi pertahanan dan keamanan negara-negara NATO.Selain kepentingan Amerika Serikat, NATO juga menilai kawasan Arktik semakin strategis seiring meningkatnya aktivitas dan kepentingan Rusia serta China di wilayah tersebut.Melalui misi Arctic Sentry, NATO berupaya meningkatkan pemantauan, kesiapsiagaan, serta kemampuan pertahanan di kawasan yang semakin penting secara geopolitik tersebut.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026
Internasional

AIPAC Pertimbangkan Kucurkan Puluhan Juta Dolar untuk Jegal Abdul El Sayed
American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dilaporkan mempertimbangkan untuk menggelontorkan puluhan juta dolar Amerika Serikat guna menghadang Abdul El Sayed, calon senator Muslim dari Partai Demokrat, dalam pemilihan paruh waktu pada November mendatang.Middle East Monitor (MEMO) melaporkan kelompok lobi pro-Israel tersebut mempertimbangkan untuk mendukung kandidat Senat dari Partai Republik, Mike Rogers, setelah kandidat yang mereka dukung sebelumnya, Haley Stevens, kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di Michigan.Stevens kalah tipis dari El Sayed dalam primary tersebut. El Sayed dikenal vokal mengusung kebijakan yang berfokus pada pendidikan serta mengkritik kebijakan Israel.Mengutip New York Times, sejumlah donor dan sekutu AIPAC disebut telah mendorong organisasi tersebut untuk menginvestasikan puluhan juta dolar guna mendukung kampanye Rogers.Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final dari AIPAC terkait pendanaan tersebut. Organisasi itu memastikan upaya untuk menghadang El Sayed akan tetap berlanjut."Anggota kami tetap bertekad untuk memastikan bahwa para pemilih menentang Dr. El Sayed dan agenda anti-Israel radikalnya pada November mendatang," demikian pernyataan AIPAC.AIPAC merupakan salah satu kelompok lobi yang memiliki pengaruh besar dalam politik Amerika Serikat. Organisasi tersebut selama ini aktif mendukung kandidat politik yang dinilai pro-Israel untuk mempertahankan hubungan erat antara Washington dan Tel Aviv.Dalam pemilihan Senat Michigan sebelumnya, AIPAC bersama afiliasinya, United Democracy Project (UDP), menghabiskan sekitar US$32 juta untuk mempromosikan Stevens. Jumlah tersebut menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang pernah dikeluarkan kelompok tersebut dalam sebuah kontestasi politik.Namun, besarnya dana yang digelontorkan tidak mampu mengantarkan Stevens memenangi primary. Ia justru harus mengakui keunggulan El Sayed.Hasil sejumlah jajak pendapat sebelum primary juga menunjukkan citra AIPAC di Michigan tengah menghadapi tantangan.Sekitar 49 persen calon pemilih utama Partai Demokrat di Michigan dalam salah satu survei memandang negatif AIPAC. Hanya sekitar 12 persen yang memberikan penilaian positif terhadap organisasi tersebut.Survei lain menunjukkan 64 persen responden cenderung kurang mendukung kandidat politik yang menerima sumbangan dari AIPAC.Sementara itu, survei Pew Research Center yang dirilis April menunjukkan sekitar 60 persen warga Amerika Serikat memiliki pandangan negatif terhadap Israel.Sikap negatif tersebut terutama terlihat di kalangan pemilih muda serta sebagian pendukung Partai Demokrat. Perubahan opini publik itu terjadi di tengah meningkatnya kritik terhadap dukungan Amerika Serikat kepada Israel selama perang di Gaza.Kondisi tersebut turut menjadi tantangan bagi organisasi dan kandidat politik yang secara terbuka mengusung agenda pro-Israel dalam pemilu Amerika Serikat.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026
Internasional

Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Diduga Pelajari Aksi Massal dari Internet
Polisi Thailand mengungkap adanya dugaan jejak pencarian internet yang dilakukan pelaku penembakan di sekolah Debsirin, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, sebelum melancarkan aksinya.Pelaku disebut sempat mencari dan mengakses sejumlah situs yang berkaitan dengan penembakan massal sebelum insiden terjadi pada Jumat (7/8).Dalam penyelidikan, polisi menyita sembilan komputer atau perangkat elektronik dari rumah tersangka. Perangkat tersebut kini diperiksa untuk mengungkap aktivitas dan kemungkinan motif pelaku sebelum melakukan penembakan.Serangan di sekolah tersebut menewaskan sedikitnya enam orang yang terdiri dari tiga siswa dan tiga guru. Pelaku kemudian tewas, diduga akibat bunuh diri.Polisi juga menduga pelaku terlebih dahulu membunuh kakek dan neneknya yang tinggal bersamanya sebelum pergi ke sekolah.Keduanya ditemukan tewas di rumah sebelum aksi penembakan berlangsung. Polisi menyebut pelaku menggunakan pistol milik kakeknya.Setelah membunuh kedua anggota keluarganya, pelaku kemudian pergi ke sekolah Debsirin Nonthaburi di pinggiran Bangkok. Di sekolah tersebut, ia menembak tiga guru dan tiga siswa.Dengan demikian, total korban tewas dalam rangkaian kejadian tersebut mencapai delapan orang, termasuk pelaku.Komandan Polisi Provinsi Nonthaburi, Letkol Dechrapee Kongdee, membenarkan bahwa pelaku meninggal akibat bunuh diri.Polisi menyebut pelaku melepaskan 26 tembakan dalam aksinya. Selain itu, sebanyak 34 butir amunisi lainnya ditemukan di lokasi kejadian.Kongdee mengatakan kepada BBC bahwa pelaku merupakan siswa kelas sembilan yang umumnya berusia sekitar 14 tahun.Hingga kini, kepolisian Thailand masih mendalami motif penembakan tersebut, termasuk aktivitas pelaku di internet sebelum serangan dan hubungan antara pencarian yang dilakukan dengan aksi kekerasan yang terjadi.Penyidik juga terus memeriksa perangkat elektronik yang disita dari rumah pelaku untuk mendapatkan informasi mengenai persiapan dan kemungkinan latar belakang aksi tersebut.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026
