2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Lifestyle

Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Libur panjang Lebaran 2025 telah berakhir. Pada Selasa (8/4), mayoritas masyarakat mulai kembali menjalani rutinitas harian seperti biasa, baik di tempat kerja maupun di lingkungan pendidikan. Namun, tidak sedikit yang merasa sulit untuk kembali fokus dan termotivasi. Jika Anda mengalami hal serupa, bisa jadi Anda sedang mengalami post-holiday blues.Post-holiday blues adalah kondisi tekanan mental, kecemasan, dan kesedihan jangka pendek yang muncul setelah masa liburan. Mengutip Very Well Mind, kondisi ini tergolong wajar dan sering kali dialami banyak orang setelah euforia dan kebersamaan selama masa libur panjang berakhir."Usai keramaian yang berlangsung selama liburan, wajar jika seseorang merasa kecewa atau kehilangan semangat saat harus kembali ke rutinitas," tulis laporan tersebut.Gejala yang Perlu DiwaspadaiBeberapa gejala umum dari post-holiday blues antara lain:Perasaan cemas tanpa sebab jelasKurangnya motivasi untuk beraktivitasMudah marah atau tersinggungStres berlebihGangguan tidurKekhawatiran tentang keuanganDalam beberapa kasus, seseorang juga bisa mengalami fase merenung secara mendalam—memikirkan peristiwa atau masalah yang terjadi selama liburan. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa memperburuk kesehatan mental.Emosi yang Muncul Setelah LiburanMeski bukan tergolong depresi berat, post-holiday blues tetap bisa memunculkan berbagai emosi negatif, di antaranya:1. Perasaan HampaRasa lelah dan aktivitas yang begitu padat saat liburan bisa berbalik menjadi kekosongan emosional ketika semua itu berakhir.2. KesepianSetelah dikelilingi keluarga dan kerabat selama libur Lebaran, kembali ke rutinitas sendiri dapat memunculkan rasa sepi yang menusuk.3. KehilanganKembali ke rutinitas harian dapat menimbulkan perasaan kehilangan atas momen-momen berharga bersama orang-orang tercinta yang sebelumnya selalu hadir.4. Kembali ke Rutinitas Secara BertahapPara ahli menyarankan agar masyarakat tidak terlalu memaksa diri untuk langsung "normal" dalam satu hari. Mulailah hari-hari awal dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan, serta atur waktu istirahat dengan baik. Luangkan juga waktu untuk tetap terhubung dengan keluarga atau teman meskipun liburan telah usai.Meski biasanya kondisi ini hanya berlangsung singkat, penting untuk mengenali gejalanya agar dapat diatasi dengan baik. Jika gejala berkepanjangan dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Indonesia
| Rabu, 9 April 2025
Foto: Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Lifestyle

Foto:  Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa | Pifa Net

Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, menyarankan individu yang merasa mengalami perlakuan berbeda dari orang tua pada masa kecil untuk membangun kesadaran diri dan memahami dampaknya terhadap kondisi psikologis saat dewasa. “Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci,” kata Amalia kepada ANTARA, Rabu (11/2). Menurut Amalia, pengalaman dibedakan dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri serta membangun relasi dengan orang lain. Karena itu, dampaknya perlu dikenali terlebih dahulu sebelum mulai diperbaiki. Isu mengenai perlakuan berbeda dalam keluarga kembali ramai dibicarakan setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, mencuat. Peristiwa tersebut memicu diskusi warganet tentang pengalaman menjadi anak tengah dalam keluarga. Pelaku diduga merupakan anak tengah yang selama ini merasakan perlakuan berbeda dari keluarganya. Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menilai, setelah seseorang memahami dampak perlakuan masa kecil terhadap dirinya, langkah selanjutnya adalah mulai memperbaiki hal-hal yang mengganggu kehidupan saat ini. Ia juga menekankan pentingnya penerimaan terhadap pengalaman masa lalu dilakukan secara bertahap. “Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu buru memaafkan semuanya. Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut,” ujarnya. Selain itu, Amalia menyarankan individu untuk mempertimbangkan bantuan profesional apabila upaya mandiri belum cukup dan beban emosional masih dirasakan kuat. “Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional,” katanya.

Jakarta
| Kamis, 12 Februari 2026

Lifestyle

Foto: Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak | Pifa Net

Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.

Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026

Lifestyle

Foto: Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi | Pifa Net

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.

Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026

Berita Populer

Lifestyle

Foto: Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues | Pifa Net

Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Libur panjang Lebaran 2025 telah berakhir. Pada Selasa (8/4), mayoritas masyarakat mulai kembali menjalani rutinitas harian seperti biasa, baik di tempat kerja maupun di lingkungan pendidikan. Namun, tidak sedikit yang merasa sulit untuk kembali fokus dan termotivasi. Jika Anda mengalami hal serupa, bisa jadi Anda sedang mengalami post-holiday blues.Post-holiday blues adalah kondisi tekanan mental, kecemasan, dan kesedihan jangka pendek yang muncul setelah masa liburan. Mengutip Very Well Mind, kondisi ini tergolong wajar dan sering kali dialami banyak orang setelah euforia dan kebersamaan selama masa libur panjang berakhir."Usai keramaian yang berlangsung selama liburan, wajar jika seseorang merasa kecewa atau kehilangan semangat saat harus kembali ke rutinitas," tulis laporan tersebut.Gejala yang Perlu DiwaspadaiBeberapa gejala umum dari post-holiday blues antara lain:Perasaan cemas tanpa sebab jelasKurangnya motivasi untuk beraktivitasMudah marah atau tersinggungStres berlebihGangguan tidurKekhawatiran tentang keuanganDalam beberapa kasus, seseorang juga bisa mengalami fase merenung secara mendalam—memikirkan peristiwa atau masalah yang terjadi selama liburan. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa memperburuk kesehatan mental.Emosi yang Muncul Setelah LiburanMeski bukan tergolong depresi berat, post-holiday blues tetap bisa memunculkan berbagai emosi negatif, di antaranya:1. Perasaan HampaRasa lelah dan aktivitas yang begitu padat saat liburan bisa berbalik menjadi kekosongan emosional ketika semua itu berakhir.2. KesepianSetelah dikelilingi keluarga dan kerabat selama libur Lebaran, kembali ke rutinitas sendiri dapat memunculkan rasa sepi yang menusuk.3. KehilanganKembali ke rutinitas harian dapat menimbulkan perasaan kehilangan atas momen-momen berharga bersama orang-orang tercinta yang sebelumnya selalu hadir.4. Kembali ke Rutinitas Secara BertahapPara ahli menyarankan agar masyarakat tidak terlalu memaksa diri untuk langsung "normal" dalam satu hari. Mulailah hari-hari awal dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan, serta atur waktu istirahat dengan baik. Luangkan juga waktu untuk tetap terhubung dengan keluarga atau teman meskipun liburan telah usai.Meski biasanya kondisi ini hanya berlangsung singkat, penting untuk mengenali gejalanya agar dapat diatasi dengan baik. Jika gejala berkepanjangan dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Indonesia
| Rabu, 9 April 2025

Lifestyle

Foto: Menikmati Es Krim ‘Angi’ yang Legendaris di Pontianak Sejak 1950 | Pifa Net

Menikmati Es Krim ‘Angi’ yang Legendaris di Pontianak Sejak 1950

PIFA, Lifestyle - Belakang ini, cuaca di Kota Pontianak panas terik. Saat cuaca panas paling nikmat menyantap jajanan segar untuk melepas dahaga, misalnya seperti es krim. Salah satu tempat yang legendaris untuk menikmati es krim di Kota Pontianak adalah Es Krim Petrus atau biasa disebut Es Krim Angi yang lokasinya yang persis di seberang SMP dan SMA Petrus, Jl. Karel Satsuit Tubun, No. 8, Akcaya, Pontianak Selatan. Berdiri sejak tahun 1950-an, Es Krim Angi telah menjadi favorit banyak masyarakat dan penggemar kuliner. Bahkan sejumlah publik figure jika berkunjung ke Pontianak tidak akan melewatkan untuk menikmati es krim ini. Sebab, es krim ini terkenal dengan rasa dan isian tradisionalnya yang khas. Es Krim Angi menawarkan beragam varian rasa, mulai dari cokelat, vanilla, green tea, strawberry, ketan hitam, durian, nangka, hingga cempedak. Tidak hanya itu, es krim ini juga disajikan dengan isian cincau, agar-agar, dan kacang merah, menambah kenikmatan setiap suapan. Pengunjung tidak hanya bisa memesan satu varian rasa es krim, tetapi juga bisa memesan hingga tiga varian rasa sekaligus dalam satu cup. Pilihan lainnya adalah menikmati es krim di atas batok kelapa, sebuah menu favorit di tempat ini. Selain es krim, Es Krim Angi juga menyediakan berbagai camilan khas Pontianak. Harga es krim Angi cukup terjangkau, dengan satu cup dihargai Rp 14 ribu, sementara untuk es krim dalam batok kelapa seharga Rp 25 ribu. Untuk menikmati kelezatan es krim legendaris ini, pengunjung bisa datang pada siang hari saat udara Kota Pontianak sedang panas. (ly)

Pontianak
| Senin, 20 Mei 2024

Lifestyle

Foto: Jadi Musisi Wanita dengan Bayaran Tertinggi 2022, Taylor Swift Hasilkan Rp1,3 Triliun | Pifa Net

