Dean James Mundur, Komposisi Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 Berkurang
Timnas | Kamis, 26 Maret 2026
Dean James Mundur, Komposisi Timnas Indonesia di FIFA Series 2026 Berkurang. AFP
Timnas | Kamis, 26 Maret 2026









Lokal

PIFA.CO.ID, LOKAL - Lemang merupakan salah satu kuliner khas Pontianak yang selalu dicari pada saat bulan suci Ramadhan. Makanan ini memiliki cita rasa yang gurih dan berlemak, sehingga tak heran menjadi favorit banyak orang sebagai menu berbuka puasa.Di Pontianak ada begitu banyak tempat pembuat lemang, salah satunya milik Iwan yang berlokasi di jalan H Rais A Rachman, Gang Selamat, Kecamatan Pontianak Barat, Kota Pontianak.Ditemui ditempat produksinya, Iwan mengatakan, selama Ramadhan, pembuatan lemang mengalami peningkatan. Pada hari biasa memproduksi sekitar 30 sampai 40 lemang, tetapi saat ramadhan bisa mencapai 200 lemang.“Alhamdulillah kalau Ramadhan ini banyak pesan. Apalagi kalau tiga hari terakhir menjelang idul fitri bisa tiga kali lipat,” ujarnya, Rabu (5/3/25).Produksi lemang ini telah dijalaninya selama 35 tahun. Menariknya, pembeli tidak hanya berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari kalangan non-Muslim yang tertarik dengan cita rasanya yang khas.“Bukan hanya untuk umat muslim, tetapi non muslim juga ikut menikmati. Berkahnya luar biasa,” ungkapnya.Untuk membuat lemang ini membutuhkan proses yang begitu panjang. Pertama mempersiapkan bambu yang dipasok dari daerah Ambawang dan Bengkayang. Setelah bambu dibersihkan, lalu memasukan daun pisang kedalam bambu.Selanjutnya masukan beras ketan yang sebelumnya telah dicuci bersih ke dalam bambu. Lalu tuang santan di dalam bambu, kemudian di bakar kurang lebih tiga jam.“dan api untuk memanggang tersebut juga harus bagus, sehingga tingkat kematangannya bagus dan merata," kata IwanIwan mengatakan produksi lemang buatannya ini dijual di pasar-pasar tradisional, seperti di kawasan Pasar Flamboyan Pontianak, Parit Haji Husin, dan Sungai Raya Dalam. Untuk harganya, satu lemang ukuran paling kecil Rp 35.000 dan ukuran paling besar Rp 45.000, yang dijual ke pengecer, kemudian dijual lagi kepada masyarakat.Soal rasa, Iwan menjamin lemang buatannya itu memiliki cita rasa uang berbeda dibanding penjual lainnya.“Salah satu khas lemang yang saya bikin yakni rasanya yang gurih dan lemak santannya sangat terasa, sehingga penikmat kuliner lemang akan ketagihan untuk menikmatinya kembali,” tukasnya.
Sports

PIFA, Sports - Real Madrid memperkokoh posisinya di puncak klasemen Liga Spanyol setelah memenangi laga El Clasico dengan skor 2-1 atas Barcelona, Minggu waktu setempat. Kemenangan ini membuat Los Blancos unggul lima poin dari rival utamanya tersebut. Gol-gol Real Madrid dicetak oleh Kylian Mbappe dan Jude Bellingham, sementara Barcelona hanya mampu membalas lewat Fermin Lopez. Hasil ini sekaligus menjadi kemenangan pertama Madrid atas Barca pada musim ini. Dengan tambahan tiga poin, klub ibu kota kini mengoleksi total 27 poin. Di posisi ketiga, Villarreal mempertahankan tren positif setelah menang 2-0 atas Valencia di laga tandang. The Yellow Submarine kini mengantongi 20 poin dari 10 pertandingan. Sementara itu, Espanyol naik ke posisi keempat berkat kemenangan tipis 1-0 atas Elche melalui gol tunggal Carlos Romero. Namun, posisi Espanyol masih bisa tergeser oleh Atletico Madrid yang baru akan menghadapi Real Betis pada Selasa (28/10) dini hari WIB. Dari papan bawah klasemen, Real Sociedad berhasil keluar dari zona merah setelah menaklukkan Sevilla 2-1. Tim asal Basque itu kini menempati posisi ke-17 dengan sembilan poin. Adapun Valencia turun ke posisi ke-18 meski memiliki poin sama, karena kalah selisih gol dengan catatan minus enam. Sementara dua posisi terbawah masih ditempati oleh Real Oviedo dan Girona. Kedua tim harus puas berbagi angka setelah bermain imbang 3-3 pada laga pekan kesepuluh.
Teknologi