Berita Populer
Internasional

83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut. Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu. Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur. Penangkapan Maduro dan Proses Hukum Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan. Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu. Reaksi Internasional dan Dampak Politik Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional. Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026
Internasional

Eropa Siapkan Kesepakatan Empat Poin dengan AS soal Greenland
PIFA, Internasional - Para pemimpin Eropa tengah mempersiapkan kesepakatan kerja sama empat poin dengan Amerika Serikat terkait Greenland. Rencana tersebut dibahas dalam sebuah pertemuan informal, sebagaimana dilaporkan Politico pada Kamis, mengutip sejumlah pejabat Eropa. Menurut laporan itu, poin pertama kesepakatan mencakup revisi perjanjian pertahanan tahun 1951 antara Amerika Serikat dan Denmark. Revisi tersebut termasuk penyesuaian terhadap sistem pertahanan rudal Golden Dome yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Poin kedua menyangkut komitmen negara-negara Eropa untuk meningkatkan kontribusi terhadap keamanan regional. Langkah ini disebut dapat mencakup potensi penugasan misi NATO di kawasan tersebut. Namun, terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat Eropa terkait dua poin lainnya. Salah satu sumber menyebutkan bahwa poin tersebut mencakup kesepakatan penghapusan tarif secara timbal balik serta pembentukan badan pengawas guna memantau hak eksplorasi. Sementara itu, sumber lain menilai dua poin tersebut lebih mencerminkan ekspektasi yang dinilai tidak realistis dari sejumlah negara anggota Uni Eropa. Isu Greenland kembali mengemuka seiring pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali menyebut Amerika Serikat perlu mengendalikan wilayah tersebut. Trump beralasan, posisi strategis Greenland penting bagi kepentingan keamanan nasional AS. Greenland sendiri merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan Washington agar tidak mengambil alih pulau tersebut, sembari menegaskan harapan agar integritas teritorial mereka tetap dihormati.
Internasional
| Jumat, 23 Januari 2026
Internasional

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.
Internasional
| Kamis, 21 Mei 2026
Feeds
Belgia Kirim 30 Tentara ke Greenland, Jaga Arktik dari Ambisi Trump
Belgia akan mengirim sekitar 30 personel militernya ke Greenland sebagai bagian dari misi NATO untuk memperkuat keamanan di kawasan Arktik. Pengerahan pasukan ini dilakukan di tengah pernyataan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang ingin menguasai Greenland.Pasukan Belgia dijadwalkan dikerahkan pada awal September dalam misi baru NATO bernama "Arctic Sentry". Misi tersebut bertujuan memperkuat kehadiran aliansi di kawasan Arktik, termasuk Greenland, Islandia, dan wilayah Samudra Arktik.Personel yang dikirim Belgia berasal dari Brigade ke-1 yang bermarkas di Leopoldsburg serta anggota Pasukan Khusus Belgia, dikutip dari Anadolu Agency.Dalam misi tersebut, pasukan Belgia akan menjalankan berbagai kegiatan pencegahan dan pelatihan. Mereka antara lain akan mengoperasikan pesawat nirawak atau drone serta menguji sistem untuk menangkal ancaman drone.Otoritas keamanan Belgia menyebut kondisi geografis Greenland yang luas menyediakan lingkungan yang sesuai untuk menjalankan berbagai latihan tersebut.Belgia akan memimpin operasi bersama sejumlah negara NATO lainnya, yakni Kanada, Denmark, Prancis, Finlandia, Belanda, Slovenia, dan Swedia.Menurut VTM, keterlibatan sejumlah negara tersebut juga dimaksudkan untuk mengirimkan pesan bahwa NATO memiliki kemampuan untuk menjaga keamanan kawasan Arktik, termasuk Greenland.Penguatan kehadiran NATO di Greenland berlangsung ketika isu mengenai masa depan wilayah otonom Denmark tersebut kembali menjadi sorotan setelah Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland.Trump bahkan menyebut penguasaan Greenland sebagai kepentingan historis dan strategis bagi Amerika Serikat.Greenland sendiri merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark. Letaknya yang strategis di kawasan Arktik membuat wilayah tersebut memiliki nilai penting bagi pertahanan dan keamanan negara-negara NATO.Selain kepentingan Amerika Serikat, NATO juga menilai kawasan Arktik semakin strategis seiring meningkatnya aktivitas dan kepentingan Rusia serta China di wilayah tersebut.Melalui misi Arctic Sentry, NATO berupaya meningkatkan pemantauan, kesiapsiagaan, serta kemampuan pertahanan di kawasan yang semakin penting secara geopolitik tersebut.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

