Trending
Kiat Menjaga Kesehatan Selama Puasa dari Dokter Spesialis
Indonesia
| Sabtu, 15 Februari 2025

Rumah Mewah Rp 1,6 Triliun Milik Rapper Drake Kebanjiran
Kanada
| Jumat, 19 Juli 2024

NMAX Generasi Terbaru Terjual 1.000 unit Dalam Waktu 40 Menit, Konsumen Berburu Beli Online di Blibli
Jakarta
| Kamis, 13 Juni 2024

5 Prediksi Tren Diet 2025 yang Bisa Kamu Coba, Ada dengan Bantuan AI
Indonesia
| Senin, 6 Januari 2025

5 Karakter Orang yang Cocok Bekerja Remote, Kamu Salah Satunya?
Indonesia
| Kamis, 15 Juni 2023

Mood Sering Berubah? Berikut 9 Cara Mengatasinya!
Indonesia
| Rabu, 17 Mei 2023

Jangan Sepelakan, Terlalu Sering Konsumsi Mie Instan Dapat Sebabkan Hal Ini Terjadi
Indonesia
| Rabu, 10 Mei 2023

Perubahan pada Tangan dan Kuku Bisa Jadi Sinyal Masalah Kesehatan Serius
Lifestyle
| Rabu, 24 Desember 2025

7 Daftar Film yang Bakal Hilang dari Netflix Juli 2024, Buruan Tonton!
Indonesia
| Kamis, 18 Juli 2024

Berita Terbaru
Lifestyle

Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka
PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan sejumlah jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan kepada orang-orang yang tengah mengalami duka kehilangan. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, Ratriana menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi dengan individu yang sedang berduka. Ia mengingatkan agar tidak langsung menanyakan detail terkait kematian orang terdekat yang mereka kehilangan. “Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan,” kata Ratriana. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya disampaikan jika pihak yang berduka terlebih dahulu membuka cerita. Jika tidak, pertanyaan semacam itu justru berisiko memaksa mereka mengulang kembali pengalaman traumatis, sementara kondisi emosional mereka mungkin belum siap untuk membahasnya. Selain itu, Ratriana juga menyarankan untuk menghindari pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti mempertanyakan alasan tidak membawa almarhum ke rumah sakit lebih awal atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat. “Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi,” ujarnya. Psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang sebaiknya tidak diucapkan. Salah satunya adalah kalimat yang menuntut orang yang berduka untuk selalu kuat dan tabah. “Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya,” jelas Ratriana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak membandingkan pengalaman duka satu orang dengan yang lain atau mengadu nasib. Pasalnya, setiap individu memiliki cara dan waktu masing-masing dalam memproses kehilangan. Menurut Ratriana, sikap membandingkan justru dapat membuat orang yang berduka merasa tidak dipahami, bahkan merasa perasaan dan pengalamannya diabaikan. Oleh karena itu, bentuk dukungan terbaik adalah dengan hadir secara empatik, tidak menghakimi, serta memberikan ruang dan waktu agar proses penyembuhan emosional dapat berjalan secara perlahan.
Lifestyle
| Selasa, 27 Januari 2026
Lifestyle

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan
PIFA, Lifestyle - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan masyarakat agar tidak memanaskan ulang sejumlah jenis makanan karena berisiko merusak kandungan zat gizi dan memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi kesehatan. “Kalau makanan itu sebelumnya telah diolah dengan suhu yang tinggi, itu sudah tidak bisa dipanaskan ulang karena akan makin terjadi pengurangan zat gizi, kerusakan zat gizi, dan juga pembentukan zat-zat baru, misalnya zat yang bersifat karsinogenik atau tingkat lemaknya menjadi sangat jenuh,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Kamis. Rita menjelaskan, menghangatkan makanan sebenarnya tidak merusak zat gizi. Kerusakan gizi justru terjadi ketika makanan dipanaskan kembali hingga mencapai titik didih dalam waktu yang lama atau melalui proses pengolahan suhu tinggi seperti menggoreng ulang. Menurutnya, proses menggoreng ulang dapat menyebabkan penurunan kualitas zat gizi serta pembentukan senyawa lain yang berisiko bagi kesehatan. Pengolahan dengan suhu tinggi yang perlu diwaspadai terutama pada makanan yang digoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak atau metode deep frying, terlebih jika minyak dipakai berulang kali. “Kalau hanya dihangatkan sampai suhu 60 derajat, itu sama sekali tidak merusak atau kalaupun dipanaskan sampai titik didih itu tidak dalam waktu yang lama. Kalau makanan digoreng kedua kali, itu sudah berisiko untuk kehilangan zat gizi,” tutur Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019–2024 itu. Ia juga menambahkan, makanan yang dibakar sebaiknya tidak dipanaskan ulang karena sejak awal sudah terpapar panas tinggi. Hal yang sama berlaku pada panganan olahan yang telah digoreng. “Pangan olahan karena pangan olahan itu kan prosesnya panjang seperti misalnya sosis, kornet, atau daging olahan, itu juga tidak disarankan untuk dipanaskan ulang,” ujarnya. Selain itu, Rita mengingatkan agar seluruh makanan yang mengandung nitrat tidak dipanaskan berulang. Nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan. “Nitrat jika dipanaskan bisa berubah menjadi nitrit itu bersifat sangat jelek untuk pembuluh darah dan bersifat karsinogenik. Contohnya bayam, kale, atau sayuran hijau pada umumnya. Pada kentang juga tinggi nitratnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang selama sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng. Sebaliknya, makanan berprotein hewani yang sudah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali. “Tapi kalau misalnya telurnya cuma orak-arik dengan suhu kecil, nah kalau dipanaskan sebentar orak-arik itu tidak ada masalah. Atau telur rebus dihangatkan sebentar telurnya juga itu tidak masalah,” ujar Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut.
Lifestyle
| Jumat, 23 Januari 2026
Lifestyle

Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan
PIFA, Lifestyle - Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan suplemen yang mengandung vitamin C dan zinc baik dikonsumsi selama bulan puasa Ramadhan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. “Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Irwan menjelaskan, bulan puasa Ramadhan yang akan datang diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan. Kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, karena suhu udara yang lebih sejuk dapat mengurangi risiko dehidrasi. Menurutnya, cuaca hujan dan suhu yang lebih dingin juga berpotensi menurunkan risiko gangguan kesehatan seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba, yang kerap dialami sebagian orang selama menjalankan puasa. “Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” ujar Board of Medical Excellence Halodoc tersebut. Selain menjaga daya tahan tubuh, Irwan menyebut bulan puasa juga menjadi waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses “self cleaning” atau pembersihan dari racun yang mungkin menumpuk selama sekitar 12 bulan terakhir. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat Ramadhan, khususnya dengan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka puasa. Asupan gula berlebihan, kata dia, dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko lonjakan gula darah, hingga menimbulkan berbagai penyakit kronis dan masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Irwan menekankan bahwa gula tidak hanya berasal dari makanan atau minuman manis, tetapi juga dari makanan pokok seperti nasi yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola pikir terkait konsumsi rasa manis. “Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” tutup Irwan.
Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026
Berita Populer
Lifestyle

Kiat Menjaga Kesehatan Selama Puasa dari Dokter Spesialis
PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM Kencana, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, membagikan sejumlah kiat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan.“Ayo semangat, jangan sampai kita tidak produktif bahkan tidak mendapat hikmah sehat saat selesai puasa Ramadhan nanti,” ujar Dokter Ari saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.Tetap TerhidrasiDokter Ari menganjurkan agar tetap minum hingga waktu imsak tiba untuk mencegah dehidrasi saat berpuasa. Asupan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas padat sepanjang hari.Konsumsi Sahur dengan Gizi SeimbangWalaupun sedikit, makanan saat sahur harus tetap mengandung komponen lengkap, seperti karbohidrat (nasi atau kentang), lemak, dan protein dari telur, ikan, atau ayam. Sebaiknya makanan dikonsumsi dalam bentuk rebusan, bukan digulai, serta ditambah dengan buah dan sayur. Selain itu, untuk menghindari refluks setelah sahur, umat Muslim disarankan untuk tidak langsung tidur setelah sholat subuh. Jika harus tidur, dianjurkan untuk menggunakan bantal tinggi.Pilihan Makanan Saat BerbukaDokter Ari menyarankan agar berbuka dimulai dengan makanan yang manis, terutama dari buah-buahan seperti jus, atau minimal teh manis encer serta tiga butir kurma. Jika ingin menambah camilan, cukup dengan satu buah kue kecil sebelum melanjutkan sholat magrib.Makan Malam dalam Porsi NormalMakan besar sebaiknya tetap dalam porsi normal, tidak perlu digandakan. Makanan berlemak dan gorengan juga sebaiknya dikurangi. Sayur dan buah-buahan yang kaya vitamin serta mineral perlu dikonsumsi setelah sholat magrib.Penuhi Kebutuhan Cairan HarianAgar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, dianjurkan untuk mengonsumsi 8-10 gelas air sehari. Pembagiannya yaitu:4 gelas dari waktu berbuka hingga selesai sholat tarawih2-3 gelas setelah sholat tarawih2-3 gelas saat bangun sahur hingga imsakDengan menerapkan kiat-kiat ini, umat Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan tetap sehat dan bugar hingga akhir Ramadhan.
Indonesia
| Sabtu, 15 Februari 2025
Feeds
Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka
PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan sejumlah jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan kepada orang-orang yang tengah mengalami duka kehilangan. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, Ratriana menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi dengan individu yang sedang berduka. Ia mengingatkan agar tidak langsung menanyakan detail terkait kematian orang terdekat yang mereka kehilangan. “Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan,” kata Ratriana. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya disampaikan jika pihak yang berduka terlebih dahulu membuka cerita. Jika tidak, pertanyaan semacam itu justru berisiko memaksa mereka mengulang kembali pengalaman traumatis, sementara kondisi emosional mereka mungkin belum siap untuk membahasnya. Selain itu, Ratriana juga menyarankan untuk menghindari pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti mempertanyakan alasan tidak membawa almarhum ke rumah sakit lebih awal atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat. “Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi,” ujarnya. Psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang sebaiknya tidak diucapkan. Salah satunya adalah kalimat yang menuntut orang yang berduka untuk selalu kuat dan tabah. “Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya,” jelas Ratriana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak membandingkan pengalaman duka satu orang dengan yang lain atau mengadu nasib. Pasalnya, setiap individu memiliki cara dan waktu masing-masing dalam memproses kehilangan. Menurut Ratriana, sikap membandingkan justru dapat membuat orang yang berduka merasa tidak dipahami, bahkan merasa perasaan dan pengalamannya diabaikan. Oleh karena itu, bentuk dukungan terbaik adalah dengan hadir secara empatik, tidak menghakimi, serta memberikan ruang dan waktu agar proses penyembuhan emosional dapat berjalan secara perlahan.
Lifestyle
| Selasa, 27 Januari 2026

