2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Lifestyle

Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Kurma menjadi salah satu buah yang paling dicari selama bulan Ramadan. Selain rasanya yang manis dan kaya nutrisi, kurma juga menjadi makanan sunnah saat berbuka puasa. Namun, konsumsi kurma berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping bagi kesehatan.Mengutip Healthline, sebagian besar kalori dalam kurma berasal dari karbohidrat, sementara sisanya berasal dari protein. Selain itu, kurma juga mengandung vitamin dan mineral seperti kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6, yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, karena berbentuk buah kering, kurma memiliki kadar kalori lebih tinggi dibandingkan buah segar lainnya.Efek Samping Makan Kurma BerlebihanMeski bernutrisi, mengonsumsi kurma secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan. Berikut beberapa efek samping yang perlu diwaspadai:Masalah PencernaanBeberapa jenis kurma mengandung sulfit, senyawa kimia yang digunakan sebagai pengawet. Bagi orang yang sensitif terhadap sulfit, konsumsi kurma berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut, kembung, dan diare. Selain itu, kandungan serat yang tinggi dalam kurma juga bisa memicu sembelit jika dikonsumsi secara berlebihan.Ruam KulitTambahan sulfit dan kemungkinan adanya jamur pada buah kering seperti kurma dapat memicu reaksi alergi berupa ruam kulit pada beberapa orang.Berat Badan NaikKurma memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Satu gram kurma mengandung sekitar 2,8 kalori, sehingga konsumsi berlebih dapat berisiko menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak terduga.HiperkalemiaKurma dikenal sebagai salah satu sumber kalium yang baik. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar kalium dalam darah bisa meningkat secara signifikan, yang berisiko menyebabkan hiperkalemia. Kondisi ini dapat berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi penderita gangguan jantung dan ginjal.Intoleransi FruktosaKurma mengandung fruktosa yang cukup tinggi, yakni sekitar satu sendok teh per buah. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan mencerna fruktosa, yang bisa menyebabkan sakit perut akibat fermentasi gula oleh bakteri di usus.Masalah GigiTekstur kurma yang lengket dapat menempel pada gigi dan menyebabkan penumpukan plak, yang berisiko memicu gigi berlubang jika tidak segera dibersihkan.Gangguan GinjalTingginya kandungan potasium dalam kurma dapat menjadi masalah bagi penderita gangguan ginjal, karena ginjal yang lemah sulit mengatur kadar potasium dalam darah.MigrainKurma mengandung tiramin, senyawa yang diketahui dapat memicu migrain dan sakit kepala pada beberapa orang yang sensitif terhadap zat ini.Batas Konsumsi Kurma Per HariAgar tetap mendapatkan manfaat tanpa mengalami efek samping, jumlah konsumsi kurma perlu dibatasi. Mengutip Medicine Net, batas konsumsi kurma yang disarankan per hari adalah 100 gram atau sekitar tiga buah kurma berukuran sedang.Dengan mengonsumsi kurma dalam jumlah yang wajar, manfaatnya bagi kesehatan tetap bisa didapatkan tanpa risiko efek samping yang merugikan.

Indonesia
| Sabtu, 15 Maret 2025
Foto: Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan | Pifa Net
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5

Berita Terbaru

Lifestyle

Foto:  Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa | Pifa Net

Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, menyarankan individu yang merasa mengalami perlakuan berbeda dari orang tua pada masa kecil untuk membangun kesadaran diri dan memahami dampaknya terhadap kondisi psikologis saat dewasa. “Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci,” kata Amalia kepada ANTARA, Rabu (11/2). Menurut Amalia, pengalaman dibedakan dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri serta membangun relasi dengan orang lain. Karena itu, dampaknya perlu dikenali terlebih dahulu sebelum mulai diperbaiki. Isu mengenai perlakuan berbeda dalam keluarga kembali ramai dibicarakan setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, mencuat. Peristiwa tersebut memicu diskusi warganet tentang pengalaman menjadi anak tengah dalam keluarga. Pelaku diduga merupakan anak tengah yang selama ini merasakan perlakuan berbeda dari keluarganya. Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menilai, setelah seseorang memahami dampak perlakuan masa kecil terhadap dirinya, langkah selanjutnya adalah mulai memperbaiki hal-hal yang mengganggu kehidupan saat ini. Ia juga menekankan pentingnya penerimaan terhadap pengalaman masa lalu dilakukan secara bertahap. “Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu buru memaafkan semuanya. Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut,” ujarnya. Selain itu, Amalia menyarankan individu untuk mempertimbangkan bantuan profesional apabila upaya mandiri belum cukup dan beban emosional masih dirasakan kuat. “Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional,” katanya.

Jakarta
| Kamis, 12 Februari 2026

Lifestyle

Foto: Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak | Pifa Net

Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.

Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026

Lifestyle

Foto: Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi | Pifa Net

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.

Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026

Berita Populer

Lifestyle

Foto: Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan | Pifa Net

Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Kurma menjadi salah satu buah yang paling dicari selama bulan Ramadan. Selain rasanya yang manis dan kaya nutrisi, kurma juga menjadi makanan sunnah saat berbuka puasa. Namun, konsumsi kurma berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping bagi kesehatan.Mengutip Healthline, sebagian besar kalori dalam kurma berasal dari karbohidrat, sementara sisanya berasal dari protein. Selain itu, kurma juga mengandung vitamin dan mineral seperti kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6, yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, karena berbentuk buah kering, kurma memiliki kadar kalori lebih tinggi dibandingkan buah segar lainnya.Efek Samping Makan Kurma BerlebihanMeski bernutrisi, mengonsumsi kurma secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan. Berikut beberapa efek samping yang perlu diwaspadai:Masalah PencernaanBeberapa jenis kurma mengandung sulfit, senyawa kimia yang digunakan sebagai pengawet. Bagi orang yang sensitif terhadap sulfit, konsumsi kurma berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut, kembung, dan diare. Selain itu, kandungan serat yang tinggi dalam kurma juga bisa memicu sembelit jika dikonsumsi secara berlebihan.Ruam KulitTambahan sulfit dan kemungkinan adanya jamur pada buah kering seperti kurma dapat memicu reaksi alergi berupa ruam kulit pada beberapa orang.Berat Badan NaikKurma memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Satu gram kurma mengandung sekitar 2,8 kalori, sehingga konsumsi berlebih dapat berisiko menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak terduga.HiperkalemiaKurma dikenal sebagai salah satu sumber kalium yang baik. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar kalium dalam darah bisa meningkat secara signifikan, yang berisiko menyebabkan hiperkalemia. Kondisi ini dapat berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi penderita gangguan jantung dan ginjal.Intoleransi FruktosaKurma mengandung fruktosa yang cukup tinggi, yakni sekitar satu sendok teh per buah. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan mencerna fruktosa, yang bisa menyebabkan sakit perut akibat fermentasi gula oleh bakteri di usus.Masalah GigiTekstur kurma yang lengket dapat menempel pada gigi dan menyebabkan penumpukan plak, yang berisiko memicu gigi berlubang jika tidak segera dibersihkan.Gangguan GinjalTingginya kandungan potasium dalam kurma dapat menjadi masalah bagi penderita gangguan ginjal, karena ginjal yang lemah sulit mengatur kadar potasium dalam darah.MigrainKurma mengandung tiramin, senyawa yang diketahui dapat memicu migrain dan sakit kepala pada beberapa orang yang sensitif terhadap zat ini.Batas Konsumsi Kurma Per HariAgar tetap mendapatkan manfaat tanpa mengalami efek samping, jumlah konsumsi kurma perlu dibatasi. Mengutip Medicine Net, batas konsumsi kurma yang disarankan per hari adalah 100 gram atau sekitar tiga buah kurma berukuran sedang.Dengan mengonsumsi kurma dalam jumlah yang wajar, manfaatnya bagi kesehatan tetap bisa didapatkan tanpa risiko efek samping yang merugikan.