AIPAC Pertimbangkan Kucurkan Puluhan Juta Dolar untuk Jegal Abdul El Sayed
American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dilaporkan mempertimbangkan untuk menggelontorkan puluhan juta dolar Amerika Serikat guna menghadang Abdul El Sayed, calon senator Muslim dari Partai Demokrat, dalam pemilihan paruh waktu pada November mendatang.Middle East Monitor (MEMO) melaporkan kelompok lobi pro-Israel tersebut mempertimbangkan untuk mendukung kandidat Senat dari Partai Republik, Mike Rogers, setelah kandidat yang mereka dukung sebelumnya, Haley Stevens, kalah dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di Michigan.Stevens kalah tipis dari El Sayed dalam primary tersebut. El Sayed dikenal vokal mengusung kebijakan yang berfokus pada pendidikan serta mengkritik kebijakan Israel.Mengutip New York Times, sejumlah donor dan sekutu AIPAC disebut telah mendorong organisasi tersebut untuk menginvestasikan puluhan juta dolar guna mendukung kampanye Rogers.Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final dari AIPAC terkait pendanaan tersebut. Organisasi itu memastikan upaya untuk menghadang El Sayed akan tetap berlanjut."Anggota kami tetap bertekad untuk memastikan bahwa para pemilih menentang Dr. El Sayed dan agenda anti-Israel radikalnya pada November mendatang," demikian pernyataan AIPAC.AIPAC merupakan salah satu kelompok lobi yang memiliki pengaruh besar dalam politik Amerika Serikat. Organisasi tersebut selama ini aktif mendukung kandidat politik yang dinilai pro-Israel untuk mempertahankan hubungan erat antara Washington dan Tel Aviv.Dalam pemilihan Senat Michigan sebelumnya, AIPAC bersama afiliasinya, United Democracy Project (UDP), menghabiskan sekitar US$32 juta untuk mempromosikan Stevens. Jumlah tersebut menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang pernah dikeluarkan kelompok tersebut dalam sebuah kontestasi politik.Namun, besarnya dana yang digelontorkan tidak mampu mengantarkan Stevens memenangi primary. Ia justru harus mengakui keunggulan El Sayed.Hasil sejumlah jajak pendapat sebelum primary juga menunjukkan citra AIPAC di Michigan tengah menghadapi tantangan.Sekitar 49 persen calon pemilih utama Partai Demokrat di Michigan dalam salah satu survei memandang negatif AIPAC. Hanya sekitar 12 persen yang memberikan penilaian positif terhadap organisasi tersebut.Survei lain menunjukkan 64 persen responden cenderung kurang mendukung kandidat politik yang menerima sumbangan dari AIPAC.Sementara itu, survei Pew Research Center yang dirilis April menunjukkan sekitar 60 persen warga Amerika Serikat memiliki pandangan negatif terhadap Israel.Sikap negatif tersebut terutama terlihat di kalangan pemilih muda serta sebagian pendukung Partai Demokrat. Perubahan opini publik itu terjadi di tengah meningkatnya kritik terhadap dukungan Amerika Serikat kepada Israel selama perang di Gaza.Kondisi tersebut turut menjadi tantangan bagi organisasi dan kandidat politik yang secara terbuka mengusung agenda pro-Israel dalam pemilu Amerika Serikat.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Diduga Pelajari Aksi Massal dari Internet
Polisi Thailand mengungkap adanya dugaan jejak pencarian internet yang dilakukan pelaku penembakan di sekolah Debsirin, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, sebelum melancarkan aksinya.Pelaku disebut sempat mencari dan mengakses sejumlah situs yang berkaitan dengan penembakan massal sebelum insiden terjadi pada Jumat (7/8).Dalam penyelidikan, polisi menyita sembilan komputer atau perangkat elektronik dari rumah tersangka. Perangkat tersebut kini diperiksa untuk mengungkap aktivitas dan kemungkinan motif pelaku sebelum melakukan penembakan.Serangan di sekolah tersebut menewaskan sedikitnya enam orang yang terdiri dari tiga siswa dan tiga guru. Pelaku kemudian tewas, diduga akibat bunuh diri.Polisi juga menduga pelaku terlebih dahulu membunuh kakek dan neneknya yang tinggal bersamanya sebelum pergi ke sekolah.Keduanya ditemukan tewas di rumah sebelum aksi penembakan berlangsung. Polisi menyebut pelaku menggunakan pistol milik kakeknya.Setelah membunuh kedua anggota keluarganya, pelaku kemudian pergi ke sekolah Debsirin Nonthaburi di pinggiran Bangkok. Di sekolah tersebut, ia menembak tiga guru dan tiga siswa.Dengan demikian, total korban tewas dalam rangkaian kejadian tersebut mencapai delapan orang, termasuk pelaku.Komandan Polisi Provinsi Nonthaburi, Letkol Dechrapee Kongdee, membenarkan bahwa pelaku meninggal akibat bunuh diri.Polisi menyebut pelaku melepaskan 26 tembakan dalam aksinya. Selain itu, sebanyak 34 butir amunisi lainnya ditemukan di lokasi kejadian.Kongdee mengatakan kepada BBC bahwa pelaku merupakan siswa kelas sembilan yang umumnya berusia sekitar 14 tahun.Hingga kini, kepolisian Thailand masih mendalami motif penembakan tersebut, termasuk aktivitas pelaku di internet sebelum serangan dan hubungan antara pencarian yang dilakukan dengan aksi kekerasan yang terjadi.Penyidik juga terus memeriksa perangkat elektronik yang disita dari rumah pelaku untuk mendapatkan informasi mengenai persiapan dan kemungkinan latar belakang aksi tersebut.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Gempa Guncang Ruang Operasi RS Jepang, Dokter Tetap Lanjutkan Bedah Pasien
