China–Rusia Pererat Hubungan Strategis untuk Hadapi Tantangan Keamanan Global
Internasional | Selasa, 3 Februari 2026
PIFA, Internasional - Pemerintah China dan Rusia menegaskan kedekatan hubungan kedua negara ditujukan untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan global. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Sergei Shoigu yang berlangsung di Beijing.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan China dan Rusia, sebagai dua negara besar sekaligus anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berkomitmen mempraktikkan multilateralisme sejati dan menjunjung tinggi sistem internasional yang berpusat pada PBB.
“China dan Rusia, sebagai dua negara besar dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, akan mempraktikkan multilateralisme sejati, dan menjunjung tinggi sistem internasional yang berpusat pada PBB,” kata Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (2/2).
Lin Jian menyebut kedua negara juga menyerukan terciptanya dunia multipolar yang setara serta globalisasi ekonomi yang inklusif dan membawa manfaat secara universal. Selain itu, China dan Rusia mendorong pembangunan sistem tata kelola global yang dinilai lebih adil dan merata.
Pertemuan Wang Yi dan Sergei Shoigu berlangsung pada Minggu (1/2) di Wisma Negara Diaoyutai, Beijing. Dalam kesempatan tersebut, China dan Rusia menegaskan posisi sebagai mitra strategis komprehensif untuk koordinasi di era baru.
“Kedua negara telah menjaga komunikasi yang erat mengenai isu-isu utama yang menyangkut hubungan bilateral, saling mendukung dalam isu-isu yang berkaitan dengan kepentingan inti masing-masing, dan melindungi kepentingan masing-masing maupun kepentingan bersama kedua negara,” ujar Lin Jian.
Wang Yi dalam pertemuan itu menilai dunia saat ini tengah mengalami perubahan besar dan gejolak yang kian meningkat. Menurutnya, tatanan internasional pascaperang serta norma-norma hubungan internasional menghadapi tantangan serius, bahkan berisiko kembali pada situasi “hukum rimba”.
Ia menegaskan, sebagai negara bertetangga terbesar sekaligus mitra strategis komprehensif, China dan Rusia perlu terus menjaga komunikasi erat, meningkatkan dukungan timbal balik terkait kepentingan inti masing-masing, serta melindungi kepentingan bersama.
Wang Yi juga menyatakan kesiapan China untuk bekerja sama dengan Rusia dalam mengimplementasikan pemahaman penting yang telah dicapai oleh kedua kepala negara. Kerja sama tersebut mencakup peningkatan komunikasi dan koordinasi strategis guna membuka prospek baru hubungan China–Rusia di tahun yang baru.
Sementara itu, Sergei Shoigu menegaskan Rusia secara konsisten menjunjung tinggi prinsip satu China. Rusia, kata dia, juga mencermati langkah-langkah kekuatan yang dinilai berupaya merusak stabilitas di Selat Taiwan, serta menentang upaya Jepang untuk mempercepat remiliterisasi.
Rusia menyatakan kesiapannya untuk terus memperkuat dukungan timbal balik dengan China, meningkatkan kerja sama bilateral, serta memperdalam koordinasi dalam berbagai mekanisme multilateral, seperti PBB, Shanghai Cooperation Organization (SCO), dan BRICS.
Kedua pihak juga melakukan komunikasi strategis mendalam mengenai berbagai isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama, dengan tujuan bersama membangun dunia multipolar yang lebih adil dan setara serta arsitektur keamanan Eurasia yang dinilai tak terpisahkan.




















