Lifestyle
Rahasia Psikologis dan Kesehatan di Balik Kebiasaan Menggoyangkan Kaki saat Duduk
PIFA, Lifestyle - Menggoyangkan kaki saat duduk ternyata bukan hanya sekadar kebiasaan umum, tetapi juga mencakup fakta psikologis dan kesehatan yang menarik. Laman TimesofIndia melaporkan bahwa gerakan berulang ini, entah itu halus maupun kuat, dapat memberikan wawasan penting tentang psikologi seseorang dan bahkan menyingkapkan isu-isu kesehatan tertentu. Implikasi Kesehatan Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat memiliki implikasi kesehatan, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Beberapa individu mungkin mengalami Restless Leg Syndrome (RLS), suatu gangguan neurologis yang ditandai dengan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki. Gemetar kaki yang berlebihan juga bisa menjadi tanda kecemasan atau stres yang memerlukan perhatian medis. Orang dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mungkin menunjukkan perilaku gelisah, termasuk menggetarkan kaki, sebagai respons terhadap kesulitan mereka dalam mempertahankan perhatian dan tetap diam. Penting untuk mencari bantuan profesional guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Wawasan Psikologis Menggoyangkan kaki juga dapat memberikan wawasan psikologis. Orang yang terbiasa melakukan gerakan ini seringkali memiliki tingkat energi atau kegelisahan yang lebih tinggi. Gerakan tersebut dapat menjadi saluran untuk menyalurkan kelebihan energi atau kegelisahan secara bawah sadar. Dalam beberapa situasi, menggoyangkan kaki mungkin menunjukkan kebosanan atau kurangnya keterlibatan. Tubuh mungkin mencari cara untuk mengalihkan perhatian ketika pikiran menjadi tidak tertarik, menghasilkan gerakan berulang ini. Ciri-Ciri Kepribadian Selain itu, kebiasaan menggoyangkan kaki bisa mencerminkan ciri kepribadian tertentu. Ketidaksabaran mungkin menjadi faktor, di mana orang yang ingin hasil cepat atau bertindak dengan cepat cenderung mengekspresikannya melalui gerakan ini. Multitasker alami atau individu dengan ambang batas tinggi untuk menangani banyak aktivitas sekaligus juga mungkin menunjukkan kebiasaan ini saat melakukan tugas-tugas bersamaan. Terakhir, menggoyangkan kaki bisa menjadi indikasi kepribadian yang ekspresif dan energik. Ini dapat mencerminkan sifat yang dinamis dan hidup, menunjukkan kebersemangatan dan kegairahan dalam watak seseorang. Meskipun menggoyangkan kaki mungkin tampak sebagai kebiasaan sepele, pemahaman lebih lanjut tentang aspek psikologis dan kesehatan yang terkait dengannya dapat membantu individu untuk lebih menyadari diri mereka sendiri. Penting untuk mengambil tindakan jika kebiasaan ini mengganggu atau menimbulkan kekhawatiran, serta berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan pandangan yang lebih mendalam.
Indonesia
| Senin, 4 Desember 2023

Trending
Manfaat dan Bahaya Sleep Call Jika Rutin Dilakukan
Indonesia
| Minggu, 16 Juli 2023

Gus Paox Iben Juga Pakai LEXi LX 155, Begini Impresi Berkendaranya Tentang Skutik MAXi Yamaha
Indonesia
| Senin, 27 Mei 2024

7 Gerakan Yoga Penghancur Lemak Perut yang Wajib Dicoba!
Indonesia
| Jumat, 21 Juni 2024

Mengenal Daddy Issues dan Cara Mengatasinya
Indonesia
| Selasa, 31 Oktober 2023

Ilmuwan Temukan Fosil Reptil Laut Berleher Panjang Berusia 247 Juta Tahun di China
Lifestyle
| Kamis, 20 November 2025

Ini Rahasia Diet ala Marshanda yang Berhasil Turun Berat Badan hingga 17 Kg
Jakarta
| Selasa, 30 Juli 2024

Memasuki Musim Pancaroba, Ini Tips Jaga Daya Tahan Tubuh Agar Tidak Mudah Sakit
Pontianak
| Jumat, 6 Desember 2024

Pengusaha Kripto Beli Karya Seni Pisang Tempel di Dinding Rp 98 M, dan Langsung Dimakan
China
| Senin, 2 Desember 2024

Kenali Gejala Awal Serangan Jantung, Jangan Sampai Terlambat Ditangani
Indonesia
| Senin, 21 April 2025

Berita Terbaru
Lifestyle

Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak
PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.
Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026
Lifestyle

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi
PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.
Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026
Lifestyle

Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah
PIFA, Lifestyle - Meningkatnya kasus penularan virus Nipah di India menjadi perhatian serius bagi kawasan Asia. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif dengan mencontoh kebijakan negara-negara tetangga dalam mencegah masuk dan menyebarnya virus berbahaya tersebut. Dalam keterangan tertulis pada Kamis, Prof. Tjandra menekankan pentingnya kewaspadaan dini, mengingat virus Nipah kini dilaporkan telah menular antar-manusia di India. Virus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga radang otak dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, menurut Prof. Tjandra, telah lebih dulu mengambil langkah pencegahan. Thailand, misalnya, melakukan skrining ketat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang terhadap penumpang yang datang dari negara bagian West Bengal, India. Nepal juga menerapkan kebijakan serupa di Tribhuvan International Airport. Langkah antisipasi juga dilakukan Singapura. Pada 28 Januari 2026, pemerintah setempat mengumumkan pengetatan pengawasan kesehatan di Bandara Changi, termasuk pemeriksaan suhu tubuh bagi para pendatang. Selain itu, otoritas kesehatan Singapura meminta dokter, laboratorium, dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi virus Nipah, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke West Bengal. Tak hanya itu, Singapura juga menggencarkan penyuluhan kesehatan di pintu masuk negara, meningkatkan surveilans terhadap pekerja migran dari Asia Selatan, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas pengendalian penyakit menular di kawasan tersebut. Prof. Tjandra menilai, Indonesia berada pada posisi yang tidak kalah berisiko karena intensitas kunjungan warga India, baik sebagai wisatawan maupun pekerja. "Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita, maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu. Ia menambahkan, selain menerapkan langkah pencegahan di pintu masuk negara, Indonesia juga perlu meningkatkan koordinasi regional dan internasional, khususnya dengan WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat, untuk memantau perkembangan dan potensi penyebaran virus Nipah. Virus Nipah merupakan patogen zoonotik yang awalnya menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia. Namun, seiring waktu, virus ini juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, termasuk melalui makanan yang terkontaminasi. Secara global, tercatat sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah sejak pertama kali dilaporkan pada 1998–1999. Kasus awal ditemukan di Malaysia, kemudian menyebar dan dilaporkan pula di Bangladesh, India, Filipina, serta Singapura. Prof. Tjandra menjelaskan, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara empat hingga 21 hari atau bahkan lebih. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru, termasuk batuk, sesak napas, pneumonia, hingga peradangan otak. Hingga saat ini, menurut Prof. Tjandra, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk infeksi virus Nipah. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit tersebut.
Lifestyle
| Kamis, 29 Januari 2026
Berita Populer
Lifestyle