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan
PIFA, Lifestyle - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan masyarakat agar tidak memanaskan ulang sejumlah jenis makanan karena berisiko merusak kandungan zat gizi dan memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi kesehatan. “Kalau makanan itu sebelumnya telah diolah dengan suhu yang tinggi, itu sudah tidak bisa dipanaskan ulang karena akan makin terjadi pengurangan zat gizi, kerusakan zat gizi, dan juga pembentukan zat-zat baru, misalnya zat yang bersifat karsinogenik atau tingkat lemaknya menjadi sangat jenuh,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Kamis. Rita menjelaskan, menghangatkan makanan sebenarnya tidak merusak zat gizi. Kerusakan gizi justru terjadi ketika makanan dipanaskan kembali hingga mencapai titik didih dalam waktu yang lama atau melalui proses pengolahan suhu tinggi seperti menggoreng ulang. Menurutnya, proses menggoreng ulang dapat menyebabkan penurunan kualitas zat gizi serta pembentukan senyawa lain yang berisiko bagi kesehatan. Pengolahan dengan suhu tinggi yang perlu diwaspadai terutama pada makanan yang digoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak atau metode deep frying, terlebih jika minyak dipakai berulang kali. “Kalau hanya dihangatkan sampai suhu 60 derajat, itu sama sekali tidak merusak atau kalaupun dipanaskan sampai titik didih itu tidak dalam waktu yang lama. Kalau makanan digoreng kedua kali, itu sudah berisiko untuk kehilangan zat gizi,” tutur Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019–2024 itu. Ia juga menambahkan, makanan yang dibakar sebaiknya tidak dipanaskan ulang karena sejak awal sudah terpapar panas tinggi. Hal yang sama berlaku pada panganan olahan yang telah digoreng. “Pangan olahan karena pangan olahan itu kan prosesnya panjang seperti misalnya sosis, kornet, atau daging olahan, itu juga tidak disarankan untuk dipanaskan ulang,” ujarnya. Selain itu, Rita mengingatkan agar seluruh makanan yang mengandung nitrat tidak dipanaskan berulang. Nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan. “Nitrat jika dipanaskan bisa berubah menjadi nitrit itu bersifat sangat jelek untuk pembuluh darah dan bersifat karsinogenik. Contohnya bayam, kale, atau sayuran hijau pada umumnya. Pada kentang juga tinggi nitratnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang selama sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng. Sebaliknya, makanan berprotein hewani yang sudah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali. “Tapi kalau misalnya telurnya cuma orak-arik dengan suhu kecil, nah kalau dipanaskan sebentar orak-arik itu tidak ada masalah. Atau telur rebus dihangatkan sebentar telurnya juga itu tidak masalah,” ujar Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut.
Lifestyle
| Jumat, 23 Januari 2026

Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan
PIFA, Lifestyle - Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan suplemen yang mengandung vitamin C dan zinc baik dikonsumsi selama bulan puasa Ramadhan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. “Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Irwan menjelaskan, bulan puasa Ramadhan yang akan datang diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan. Kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, karena suhu udara yang lebih sejuk dapat mengurangi risiko dehidrasi. Menurutnya, cuaca hujan dan suhu yang lebih dingin juga berpotensi menurunkan risiko gangguan kesehatan seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba, yang kerap dialami sebagian orang selama menjalankan puasa. “Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” ujar Board of Medical Excellence Halodoc tersebut. Selain menjaga daya tahan tubuh, Irwan menyebut bulan puasa juga menjadi waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses “self cleaning” atau pembersihan dari racun yang mungkin menumpuk selama sekitar 12 bulan terakhir. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat Ramadhan, khususnya dengan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka puasa. Asupan gula berlebihan, kata dia, dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko lonjakan gula darah, hingga menimbulkan berbagai penyakit kronis dan masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Irwan menekankan bahwa gula tidak hanya berasal dari makanan atau minuman manis, tetapi juga dari makanan pokok seperti nasi yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola pikir terkait konsumsi rasa manis. “Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” tutup Irwan.
Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026

Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan
PIFA, Lifestyle – Dokter umum dari Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menekankan bahwa kesiapan mental menjadi hal pertama yang perlu dipersiapkan menjelang bulan Ramadhan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lancar dan optimal. “Karena sebetulnya yang pertama kali yang harus kita siapkan itu mentalnya dulu. Kadang-kadang kita enggak siap mental puasa. Mulai banyak tuh sebetulnya harus siapin ini-itu, mentalnya siap enggak. Kalau misalnya mentalnya enggak siap nanti akan timbul kepanikan, yang ada bukannya ibadah malah stres,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Anggota Board of Medical Excellence Halodoc tersebut menjelaskan, kesiapan mental sangat penting karena akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengikuti fase-fase ibadah puasa, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan selama Ramadhan. Selain mental, Irwan menyebut terdapat empat fase selama bulan Ramadhan yang juga perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan itu meliputi pemenuhan kebutuhan vitamin untuk menunjang kesehatan, serta memperhatikan riwayat penyakit yang biasa muncul atau diderita. Menurut Irwan, pada minggu pertama Ramadhan tubuh akan beradaptasi dengan pola puasa. Pada fase ini, penting untuk memperhatikan gejala penyakit yang mungkin timbul dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika diperlukan. Gangguan kesehatan umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak terjaga atau kurangnya waktu istirahat. “Karena kita ngobrolinnya itu mengenai Ramadhan pasti akan berkaitan juga dengan masa-masa nanti di Idul Fitri-nya. Kita tahu menu makanan di Idul Fitri santan, sambal-sambal, itu juga bisa berpengaruh pada kesehatan, itu juga harus dipersiapkan,” ujar Irwan. Ia menambahkan, kesiapan mental pada masa pasca-Idul Fitri juga penting, terutama terkait potensi kenaikan berat badan dan meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan pola makan saat Hari Raya. Jika hal tersebut diabaikan, ibadah puasa dikhawatirkan akan terasa berat dan kehilangan nilai ibadahnya. Irwan pun mengingatkan agar masyarakat bijak dalam mengatur kesiapan mental dan kesehatan selama Ramadhan, termasuk dengan menjaga pola tidur dan memilih makanan yang sehat dan seimbang, sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan aman dan khusyuk.
Lifestyle
| Rabu, 21 Januari 2026

Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan
PIFA, Lifestyle - Bagi seorang introvert, berkenalan dengan orang baru saat liburan kerap menjadi tantangan tersendiri, terlebih jika harus bepergian dalam tur berkelompok bersama orang asing. Situasi tersebut bisa terasa canggung dan menegangkan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa memulai percakapan. Dikutip dari Hindustan Times, Senin, pakar perjalanan sekaligus CEO Zo World and Zostel, Aviral Gupta, membagikan sejumlah trik sederhana agar para introvert tetap bisa menikmati perjalanan wisata berkelompok dan membangun koneksi sosial secara alami. Gupta menyarankan agar introvert memilih tempat menginap yang memungkinkan interaksi antartamu. Menurutnya, koneksi membutuhkan ruang bersama untuk tumbuh. “Hostel dengan ruang santai bersama, meja sarapan panjang, dapur komunal, atau area nongkrong di atap memudahkan orang asing untuk menjadi akrab. Momen-momen kecil seperti menunggu roti panggang matang, meminta garam untuk mi, atau mengisi daya ponsel di stop kontak yang sama bisa menghilangkan rasa canggung,” ujar Gupta. Selain itu, makanan disebut sebagai media pemersatu yang efektif. Membawa camilan atau berbagi makanan saat perjalanan dinilai dapat membantu mencairkan suasana. Gupta menilai makanan sering kali lebih ampuh meredakan ketegangan dibandingkan percakapan ringan. Dalam perjalanan kelompok, Gupta juga mengingatkan pentingnya memahami batasan pribadi. Mengetahui kapan harus mundur sejenak dan memberi ruang tetap menjadi bagian dari interaksi yang sehat. “Beberapa orang membutuhkan keheningan atau waktu sebelum mereka terbuka. Memberi ruang tanpa benar-benar menghilang adalah titik ideal,” katanya. Terakhir, Gupta menyarankan para pelancong introvert untuk merayakan kemenangan kecil selama perjalanan, seperti berhasil memulai obrolan singkat atau menikmati aktivitas bersama. Hal-hal sederhana tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna dan membantu membangun ikatan kebersamaan secara perlahan.
Lifestyle
| Selasa, 20 Januari 2026

