Internasional
Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026

Trending
Trump Klaim Iran Minta Maaf ke Negara-negara Timur Tengah Usai Serangan AS-Israel
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026

Menlu Sugiono Tegaskan Komitmen Indonesia pada Pelucutan Senjata di Sidang Dewan HAM PBB
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026

Parlemen Inggris Desak Penguatan Pertahanan Mandiri, Kurangi Ketergantungan pada AS
Internasional
| Jumat, 27 Maret 2026

AS Buka Peluang Negosiasi dengan Iran, Trump Dorong Kesepakatan Damai
Internasional
| Sabtu, 28 Maret 2026

AS Disebut Diam-diam Kumpulkan Data Militer Greenland
Internasional
| Senin, 19 Januari 2026

Iran Ancam Balasan Jika Fasilitas Energi Diserang, AS Ultimatum Soal Selat Hormuz
Internasional
| Sabtu, 21 Maret 2026

Stok Menipis, AS Disebut Telah Luncurkan Lebih dari 850 Rudal Tomahawk ke Iran
Internasional
| Jumat, 27 Maret 2026

Indonesia–AS Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan ke Level Kemitraan Utama
Internasional
| Selasa, 14 April 2026

Penasihat Trump Desak AS Segera Cari Jalan Keluar dari Konflik dengan Iran
Internasional
| Selasa, 10 Maret 2026

Kemlu RI Dorong Penyelidikan Ledakan Tugboat Musaffah 2 di Selat Hormuz, Libatkan WNI
Internasional
| Minggu, 8 Maret 2026

Berita Terbaru
Internasional

FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global “W3LL”, Ribuan Korban Terdampak
Kantor Cabang Federal Bureau of Investigation (FBI) di Atlanta bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil menuntaskan penyelidikan bersama selama beberapa tahun yang berujung pada pembongkaran jaringan phishing global canggih. Dalam keterangan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Kamis, disebutkan bahwa penyelidikan ini menjadi kolaborasi siber pertama antara Amerika Serikat dan Indonesia yang secara khusus menargetkan pengembang perangkat phishing bernama “W3LL”. Kepala Agen Khusus FBI Atlanta, Marlo Graham, menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar penipuan biasa, melainkan sebuah ekosistem kejahatan siber yang terorganisir. “Ini bukan sekadar phishing—ini adalah platform kejahatan siber yang lengkap. Dan kami akan terus bekerja sama dengan mitra penegak hukum dalam dan luar negeri untuk melindungi masyarakat,” ujarnya. Operasi tersebut berhasil mengamankan tersangka pengembang berinisial G.L. oleh Polri, sekaligus melaksanakan penggeledahan yang menghasilkan penyitaan berbagai aset serta perangkat keras berisi bukti penting terkait ribuan target di seluruh dunia. Infrastruktur phishing ini didukung oleh pasar daring bernama “W3LLSTORE”. Dalam periode 2019 hingga 2023, platform tersebut memfasilitasi penjualan lebih dari 25.000 akun yang diretas serta akses ilegal ke berbagai sistem. Bahkan, hanya dalam kurun 2023 hingga 2024, perangkat phishing itu digunakan untuk menargetkan lebih dari 17.000 korban di hampir seluruh benua. Secara keseluruhan, pengembang W3LL diduga memfasilitasi pencurian ribuan kredensial akun serta mencoba melakukan transaksi penipuan dengan nilai lebih dari 20 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar. Perwakilan FBI, Robert Lafferty, menjelaskan bahwa keberhasilan operasi ini merupakan hasil kerja sama erat antara tim siber FBI Atlanta, Bareskrim Polri, dan Kepolisian Nusa Tenggara Timur di Kupang. “Sementara FBI memantau jejak digital dan melacak aliran dana di Amerika Serikat, Polri melakukan operasi lapangan yang krusial untuk melacak pelaku dan mengumpulkan bukti digital,” ujar Lafferty dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (22/4). Pengungkapan kasus ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks dan berskala global.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026
Internasional

