Hizbullah Sebut Gencatan Senjata 10 Hari dengan Israel Hanya Langkah Awal
Internasional | Jumat, 17 April 2026
Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari dengan Israel bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal menuju pembebasan penuh Lebanon.
“Ini adalah langkah awal, bukan tujuan akhir. Tugas utama kami bukan kembali ke tahap sebelumnya, tetapi memastikan penarikan musuh dan kembalinya warga ke desa mereka,” ujar Fadlallah kepada wartawan di pinggiran selatan Beirut, Jumat.
Ia menambahkan bahwa setiap upaya menuju penghentian konflik patut diapresiasi. Namun, menurutnya, gencatan senjata tidak boleh dijadikan alat tekanan terhadap otoritas Lebanon.
Hizbullah, kata Fadlallah, mendukung kesepakatan tersebut, tetapi tetap menuntut penghentian penuh permusuhan, penarikan total pasukan Israel dari wilayah Lebanon, kembalinya warga ke rumah mereka, pembebasan tahanan, serta percepatan rekonstruksi.
“Ini adalah syaratnya. Ini adalah prinsipnya. Hal lain tidak terlalu berarti bagi rakyat kami,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fadlallah menyebut Israel menyetujui gencatan senjata bukan karena tekanan dari Amerika Serikat, melainkan akibat keberhasilan diplomasi Iran serta perlawanan Hizbullah terhadap operasi militer Israel di Lebanon.
Ia juga mengungkapkan bahwa pimpinan Hizbullah telah menerima informasi resmi mengenai gencatan senjata pada Kamis (16/4) sekitar pukul 04.00 dari duta besar Iran untuk Lebanon. Dalam komunikasi tersebut disebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Fadlallah juga mengungkapkan keterlibatan sejumlah negara lain dalam proses tersebut. “Saudara-saudara kami di Republik Islam juga memberi tahu kami tentang keterlibatan mereka dengan Arab Saudi dan Pakistan, ini merupakan faktor yang berkontribusi, mendukung, dan memfasilitasi tercapainya gencatan senjata sebagai langkah awal,” katanya.
Sebelumnya, pada Kamis malam, Israel dan Hizbullah telah mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari yang mulai berlaku pada 17 April.



















