LONDON – Pemerintah Inggris mengumumkan pengiriman kapal perang perusak HMS Dragon ke wilayah Timur Tengah. Langkah ini diambil sebagai bagian dari misi internasional untuk membantu melindungi jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz pasca-berakhirnya fase aktif perang antara Iran melawan agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pengerahan HMS Dragon bertujuan untuk memperkuat kepercayaan industri pelayaran global. Selain itu, kapal ini akan mendukung upaya pembersihan ranjau laut yang tersebar di sepanjang jalur vital tersebut selama konflik berlangsung.
"Penempatan awal HMS Dragon merupakan bagian dari perencanaan matang untuk memastikan Inggris siap, sebagai bagian dari koalisi multinasional yang dipimpin bersama Inggris dan Prancis, guna mengamankan selat tersebut ketika kondisi memungkinkan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris kepada AFP, Sabtu (9/5).
Koalisi 40 Negara
Rencana militer untuk mengamankan Selat Hormuz ini sebenarnya telah dimatangkan sejak April lalu melalui kerja sama erat antara Inggris dan Prancis. Dalam pertemuan tingkat tinggi yang melibatkan lebih dari 44 negara di London, sekitar 40 negara menyatakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam misi multinasional ini guna memulihkan arus perdagangan global.
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia. Sebelum perang meletus pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia dikirim melalui jalur ini. Namun, penutupan selat oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel telah memicu guncangan hebat pada pasar global dan melambungkan harga minyak dunia.
Situasi Masih Fluktuatif
Meski misi internasional mulai bergerak, situasi di kawasan Teluk dilaporkan masih sangat dinamis dan cenderung memanas. Kemarin, Iran sempat mempertanyakan keseriusan diplomasi Amerika Serikat terkait rencana gencatan senjata.
Kekhawatiran ini muncul setelah terjadinya bentrokan laut terbaru, di mana jet tempur Amerika Serikat dilaporkan menembaki dan melumpuhkan dua kapal tanker berbendera Iran. Tindakan militer AS tersebut langsung memicu serangan balasan dari pihak Iran, yang menunjukkan bahwa stabilitas di kawasan tersebut masih belum sepenuhnya pulih meski upaya normalisasi jalur pelayaran terus diupayakan oleh koalisi pimpinan Inggris dan Prancis.