PIFA, Teknologi - Sejumlah perusahaan teknologi global mulai memosisikan kacamata pintar sebagai perangkat komputasi generasi berikutnya yang berpotensi menggantikan sebagian peran smartphone. Perkembangan ini sejalan dengan prediksi para pemimpin industri teknologi yang menilai ponsel pintar tidak akan selamanya menjadi perangkat utama manusia. CEO Meta Mark Zuckerberg menjadi salah satu tokoh yang sejak beberapa tahun terakhir menyampaikan keyakinannya bahwa smartphone suatu saat akan ditinggalkan. Dalam ajang Meta Connect 2024, Zuckerberg memprediksi miliaran orang yang saat ini menggunakan kacamata konvensional akan beralih ke kacamata pintar dalam satu dekade ke depan. “Sama seperti semua orang yang beralih ke telepon pintar, saya pikir semua orang yang berkacamata akan segera beralih ke kacamata pintar dalam dekade berikutnya,” ujar Zuckerberg, dikutip dari Forbes. Tahun 2026 dipandang sebagai titik penting kebangkitan kacamata pintar. Perangkat wearable ini dinilai mampu menghadirkan interaksi yang lebih alami dengan kecerdasan buatan (AI), sekaligus memberikan akses informasi secara instan tanpa harus terus menatap atau menggenggam layar ponsel. Namun, adopsi massal kacamata pintar masih menghadapi sejumlah tantangan. CEO Rokid, Misa Zhu, menyebut industri harus memecahkan persoalan mendasar yang ia sebut sebagai “segitiga mustahil”, yakni keseimbangan antara kualitas tampilan, daya tahan baterai, dan kenyamanan pemakaian. “Tantangan tersebut mencakup keseimbangan antara kualitas tampilan, daya tahan baterai, dan kenyamanan pemakaian,” kata Zhu dalam wawancara yang dikutip dari Android Police, Selasa (20/1). Menurut Zhu, terobosan signifikan di tiga aspek tersebut kemungkinan baru tercapai dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Jika berhasil, kacamata pintar tidak hanya berfungsi sebagai layar saat dibutuhkan, tetapi juga sebagai asisten AI yang selalu aktif tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna. Meski sering disebut sebagai calon pengganti smartphone, Zhu menilai kacamata pintar belum akan sepenuhnya menggantikan ponsel dalam waktu dekat. Dalam beberapa tahun ke depan, perangkat ini masih berperan sebagai pelengkap. “Mereka mungkin masih menjadi aksesori dalam tiga tahun ke depan, tetapi akan ada perubahan setelah tiga hingga lima tahun, dan sangat mungkin mereka tidak akan lagi menjadi aksesori setelah lima tahun,” ujarnya. Tanda-tanda pergeseran ke era pasca-smartphone mulai terlihat dari produk komersial yang telah dipasarkan. Rokid, perusahaan teknologi asal China, resmi membawa AI Glasses Style ke pasar Amerika Serikat dan Jerman melalui Amazon pada Januari lalu. Perangkat ini dibekali baterai 210mAh, bobot 38,5 gram, kamera 12 megapiksel dengan perekaman video 3K, serta speaker dan mikrofon terintegrasi. AI Glasses Style mendukung panggilan telepon hingga lima jam dan pemutaran musik hingga enam jam. Kacamata pintar ini juga dilengkapi ChatGPT 5.2 untuk perintah audio dan visual, serta Microsoft Translator dengan dukungan terjemahan offline lebih dari 100 bahasa. Produk tersebut dipasarkan dengan harga US$299 atau sekitar Rp5 juta. Di sisi lain, raksasa teknologi China Alibaba juga bersiap meramaikan pasar kacamata pintar. Alibaba mengumumkan Quark AI Glasses yang akan diluncurkan di China pada akhir 2025. Perangkat ini ditenagai model bahasa besar Qwen dan asisten AI bernama Quark. Melalui Quark AI Glasses, pengguna dapat melakukan panggilan tanpa tangan, streaming musik, terjemahan bahasa secara real-time, hingga transkripsi rapat. Kacamata ini juga dilengkapi kamera serta terintegrasi dengan ekosistem Alibaba, seperti navigasi, pembayaran Alipay, dan layanan belanja Taobao. Masuknya Alibaba memperketat persaingan di pasar kacamata pintar yang sebelumnya telah diisi Meta melalui kolaborasi dengan Ray-Ban, serta produsen China lainnya seperti Xiaomi. Dalam waktu dekat, Google dan Samsung juga disebut-sebut akan meluncurkan produk serupa. Dengan semakin banyaknya pemain besar yang terjun ke kategori ini, sinyal pergeseran dari era smartphone menuju perangkat wearable kian menguat. Meski ponsel pintar belum akan sepenuhnya ditinggalkan, kacamata pintar dinilai menjadi wujud awal teknologi pengganti yang perlahan mulai mengambil bentuk.