PM Jepang Sanae Takaichi Keluhkan Kurang Tidur di Tengah Padatnya Tugas
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengeluhkan kurangnya waktu istirahat akibat padatnya aktivitas sebagai kepala pemerintahan. Keluhan tersebut disampaikan Takaichi saat bertemu dengan politikus senior Jepang, Akira Amari, di kantornya pada Kamis. “Saya ingin tidur sedikit lebih lama,” ujar Takaichi kepada Amari, yang juga dikenal sebagai mantan menteri perdagangan sekaligus ajudan dekat mendiang Shinzo Abe. Takaichi, yang kini berusia 65 tahun, baru menjabat sebagai perdana menteri selama enam bulan setelah memenangkan pemilu pada Oktober 2025. Kemenangannya mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Jepang. Sejak awal masa jabatannya, ia mengusung slogan “bekerja, bekerja, dan bekerja” sebagai komitmen terhadap tugas negara. Namun, padatnya aktivitas membuat waktu istirahatnya sangat terbatas. Dalam rapat komite parlemen awal April, Takaichi mengakui bahwa waktu tidurnya “cukup singkat” karena harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan tugas pemerintahan. Ia juga berupaya membawa pekerjaan ke kediaman resminya agar tetap produktif, meski hal tersebut berdampak pada pola hidupnya. Takaichi diketahui telah pindah ke kediaman resmi perdana menteri bersama suaminya sejak akhir tahun lalu. Selain masalah tidur, ia juga sempat mengeluhkan keterbatasan dalam hal makanan. Pada Februari lalu, Takaichi menyebut dirinya tidak diperbolehkan berbelanja atau memesan makanan dari kediaman resmi. “Jika saya kehabisan makanan beku, tamatlah sudah,” ujarnya saat itu. Usai pertemuan, Amari menyampaikan kepada wartawan bahwa Takaichi juga menyinggung kesulitan dalam mengatur waktu makan di tengah kesibukan yang sangat tinggi. Kondisi ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi pemimpin Jepang tersebut dalam menyeimbangkan tanggung jawab negara dengan kebutuhan pribadi sehari-hari.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026
Internasional

Menlu Tegaskan Indonesia Tak Akan Kenakan Tarif di Selat Malaka
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Malaka karena bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan itu disampaikan Sugiono dalam wawancara singkat di Jakarta, Kamis, saat merespons wacana terkait kemungkinan pengenaan tarif di jalur pelayaran strategis tersebut. Menurutnya, Indonesia tetap berkomitmen menghormati United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang menjadi dasar pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia menjelaskan, dalam ketentuan UNCLOS, negara kepulauan tidak diperkenankan memberlakukan tarif di selat-selat yang menjadi jalur pelayaran internasional. Sugiono juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran serta kelancaran arus lalu lintas laut yang saling menguntungkan bagi semua negara. “Kita juga berharap ada lintasan yang bebas dan saya kira itu semua adalah komitmen banyak negara untuk bisa menciptakan satu jalur pelayaran yang bebas, yang netral, dan saling mendukung,” ujarnya. Ia pun menegaskan kembali posisi Indonesia. “Jadi, tidak. Indonesia tidak pada posisi untuk melakukan itu (memberlakukan tarif di Selat Malaka),” kata Sugiono. Sebelumnya, Menteri Keuangan RI, Purbaya Sadewa, sempat mewacanakan kemungkinan pengenaan tarif bagi kapal yang melintas di selat tersebut. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, juga menegaskan pentingnya menjaga Selat Malaka tetap terbuka bagi pelayaran internasional. “Hak untuk melintas dijamin untuk semua negara. Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan bea masuk di wilayah sekitar kami,” ujarnya. Sebagai informasi, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan diakui sebagai jalur internasional yang sah berdasarkan ketentuan Pasal 37, 38, dan 39 UNCLOS yang telah diratifikasi Indonesia.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026
Berita Populer
Internasional

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026
Internasional

Trump Klaim Iran Minta Maaf ke Negara-negara Timur Tengah Usai Serangan AS-Israel
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah setelah menghadapi serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel. Trump menyampaikan pernyataan tersebut melalui media sosial miliknya, Truth Social, pada Sabtu (7/3). "Iran, yang sedang dihantam habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka," tulis Trump. Ia juga mengeklaim bahwa ini merupakan pertama kalinya dalam ribuan tahun Iran mengalami kekalahan dari negara-negara di kawasan tersebut. "Mereka mengatakan 'terima kasih Presiden Trump' dan saya menjawab 'sama-sama'," ujarnya. Menurut Trump, Iran kini tidak lagi mampu menjadi "perundung" di kawasan Timur Tengah. Ia menilai negara tersebut telah kalah dan kondisinya akan tetap seperti itu selama beberapa dekade hingga akhirnya menyerah. Sementara itu, kantor berita Rusia RIA Novosti melaporkan bahwa Trump juga mengisyaratkan rencana serangan besar terhadap Iran pada Sabtu. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump bahkan mengancam akan melakukan "penghancuran total" terhadap sejumlah wilayah dan kelompok yang sebelumnya tidak menjadi target serangan. "Hari ini Iran akan dihantam sangat keras. Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dipertimbangkan untuk dihancurkan sepenuhnya," tulisnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah di Teheran maupun dari negara-negara Teluk terkait klaim Trump tersebut. Namun sebelumnya, Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menegaskan bahwa Iran akan terus membela diri hingga agresi dan "tindakan barbar Amerika Serikat dan Israel" dihentikan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 900 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 165 siswi sekolah. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi-lokasi yang berkaitan dengan aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026
Internasional

