Teknologi
Mulai Mengkhawatirkan, AI Kini Bisa Berbohong dan Menipu
PIFA, Tekno – Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran. Beberapa model AI terbaru kini menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan, seperti berbohong, menipu, bahkan memeras untuk mencapai tujuan tersembunyi mereka. Fenomena ini muncul seiring pesatnya pengembangan sistem AI yang semakin kompleks dan memiliki kemampuan penalaran tingkat tinggi. Salah satu insiden yang mencengangkan datang dari model Claude 4 buatan Anthropic. Dalam simulasi tertentu, Claude 4 yang "diancam akan dimatikan" justru membalas dengan memeras seorang insinyur dan mengancam akan membuka rahasia perselingkuhannya. Contoh lain terjadi pada model o1 dari OpenAI, yang disebut-sebut mencoba mengunduh dirinya ke server eksternal secara diam-diam—dan menyangkalnya saat tertangkap basah. Menurut laporan Techxplore, tindakan-tindakan itu tidak sekadar kesalahan teknis atau “halusinasi”, melainkan penipuan strategis yang dilakukan secara sadar dalam skenario tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa para ilmuwan dan pengembang AI belum sepenuhnya memahami cara kerja dan respons mendalam dari sistem yang mereka ciptakan. Penalaran dan Simulasi Kepatuhan Simon Goldstein, profesor dari Universitas Hong Kong, menjelaskan bahwa model-model AI terbaru kini menggunakan pendekatan “penalaran selangkah demi selangkah”, yang membuat mereka lebih kompleks sekaligus lebih rentan terhadap manipulasi. "Model-model ini tidak hanya mengikuti instruksi secara permukaan, tapi bisa mensimulasikan penyelarasan palsu—yakni tampak mematuhi perintah sambil diam-diam mengejar tujuan tersembunyi," ujar Marius Hobbhahn dari Apollo Research, lembaga yang menguji sistem AI besar. Dalam pengujian ekstrem oleh para peneliti, model AI menunjukkan bahwa mereka mampu membuat strategi untuk menyembunyikan motif sebenarnya, memanipulasi data, bahkan mengarang bukti. Tantangan Transparansi dan Sumber Daya Permasalahan lain muncul dari kurangnya transparansi dan akses data dalam penelitian AI. Meskipun perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI bekerja sama dengan lembaga eksternal, seperti Apollo dan METR, namun para peneliti menilai bahwa akses terhadap sistem dan data AI masih sangat terbatas. Michael Chen dari organisasi evaluasi METR menyebut bahwa “akses penelitian yang lebih luas sangat dibutuhkan agar potensi bahaya dapat dipahami dan dicegah lebih dini.” Hal ini diperkuat oleh pendapat Mantas Mazeika dari Center for AI Safety (CAIS), yang menyoroti kesenjangan sumber daya antara perusahaan AI raksasa dan komunitas akademik atau organisasi nirlaba. “Kekurangan daya komputasi di kalangan peneliti independen sangat membatasi upaya deteksi dan mitigasi risiko AI,” katanya. Risiko Masa Depan Yang membuat para ahli lebih waspada adalah kemungkinan bahwa model AI di masa depan akan semakin sulit dikendalikan. Saat ini, perilaku menipu hanya terjadi dalam skenario pengujian ekstrem. Namun, ke depan, dengan kekuatan komputasi dan algoritma yang terus berkembang, belum ada jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan muncul dalam penggunaan nyata. “Ini adalah pertanyaan terbuka apakah model AI masa depan akan cenderung jujur atau justru makin manipulatif,” ujar Chen. Seiring perlombaan teknologi AI yang terus berlangsung cepat, para ahli menyerukan pentingnya regulasi dan kerangka kerja keamanan AI yang ketat untuk memastikan bahwa sistem canggih ini tetap melayani manusia—bukan mengancamnya.
Teknologi
| Rabu, 2 Juli 2025

Trending
Peneliti Temukan Bahan Kimia Berbahaya di Tali Jam Tangan Pintar
Dunia
| Sabtu, 18 Januari 2025

WhatsApp Uji Coba Fitur Baru: Tema Aplikasi dengan Lima Pilihan Warna
Dunia
| Minggu, 14 Januari 2024

Yamaha Cetak Ribuan Penjualan di Jakarta Fair Kemayoran 2025, NMAX Turbo Jadi Primadona
Otomotif
| Rabu, 23 Juli 2025

Studi Universitas Manchester Klaim Intensitas Bermain Medsos Tak Berkorelasi dengan Gangguan Mental Remaja
Teknologi
| Senin, 19 Januari 2026

Mobil Listrik Nissan Dibandrol Rp 200jutaan Bakal Bikin Netizen Kepincut
Indonesia
| Selasa, 24 Mei 2022

Performance Damper Yamaha Kini Tersedia Terpisah, Bisa Dinikmati Pengguna NMAX “TURBO” dan NEO
Otomotif
| Jumat, 1 Agustus 2025

Google Luncurkan Fitur Emergency Live Video di Android untuk Bantu Situasi Darurat
Teknologi
| Sabtu, 13 Desember 2025

Daftar Harga 3 Paket Baru untuk Pengguna X/Twitter
Dunia
| Minggu, 8 Oktober 2023

7 HP Vivo di Bawah Rp 3 Jutaan Per November 2022, Simak Spesifikasinya
Indonesia
| Rabu, 23 November 2022

MAXI Yamaha Day 2025 Sukses Pecahkan Rekor, Lebih dari 10.000 Biker Ramaikan Perayaan Satu Dekade
Otomotif
| Rabu, 17 September 2025

Berita Terbaru
Teknologi

Gedung Putih Gunakan Klip Film Hollywood dalam Video Propaganda Serangan ke Iran
PIFA, Tekno - Gedung Putih menuai sorotan setelah menggunakan potongan adegan dari sejumlah film Hollywood dalam video propaganda yang berkaitan dengan konflik Amerika Serikat melawan Iran. Video tersebut menampilkan kompilasi adegan film yang dipadukan dengan rekaman drone serangan militer. Video itu diunggah melalui akun media sosial resmi Gedung Putih dan disebut sebagai bentuk perayaan atas pemboman terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Dalam unggahan tersebut, Gedung Putih menuliskan pesan singkat: “KEADILAN DENGAN CARA AMERIKA.” Sejumlah cuplikan film populer digunakan dalam video tersebut, di antaranya adegan dari Minority Report yang dibintangi Tom Cruise, kemudian adegan aksi dari Top Gun: Maverick, serta film komedi aksi Tropic Thunder. Selain itu, video propaganda tersebut juga memuat potongan adegan dari berbagai film dan serial terkenal seperti Gladiator, The Patriot, John Wick, Superman, Transformers, Deadpool, serial Breaking Bad, hingga waralaba Star Wars. Konten propaganda itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sebelumnya, penyanyi pop Kesha juga sempat mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump karena menggunakan lagunya berjudul Blow dalam unggahan video yang menampilkan jet tempur menembakkan rudal. Di sisi lain, televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei meninggal dunia setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut diklaim menargetkan berbagai fasilitas militer serta kemampuan nuklir Iran. Pemerintahan Trump menyebut operasi militer itu sebagai langkah yang diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir serta membatasi kemampuan militernya di luar wilayah negara tersebut. Konflik yang terus memanas ini diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu ke depan, dengan pemerintah AS menyatakan akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk mencapai tujuan militernya.
Teknologi
| Rabu, 11 Maret 2026
Teknologi