Apakah Gagal Ginjal Bisa Sembuh dengan Cuci Darah? Ini Penjelasan Medisnya
PIFA, Lifestyle - Gagal ginjal merupakan kondisi ketika ginjal tidak lagi mampu menyaring zat sisa metabolisme dan kelebihan cairan dari darah secara optimal. Kondisi ini kerap menimbulkan pertanyaan di masyarakat: apakah gagal ginjal bisa sembuh dengan menjalani cuci darah atau dialisis?Secara umum, gagal ginjal terbagi menjadi dua jenis, yakni gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis. Mengacu pada buku Keseimbangan Cairan, Elektrolit & Asam Basa, gagal ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara tiba-tiba, dengan atau tanpa penurunan produksi urine (oliguria). Kondisi ini biasanya berlangsung kurang dari tiga bulan.Sementara itu, gagal ginjal kronis merupakan penurunan fungsi ginjal yang terjadi secara perlahan dan menetap. Penyebab paling umum antara lain diabetes melitus, hipertensi yang tidak terkontrol, serta penyakit kronis lainnya yang berlangsung dalam jangka panjang.Menurut Cleveland Clinic, dialisis atau cuci darah menjadi salah satu terapi utama pada pasien gagal ginjal. Prosedur ini bertujuan menggantikan fungsi ginjal dengan menyaring limbah dan cairan berlebih dari darah. Saat ini, lebih dari dua juta orang di seluruh dunia bergantung pada dialisis atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.Namun, apakah cuci darah bisa menyembuhkan gagal ginjal?Dokter spesialis penyakit dalam, Leida Ariani Saltian, menjelaskan bahwa keberhasilan pemulihan fungsi ginjal dengan cuci darah sangat bergantung pada jenis gagal ginjal yang dialami pasien. Pada gagal ginjal akut, dialisis bersifat sementara dan dapat dihentikan apabila penyebab utamanya berhasil ditangani, seperti infeksi, dehidrasi berat, atau sumbatan batu ginjal.Dalam kondisi tersebut, fungsi ginjal masih berpeluang pulih sehingga pasien tidak harus menjalani cuci darah seumur hidup. Sebaliknya, pada gagal ginjal kronis, kerusakan ginjal bersifat permanen karena telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Dialisis pada kondisi ini bukan untuk menyembuhkan, melainkan untuk mempertahankan fungsi tubuh dan kualitas hidup pasien.Dengan demikian, penderita gagal ginjal kronis umumnya harus menjalani cuci darah secara rutin atau menjalani transplantasi ginjal sebagai terapi jangka panjang.Untuk menekan risiko terjadinya gagal ginjal kronis, sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan, seperti menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, menghindari rokok, menggunakan obat sesuai anjuran, serta mengontrol penyakit penyerta seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi kunci deteksi dini gangguan ginjal.Kesimpulannya, cuci darah tidak selalu berarti kesembuhan. Pada gagal ginjal akut, peluang pemulihan masih cukup besar jika penyebabnya ditangani dengan cepat. Namun pada gagal ginjal kronis, dialisis berfungsi sebagai terapi penunjang jangka panjang, bukan sebagai metode penyembuhan total.
Lifestyle
| Senin, 19 Januari 2026