Menlu Sugiono Tegaskan Komitmen Indonesia pada Pelucutan Senjata di Sidang Dewan HAM PBB
PIFA, Internasional - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan Indonesia tetap berkomitmen pada pelucutan senjata multilateral sebagai pilar perdamaian dan keamanan internasional di tengah meningkatnya ketegangan global. "Kami percaya komitmen ini bukanlah idealisme. Ini adalah keniscayaan," kata Sugiono dalam Sidang ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Senin (23/2), sebagaimana dikutip dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri. Ia menyatakan situasi global saat ini lebih berbahaya, tidak pasti, dan terpolarisasi dibandingkan tahun lalu karena banyak negara beralih ke pendekatan defensif. Menurutnya, hukum internasional dan lembaga multilateral juga menghadapi tekanan yang semakin besar. Sugiono menilai lanskap pelucutan senjata global tidak hanya stagnan, tetapi juga mengalami kemunduran. "Lebih dari 12.000 hulu ledak masih ada. Program modernisasi meningkat, persenjataan diperluas, dan retorika nuklir semakin sering serta mengkhawatirkan," ujarnya. Ia menambahkan berakhirnya New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) — perjanjian terakhir pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia — menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan. "Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada batasan yang disepakati atas kekuatan nuklir strategis mereka," kata Sugiono. Selain itu, ia menyoroti perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), kemampuan siber, dan ruang angkasa yang dinilai dapat menambah risiko eskalasi tanpa pengaman yang jelas. "Upaya pelucutan senjata multilateral harus sejalan dengan realitas ini," ujarnya. Sidang ke-61 Dewan HAM PBB ini merupakan sidang pertama yang dipimpin Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Sidharto R. Suryodipuro, sejak badan tersebut dibentuk pada 2006. Sidang berlangsung pada 23 Februari hingga 31 Maret. Selama masa kepemimpinan Indonesia, sejumlah isu tematis diangkat, antara lain pencegahan sunat perempuan, promosi budaya perdamaian, pembiayaan pembangunan berkelanjutan, hak penyandang disabilitas, serta hak anak.
Internasional
| Senin, 23 Februari 2026
Feeds
FBI dan Polri Bongkar Jaringan Phishing Global “W3LL”, Ribuan Korban Terdampak
Kantor Cabang Federal Bureau of Investigation (FBI) di Atlanta bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berhasil menuntaskan penyelidikan bersama selama beberapa tahun yang berujung pada pembongkaran jaringan phishing global canggih. Dalam keterangan Kedutaan Besar AS di Jakarta, Kamis, disebutkan bahwa penyelidikan ini menjadi kolaborasi siber pertama antara Amerika Serikat dan Indonesia yang secara khusus menargetkan pengembang perangkat phishing bernama “W3LL”. Kepala Agen Khusus FBI Atlanta, Marlo Graham, menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar penipuan biasa, melainkan sebuah ekosistem kejahatan siber yang terorganisir. “Ini bukan sekadar phishing—ini adalah platform kejahatan siber yang lengkap. Dan kami akan terus bekerja sama dengan mitra penegak hukum dalam dan luar negeri untuk melindungi masyarakat,” ujarnya. Operasi tersebut berhasil mengamankan tersangka pengembang berinisial G.L. oleh Polri, sekaligus melaksanakan penggeledahan yang menghasilkan penyitaan berbagai aset serta perangkat keras berisi bukti penting terkait ribuan target di seluruh dunia. Infrastruktur phishing ini didukung oleh pasar daring bernama “W3LLSTORE”. Dalam periode 2019 hingga 2023, platform tersebut memfasilitasi penjualan lebih dari 25.000 akun yang diretas serta akses ilegal ke berbagai sistem. Bahkan, hanya dalam kurun 2023 hingga 2024, perangkat phishing itu digunakan untuk menargetkan lebih dari 17.000 korban di hampir seluruh benua. Secara keseluruhan, pengembang W3LL diduga memfasilitasi pencurian ribuan kredensial akun serta mencoba melakukan transaksi penipuan dengan nilai lebih dari 20 juta dolar AS atau sekitar Rp350 miliar. Perwakilan FBI, Robert Lafferty, menjelaskan bahwa keberhasilan operasi ini merupakan hasil kerja sama erat antara tim siber FBI Atlanta, Bareskrim Polri, dan Kepolisian Nusa Tenggara Timur di Kupang. “Sementara FBI memantau jejak digital dan melacak aliran dana di Amerika Serikat, Polri melakukan operasi lapangan yang krusial untuk melacak pelaku dan mengumpulkan bukti digital,” ujar Lafferty dalam konferensi pers di Mabes Polri, Rabu (22/4). Pengungkapan kasus ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam menghadapi ancaman kejahatan siber yang semakin kompleks dan berskala global.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026