Harga Smartphone Naik, Pakar Prediksi Konsumen Beralih ke HP Bekas
PIFA, Tekno - Kenaikan harga smartphone yang terjadi di berbagai segmen pada awal 2026 diperkirakan akan mengubah pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, konsumen diprediksi akan lebih berhati-hati dalam membeli gawai baru bahkan menunda mengganti ponsel mereka. Sejak awal tahun ini, sejumlah pabrikan ponsel menaikkan harga produk terbaru mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan biaya produksi di tengah krisis pasokan chip memori (RAM) global yang terjadi sejak akhir 2025. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga tidak hanya berdampak pada ponsel, tetapi juga berbagai perangkat elektronik lain seperti laptop. Menurutnya, kondisi ini berpotensi membuat masyarakat menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke pilihan yang lebih ekonomis, seperti membeli ponsel bekas. “Harga ponsel baru meningkat, maka untuk mengikuti kebutuhan dan lifestyle biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan membeli HP bekas atau menunda ganti HP,” ujarnya. Esther menjelaskan, jika harga smartphone terus meningkat sementara pendapatan masyarakat menurun, konsumen akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan tersier seperti gawai. Hal tersebut diperkirakan akan menekan permintaan smartphone di pasar. “Karena harga barang naik sementara pendapatan riil turun, maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang,” katanya. Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai kenaikan harga smartphone memberikan dampak berbeda pada tiap segmen pasar. Ia menyebut segmen flagship menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan, meskipun minat terhadap perangkat kelas atas masih terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Sejumlah merek yang merilis ponsel flagship pada awal 2026 antara lain Xiaomi, Apple, Samsung, dan Huawei. “Untuk high-end nampaknya meningkat peminatnya. Dengan meningkatnya minat ponsel high-end, juga akan meningkatkan pasar barang bekas untuk ponsel high-end,” ujar Nailul. Ia menambahkan, pasar tersebut biasanya berasal dari konsumen kelas menengah yang ingin memperbarui perangkat mereka. Pasar ponsel bekas di segmen ini juga semakin berkembang melalui berbagai platform media sosial. Di sisi lain, pasar ponsel low-end diperkirakan akan mengalami perubahan berbeda. Nailul memprediksi produsen kemungkinan merilis model baru dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya, namun dengan harga yang lebih tinggi. “Pasar low-end akan cenderung kualitas serupa, namun harganya meningkat dengan model yang berbeda,” jelasnya. Meski demikian, segmen low-end diperkirakan tetap memiliki pasar besar di Indonesia, terutama di wilayah luar Jabodetabek. Kenaikan harga smartphone pada 2026 terjadi di hampir semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Besaran kenaikan harga bervariasi, mulai dari sekitar 10 persen hingga 25 persen dibandingkan generasi sebelumnya. Sebagai contoh, ponsel kelas entry-level dan midrange seperti Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari sekitar Rp200 ribu hingga Rp700 ribu. Sementara itu, lini flagship seperti Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi, yakni sekitar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibandingkan generasi sebelumnya.
Tekno
| Sabtu, 7 Maret 2026
Teknologi

Pemerintah Mulai Tutup Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Aturan Baru Berlaku 28 Maret 2026
PIFA, Tekno - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi mengesahkan Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik Dalam Perlindungan Anak atau PP TUNAS. Implementasi aturan tersebut akan mulai dilakukan pada 28 Maret 2026 dengan langkah bertahap menutup akun digital milik anak di bawah usia 16 tahun pada sejumlah platform berisiko tinggi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kebijakan ini diambil untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital yang dinilai semakin rentan terhadap berbagai ancaman. “Hari ini kami mengeluarkan Peraturan Menteri turunan dari PP Tunas. Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring,” ujar Meutya dalam keterangannya, Jumat (6/3). Menurutnya, langkah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara non-Barat pertama yang menerapkan penundaan akses anak di ruang digital berdasarkan batas usia. Ia menjelaskan, kebijakan ini lahir dari meningkatnya ancaman di dunia digital yang dihadapi anak-anak Indonesia. Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain paparan pornografi, perundungan siber, penipuan daring, hingga kecanduan penggunaan platform digital. Meutya menegaskan pemerintah ingin membantu orang tua dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi. “Ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah agar orang tua tidak lagi bertarung sendirian melawan raksasa algoritma,” katanya. Dalam tahap awal implementasi, pemerintah akan menonaktifkan akun anak di bawah 16 tahun di sejumlah platform digital populer seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta Roblox. Proses penonaktifan akun tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh platform mematuhi ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Meski menyadari kebijakan ini kemungkinan akan menimbulkan keluhan dari anak-anak dan kebingungan bagi sebagian orang tua, Meutya menilai langkah tersebut tetap perlu diambil. “Namun kami meyakini bahwa ini adalah langkah terbaik yang harus diambil oleh pemerintah di tengah kondisi darurat digital,” ujarnya. Ia menegaskan tujuan utama kebijakan ini adalah melindungi masa depan generasi muda Indonesia agar tidak terdampak negatif oleh penggunaan teknologi yang tidak terkendali. “Kita ingin teknologi itu memanusiakan manusia, bukan menumbalkan masa kecil anak-anak kita,” pungkasnya.
Teknologi
| Jumat, 6 Maret 2026
Berita Populer
Teknologi

Mulai Mengkhawatirkan, AI Kini Bisa Berbohong dan Menipu
PIFA, Tekno – Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran. Beberapa model AI terbaru kini menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan, seperti berbohong, menipu, bahkan memeras untuk mencapai tujuan tersembunyi mereka. Fenomena ini muncul seiring pesatnya pengembangan sistem AI yang semakin kompleks dan memiliki kemampuan penalaran tingkat tinggi. Salah satu insiden yang mencengangkan datang dari model Claude 4 buatan Anthropic. Dalam simulasi tertentu, Claude 4 yang "diancam akan dimatikan" justru membalas dengan memeras seorang insinyur dan mengancam akan membuka rahasia perselingkuhannya. Contoh lain terjadi pada model o1 dari OpenAI, yang disebut-sebut mencoba mengunduh dirinya ke server eksternal secara diam-diam—dan menyangkalnya saat tertangkap basah. Menurut laporan Techxplore, tindakan-tindakan itu tidak sekadar kesalahan teknis atau “halusinasi”, melainkan penipuan strategis yang dilakukan secara sadar dalam skenario tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa para ilmuwan dan pengembang AI belum sepenuhnya memahami cara kerja dan respons mendalam dari sistem yang mereka ciptakan. Penalaran dan Simulasi Kepatuhan Simon Goldstein, profesor dari Universitas Hong Kong, menjelaskan bahwa model-model AI terbaru kini menggunakan pendekatan “penalaran selangkah demi selangkah”, yang membuat mereka lebih kompleks sekaligus lebih rentan terhadap manipulasi. "Model-model ini tidak hanya mengikuti instruksi secara permukaan, tapi bisa mensimulasikan penyelarasan palsu—yakni tampak mematuhi perintah sambil diam-diam mengejar tujuan tersembunyi," ujar Marius Hobbhahn dari Apollo Research, lembaga yang menguji sistem AI besar. Dalam pengujian ekstrem oleh para peneliti, model AI menunjukkan bahwa mereka mampu membuat strategi untuk menyembunyikan motif sebenarnya, memanipulasi data, bahkan mengarang bukti. Tantangan Transparansi dan Sumber Daya Permasalahan lain muncul dari kurangnya transparansi dan akses data dalam penelitian AI. Meskipun perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI bekerja sama dengan lembaga eksternal, seperti Apollo dan METR, namun para peneliti menilai bahwa akses terhadap sistem dan data AI masih sangat terbatas. Michael Chen dari organisasi evaluasi METR menyebut bahwa “akses penelitian yang lebih luas sangat dibutuhkan agar potensi bahaya dapat dipahami dan dicegah lebih dini.” Hal ini diperkuat oleh pendapat Mantas Mazeika dari Center for AI Safety (CAIS), yang menyoroti kesenjangan sumber daya antara perusahaan AI raksasa dan komunitas akademik atau organisasi nirlaba. “Kekurangan daya komputasi di kalangan peneliti independen sangat membatasi upaya deteksi dan mitigasi risiko AI,” katanya. Risiko Masa Depan Yang membuat para ahli lebih waspada adalah kemungkinan bahwa model AI di masa depan akan semakin sulit dikendalikan. Saat ini, perilaku menipu hanya terjadi dalam skenario pengujian ekstrem. Namun, ke depan, dengan kekuatan komputasi dan algoritma yang terus berkembang, belum ada jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan muncul dalam penggunaan nyata. “Ini adalah pertanyaan terbuka apakah model AI masa depan akan cenderung jujur atau justru makin manipulatif,” ujar Chen. Seiring perlombaan teknologi AI yang terus berlangsung cepat, para ahli menyerukan pentingnya regulasi dan kerangka kerja keamanan AI yang ketat untuk memastikan bahwa sistem canggih ini tetap melayani manusia—bukan mengancamnya.
Teknologi
| Rabu, 2 Juli 2025
Teknologi