Rekaman CCTV yang memperlihatkan suasana ruang operasi saat gempa bumi mengguncang sebuah rumah sakit di Jepang viral di media sosial. Dalam video tersebut, tim dokter terlihat berusaha melindungi pasien sembari tetap menjalankan prosedur operasi.Video tersebut dirilis media Jepang NHK pada Kamis (6/8). Rekaman CCTV Rumah Sakit Umum Kumamoto di Kota Yatsushiro, Prefektur Kumamoto, memperlihatkan momen ketika gempa mengguncang ruang operasi saat tim medis sedang melakukan prosedur bedah perut.Awalnya, para dokter terlihat fokus melakukan operasi terhadap seorang pasien yang terbaring di meja bedah.Situasi berubah ketika guncangan kuat tiba-tiba terjadi. Sejumlah peralatan medis terlihat bergoyang hingga jatuh dan nyaris mengenai pasien.Para dokter dan perawat langsung berusaha mengamankan pasien dari peralatan yang bergerak akibat guncangan. Salah seorang perawat bahkan terlihat terjatuh ketika berusaha membuka pintu untuk mengamankan jalur evakuasi.Meski gempa mengguncang ruang operasi, prosedur medis tetap dapat diselesaikan.Pihak Rumah Sakit Umum Kumamoto menyatakan terdapat empat operasi yang berlangsung ketika gempa terjadi. Seluruh prosedur tersebut berhasil diselesaikan dengan aman.Rumah sakit sempat menangguhkan layanan rawat jalan setelah gempa menyebabkan gangguan pada pasokan air dan membuat sejumlah peralatan medis tidak dapat digunakan.Operasional rumah sakit kemudian kembali berjalan pada Rabu (5/8), setelah pihak rumah sakit memastikan air sumur yang digunakan untuk kondisi darurat berada dalam kondisi layak.Namun, sejumlah fasilitas masih mengalami gangguan. Beberapa lift belum dapat digunakan dan rumah sakit juga masih menghadapi keterbatasan dalam menyediakan makanan bagi pasien.Direktur Rumah Sakit Umum Kumamoto, Dr. Shinya Shimada, mengatakan pihak rumah sakit tetap berupaya menjalankan pelayanan medis di tengah kondisi pascabencana."Namun, kami percaya bahwa dimulainya kembali layanan medis akan membawa ketenangan pikiran bagi masyarakat setempat. Kami ingin memenuhi misi rumah sakit," ucapnya.Gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto pada 28 Juli. Bencana tersebut menyebabkan lebih dari 30 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.Sebagian besar korban dilaporkan terluka atau meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Gempa juga memicu kebakaran dan menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah wilayah.Setelah gempa utama, Jepang masih mengalami sejumlah gempa susulan dengan magnitudo sekitar 3 hingga 4.Jepang merupakan salah satu negara yang paling rawan gempa di dunia karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik. Negara tersebut mengalami aktivitas gempa secara rutin.Jepang juga masih menghadapi dampak sejarah gempa besar berkekuatan magnitudo 9,0 pada 2011 yang memicu tsunami dan menyebabkan sekitar 18.500 orang meninggal atau hilang. Bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan parah pada pembangkit nuklir Fukushima.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

India Uji Tembak Rudal Agni-4 Berkemampuan Nuklir, Jangkauan 4.000 Km
India merampungkan uji tembak rudal balistik Agni-4 yang mampu membawa hulu ledak nuklir pada Kamis (6/8). Rudal tersebut memiliki jangkauan hingga 4.000 kilometer.Uji coba dilakukan di Integrated Test Range, Chandipur, lepas pantai Odisha. Dengan jangkauan tersebut, Agni-4 disebut dapat menjangkau sejumlah wilayah, termasuk China, Asia Tenggara, Asia Tengah, hingga Asia Barat."Uji coba itu dilakukan di bawah naungan Komando Pasukan Strategis (SFC)," demikian pernyataan resmi Kementerian Pertahanan India.Menteri Pertahanan India Rajnath Singh mengatakan peluncuran Agni-4 berhasil dilakukan dan mengapresiasi para ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan rudal tersebut."Peluncuran yang sempurna ini menegaskan kembali komitmen India untuk membela negara dengan teknologi canggih," kata Rajnath Singh.Komando Pasukan Strategis merupakan bagian dari Otoritas Komando Nuklir India. Lembaga tersebut bertanggung jawab atas pengelolaan dan penyediaan kemampuan nuklir strategis negara.Agni-4 dikembangkan oleh Defence Research and Development Organisation (DRDO). Rudal tersebut dapat membawa muatan nuklir maupun konvensional dan menjadi salah satu komponen dalam postur