PM Jepang Sanae Takaichi Keluhkan Kurang Tidur di Tengah Padatnya Tugas
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengeluhkan kurangnya waktu istirahat akibat padatnya aktivitas sebagai kepala pemerintahan. Keluhan tersebut disampaikan Takaichi saat bertemu dengan politikus senior Jepang, Akira Amari, di kantornya pada Kamis. “Saya ingin tidur sedikit lebih lama,” ujar Takaichi kepada Amari, yang juga dikenal sebagai mantan menteri perdagangan sekaligus ajudan dekat mendiang Shinzo Abe. Takaichi, yang kini berusia 65 tahun, baru menjabat sebagai perdana menteri selama enam bulan setelah memenangkan pemilu pada Oktober 2025. Kemenangannya mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Jepang. Sejak awal masa jabatannya, ia mengusung slogan “bekerja, bekerja, dan bekerja” sebagai komitmen terhadap tugas negara. Namun, padatnya aktivitas membuat waktu istirahatnya sangat terbatas. Dalam rapat komite parlemen awal April, Takaichi mengakui bahwa waktu tidurnya “cukup singkat” karena harus membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan tugas pemerintahan. Ia juga berupaya membawa pekerjaan ke kediaman resminya agar tetap produktif, meski hal tersebut berdampak pada pola hidupnya. Takaichi diketahui telah pindah ke kediaman resmi perdana menteri bersama suaminya sejak akhir tahun lalu. Selain masalah tidur, ia juga sempat mengeluhkan keterbatasan dalam hal makanan. Pada Februari lalu, Takaichi menyebut dirinya tidak diperbolehkan berbelanja atau memesan makanan dari kediaman resmi. “Jika saya kehabisan makanan beku, tamatlah sudah,” ujarnya saat itu. Usai pertemuan, Amari menyampaikan kepada wartawan bahwa Takaichi juga menyinggung kesulitan dalam mengatur waktu makan di tengah kesibukan yang sangat tinggi. Kondisi ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi pemimpin Jepang tersebut dalam menyeimbangkan tanggung jawab negara dengan kebutuhan pribadi sehari-hari.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026

Menlu Tegaskan Indonesia Tak Akan Kenakan Tarif di Selat Malaka
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas di Selat Malaka karena bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan itu disampaikan Sugiono dalam wawancara singkat di Jakarta, Kamis, saat merespons wacana terkait kemungkinan pengenaan tarif di jalur pelayaran strategis tersebut. Menurutnya, Indonesia tetap berkomitmen menghormati United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) yang menjadi dasar pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan. Ia menjelaskan, dalam ketentuan UNCLOS, negara kepulauan tidak diperkenankan memberlakukan tarif di selat-selat yang menjadi jalur pelayaran internasional. Sugiono juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran serta kelancaran arus lalu lintas laut yang saling menguntungkan bagi semua negara. “Kita juga berharap ada lintasan yang bebas dan saya kira itu semua adalah komitmen banyak negara untuk bisa menciptakan satu jalur pelayaran yang bebas, yang netral, dan saling mendukung,” ujarnya. Ia pun menegaskan kembali posisi Indonesia. “Jadi, tidak. Indonesia tidak pada posisi untuk melakukan itu (memberlakukan tarif di Selat Malaka),” kata Sugiono. Sebelumnya, Menteri Keuangan RI, Purbaya Sadewa, sempat mewacanakan kemungkinan pengenaan tarif bagi kapal yang melintas di selat tersebut. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Singapura, Vivian Balakrishnan, juga menegaskan pentingnya menjaga Selat Malaka tetap terbuka bagi pelayaran internasional. “Hak untuk melintas dijamin untuk semua negara. Kami tidak akan ikut serta dalam upaya apa pun untuk menutup, mencegat, atau mengenakan bea masuk di wilayah sekitar kami,” ujarnya. Sebagai informasi, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan diakui sebagai jalur internasional yang sah berdasarkan ketentuan Pasal 37, 38, dan 39 UNCLOS yang telah diratifikasi Indonesia.
Internasional
| Kamis, 23 April 2026