Indonesia
| Sabtu, 15 Maret 2025

Lifestyle

Foto: Hindari Cedera, Ini 5 Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Latihan di Gym | Pifa Net

Hindari Cedera, Ini 5 Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Latihan di Gym

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Langsung terjun ke pusat kebugaran (gym) tanpa persiapan yang matang bisa menjadi awal kesalahan fatal bagi para pemula. Pelatih kebugaran sekaligus CEO dan Pendiri OddsFitness, Asad Husain, mengungkapkan lima kesalahan paling umum yang sering dilakukan pemula ketika baru mulai berlatih di gym.“Masuk ke gym untuk pertama kalinya adalah langkah besar, tetapi bisa jadi salah besar jika tidak dilakukan secara sadar dan terarah,” kata Husain, dikutip dari laman Hindustan Times, Minggu (14/4).Menurutnya, banyak pemula yang berlatih terlalu keras, tanpa rencana, dan terlalu fokus pada tampilan luar ketimbang kualitas latihan. Alhasil, tubuh tidak mengalami perkembangan yang signifikan dan motivasi pun hilang.1. Tidak Punya Tujuan yang SpesifikKesalahan pertama yang kerap terjadi adalah tidak menetapkan tujuan yang jelas dan terukur. Husain menyarankan agar pemula memiliki target spesifik, misalnya: "Menurunkan berat badan 5 kg dalam 8 minggu dengan berlatih 4 kali seminggu dan mencatat asupan makanan setiap hari.”Menurutnya, tujuan semacam ini akan membantu menjaga arah dan komitmen dalam latihan.2. Berlatih Terlalu Keras di Hari PertamaBanyak pemula mencoba berbagai jenis latihan sekaligus di hari pertama—mulai dari angkat beban, kardio, latihan perut, hingga HIIT. Akibatnya, tubuh menjadi sangat nyeri selama beberapa hari dan kehilangan semangat untuk kembali berlatih.“Mulailah dari hal sederhana dan fokus membangun fondasi di bulan pertama,” ujar Husain.3. Teknik Latihan yang SalahPenggunaan teknik yang salah, terutama saat angkat beban, bisa menyebabkan cedera. Husain menyarankan menggunakan jasa pelatih pribadi minimal 3–6 bulan pertama, bukan hanya untuk motivasi, tetapi untuk memastikan postur tubuh benar dan program latihan sesuai kebutuhan.4. Terlalu Banyak Mengobrol dan Main PonselHusain menekankan pentingnya menjaga fokus saat berlatih. Menurutnya, waktu yang dihabiskan untuk mengobrol, bermain ponsel, atau “berpura-pura sibuk” justru menghabiskan 50 persen waktu latihan yang seharusnya produktif.“Itu yang saya sebut sebagai bermalas-malasan sosial,” tegasnya.5. Melewatkan Pemanasan dan PendinginanPemanasan dan pendinginan sering kali dianggap remeh oleh pemula. Padahal, keduanya penting untuk mencegah cedera dan membantu pemulihan otot. Husain menyarankan pemanasan dinamis 5–10 menit sebelum latihan, serta peregangan ringan setelahnya.Latihan Cerdas, Bukan Sekadar SibukSebagai penutup, Husain mengingatkan bahwa kunci kebugaran bukan terletak pada seberapa sibuk Anda terlihat di gym, tetapi pada seberapa cerdas dan konsisten Anda berlatih.

Indonesia
| Senin, 14 April 2025

Lifestyle

Foto: Risiko Meningitis Mengintai Jemaah Haji dan Umrah, Vaksinasi Jadi Kunci Perlindungan Kesehatan | Pifa Net

Risiko Meningitis Mengintai Jemaah Haji dan Umrah, Vaksinasi Jadi Kunci Perlindungan Kesehatan

PIFA, Lifestyle - Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Di balik kekhusyukan ibadah tersebut, tantangan kesehatan masih menjadi perhatian serius, khususnya bagi jemaah asal Indonesia, salah satunya risiko penyakit meningitis atau invasive meningococcal disease (IMD). Data Kementerian Agama tahun 2025 mencatat lebih dari 22 persen jemaah haji Indonesia termasuk dalam kategori lanjut usia, dengan sebagian besar memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah jemaah haji reguler mencapai sekitar 221 ribu orang per tahun, sementara jemaah umrah menembus angka 3 juta orang setiap tahunnya. Kondisi ini membuat potensi penularan penyakit menular semakin tinggi. Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI), Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, SpKFR, MARS, AIFO–K, menegaskan bahwa risiko penularan meningokokus invasif dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan fisik. Suhu tinggi, kelembapan, kontak erat antarmanusia, polusi udara, hingga kelelahan fisik menjadi pemicu utama. “Risiko semakin tinggi karena jutaan jemaah dari ratusan negara berkumpul di satu tempat, termasuk dari wilayah sub-Sahara Afrika yang dikenal sebagai meningitis belt,” ujarnya. Besarnya jumlah jemaah, yang bisa melampaui dua juta orang saat puncak musim haji, menjadikan lingkungan ibadah sangat rentan terhadap penyebaran penyakit. Situasi ini diperparah dengan tingginya angka kematian jemaah Indonesia yang tercatat sebagai yang tertinggi secara global, yakni 447 orang pada tahun ini, dengan kelompok usia 60–70 tahun sebagai yang paling rentan. Dr. Syarief menekankan pentingnya kesiapan kesehatan jemaah sebelum berangkat. Menurutnya, penyakit metabolik dan gangguan sirkulasi yang sudah dimiliki banyak jemaah dapat memburuk akibat aktivitas fisik berat selama menjalankan rangkaian ibadah. Di tengah risiko tersebut, vaksinasi meningitis menjadi langkah pencegahan yang krusial. Vaksin meningitis konjugat diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi dan harus diberikan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan. Upaya ini terbukti efektif menekan angka kejadian penyakit meningokokus invasif, seperti yang pernah terlihat pada musim haji dan umrah tahun 2001. Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI, MSc, mengingatkan bahwa IMD merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 24 jam. Bahkan bagi yang selamat, risiko komplikasi berat seperti gangguan pendengaran, kejang, hingga amputasi tetap mengintai. Ia juga menekankan bahwa bakteri penyebab meningitis dapat menetap lama di saluran pernapasan tanpa gejala, sehingga jemaah bisa menjadi carrier tanpa disadari dan menularkan penyakit sepulang ke Tanah Air. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya PT Kalventis Sinergi Farma menghadirkan vaksin meningitis konjugat generasi terbaru di Indonesia. Vaksin ini dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang sekaligus menurunkan risiko carrier. Teknologi konjugat juga menghasilkan respons imun yang lebih kuat dibandingkan vaksin polisakarida, dengan tingkat efektivitas tinggi terhadap empat serogroup meningokokus utama. Pada akhirnya, ibadah haji dan umrah bukan hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik dan kesehatan. Dengan tingginya risiko meningitis, terutama bagi jemaah lanjut usia dan yang memiliki komorbid, vaksinasi meningitis konjugat menjadi langkah perlindungan yang tidak bisa diabaikan. Selain melindungi diri sendiri, vaksinasi juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial untuk menjaga keluarga dan masyarakat dari penyakit yang mematikan.

