Eks Teknisi Bobol Kabel Grounding 46 SPBU Jakarta–Bogor, Kerugian Capai Rp1 Miliar
Nasional | Rabu, 11 Februari 2026
Foto: Detik.com
Nasional | Rabu, 11 Februari 2026










Sports

PIFA.CO.ID, SPORTS – Program-program PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir dianggap berhasil membawa perubahan positif bagi Timnas Indonesia. Hal ini tercermin dari survei terbaru yang menunjukkan peningkatan kepuasan publik terhadap kualitas Garuda.Survei yang dilakukan pada Oktober 2024 mencatat 80 persen responden merasa puas dengan perkembangan Timnas. Angka ini meningkat menjadi 83,9 persen dalam survei yang digelar Desember 2024, dengan total 1.220 responden.Hasil survei tersebut dipaparkan oleh Founder dan Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, dalam konferensi pers di Jakarta pada Kamis (16/1/2025)."Jadi kami menemukan bukti yang meyakinkan bahwa evaluasi publik terhadap kinerja federasi (PSSI) maupun item-item yang berkaitan dengan sepakbola itu mengalami peningkatan yang positif di bulan Desember (2024)," jelas Burhanuddin.Selain itu, survei juga menyoroti pandangan publik terhadap kebijakan naturalisasi yang diambil PSSI untuk meningkatkan performa Timnas. Sebanyak 75,3 persen responden mendukung program ini.Menurut temuan Indikator, penggemar sepakbola semakin memahami bahwa kebijakan naturalisasi merupakan strategi untuk mempercepat peningkatan prestasi Timnas. Meski demikian, 13-15 persen responden tetap konsisten menolak naturalisasi, bahkan setelah adanya berbagai pencapaian dari pemain naturalisasi."Yang kita ingin tanya adalah, apakah mereka setuju atau tidak kebijakan tersebut. Kebijakan menaturalisasi atlet luar negeri atau asing yang memiliki garis keturunan atau darah Indonesia yang kemudian disumpah menjadi WNI. Sehingga punya hak untuk membela tim nasional," terang Burhanuddin.Responden yang mendukung naturalisasi terbagi menjadi dua pandangan utama. Sebagian menganggap jumlah pemain naturalisasi saat ini sudah cukup banyak, dan Timnas seharusnya lebih memprioritaskan pemain asli Indonesia. Kelompok ini mencapai sekitar sepertiga dari total pendukung naturalisasi."Jadi mereka bisa saja tidak anti kebijakan naturalisasi tetapi menganggap jumlah yang main di timnas sudah terlalu banyak. Orang yang sekarangnya begitu kan, dia tidak hitam-putih. Dia melihat oke kebijakan naturalisasi, tetapi jangan kebanyakan," ujar Burhanuddin.Sementara itu, mayoritas lainnya, sekitar 54,5 hingga 55,5 persen dalam survei Oktober hingga Desember 2024, menyatakan bahwa naturalisasi bukanlah masalah asalkan mampu meningkatkan prestasi Timnas secara nyata."Dan itu jumlahnya kurang lebih stabil 54,5 - 55,5 persen dalam rentang dua bulan Oktober sampai Desember 2024. Sudah ada bukti nyata bahwa pemain naturalisasi bisa meningkatkan prestasi sepakbola," lanjut Burhanuddin.Namun, Burhanuddin juga mencatat bahwa meskipun pemain naturalisasi berkontribusi pada pencapaian Timnas, sebagian warga tetap merasa jumlah mereka tidak boleh berlebihan. "Jadi lagi-lagi ini masukan buat PSSI. Mungkin ada jalur pendek karena harus lolos piala dunia dan pemain naturalisasi menjadi sebuah keniscayaan," tambahnya.
Lokal

Berita Sintang, PIFA - Hendra Saptaprahara (41) ditemukan meninggal dunia di dalam rumahnya yang sedang terendam banjir. Pria asal Sintang, Kalimantan Barat itu ditemukan keluarganya dalam keadaan tidak bernyawa, Minggu (14/11/2021). Kapolsek Kota Sintang Iptu Sutikno menerangkan, jenazah Hendra pertama kali ditemukan adik korban yakni Selly dan Ulul Azmi yang hendak mengantarkan makanan ke rumah korban. "Saat tiba di rumah korban, keduanya mengetuk pintu, namun korban tidak menjawab, sehingga Ulul Azmi (suami Selly) memutuskan untuk naik ke tingkat dua rumah korban, karena melihat pintu masih terbuka," ujar Sutikno mengutip Antara. Saat masuk ke tingkat dua, Ulul Azmi tidak menemukan korban, sehingga Ulul Azmi turun ke lantai bawah yang masih terendam banjir dan Ulul Azmi melihat korban dengan kondisi tidak bernyawa terendam air banjir. "Atas kejadian itu Uluk Azmi bersama istrinya memanggil warga meminta pertolongan untuk memindahkan jasad korban ke Masjid Nurul Jannah untuk dimandikan dan disholatkan," jelas Sutikno. Menurut Sutikno, keluarga mengatakan bahwa korban memiliki riwayat penyakit epilepsi (ayan). Sutikno juga menjelaskan, sebelumnya anggota Bhabinkamtibmas dan Babinsa sudah pernah mengajak korban untuk mengungsi, namun korban tidak mau dan memilih tetap bertahan di rumahnya yang saat itu terendam banjir.