Rahasia Psikologis dan Kesehatan di Balik Kebiasaan Menggoyangkan Kaki saat Duduk
PIFA, Lifestyle - Menggoyangkan kaki saat duduk ternyata bukan hanya sekadar kebiasaan umum, tetapi juga mencakup fakta psikologis dan kesehatan yang menarik. Laman TimesofIndia melaporkan bahwa gerakan berulang ini, entah itu halus maupun kuat, dapat memberikan wawasan penting tentang psikologi seseorang dan bahkan menyingkapkan isu-isu kesehatan tertentu. Implikasi Kesehatan Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat memiliki implikasi kesehatan, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Beberapa individu mungkin mengalami Restless Leg Syndrome (RLS), suatu gangguan neurologis yang ditandai dengan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki. Gemetar kaki yang berlebihan juga bisa menjadi tanda kecemasan atau stres yang memerlukan perhatian medis. Orang dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mungkin menunjukkan perilaku gelisah, termasuk menggetarkan kaki, sebagai respons terhadap kesulitan mereka dalam mempertahankan perhatian dan tetap diam. Penting untuk mencari bantuan profesional guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Wawasan Psikologis Menggoyangkan kaki juga dapat memberikan wawasan psikologis. Orang yang terbiasa melakukan gerakan ini seringkali memiliki tingkat energi atau kegelisahan yang lebih tinggi. Gerakan tersebut dapat menjadi saluran untuk menyalurkan kelebihan energi atau kegelisahan secara bawah sadar. Dalam beberapa situasi, menggoyangkan kaki mungkin menunjukkan kebosanan atau kurangnya keterlibatan. Tubuh mungkin mencari cara untuk mengalihkan perhatian ketika pikiran menjadi tidak tertarik, menghasilkan gerakan berulang ini. Ciri-Ciri Kepribadian Selain itu, kebiasaan menggoyangkan kaki bisa mencerminkan ciri kepribadian tertentu. Ketidaksabaran mungkin menjadi faktor, di mana orang yang ingin hasil cepat atau bertindak dengan cepat cenderung mengekspresikannya melalui gerakan ini. Multitasker alami atau individu dengan ambang batas tinggi untuk menangani banyak aktivitas sekaligus juga mungkin menunjukkan kebiasaan ini saat melakukan tugas-tugas bersamaan. Terakhir, menggoyangkan kaki bisa menjadi indikasi kepribadian yang ekspresif dan energik. Ini dapat mencerminkan sifat yang dinamis dan hidup, menunjukkan kebersemangatan dan kegairahan dalam watak seseorang. Meskipun menggoyangkan kaki mungkin tampak sebagai kebiasaan sepele, pemahaman lebih lanjut tentang aspek psikologis dan kesehatan yang terkait dengannya dapat membantu individu untuk lebih menyadari diri mereka sendiri. Penting untuk mengambil tindakan jika kebiasaan ini mengganggu atau menimbulkan kekhawatiran, serta berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan pandangan yang lebih mendalam.
Indonesia
| Senin, 4 Desember 2023
Lifestyle

Manfaat dan Bahaya Sleep Call Jika Rutin Dilakukan
PIFA, Lifestyle - Kehadiran teknologi komunikasi memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan orang-orang tercinta, terlepas dari jarak yang memisahkan. Salah satu tren menarik di kalangan anak muda adalah "Sleep Call" atau panggilan tidur, yang dilakukan dengan pasangan atau orang terdekat hingga tertidur. Namun, di balik manfaatnya, sleep call juga menyimpan potensi bahaya dan dampak negatif yang perlu dipahami dengan bijaksana. Sleep call, atau panggilan tidur, adalah kegiatan di mana pasangan atau orang yang saling dekat melakukan panggilan telepon atau video call sebelum tidur dan tetap berkomunikasi hingga mereka tertidur. Hal ini sering dilakukan oleh mereka yang menjalani hubungan jarak jauh (LDR) untuk menjaga ikatan dan merasa lebih dekat meskipun secara fisik berjauhan. Meskipun awalnya populer di kalangan pasangan LDR, tren ini kini telah menyebar dan dilakukan oleh pasangan yang tinggal berdekatan. Manfaat Sleep Call 1. Mempererat Hubungan: Sleep call dapat menjadi sarana bagi pasangan untuk mempererat ikatan hubungan mereka. Kehadiran satu sama lain dalam percakapan sebelum tidur memberikan rasa kedekatan dan kenyamanan, terutama bagi pasangan yang jauh secara fisik. 2. Membuat Tidur Lebih Cepat: Berbicara dengan orang yang dicintai sebelum tidur bisa membantu mengatasi kecemasan dan pikiran yang membebani. Ini dapat membantu seseorang untuk lebih cepat tertidur dan tidur lebih nyenyak. 3. Mengatasi Rasa Kesepian: Sleep call juga dapat digunakan untuk mengatasi rasa kesepian, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman. Dengan berbicara dengan orang-orang terdekat, perasaan kesepian dapat berkurang. Bahaya Sleep Call Bagi Kesehatan 1. Sulit Menetapkan Batasan Peran: Terlalu sering melakukan sleep call dapat menyebabkan kesulitan dalam menetapkan batasan antara peran sebagai pasangan dan kehidupan pribadi. Setiap individu perlu memiliki waktu untuk diri sendiri dan menjaga keseimbangan dalam hubungan. 2. Kekurangan Tidur yang Berpengaruh pada Emosi: Sleep call yang berlebihan dapat menyebabkan kurangnya waktu tidur, yang pada gilirannya mempengaruhi keseimbangan emosi dan mood seseorang. 3. Rentan Konflik dengan Keluarga atau Lingkungan Sekitar: Sleep call yang berisik atau berlangsung terlalu larut malam dapat mengganggu anggota keluarga atau tetangga, menyebabkan konflik dan ketidaknyamanan. 4. Menurunkan Mutu Quality Time: Terlalu fokus pada sleep call dapat menyebabkan penurunan kualitas dari waktu berkualitas yang dihabiskan bersama orang lain. 5. Meningkatkan Kelelahan dan Stres: Sleep call dapat mengganggu pola tidur alami, menyebabkan kelelahan dan tingkat stres yang lebih tinggi. Cara Mengatasi Bahaya Sleep Call Untuk menghindari dampak negatif dari sleep call, berikut beberapa tips yang dapat dicoba: 1. Atur Waktu untuk Sleep Call: Tetapkan waktu yang wajar untuk sleep call sehingga tidak mengganggu waktu tidur yang cukup. 2. Aktifkan Mode Malam: Gunakan fitur mode malam di ponsel Anda untuk mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur. 3. Senyapkan Dering dan Notifikasi: Pastikan untuk mematikan suara dering dan notifikasi sebelum tidur. 4. Letakkan Ponsel Jauh dari Jangkauan: Jauhkan ponsel dari tempat tidur agar tidak tergoda untuk terus memeriksa pesan atau telepon saat hendak tidur. 5. Batasi Penggunaan Ponsel Sebelum Tidur: Hindari penggunaan ponsel beberapa saat sebelum tidur untuk membantu Anda bersiap-siap tidur dengan lebih tenang. (ad)
Indonesia
| Minggu, 16 Juli 2023
Lifestyle