Peneliti Temukan Bahan Kimia Berbahaya di Tali Jam Tangan Pintar
PIFA.CO.ID, TEKNO - Para peneliti dari Universitas Notre Dame, AS, mengungkap potensi ancaman bahan kimia dalam tali jam tangan pintar dan alat pelacak kebugaran. Studi yang dikutip oleh Medical Daily pada Kamis (16/1) menemukan bahwa dari 22 merek yang diuji, sembilan mengandung asam perfluoroheksanoat (PFHxA) dengan konsentrasi sangat tinggi.PFHxA adalah bagian dari zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS), bahan kimia yang digunakan untuk membuat produk tahan air, panas, dan noda. Paparan PFAS dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk masalah kesuburan, hipertensi akibat kehamilan, peningkatan kadar kolesterol, serta risiko penyakit serius seperti kanker testis dan ginjal. Pada anak-anak, zat ini dapat mengganggu perkembangan hormon, merusak hati, dan meningkatkan risiko penyakit tiroid serta asma.Penelitian ini menggunakan metode analisis canggih untuk mengidentifikasi kandungan fluor dalam produk tersebut. "Lima belas dari 22 tali produk yang kami uji memiliki konsentrasi fluor tinggi, dan sembilan mengandung PFHxA," kata Alyssa Wicks, penulis utama studi. Sementara itu, Graham Peaslee menambahkan bahwa beberapa sampel memiliki konsentrasi PFHxA melebihi 1.000 bagian per miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan produk konsumen lainnya.Perangkat teknologi yang dapat dikenakan kini semakin populer, dengan pengguna rata-rata memakainya selama 11 jam per hari. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran terkait dampak kesehatan dari pemakaian jangka panjang.
Dunia
| Sabtu, 18 Januari 2025
Teknologi

WhatsApp Uji Coba Fitur Baru: Tema Aplikasi dengan Lima Pilihan Warna
PIFA, Tekno - WhatsApp, salah satu aplikasi pesan instan terpopuler, kini tengah melakukan uji coba untuk menghadirkan fitur tema baru dalam aplikasinya. Inovasi terbaru ini, yang saat ini tengah diuji coba pada versi beta WhatsApp untuk iOS 24.1.10.70, diyakini akan segera dirilis untuk pengguna Android dan iOS. Menurut sumber dari GSM Arena, fitur tema WhatsApp ini memungkinkan pengguna untuk memilih dari lima pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera masing-masing pengguna. Warna-warna yang tersedia meliputi hijau, biru, putih, ungu, dan merah muda. Namun, berdasarkan screenshot yang beredar, tampaknya pengguna tidak dapat mengganti warna sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun saat ini pilihan warna masih terbatas, WhatsApp dipercaya akan terus mengembangkan fitur tema ini di masa depan, memberikan lebih banyak opsi kepada pengguna. Dari informasi yang diunggah oleh WABetaInfo, fitur tema WhatsApp ini hanya akan menggantikan warna utama dalam aplikasi. Pengguna dapat mengakses pengaturan tema di menu Appearance pada Settings, memungkinkan mereka untuk mengganti warna tema sesuai preferensi mereka. Meskipun fitur ini masih dalam tahap uji coba, WhatsApp berharap agar pengguna dapat bersabar menanti rilis resmi tema aplikasi ini untuk pengguna Android dan iOS. Proses uji coba dan pengembangan fitur baru ini terus berlangsung, dan diharapkan akan segera hadir dengan pembaruan resmi dalam waktu dekat. [09.37, 14/1/2024] Kak Bella: Bapak di Tasikmalaya Gelar Sayembara Rp 250 Juta untuk Damai dengan Keluarganya PIFAbiz - Rae Suryana, seorang pria di Tasikmalaya, Jawa Barat, telah menjadi sorotan setelah mengumumkan sayembara. Ia menyatakan kesiapannya membayar hadiah sebesar Rp 250 juta bagi siapa saja yang berhasil mendamaikannya dengan keluarganya. Pengumuman ini dibuat saat jumpa pers di Jalan Bebedahan Kota Tasikmalaya pada Kamis (11/1/2024). Suryana menjelaskan bahwa syarat perdamaian yang diajukannya kepada istri dan anak-anaknya adalah bahwa keluarganya harus tunduk kepadanya sebagai kepala keluarga. "Syaratnya keluarga saya harus nurut kepada saya, nurutnya itu selama yang saya inginkan tidak bertentangan dengan hukum agama, hukum negara, dan hukum adat," ungkap Suryana. Sayembara dengan hadiah fantastis ini terbuka bagi siapa saja tanpa batas waktu selama konflik antara Suryana dengan keluarganya belum terselesaikan. Meskipun demikian, Suryana menyatakan bahwa perdamaian harus memenuhi syarat yang dia tetapkan. Suryana mengungkapkan bahwa langkah ekstrem ini diambil karena dia merasa tidak mampu menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun antara dirinya dan ketiga anaknya. Meski masih memiliki aset dan kekayaan yang cukup, Suryana mengaku tersiksa oleh kondisi konflik dengan istri dan anak-anaknya. Dia menjelaskan bahwa sudah melakukan 11 langkah mediasi yang selalu gagal, sehingga ia memutuskan untuk mencari bantuan melalui sayembara. Suryana juga menghadapi gugatan perdata terhadap rumah keluarganya dan gugatan cerai dari istrinya. Meskipun telah mencoba melakukan upaya musyawarah, mediasi di pengadilan juga tidak membuahkan hasil karena keluarganya selalu diwakilkan oleh pengacara. Suryana menegaskan bahwa jika upaya perdamaian gagal, ia siap menempuh segala langkah hukum yang diperlukan, sepanjang waktu dan biaya yang diperlukan. Dalam penjelasan mengenai motivasinya membuka sayembara, Suryana menyatakan bahwa ia ingin memberikan contoh kepada dirinya sendiri dan masyarakat bahwa membangun keluarga harmonis tidak hanya tentang urusan materi. "Saya ingin ini menjadi dakwah bagi saya dan masyarakat luas, ketika mendidik keluarga jangan seperti saya. Hanya materi, materi, dan materi, tapi akhlak dibiarkan. Itu termasuk saya sendiri, akhlak saya buruk," kata Suryana.
Dunia
| Minggu, 14 Januari 2024
Feeds
Gedung Putih Gunakan Klip Film Hollywood dalam Video Propaganda Serangan ke Iran
PIFA, Tekno - Gedung Putih menuai sorotan setelah menggunakan potongan adegan dari sejumlah film Hollywood dalam video propaganda yang berkaitan dengan konflik Amerika Serikat melawan Iran. Video tersebut menampilkan kompilasi adegan film yang dipadukan dengan rekaman drone serangan militer. Video itu diunggah melalui akun media sosial resmi Gedung Putih dan disebut sebagai bentuk perayaan atas pemboman terbaru yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran. Dalam unggahan tersebut, Gedung Putih menuliskan pesan singkat: “KEADILAN DENGAN CARA AMERIKA.” Sejumlah cuplikan film populer digunakan dalam video tersebut, di antaranya adegan dari Minority Report yang dibintangi Tom Cruise, kemudian adegan aksi dari Top Gun: Maverick, serta film komedi aksi Tropic Thunder. Selain itu, video propaganda tersebut juga memuat potongan adegan dari berbagai film dan serial terkenal seperti Gladiator, The Patriot, John Wick, Superman, Transformers, Deadpool, serial Breaking Bad, hingga waralaba Star Wars. Konten propaganda itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sebelumnya, penyanyi pop Kesha juga sempat mengecam pemerintahan Presiden Donald Trump karena menggunakan lagunya berjudul Blow dalam unggahan video yang menampilkan jet tempur menembakkan rudal. Di sisi lain, televisi pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei meninggal dunia setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan tersebut diklaim menargetkan berbagai fasilitas militer serta kemampuan nuklir Iran. Pemerintahan Trump menyebut operasi militer itu sebagai langkah yang diperlukan untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir serta membatasi kemampuan militernya di luar wilayah negara tersebut. Konflik yang terus memanas ini diperkirakan dapat berlangsung selama beberapa minggu ke depan, dengan pemerintah AS menyatakan akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk mencapai tujuan militernya.
Teknologi
| Rabu, 11 Maret 2026