Jadi Musisi Wanita dengan Bayaran Tertinggi 2022, Taylor Swift Hasilkan Rp1,3 Triliun

PIFA, Lifestyle - Taylor Swift merupakan salah satu musisi paling sukses dan berpengaruh di industri musik saat ini. Pada tahun 2022, dia berhasil masuk dalam daftar 10 artis dengan bayaran tertinggi sepanjang tahun versi Forbes. Menariknya lagi, Taylor Swift menjadi satu-satunya wanita yang masuk dalam daftar tersebut. Menurut laporan Forbes, Taylor Swift menempati posisi ke-9 dalam daftar artis dengan bayaran tertinggi pada tahun 2022, dengan total pendapatan sebesar 92 juta dollar AS atau sekitar Rp1,39 triliun. Dalam menentukan peringkat, Forbes mempertimbangkan pendapatan sebelum pajak pada 2022, dikurangi biaya operasional bisnis, serta biaya perwakilan artis, seperti manajer dan pengacara. Keberhasilan Taylor Swift pada tahun 2022 tak terlepas dari rilis album terbarunya yang berjudul "Midnights". Album ini meraih kesuksesan besar dan membawa Taylor Swift menjadi artis pertama dalam sejarah yang menyabet 10 posisi teratas tangga lagu Billboard Hot 100. Melalui album tersebut, Taylor Swift juga berhasil membawa pulang 12 piala Grammy pada ajang penghargaan tersebut. Keberhasilan Taylor Swift pada tahun 2022 juga terbantu oleh penghasilan dari streaming dan penjualan album. Forbes mencatat bahwa sekitar 70 persen dari pendapatan album "Midnights" berasal dari pendapatan streaming dan penjualan album. Sementara itu, peringkat pertama dari daftar entertainer dengan penghasilan terbesar jatuh kepada Genesis yang mendapatkan 230 dolar AS atau Rp3,4 trilun usai menjual katalog lagu mereka ke Concord Music Group pada September 2022 seharga 300 juta AS atau Rp4,5 triliun. Selain Taylor Swift dan Genesis, tokoh-tokoh di industri hiburan Hollywood yang masuk dalam daftar ini adalah Brad Pitt, The Rolling Stone, Bad Bunny, Sting, hingga Tyler Perry. (b) 

Amerika Serikat
| Minggu, 19 Februari 2023

Feeds

Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, menyarankan individu yang merasa mengalami perlakuan berbeda dari orang tua pada masa kecil untuk membangun kesadaran diri dan memahami dampaknya terhadap kondisi psikologis saat dewasa. “Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci,” kata Amalia kepada ANTARA, Rabu (11/2). Menurut Amalia, pengalaman dibedakan dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri serta membangun relasi dengan orang lain. Karena itu, dampaknya perlu dikenali terlebih dahulu sebelum mulai diperbaiki. Isu mengenai perlakuan berbeda dalam keluarga kembali ramai dibicarakan setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, mencuat. Peristiwa tersebut memicu diskusi warganet tentang pengalaman menjadi anak tengah dalam keluarga. Pelaku diduga merupakan anak tengah yang selama ini merasakan perlakuan berbeda dari keluarganya. Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menilai, setelah seseorang memahami dampak perlakuan masa kecil terhadap dirinya, langkah selanjutnya adalah mulai memperbaiki hal-hal yang mengganggu kehidupan saat ini. Ia juga menekankan pentingnya penerimaan terhadap pengalaman masa lalu dilakukan secara bertahap. “Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu buru memaafkan semuanya. Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut,” ujarnya. Selain itu, Amalia menyarankan individu untuk mempertimbangkan bantuan profesional apabila upaya mandiri belum cukup dan beban emosional masih dirasakan kuat. “Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional,” katanya.

Jakarta
| Kamis, 12 Februari 2026
Foto:  Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa | Pifa Net

Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.

Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026
Foto: Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak | Pifa Net

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.

Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026
Foto: Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi | Pifa Net

Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah

PIFA, Lifestyle - Meningkatnya kasus penularan virus Nipah di India menjadi perhatian serius bagi kawasan Asia. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif dengan mencontoh kebijakan negara-negara tetangga dalam mencegah masuk dan menyebarnya virus berbahaya tersebut. Dalam keterangan tertulis pada Kamis, Prof. Tjandra menekankan pentingnya kewaspadaan dini, mengingat virus Nipah kini dilaporkan telah menular antar-manusia di India. Virus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga radang otak dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, menurut Prof. Tjandra, telah lebih dulu mengambil langkah pencegahan. Thailand, misalnya, melakukan skrining ketat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang terhadap penumpang yang datang dari negara bagian West Bengal, India. Nepal juga menerapkan kebijakan serupa di Tribhuvan International Airport. Langkah antisipasi juga dilakukan Singapura. Pada 28 Januari 2026, pemerintah setempat mengumumkan pengetatan pengawasan kesehatan di Bandara Changi, termasuk pemeriksaan suhu tubuh bagi para pendatang. Selain itu, otoritas kesehatan Singapura meminta dokter, laboratorium, dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi virus Nipah, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke West Bengal. Tak hanya itu, Singapura juga menggencarkan penyuluhan kesehatan di pintu masuk negara, meningkatkan surveilans terhadap pekerja migran dari Asia Selatan, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas pengendalian penyakit menular di kawasan tersebut. Prof. Tjandra menilai, Indonesia berada pada posisi yang tidak kalah berisiko karena intensitas kunjungan warga India, baik sebagai wisatawan maupun pekerja. "Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita, maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu. Ia menambahkan, selain menerapkan langkah pencegahan di pintu masuk negara, Indonesia juga perlu meningkatkan koordinasi regional dan internasional, khususnya dengan WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat, untuk memantau perkembangan dan potensi penyebaran virus Nipah. Virus Nipah merupakan patogen zoonotik yang awalnya menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia. Namun, seiring waktu, virus ini juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, termasuk melalui makanan yang terkontaminasi. Secara global, tercatat sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah sejak pertama kali dilaporkan pada 1998–1999. Kasus awal ditemukan di Malaysia, kemudian menyebar dan dilaporkan pula di Bangladesh, India, Filipina, serta Singapura. Prof. Tjandra menjelaskan, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara empat hingga 21 hari atau bahkan lebih. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru, termasuk batuk, sesak napas, pneumonia, hingga peradangan otak. Hingga saat ini, menurut Prof. Tjandra, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk infeksi virus Nipah. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit tersebut.

Lifestyle
| Kamis, 29 Januari 2026
Foto: Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah | Pifa Net

Studi Ungkap Olahraga Rutin Bisa Bikin Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis

PIFA, Lifestyle - Sebuah studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari AdventHealth Research Institute dan University of Pittsburgh menemukan bahwa olahraga rutin dapat membuat usia otak tampak lebih muda secara biologis. Para peneliti ingin mengetahui apakah olahraga mampu mengubah struktur fisik otak serta apakah perubahan tersebut dapat terlihat melalui hasil pemindaian otak. Hasil penelitian ini dilaporkan oleh Eating Well pada Selasa (27/1) waktu setempat. Dalam studi tersebut, peneliti merekrut 130 orang dewasa sehat berusia 26 hingga 58 tahun untuk mengikuti uji klinis acak tersamar tunggal selama 12 bulan. Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yakni kelompok latihan aerobik intensitas sedang hingga berat dan kelompok kontrol yang diminta untuk tidak mengubah tingkat aktivitas fisik mereka. Kelompok latihan menjalani dua sesi olahraga berdurasi 60 menit per minggu yang diawasi di laboratorium, serta menambahkan latihan mandiri di rumah hingga mencapai sekitar 150 menit aktivitas aerobik per minggu. Jenis latihan yang dilakukan beragam, mulai dari berjalan, jogging, atau berlari di treadmill, hingga menggunakan sepeda statis, mesin elips, dan alat dayung. Intensitas latihan dipantau menggunakan alat pengukur detak jantung. Pada awal dan akhir penelitian, struktur otak peserta diukur menggunakan pemindaian MRI, sementara kebugaran kardiorespirasi dinilai melalui tes pengambilan oksigen puncak atau VO2peak. Dengan bantuan alat pembelajaran mesin bernama brainageR, peneliti menghitung selisih antara usia otak yang diprediksi dan usia kronologis peserta, yang disebut brain-PAD. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sport and Health Science menunjukkan perbedaan mencolok antara kedua kelompok setelah 12 bulan. Peserta dalam kelompok olahraga mengalami penurunan usia otak yang terukur, dengan otak mereka tampak sekitar 0,6 tahun lebih muda dibandingkan saat awal studi. Sebaliknya, kelompok kontrol justru menunjukkan sedikit peningkatan usia otak, sekitar 0,35 tahun lebih tua, meski perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Ketika dibandingkan langsung, selisih usia otak antara kedua kelompok hampir mencapai satu tahun dan menguntungkan kelompok yang rutin berolahraga. Selain itu, kelompok olahraga juga mengalami peningkatan kebugaran yang signifikan. Menariknya, peneliti menemukan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi sejak awal penelitian berkaitan dengan tampilan otak yang lebih muda. Meski demikian, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Peserta penelitian merupakan sukarelawan yang relatif sehat dan berpendidikan, dengan jumlah sampel yang tergolong terbatas. Pandemi COVID-19 juga memengaruhi jalannya penelitian karena sebagian peserta harus melanjutkan latihan dari rumah selama masa pembatasan. Peneliti juga mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin menjelaskan efek olahraga terhadap usia otak, seperti kebugaran, komposisi tubuh, tekanan darah, hingga protein otak brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Namun, tidak satu pun faktor tersebut sepenuhnya menjelaskan mekanisme di balik temuan ini. Penulis senior sekaligus ahli saraf, Kirk I. Erickson, Ph.D., menyebutkan bahwa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang hingga berat selama sekitar 150 menit per minggu dapat membantu menjaga otak tetap lebih muda secara biologis, bahkan seiring bertambahnya usia. Ia menambahkan, memulai kebiasaan olahraga sejak usia 30-an, 40-an, hingga 50-an dapat memberikan manfaat jangka panjang dengan membantu otak melawan proses penuaan. Bagi mereka yang belum memenuhi rekomendasi tersebut, Erickson menyarankan untuk memulai dari langkah kecil, seperti berjalan kaki singkat, menggunakan tangga, atau menjadwalkan beberapa sesi olahraga ringan setiap pekan. Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, dan menari dinilai efektif jika dilakukan secara konsisten.