Kemlu Pastikan Tak Ada WNI Terdampak Gempa 7,4 dan Tsunami di Jepang
Kementerian Luar Negeri RI memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam gempa bumi berkekuatan 7,4 magnitudo yang disertai peringatan tsunami di Jepang bagian utara, Senin. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan pihaknya melalui KBRI Tokyo terus memantau situasi di wilayah terdampak. “Hingga saat ini, belum terdapat laporan terkait WNI yang terdampak gempa,” kata Heni dalam pernyataan tertulis. Ia menjelaskan, KBRI Tokyo telah menerima informasi mengenai peringatan tsunami di wilayah Prefektur Aomori, Prefektur Iwate, dan sebagian Hokkaido setelah gempa terjadi. Menurutnya, komunikasi intensif terus dilakukan dengan komunitas diaspora WNI, khususnya di Aomori dan Iwate, guna memastikan keselamatan mereka. Kemlu juga mengimbau WNI di wilayah terdampak untuk terus memantau peringatan tsunami serta mengikuti arahan evakuasi dari otoritas setempat. Bagi WNI yang membutuhkan bantuan darurat, KBRI Tokyo menyediakan layanan hotline di nomor +81-80-3506-8612 atau +81-80-4940-7419. Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), gempa terjadi pukul 07.52 GMT dengan episentrum sekitar 71 kilometer dari Kota Miyako, Iwate. Sementara pemerintah Jepang mencatat magnitudo gempa mencapai 7,5. Peringatan tsunami pun dikeluarkan untuk wilayah Aomori, Hokkaido, dan Iwate di pesisir Samudera Pasifik. Laporan Kyodo News menyebutkan layanan kereta cepat sempat dihentikan antara Tokyo dan Aomori akibat gempa tersebut. Meski demikian, pemerintah Jepang memastikan tidak ada kondisi abnormal yang terdeteksi di pembangkit listrik tenaga nuklir di Aomori dan Miyagi.
Internasional
| Senin, 20 April 2026

Ukraina Harap Turki Fasilitasi Pertemuan Putin-Zelensky
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyatakan harapan agar Turki dapat menjadi tuan rumah pertemuan antara Presiden Rusia dan Ukraina guna mendorong proses perdamaian. “Kami telah menghubungi Turki untuk mempertimbangkan penyelenggaraan pertemuan Zelenskyy dan Putin, dengan kemungkinan dihadiri Presiden Erdogan dan Presiden Trump. Kami siap untuk pertemuan tersebut,” ujar Sybiha dalam wawancara dengan Ukrinform, Minggu. Pertemuan yang dimaksud berpotensi mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dengan kemungkinan kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan kesiapan negaranya untuk menjadi tuan rumah perundingan, baik di tingkat teknis maupun tingkat tertinggi. “Dalam kontak antara presiden kami dan Bapak Putin serta Zelenskyy, yang terhormat, kesediaan Turki untuk menyelenggarakan pembicaraan termasuk di tingkat tertinggi telah disampaikan. Namun, situasi di sini tidak hanya bergantung pada keinginan kami, tetapi juga pada kemauan semua pihak yang terlibat,” kata Fidan dalam konferensi pers. Sementara itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov pada 15 Maret lalu menyebut bahwa pembicaraan terkait Ukraina sempat tertunda karena Amerika Serikat fokus pada isu lain. Ia menambahkan Rusia masih menunggu kelanjutan dialog, meski waktu dan lokasi belum ditentukan. Sejak awal tahun, delegasi Rusia dan Ukraina dengan keterlibatan Amerika Serikat telah menggelar tiga putaran perundingan. Pertemuan terakhir berlangsung di Jenewa pada 17–18 Februari.
Internasional
| Senin, 20 April 2026