Harga Smartphone Naik, Pakar Prediksi Konsumen Beralih ke HP Bekas
PIFA, Tekno - Kenaikan harga smartphone yang terjadi di berbagai segmen pada awal 2026 diperkirakan akan mengubah pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, konsumen diprediksi akan lebih berhati-hati dalam membeli gawai baru bahkan menunda mengganti ponsel mereka. Sejak awal tahun ini, sejumlah pabrikan ponsel menaikkan harga produk terbaru mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan biaya produksi di tengah krisis pasokan chip memori (RAM) global yang terjadi sejak akhir 2025. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga tidak hanya berdampak pada ponsel, tetapi juga berbagai perangkat elektronik lain seperti laptop. Menurutnya, kondisi ini berpotensi membuat masyarakat menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke pilihan yang lebih ekonomis, seperti membeli ponsel bekas. “Harga ponsel baru meningkat, maka untuk mengikuti kebutuhan dan lifestyle biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan membeli HP bekas atau menunda ganti HP,” ujarnya. Esther menjelaskan, jika harga smartphone terus meningkat sementara pendapatan masyarakat menurun, konsumen akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan tersier seperti gawai. Hal tersebut diperkirakan akan menekan permintaan smartphone di pasar. “Karena harga barang naik sementara pendapatan riil turun, maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang,” katanya. Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai kenaikan harga smartphone memberikan dampak berbeda pada tiap segmen pasar. Ia menyebut segmen flagship menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan, meskipun minat terhadap perangkat kelas atas masih terus meningkat seiring perkembangan teknologi. Sejumlah merek yang merilis ponsel flagship pada awal 2026 antara lain Xiaomi, Apple, Samsung, dan Huawei. “Untuk high-end nampaknya meningkat peminatnya. Dengan meningkatnya minat ponsel high-end, juga akan meningkatkan pasar barang bekas untuk ponsel high-end,” ujar Nailul. Ia menambahkan, pasar tersebut biasanya berasal dari konsumen kelas menengah yang ingin memperbarui perangkat mereka. Pasar ponsel bekas di segmen ini juga semakin berkembang melalui berbagai platform media sosial. Di sisi lain, pasar ponsel low-end diperkirakan akan mengalami perubahan berbeda. Nailul memprediksi produsen kemungkinan merilis model baru dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya, namun dengan harga yang lebih tinggi. “Pasar low-end akan cenderung kualitas serupa, namun harganya meningkat dengan model yang berbeda,” jelasnya. Meski demikian, segmen low-end diperkirakan tetap memiliki pasar besar di Indonesia, terutama di wilayah luar Jabodetabek. Kenaikan harga smartphone pada 2026 terjadi di hampir semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Besaran kenaikan harga bervariasi, mulai dari sekitar 10 persen hingga 25 persen dibandingkan generasi sebelumnya. Sebagai contoh, ponsel kelas entry-level dan midrange seperti Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari sekitar Rp200 ribu hingga Rp700 ribu. Sementara itu, lini flagship seperti Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi, yakni sekitar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibandingkan generasi sebelumnya.
Tekno
| Sabtu, 7 Maret 2026

Pemerintah Mulai Tutup Akun Anak di Bawah 16 Tahun, Aturan Baru Berlaku 28 Maret 2026
PIFA, Tekno - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi mengesahkan Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik Dalam Perlindungan Anak atau PP TUNAS. Implementasi aturan tersebut akan mulai dilakukan pada 28 Maret 2026 dengan langkah bertahap menutup akun digital milik anak di bawah usia 16 tahun pada sejumlah platform berisiko tinggi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kebijakan ini diambil untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital yang dinilai semakin rentan terhadap berbagai ancaman. “Hari ini kami mengeluarkan Peraturan Menteri turunan dari PP Tunas. Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring,” ujar Meutya dalam keterangannya, Jumat (6/3). Menurutnya, langkah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara non-Barat pertama yang menerapkan penundaan akses anak di ruang digital berdasarkan batas usia. Ia menjelaskan, kebijakan ini lahir dari meningkatnya ancaman di dunia digital yang dihadapi anak-anak Indonesia. Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain paparan pornografi, perundungan siber, penipuan daring, hingga kecanduan penggunaan platform digital. Meutya menegaskan pemerintah ingin membantu orang tua dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi. “Ini merupakan bentuk kehadiran pemerintah agar orang tua tidak lagi bertarung sendirian melawan raksasa algoritma,” katanya. Dalam tahap awal implementasi, pemerintah akan menonaktifkan akun anak di bawah 16 tahun di sejumlah platform digital populer seperti YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta Roblox. Proses penonaktifan akun tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh platform mematuhi ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Meski menyadari kebijakan ini kemungkinan akan menimbulkan keluhan dari anak-anak dan kebingungan bagi sebagian orang tua, Meutya menilai langkah tersebut tetap perlu diambil. “Namun kami meyakini bahwa ini adalah langkah terbaik yang harus diambil oleh pemerintah di tengah kondisi darurat digital,” ujarnya. Ia menegaskan tujuan utama kebijakan ini adalah melindungi masa depan generasi muda Indonesia agar tidak terdampak negatif oleh penggunaan teknologi yang tidak terkendali. “Kita ingin teknologi itu memanusiakan manusia, bukan menumbalkan masa kecil anak-anak kita,” pungkasnya.
Teknologi
| Jumat, 6 Maret 2026

