Bukan Sekadar Penasaran, Ini 7 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Stalking
Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026
JAKARTA — Kebiasaan mencari tahu kehidupan orang lain semakin mudah dilakukan di era media sosial. Melihat aktivitas seseorang melalui unggahan, komentar, hingga jejak digital memang menjadi hal yang umum.
Namun, ketika perilaku tersebut dilakukan secara berlebihan dan terus-menerus, tindakan itu dapat berubah menjadi stalking atau menguntit.
Stalking bukan hanya muncul karena rasa ingin tahu. Dalam kajian psikologi, perilaku ini sering berkaitan dengan faktor emosional, pola pikir, pengalaman hidup, hingga kebutuhan tertentu yang tidak terpenuhi.
Selain mengganggu privasi, perilaku stalking juga dapat membuat korban merasa takut, cemas, bahkan mengalami tekanan psikologis.
Berikut sejumlah karakteristik yang sering dikaitkan dengan orang yang memiliki kecenderungan stalking:
1. Sulit melepaskan perhatian dari seseorang
Salah satu ciri yang sering muncul adalah perilaku obsesif. Seseorang dengan kecenderungan ini sulit mengalihkan pikirannya dari target tertentu.
Mereka dapat menghabiskan banyak waktu untuk mencari informasi, memantau aktivitas, atau mengikuti perkembangan seseorang baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Jika tidak dikendalikan, rasa penasaran tersebut dapat berubah menjadi perilaku yang melanggar batas privasi.
2. Tidak mudah menerima penolakan
Sebagian pelaku stalking mengalami kesulitan menerima kenyataan ketika hubungan yang diinginkan tidak berjalan sesuai harapan.
Penolakan dapat dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri sehingga mereka terus berusaha mendapatkan perhatian dari orang yang sebenarnya sudah menjauh.
Dalam beberapa kasus, perasaan kecewa, marah, atau kehilangan dapat mendorong seseorang untuk tetap menghubungi atau mengawasi target secara berulang.
3. Memiliki dorongan untuk mengontrol
Kebutuhan mengendalikan situasi atau orang lain juga sering muncul pada perilaku stalking.
Bagi sebagian orang, mengetahui aktivitas seseorang secara terus-menerus memberi rasa seolah mereka masih memiliki kendali atas kehidupan target.
Dorongan ini biasanya berkaitan dengan rasa tidak aman atau ketakutan kehilangan seseorang.
4. Kurang memahami batasan sosial
Orang dengan kecenderungan stalking terkadang tidak menyadari bahwa tindakannya sudah melewati batas.
Mereka bisa menganggap sering mengirim pesan, mencari tahu aktivitas seseorang, atau memantau media sosial sebagai bentuk perhatian.
Padahal, bagi pihak yang menjadi sasaran, perilaku tersebut dapat terasa mengganggu dan menimbulkan ketidaknyamanan.
5. Rendahnya empati terhadap perasaan orang lain
Empati berperan penting dalam memahami dampak sebuah tindakan terhadap orang lain.
Dalam beberapa kasus stalking, pelaku lebih berfokus pada keinginan pribadi dibandingkan mempertimbangkan perasaan korban.
Akibatnya, mereka tetap melanjutkan perilaku tersebut meski sudah mendapat tanda bahwa orang lain merasa terganggu.
6. Membentuk fantasi yang tidak sesuai kenyataan
Sebagian pelaku stalking dapat memiliki keyakinan atau bayangan tertentu yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Misalnya, seseorang merasa yakin bahwa target memiliki perasaan khusus terhadap dirinya meski tidak ada tanda yang mendukung.
Dalam psikologi, kondisi seperti ini dikenal sebagai erotomanic stalking, yaitu ketika seseorang percaya bahwa dirinya dicintai secara diam-diam oleh orang lain.
7. Memiliki rasa percaya diri rendah
Di balik perilaku yang tampak mengejar atau agresif, sebagian pelaku stalking justru dapat memiliki rasa tidak aman terhadap dirinya sendiri.
Mereka mungkin mencari perhatian, validasi, atau pengakuan dari orang lain untuk menutupi perasaan kurang berharga.
Ketika merasa ditolak atau diabaikan, tekanan emosional tersebut dapat mendorong munculnya perilaku yang tidak sehat.
Stalking bukan bentuk perhatian atau kasih sayang. Perilaku ini dapat merusak batas pribadi dan berdampak serius terhadap korban.
Memahami tanda-tandanya dapat membantu seseorang lebih waspada, menjaga batasan dalam hubungan, serta membangun interaksi yang lebih sehat dan saling menghormati.



