Lifestyle
| Sabtu, 6 Desember 2025

Feeds

Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Amalia Indah Permata, M.Psi., Psikolog, menyarankan individu yang merasa mengalami perlakuan berbeda dari orang tua pada masa kecil untuk membangun kesadaran diri dan memahami dampaknya terhadap kondisi psikologis saat dewasa. “Jika ketika kecil mengalami pengalaman beda perlakuan oleh orang tua, maka sadari dulu bagaimana hal tersebut memengaruhi dinamika diri saat ini. Kesadaran diri adalah kunci,” kata Amalia kepada ANTARA, Rabu (11/2). Menurut Amalia, pengalaman dibedakan dalam keluarga dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri serta membangun relasi dengan orang lain. Karena itu, dampaknya perlu dikenali terlebih dahulu sebelum mulai diperbaiki. Isu mengenai perlakuan berbeda dalam keluarga kembali ramai dibicarakan setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, mencuat. Peristiwa tersebut memicu diskusi warganet tentang pengalaman menjadi anak tengah dalam keluarga. Pelaku diduga merupakan anak tengah yang selama ini merasakan perlakuan berbeda dari keluarganya. Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menilai, setelah seseorang memahami dampak perlakuan masa kecil terhadap dirinya, langkah selanjutnya adalah mulai memperbaiki hal-hal yang mengganggu kehidupan saat ini. Ia juga menekankan pentingnya penerimaan terhadap pengalaman masa lalu dilakukan secara bertahap. “Terimalah masa lalu dan pengalaman tersebut secara perlahan. Tidak harus terburu buru memaafkan semuanya. Masa lalu berada di luar kendali kita dan tidak bisa diubah. Yang bisa diubah adalah persepsi kita terhadap pengalaman tersebut,” ujarnya. Selain itu, Amalia menyarankan individu untuk mempertimbangkan bantuan profesional apabila upaya mandiri belum cukup dan beban emosional masih dirasakan kuat. “Jika sudah berusaha namun masih terasa sulit, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional,” katanya.

Jakarta
| Kamis, 12 Februari 2026
Foto:  Psikolog: Anak yang Dibedakan Orang Tua Perlu Bangun Kesadaran Diri Saat Dewasa | Pifa Net

Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak

PIFA, Lifestyle - Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak agar mampu menjaga diri dan terhindar dari pelecehan maupun kekerasan seksual. Pendidikan tersebut dinilai dapat dilakukan sejak dini dengan cara yang sederhana dan sesuai usia anak. Psikolog Devi Yanti, M.Psi., Psikolog, mengatakan pendidikan seks dapat diselipkan melalui aktivitas bermain atau kegiatan interaktif di rumah bersama keluarga, sehingga anak tidak merasa tertekan atau takut. “Permainan atau kegiatan interaktif di rumah ditujukan agar (pendidikan) jadi tidak kaku. Maka dari itu orang tua dapat menggunakan pendekatan bermain,” kata psikolog klinis di Rumah Sakit Jiwa Aceh itu saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin. Bendahara Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Aceh tersebut mencontohkan, orang tua dapat mengajak anak bermain “Lampu Lalu Lintas Sentuhan” untuk mengenalkan batasan tubuh. Dalam permainan ini, warna hijau digunakan sebagai penanda sentuhan yang aman, sementara warna merah menandai hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Selain itu, orang tua juga dapat memanfaatkan boneka atau gambar tubuh untuk menunjukkan bagian-bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Cara visual dinilai membantu anak lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. Devi juga menyarankan permainan peran sederhana untuk melatih anak mengatakan tidak kepada orang yang tidak dikenal atau yang melanggar batasan. Melalui metode ini, anak juga diajarkan untuk berani meminta bantuan dan melapor jika merasa tidak nyaman atau dilecehkan. Tak hanya itu, membacakan buku cerita anak yang mengangkat tema menjaga tubuh juga dapat menjadi sarana edukasi yang efektif. Menurut Devi, pendekatan tersebut membuat anak belajar tanpa rasa takut. “Pendekatan ini membuat anak belajar tanpa rasa takut dan lebih mudah memahami,” ujarnya. Ia menambahkan, edukasi mengenai perlindungan diri juga perlu dipahami oleh anggota keluarga lain, termasuk kakek dan nenek, agar pesan yang diterima anak konsisten di lingkungan keluarga. “Intinya, pendidikan seks yang tepat usia justru memperkuat nilai moral, rasa hormat terhadap diri sendiri, dan mencegah anak menjadi korban,” kata Devi.