Gus Paox Iben Juga Pakai LEXi LX 155, Begini Impresi Berkendaranya Tentang Skutik MAXi Yamaha
PIFA, Lifestyle - Daya tarik line up produk Yamaha berbagai segmen selalu mengundang perhatian para bikers. Mereka ingin merasakan experience mengendarai motor-motor Yamaha yang memiliki kualitas unggulan dengan fitur dan teknologi modern. Public figure juga menyukai kualitas motor Yamaha, seperti yang dirasakan oleh Achmad Ibnu Wibowo atau yang dikenal dengan Gus Paox Iben. Aktif dalam bidang budaya dan seni Indonesia serta menjadi penulis, Gus Paox Iben pun seorang biker yang kerap berkelana menggunakan motor. Bersama Yamaha MT-09, pria kelahiran Kendal Jawa Tengah berusia 48 tahun itu mengusung misi khusus dalam “Nunggang Roso Riding From Borobudur to Berlin, Global Cultural Journey for Tolerance and Peace”. Petualangan itu telah diawali dengan pelepasan perjalanannya pada 20 Mei 2024 lalu bertempat di area museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Gus Paox Iben tidak hanya terkesan dengan MT-09 yang terlebih dahulu dikendarainya dalam city touring di Yogyakarta dan Magelang. Dia pun sempat mencoba menggunakan Yamaha LEXi LX 155 di seputar area Magelang dan mendapatkan impresi berkendara positif dari skutik teranyar MAXi Yamaha Series tersebut. ”Desain LEXi baru ini keren banget, model motor ini kekinian. Mesin terasa smooth halus dan full power. Posisi berkendara nyaman banget, suspensinya enak. Pokoknya memang motor ini keren deh,” ungkap Gus Paox Iben. Memakai LEXi LX 155 memberikan pengalaman berkendara menyenangkan bagi Gus Paox Iben. Matik premium terbaru Yamaha yang diluncurkan Januari 2024 lalu itu terbukti dapat menjadi partner berkendara terbaik untuk keseharian maupun melancarkan hobi berkendara lainnya. Dibekali beragam fitur dan teknologi modern, LEXi LX 155 menjadi pilihan terpercaya buat pengendara bermobilitas. Yamaha LEXi LX 155 Simple but MAXi Performance LEXi LX 155 dilengkapi dengan mesin Blue Core 155 cc generasi terbaru. Sentuhan pembaharuan tersebut dapat dilihat pada design camshaft, piston dan head serta jalur oli, sehingga menghasilkan performa lebih baik karena minim gesekan serta vibrasi. Mesin terbaru pada LEXi LX 155 menghasilkan tenaga maksimum sebesar 11.3 kW/8000 rpm dan torsi maksimum sebesar 14.2 Nm/6500 rpm. Selain itu, mesin LEXi LX 155 juga telah berteknologi VVA (Variable Valve Actuation), SOHC, 4 valve dan liquid cooled. Istimewanya untuk LEXi LX 155 Connected ABS memiliki sistem pengereman ABS (Anti-lock Braking System)* untuk mengoptimalkan pengereman saat berkendara dan semakin nyaman dikendarai. Simple but MAXi Pleasure Selain dibekali dengan mesin baru, LEXi LX 155 mempunyai keunggulan yang merupakan ciri khas LEXi yaitu flat footboard yang memudahkan pengguna mengakses ruang kaki saat berkendara. Kenyamanan posisi berkendara juga didukung ruang kaki lega dan desain jok baru yang lebih rendah dan ramping sehingga lebih nyaman dikendarai sendiri maupun berboncengan, layak jadi pilihan untuk penggunaan sehari-hari. Pada bagian kaki-kaki, motor ini dilengkapi dengan Sub-Tank Suspension* untuk peredaman yang lebih optimal sehingga turut mendukung performa berkendara yang lebih nyaman di berbagai kondisi jalan. Kualitas skutik anyar ini semakin dapat diandalkan karena memiliki bobot teringan di kategori MAXi Yamaha dengan berat isi 116-118 kg*. Hal ini mendukung kelincahan saat dikendarai dan memudahkan ketika diparkir. Selain itu, untuk mendukung kelancaran komunikasi biker LEXi LX 155 disematkan electric power socket yang bermanfaat untuk mengisi daya gadget. Simple but MAXi Design LEXi LX 155 juga memiliki desain anyar yang mempunyai karakter khas MAXi Yamaha dengan dimensi MAXi yang terlihat lebih sporty, elegan dan modern. Tampilan baru ini menambah rasa percaya diri dan kebanggaan saat berkendara dengan LEXi LX 155. Pada bagian body motor ini juga memiliki lampu depan dan belakang dengan desain baru menggunakan teknologi LED yang lebih terang dan awet. Kesan premium bertambah karena dilengkapi blue lenses berbentuk V-Lines pada lampu depan. Selain itu, terdapat full LCD speedometer dengan desain baru yang futuristik dan informatif. Simple but MAXi Technology Yamaha juga menyediakan teknologi modern pada LEXi LX 155, diantaranya pengendara dapat menggunakan Smart Key System* yaitu sistem kunci canggih tanpa anak kunci (keyless) dilengkapi fitur Answer Back System yang memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor. Dan termasuk untuk memenuhi kebutuhan konsumen di era modern yang selalu up to date, biker dapat terkoneksi dengan motor melalui aplikasi Y-Connect*. Yamaha menyediakan LEXi LX 155 dalam tiga varian yaitu LEXi LX 155 Connected ABS dengan warna Magma Black, sedangkan LEXi LX 155 S Version mempunyai tiga warna yakni Magma Black, Elixir Dark Silver dan Matte Red, serta LEXi LX 155 dengan warna Metallic Black, Matte Grey dan Metallic Red. Untuk informasi selengkapnya mengenai produk terbaru LEXi LX 155 dapat dilihat pada website Yamaha www.yamaha-motor.co.id. *Spesifikasi dan fitur hanya terdapat pada LEXi LX 155 varian tertentu. (ly)
Indonesia
| Senin, 27 Mei 2024
Feeds
Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak
PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.
Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi
PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.
Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026

Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah
PIFA, Lifestyle - Meningkatnya kasus penularan virus Nipah di India menjadi perhatian serius bagi kawasan Asia. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif dengan mencontoh kebijakan negara-negara tetangga dalam mencegah masuk dan menyebarnya virus berbahaya tersebut. Dalam keterangan tertulis pada Kamis, Prof. Tjandra menekankan pentingnya kewaspadaan dini, mengingat virus Nipah kini dilaporkan telah menular antar-manusia di India. Virus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga radang otak dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, menurut Prof. Tjandra, telah lebih dulu mengambil langkah pencegahan. Thailand, misalnya, melakukan skrining ketat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang terhadap penumpang yang datang dari negara bagian West Bengal, India. Nepal juga menerapkan kebijakan serupa di Tribhuvan International Airport. Langkah antisipasi juga dilakukan Singapura. Pada 28 Januari 2026, pemerintah setempat mengumumkan pengetatan pengawasan kesehatan di Bandara Changi, termasuk pemeriksaan suhu tubuh bagi para pendatang. Selain itu, otoritas kesehatan Singapura meminta dokter, laboratorium, dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi virus Nipah, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke West Bengal. Tak hanya itu, Singapura juga menggencarkan penyuluhan kesehatan di pintu masuk negara, meningkatkan surveilans terhadap pekerja migran dari Asia Selatan, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas pengendalian penyakit menular di kawasan tersebut. Prof. Tjandra menilai, Indonesia berada pada posisi yang tidak kalah berisiko karena intensitas kunjungan warga India, baik sebagai wisatawan maupun pekerja. "Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita, maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu. Ia menambahkan, selain menerapkan langkah pencegahan di pintu masuk negara, Indonesia juga perlu meningkatkan koordinasi regional dan internasional, khususnya dengan WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat, untuk memantau perkembangan dan potensi penyebaran virus Nipah. Virus Nipah merupakan patogen zoonotik yang awalnya menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia. Namun, seiring waktu, virus ini juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, termasuk melalui makanan yang terkontaminasi. Secara global, tercatat sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah sejak pertama kali dilaporkan pada 1998–1999. Kasus awal ditemukan di Malaysia, kemudian menyebar dan dilaporkan pula di Bangladesh, India, Filipina, serta Singapura. Prof. Tjandra menjelaskan, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara empat hingga 21 hari atau bahkan lebih. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru, termasuk batuk, sesak napas, pneumonia, hingga peradangan otak. Hingga saat ini, menurut Prof. Tjandra, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk infeksi virus Nipah. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit tersebut.
Lifestyle
| Kamis, 29 Januari 2026

Studi Ungkap Olahraga Rutin Bisa Bikin Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis
PIFA, Lifestyle - Sebuah studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari AdventHealth Research Institute dan University of Pittsburgh menemukan bahwa olahraga rutin dapat membuat usia otak tampak lebih muda secara biologis. Para peneliti ingin mengetahui apakah olahraga mampu mengubah struktur fisik otak serta apakah perubahan tersebut dapat terlihat melalui hasil pemindaian otak. Hasil penelitian ini dilaporkan oleh Eating Well pada Selasa (27/1) waktu setempat. Dalam studi tersebut, peneliti merekrut 130 orang dewasa sehat berusia 26 hingga 58 tahun untuk mengikuti uji klinis acak tersamar tunggal selama 12 bulan. Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yakni kelompok latihan aerobik intensitas sedang hingga berat dan kelompok kontrol yang diminta untuk tidak mengubah tingkat aktivitas fisik mereka. Kelompok latihan menjalani dua sesi olahraga berdurasi 60 menit per minggu yang diawasi di laboratorium, serta menambahkan latihan mandiri di rumah hingga mencapai sekitar 150 menit aktivitas aerobik per minggu. Jenis latihan yang dilakukan beragam, mulai dari berjalan, jogging, atau berlari di treadmill, hingga menggunakan sepeda statis, mesin elips, dan alat dayung. Intensitas latihan dipantau menggunakan alat pengukur detak jantung. Pada awal dan akhir penelitian, struktur otak peserta diukur menggunakan pemindaian MRI, sementara kebugaran kardiorespirasi dinilai melalui tes pengambilan oksigen puncak atau VO2peak. Dengan bantuan alat pembelajaran mesin bernama brainageR, peneliti menghitung selisih antara usia otak yang diprediksi dan usia kronologis peserta, yang disebut brain-PAD. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sport and Health Science menunjukkan perbedaan mencolok antara kedua kelompok setelah 12 bulan. Peserta dalam kelompok olahraga mengalami penurunan usia otak yang terukur, dengan otak mereka tampak sekitar 0,6 tahun lebih muda dibandingkan saat awal studi. Sebaliknya, kelompok kontrol justru menunjukkan sedikit peningkatan usia otak, sekitar 0,35 tahun lebih tua, meski perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Ketika dibandingkan langsung, selisih usia otak antara kedua kelompok hampir mencapai satu tahun dan menguntungkan kelompok yang rutin berolahraga. Selain itu, kelompok olahraga juga mengalami peningkatan kebugaran yang signifikan. Menariknya, peneliti menemukan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi sejak awal penelitian berkaitan dengan tampilan otak yang lebih muda. Meski demikian, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Peserta penelitian merupakan sukarelawan yang relatif sehat dan berpendidikan, dengan jumlah sampel yang tergolong terbatas. Pandemi COVID-19 juga memengaruhi jalannya penelitian karena sebagian peserta harus melanjutkan latihan dari rumah selama masa pembatasan. Peneliti juga mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin menjelaskan efek olahraga terhadap usia otak, seperti kebugaran, komposisi tubuh, tekanan darah, hingga protein otak brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Namun, tidak satu pun faktor tersebut sepenuhnya menjelaskan mekanisme di balik temuan ini. Penulis senior sekaligus ahli saraf, Kirk I. Erickson, Ph.D., menyebutkan bahwa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang hingga berat selama sekitar 150 menit per minggu dapat membantu menjaga otak tetap lebih muda secara biologis, bahkan seiring bertambahnya usia. Ia menambahkan, memulai kebiasaan olahraga sejak usia 30-an, 40-an, hingga 50-an dapat memberikan manfaat jangka panjang dengan membantu otak melawan proses penuaan. Bagi mereka yang belum memenuhi rekomendasi tersebut, Erickson menyarankan untuk memulai dari langkah kecil, seperti berjalan kaki singkat, menggunakan tangga, atau menjadwalkan beberapa sesi olahraga ringan setiap pekan. Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, dan menari dinilai efektif jika dilakukan secara konsisten.
Lifestyle
| Rabu, 28 Januari 2026

Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka
PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan sejumlah jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan kepada orang-orang yang tengah mengalami duka kehilangan. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, Ratriana menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi dengan individu yang sedang berduka. Ia mengingatkan agar tidak langsung menanyakan detail terkait kematian orang terdekat yang mereka kehilangan. “Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan,” kata Ratriana. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya disampaikan jika pihak yang berduka terlebih dahulu membuka cerita. Jika tidak, pertanyaan semacam itu justru berisiko memaksa mereka mengulang kembali pengalaman traumatis, sementara kondisi emosional mereka mungkin belum siap untuk membahasnya. Selain itu, Ratriana juga menyarankan untuk menghindari pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti mempertanyakan alasan tidak membawa almarhum ke rumah sakit lebih awal atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat. “Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi,” ujarnya. Psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang sebaiknya tidak diucapkan. Salah satunya adalah kalimat yang menuntut orang yang berduka untuk selalu kuat dan tabah. “Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya,” jelas Ratriana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak membandingkan pengalaman duka satu orang dengan yang lain atau mengadu nasib. Pasalnya, setiap individu memiliki cara dan waktu masing-masing dalam memproses kehilangan. Menurut Ratriana, sikap membandingkan justru dapat membuat orang yang berduka merasa tidak dipahami, bahkan merasa perasaan dan pengalamannya diabaikan. Oleh karena itu, bentuk dukungan terbaik adalah dengan hadir secara empatik, tidak menghakimi, serta memberikan ruang dan waktu agar proses penyembuhan emosional dapat berjalan secara perlahan.
Lifestyle
| Selasa, 27 Januari 2026

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan
PIFA, Lifestyle - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan masyarakat agar tidak memanaskan ulang sejumlah jenis makanan karena berisiko merusak kandungan zat gizi dan memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi kesehatan. “Kalau makanan itu sebelumnya telah diolah dengan suhu yang tinggi, itu sudah tidak bisa dipanaskan ulang karena akan makin terjadi pengurangan zat gizi, kerusakan zat gizi, dan juga pembentukan zat-zat baru, misalnya zat yang bersifat karsinogenik atau tingkat lemaknya menjadi sangat jenuh,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Kamis. Rita menjelaskan, menghangatkan makanan sebenarnya tidak merusak zat gizi. Kerusakan gizi justru terjadi ketika makanan dipanaskan kembali hingga mencapai titik didih dalam waktu yang lama atau melalui proses pengolahan suhu tinggi seperti menggoreng ulang. Menurutnya, proses menggoreng ulang dapat menyebabkan penurunan kualitas zat gizi serta pembentukan senyawa lain yang berisiko bagi kesehatan. Pengolahan dengan suhu tinggi yang perlu diwaspadai terutama pada makanan yang digoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak atau metode deep frying, terlebih jika minyak dipakai berulang kali. “Kalau hanya dihangatkan sampai suhu 60 derajat, itu sama sekali tidak merusak atau kalaupun dipanaskan sampai titik didih itu tidak dalam waktu yang lama. Kalau makanan digoreng kedua kali, itu sudah berisiko untuk kehilangan zat gizi,” tutur Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019–2024 itu. Ia juga menambahkan, makanan yang dibakar sebaiknya tidak dipanaskan ulang karena sejak awal sudah terpapar panas tinggi. Hal yang sama berlaku pada panganan olahan yang telah digoreng. “Pangan olahan karena pangan olahan itu kan prosesnya panjang seperti misalnya sosis, kornet, atau daging olahan, itu juga tidak disarankan untuk dipanaskan ulang,” ujarnya. Selain itu, Rita mengingatkan agar seluruh makanan yang mengandung nitrat tidak dipanaskan berulang. Nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan. “Nitrat jika dipanaskan bisa berubah menjadi nitrit itu bersifat sangat jelek untuk pembuluh darah dan bersifat karsinogenik. Contohnya bayam, kale, atau sayuran hijau pada umumnya. Pada kentang juga tinggi nitratnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang selama sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng. Sebaliknya, makanan berprotein hewani yang sudah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali. “Tapi kalau misalnya telurnya cuma orak-arik dengan suhu kecil, nah kalau dipanaskan sebentar orak-arik itu tidak ada masalah. Atau telur rebus dihangatkan sebentar telurnya juga itu tidak masalah,” ujar Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut.
Lifestyle
| Jumat, 23 Januari 2026

Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan
PIFA, Lifestyle - Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan suplemen yang mengandung vitamin C dan zinc baik dikonsumsi selama bulan puasa Ramadhan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. “Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Irwan menjelaskan, bulan puasa Ramadhan yang akan datang diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan. Kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, karena suhu udara yang lebih sejuk dapat mengurangi risiko dehidrasi. Menurutnya, cuaca hujan dan suhu yang lebih dingin juga berpotensi menurunkan risiko gangguan kesehatan seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba, yang kerap dialami sebagian orang selama menjalankan puasa. “Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” ujar Board of Medical Excellence Halodoc tersebut. Selain menjaga daya tahan tubuh, Irwan menyebut bulan puasa juga menjadi waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses “self cleaning” atau pembersihan dari racun yang mungkin menumpuk selama sekitar 12 bulan terakhir. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat Ramadhan, khususnya dengan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka puasa. Asupan gula berlebihan, kata dia, dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko lonjakan gula darah, hingga menimbulkan berbagai penyakit kronis dan masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Irwan menekankan bahwa gula tidak hanya berasal dari makanan atau minuman manis, tetapi juga dari makanan pokok seperti nasi yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola pikir terkait konsumsi rasa manis. “Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” tutup Irwan.
Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026

Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan
PIFA, Lifestyle – Dokter umum dari Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menekankan bahwa kesiapan mental menjadi hal pertama yang perlu dipersiapkan menjelang bulan Ramadhan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lancar dan optimal. “Karena sebetulnya yang pertama kali yang harus kita siapkan itu mentalnya dulu. Kadang-kadang kita enggak siap mental puasa. Mulai banyak tuh sebetulnya harus siapin ini-itu, mentalnya siap enggak. Kalau misalnya mentalnya enggak siap nanti akan timbul kepanikan, yang ada bukannya ibadah malah stres,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Anggota Board of Medical Excellence Halodoc tersebut menjelaskan, kesiapan mental sangat penting karena akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengikuti fase-fase ibadah puasa, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan selama Ramadhan. Selain mental, Irwan menyebut terdapat empat fase selama bulan Ramadhan yang juga perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan itu meliputi pemenuhan kebutuhan vitamin untuk menunjang kesehatan, serta memperhatikan riwayat penyakit yang biasa muncul atau diderita. Menurut Irwan, pada minggu pertama Ramadhan tubuh akan beradaptasi dengan pola puasa. Pada fase ini, penting untuk memperhatikan gejala penyakit yang mungkin timbul dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika diperlukan. Gangguan kesehatan umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak terjaga atau kurangnya waktu istirahat. “Karena kita ngobrolinnya itu mengenai Ramadhan pasti akan berkaitan juga dengan masa-masa nanti di Idul Fitri-nya. Kita tahu menu makanan di Idul Fitri santan, sambal-sambal, itu juga bisa berpengaruh pada kesehatan, itu juga harus dipersiapkan,” ujar Irwan. Ia menambahkan, kesiapan mental pada masa pasca-Idul Fitri juga penting, terutama terkait potensi kenaikan berat badan dan meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan pola makan saat Hari Raya. Jika hal tersebut diabaikan, ibadah puasa dikhawatirkan akan terasa berat dan kehilangan nilai ibadahnya. Irwan pun mengingatkan agar masyarakat bijak dalam mengatur kesiapan mental dan kesehatan selama Ramadhan, termasuk dengan menjaga pola tidur dan memilih makanan yang sehat dan seimbang, sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan aman dan khusyuk.
Lifestyle
| Rabu, 21 Januari 2026

Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan
PIFA, Lifestyle - Bagi seorang introvert, berkenalan dengan orang baru saat liburan kerap menjadi tantangan tersendiri, terlebih jika harus bepergian dalam tur berkelompok bersama orang asing. Situasi tersebut bisa terasa canggung dan menegangkan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa memulai percakapan. Dikutip dari Hindustan Times, Senin, pakar perjalanan sekaligus CEO Zo World and Zostel, Aviral Gupta, membagikan sejumlah trik sederhana agar para introvert tetap bisa menikmati perjalanan wisata berkelompok dan membangun koneksi sosial secara alami. Gupta menyarankan agar introvert memilih tempat menginap yang memungkinkan interaksi antartamu. Menurutnya, koneksi membutuhkan ruang bersama untuk tumbuh. “Hostel dengan ruang santai bersama, meja sarapan panjang, dapur komunal, atau area nongkrong di atap memudahkan orang asing untuk menjadi akrab. Momen-momen kecil seperti menunggu roti panggang matang, meminta garam untuk mi, atau mengisi daya ponsel di stop kontak yang sama bisa menghilangkan rasa canggung,” ujar Gupta. Selain itu, makanan disebut sebagai media pemersatu yang efektif. Membawa camilan atau berbagi makanan saat perjalanan dinilai dapat membantu mencairkan suasana. Gupta menilai makanan sering kali lebih ampuh meredakan ketegangan dibandingkan percakapan ringan. Dalam perjalanan kelompok, Gupta juga mengingatkan pentingnya memahami batasan pribadi. Mengetahui kapan harus mundur sejenak dan memberi ruang tetap menjadi bagian dari interaksi yang sehat. “Beberapa orang membutuhkan keheningan atau waktu sebelum mereka terbuka. Memberi ruang tanpa benar-benar menghilang adalah titik ideal,” katanya. Terakhir, Gupta menyarankan para pelancong introvert untuk merayakan kemenangan kecil selama perjalanan, seperti berhasil memulai obrolan singkat atau menikmati aktivitas bersama. Hal-hal sederhana tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna dan membantu membangun ikatan kebersamaan secara perlahan.
Lifestyle
| Selasa, 20 Januari 2026

Apakah Gagal Ginjal Bisa Sembuh dengan Cuci Darah? Ini Penjelasan Medisnya
PIFA, Lifestyle - Gagal ginjal merupakan kondisi ketika ginjal tidak lagi mampu menyaring zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari darah secara optimal. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan di masyarakat: apakah gagal ginjal bisa sembuh dengan menjalani cuci darah atau dialisis?Secara umum, gagal ginjal terbagi menjadi dua jenis, yakni gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Mengacu pada buku Keseimbangan Cairan, Elektrolit & Asam Basa, gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba, dengan atau tanpa penurunan produksi urine (oliguria). Kondisi ini biasanya berlangsung kurang dari tiga bulan.Sementara itu, gagal ginjal kronis merupakan penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara perlahan dan menetap. Penyebab paling umum antara lain diabetes melitus, hipertensi yang tidak terkontrol, serta penyakit kronis lainnya yang berlangsung dalam jangka panjang.Menurut Cleveland Clinic, dialisis atau cuci darah menjadi salah satu terapi utama pada pasien gagal ginjal. Prosedur ini bertujuan menggantikan fungsi ginjal dengan menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Saat ini, lebih dari dua juta orang di seluruh dunia bergantung pada dialisis atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.Namun, apakah cuci darah bisa menyembuhkan gagal ginjal?Dokter spesialis penyakit dalam, Leida Ariani Saltian, menjelaskan bahwa keberhasilan pemulihan fungsi ginjal dengan cuci darah sangat bergantung pada jenis gagal ginjal yang dialami pasien. Pada gagal ginjal akut, dialisis bersifat sementara dan dapat dihentikan apabila penyebab utamanya berhasil ditangani, seperti infeksi, dehidrasi berat, atau sumbatan batu ginjal.Dalam kondisi tersebut, fungsi ginjal masih berpeluang pulih sehingga pasien tidak harus menjalani cuci darah seumur hidup. Sebaliknya, pada gagal ginjal kronis, kerusakan ginjal bersifat permanen karena telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Dialisis pada kondisi ini bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mempertahankan fungsi tubuh dan kualitas hidup pasien.Dengan demikian, penderita gagal ginjal kronis umumnya harus menjalani cuci darah secara rutin atau menjalani transplantasi ginjal sebagai terapi jangka panjang.Untuk menekan risiko terjadinya gagal ginjal kronis, sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan, seperti menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, menghindari rokok, menggunakan obat sesuai anjuran, serta mengontrol penyakit penyerta seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi kunci deteksi dini gangguan ginjal.Kesimpulannya, cuci darah tidak selalu berarti kesembuhan. Pada gagal ginjal akut, peluang pemulihan masih cukup besar jika penyebabnya ditangani dengan cepat. Namun pada gagal ginjal kronis, dialisis berfungsi sebagai terapi penunjang jangka panjang, bukan sebagai metode penyembuhan total.
Lifestyle
| Senin, 19 Januari 2026