IDAI: Belum Ada Bukti Ilmiah Air Kelapa Kurangi Gatal Akibat Cacar Air
PIFA, Lifestyle - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan belum terdapat bukti ilmiah yang kuat bahwa air kelapa dapat mengurangi rasa gatal akibat varicella atau cacar air.Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Dr. dr. Ratni Indrawanti, Sp.A, Subsp.I.P.T(K), mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan secara spesifik manfaat air kelapa dalam meredakan gatal pada pasien cacar air.“Belum ada bukti ilmiah bahwa air kelapa mengurangi gatal (akibat cacar), tapi (air kelapa) boleh diberikan pada anak-anak,” ujar Ratni dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.Ratni menjelaskan, manfaat air kelapa yang telah terbukti secara ilmiah adalah kandungan elektrolitnya, seperti kalium, yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Khasiat tersebut juga telah lama dipercaya secara turun-temurun sebagai minuman alami untuk menjaga kesehatan.Namun, jika dikaitkan secara khusus dengan pengurangan rasa gatal pada penderita cacar air, Ratni menilai masih diperlukan penelitian lebih lanjut agar informasi mengenai fungsi dan manfaat air kelapa dapat diperbarui dan memiliki dasar ilmiah yang valid.Meski demikian, ia menegaskan bahwa air kelapa tetap aman dikonsumsi oleh pasien cacar air sebagai bagian dari asupan cairan.Dalam kesempatan tersebut, Ratni juga mengimbau para orang tua untuk mencari informasi mengenai cacar air dari sumber yang tepercaya dan tidak mudah mempercayai mitos yang masih beredar di masyarakat.Varicella atau cacar air merupakan infeksi primer akibat virus varicella zoster (VZV) yang ditandai dengan demam serta munculnya lepuhan kecil berisi cairan yang menyebar di seluruh tubuh atau ruam vesikular generalisata. Penyakit ini umumnya terjadi pada anak-anak dan mudah menular, terutama di ruang tertutup seperti sekolah, rumah, atau bangsal.Ratni menambahkan, cacar air sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. IDAI telah merekomendasikan pemberian vaksin varisela secara subkutan mulai usia 12 bulan.Pada anak usia 1–12 tahun, vaksin diberikan sebanyak dua dosis dengan interval enam minggu hingga tiga bulan. Sementara untuk usia 13 tahun atau lebih, interval pemberian vaksin adalah empat hingga enam minggu. Bagi anak usia dua tahun atau lebih yang belum mendapatkan vaksin MR/MMR dan varisela, dapat diberikan vaksin kombinasi MMRV sebagai dosis primer.Adapun pada anak usia di bawah dua tahun yang telah menerima vaksin MR/MMR atau varisela sebelumnya, vaksin MMRV dapat diberikan sebagai dosis penguat atau booster.
Lifestyle
| Rabu, 14 Januari 2026

Perubahan pada Tangan dan Kuku Bisa Jadi Sinyal Masalah Kesehatan Serius
PIFA, Lifestyle - Tubuh kerap mengirimkan sinyal melalui berbagai organ untuk menunjukkan kondisi kesehatan tertentu, termasuk lewat perubahan halus pada tangan dan kuku yang sering kali luput dikenali. Padahal, tanda-tanda tersebut bisa menjadi petunjuk awal adanya gangguan kesehatan, bahkan penyakit kronis. Dikutip dari laman Hindustan Times, Rabu (10/12) waktu setempat, ahli anestesi sekaligus dokter pengobatan nyeri intervensi Dr. Kunal Sood mengungkapkan sedikitnya lima perubahan pada kuku dan tangan yang dapat menandakan masalah kesehatan mendasar, seperti penyakit paru, jantung, anemia, hingga radang sendi dan psoriasis. “Mengenali tanda-tanda halus ini sejak dini dapat membantu mengidentifikasi kondisi kesehatan yang serius dan mendukung diagnosis serta pengobatan tepat waktu,” ujar Dr. Sood. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah ujung jari yang tampak membulat dengan kuku melengkung akibat pembesaran jaringan lunak, kondisi yang dikenal sebagai clubbing. Menurut Dr. Sood, perubahan ini dapat mengindikasikan penyakit paru-paru kronis atau gangguan jantung. “Hal ini terjadi ketika megakaryosit melewati paru-paru dan melepaskan faktor pertumbuhan seperti VEGF dan PDGF di ujung jari. Kondisi ini terkait dengan penyakit paru-paru kronis seperti kanker paru, bronkiektasis, fibrosis paru, fibrosis kistik, serta penyakit jantung dengan kekurangan oksigen jangka panjang,” jelasnya. Tanda berikutnya adalah koilonychia atau kuku berbentuk sendok, yang kerap menjadi peringatan dini anemia defisiensi besi. Kondisi ini membuat kuku tampak tipis dan cekung akibat gangguan pembentukan keratin, biasanya berkaitan dengan kekurangan zat besi karena kehilangan darah, menstruasi berat, asupan yang rendah, gangguan penyerapan, atau peningkatan kebutuhan selama kehamilan. Selain itu, munculnya garis merah atau cokelat kemerahan di bawah kuku, yang dikenal sebagai perdarahan serpihan, juga patut diperhatikan. Dr. Sood mengatakan, meskipun sering disebabkan trauma, garis-garis tersebut bisa menandakan peradangan pembuluh darah jika muncul banyak atau berada dekat pangkal kuku. “Ini dapat mengarah pada kondisi sistemik seperti vaskulitis, lupus, penyakit jaringan ikat, atau endokarditis infektif,” ujarnya. Pembengkakan pada sendi jari juga menjadi tanda klasik artritis. Menurut Dr. Sood, pembengkakan bisa disebabkan oleh osteoartritis akibat kerusakan tulang rawan, atau artritis inflamasi seperti artritis reumatoid dan psoriatik yang melibatkan peradangan jaringan sendi. Sementara itu, adanya lubang-lubang kecil pada permukaan kuku merupakan ciri khas keterlibatan matriks kuku pada psoriasis. Dr. Sood menyebut sekitar sepertiga pasien psoriasis mengalami kondisi ini, dan prevalensinya meningkat seiring lamanya penyakit. Tanda tersebut kerap disertai perubahan warna, penebalan kuku, atau onikolisis, serta sering ditemukan pada artritis psoriatik. Kesadaran terhadap perubahan kecil pada tangan dan kuku dinilai sangat penting, karena dapat menjadi petunjuk berharga tentang kondisi kesehatan di dalam tubuh. Pemeriksaan medis lebih lanjut dianjurkan apabila tanda-tanda tersebut muncul dan menetap.
Lifestyle
| Rabu, 24 Desember 2025