Lifestyle
| Selasa, 3 Februari 2026
Foto: Psikolog Tekankan Pendidikan Seks Sejak Dini untuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak | Pifa Net

Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi sekaligus anggota Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) Diah Maunah menyatakan konsumsi mi instan masih diperbolehkan pada waktu tertentu, asalkan jumlahnya dibatasi. Ia menyarankan mi instan cukup dikonsumsi satu bulan sekali atau dijadikan sebagai makanan “rekreasi”. “Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja,” kata Diah kepada ANTARA, Senin. Menurut Diah, mi instan banyak digemari masyarakat karena mudah didapat, harganya terjangkau, dan praktis. Pada musim hujan, konsumsi mi instan rebus juga cenderung meningkat karena memberikan sensasi hangat, memiliki rasa gurih, dan disukai berbagai kalangan. Meski demikian, ia mengingatkan mi instan memiliki kandungan natrium dan energi dari lemak yang cukup tinggi. Kandungan tersebut perlu menjadi perhatian, terutama bagi individu dengan kondisi hipertensi, penyakit pembuluh darah, maupun obesitas. Diah menjelaskan, mi instan rebus umumnya mengandung natrium lebih tinggi dibandingkan mi instan goreng, yakni di atas 1.000 miligram per bungkus. Jumlah tersebut telah memenuhi hampir 75 persen kebutuhan natrium harian seseorang. “Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1.000–1.100 miligram per saji,” jelasnya. Ia menegaskan, konsumsi mi instan secara berlebihan, terutama saat musim hujan tanpa diimbangi asupan makanan sehat lainnya, dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Dampak yang berpotensi muncul antara lain penyakit degeneratif seperti kerusakan pembuluh darah, hipertensi yang dapat berujung pada gangguan fungsi ginjal, serta gangguan saluran cerna seperti iritasi lambung dan usus. Pada remaja, konsumsi mi instan berlebihan juga dikaitkan dengan risiko hemoroid atau ambeien, hingga kanker usus akibat kebiasaan mengonsumsi mi instan setiap minggu. Selain itu, masalah obesitas juga dapat terjadi jika mi instan dikonsumsi secara tidak terkendali.

Lifestyle
| Senin, 2 Februari 2026
Foto: Ahli Gizi Sarankan Mi Instan Dikonsumsi Sebulan Sekali sebagai Makanan Rekreasi | Pifa Net

Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah

PIFA, Lifestyle - Meningkatnya kasus penularan virus Nipah di India menjadi perhatian serius bagi kawasan Asia. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama menilai Indonesia perlu mengambil langkah antisipatif dengan mencontoh kebijakan negara-negara tetangga dalam mencegah masuk dan menyebarnya virus berbahaya tersebut. Dalam keterangan tertulis pada Kamis, Prof. Tjandra menekankan pentingnya kewaspadaan dini, mengingat virus Nipah kini dilaporkan telah menular antar-manusia di India. Virus ini diketahui dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga radang otak dengan tingkat fatalitas yang tinggi. Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya, menurut Prof. Tjandra, telah lebih dulu mengambil langkah pencegahan. Thailand, misalnya, melakukan skrining ketat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang terhadap penumpang yang datang dari negara bagian West Bengal, India. Nepal juga menerapkan kebijakan serupa di Tribhuvan International Airport. Langkah antisipasi juga dilakukan Singapura. Pada 28 Januari 2026, pemerintah setempat mengumumkan pengetatan pengawasan kesehatan di Bandara Changi, termasuk pemeriksaan suhu tubuh bagi para pendatang. Selain itu, otoritas kesehatan Singapura meminta dokter, laboratorium, dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi virus Nipah, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan ke West Bengal. Tak hanya itu, Singapura juga menggencarkan penyuluhan kesehatan di pintu masuk negara, meningkatkan surveilans terhadap pekerja migran dari Asia Selatan, serta memperkuat koordinasi dengan otoritas pengendalian penyakit menular di kawasan tersebut. Prof. Tjandra menilai, Indonesia berada pada posisi yang tidak kalah berisiko karena intensitas kunjungan warga India, baik sebagai wisatawan maupun pekerja. "Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita, maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu. Ia menambahkan, selain menerapkan langkah pencegahan di pintu masuk negara, Indonesia juga perlu meningkatkan koordinasi regional dan internasional, khususnya dengan WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat, untuk memantau perkembangan dan potensi penyebaran virus Nipah. Virus Nipah merupakan patogen zoonotik yang awalnya menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia. Namun, seiring waktu, virus ini juga diketahui dapat menular dari manusia ke manusia, termasuk melalui makanan yang terkontaminasi. Secara global, tercatat sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah sejak pertama kali dilaporkan pada 1998–1999. Kasus awal ditemukan di Malaysia, kemudian menyebar dan dilaporkan pula di Bangladesh, India, Filipina, serta Singapura. Prof. Tjandra menjelaskan, masa inkubasi virus Nipah berkisar antara empat hingga 21 hari atau bahkan lebih. Gejala awal sering menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada tahap lanjutan, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan paru-paru, termasuk batuk, sesak napas, pneumonia, hingga peradangan otak. Hingga saat ini, menurut Prof. Tjandra, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk infeksi virus Nipah. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman penyakit tersebut.

Lifestyle
| Kamis, 29 Januari 2026
Foto: Pakar Kesehatan Dorong Indonesia Contoh Negara Tetangga Cegah Penularan Virus Nipah | Pifa Net

Studi Ungkap Olahraga Rutin Bisa Bikin Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis

PIFA, Lifestyle - Sebuah studi terbaru yang dilakukan tim peneliti dari AdventHealth Research Institute dan University of Pittsburgh menemukan bahwa olahraga rutin dapat membuat usia otak tampak lebih muda secara biologis. Para peneliti ingin mengetahui apakah olahraga mampu mengubah struktur fisik otak serta apakah perubahan tersebut dapat terlihat melalui hasil pemindaian otak. Hasil penelitian ini dilaporkan oleh Eating Well pada Selasa (27/1) waktu setempat. Dalam studi tersebut, peneliti merekrut 130 orang dewasa sehat berusia 26 hingga 58 tahun untuk mengikuti uji klinis acak tersamar tunggal selama 12 bulan. Para peserta dibagi secara acak ke dalam dua kelompok, yakni kelompok latihan aerobik intensitas sedang hingga berat dan kelompok kontrol yang diminta untuk tidak mengubah tingkat aktivitas fisik mereka. Kelompok latihan menjalani dua sesi olahraga berdurasi 60 menit per minggu yang diawasi di laboratorium, serta menambahkan latihan mandiri di rumah hingga mencapai sekitar 150 menit aktivitas aerobik per minggu. Jenis latihan yang dilakukan beragam, mulai dari berjalan, jogging, atau berlari di treadmill, hingga menggunakan sepeda statis, mesin elips, dan alat dayung. Intensitas latihan dipantau menggunakan alat pengukur detak jantung. Pada awal dan akhir penelitian, struktur otak peserta diukur menggunakan pemindaian MRI, sementara kebugaran kardiorespirasi dinilai melalui tes pengambilan oksigen puncak atau VO2peak. Dengan bantuan alat pembelajaran mesin bernama brainageR, peneliti menghitung selisih antara usia otak yang diprediksi dan usia kronologis peserta, yang disebut brain-PAD. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Sport and Health Science menunjukkan perbedaan mencolok antara kedua kelompok setelah 12 bulan. Peserta dalam kelompok olahraga mengalami penurunan usia otak yang terukur, dengan otak mereka tampak sekitar 0,6 tahun lebih muda dibandingkan saat awal studi. Sebaliknya, kelompok kontrol justru menunjukkan sedikit peningkatan usia otak, sekitar 0,35 tahun lebih tua, meski perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik. Ketika dibandingkan langsung, selisih usia otak antara kedua kelompok hampir mencapai satu tahun dan menguntungkan kelompok yang rutin berolahraga. Selain itu, kelompok olahraga juga mengalami peningkatan kebugaran yang signifikan. Menariknya, peneliti menemukan bahwa tingkat kebugaran yang lebih tinggi sejak awal penelitian berkaitan dengan tampilan otak yang lebih muda. Meski demikian, studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Peserta penelitian merupakan sukarelawan yang relatif sehat dan berpendidikan, dengan jumlah sampel yang tergolong terbatas. Pandemi COVID-19 juga memengaruhi jalannya penelitian karena sebagian peserta harus melanjutkan latihan dari rumah selama masa pembatasan. Peneliti juga mengeksplorasi berbagai faktor yang mungkin menjelaskan efek olahraga terhadap usia otak, seperti kebugaran, komposisi tubuh, tekanan darah, hingga protein otak brain-derived neurotrophic factor (BDNF). Namun, tidak satu pun faktor tersebut sepenuhnya menjelaskan mekanisme di balik temuan ini. Penulis senior sekaligus ahli saraf, Kirk I. Erickson, Ph.D., menyebutkan bahwa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang hingga berat selama sekitar 150 menit per minggu dapat membantu menjaga otak tetap lebih muda secara biologis, bahkan seiring bertambahnya usia. Ia menambahkan, memulai kebiasaan olahraga sejak usia 30-an, 40-an, hingga 50-an dapat memberikan manfaat jangka panjang dengan membantu otak melawan proses penuaan. Bagi mereka yang belum memenuhi rekomendasi tersebut, Erickson menyarankan untuk memulai dari langkah kecil, seperti berjalan kaki singkat, menggunakan tangga, atau menjadwalkan beberapa sesi olahraga ringan setiap pekan. Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda, berenang, dan menari dinilai efektif jika dilakukan secara konsisten.