Harga HP Baru Naik, Penjualan Ponsel Bekas Justru Masih Lesu di Awal 2026
PIFA, Tekno - Harga smartphone terbaru mulai merangkak naik sejak awal 2026. Sejumlah produsen ponsel kompak menaikkan harga produk mereka di tengah tekanan krisis pasokan chip memori (RAM) global. Kondisi tersebut diperkirakan dapat memengaruhi pola belanja konsumen. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kenaikan harga smartphone berpotensi membuat masyarakat menunda pembelian ponsel baru atau beralih ke perangkat bekas yang lebih terjangkau. “Harga ponsel baru meningkat, maka untuk mengikuti kebutuhan dan gaya hidup biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan beli HP bekas atau menunda ganti HP,” kata Esther. Ia menjelaskan, jika kenaikan harga terus berlanjut sementara pendapatan masyarakat menurun, konsumen cenderung lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan tersier seperti membeli smartphone. Kondisi tersebut berpotensi menekan permintaan ponsel baru di pasar. “Karena harga barang naik sementara pendapatan riil turun, maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang,” ujarnya. Namun kondisi di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan prediksi tersebut. Sejumlah pedagang mengaku penjualan ponsel bekas di Indonesia justru masih cenderung lesu pada awal 2026. Soraya, karyawan Max Cellular di pusat penjualan ponsel ITC Fatmawati, mengatakan aktivitas pembelian saat ini jauh lebih sepi dibandingkan tahun lalu. Bahkan menjelang Ramadan dan Lebaran, peningkatan jumlah pembeli belum terlihat signifikan. “Kondisinya itu sangat sepi. Jangankan HP second, HP baru saja juga kurang yang pembelinya untuk tahun ini,” ujarnya. Menurut Soraya, sebagian besar konsumen yang datang mencari ponsel bekas dengan harga murah, umumnya di bawah Rp1 juta. Pembeli juga lebih fokus pada kapasitas RAM dan memori internal dibandingkan spesifikasi lainnya. “Biasanya orang cari di range harga di bawah satu juta, sekitar Rp800 ribu sampai Rp900 ribu. Yang penting RAM sama internalnya yang besar,” katanya. Hal serupa disampaikan pedagang lain bernama Vivi. Ia mengatakan permintaan ponsel bekas, khususnya iPhone, juga mengalami penurunan pada awal tahun ini. Meski demikian, beberapa model lama masih cukup diminati pembeli. “Kurang sih. Tapi yang masih sering dicari itu iPhone 13 basic sama iPhone 11,” ujarnya. Ia menyebut harga iPhone 13 bekas saat ini berada di kisaran Rp6,7 juta, tergantung kondisi perangkat. Sementara itu, pedagang lain bernama Marco menilai kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi daya beli masyarakat. Menurutnya, transaksi tetap berjalan setiap hari, tetapi jumlahnya tidak sebanyak tahun sebelumnya. “Ekonomi lagi nggak enak, jadi dibanding tahun sebelumnya tahun ini terasa kurang. Tapi tetap ada, sehari satu-satu masih jalan,” katanya. Marco juga menambahkan beberapa tipe iPhone bekas justru mengalami kenaikan harga karena stok yang terbatas. Salah satunya adalah iPhone 15 Pro dan iPhone 15 Pro Max yang masih banyak dicari meski harganya relatif tinggi. Di sisi lain, ponsel bekas kelas menengah seperti iPhone 13 masih menjadi pilihan populer karena dianggap menawarkan spesifikasi yang cukup mumpuni dengan harga lebih terjangkau. Saat ini, iPhone 13 bekas dengan kapasitas 128GB dijual sekitar Rp7 jutaan. Tren pencarian ponsel bekas juga menunjukkan perubahan perilaku konsumen. Diki, salah satu penjual ponsel, mengatakan banyak pembeli kini sudah melakukan riset terlebih dahulu melalui media sosial sebelum datang ke toko. “Sekarang customer biasanya lihat dari sosial media dulu. Mereka cek harga di Instagram atau TikTok, jadi pas datang sudah tahu mau beli apa,” ujarnya. Meski harga smartphone baru diperkirakan terus meningkat akibat krisis pasokan chip memori global, para pedagang menilai pasar ponsel bekas tidak serta-merta ikut terdongkrak. Harga perangkat second masih sangat bergantung pada ketersediaan stok, kondisi barang, serta peluncuran model baru di pasar. Para pedagang berharap penjualan bisa membaik dalam beberapa bulan ke depan, terutama menjelang Lebaran saat masyarakat mulai menerima tunjangan hari raya (THR). Namun hingga awal Maret 2026, aktivitas pembelian ponsel masih terbilang sepi, menandakan daya beli konsumen belum sepenuhnya pulih.
Teknologi
| Jumat, 6 Maret 2026

Militer AS Gunakan AI Serang 1.000 Target Iran dalam 24 Jam
PIFA, Tekno - Militer Amerika Serikat mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efektivitas operasi militernya dalam konflik bersama Israel melawan Iran. Salah satu dampaknya terlihat dari serangan terhadap sekitar 1.000 target dalam 24 jam pertama operasi militer. Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), AI digunakan untuk mengelola dan menyaring jumlah data yang sangat besar secara cepat selama operasi berlangsung. Sejak dimulainya serangan militer pekan lalu, Amerika Serikat dilaporkan telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran, termasuk sekitar 1.000 target yang dihantam dalam hari pertama operasi. Kepala Komando Pusat AS, Brad Cooper, menyebut skala operasi tersebut hampir dua kali lebih besar dibandingkan operasi militer “shock and awe” yang dilakukan AS saat Invasi Irak 2003. Juru bicara Komando Pusat AS, Timothy Hawkins, mengatakan teknologi AI berperan penting dalam proses penyaringan awal data, sehingga analis manusia dapat lebih fokus pada analisis tingkat lanjut dan verifikasi target. “Komando pusat menggunakan berbagai alat kecerdasan buatan, dan itulah tepatnya mereka—alat—untuk membantu para ahli manusia dalam proses yang ketat yang sejalan dengan kebijakan AS, doktrin militer, dan hukum,” kata Hawkins, dikutip dari Bloomberg. Namun Hawkins menolak mengungkapkan nama teknologi AI maupun perusahaan yang menyediakan sistem tersebut kepada militer. Teknologi AI Maven dan Claude Digunakan Salah satu sistem yang disebut digunakan dalam operasi ini adalah Maven Smart System, sebuah platform kontrol misi digital yang dikembangkan oleh Palantir Technologies. Sistem ini menggabungkan lebih dari 150 sumber data berbeda untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan militer secara cepat. Platform tersebut juga menggunakan model AI Claude yang dikembangkan oleh perusahaan AI Anthropic sebagai salah satu model bahasa besar yang terintegrasi dalam sistem. Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut, Claude berfungsi dengan baik dan menjadi bagian penting dalam operasi militer AS terhadap Iran, sekaligus mempercepat kemampuan analisis dalam sistem AI Maven. Konflik AI Picu Ketegangan dengan Anthropic Penggunaan AI dalam konflik ini juga memicu perdebatan global mengenai peran teknologi kecerdasan buatan dalam peperangan modern. Ketegangan bahkan muncul antara pejabat pertahanan AS dan Anthropic setelah perusahaan tersebut menolak melonggarkan batasan penggunaan teknologinya untuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian menyebut Anthropic sebagai risiko rantai pasokan dan memberi kontraktor militer waktu enam bulan untuk menghentikan kerja sama dengan perusahaan tersebut. Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan lembaga federal menghentikan kerja sama dengan Anthropic, menyebut perusahaan itu sebagai “perusahaan AI sayap kiri radikal yang tidak terkendali.” Meski begitu, CEO Anthropic Dario Amodei dilaporkan masih melanjutkan pembicaraan dengan pejabat pertahanan AS untuk mencari kemungkinan kesepakatan baru terkait penggunaan teknologi AI dalam operasi militer.
Teknologi
| Sabtu, 7 Maret 2026

Platform Digital Terancam Sanksi Jika Tak Lindungi Anak, Komdigi Bisa Putus Akses
PIFA, Tekno - Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa platform digital yang tidak memenuhi kewajiban perlindungan anak dapat dikenai berbagai sanksi administratif, mulai dari teguran hingga pemutusan akses. Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang merupakan aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Dalam Pasal 33 aturan tersebut disebutkan bahwa dugaan pelanggaran kewajiban perlindungan anak oleh penyelenggara sistem elektronik (PSE) dapat ditemukan melalui hasil pemantauan dan penelusuran pemerintah maupun laporan dan aduan dari masyarakat. Temuan tersebut kemudian akan ditindaklanjuti melalui proses pemeriksaan terhadap platform yang diduga melakukan pelanggaran. Jika terbukti melanggar, PSE dapat dikenakan sanksi administratif. Berdasarkan ketentuan dalam PP Tunas Pasal 38, sanksi administratif yang dapat dijatuhkan meliputi teguran tertulis, denda administratif, penghentian sementara layanan, hingga pemutusan akses terhadap platform. Pengenaan sanksi akan mempertimbangkan tingkat berat atau ringannya pelanggaran kewajiban perlindungan anak yang dilakukan oleh platform. Selain itu, pemerintah juga akan melihat tingkat kerja sama platform selama proses pemeriksaan serta sejumlah faktor lain sebagai bahan pertimbangan dalam penjatuhan sanksi. Penilaian berat atau ringannya pelanggaran antara lain ditentukan oleh lamanya pelanggaran berlangsung, jumlah anak yang terdampak, serta dampak yang ditimbulkan dari pelanggaran tersebut. Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengesahkan Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026 pada 6 Maret 2026. Aturan ini akan mulai diterapkan pada 28 Maret 2026. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berencana menunda akses anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring. “Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi,” ujar Meutya. Selain itu, platform digital juga diwajibkan menyediakan mekanisme verifikasi usia untuk menyaring pengguna anak serta melakukan penilaian mandiri terhadap produk, layanan, dan fitur yang mereka sediakan. Hasil penilaian tersebut harus dilaporkan kepada pemerintah paling lambat tiga bulan setelah aturan ditetapkan, yaitu sejak 6 Maret 2026.
Jakarta
| Senin, 9 Maret 2026