Lifestyle
| Rabu, 28 Januari 2026
Foto: Studi Ungkap Olahraga Rutin Bisa Bikin Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis | Pifa Net

Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan sejumlah jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan kepada orang-orang yang tengah mengalami duka kehilangan. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, Ratriana menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi dengan individu yang sedang berduka. Ia mengingatkan agar tidak langsung menanyakan detail terkait kematian orang terdekat yang mereka kehilangan. “Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan,” kata Ratriana. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya disampaikan jika pihak yang berduka terlebih dahulu membuka cerita. Jika tidak, pertanyaan semacam itu justru berisiko memaksa mereka mengulang kembali pengalaman traumatis, sementara kondisi emosional mereka mungkin belum siap untuk membahasnya. Selain itu, Ratriana juga menyarankan untuk menghindari pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti mempertanyakan alasan tidak membawa almarhum ke rumah sakit lebih awal atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat. “Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi,” ujarnya. Psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang sebaiknya tidak diucapkan. Salah satunya adalah kalimat yang menuntut orang yang berduka untuk selalu kuat dan tabah. “Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya,” jelas Ratriana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak membandingkan pengalaman duka satu orang dengan yang lain atau mengadu nasib. Pasalnya, setiap individu memiliki cara dan waktu masing-masing dalam memproses kehilangan. Menurut Ratriana, sikap membandingkan justru dapat membuat orang yang berduka merasa tidak dipahami, bahkan merasa perasaan dan pengalamannya diabaikan. Oleh karena itu, bentuk dukungan terbaik adalah dengan hadir secara empatik, tidak menghakimi, serta memberikan ruang dan waktu agar proses penyembuhan emosional dapat berjalan secara perlahan.

Lifestyle
| Selasa, 27 Januari 2026
Foto:  Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka | Pifa Net

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan masyarakat agar tidak memanaskan ulang sejumlah jenis makanan karena berisiko merusak kandungan zat gizi dan memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi kesehatan. “Kalau makanan itu sebelumnya telah diolah dengan suhu yang tinggi, itu sudah tidak bisa dipanaskan ulang karena akan makin terjadi pengurangan zat gizi, kerusakan zat gizi, dan juga pembentukan zat-zat baru, misalnya zat yang bersifat karsinogenik atau tingkat lemaknya menjadi sangat jenuh,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Kamis. Rita menjelaskan, menghangatkan makanan sebenarnya tidak merusak zat gizi. Kerusakan gizi justru terjadi ketika makanan dipanaskan kembali hingga mencapai titik didih dalam waktu yang lama atau melalui proses pengolahan suhu tinggi seperti menggoreng ulang. Menurutnya, proses menggoreng ulang dapat menyebabkan penurunan kualitas zat gizi serta pembentukan senyawa lain yang berisiko bagi kesehatan. Pengolahan dengan suhu tinggi yang perlu diwaspadai terutama pada makanan yang digoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak atau metode deep frying, terlebih jika minyak dipakai berulang kali. “Kalau hanya dihangatkan sampai suhu 60 derajat, itu sama sekali tidak merusak atau kalaupun dipanaskan sampai titik didih itu tidak dalam waktu yang lama. Kalau makanan digoreng kedua kali, itu sudah berisiko untuk kehilangan zat gizi,” tutur Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019–2024 itu. Ia juga menambahkan, makanan yang dibakar sebaiknya tidak dipanaskan ulang karena sejak awal sudah terpapar panas tinggi. Hal yang sama berlaku pada panganan olahan yang telah digoreng. “Pangan olahan karena pangan olahan itu kan prosesnya panjang seperti misalnya sosis, kornet, atau daging olahan, itu juga tidak disarankan untuk dipanaskan ulang,” ujarnya. Selain itu, Rita mengingatkan agar seluruh makanan yang mengandung nitrat tidak dipanaskan berulang. Nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan. “Nitrat jika dipanaskan bisa berubah menjadi nitrit itu bersifat sangat jelek untuk pembuluh darah dan bersifat karsinogenik. Contohnya bayam, kale, atau sayuran hijau pada umumnya. Pada kentang juga tinggi nitratnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang selama sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng. Sebaliknya, makanan berprotein hewani yang sudah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali. “Tapi kalau misalnya telurnya cuma orak-arik dengan suhu kecil, nah kalau dipanaskan sebentar orak-arik itu tidak ada masalah. Atau telur rebus dihangatkan sebentar telurnya juga itu tidak masalah,” ujar Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut.

