83 Orang Tewas dan 112 Terluka dalam Operasi Militer AS
Internasional | Sabtu, 17 Januari 2026
PIFA, Internasional - Sebanyak 83 orang tewas dan sedikitnya 112 lainnya terluka dilaporkan dalam operasi militer besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Venezuela, yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya Cilia Flores pada 3 Januari 2026 lalu. Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López saat upacara pemberian penghargaan bagi personel militer dan warga sipil yang gugur dalam serangan tersebut.
Dari total korban tewas, termasuk di antaranya 47 anggota Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian (FANB), dengan sembilan di antaranya adalah perempuan. Selain itu, 32 warga Kuba yang berada bersama pasukan Venezuela juga turut meninggal dunia selama operasi itu.
Venezuela menyatakan sebagian besar korban kini dirawat oleh sistem kesehatan militer negara tersebut. Pemerintah Caracas juga berencana memberikan dukungan kepada keluarga korban serta mendirikan monumen nasional sebagai penghormatan bagi mereka yang gugur.
Penangkapan Maduro dan Proses Hukum
Operasi militer yang dimulai pada dini hari 3 Januari berhasil menangkap Presiden Maduro dan istrinya. Keduanya kemudian dibawa ke New York, Amerika Serikat, untuk menghadapi proses hukum atas tuduhan yang dilayangkan pemerintah AS, termasuk keterlibatan dalam kegiatan narkoterorisme. Maduro dan Flores telah menyatakan tidak bersalah dalam sidang perdana mereka di pengadilan federal Manhattan.
Setelah kejadian tersebut, Mahkamah Agung Venezuela menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai kepala negara sementara untuk menjaga kekosongan kepemimpinan di tengah krisis politik yang berlangsung. Venezuela juga meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menanggapi tindakan militer itu.
Reaksi Internasional dan Dampak Politik
Operasi militer AS di Venezuela telah memicu reaksi kuat di berbagai negara dan komunitas internasional. Di Kuba, ribuan warga turun ke jalan untuk memprotes tindakan AS dan memberikan penghormatan kepada 32 personel Kuba yang gugur selama serangan. Demonstrasi menuntut pembebasan para prajurit dan mengecam tindakan militer US berlangsung penuh emosional.
Perkembangan hubungan AS–Venezuela juga mengalami perubahan cepat. Kepala CIA bertemu dengan Delcy Rodríguez di Caracas dalam upaya memperkuat dialog dan kerjasama antara kedua pihak pasca-operasi yang menimbulkan ketegangan diplomatik baru.
Dalam perkembangan lain, meskipun awalnya kritik tajam terhadap operasi itu meluas, terdapat pula tanda-tanda kerja sama pragmatis antara pemerintahan sementara Venezuela dan administrasi AS dalam isu ekonomi dan stabilitas, termasuk pengelolaan sektor energi serta langkah-langkah untuk mengatasi tantangan domestik dan regional.




