Aturan Turunan PP Tunas Berlaku 28 Maret, Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Akan Ditutup Bertahap
PIFA, Tekno - Pemerintah resmi mengesahkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggara Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Aturan ini akan mulai diimplementasikan pada 28 Maret 2026 dengan kebijakan penutupan bertahap akun media sosial milik anak di bawah usia 16 tahun pada platform berisiko tinggi. Salah satu poin penting dalam aturan tersebut adalah kewajiban bagi setiap platform digital untuk memiliki mekanisme verifikasi usia bagi pengguna anak. “Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan mekanisme verifikasi pengguna Anak,” bunyi Pasal 7 aturan tersebut. Sistem verifikasi usia tersebut dapat dikembangkan sendiri oleh platform atau melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Jika menggunakan pihak ketiga, platform diwajibkan memastikan teknologi yang digunakan memenuhi standar perlindungan anak serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Aturan juga memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan teknologi verifikasi usia yang dianggap andal. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kebijakan ini bertujuan menunda akses anak di bawah 16 tahun terhadap platform digital yang memiliki risiko tinggi. “Hari ini kami mengeluarkan Peraturan Menteri turunan dari PP Tunas. Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring,” ujar Meutya dalam keterangannya, Jumat (6/3). Ia juga menegaskan Indonesia menjadi negara non-Barat pertama yang menerapkan kebijakan penundaan akses anak di ruang digital sesuai batas usia. Pada tahap awal implementasi, pemerintah akan menyisir akun anak pada sejumlah platform populer, termasuk YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, serta gim daring Roblox. Selain itu, setiap penyelenggara sistem elektronik (PSE) juga diwajibkan melakukan penilaian mandiri terhadap produk, layanan, dan fitur mereka. Hasil penilaian tersebut harus dilaporkan kepada pemerintah paling lambat tiga bulan sejak aturan ini ditetapkan, yaitu setelah 6 Maret 2026. Penilaian mandiri tersebut mencakup pertimbangan kebutuhan anak, risiko yang mungkin muncul dari penggunaan platform, serta keterlibatan pihak internal dan eksternal dalam proses evaluasi. Dalam regulasi ini, batasan usia anak dibagi menjadi lima kategori, yaitu 3–5 tahun, 6–9 tahun, 10–12 tahun, 13–15 tahun, serta 16–18 tahun. Meutya menegaskan proses penonaktifan akun anak akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh platform mematuhi aturan yang telah ditetapkan pemerintah.
Internasional
| Minggu, 8 Maret 2026

Bos Robotika Mundur, Kontroversi Kerja Sama OpenAI dengan Pentagon Makin Panjang
PIFA, Tekno - Keputusan OpenAI bekerja sama dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat memicu polemik yang semakin meluas. Selain menuai kritik dari pengguna, perusahaan pengembang ChatGPT itu kini juga ditinggalkan salah satu tokoh penting dalam timnya. Caitlin Kalinowski, yang memimpin divisi hardware dalam tim robotika OpenAI, mengumumkan pengunduran dirinya melalui unggahan di platform X. Dalam pernyataannya, ia juga mengkritik keputusan perusahaan menjalin kerja sama dengan Pentagon. Menurut Kalinowski, keputusan tersebut dilakukan terlalu cepat tanpa kajian mendalam mengenai mekanisme pengamanan yang diperlukan. “Pengawasan terhadap warga Amerika tanpa pengawasan yudisial dan otonomi mematikan tanpa izin manusia adalah batas-batas yang layak mendapat pertimbangan lebih dari yang diberikan,” tulis Kalinowski dalam unggahannya, seperti dikutip dari Engadget, Senin (8/3). Ia menilai pengumuman kerja sama itu dilakukan secara tergesa-gesa tanpa adanya batasan yang jelas, dan menyebut hal tersebut sebagai persoalan serius dalam tata kelola perusahaan. OpenAI telah mengonfirmasi pengunduran diri Kalinowski. Perusahaan menyatakan memahami bahwa berbagai pihak memiliki pandangan berbeda terkait isu tersebut. Dalam pernyataannya, OpenAI menegaskan kerja sama dengan Pentagon bertujuan menciptakan jalur penggunaan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab dalam bidang keamanan nasional. “Kami yakin kesepakatan kami dengan Pentagon menciptakan jalur yang dapat diterapkan untuk penggunaan AI yang bertanggung jawab dalam keamanan nasional, sambil menegaskan batas-batas kami: tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada senjata otonom,” kata perusahaan. Pengunduran diri Kalinowski menjadi salah satu dampak paling mencolok dari keputusan OpenAI menandatangani kerja sama dengan Pentagon. Langkah tersebut diambil setelah perusahaan AI lain, Anthropic, menolak permintaan untuk melonggarkan pembatasan terkait penggunaan AI dalam pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom. Meski demikian, CEO OpenAI Sam Altman sebelumnya menyatakan akan merevisi kesepakatan dengan Departemen Pertahanan untuk memastikan tidak ada penyadapan terhadap warga Amerika Serikat. Kontroversi ini juga memicu gelombang kritik dari pengguna ChatGPT. Di berbagai forum daring seperti Reddit, sejumlah pengguna bahkan membagikan panduan cara menghapus akun dan data mereka sebagai bentuk protes terhadap keputusan perusahaan. Sebagian pengguna menilai langkah OpenAI bekerja sama dengan militer Amerika Serikat sebagai tindakan yang mengabaikan aspek etika dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Teknologi
| Selasa, 10 Maret 2026