pencegahan strategis India.Agni-4 menggunakan sistem propelan padat dua tahap dan memiliki kapasitas muatan hingga 1.000 kilogram. Rudal tersebut diluncurkan menggunakan peluncur tandem bergerak yang memungkinkan sistem dikerahkan dengan cepat serta memiliki kemampuan bertahan dari serangan pendahuluan.Rudal yang sebelumnya dikenal dengan nama Agni-II Prime tersebut merupakan pengembangan dari rudal balistik jarak menengah Agni-II dengan jangkauan yang lebih jauh.India telah melakukan delapan kali uji terbang Agni-4 sejak pengujian pertama pada 2010.Pengembangan dan pengujian rudal tersebut menjadi bagian dari upaya India memperkuat kemampuan pencegahan strategisnya. India merupakan salah satu negara yang memiliki senjata nuklir.India pertama kali melakukan uji coba nuklir pada 18 Mei 1974 melalui operasi yang diberi nama Smiling Buddha.Namun, India baru secara resmi mendeklarasikan diri sebagai negara pemilik senjata nuklir setelah melakukan rangkaian uji coba lanjutan pada Mei 1998.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Pilot Malaysia Airlines Wajib Tes Narkoba Usai Rekannya Ditangkap di RI
Malaysia Aviation Group (MAG) memberlakukan pemeriksaan narkoba wajib bagi seluruh pilot di bawah naungannya setelah salah satu pilot Malaysia Airlines ditangkap otoritas Indonesia karena diduga menyelundupkan narkotika.Dalam pernyataan pada Jumat (7/8), MAG mengatakan tahap pertama pemeriksaan telah dimulai terhadap 1.260 pilot Malaysia Airlines. Proses pemeriksaan tersebut ditargetkan selesai pada 15 Agustus mendatang."Pilot yang tidak menyelesaikan pemeriksaan pada tanggal yang ditentukan tidak akan mengoperasikan penerbangan sampai mereka dinyatakan lolos sesuai dengan prosedur dan persyaratan peraturan MAG," demikian pernyataan grup tersebut.MAG selanjutnya akan memperluas pemeriksaan narkoba wajib terhadap seluruh pilot aktif, termasuk awak kabin.Kebijakan tersebut diterapkan setelah pilot Malaysia Airlines bernama Mohd Saufi bin Othman ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta pada 28 Juli. Ia diduga menyelundupkan narkotika berupa sabu dan ekstasi.Pria berusia 39 tahun itu ditangkap di pintu masuk Terminal 3 setelah petugas Bea Cukai menemukan 14 paket besar berisi sekitar 70 ribu pil ekstasi serta satu paket sabu di dalam kopernya melalui pemeriksaan X-ray.Dalam pemeriksaan, Mohd Saufi yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka mengaku diperintahkan seseorang untuk membawa sabu ke Jakarta. Ia disebut dijanjikan imbalan RM50.000.Penyidik kemudian menemukan botol kecil berisi urine yang dibawa tersangka. Botol tersebut diduga disiapkan sebagai antisipasi apabila sewaktu-waktu dilakukan pemeriksaan narkoba.Namun, botol tersebut belum digunakan saat Mohd Saufi menjalani tes urine. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia positif mengonsumsi tiga jenis narkotika, yakni sabu, ekstasi, dan kokain.MAG menegaskan Mohd Saufi tidak sedang bertugas ketika ditangkap. Ia disebut sedang menjalani masa cuti dan berada di kursi kokpit sebagai pengamat."Individu yang bersangkutan adalah seorang Perwira Kedua yang duduk di kursi kokpit sebagai pengamat dan bukan pilot yang menerbangkan pesawat. Individu tersebut juga sedang tidak bertugas selama dua hari sebelum insiden tersebut," tulis MAG tanpa menyebut identitas tersangka dalam pernyataannya.MAG memastikan pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH727 saat itu dioperasikan oleh pilot yang memenuhi persyaratan.Meski demikian, MAG menegaskan tindakan pilot tersebut tidak dapat ditoleransi dan bertentangan dengan standar profesional perusahaan."Keselamatan operasional dan kesiapan awak pesawat untuk bertugas adalah hal yang tidak dapat ditawar di MAG. Kami menanggapi serius setiap pelanggaran standar keselamatan kami dan telah bertindak cepat untuk meningkatkan pemeriksaan narkoba wajib di seluruh pilot aktif kami," kata Presiden dan CEO Grup MAG, Kapten Nasaruddin A Bakar."Meskipun insiden langka ini tidak mencerminkan profesionalisme sebagian besar karyawan kami, kami akan terus memperkuat pengamanan kami untuk menjaga kepercayaan penumpang dan pemangku kepentingan kami," lanjutnya.MAG merupakan grup perusahaan yang mengoperasikan Malaysia Airlines. Selain itu, grup tersebut juga menaungi maskapai penerbangan jarak pendek Firefly serta layanan penerbangan haji dan umrah, Amal.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Aktivis Sayap Kiri Israel Geruduk Kantor Partai Smotrich, Protes Kekerasan Pemukim