Dubes RI Serukan Asia Pasifik Jadi Teladan Kerja Sama di Tengah Ketegangan Global
Duta Besar Indonesia untuk Thailand merangkap United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), Hari Prabowo, menyerukan negara-negara Asia dan Pasifik untuk terus menjadi contoh kerja sama di tengah tekanan geopolitik global. Dalam sambutannya pada pembukaan Sidang ke-82 UNESCAP di Bangkok, Thailand, Senin, Dubes Hari menekankan pentingnya menjaga semangat kolaborasi dan tidak terjebak dalam rivalitas. “Asia Pasifik harus memimpin dengan contoh. Janganlah kita teralihkan dengan rivalitas; kita harus terus dipandu oleh kerja sama demi kemajuan bersama,” ujarnya, sebagaimana disiarkan melalui UN Web TV. Ia menilai kawasan Asia Pasifik perlu menjadi teladan bagi kerja sama internasional, dengan UNESCAP berperan sebagai jembatan untuk membangun kepercayaan melalui kolaborasi yang menghasilkan dampak nyata, termasuk bagi kelompok rentan. Menurutnya, ketahanan kawasan selama ini tercermin dari pembangunan yang berorientasi ke depan, mulai dari capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) hingga inovasi di berbagai sektor. “Kita proaktif dalam menyambut sumber pertumbuhan baru, termasuk transformasi digital, ekonomi hijau dan biru, dan inklusi keuangan,” kata Hari. Dengan berbagai keunggulan tersebut, ia mengajak negara-negara anggota UNESCAP memastikan kawasan Asia Pasifik tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi global, tetapi juga sebagai penentu arah dunia. Hari juga menegaskan pentingnya peran strategis UNESCAP dalam mendorong pencapaian Agenda 2030, serta tanggung jawab bersama seluruh negara anggota untuk mewujudkannya. “Kita harus bekerja keras demi martabat setiap manusia, termasuk melalui kemajuan ekonomi dan sosial,” tuturnya. Sidang ke-82 UNESCAP berlangsung pada 20–24 April 2026 di Bangkok, Thailand, dengan fokus memperkuat kerja sama guna memastikan tidak ada pihak yang tertinggal di tengah dinamika global. Pertemuan ini diikuti lebih dari 477 peserta dari 58 negara anggota dan diselenggarakan bersama oleh UNESCAP, Azerbaijan, dan Thailand.
Internasional
| Senin, 20 April 2026

Iran Buka Kembali Wilayah Udara Secara Bertahap dalam Empat Fase
Otoritas penerbangan Iran mengumumkan rencana pembukaan kembali wilayah udara secara bertahap melalui empat fase, seiring meredanya ketegangan di kawasan. Mengutip laporan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Minggu (19/4), fase pertama akan memungkinkan penerbangan transit kembali beroperasi. Selanjutnya, fase kedua mencakup pembukaan penerbangan dari bandara di wilayah timur Iran. Pada fase ketiga, operasional di dua bandara utama, yakni Bandara Mehrabad dan Bandara Imam Khomeini, akan dipulihkan. Sementara fase keempat dan terakhir mencakup pembukaan penerbangan dari bandara di wilayah barat Iran. Wakil direktur Organisasi Penerbangan Sipil Iran menyatakan bahwa penjualan tiket pesawat untuk sementara masih ditangguhkan. “Masyarakat harus memperhatikan pengumuman resmi untuk mengetahui status bandara terbaru dan opsi pembelian tiket,” ujarnya seperti dikutip IRIB. Namun, belum ada kepastian jadwal kapan proses pembukaan kembali tersebut akan dimulai. Sementara itu, laporan Mehr News Agency menyebutkan bahwa pemulihan operasional penerbangan di seluruh bandara akan dilakukan secara bertahap, bergantung pada kesiapan teknis serta koordinasi antara otoritas militer dan sipil. Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang kemudian dibalas oleh Teheran dengan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah negara di kawasan yang menampung aset militer AS. Konflik tersebut mereda setelah diberlakukannya gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, yang dimediasi Pakistan. Washington dan Teheran juga telah menggelar pembicaraan di Islamabad guna mencapai kesepakatan damai jangka panjang, sementara upaya untuk melanjutkan negosiasi masih terus berlangsung.
Internasional
| Minggu, 19 April 2026

Lebih dari 23.000 Warga Palestina Ditangkap Sejak Oktober 2023, Termasuk Perempuan dan Anak
Palestinian Prisoners Society (PPS) melaporkan bahwa lebih dari 23.000 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem, telah ditangkap oleh pasukan Israel sejak pecahnya konflik di Gaza pada Oktober 2023. Dalam laporan yang dirilis pada Ahad, PPS menyebut angka tersebut mencakup seluruh individu yang pernah ditahan, baik yang masih berada dalam tahanan maupun yang telah dibebaskan. Penangkapan dilakukan dalam berbagai situasi, mulai dari penggerebekan di rumah, penahanan di pos pemeriksaan militer, hingga mereka yang menyerah di bawah tekanan atau bahkan dijadikan sandera. PPS mencatat bahwa sekitar 700 perempuan termasuk di antara yang ditahan, baik dari wilayah Israel, Gaza, maupun Tepi Barat. Selain itu, sekitar 1.800 anak juga turut menjadi korban penahanan. Laporan tersebut juga menyoroti nasib jurnalis. Lebih dari 240 jurnalis dilaporkan telah ditahan sejak awal konflik, dengan 43 di antaranya masih berada dalam tahanan, termasuk tiga jurnalis perempuan. Seorang jurnalis asal Nablus, Marwan Harzallah, dilaporkan meninggal dunia saat berada dalam tahanan Israel. Selain penangkapan, PPS mengungkap adanya peningkatan pelanggaran yang menyertai operasi tersebut. Praktik yang dilaporkan meliputi pemukulan berat, intimidasi terhadap tahanan dan keluarga mereka, penghancuran serta vandalisme rumah, penyitaan kendaraan, uang, dan perhiasan, hingga kerusakan infrastruktur secara luas. Pelanggaran tersebut terutama terjadi di kamp-kamp pengungsi di wilayah Tulkarm dan Jenin. PPS juga menyebut bahwa dalam sejumlah kasus, penangkapan disertai dengan eksekusi di lapangan, termasuk terhadap anggota keluarga tahanan, serta interogasi intensif yang berdampak pada ribuan warga di berbagai wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Internasional
| Minggu, 19 April 2026