Lifestyle
| Jumat, 23 Januari 2026
Foto: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan | Pifa Net

Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan

PIFA, Lifestyle - Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan suplemen yang mengandung vitamin C dan zinc baik dikonsumsi selama bulan puasa Ramadhan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. “Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Irwan menjelaskan, bulan puasa Ramadhan yang akan datang diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan. Kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, karena suhu udara yang lebih sejuk dapat mengurangi risiko dehidrasi. Menurutnya, cuaca hujan dan suhu yang lebih dingin juga berpotensi menurunkan risiko gangguan kesehatan seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba, yang kerap dialami sebagian orang selama menjalankan puasa. “Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” ujar Board of Medical Excellence Halodoc tersebut. Selain menjaga daya tahan tubuh, Irwan menyebut bulan puasa juga menjadi waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses “self cleaning” atau pembersihan dari racun yang mungkin menumpuk selama sekitar 12 bulan terakhir. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat Ramadhan, khususnya dengan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka puasa. Asupan gula berlebihan, kata dia, dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko lonjakan gula darah, hingga menimbulkan berbagai penyakit kronis dan masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Irwan menekankan bahwa gula tidak hanya berasal dari makanan atau minuman manis, tetapi juga dari makanan pokok seperti nasi yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola pikir terkait konsumsi rasa manis. “Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” tutup Irwan.

Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026
Foto: Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan | Pifa Net

Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan

PIFA, Lifestyle – Dokter umum dari Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menekankan bahwa kesiapan mental menjadi hal pertama yang perlu dipersiapkan menjelang bulan Ramadhan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lancar dan optimal. “Karena sebetulnya yang pertama kali yang harus kita siapkan itu mentalnya dulu. Kadang-kadang kita enggak siap mental puasa. Mulai banyak tuh sebetulnya harus siapin ini-itu, mentalnya siap enggak. Kalau misalnya mentalnya enggak siap nanti akan timbul kepanikan, yang ada bukannya ibadah malah stres,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Anggota Board of Medical Excellence Halodoc tersebut menjelaskan, kesiapan mental sangat penting karena akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengikuti fase-fase ibadah puasa, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan selama Ramadhan. Selain mental, Irwan menyebut terdapat empat fase selama bulan Ramadhan yang juga perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan itu meliputi pemenuhan kebutuhan vitamin untuk menunjang kesehatan, serta memperhatikan riwayat penyakit yang biasa muncul atau diderita. Menurut Irwan, pada minggu pertama Ramadhan tubuh akan beradaptasi dengan pola puasa. Pada fase ini, penting untuk memperhatikan gejala penyakit yang mungkin timbul dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika diperlukan. Gangguan kesehatan umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak terjaga atau kurangnya waktu istirahat. “Karena kita ngobrolinnya itu mengenai Ramadhan pasti akan berkaitan juga dengan masa-masa nanti di Idul Fitri-nya. Kita tahu menu makanan di Idul Fitri santan, sambal-sambal, itu juga bisa berpengaruh pada kesehatan, itu juga harus dipersiapkan,” ujar Irwan. Ia menambahkan, kesiapan mental pada masa pasca-Idul Fitri juga penting, terutama terkait potensi kenaikan berat badan dan meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan pola makan saat Hari Raya. Jika hal tersebut diabaikan, ibadah puasa dikhawatirkan akan terasa berat dan kehilangan nilai ibadahnya. Irwan pun mengingatkan agar masyarakat bijak dalam mengatur kesiapan mental dan kesehatan selama Ramadhan, termasuk dengan menjaga pola tidur dan memilih makanan yang sehat dan seimbang, sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan aman dan khusyuk.