Lifestyle
| Rabu, 28 Januari 2026
Foto: Studi Ungkap Olahraga Rutin Bisa Bikin Usia Otak Lebih Muda Secara Biologis | Pifa Net

Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka

PIFA, Lifestyle - Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia, Ratriana Naila Syafira, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan sejumlah jenis pertanyaan yang sebaiknya tidak diajukan kepada orang-orang yang tengah mengalami duka kehilangan. Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin, Ratriana menekankan pentingnya menjaga sensitivitas dalam berkomunikasi dengan individu yang sedang berduka. Ia mengingatkan agar tidak langsung menanyakan detail terkait kematian orang terdekat yang mereka kehilangan. “Jangan langsung menanyakan detail kematian seperti kapan meninggal, sakit apa, kok bisa dan terakhir ketemu kapan,” kata Ratriana. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebaiknya hanya disampaikan jika pihak yang berduka terlebih dahulu membuka cerita. Jika tidak, pertanyaan semacam itu justru berisiko memaksa mereka mengulang kembali pengalaman traumatis, sementara kondisi emosional mereka mungkin belum siap untuk membahasnya. Selain itu, Ratriana juga menyarankan untuk menghindari pertanyaan yang bernada menyalahkan, seperti mempertanyakan alasan tidak membawa almarhum ke rumah sakit lebih awal atau mengapa penanganan medis tidak dilakukan lebih cepat. “Pertanyaan seperti ini meskipun tidak bermaksud menyalahkan, sering membuat orang yang berduka merasa bersalah dan jadi mempertanyakan dirinya sendiri apa yang sudah dia lakukan selama ini buat orang yang sudah pergi,” ujarnya. Psikolog yang kini berpraktik di Biro Psikologi Rali Ra, Bekasi, tersebut juga menyoroti sejumlah pernyataan yang sebaiknya tidak diucapkan. Salah satunya adalah kalimat yang menuntut orang yang berduka untuk selalu kuat dan tabah. “Ini bisa membuat yang berduka merasa tidak punya ruang untuk rapuh, dan merasakan berbagai emosinya. Jika emosi tidak diproses dengan baik, dalam jangka panjang justru malah semakin banyak dampak negatifnya,” jelas Ratriana. Lebih lanjut, ia mengingatkan agar tidak membandingkan pengalaman duka satu orang dengan yang lain atau mengadu nasib. Pasalnya, setiap individu memiliki cara dan waktu masing-masing dalam memproses kehilangan. Menurut Ratriana, sikap membandingkan justru dapat membuat orang yang berduka merasa tidak dipahami, bahkan merasa perasaan dan pengalamannya diabaikan. Oleh karena itu, bentuk dukungan terbaik adalah dengan hadir secara empatik, tidak menghakimi, serta memberikan ruang dan waktu agar proses penyembuhan emosional dapat berjalan secara perlahan.

Lifestyle
| Selasa, 27 Januari 2026
Foto:  Psikolog Ungkap Pertanyaan yang Sebaiknya Dihindari saat Berhadapan dengan Orang Berduka | Pifa Net

Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan

PIFA, Lifestyle - Ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes mengingatkan masyarakat agar tidak memanaskan ulang sejumlah jenis makanan karena berisiko merusak kandungan zat gizi dan memicu terbentuknya senyawa berbahaya bagi kesehatan. “Kalau makanan itu sebelumnya telah diolah dengan suhu yang tinggi, itu sudah tidak bisa dipanaskan ulang karena akan makin terjadi pengurangan zat gizi, kerusakan zat gizi, dan juga pembentukan zat-zat baru, misalnya zat yang bersifat karsinogenik atau tingkat lemaknya menjadi sangat jenuh,” kata Rita kepada ANTARA di Jakarta, Kamis. Rita menjelaskan, menghangatkan makanan sebenarnya tidak merusak zat gizi. Kerusakan gizi justru terjadi ketika makanan dipanaskan kembali hingga mencapai titik didih dalam waktu yang lama atau melalui proses pengolahan suhu tinggi seperti menggoreng ulang. Menurutnya, proses menggoreng ulang dapat menyebabkan penurunan kualitas zat gizi serta pembentukan senyawa lain yang berisiko bagi kesehatan. Pengolahan dengan suhu tinggi yang perlu diwaspadai terutama pada makanan yang digoreng menggunakan minyak dalam jumlah banyak atau metode deep frying, terlebih jika minyak dipakai berulang kali. “Kalau hanya dihangatkan sampai suhu 60 derajat, itu sama sekali tidak merusak atau kalaupun dipanaskan sampai titik didih itu tidak dalam waktu yang lama. Kalau makanan digoreng kedua kali, itu sudah berisiko untuk kehilangan zat gizi,” tutur Ketua Pengurus Pusat Indonesian Sport Nutritionist Association (PP ISNA) periode 2019–2024 itu. Ia juga menambahkan, makanan yang dibakar sebaiknya tidak dipanaskan ulang karena sejak awal sudah terpapar panas tinggi. Hal yang sama berlaku pada panganan olahan yang telah digoreng. “Pangan olahan karena pangan olahan itu kan prosesnya panjang seperti misalnya sosis, kornet, atau daging olahan, itu juga tidak disarankan untuk dipanaskan ulang,” ujarnya. Selain itu, Rita mengingatkan agar seluruh makanan yang mengandung nitrat tidak dipanaskan berulang. Nitrat yang dipanaskan dapat berubah menjadi nitrit yang berbahaya bagi kesehatan. “Nitrat jika dipanaskan bisa berubah menjadi nitrit itu bersifat sangat jelek untuk pembuluh darah dan bersifat karsinogenik. Contohnya bayam, kale, atau sayuran hijau pada umumnya. Pada kentang juga tinggi nitratnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Rita menjelaskan bahwa makanan berprotein tinggi masih relatif aman dipanaskan ulang selama sebelumnya diolah dengan suhu rendah, seperti direbus, ditumis, atau dioseng. Sebaliknya, makanan berprotein hewani yang sudah digoreng, seperti telur ceplok, sebaiknya tidak dipanaskan kembali. “Tapi kalau misalnya telurnya cuma orak-arik dengan suhu kecil, nah kalau dipanaskan sebentar orak-arik itu tidak ada masalah. Atau telur rebus dihangatkan sebentar telurnya juga itu tidak masalah,” ujar Dosen Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Faletehan tersebut.