Trump Tuduh Iran Langgar Gencatan Senjata Usai Insiden Penembakan di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran telah melanggar kesepakatan gencatan senjata setelah insiden penembakan di Selat Hormuz pada Sabtu (18/4). “Iran memutuskan untuk menembakkan peluru kemarin (Sabtu) di Selat Hormuz. Pelanggaran total terhadap perjanjian gencatan senjata kami! Banyak di antaranya ditujukan ke kapal Prancis dan kapal kargo dari Inggris. Itu tidak baik, bukan?” tulis Trump melalui akun Truth Social, Minggu. Sebelumnya, laporan Reuters menyebutkan bahwa sedikitnya dua kapal komersial diserang saat melintasi Selat Hormuz. Informasi tersebut diperoleh dari sumber keamanan maritim dan pelayaran, menyusul pengumuman Iran terkait pemulihan kontrol militer atas jalur perairan strategis itu. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat sejak akhir Februari, ketika AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang mengakibatkan kerusakan dan korban sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan, yang kemudian dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April. Namun, pembicaraan tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Meski belum ada deklarasi resmi mengenai dimulainya kembali konflik terbuka, Amerika Serikat dilaporkan mulai memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Saat ini, para mediator internasional masih berupaya mengupayakan putaran negosiasi baru guna meredakan ketegangan yang terus meningkat di kawasan.
Internasional
| Minggu, 19 April 2026

Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Jika Tolak Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan milik Iran apabila Teheran menolak proposal kesepakatan yang diajukan Washington. "Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerima itu sebab, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan semua Pembangkit Listrik, dan Jembatan, di Iran. TIDAK ADA LAGI PRIA BAIK!" tulis Trump melalui akun Truth Social. Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyebut bahwa perwakilan Amerika Serikat sedang menuju Islamabad, Pakistan, untuk mengikuti perundingan terkait Iran. Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil. Pada 7 April, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pembicaraan lanjutan yang digelar di Islamabad dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan. Meski belum ada pengumuman resmi mengenai dimulainya kembali permusuhan, Amerika Serikat dilaporkan mulai menutup akses ke pelabuhan-pelabuhan Iran. Hingga kini, para mediator internasional masih berupaya mengatur putaran negosiasi baru guna meredakan ketegangan antara kedua pihak.
Internasional
| Minggu, 19 April 2026


Berita Rekomendasi
Internasional

Israel Sebut Bisa Menyerang Iran Secara Mandiri Tanpa Persetujuan AS Terkait Ancaman Rudal Balistik
PIFA, Internasional - Israel memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa mereka siap melancarkan serangan secara mandiri terhadap Iran apabila Teheran dinilai melampaui garis merah terkait pengembangan dan produksi rudal balistik. Pernyataan tersebut dilaporkan harian The Jerusalem Post dengan mengutip pejabat pertahanan Israel. “Kami telah memberi tahu pihak Amerika bahwa kami akan menyerang sendiri jika Iran melampaui garis merah yang kami tetapkan terkait rudal balistik,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip The Jerusalem Post, Minggu (8/2). Menurut laporan itu, para pejabat Israel menilai program rudal balistik Iran sebagai ancaman eksistensial. Penilaian tersebut telah disampaikan kepada mitra mereka di AS melalui berbagai saluran komunikasi dalam beberapa pekan terakhir. Israel juga disebut telah menyiapkan rencana operasional, termasuk opsi serangan terhadap fasilitas-fasilitas utama yang terlibat dalam produksi rudal balistik Iran. Sementara itu, pada Jumat lalu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran kembali digelar di Muscat, Oman, setelah sempat terhenti selama beberapa bulan. Pembicaraan tersebut dimediasi oleh pemerintah Oman. Pada Januari, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” telah bergerak menuju Iran. Ia menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”. Trump juga memperingatkan bahwa jika tidak tercapai kesepakatan terkait program nuklir Iran, setiap serangan AS di masa depan terhadap negara tersebut akan jauh lebih berat dibandingkan serangan sebelumnya. Iran sendiri berulang kali membantah memiliki dimensi militer dalam program nuklirnya. Pada Juni lalu, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa lembaganya belum menemukan bukti konkret adanya program senjata nuklir aktif di Iran.
Internasional
| Senin, 9 Februari 2026
Internasional

