China Tegaskan Dukungan Politik untuk Iran Usai Serangan AS dan Israel
Internasional | Sabtu, 7 Maret 2026
PIFA, Internasional - Pemerintah China menegaskan dukungan politiknya kepada Iran setelah serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel. Namun Beijing enggan menjelaskan lebih jauh mengenai bentuk dukungan lain yang mungkin diberikan kepada Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan negaranya menentang serangan militer terhadap Iran karena dinilai melanggar hukum internasional.
"China menentang serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang melanggar hukum internasional. Kami mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, integritas teritorial, dan martabat nasionalnya serta dalam menegakkan hak dan kepentingannya yang sah dan sesuai hukum," kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (6/3).
Pernyataan tersebut disampaikan Mao Ning saat menanggapi pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang sebelumnya menyebut Rusia dan China terus memberikan dukungan politik kepada Iran di tengah operasi militer AS dan Israel di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Mao Ning tidak menjelaskan lebih rinci apakah ada dukungan lain selain dukungan politik yang diberikan Beijing kepada Teheran.
Ia menegaskan bahwa China selalu mendorong penyelesaian konflik melalui jalur politik dan diplomatik.
"China selalu menganjurkan penyelesaian masalah melalui cara politik dan diplomatik. Kami menyerukan penghentian segera tindakan militer untuk mencegah konflik menyebar dan meluas serta menghindari eskalasi situasi lebih lanjut," ujarnya.
Mao Ning juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas kawasan, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan global.
"Selat Hormuz dan perairan sekitarnya merupakan jalur perdagangan internasional yang penting untuk barang dan energi. China mendesak pihak-pihak terkait untuk segera menghentikan operasi militer, menghindari eskalasi lebih lanjut dan mencegah gejolak regional yang dapat menyebabkan kerusakan lebih besar pada pertumbuhan ekonomi global," tambahnya.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah China juga melakukan evaluasi terhadap warga negaranya yang berada di kawasan konflik. Mao Ning menyebut hampir 300 warga China telah berhasil dipulangkan.
Menurutnya, pada 4 Maret malam, ratusan warga China tiba dengan selamat di Guangzhou dari Dubai melalui penerbangan internasional. Sejumlah maskapai seperti Air China, China Eastern Airlines, China Southern Airlines, dan Hainan Airlines juga mulai kembali mengoperasikan penerbangan menuju negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi sejak 5 Maret.
Mao Ning juga mengingatkan warga China untuk menghindari perjalanan ke wilayah yang terdampak konflik karena situasi di Timur Tengah masih kompleks dan penuh ketidakpastian.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya tidak memiliki batas waktu mengenai berapa lama perang dengan Iran akan berlangsung.
Sebelumnya, Trump memperkirakan serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran akan berlangsung selama empat hingga lima pekan. Operasi militer tersebut dilaporkan telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 dan menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sedikitnya 926 warga sipil.
Trump menyebut tujuan operasi tersebut antara lain untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistik, serta memastikan kepemimpinan baru di Iran yang dinilai lebih rasional.
Sebagai respons, Iran disebut telah meluncurkan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.



