Lifestyle
| Jumat, 23 Januari 2026
Foto: Ahli Gizi Ingatkan Risiko Memanaskan Ulang Sejumlah Jenis Makanan | Pifa Net

Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan

PIFA, Lifestyle - Dokter umum lulusan Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, mengatakan suplemen yang mengandung vitamin C dan zinc baik dikonsumsi selama bulan puasa Ramadhan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. “Untuk pertahanan tubuh, mencegah infeksi dan sebagainya, biasanya vitamin C dan yang banyak mengandung zinc juga itu sebetulnya sudah cukup,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Irwan menjelaskan, bulan puasa Ramadhan yang akan datang diperkirakan masih berada dalam periode musim hujan. Kondisi tersebut dinilai cukup menguntungkan bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa, karena suhu udara yang lebih sejuk dapat mengurangi risiko dehidrasi. Menurutnya, cuaca hujan dan suhu yang lebih dingin juga berpotensi menurunkan risiko gangguan kesehatan seperti vertigo atau pusing berputar secara tiba-tiba, yang kerap dialami sebagian orang selama menjalankan puasa. “Kalau di bulan puasanya itu musim hujan, itu memang lebih enak katanya, lebih tidak panas, tidak terlalu dehidrasi, tidak keluar keringat terlalu banyak. Sehingga tadi yang hidrasi terkait dengan vertigo dan lain sebagainya itu mungkin bisa reduksi,” ujar Board of Medical Excellence Halodoc tersebut. Selain menjaga daya tahan tubuh, Irwan menyebut bulan puasa juga menjadi waktu bagi sel-sel tubuh untuk melakukan proses “self cleaning” atau pembersihan dari racun yang mungkin menumpuk selama sekitar 12 bulan terakhir. Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga pola makan saat Ramadhan, khususnya dengan membatasi konsumsi makanan manis saat berbuka puasa. Asupan gula berlebihan, kata dia, dapat memicu peradangan, meningkatkan risiko lonjakan gula darah, hingga menimbulkan berbagai penyakit kronis dan masalah kesehatan kulit seperti jerawat. Irwan menekankan bahwa gula tidak hanya berasal dari makanan atau minuman manis, tetapi juga dari makanan pokok seperti nasi yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itu, masyarakat diimbau lebih bijak dalam memilih makanan dan mengatur pola pikir terkait konsumsi rasa manis. “Itu sebenarnya rasanya cuma yang di mulut aja. Lewat dari leher sini udah nggak ada rasanya. Rasanya enaknya cuma di sini (di mulut). Jadi itu yang mungkin dicamkan di kita bahwa sebetulnya apa yang kita makan itu hanya untuk cukup saja, jangan terlalu berlebihan,” tutup Irwan.

Lifestyle
| Kamis, 22 Januari 2026
Foto: Dokter UI: Vitamin C dan Zinc Cukup Jaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadhan | Pifa Net

Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan

PIFA, Lifestyle – Dokter umum dari Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menekankan bahwa kesiapan mental menjadi hal pertama yang perlu dipersiapkan menjelang bulan Ramadhan agar ibadah puasa dapat dijalani dengan lancar dan optimal. “Karena sebetulnya yang pertama kali yang harus kita siapkan itu mentalnya dulu. Kadang-kadang kita enggak siap mental puasa. Mulai banyak tuh sebetulnya harus siapin ini-itu, mentalnya siap enggak. Kalau misalnya mentalnya enggak siap nanti akan timbul kepanikan, yang ada bukannya ibadah malah stres,” kata Irwan dalam diskusi kesehatan bersama Halodoc di Jakarta, Rabu. Anggota Board of Medical Excellence Halodoc tersebut menjelaskan, kesiapan mental sangat penting karena akan memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengikuti fase-fase ibadah puasa, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan selama Ramadhan. Selain mental, Irwan menyebut terdapat empat fase selama bulan Ramadhan yang juga perlu dipersiapkan dengan baik. Persiapan itu meliputi pemenuhan kebutuhan vitamin untuk menunjang kesehatan, serta memperhatikan riwayat penyakit yang biasa muncul atau diderita. Menurut Irwan, pada minggu pertama Ramadhan tubuh akan beradaptasi dengan pola puasa. Pada fase ini, penting untuk memperhatikan gejala penyakit yang mungkin timbul dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika diperlukan. Gangguan kesehatan umumnya dipicu oleh pola makan yang tidak terjaga atau kurangnya waktu istirahat. “Karena kita ngobrolinnya itu mengenai Ramadhan pasti akan berkaitan juga dengan masa-masa nanti di Idul Fitri-nya. Kita tahu menu makanan di Idul Fitri santan, sambal-sambal, itu juga bisa berpengaruh pada kesehatan, itu juga harus dipersiapkan,” ujar Irwan. Ia menambahkan, kesiapan mental pada masa pasca-Idul Fitri juga penting, terutama terkait potensi kenaikan berat badan dan meningkatnya kadar kolesterol akibat perubahan pola makan saat Hari Raya. Jika hal tersebut diabaikan, ibadah puasa dikhawatirkan akan terasa berat dan kehilangan nilai ibadahnya. Irwan pun mengingatkan agar masyarakat bijak dalam mengatur kesiapan mental dan kesehatan selama Ramadhan, termasuk dengan menjaga pola tidur dan memilih makanan yang sehat dan seimbang, sehingga ibadah puasa dapat dijalani dengan aman dan khusyuk.