Psikolog: Pendampingan Emosi dan Literasi Digital Penting Tekan Dampak Negatif Media Sosial pada Remaja
PIFA, Lifestyle - Psikolog Vera Itabiliana mengemukakan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menekan dampak negatif penggunaan media sosial terhadap perkembangan psikologis dan emosi remaja. Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai dan akses ke media sosial saja belum cukup untuk melindungi remaja dari pengaruh buruk penggunaan media sosial secara berlebihan. Saat dihubungi dari Jakarta pada Kamis, Vera menekankan bahwa remaja membutuhkan dukungan dan pendampingan agar mampu mengelola emosi mereka ketika berinteraksi di media sosial. Psikolog dari Universitas Indonesia itu juga menyoroti pentingnya menanamkan pemahaman tentang nilai dan identitas diri sejak dini. “Meningkatkan self-awareness membantu remaja memahami bahwa identitas dan nilai diri tidak bergantung pada angka digital,” kata Vera, merujuk pada indikator seperti jumlah likes, komentar, atau repost di media sosial. Ia juga menilai literasi digital sebagai aspek penting dalam pendampingan remaja. Dengan memahami cara kerja algoritma media sosial, remaja dapat melihat interaksi di ruang digital secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh popularitas semu. Selain itu, Vera menekankan pentingnya lingkungan sosial yang aman dan suportif, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Orang tua dan pendidik disarankan mendorong remaja membangun pertemanan yang sehat agar mereka memiliki ruang ekspresi tanpa tekanan untuk selalu tampil sempurna, yang kerap memicu kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri. Pengaturan keseimbangan antara aktivitas daring dan luring juga dinilai krusial untuk menjaga stabilitas emosi remaja. Vera menyarankan remaja didorong untuk aktif berolahraga, menekuni hobi, atau terlibat dalam kegiatan sosial agar tidak terlalu bergantung pada media sosial. Menurutnya, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi cara remaja membangun identitas diri, karena mereka terpapar berbagai standar sosial, tren, dan opini orang lain dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat proses pencarian jati diri menjadi lebih kompleks. “Pengaruh media sosial terhadap rasa percaya diri remaja sangat besar. Media sosial sering menjadi ‘cermin kedua’ bagi mereka, sehingga reaksi orang lain dapat membuat kepercayaan diri naik atau turun dengan cepat,” ujar Vera. Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berisiko memicu gangguan tidur, yang dapat meningkatkan stres, kecemasan, hingga depresi. Jika remaja mulai menunjukkan perubahan suasana hati ekstrem atau menarik diri dari lingkungan sosial, pendampingan intensif perlu segera dilakukan. “Validasi perasaan remaja, bantu mereka membangun konsep diri yang sehat, kurangi paparan konten yang memicu perbandingan diri, dan dorong aktivitas offline,” katanya. Apabila dampak penggunaan media sosial sudah mengganggu aktivitas dan fungsi harian remaja, Vera menganjurkan orang tua untuk tidak ragu mencari bantuan profesional melalui terapi atau konseling.
Lifestyle
| Rabu, 17 Desember 2025

