Prabowo Temui Putin, Indonesia Cari Sumber Energi Baru di Tengah Ketegangan Global
Internasional | Selasa, 14 April 2026
Presiden Prabowo Subianto memilih mengambil langkah strategis mencari sumber energi baru yang lebih andal, meski Iran telah memberi sinyal positif bagi kapal tanker Indonesia untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Langkah itu diwujudkan melalui kunjungan Prabowo ke Rusia, di mana ia bertemu Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskow, pada Senin (13/4) dini hari.
Dalam kunjungan tersebut, Prabowo didampingi Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang kian tidak pasti. Rusia dipandang sebagai mitra strategis, terutama dalam sektor energi, termasuk energi baru dan terbarukan serta potensi pengembangan nuklir untuk tujuan damai.
Ini merupakan kunjungan ketiga Prabowo ke Rusia sejak menjabat sebagai presiden, setelah sebelumnya ke Saint Petersburg pada Juni 2025 dan Moskow pada Desember 2025. Intensitas kunjungan tersebut mencerminkan semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara.
Dalam pertemuan yang berlangsung selama lima jam, Prabowo dan Putin sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor, mulai dari ekonomi, energi, antariksa, pertanian, industri, farmasi, hingga pendidikan.
Fokus utama kerja sama diarahkan pada penguatan sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk hilirisasi dan ketahanan pasokan minyak dan gas dalam jangka panjang.
Prabowo juga menegaskan akan turun tangan langsung untuk mempercepat implementasi sejumlah kerja sama yang dinilai belum optimal, termasuk dalam aspek hubungan moneter antara kedua negara.
Di sisi lain, Indonesia juga mendapat dukungan dari Rusia untuk percepatan keanggotaan penuh dalam BRICS, yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi global.
Putin menyebut hubungan bilateral kedua negara semakin kuat, ditandai dengan peningkatan nilai perdagangan sekitar 12 persen, serta menegaskan Rusia memandang Indonesia sebagai mitra strategis jangka panjang.
Meski demikian, pengamat hubungan internasional mengingatkan pentingnya menjaga posisi Indonesia sebagai mitra setara dalam kerja sama ini. Standar internasional, termasuk dari International Atomic Energy Agency (IAEA), harus menjadi acuan jika kerja sama energi nuklir sipil dikembangkan.
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas dalam implementasi kerja sama dinilai krusial agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Pengamat juga menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi domestik yang besar seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. Namun, pemanfaatannya dinilai belum optimal akibat kurangnya konsistensi dalam perencanaan jangka panjang.
Kunjungan ini menegaskan langkah Indonesia untuk tidak hanya bergantung pada satu sumber energi global, tetapi aktif membangun kemitraan strategis guna memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ketidakpastian dunia.



