Lifestyle
| Rabu, 21 Januari 2026
Foto: Dokter UI Ingatkan Pentingnya Kesiapan Mental Jelang Ramadhan | Pifa Net

Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan

PIFA, Lifestyle - Bagi seorang introvert, berkenalan dengan orang baru saat liburan kerap menjadi tantangan tersendiri, terlebih jika harus bepergian dalam tur berkelompok bersama orang asing. Situasi tersebut bisa terasa canggung dan menegangkan, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa memulai percakapan. Dikutip dari Hindustan Times, Senin, pakar perjalanan sekaligus CEO Zo World and Zostel, Aviral Gupta, membagikan sejumlah trik sederhana agar para introvert tetap bisa menikmati perjalanan wisata berkelompok dan membangun koneksi sosial secara alami. Gupta menyarankan agar introvert memilih tempat menginap yang memungkinkan interaksi antartamu. Menurutnya, koneksi membutuhkan ruang bersama untuk tumbuh. “Hostel dengan ruang santai bersama, meja sarapan panjang, dapur komunal, atau area nongkrong di atap memudahkan orang asing untuk menjadi akrab. Momen-momen kecil seperti menunggu roti panggang matang, meminta garam untuk mi, atau mengisi daya ponsel di stop kontak yang sama bisa menghilangkan rasa canggung,” ujar Gupta. Selain itu, makanan disebut sebagai media pemersatu yang efektif. Membawa camilan atau berbagi makanan saat perjalanan dinilai dapat membantu mencairkan suasana. Gupta menilai makanan sering kali lebih ampuh meredakan ketegangan dibandingkan percakapan ringan. Dalam perjalanan kelompok, Gupta juga mengingatkan pentingnya memahami batasan pribadi. Mengetahui kapan harus mundur sejenak dan memberi ruang tetap menjadi bagian dari interaksi yang sehat. “Beberapa orang membutuhkan keheningan atau waktu sebelum mereka terbuka. Memberi ruang tanpa benar-benar menghilang adalah titik ideal,” katanya. Terakhir, Gupta menyarankan para pelancong introvert untuk merayakan kemenangan kecil selama perjalanan, seperti berhasil memulai obrolan singkat atau menikmati aktivitas bersama. Hal-hal sederhana tersebut dapat membuat perjalanan terasa lebih bermakna dan membantu membangun ikatan kebersamaan secara perlahan.

Lifestyle
| Selasa, 20 Januari 2026
Foto:  Tips Introvert Berwisata Bareng Orang Asing, Ini Cara Mudah Memulai Percakapan | Pifa Net
Explore Berbagai Konten Hiburan

Berita Rekomendasi

Lifestyle

Foto: Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan | Pifa Net

Waspadai Efek Samping, Ini Batas Aman Konsumsi Kurma Saat Ramadan

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Kurma menjadi salah satu buah yang paling dicari selama bulan Ramadan. Selain rasanya yang manis dan kaya nutrisi, kurma juga menjadi makanan sunnah saat berbuka puasa. Namun, konsumsi kurma berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping bagi kesehatan.Mengutip Healthline, sebagian besar kalori dalam kurma berasal dari karbohidrat, sementara sisanya berasal dari protein. Selain itu, kurma juga mengandung vitamin dan mineral seperti kalium, magnesium, zat besi, serta vitamin B6, yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, karena berbentuk buah kering, kurma memiliki kadar kalori lebih tinggi dibandingkan buah segar lainnya.Efek Samping Makan Kurma BerlebihanMeski bernutrisi, mengonsumsi kurma secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah risiko kesehatan. Berikut beberapa efek samping yang perlu diwaspadai:Masalah PencernaanBeberapa jenis kurma mengandung sulfit, senyawa kimia yang digunakan sebagai pengawet. Bagi orang yang sensitif terhadap sulfit, konsumsi kurma berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti sakit perut, kembung, dan diare. Selain itu, kandungan serat yang tinggi dalam kurma juga bisa memicu sembelit jika dikonsumsi secara berlebihan.Ruam KulitTambahan sulfit dan kemungkinan adanya jamur pada buah kering seperti kurma dapat memicu reaksi alergi berupa ruam kulit pada beberapa orang.Berat Badan NaikKurma memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi. Satu gram kurma mengandung sekitar 2,8 kalori, sehingga konsumsi berlebih dapat berisiko menyebabkan kenaikan berat badan yang tidak terduga.HiperkalemiaKurma dikenal sebagai salah satu sumber kalium yang baik. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan, kadar kalium dalam darah bisa meningkat secara signifikan, yang berisiko menyebabkan hiperkalemia. Kondisi ini dapat berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi penderita gangguan jantung dan ginjal.Intoleransi FruktosaKurma mengandung fruktosa yang cukup tinggi, yakni sekitar satu sendok teh per buah. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan mencerna fruktosa, yang bisa menyebabkan sakit perut akibat fermentasi gula oleh bakteri di usus.Masalah GigiTekstur kurma yang lengket dapat menempel pada gigi dan menyebabkan penumpukan plak, yang berisiko memicu gigi berlubang jika tidak segera dibersihkan.Gangguan GinjalTingginya kandungan potasium dalam kurma dapat menjadi masalah bagi penderita gangguan ginjal, karena ginjal yang lemah sulit mengatur kadar potasium dalam darah.MigrainKurma mengandung tiramin, senyawa yang diketahui dapat memicu migrain dan sakit kepala pada beberapa orang yang sensitif terhadap zat ini.Batas Konsumsi Kurma Per HariAgar tetap mendapatkan manfaat tanpa mengalami efek samping, jumlah konsumsi kurma perlu dibatasi. Mengutip Medicine Net, batas konsumsi kurma yang disarankan per hari adalah 100 gram atau sekitar tiga buah kurma berukuran sedang.Dengan mengonsumsi kurma dalam jumlah yang wajar, manfaatnya bagi kesehatan tetap bisa didapatkan tanpa risiko efek samping yang merugikan.