Masalah Pernapasan Mengintai Perempuan Perkotaan, Dokter Ungkap Risiko Tersembunyi di Dalam Rumah
PIFA, Lifestyle - Konsultan senior kedokteran paru Rumah Sakit Amrita, Faridabad, dr. Sourabh Pahuja mengungkapkan bahwa masalah pernapasan kini menjadi persoalan yang semakin umum dialami perempuan di wilayah perkotaan. “Perempuan perkotaan saat ini melaporkan tingkat batuk kronis yang lebih tinggi, sesak napas yang tidak dapat dijelaskan, infeksi dada berulang, hingga tanda-tanda awal penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),” ujar dr. Pahuja, dikutip dari Hindustan Times, Selasa. Menurutnya, polusi udara memang masih menjadi ancaman utama kesehatan paru-paru. Namun, ada sejumlah faktor lain yang kerap luput dari perhatian karena berasal dari kebiasaan sehari-hari di dalam rumah. “Meskipun polusi udara tetap menjadi ancaman yang diketahui, yang sering diabaikan adalah banyaknya kebiasaan di dalam rumah yang diam-diam menggerogoti kesehatan paru-paru jauh sebelum gejalanya terlihat,” kata dia. Dr. Pahuja menjelaskan, ventilasi rumah yang buruk menjadi salah satu pemicu gangguan pernapasan. Selain itu, penggunaan berlebihan bahan pembersih kimia seperti pemutih, cairan pembersih lantai, dan pembersih semprot dapat menyebabkan paparan zat kimia dosis rendah yang terakumulasi di paru-paru. Ia juga menyoroti penggunaan aerosol seperti deodoran semprot, pengharum ruangan, hingga semprotan anti-nyamuk yang melepaskan partikel halus dan mudah terhirup ke saluran pernapasan. Penggunaan pendingin ruangan (AC) secara berlebihan turut memperparah kondisi paru-paru. Udara kering dari AC dapat membuat saluran pernapasan lebih sensitif terhadap infeksi dan alergen, terlebih bila dikombinasikan dengan gaya hidup minim gerak akibat rutinitas bekerja dari rumah. Selain faktor dalam rumah, paparan asap kendaraan bermotor saat beraktivitas di luar juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Kebiasaan mengobati sendiri batuk dan pilek tanpa memeriksakan sesak napas ke tenaga medis, serta menunda penanganan, disebut dapat mempercepat berkembangnya penyakit paru kronis. Dr. Pahuja mengimbau perempuan perkotaan untuk lebih waspada terhadap gejala pernapasan dan mulai memperhatikan kualitas udara, baik di luar maupun di dalam rumah, guna menjaga kesehatan paru-paru dalam jangka panjang.
Lifestyle
| Jumat, 12 Desember 2025


Berita Rekomendasi
Lifestyle

Kiat Menjaga Kesehatan Selama Puasa dari Dokter Spesialis
PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM Kencana, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, membagikan sejumlah kiat untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan.“Ayo semangat, jangan sampai kita tidak produktif bahkan tidak mendapat hikmah sehat saat selesai puasa Ramadhan nanti,” ujar Dokter Ari saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.Tetap TerhidrasiDokter Ari menganjurkan agar tetap minum hingga waktu imsak tiba untuk mencegah dehidrasi saat berpuasa. Asupan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas padat sepanjang hari.Konsumsi Sahur dengan Gizi SeimbangWalaupun sedikit, makanan saat sahur harus tetap mengandung komponen lengkap, seperti karbohidrat (nasi atau kentang), lemak, dan protein dari telur, ikan, atau ayam. Sebaiknya makanan dikonsumsi dalam bentuk rebusan, bukan digulai, serta ditambah dengan buah dan sayur. Selain itu, untuk menghindari refluks setelah sahur, umat Muslim disarankan untuk tidak langsung tidur setelah sholat subuh. Jika harus tidur, dianjurkan untuk menggunakan bantal tinggi.Pilihan Makanan Saat BerbukaDokter Ari menyarankan agar berbuka dimulai dengan makanan yang manis, terutama dari buah-buahan seperti jus, atau minimal teh manis encer serta tiga butir kurma. Jika ingin menambah camilan, cukup dengan satu buah kue kecil sebelum melanjutkan sholat magrib.Makan Malam dalam Porsi NormalMakan besar sebaiknya tetap dalam porsi normal, tidak perlu digandakan. Makanan berlemak dan gorengan juga sebaiknya dikurangi. Sayur dan buah-buahan yang kaya vitamin serta mineral perlu dikonsumsi setelah sholat magrib.Penuhi Kebutuhan Cairan HarianAgar tubuh tetap terhidrasi dengan baik, dianjurkan untuk mengonsumsi 8-10 gelas air sehari. Pembagiannya yaitu:4 gelas dari waktu berbuka hingga selesai sholat tarawih2-3 gelas setelah sholat tarawih2-3 gelas saat bangun sahur hingga imsakDengan menerapkan kiat-kiat ini, umat Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah puasa dengan tetap sehat dan bugar hingga akhir Ramadhan.