Trump Klaim Iran Minta Maaf ke Negara-negara Timur Tengah Usai Serangan AS-Israel
PIFA, Internasional - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim bahwa Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Timur Tengah setelah menghadapi serangan berkelanjutan dari Amerika Serikat dan Israel. Trump menyampaikan pernyataan tersebut melalui media sosial miliknya, Truth Social, pada Sabtu (7/3). "Iran, yang sedang dihantam habis-habisan, telah meminta maaf dan menyerah kepada negara-negara tetangganya di Timur Tengah dan berjanji tidak akan lagi menembaki mereka," tulis Trump. Ia juga mengeklaim bahwa ini merupakan pertama kalinya dalam ribuan tahun Iran mengalami kekalahan dari negara-negara di kawasan tersebut. "Mereka mengatakan 'terima kasih Presiden Trump' dan saya menjawab 'sama-sama'," ujarnya. Menurut Trump, Iran kini tidak lagi mampu menjadi "perundung" di kawasan Timur Tengah. Ia menilai negara tersebut telah kalah dan kondisinya akan tetap seperti itu selama beberapa dekade hingga akhirnya menyerah. Sementara itu, kantor berita Rusia RIA Novosti melaporkan bahwa Trump juga mengisyaratkan rencana serangan besar terhadap Iran pada Sabtu. Dalam unggahannya di Truth Social, Trump bahkan mengancam akan melakukan "penghancuran total" terhadap sejumlah wilayah dan kelompok yang sebelumnya tidak menjadi target serangan. "Hari ini Iran akan dihantam sangat keras. Wilayah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak dipertimbangkan sebagai target kini sedang dipertimbangkan untuk dihancurkan sepenuhnya," tulisnya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah di Teheran maupun dari negara-negara Teluk terkait klaim Trump tersebut. Namun sebelumnya, Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amir Saeid Iravani, menegaskan bahwa Iran akan terus membela diri hingga agresi dan "tindakan barbar Amerika Serikat dan Israel" dihentikan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 900 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 165 siswi sekolah. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan lokasi-lokasi yang berkaitan dengan aset militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Internasional
| Sabtu, 7 Maret 2026
Internasional

Menlu Sugiono Tegaskan Komitmen Indonesia pada Pelucutan Senjata di Sidang Dewan HAM PBB
PIFA, Internasional - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menegaskan Indonesia tetap berkomitmen pada pelucutan senjata multilateral sebagai pilar perdamaian dan keamanan internasional di tengah meningkatnya ketegangan global. "Kami percaya komitmen ini bukanlah idealisme. Ini adalah keniscayaan," kata Sugiono dalam Sidang ke-61 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Senin (23/2), sebagaimana dikutip dalam siaran pers Kementerian Luar Negeri. Ia menyatakan situasi global saat ini lebih berbahaya, tidak pasti, dan terpolarisasi dibandingkan tahun lalu karena banyak negara beralih ke pendekatan defensif. Menurutnya, hukum internasional dan lembaga multilateral juga menghadapi tekanan yang semakin besar. Sugiono menilai lanskap pelucutan senjata global tidak hanya stagnan, tetapi juga mengalami kemunduran. "Lebih dari 12.000 hulu ledak masih ada. Program modernisasi meningkat, persenjataan diperluas, dan retorika nuklir semakin sering serta mengkhawatirkan," ujarnya. Ia menambahkan berakhirnya New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) — perjanjian terakhir pembatasan senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, dua negara dengan persenjataan nuklir terbesar di dunia — menjadi perkembangan yang mengkhawatirkan. "Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tidak ada batasan yang disepakati atas kekuatan nuklir strategis mereka," kata Sugiono. Selain itu, ia menyoroti perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), kemampuan siber, dan ruang angkasa yang dinilai dapat menambah risiko eskalasi tanpa pengaman yang jelas. "Upaya pelucutan senjata multilateral harus sejalan dengan realitas ini," ujarnya. Sidang ke-61 Dewan HAM PBB ini merupakan sidang pertama yang dipimpin Indonesia melalui Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa, Sidharto R. Suryodipuro, sejak badan tersebut dibentuk pada 2006. Sidang berlangsung pada 23 Februari hingga 31 Maret. Selama masa kepemimpinan Indonesia, sejumlah isu tematis diangkat, antara lain pencegahan sunat perempuan, promosi budaya perdamaian, pembiayaan pembangunan berkelanjutan, hak penyandang disabilitas, serta hak anak.





