China Protes Kapal Perang Jepang Masuk Selat Taiwan, Sebut Provokasi Serius
Internasional | Sabtu, 18 April 2026
Pemerintah China menyatakan keberatan keras atas masuknya kapal Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (SDF) ke Selat Taiwan pada Jumat (17/4), yang dinilai sebagai tindakan provokatif dan berpotensi memperuncing ketegangan bilateral.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan militer China telah menangani pelayaran tersebut sesuai hukum yang berlaku. Namun, ia menilai langkah Jepang merupakan unjuk kekuatan yang disengaja.
“Tindakan ini secara serius merusak fondasi politik hubungan China-Jepang serta mengancam kedaulatan dan keamanan China. China dengan tegas menentang hal tersebut dan telah menyampaikan protes keras kepada Jepang,” kata Guo dalam konferensi pers di Beijing.
Pelayaran ini menjadi yang pertama sejak Sanae Takaichi menjabat pada Oktober lalu, di tengah hubungan kedua negara yang memanas sejak pernyataannya pada November 2025 terkait potensi krisis Taiwan.
Meski pemerintah Jepang belum memberikan pengumuman resmi, media setempat menyebut langkah tersebut sebagai sinyal bahwa Tokyo perlu bersikap lebih tegas terhadap meningkatnya sikap agresif China.
Guo menegaskan bahwa isu Taiwan merupakan bagian dari kedaulatan dan keutuhan wilayah China serta menjadi fondasi hubungan politik dengan Jepang. Ia menyebutnya sebagai “garis merah” yang tidak boleh dilanggar.
“Ini adalah garis merah yang tidak boleh dilanggar. China mendesak Jepang untuk segera kembali ke jalur yang benar, berhati-hati dalam perkataan dan tindakan, serta menghentikan langkah yang semakin menjauh dari jalan yang benar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya gangguan terhadap perwakilan China di Jepang dalam beberapa tahun terakhir, termasuk insiden pembobolan kedutaan oleh seorang anggota aktif Pasukan Bela Diri yang membawa senjata tajam. Menurutnya, hal ini mencerminkan menguatnya pengaruh kelompok sayap kanan di Jepang.
Guo turut memperingatkan potensi kebangkitan neo-militerisme yang dapat mengancam stabilitas kawasan.
Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang menyatakan pihaknya telah mengambil langkah tegas terhadap pelayaran kapal Jepang tersebut.
Ia menyebut kapal perusak Jepang melintasi Selat Taiwan dan Komando Teater Timur Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China mengerahkan kekuatan laut dan udara untuk memantau pergerakan tersebut.
“Tindakan Jepang ini merupakan provokasi yang disengaja, kesalahan yang berulang, dan menimbulkan pertanyaan mengenai maksud sebenarnya,” kata Zhang.
Menurutnya, pelayaran itu juga mengirim sinyal yang salah kepada kelompok separatis “kemerdekaan Taiwan” serta berpotensi memicu reaksi keras dari publik China.
Ia menegaskan militer China akan tetap siaga tinggi untuk menghadapi segala bentuk intervensi eksternal dan menjaga kedaulatan wilayahnya.
Sebelumnya, Jepang cenderung menahan diri untuk tidak mengirim kapal melalui Selat Taiwan guna menghindari provokasi terhadap Beijing. Namun, pada September 2024 kapal perusak Sazanami menjadi yang pertama melintas, disusul dua kapal lainnya pada Februari dan Juni 2025.
Media Jepang menyebut kapal tersebut dijadwalkan mengikuti latihan militer gabungan Filipina-AS, Balikatan, yang berlangsung mulai 20 April hingga 8 Mei.
Hubungan China dan Jepang sendiri terus memanas sejak pernyataan Sanae Takaichi pada 7 November 2025 yang menyinggung kemungkinan ancaman terhadap Jepang jika China menggunakan kekuatan militer terhadap Taiwan.
Sebagai respons, China mengambil sejumlah langkah balasan, termasuk menangguhkan impor produk laut Jepang, menghentikan pertemuan pejabat tinggi, serta mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk tidak bepergian atau belajar di Jepang.
Ketegangan semakin meningkat setelah insiden pada 6 Desember 2025, ketika jet tempur J-15 Angkatan Laut China beberapa kali mengunci radar ke pesawat F-15 Pasukan Bela Diri Udara Jepang di wilayah laut tenggara Okinawa, yang memicu protes dari Tokyo.



















