Cara mengatasi trauma menurut penjelasan Ahli, Psikiater Indonesia. (Foto Ilustrasi: Dok. PIFA/Freepik mrmohock)

PIFA, Lifestyle - Psikiater jebolan Universitas Sebelas Maret Jiemi Ardian mengungkapkan bahwa trauma adalah reaksi tubuh yang terjadi di saat ini akibat peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Jiemi menjelaskan, reaksi tubuh yang dimaksud adalah reaksi yang ingin melindungi diri secara terus-menerus atau merasa terancam misalnya, takut, cemas, tegang, atau bersiap siaga terhadap adanya ‘stressor’ sehingga kita menyebutnya mudah terpicu atau sensitif.

Meski begitu, terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi reaksi trauma.

“Trauma bukan berarti tidak dapat disembuhkan, gejala akan mereda dalam waktu singkat itu mungkin, namun untuk sembuh butuh fase jangka panjang karena kita butuh memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang hilang pada saat trauma yang dulu terjadi termasuk keterampilan yang hilang, misalnya regulasi emosi.” kata Jiemi menerangkan dilansir dari Antara, Rabu (18/1/2023).

Salah satu pilihan yang dapat dilakukan orang yang memiliki trauma adalah melakukan meditasi.

Terdapat beberapa jenis meditasi yang tersedia di kota-kota tempat anda tinggal, bahkan meditasi juga dapat dilakukan di rumah.

Selain meditasi, anda juga dapat menggunakan musik sebagai cara mengatasi trauma.

Mendengarkan musik masih menjadi andalan pada berbagai situasi dan kondisi yang kita alami dan menjadi salah satu cara untuk menenangkan diri.

Jika anda tidak failiar dengan musik dan meditasi, aktivitas hobi juga dapat menjadi pilihan.

Menurut Jiemi, aktivitas hobi dapat memperluas ‘window of tolerance’ atau jendela toleransi.

Jendela toleransi menggambarkan keadaan di mana kita dapat berfungsi dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika beradadalam jendela ini, Anda dapat beraktivitas secara efektif dan berhubungan baik dengan diri sendiri dan orang lain.

“Mencari pertolongan profesional ‘therapist’ akan membantu menyadari dan mempelajari ulang bagaimana tubuh kita bereaksi dan cara mengatasinya. Pesan untuk para pejuang trauma, jika rasanya sulit tidak apa untuk menemui profesional kesehatan jiwa dan terima kasih sudah bertahan sejauh ini ya,” kata Jiemi.
 
Sejumlah psikolog mengungkapkan bahwa gangguan mental sama halnya seperti saat fisik kita sedang lelah atau sakit, dan keduanya sama-sama penting. Sehingga anda tidak perlu ragu untuk meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater.

Terakhir, pesan dari Jiemi, jika anda merupakan seorang pejuang trauma, anda tak perlu tergesa-gesa, berjalan lah perlahan maka pilu akan menjadi pelangi indah di kemudian hari. (b)

PIFA, Lifestyle - Psikiater jebolan Universitas Sebelas Maret Jiemi Ardian mengungkapkan bahwa trauma adalah reaksi tubuh yang terjadi di saat ini akibat peristiwa yang terjadi di masa lalu.

Jiemi menjelaskan, reaksi tubuh yang dimaksud adalah reaksi yang ingin melindungi diri secara terus-menerus atau merasa terancam misalnya, takut, cemas, tegang, atau bersiap siaga terhadap adanya ‘stressor’ sehingga kita menyebutnya mudah terpicu atau sensitif.

Meski begitu, terdapat sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi reaksi trauma.

“Trauma bukan berarti tidak dapat disembuhkan, gejala akan mereda dalam waktu singkat itu mungkin, namun untuk sembuh butuh fase jangka panjang karena kita butuh memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang hilang pada saat trauma yang dulu terjadi termasuk keterampilan yang hilang, misalnya regulasi emosi.” kata Jiemi menerangkan dilansir dari Antara, Rabu (18/1/2023).

Salah satu pilihan yang dapat dilakukan orang yang memiliki trauma adalah melakukan meditasi.

Terdapat beberapa jenis meditasi yang tersedia di kota-kota tempat anda tinggal, bahkan meditasi juga dapat dilakukan di rumah.

Selain meditasi, anda juga dapat menggunakan musik sebagai cara mengatasi trauma.

Mendengarkan musik masih menjadi andalan pada berbagai situasi dan kondisi yang kita alami dan menjadi salah satu cara untuk menenangkan diri.

Jika anda tidak failiar dengan musik dan meditasi, aktivitas hobi juga dapat menjadi pilihan.

Menurut Jiemi, aktivitas hobi dapat memperluas ‘window of tolerance’ atau jendela toleransi.

Jendela toleransi menggambarkan keadaan di mana kita dapat berfungsi dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika beradadalam jendela ini, Anda dapat beraktivitas secara efektif dan berhubungan baik dengan diri sendiri dan orang lain.

“Mencari pertolongan profesional ‘therapist’ akan membantu menyadari dan mempelajari ulang bagaimana tubuh kita bereaksi dan cara mengatasinya. Pesan untuk para pejuang trauma, jika rasanya sulit tidak apa untuk menemui profesional kesehatan jiwa dan terima kasih sudah bertahan sejauh ini ya,” kata Jiemi.
 
Sejumlah psikolog mengungkapkan bahwa gangguan mental sama halnya seperti saat fisik kita sedang lelah atau sakit, dan keduanya sama-sama penting. Sehingga anda tidak perlu ragu untuk meminta pertolongan kepada psikolog atau psikiater.

Terakhir, pesan dari Jiemi, jika anda merupakan seorang pejuang trauma, anda tak perlu tergesa-gesa, berjalan lah perlahan maka pilu akan menjadi pelangi indah di kemudian hari. (b)

0

0

You can share on :

0 Komentar

Berita Lainnya