Sejumlah aktivis sayap kiri Israel dari kelompok Standing Together menggelar aksi protes di kantor Partai Zionisme Religius di Shoham, sebelah timur Tel Aviv, pada Rabu (5/8).Para demonstran menuding partai yang dipimpin Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich tersebut mendukung dan mendanai kekerasan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat.Dalam aksinya, para aktivis mengenakan pakaian putih yang dilumuri warna merah. Mereka juga mengangkat tangan yang diberi warna merah serta membawa poster berbahasa Ibrani dan Arab."Keuangan Smotrich, para pemukim membakar (segala sesuatu), darah ada di tangan pemerintah," demikian slogan yang disampaikan para demonstran, seperti dikutip Times of Israel.Standing Together menilai Smotrich memiliki peran penting dalam mendukung perluasan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Selain menjabat sebagai Menteri Keuangan, Smotrich juga memegang posisi sebagai menteri di Kementerian Pertahanan yang berkaitan dengan urusan permukiman.Kelompok tersebut menilai sejumlah serangan terhadap warga Palestina berasal dari pos-pos permukiman terpencil yang dianggap ilegal.Dalam video yang dibagikan Standing Together, para demonstran terlihat duduk membelakangi pintu kaca kantor sambil meneriakkan slogan "Darah ada di tangan pemerintah". Dari dalam kantor, sejumlah pegawai partai terlihat merekam aksi tersebut."Menteri Keuangan Smotrich membiayai pos-pos terdepan tempat (para pemukim ekstremis) pergi untuk membakar desa-desa, guna mengusir orang-orang dari rumah mereka. Selama teror para pemukim berlanjut, kita tidak akan memiliki keamanan. Kita tidak akan berhenti berjuang sampai itu berhenti. Hanya perdamaian yang akan membawa keamanan," teriak salah seorang demonstran.Melalui unggahan di media sosial X, Standing Together mengatakan aksi tersebut dilakukan karena Partai Zionisme Religius dinilai mendukung kekerasan terhadap warga Palestina."Kami tiba pagi ini di markas besar partai Zionisme Religius, sebuah partai yang mentransfer dana dan mendukung kegiatan pertanian teror di Tepi Barat. Menteri Keuangan Smotrich mentransfer uang warga Israel ke teror pemukim yang membakar desa-desa, merampas dan mengusir orang-orang dari tanah dan rumah mereka, dan membakar masa depan kita," kata kelompok tersebut."Warga Palestina adalah korban dari kebijakan ini, tetapi begitu juga kita, warga Israel. Dengan uang kita, mereka mendanai teror alih-alih mengurus kesejahteraan dan rehabilitasi kita. Kami tidak akan berhenti berjuang sampai mereka membongkar pertanian [pos terdepan] dan menghentikan teror. Sampai tercipta perdamaian Israel-Palestina," lanjutnya.Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat dilaporkan meningkat dalam beberapa tahun terakhir.Smotrich diketahui menjadi salah satu tokoh yang mendorong perluasan permukiman Israel di Tepi Barat. Ia juga pernah menyatakan bahwa menyamakan serangan pemukim dengan teror terhadap warga Israel merupakan tindakan yang "salah secara moral".Smotrich telah menjadi sasaran sejumlah sanksi internasional terkait meningkatnya kekerasan pemukim terhadap warga Palestina.Sementara itu, Partai Zionisme Religius membantah tudingan tersebut dan menuding para demonstran sebagai "aktivis sayap kiri ekstrem" yang berusaha menyerbu kantor partai secara paksa.Partai tersebut mengatakan staf mereka sempat terjebak di dalam kantor dan diminta tidak meninggalkan gedung. Mereka juga mengklaim para demonstran akhirnya dibubarkan polisi.Namun, kepolisian menyatakan petugas tiba di lokasi beberapa menit setelah menerima laporan, tetapi para demonstran sudah meninggalkan tempat tersebut."Polisi tidak akan mengizinkan hasutan, kekerasan, atau pelanggaran hukum apa pun yang dilakukan dengan kedok protes," demikian pernyataan kepolisian.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Pilot Malaysia Airlines Ditangkap Bawa Narkoba ke RI Ternyata Sedang Cuti
Malaysia Aviation Group (MAG) mengungkap pilot Malaysia Airlines yang ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena kasus penyelundupan narkoba ternyata sedang tidak bertugas saat ditangkap.Pilot tersebut diketahui sedang menjalani masa cuti. Ia berada di dalam kokpit pesawat sebagai pengamat saat penerbangan lepas landas dari Malaysia menuju Indonesia."Individu yang bersangkutan juga sedang tidak bertugas selama dua hari sebelum insiden terjadi," demikian pernyataan MAG, seperti dikutip Sinar Harian, Jumat (7/8).MAG menegaskan pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH727 yang dinaiki pilot tersebut tetap dioperasikan secara aman. Penerbangan tersebut dijalankan oleh dua pilot yang memenuhi persyaratan untuk mengoperasikan pesawat."Namun, tindakan individu terkait sama sekali tidak dapat diterima dan bertentangan dengan standar profesional yang ditetapkan untuk staf," demikian pernyataan MAG, seperti dikutip Berita Harian.Pilot Malaysia Airlines bernama Mohd Saufi bin Othman ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (28/7). Ia diduga menyelundupkan narkotika berupa sabu dan ekstasi.Pria berusia 39 tahun tersebut ditangkap di pintu masuk Terminal 3 setelah petugas Bea Cukai menemukan narkotika di dalam kopernya melalui pemeriksaan X-ray.Petugas menemukan 14 paket besar berisi sekitar 70 ribu pil ekstasi serta satu paket sabu.Dalam pemeriksaan, Mohd Saufi yang kini telah ditetapkan sebagai tersangka mengaku diperintahkan seseorang membawa narkotika ke Jakarta. Ia disebut dijanjikan imbalan