Lifestyle
| Rabu, 21 Januari 2026
Foto: Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan | Pifa Net

Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan

PIFA, Lifestyle - Bagi seorang introvert, berkenalan dengan orang baru saat liburan kerap menjadi tantangan tersendiri, terlebih jika harus bepergian dalam tur berkelompok bersama orang asing. Situasi tersebut bisa terasa canggung dan menegangkan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa memulai percakapan. Dikutip dari Hindustan Times, Senin, pakar perjalanan sekaligus CEO Zo World and Zostel, Aviral Gupta, membagikan sejumlah trik sederhana agar para introvert tetap bisa menikmati perjalanan wisata berkelompok dan membangun koneksi sosial secara alami. Gupta menyarankan agar introvert memilih tempat menginap yang memungkinkan interaksi antartamu. Menurutnya, koneksi membutuhkan ruang bersama untuk tumbuh. “Hostel dengan ruang santai bersama, meja sarapan panjang, dapur komunal, atau area nongkrong di atap memudahkan orang asing untuk menjadi akrab. Momen-momen kecil seperti menunggu roti panggang matang, meminta garam untuk mi, atau mengisi daya ponsel di stop kontak yang sama bisa menghilangkan rasa canggung,” ujar Gupta. Selain itu, makanan disebut sebagai media pemersatu yang efektif. Membawa camilan atau berbagi makanan saat perjalanan dinilai dapat membantu mencairkan suasana. Gupta menilai makanan sering kali lebih ampuh meredakan ketegangan dibandingkan percakapan ringan. Dalam perjalanan kelompok, Gupta juga mengingatkan pentingnya memahami batasan pribadi. Mengetahui kapan harus mundur sejenak dan memberi ruang tetap menjadi bagian dari interaksi yang sehat. “Beberapa orang membutuhkan keheningan atau waktu sebelum mereka terbuka. Memberi ruang tanpa benar-benar menghilang adalah titik ideal,” katanya. Terakhir, Gupta menyarankan para pelancong introvert untuk merayakan kemenangan kecil selama perjalanan, seperti berhasil memulai obrolan singkat atau menikmati aktivitas bersama. Hal-hal sederhana tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna dan membantu membangun ikatan kebersamaan secara perlahan.

Lifestyle
| Selasa, 20 Januari 2026
Foto:  Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Lifestyle

Foto: Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues | Pifa Net

Libur Panjang Usai, Waspadai Gejala Post-Holiday Blues

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Libur panjang Lebaran 2025 telah berakhir. Pada Selasa (8/4), mayoritas masyarakat mulai kembali menjalani rutinitas harian seperti biasa, baik di tempat kerja maupun di lingkungan pendidikan. Namun, tidak sedikit yang merasa sulit untuk kembali fokus dan termotivasi. Jika Anda mengalami hal serupa, bisa jadi Anda sedang mengalami post-holiday blues.Post-holiday blues adalah kondisi tekanan mental, kecemasan, dan kesedihan jangka pendek yang muncul setelah masa liburan. Mengutip Very Well Mind, kondisi ini tergolong wajar dan sering kali dialami banyak orang setelah euforia dan kebersamaan selama masa libur panjang berakhir."Usai keramaian yang berlangsung selama liburan, wajar jika seseorang merasa kecewa atau kehilangan semangat saat harus kembali ke rutinitas," tulis laporan tersebut.Gejala yang Perlu DiwaspadaiBeberapa gejala umum dari post-holiday blues antara lain:Perasaan cemas tanpa sebab jelasKurangnya motivasi untuk beraktivitasMudah marah atau tersinggungStres berlebihGangguan tidurKekhawatiran tentang keuanganDalam beberapa kasus, seseorang juga bisa mengalami fase merenung secara mendalam—memikirkan peristiwa atau masalah yang terjadi selama liburan. Jika tidak ditangani, kondisi ini bisa memperburuk kesehatan mental.Emosi yang Muncul Setelah LiburanMeski bukan tergolong depresi berat, post-holiday blues tetap bisa memunculkan berbagai emosi negatif, di antaranya:1. Perasaan HampaRasa lelah dan aktivitas yang begitu padat saat liburan bisa berbalik menjadi kekosongan emosional ketika semua itu berakhir.2. KesepianSetelah dikelilingi keluarga dan kerabat selama libur Lebaran, kembali ke rutinitas sendiri dapat memunculkan rasa sepi yang menusuk.3. KehilanganKembali ke rutinitas harian dapat menimbulkan perasaan kehilangan atas momen-momen berharga bersama orang-orang tercinta yang sebelumnya selalu hadir.4. Kembali ke Rutinitas Secara BertahapPara ahli menyarankan agar masyarakat tidak terlalu memaksa diri untuk langsung "normal" dalam satu hari. Mulailah hari-hari awal dengan aktivitas yang ringan dan menyenangkan, serta atur waktu istirahat dengan baik. Luangkan juga waktu untuk tetap terhubung dengan keluarga atau teman meskipun liburan telah usai.Meski biasanya kondisi ini hanya berlangsung singkat, penting untuk mengenali gejalanya agar dapat diatasi dengan baik. Jika gejala berkepanjangan dan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Indonesia
| Rabu, 9 April 2025

