AS Kecewa Skala Serangan Israel ke Depot Bahan Bakar Iran, Picu Perbedaan Pendapat
Internasional | Senin, 9 Maret 2026
PIFA, Internasional - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan kecewa dengan skala serangan udara Israel terhadap depot bahan bakar di Iran pada akhir pekan. Perbedaan pandangan tersebut disebut menjadi ketidaksepakatan menonjol pertama antara kedua sekutu sejak dimulainya serangan terhadap Iran.
Laporan media Axios, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui situasi tersebut, menyebut serangan pada Sabtu menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah Iran. Jumlah tersebut disebut jauh lebih besar dari perkiraan pejabat AS setelah Israel sebelumnya memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, setelah serangan itu. Asap tebal terlihat membubung dari tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri di kota tersebut.
Militer Israel menyatakan depot bahan bakar yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk memasok bahan bakar kepada berbagai pihak, termasuk unit-unit militernya.
Meski Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilakukan, para pejabat di Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
Salah seorang penasihat Presiden AS Donald Trump mengatakan pemimpin AS itu tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata penasihat tersebut.
Pejabat AS juga khawatir serangan terhadap infrastruktur yang melayani masyarakat Iran dapat menimbulkan dampak strategis yang berbalik arah, termasuk memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta memicu kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” ujar seorang pejabat senior AS.
Walau fasilitas yang diserang bukan lokasi produksi minyak, pejabat di Washington khawatir rekaman depot bahan bakar yang terbakar dapat mengguncang pasar energi dunia.
Di sisi lain, pejabat Iran memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dapat memicu pembalasan.
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya yang mengawasi operasi militer Iran menyatakan Teheran dapat merespons dengan serangan serupa jika serangan terhadap fasilitas energi terus berlanjut.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran sejauh ini menghindari menargetkan infrastruktur energi di kawasan. Namun jika langkah itu diambil, harga minyak global bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel.
Peringatan serupa disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang menyatakan Teheran akan melakukan pembalasan “tanpa penundaan” jika serangan terhadap infrastruktur terus terjadi.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Menurut otoritas Iran, serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, serta melukai lebih dari 10.000 lainnya.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta beberapa negara di kawasan seperti Irak dan Yordania, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.



















