Eropa Desak Pembukaan Selat Hormuz, Inggris-Prancis Siapkan Misi Pengamanan
Internasional | Sabtu, 18 April 2026
Para pemimpin Eropa pada Sabtu menyerukan pembukaan segera Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, seiring pengumuman rencana misi multinasional yang dipimpin Inggris dan Prancis untuk melindungi jalur pelayaran strategis tersebut.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyampaikan hal itu usai konferensi video yang melibatkan 49 negara, bersama Uni Eropa dan International Maritime Organization (IMO).
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa, bersama Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi sesegera mungkin ketika kondisi memungkinkan,” ujar Starmer, seraya menegaskan operasi tersebut bersifat damai dan defensif.
Ia menjelaskan, misi itu bertujuan memberikan rasa aman bagi pelayaran komersial serta mendukung upaya pembersihan ranjau. Inggris juga mengundang negara-negara yang memiliki kepentingan dalam perdagangan global untuk berpartisipasi.
Menurut Starmer, lebih dari 12 negara telah menyatakan kesiapan untuk menyediakan aset, dengan konferensi perencanaan dijadwalkan berlangsung di London pekan depan.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan memastikan pembukaan kembali jalur perairan vital itu di tengah ketidakpastian kawasan.
Macron memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah menimbulkan dampak serius terhadap pasar global, termasuk pasokan minyak, gas, dan pupuk.
Ia juga menyambut gencatan senjata yang “menggembirakan” yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Lebanon, namun menekankan perlunya solusi jangka panjang.
“Kita semua menuntut pembukaan penuh, segera, dan tanpa syarat Selat Hormuz,” ujarnya, sembari menegaskan penolakan terhadap segala bentuk pembatasan, tarif, maupun upaya privatisasi jalur tersebut.
Sebelumnya, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali terbuka bagi kapal komersial, meski melalui rute tertentu, sejalan dengan gencatan senjata 10 hari di Lebanon yang mulai berlaku sejak tengah malam Kamis.
Teheran sempat menutup jalur utama pengiriman minyak itu setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari.
Adapun gencatan senjata antara AS dan Iran dijadwalkan berakhir pada 22 April, sementara pembicaraan menuju perdamaian jangka panjang diperkirakan segera digelar di Islamabad, Pakistan.



















