China Sambut Gencatan Senjata Israel-Lebanon, Serukan Stabilitas Energi Global
Internasional | Jumat, 17 April 2026
Pemerintah China menyambut baik kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing mendukung segala upaya yang dapat meredakan konflik.
"China menyambut baik semua upaya yang kondusif untuk mengakhiri konflik. Kami berharap semua pihak akan mempertahankan momentum gencatan senjata dan negosiasi serta menyelesaikan perselisihan melalui cara politik dan diplomatik, yang merupakan hal yang bertanggung jawab untuk dilakukan," ujar Guo dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (17/4).
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat memulai gencatan senjata pada Kamis (16/4) pukul 21.00 GMT.
Trump juga menyatakan akan mengundang kedua pemimpin tersebut ke Washington untuk melanjutkan pembicaraan lebih mendalam.
Guo menambahkan, konflik di Timur Tengah telah memicu krisis pasokan energi global. Meski demikian, China disebut belum menyalurkan bantuan energi ke negara tertentu karena masih terganggunya distribusi bahan bakar.
"Prioritas utama sekarang adalah mencegah dengan segala cara terjadinya kembali pertempuran dan mencegah kekacauan lebih lanjut yang dapat lebih merusak keamanan energi global," kata Guo.
Ia menegaskan China siap menjaga komunikasi dengan semua pihak guna memastikan stabilitas energi dunia.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan bahwa lalu lintas komersial di Selat Hormuz kembali dibuka penuh selama masa gencatan senjata.
“Mengingat gencatan senjata di Lebanon, lalu lintas bagi semua kapal komersial di Selat Hormuz dinyatakan dibuka sepenuhnya selama waktu gencatan senjata yang tersisa,” ujar Araghchi melalui media sosial X.
Ia menambahkan bahwa pembukaan jalur tersebut dilakukan sesuai koordinasi dengan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Iran.
Menanggapi hal itu, Donald Trump menyampaikan apresiasi atas keputusan Teheran. Namun, tak lama kemudian, Trump menegaskan bahwa AS tetap akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan Iran hingga proses negosiasi selesai sepenuhnya.
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak serangan militer bersama AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Kedua negara sempat menggelar negosiasi awal di Islamabad pada 11 April, namun berakhir tanpa kesepakatan setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan pembicaraan gagal.
Setelah itu, Washington mengerahkan Angkatan Lautnya untuk memblokade Selat Hormuz, jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Laporan Axios menyebutkan putaran kedua negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 19 April.
Gencatan senjata Israel-Lebanon sendiri diumumkan menyusul pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat di Washington DC, sebagai bagian dari upaya meredakan konflik yang lebih luas di kawasan.


