Lifestyle

Foto: Menikmati Es Krim ‘Angi’ yang Legendaris di Pontianak Sejak 1950 | Pifa Net

Menikmati Es Krim ‘Angi’ yang Legendaris di Pontianak Sejak 1950

PIFA, Lifestyle - Belakang ini, cuaca di Kota Pontianak panas terik. Saat cuaca panas paling nikmat menyantap jajanan segar untuk melepas dahaga, misalnya seperti es krim. Salah satu tempat yang legendaris untuk menikmati es krim di Kota Pontianak adalah Es Krim Petrus atau biasa disebut Es Krim Angi yang lokasinya yang persis di seberang SMP dan SMA Petrus, Jl. Karel Satsuit Tubun, No. 8, Akcaya, Pontianak Selatan. Berdiri sejak tahun 1950-an, Es Krim Angi telah menjadi favorit banyak masyarakat dan penggemar kuliner. Bahkan sejumlah publik figure jika berkunjung ke Pontianak tidak akan melewatkan untuk menikmati es krim ini. Sebab, es krim ini terkenal dengan rasa dan isian tradisionalnya yang khas. Es Krim Angi menawarkan beragam varian rasa, mulai dari cokelat, vanilla, green tea, strawberry, ketan hitam, durian, nangka, hingga cempedak. Tidak hanya itu, es krim ini juga disajikan dengan isian cincau, agar-agar, dan kacang merah, menambah kenikmatan setiap suapan. Pengunjung tidak hanya bisa memesan satu varian rasa es krim, tetapi juga bisa memesan hingga tiga varian rasa sekaligus dalam satu cup. Pilihan lainnya adalah menikmati es krim di atas batok kelapa, sebuah menu favorit di tempat ini. Selain es krim, Es Krim Angi juga menyediakan berbagai camilan khas Pontianak. Harga es krim Angi cukup terjangkau, dengan satu cup dihargai Rp 14 ribu, sementara untuk es krim dalam batok kelapa seharga Rp 25 ribu. Untuk menikmati kelezatan es krim legendaris ini, pengunjung bisa datang pada siang hari saat udara Kota Pontianak sedang panas. (ly)

Pontianak
| Senin, 20 Mei 2024

Lifestyle

Foto: Jadi Musisi Wanita dengan Bayaran Tertinggi 2022, Taylor Swift Hasilkan Rp1,3 Triliun | Pifa Net

Jadi Musisi Wanita dengan Bayaran Tertinggi 2022, Taylor Swift Hasilkan Rp1,3 Triliun

PIFA, Lifestyle - Taylor Swift merupakan salah satu musisi paling sukses dan berpengaruh di industri musik saat ini. Pada tahun 2022, dia berhasil masuk dalam daftar 10 artis dengan bayaran tertinggi sepanjang tahun versi Forbes. Menariknya lagi, Taylor Swift menjadi satu-satunya wanita yang masuk dalam daftar tersebut. Menurut laporan Forbes, Taylor Swift menempati posisi ke-9 dalam daftar artis dengan bayaran tertinggi pada tahun 2022, dengan total pendapatan sebesar 92 juta dollar AS atau sekitar Rp1,39 triliun. Dalam menentukan peringkat, Forbes mempertimbangkan pendapatan sebelum pajak pada 2022, dikurangi biaya operasional bisnis, serta biaya perwakilan artis, seperti manajer dan pengacara. Keberhasilan Taylor Swift pada tahun 2022 tak terlepas dari rilis album terbarunya yang berjudul "Midnights". Album ini meraih kesuksesan besar dan membawa Taylor Swift menjadi artis pertama dalam sejarah yang menyabet 10 posisi teratas tangga lagu Billboard Hot 100. Melalui album tersebut, Taylor Swift juga berhasil membawa pulang 12 piala Grammy pada ajang penghargaan tersebut. Keberhasilan Taylor Swift pada tahun 2022 juga terbantu oleh penghasilan dari streaming dan penjualan album. Forbes mencatat bahwa sekitar 70 persen dari pendapatan album "Midnights" berasal dari pendapatan streaming dan penjualan album. Sementara itu, peringkat pertama dari daftar entertainer dengan penghasilan terbesar jatuh kepada Genesis yang mendapatkan 230 dolar AS atau Rp3,4 trilun usai menjual katalog lagu mereka ke Concord Music Group pada September 2022 seharga 300 juta AS atau Rp4,5 triliun. Selain Taylor Swift dan Genesis, tokoh-tokoh di industri hiburan Hollywood yang masuk dalam daftar ini adalah Brad Pitt, The Rolling Stone, Bad Bunny, Sting, hingga Tyler Perry. (b) 

Amerika Serikat
| Minggu, 19 Februari 2023
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5