Berita Rekomendasi
Lifestyle

Rahasia Psikologis dan Kesehatan di Balik Kebiasaan Menggoyangkan Kaki saat Duduk
PIFA, Lifestyle - Menggoyangkan kaki saat duduk ternyata bukan hanya sekadar kebiasaan umum, tetapi juga mencakup fakta psikologis dan kesehatan yang menarik. Laman TimesofIndia melaporkan bahwa gerakan berulang ini, entah itu halus maupun kuat, dapat memberikan wawasan penting tentang psikologi seseorang dan bahkan menyingkapkan isu-isu kesehatan tertentu. Implikasi Kesehatan Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat memiliki implikasi kesehatan, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Beberapa individu mungkin mengalami Restless Leg Syndrome (RLS), suatu gangguan neurologis yang ditandai dengan dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki. Gemetar kaki yang berlebihan juga bisa menjadi tanda kecemasan atau stres yang memerlukan perhatian medis. Orang dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mungkin menunjukkan perilaku gelisah, termasuk menggetarkan kaki, sebagai respons terhadap kesulitan mereka dalam mempertahankan perhatian dan tetap diam. Penting untuk mencari bantuan profesional guna mendapatkan diagnosis yang tepat. Wawasan Psikologis Menggoyangkan kaki juga dapat memberikan wawasan psikologis. Orang yang terbiasa melakukan gerakan ini seringkali memiliki tingkat energi atau kegelisahan yang lebih tinggi. Gerakan tersebut dapat menjadi saluran untuk menyalurkan kelebihan energi atau kegelisahan secara bawah sadar. Dalam beberapa situasi, menggoyangkan kaki mungkin menunjukkan kebosanan atau kurangnya keterlibatan. Tubuh mungkin mencari cara untuk mengalihkan perhatian ketika pikiran menjadi tidak tertarik, menghasilkan gerakan berulang ini. Ciri-Ciri Kepribadian Selain itu, kebiasaan menggoyangkan kaki bisa mencerminkan ciri kepribadian tertentu. Ketidaksabaran mungkin menjadi faktor, di mana orang yang ingin hasil cepat atau bertindak dengan cepat cenderung mengekspresikannya melalui gerakan ini. Multitasker alami atau individu dengan ambang batas tinggi untuk menangani banyak aktivitas sekaligus juga mungkin menunjukkan kebiasaan ini saat melakukan tugas-tugas bersamaan. Terakhir, menggoyangkan kaki bisa menjadi indikasi kepribadian yang ekspresif dan energik. Ini dapat mencerminkan sifat yang dinamis dan hidup, menunjukkan kebersemangatan dan kegairahan dalam watak seseorang. Meskipun menggoyangkan kaki mungkin tampak sebagai kebiasaan sepele, pemahaman lebih lanjut tentang aspek psikologis dan kesehatan yang terkait dengannya dapat membantu individu untuk lebih menyadari diri mereka sendiri. Penting untuk mengambil tindakan jika kebiasaan ini mengganggu atau menimbulkan kekhawatiran, serta berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk mendapatkan pandangan yang lebih mendalam.
Indonesia
| Senin, 4 Desember 2023
Lifestyle

Manfaat dan Bahaya Sleep Call Jika Rutin Dilakukan
PIFA, Lifestyle - Kehadiran teknologi komunikasi memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan orang-orang tercinta, terlepas dari jarak yang memisahkan. Salah satu tren menarik di kalangan anak muda adalah "Sleep Call" atau panggilan tidur, yang dilakukan dengan pasangan atau orang terdekat hingga tertidur. Namun, di balik manfaatnya, sleep call juga menyimpan potensi bahaya dan dampak negatif yang perlu dipahami dengan bijaksana. Sleep call, atau panggilan tidur, adalah kegiatan di mana pasangan atau orang yang saling dekat melakukan panggilan telepon atau video call sebelum tidur dan tetap berkomunikasi hingga mereka tertidur. Hal ini sering dilakukan oleh mereka yang menjalani hubungan jarak jauh (LDR) untuk menjaga ikatan dan merasa lebih dekat meskipun secara fisik berjauhan. Meskipun awalnya populer di kalangan pasangan LDR, tren ini kini telah menyebar dan dilakukan oleh pasangan yang tinggal berdekatan. Manfaat Sleep Call 1. Mempererat Hubungan: Sleep call dapat menjadi sarana bagi pasangan untuk mempererat ikatan hubungan mereka. Kehadiran satu sama lain dalam percakapan sebelum tidur memberikan rasa kedekatan dan kenyamanan, terutama bagi pasangan yang jauh secara fisik. 2. Membuat Tidur Lebih Cepat: Berbicara dengan orang yang dicintai sebelum tidur bisa membantu mengatasi kecemasan dan pikiran yang membebani. Ini dapat membantu seseorang untuk lebih cepat tertidur dan tidur lebih nyenyak. 3. Mengatasi Rasa Kesepian: Sleep call juga dapat digunakan untuk mengatasi rasa kesepian, terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari keluarga dan teman-teman. Dengan berbicara dengan orang-orang terdekat, perasaan kesepian dapat berkurang. Bahaya Sleep Call Bagi Kesehatan 1. Sulit Menetapkan Batasan Peran: Terlalu sering melakukan sleep call dapat menyebabkan kesulitan dalam menetapkan batasan antara peran sebagai pasangan dan kehidupan pribadi. Setiap individu perlu memiliki waktu untuk diri sendiri dan menjaga keseimbangan dalam hubungan. 2. Kekurangan Tidur yang Berpengaruh pada Emosi: Sleep call yang berlebihan dapat menyebabkan kurangnya waktu tidur, yang pada gilirannya mempengaruhi keseimbangan emosi dan mood seseorang. 3. Rentan Konflik dengan Keluarga atau Lingkungan Sekitar: Sleep call yang berisik atau berlangsung terlalu larut malam dapat mengganggu anggota keluarga atau tetangga, menyebabkan konflik dan ketidaknyamanan. 4. Menurunkan Mutu Quality Time: Terlalu fokus pada sleep call dapat menyebabkan penurunan kualitas dari waktu berkualitas yang dihabiskan bersama orang lain. 5. Meningkatkan Kelelahan dan Stres: Sleep call dapat mengganggu pola tidur alami, menyebabkan kelelahan dan tingkat stres yang lebih tinggi. Cara Mengatasi Bahaya Sleep Call Untuk menghindari dampak negatif dari sleep call, berikut beberapa tips yang dapat dicoba: 1. Atur Waktu untuk Sleep Call: Tetapkan waktu yang wajar untuk sleep call sehingga tidak mengganggu waktu tidur yang cukup. 2. Aktifkan Mode Malam: Gunakan fitur mode malam di ponsel Anda untuk mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur. 3. Senyapkan Dering dan Notifikasi: Pastikan untuk mematikan suara dering dan notifikasi sebelum tidur. 4. Letakkan Ponsel Jauh dari Jangkauan: Jauhkan ponsel dari tempat tidur agar tidak tergoda untuk terus memeriksa pesan atau telepon saat hendak tidur. 5. Batasi Penggunaan Ponsel Sebelum Tidur: Hindari penggunaan ponsel beberapa saat sebelum tidur untuk membantu Anda bersiap-siap tidur dengan lebih tenang. (ad)
Indonesia
| Minggu, 16 Juli 2023
Lifestyle