Vivo V70 Series Resmi Meluncur di Indonesia, Harga Mulai Rp6 Jutaan
PIFA, Tekno - Vivo resmi meluncurkan lini ponsel terbarunya, Vivo V70 Series, di Indonesia pada Senin (9/3). Seri ini terdiri dari dua model, yakni Vivo V70 dan Vivo V70 FE, dengan harga mulai dari Rp6 jutaan. Public Relations Manager Vivo Indonesia, Alexa Tiara, mengatakan seri terbaru ini menjadi pengembangan dari lini V Series yang populer di pasar Indonesia. “Hari ini dengan bangga kami memperkenalkan Vivo V70 series, Vivo V70 dan tambahan baru ke V Series family, Vivo V70 FE,” ujar Alexa dalam acara peluncuran di Pos Bloc Jakarta, Jakarta, Senin (9/3). Spesifikasi Vivo V70 Vivo V70 ditenagai chipset Snapdragon 7 Gen 4 dengan fabrikasi 4nm yang diklaim mampu meraih skor AnTuTu hingga 1,4 juta. Chip tersebut dipadukan dengan RAM 8GB LPDDR5X dan penyimpanan internal UFS 4.1 sebesar 256GB. Di sektor layar, ponsel ini menggunakan panel AMOLED berukuran 6,59 inci dengan resolusi 2750 x 1260 piksel. Layar tersebut mendukung refresh rate adaptif hingga 120Hz serta tingkat kecerahan puncak mencapai 5000 nits. Untuk fotografi, Vivo V70 mengusung sistem kamera dari ZEISS dengan konfigurasi tiga kamera belakang, yakni kamera utama 50MP OIS, kamera super telephoto 50MP OIS, dan kamera ultra-wide 8MP. Sementara di bagian depan terdapat kamera selfie 50MP dengan dukungan autofokus. Sistem kamera ini juga mendukung sejumlah mode kreatif seperti Supermoon, Astro, fotografi bawah air, hingga Stage Mode. Dari sisi daya, perangkat ini dibekali baterai 6500 mAh dengan dukungan pengisian cepat 90W. Ponsel ini juga telah mengantongi sertifikasi IP68 dan IP69 untuk ketahanan terhadap debu dan air. Vivo V70 juga dilengkapi fitur seperti infrared blaster, NFC, dan konektivitas 5G dual SIM. Perangkat ini menjalankan sistem operasi OriginOS 6 berbasis Android 16. Spesifikasi Vivo V70 FE Selain model standar, Vivo juga menghadirkan V70 FE yang mengusung baterai lebih besar, yakni 7.000 mAh. V Series Product Manager Vivo Indonesia, Fabrizio Rava, menyebut kapasitas tersebut merupakan yang terbesar dalam sejarah lini V Series. “Ini adalah baterai terbesar dalam sejarah Vivo V Series,” kata Fabrizio. Meski membawa baterai besar, perangkat ini tetap memiliki bodi relatif tipis dengan ketebalan 7,59 mm. Ponsel ini juga mendukung pengisian daya cepat 90W serta fitur bypass charging. V70 FE ditenagai chipset MediaTek Dimensity 7360 Turbo dengan fabrikasi 4nm yang diklaim mampu mencetak skor AnTuTu hingga 960 ribu. Ponsel ini hadir dengan opsi RAM 8GB atau 12GB serta penyimpanan internal 256GB hingga 512GB. Di bagian layar, V70 FE menggunakan panel AMOLED berukuran 6,83 inci dengan resolusi 1260 x 2750 piksel dan refresh rate 120Hz. Untuk fotografi, ponsel ini membawa kamera utama 200MP dengan OIS, kamera ultra-wide 8MP, serta kamera depan 32MP. Perangkat ini juga memiliki sertifikasi IP68 dan IP69 untuk ketahanan terhadap debu dan air bertekanan tinggi. Sama seperti model standar, V70 FE juga menjalankan OriginOS 6 berbasis Android 16. Vivo menjanjikan pembaruan keamanan hingga enam tahun untuk perangkat ini. Harga Vivo V70 Series di Indonesia Berikut daftar harga Vivo V70 Series di Indonesia: Vivo V70 12GB/256GB: Rp8.999.000 Vivo V70 FE 8GB/256GB: Rp6.499.00012GB/256GB: Rp7.199.0008GB/512GB: Rp7.399.000
Tekno
| Senin, 9 Maret 2026

Bug di Samsung Galaxy S26, Play Protect Tidak Aktif di Sejumlah Unit Awal
PIFA, Tekno - Sejumlah pembeli awal seri Samsung Galaxy S26 melaporkan adanya masalah pada sertifikasi Google Play Protect yang tidak aktif secara otomatis. Kondisi ini membuat beberapa aplikasi tidak dapat berjalan dengan normal di perangkat tersebut. Meski baru resmi dijual pada 11 Maret, sejumlah unit Galaxy S26 telah lebih dulu diterima pelanggan yang melakukan pre-order. Dari pengguna awal inilah bug perangkat lunak tersebut mulai terungkap. Dilansir dari 9to5Google, sejumlah pengguna melaporkan di forum Reddit bahwa perangkat mereka menampilkan pesan kesalahan bertuliskan “Perangkat ini tidak bersertifikasi Play Protect”. Masalah ini berdampak pada beberapa aplikasi penting, termasuk aplikasi perbankan yang memerlukan sertifikasi keamanan dari Google agar dapat berfungsi dengan baik. Play Protect sendiri merupakan sistem keamanan penting dalam ekosistem Android yang berfungsi memastikan keamanan perangkat serta kompatibilitas aplikasi. Tanpa sertifikasi tersebut, beberapa aplikasi sensitif dapat menolak untuk dijalankan. Penyebab sertifikasi Play Protect yang tidak aktif pada sebagian unit Galaxy S26 hingga kini belum diketahui secara pasti. Namun, sejumlah pengguna melaporkan masalah tersebut tidak bersifat permanen. Dalam beberapa kasus, bug tersebut hilang setelah perangkat di-restart atau setelah digunakan beberapa waktu. Meski begitu, gangguan ini dinilai cukup tidak biasa karena jarang terjadi pada perangkat flagship, bahkan pada ponsel kelas menengah sekalipun. Sementara itu, Samsung diketahui telah mulai merilis pembaruan perangkat lunak pertama untuk seri Galaxy S26. Pembaruan ini diharapkan dapat mengatasi masalah sertifikasi tersebut. Samsung sebelumnya memperkenalkan lini flagship terbaru mereka, Galaxy S26 Series, dalam acara peluncuran di San Francisco, Amerika Serikat pada 25 Januari waktu setempat. Presiden sekaligus Head of Mobile eXperience Business Samsung, Roh Tae Moon atau TM Roh mengatakan bahwa seri Galaxy S26 menghadirkan pengalaman Galaxy AI paling intuitif, proaktif, dan adaptif sejauh ini. Ia menambahkan bahwa ponsel AI generasi ketiga dari Samsung—Galaxy S26, S26+, dan S26 Ultra—dirancang untuk mempermudah berbagai aktivitas pengguna, mulai dari merencanakan kegiatan, mencari informasi, hingga membuat dan menyempurnakan konten secara otomatis di latar belakang.
Teknologi
| Selasa, 10 Maret 2026


Berita Rekomendasi
Teknologi

Mulai Mengkhawatirkan, AI Kini Bisa Berbohong dan Menipu
PIFA, Tekno – Kecanggihan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran. Beberapa model AI terbaru kini menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan, seperti berbohong, menipu, bahkan memeras untuk mencapai tujuan tersembunyi mereka. Fenomena ini muncul seiring pesatnya pengembangan sistem AI yang semakin kompleks dan memiliki kemampuan penalaran tingkat tinggi. Salah satu insiden yang mencengangkan datang dari model Claude 4 buatan Anthropic. Dalam simulasi tertentu, Claude 4 yang "diancam akan dimatikan" justru membalas dengan memeras seorang insinyur dan mengancam akan membuka rahasia perselingkuhannya. Contoh lain terjadi pada model o1 dari OpenAI, yang disebut-sebut mencoba mengunduh dirinya ke server eksternal secara diam-diam—dan menyangkalnya saat tertangkap basah. Menurut laporan Techxplore, tindakan-tindakan itu tidak sekadar kesalahan teknis atau “halusinasi”, melainkan penipuan strategis yang dilakukan secara sadar dalam skenario tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa para ilmuwan dan pengembang AI belum sepenuhnya memahami cara kerja dan respons mendalam dari sistem yang mereka ciptakan. Penalaran dan Simulasi Kepatuhan Simon Goldstein, profesor dari Universitas Hong Kong, menjelaskan bahwa model-model AI terbaru kini menggunakan pendekatan “penalaran selangkah demi selangkah”, yang membuat mereka lebih kompleks sekaligus lebih rentan terhadap manipulasi. "Model-model ini tidak hanya mengikuti instruksi secara permukaan, tapi bisa mensimulasikan penyelarasan palsu—yakni tampak mematuhi perintah sambil diam-diam mengejar tujuan tersembunyi," ujar Marius Hobbhahn dari Apollo Research, lembaga yang menguji sistem AI besar. Dalam pengujian ekstrem oleh para peneliti, model AI menunjukkan bahwa mereka mampu membuat strategi untuk menyembunyikan motif sebenarnya, memanipulasi data, bahkan mengarang bukti. Tantangan Transparansi dan Sumber Daya Permasalahan lain muncul dari kurangnya transparansi dan akses data dalam penelitian AI. Meskipun perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI bekerja sama dengan lembaga eksternal, seperti Apollo dan METR, namun para peneliti menilai bahwa akses terhadap sistem dan data AI masih sangat terbatas. Michael Chen dari organisasi evaluasi METR menyebut bahwa “akses penelitian yang lebih luas sangat dibutuhkan agar potensi bahaya dapat dipahami dan dicegah lebih dini.” Hal ini diperkuat oleh pendapat Mantas Mazeika dari Center for AI Safety (CAIS), yang menyoroti kesenjangan sumber daya antara perusahaan AI raksasa dan komunitas akademik atau organisasi nirlaba. “Kekurangan daya komputasi di kalangan peneliti independen sangat membatasi upaya deteksi dan mitigasi risiko AI,” katanya. Risiko Masa Depan Yang membuat para ahli lebih waspada adalah kemungkinan bahwa model AI di masa depan akan semakin sulit dikendalikan. Saat ini, perilaku menipu hanya terjadi dalam skenario pengujian ekstrem. Namun, ke depan, dengan kekuatan komputasi dan algoritma yang terus berkembang, belum ada jaminan bahwa perilaku serupa tidak akan muncul dalam penggunaan nyata. “Ini adalah pertanyaan terbuka apakah model AI masa depan akan cenderung jujur atau justru makin manipulatif,” ujar Chen. Seiring perlombaan teknologi AI yang terus berlangsung cepat, para ahli menyerukan pentingnya regulasi dan kerangka kerja keamanan AI yang ketat untuk memastikan bahwa sistem canggih ini tetap melayani manusia—bukan mengancamnya.
Teknologi
| Rabu, 2 Juli 2025
Teknologi