sebesar RM50.000.Pengembangan kasus juga mengungkap temuan botol kecil berisi urine yang dibawa tersangka. Botol tersebut diduga disiapkan untuk mengantisipasi pemeriksaan narkoba.Namun, botol tersebut belum digunakan ketika Mohd Saufi menjalani tes urine. Hasil pemeriksaan menunjukkan dirinya positif mengonsumsi tiga jenis narkotika, yakni sabu, ekstasi, dan kokain.Menurut otoritas Malaysia, Mohd Saufi sempat melewati sejumlah pemeriksaan berlapis di Bandara Internasional Kuala Lumpur sebelum bertolak menuju Jakarta.Menanggapi kasus tersebut, MAG menyatakan akan memperketat pengawasan terhadap pilot dan awak kabin Malaysia Airlines.MAG akan menerapkan pemeriksaan narkoba wajib bagi seluruh pilot dan awak kabin. Selain itu, penyaringan terhadap seluruh pilot aktif juga akan diperketat untuk mencegah kejadian serupa.Para pilot juga akan menjalani tes IMSAFER untuk menilai kesiapan fisik dan mental dalam menjalankan tugas. Pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari penyakit, pengobatan, stres, alkohol, kelelahan, kondisi emosional, hingga frekuensi pelatihan.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Diduga Bunuh Kakek-Nenek Sebelum Beraksi
Pelaku penembakan di sekolah elite Debsirin Nonthaburi, Distrik Bang Kruai, Provinsi Nonthaburi, Thailand, diduga membunuh kakek dan neneknya sebelum melancarkan aksi penembakan di sekolah pada Jumat (7/8).Kepolisian Thailand menyatakan kakek dan nenek pelaku ditemukan tewas di rumah mereka. Rumah tersebut diketahui menjadi tempat tinggal pelaku.Keduanya diduga dibunuh sebelum pelaku berangkat ke sekolah dan melakukan penembakan.Dengan demikian, total korban tewas dalam rangkaian aksi tersebut mencapai delapan orang. Pelaku diduga terlebih dahulu menembak kakek dan neneknya menggunakan pistol milik sang kakek.Setelah itu, pelaku pergi menuju sekolahnya, Debsirin Nonthaburi, yang berada di kawasan pinggiran Bangkok.Di sekolah tersebut, pelaku diduga menembak tiga guru dan tiga siswa hingga tewas.Komandan Polisi Provinsi Nonthaburi Letnan Kolonel Dechrapee Kongdee membenarkan bahwa pelaku kemudian mengakhiri hidupnya.Kepolisian menyebut pelaku merupakan seorang siswa. Sebanyak 26 butir peluru telah ditembakkan, sementara 34 butir amunisi lainnya ditemukan di lokasi kejadian.Kongdee mengatakan kepada BBC bahwa pelaku merupakan siswa kelas sembilan yang umumnya berusia sekitar 14 tahun.Polisi Thailand hingga kini masih menyelidiki motif penembakan tersebut. Penyelidikan dilakukan untuk mengetahui alasan pelaku melakukan penembakan yang menewaskan delapan orang.Peristiwa ini menjadi penembakan sekolah kedua yang terjadi di Thailand sepanjang 2026. Sebelumnya, pada Februari, seorang guru tewas dan seorang siswa terluka dalam insiden penembakan di wilayah selatan Thailand.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026

Iran Ancam Bikin Negara Teluk Gelap Jika Pembangkit Listrik Diserang AS-Israel
Iran mengancam akan memadamkan listrik di sejumlah negara Teluk jika Amerika Serikat atau Israel menyerang pembangkit listrik di Teheran.Ancaman tersebut disampaikan Iran melalui perantara kepada sejumlah negara Arab setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.Dua pejabat negara Arab mengatakan kepada AFP bahwa Iran secara khusus mengancam negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat."Iran mengancam akan memadamkan listrik di negara-negara Teluk, satu per satu, jika Trump menyerang pembangkit listriknya," kata salah satu pejabat tersebut, yang kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Arab lainnya.Kedua pejabat tersebut berbicara kepada AFP dengan syarat anonim karena membahas persoalan yang sensitif.Ancaman Iran muncul setelah Trump sebelumnya menyatakan rencana untuk melancarkan "serangan terbesar sejak Perang Dunia II" terhadap Iran. Infrastruktur energi disebut-sebut menjadi salah satu kemungkinan sasaran serangan.Iran kemudian menyampaikan pesan kepada negara-negara Teluk bahwa pembangkit listrik mereka akan menjadi sasaran Teheran apabila ancaman serangan Amerika Serikat benar-benar direalisasikan.Sejumlah negara Arab kemudian berupaya mencegah eskalasi konflik. Pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar dilaporkan menghubungi Trump untuk memintanya menahan diri dan tidak melanjutkan rencana serangan tersebut.Ancaman Iran disebut berbeda dari peringatan-peringatan sebelumnya. Salah satu pejabat Arab menyebut ancaman kali ini sangat serius.Jika benar terjadi, serangan terhadap fasilitas energi negara-negara Teluk berpotensi memperluas konflik dan berdampak terhadap pasokan listrik serta infrastruktur energi di kawasan.Rencana serangan Trump sendiri pada akhirnya tidak dilakukan setelah negara-negara Arab turun tangan untuk meredakan ketegangan.Situasi tersebut menunjukkan bahwa ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran berpotensi memicu respons yang lebih luas, termasuk terhadap negara-negara Teluk yang memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat.