Gus Paox Iben Juga Pakai LEXi LX 155, Begini Impresi Berkendaranya Tentang Skutik MAXi Yamaha
PIFA, Lifestyle - Daya tarik line up produk Yamaha berbagai segmen selalu mengundang perhatian para bikers. Mereka ingin merasakan experience mengendarai motor-motor Yamaha yang memiliki kualitas unggulan dengan fitur dan teknologi modern. Public figure juga menyukai kualitas motor Yamaha, seperti yang dirasakan oleh Achmad Ibnu Wibowo atau yang dikenal dengan Gus Paox Iben. Aktif dalam bidang budaya dan seni Indonesia serta menjadi penulis, Gus Paox Iben pun seorang biker yang kerap berkelana menggunakan motor. Bersama Yamaha MT-09, pria kelahiran Kendal Jawa Tengah berusia 48 tahun itu mengusung misi khusus dalam “Nunggang Roso Riding From Borobudur to Berlin, Global Cultural Journey for Tolerance and Peace”. Petualangan itu telah diawali dengan pelepasan perjalanannya pada 20 Mei 2024 lalu bertempat di area museum Sonobudoyo Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Gus Paox Iben tidak hanya terkesan dengan MT-09 yang terlebih dahulu dikendarainya dalam city touring di Yogyakarta dan Magelang. Dia pun sempat mencoba menggunakan Yamaha LEXi LX 155 di seputar area Magelang dan mendapatkan impresi berkendara positif dari skutik teranyar MAXi Yamaha Series tersebut. ”Desain LEXi baru ini keren banget, model motor ini kekinian. Mesin terasa smooth halus dan full power. Posisi berkendara nyaman banget, suspensinya enak. Pokoknya memang motor ini keren deh,” ungkap Gus Paox Iben. Memakai LEXi LX 155 memberikan pengalaman berkendara menyenangkan bagi Gus Paox Iben. Matik premium terbaru Yamaha yang diluncurkan Januari 2024 lalu itu terbukti dapat menjadi partner berkendara terbaik untuk keseharian maupun melancarkan hobi berkendara lainnya. Dibekali beragam fitur dan teknologi modern, LEXi LX 155 menjadi pilihan terpercaya buat pengendara bermobilitas. Yamaha LEXi LX 155 Simple but MAXi Performance LEXi LX 155 dilengkapi dengan mesin Blue Core 155 cc generasi terbaru. Sentuhan pembaharuan tersebut dapat dilihat pada design camshaft, piston dan head serta jalur oli, sehingga menghasilkan performa lebih baik karena minim gesekan serta vibrasi. Mesin terbaru pada LEXi LX 155 menghasilkan tenaga maksimum sebesar 11.3 kW/8000 rpm dan torsi maksimum sebesar 14.2 Nm/6500 rpm. Selain itu, mesin LEXi LX 155 juga telah berteknologi VVA (Variable Valve Actuation), SOHC, 4 valve dan liquid cooled. Istimewanya untuk LEXi LX 155 Connected ABS memiliki sistem pengereman ABS (Anti-lock Braking System)* untuk mengoptimalkan pengereman saat berkendara dan semakin nyaman dikendarai. Simple but MAXi Pleasure Selain dibekali dengan mesin baru, LEXi LX 155 mempunyai keunggulan yang merupakan ciri khas LEXi yaitu flat footboard yang memudahkan pengguna mengakses ruang kaki saat berkendara. Kenyamanan posisi berkendara juga didukung ruang kaki lega dan desain jok baru yang lebih rendah dan ramping sehingga lebih nyaman dikendarai sendiri maupun berboncengan, layak jadi pilihan untuk penggunaan sehari-hari. Pada bagian kaki-kaki, motor ini dilengkapi dengan Sub-Tank Suspension* untuk peredaman yang lebih optimal sehingga turut mendukung performa berkendara yang lebih nyaman di berbagai kondisi jalan. Kualitas skutik anyar ini semakin dapat diandalkan karena memiliki bobot teringan di kategori MAXi Yamaha dengan berat isi 116-118 kg*. Hal ini mendukung kelincahan saat dikendarai dan memudahkan ketika diparkir. Selain itu, untuk mendukung kelancaran komunikasi biker LEXi LX 155 disematkan electric power socket yang bermanfaat untuk mengisi daya gadget. Simple but MAXi Design LEXi LX 155 juga memiliki desain anyar yang mempunyai karakter khas MAXi Yamaha dengan dimensi MAXi yang terlihat lebih sporty, elegan dan modern. Tampilan baru ini menambah rasa percaya diri dan kebanggaan saat berkendara dengan LEXi LX 155. Pada bagian body motor ini juga memiliki lampu depan dan belakang dengan desain baru menggunakan teknologi LED yang lebih terang dan awet. Kesan premium bertambah karena dilengkapi blue lenses berbentuk V-Lines pada lampu depan. Selain itu, terdapat full LCD speedometer dengan desain baru yang futuristik dan informatif. Simple but MAXi Technology Yamaha juga menyediakan teknologi modern pada LEXi LX 155, diantaranya pengendara dapat menggunakan Smart Key System* yaitu sistem kunci canggih tanpa anak kunci (keyless) dilengkapi fitur Answer Back System yang memudahkan pengendara mencari posisi parkir motor. Dan termasuk untuk memenuhi kebutuhan konsumen di era modern yang selalu up to date, biker dapat terkoneksi dengan motor melalui aplikasi Y-Connect*. Yamaha menyediakan LEXi LX 155 dalam tiga varian yaitu LEXi LX 155 Connected ABS dengan warna Magma Black, sedangkan LEXi LX 155 S Version mempunyai tiga warna yakni Magma Black, Elixir Dark Silver dan Matte Red, serta LEXi LX 155 dengan warna Metallic Black, Matte Grey dan Metallic Red. Untuk informasi selengkapnya mengenai produk terbaru LEXi LX 155 dapat dilihat pada website Yamaha www.yamaha-motor.co.id. *Spesifikasi dan fitur hanya terdapat pada LEXi LX 155 varian tertentu. (ly)