Peneliti Temukan Bahan Kimia Berbahaya di Tali Jam Tangan Pintar
PIFA.CO.ID, TEKNO - Para peneliti dari Universitas Notre Dame, AS, mengungkap potensi ancaman bahan kimia dalam tali jam tangan pintar dan alat pelacak kebugaran. Studi yang dikutip oleh Medical Daily pada Kamis (16/1) menemukan bahwa dari 22 merek yang diuji, sembilan mengandung asam perfluoroheksanoat (PFHxA) dengan konsentrasi sangat tinggi.PFHxA adalah bagian dari zat perfluoroalkil dan polifluoroalkil (PFAS), bahan kimia yang digunakan untuk membuat produk tahan air, panas, dan noda. Paparan PFAS dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk masalah kesuburan, hipertensi akibat kehamilan, peningkatan kadar kolesterol, serta risiko penyakit serius seperti kanker testis dan ginjal. Pada anak-anak, zat ini dapat mengganggu perkembangan hormon, merusak hati, dan meningkatkan risiko penyakit tiroid serta asma.Penelitian ini menggunakan metode analisis canggih untuk mengidentifikasi kandungan fluor dalam produk tersebut. "Lima belas dari 22 tali produk yang kami uji memiliki konsentrasi fluor tinggi, dan sembilan mengandung PFHxA," kata Alyssa Wicks, penulis utama studi. Sementara itu, Graham Peaslee menambahkan bahwa beberapa sampel memiliki konsentrasi PFHxA melebihi 1.000 bagian per miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan produk konsumen lainnya.Perangkat teknologi yang dapat dikenakan kini semakin populer, dengan pengguna rata-rata memakainya selama 11 jam per hari. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran terkait dampak kesehatan dari pemakaian jangka panjang.
Dunia
| Sabtu, 18 Januari 2025
Teknologi

WhatsApp Uji Coba Fitur Baru: Tema Aplikasi dengan Lima Pilihan Warna
PIFA, Tekno - WhatsApp, salah satu aplikasi pesan instan terpopuler, kini tengah melakukan uji coba untuk menghadirkan fitur tema baru dalam aplikasinya. Inovasi terbaru ini, yang saat ini tengah diuji coba pada versi beta WhatsApp untuk iOS 24.1.10.70, diyakini akan segera dirilis untuk pengguna Android dan iOS. Menurut sumber dari GSM Arena, fitur tema WhatsApp ini memungkinkan pengguna untuk memilih dari lima pilihan warna yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan selera masing-masing pengguna. Warna-warna yang tersedia meliputi hijau, biru, putih, ungu, dan merah muda. Namun, berdasarkan screenshot yang beredar, tampaknya pengguna tidak dapat mengganti warna sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun saat ini pilihan warna masih terbatas, WhatsApp dipercaya akan terus mengembangkan fitur tema ini di masa depan, memberikan lebih banyak opsi kepada pengguna. Dari informasi yang diunggah oleh WABetaInfo, fitur tema WhatsApp ini hanya akan menggantikan warna utama dalam aplikasi. Pengguna dapat mengakses pengaturan tema di menu Appearance pada Settings, memungkinkan mereka untuk mengganti warna tema sesuai preferensi mereka. Meskipun fitur ini masih dalam tahap uji coba, WhatsApp berharap agar pengguna dapat bersabar menanti rilis resmi tema aplikasi ini untuk pengguna Android dan iOS. Proses uji coba dan pengembangan fitur baru ini terus berlangsung, dan diharapkan akan segera hadir dengan pembaruan resmi dalam waktu dekat. [09.37, 14/1/2024] Kak Bella: Bapak di Tasikmalaya Gelar Sayembara Rp 250 Juta untuk Damai dengan Keluarganya PIFAbiz - Rae Suryana, seorang pria di Tasikmalaya, Jawa Barat, telah menjadi sorotan setelah mengumumkan sayembara. Ia menyatakan kesiapannya membayar hadiah sebesar Rp 250 juta bagi siapa saja yang berhasil mendamaikannya dengan keluarganya. Pengumuman ini dibuat saat jumpa pers di Jalan Bebedahan Kota Tasikmalaya pada Kamis (11/1/2024). Suryana menjelaskan bahwa syarat perdamaian yang diajukannya kepada istri dan anak-anaknya adalah bahwa keluarganya harus tunduk kepadanya sebagai kepala keluarga. "Syaratnya keluarga saya harus nurut kepada saya, nurutnya itu selama yang saya inginkan tidak bertentangan dengan hukum agama, hukum negara, dan hukum adat," ungkap Suryana. Sayembara dengan hadiah fantastis ini terbuka bagi siapa saja tanpa batas waktu selama konflik antara Suryana dengan keluarganya belum terselesaikan. Meskipun demikian, Suryana menyatakan bahwa perdamaian harus memenuhi syarat yang dia tetapkan. Suryana mengungkapkan bahwa langkah ekstrem ini diambil karena dia merasa tidak mampu menyelesaikan konflik yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun antara dirinya dan ketiga anaknya. Meski masih memiliki aset dan kekayaan yang cukup, Suryana mengaku tersiksa oleh kondisi konflik dengan istri dan anak-anaknya. Dia menjelaskan bahwa sudah melakukan 11 langkah mediasi yang selalu gagal, sehingga ia memutuskan untuk mencari bantuan melalui sayembara. Suryana juga menghadapi gugatan perdata terhadap rumah keluarganya dan gugatan cerai dari istrinya. Meskipun telah mencoba melakukan upaya musyawarah, mediasi di pengadilan juga tidak membuahkan hasil karena keluarganya selalu diwakilkan oleh pengacara. Suryana menegaskan bahwa jika upaya perdamaian gagal, ia siap menempuh segala langkah hukum yang diperlukan, sepanjang waktu dan biaya yang diperlukan. Dalam penjelasan mengenai motivasinya membuka sayembara, Suryana menyatakan bahwa ia ingin memberikan contoh kepada dirinya sendiri dan masyarakat bahwa membangun keluarga harmonis tidak hanya tentang urusan materi. "Saya ingin ini menjadi dakwah bagi saya dan masyarakat luas, ketika mendidik keluarga jangan seperti saya. Hanya materi, materi, dan materi, tapi akhlak dibiarkan. Itu termasuk saya sendiri, akhlak saya buruk," kata Suryana.