Internasional
| Sabtu, 8 Agustus 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut. Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu. Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur. Penangkapan Maduro dan Proses Hukum Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan. Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu. Reaksi Internasional dan Dampak Politik Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional. Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru. Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.
Internasional
| Sabtu, 17 Januari 2026
Internasional

Eropa Siapkan Kesepakatan Empat Poin dengan AS soal Greenland
PIFA, Internasional - Para pemimpin Eropa tengah mempersiapkan kesepakatan kerja sama empat poin dengan Amerika Serikat terkait Greenland. Rencana tersebut dibahas dalam sebuah pertemuan informal, sebagaimana dilaporkan Politico pada Kamis, mengutip sejumlah pejabat Eropa. Menurut laporan itu, poin pertama kesepakatan mencakup revisi perjanjian pertahanan tahun 1951 antara Amerika Serikat dan Denmark. Revisi tersebut termasuk penyesuaian terhadap sistem pertahanan rudal Golden Dome yang diusulkan Presiden AS Donald Trump. Poin kedua menyangkut komitmen negara-negara Eropa untuk meningkatkan kontribusi terhadap keamanan regional. Langkah ini disebut dapat mencakup potensi penugasan misi NATO di kawasan tersebut. Namun, terdapat perbedaan pandangan di kalangan pejabat Eropa terkait dua poin lainnya. Salah satu sumber menyebutkan bahwa poin tersebut mencakup kesepakatan penghapusan tarif secara timbal balik serta pembentukan badan pengawas guna memantau hak eksplorasi. Sementara itu, sumber lain menilai dua poin tersebut lebih mencerminkan ekspektasi yang dinilai tidak realistis dari sejumlah negara anggota Uni Eropa. Isu Greenland kembali mengemuka seiring pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali menyebut Amerika Serikat perlu mengendalikan wilayah tersebut. Trump beralasan, posisi strategis Greenland penting bagi kepentingan keamanan nasional AS. Greenland sendiri merupakan wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Otoritas Denmark dan Greenland telah memperingatkan Washington agar tidak mengambil alih pulau tersebut, sembari menegaskan harapan agar integritas teritorial mereka tetap dihormati.
Internasional
| Jumat, 23 Januari 2026
Internasional

Profil 3 Korban Tewas Penembakan Massal di Masjid San Diego
Peristiwa penembakan di San Diego Islamic Center yang menewaskan lima orang termasuk dua pelaku memicu kecaman luas di Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa “mengerikan”. Polisi menduga dua pelaku tewas akibat bunuh diri setelah ditemukan di dalam mobil beberapa blok dari lokasi kejadian. Wali Kota San Diego Todd Gloria menegaskan kebencian tidak memiliki tempat di kota tersebut dan memastikan perlindungan terhadap komunitas Muslim akan diperkuat. Direktur San Diego Islamic Center, Imam Taha Hassane, juga mengecam keras serangan tersebut dan menyebut penargetan tempat ibadah sebagai tindakan yang keterlaluan. Berikut profil tiga korban yang tewas dalam penembakan tersebut: 1. Mansour Kaziha Mansour Kaziha atau dikenal sebagai Abu Ezz berusia 78 tahun dan merupakan sosok senior di lingkungan masjid. Ia disebut sempat menghubungi polisi sebelum akhirnya tewas ditembak. Pria asal Suriah itu telah menikah dan memiliki lima anak. Ketua dewan masjid Ahmed Shabaik menyebut Kaziha sebagai pilar penting masjid sejak dibangun pada 1980-an. Selain mengelola toko suvenir masjid, ia juga aktif menyiapkan makanan buka puasa dan sahur selama Ramadan. 2. Nader Awad Nader Awad berusia 57 tahun dan tinggal di seberang kompleks pusat Islam tersebut. Ia dikenal rutin melaksanakan salat di masjid setiap hari. Saat mendengar suara tembakan, Awad berlari menuju gedung sekolah tempat istrinya mengajar untuk membantu para korban. Imam Taha Hassane menyebut Awad sebagai anggota komunitas Muslim yang sangat taat dan peduli terhadap keselamatan orang lain. 3. Abdullah Abdullah merupakan petugas keamanan di kompleks masjid dan disebut memiliki delapan anak. Kepala Kepolisian San Diego Scott Wahl mengatakan tindakan Abdullah sangat heroik dan diyakini berhasil menyelamatkan banyak nyawa dalam insiden tersebut. Putrinya, Hawaa Abdullah, menggambarkan ayahnya sebagai sosok penyayang, suportif, dan sangat serius menjalankan tugas menjaga keamanan masjid. Menurut Hawaa, sang ayah bahkan kerap menunda makan saat bekerja karena takut sesuatu yang buruk terjadi ketika dirinya sedang beristirahat.