Indonesia
| Sabtu, 15 Maret 2025

Lifestyle

Foto: Hindari Cedera, Ini 5 Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Latihan di Gym | Pifa Net

Hindari Cedera, Ini 5 Kesalahan Umum Pemula Saat Mulai Latihan di Gym

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Langsung terjun ke pusat kebugaran (gym) tanpa persiapan yang matang bisa menjadi awal kesalahan fatal bagi para pemula. Pelatih kebugaran sekaligus CEO dan Pendiri OddsFitness, Asad Husain, mengungkapkan lima kesalahan paling umum yang sering dilakukan pemula ketika baru mulai berlatih di gym.“Masuk ke gym untuk pertama kalinya adalah langkah besar, tetapi bisa jadi salah besar jika tidak dilakukan secara sadar dan terarah,” kata Husain, dikutip dari laman Hindustan Times, Minggu (14/4).Menurutnya, banyak pemula yang berlatih terlalu keras, tanpa rencana, dan terlalu fokus pada tampilan luar ketimbang kualitas latihan. Alhasil, tubuh tidak mengalami perkembangan yang signifikan dan motivasi pun hilang.1. Tidak Punya Tujuan yang SpesifikKesalahan pertama yang kerap terjadi adalah tidak menetapkan tujuan yang jelas dan terukur. Husain menyarankan agar pemula memiliki target spesifik, misalnya: "Menurunkan berat badan 5 kg dalam 8 minggu dengan berlatih 4 kali seminggu dan mencatat asupan makanan setiap hari.”Menurutnya, tujuan semacam ini akan membantu menjaga arah dan komitmen dalam latihan.2. Berlatih Terlalu Keras di Hari PertamaBanyak pemula mencoba berbagai jenis latihan sekaligus di hari pertama—mulai dari angkat beban, kardio, latihan perut, hingga HIIT. Akibatnya, tubuh menjadi sangat nyeri selama beberapa hari dan kehilangan semangat untuk kembali berlatih.“Mulailah dari hal sederhana dan fokus membangun fondasi di bulan pertama,” ujar Husain.3. Teknik Latihan yang SalahPenggunaan teknik yang salah, terutama saat angkat beban, bisa menyebabkan cedera. Husain menyarankan menggunakan jasa pelatih pribadi minimal 3–6 bulan pertama, bukan hanya untuk motivasi, tetapi untuk memastikan postur tubuh benar dan program latihan sesuai kebutuhan.4. Terlalu Banyak Mengobrol dan Main PonselHusain menekankan pentingnya menjaga fokus saat berlatih. Menurutnya, waktu yang dihabiskan untuk mengobrol, bermain ponsel, atau “berpura-pura sibuk” justru menghabiskan 50 persen waktu latihan yang seharusnya produktif.“Itu yang saya sebut sebagai bermalas-malasan sosial,” tegasnya.5. Melewatkan Pemanasan dan PendinginanPemanasan dan pendinginan sering kali dianggap remeh oleh pemula. Padahal, keduanya penting untuk mencegah cedera dan membantu pemulihan otot. Husain menyarankan pemanasan dinamis 5–10 menit sebelum latihan, serta peregangan ringan setelahnya.Latihan Cerdas, Bukan Sekadar SibukSebagai penutup, Husain mengingatkan bahwa kunci kebugaran bukan terletak pada seberapa sibuk Anda terlihat di gym, tetapi pada seberapa cerdas dan konsisten Anda berlatih.

Indonesia
| Senin, 14 April 2025

Lifestyle

Foto: Risiko Meningitis Mengintai Jemaah Haji dan Umrah, Vaksinasi Jadi Kunci Perlindungan Kesehatan | Pifa Net

Risiko Meningitis Mengintai Jemaah Haji dan Umrah, Vaksinasi Jadi Kunci Perlindungan Kesehatan

PIFA, Lifestyle - Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Di balik kekhusyukan ibadah tersebut, tantangan kesehatan masih menjadi perhatian serius, khususnya bagi jemaah asal Indonesia, salah satunya risiko penyakit meningitis atau invasive meningococcal disease (IMD). Data Kementerian Agama tahun 2025 mencatat lebih dari 22 persen jemaah haji Indonesia termasuk dalam kategori lanjut usia, dengan sebagian besar memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah jemaah haji reguler mencapai sekitar 221 ribu orang per tahun, sementara jemaah umrah menembus angka 3 juta orang setiap tahunnya. Kondisi ini membuat potensi penularan penyakit menular semakin tinggi. Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI), Dr. dr. Syarief Hasan Lutfie, SpKFR, MARS, AIFO–K, menegaskan bahwa risiko penularan meningokokus invasif dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan dan fisik. Suhu tinggi, kelembapan, kontak erat antarmanusia, polusi udara, hingga kelelahan fisik menjadi pemicu utama. “Risiko semakin tinggi karena jutaan jemaah dari ratusan negara berkumpul di satu tempat, termasuk dari wilayah sub-Sahara Afrika yang dikenal sebagai meningitis belt,” ujarnya. Besarnya jumlah jemaah, yang bisa melampaui dua juta orang saat puncak musim haji, menjadikan lingkungan ibadah sangat rentan terhadap penyebaran penyakit. Situasi ini diperparah dengan tingginya angka kematian jemaah Indonesia yang tercatat sebagai yang tertinggi secara global, yakni 447 orang pada tahun ini, dengan kelompok usia 60–70 tahun sebagai yang paling rentan. Dr. Syarief menekankan pentingnya kesiapan kesehatan jemaah sebelum berangkat. Menurutnya, penyakit metabolik dan gangguan sirkulasi yang sudah dimiliki banyak jemaah dapat memburuk akibat aktivitas fisik berat selama menjalankan rangkaian ibadah. Di tengah risiko tersebut, vaksinasi meningitis menjadi langkah pencegahan yang krusial. Vaksin meningitis konjugat diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan Arab Saudi dan harus diberikan paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan. Upaya ini terbukti efektif menekan angka kejadian penyakit meningokokus invasif, seperti yang pernah terlihat pada musim haji dan umrah tahun 2001. Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI, MSc, mengingatkan bahwa IMD merupakan penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan kematian dalam waktu kurang dari 24 jam. Bahkan bagi yang selamat, risiko komplikasi berat seperti gangguan pendengaran, kejang, hingga amputasi tetap mengintai. Ia juga menekankan bahwa bakteri penyebab meningitis dapat menetap lama di saluran pernapasan tanpa gejala, sehingga jemaah bisa menjadi carrier tanpa disadari dan menularkan penyakit sepulang ke Tanah Air. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Kalbe Farma Tbk melalui anak usahanya PT Kalventis Sinergi Farma menghadirkan vaksin meningitis konjugat generasi terbaru di Indonesia. Vaksin ini dirancang untuk memberikan perlindungan jangka panjang sekaligus menurunkan risiko carrier. Teknologi konjugat juga menghasilkan respons imun yang lebih kuat dibandingkan vaksin polisakarida, dengan tingkat efektivitas tinggi terhadap empat serogroup meningokokus utama. Pada akhirnya, ibadah haji dan umrah bukan hanya menuntut kesiapan spiritual, tetapi juga kesiapan fisik dan kesehatan. Dengan tingginya risiko meningitis, terutama bagi jemaah lanjut usia dan yang memiliki komorbid, vaksinasi meningitis konjugat menjadi langkah perlindungan yang tidak bisa diabaikan. Selain melindungi diri sendiri, vaksinasi juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial untuk menjaga keluarga dan masyarakat dari penyakit yang mematikan.

Lifestyle
| Sabtu, 6 Desember 2025
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5