Harga Smartphone Naik, Pakar Prediksi Konsumen Beralih ke HP Bekas
Tekno | Sabtu, 7 Maret 2026
PIFA, Tekno - Kenaikan harga smartphone yang terjadi di berbagai segmen pada awal 2026 diperkirakan akan mengubah pola konsumsi masyarakat di Indonesia. Jika tren ini terus berlanjut, konsumen diprediksi akan lebih berhati-hati dalam membeli gawai baru bahkan menunda mengganti ponsel mereka.
Sejak awal tahun ini, sejumlah pabrikan ponsel menaikkan harga produk terbaru mereka. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan biaya produksi di tengah krisis pasokan chip memori (RAM) global yang terjadi sejak akhir 2025.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan kenaikan harga tidak hanya berdampak pada ponsel, tetapi juga berbagai perangkat elektronik lain seperti laptop.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi membuat masyarakat menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke pilihan yang lebih ekonomis, seperti membeli ponsel bekas.
“Harga ponsel baru meningkat, maka untuk mengikuti kebutuhan dan lifestyle biasanya konsumen beralih ke pasar bekas dengan membeli HP bekas atau menunda ganti HP,” ujarnya.
Esther menjelaskan, jika harga smartphone terus meningkat sementara pendapatan masyarakat menurun, konsumen akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan tersier seperti gawai. Hal tersebut diperkirakan akan menekan permintaan smartphone di pasar.
“Karena harga barang naik sementara pendapatan riil turun, maka kemungkinan permintaan terhadap barang juga berkurang,” katanya.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai kenaikan harga smartphone memberikan dampak berbeda pada tiap segmen pasar.
Ia menyebut segmen flagship menjadi salah satu yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan, meskipun minat terhadap perangkat kelas atas masih terus meningkat seiring perkembangan teknologi.
Sejumlah merek yang merilis ponsel flagship pada awal 2026 antara lain Xiaomi, Apple, Samsung, dan Huawei.
“Untuk high-end nampaknya meningkat peminatnya. Dengan meningkatnya minat ponsel high-end, juga akan meningkatkan pasar barang bekas untuk ponsel high-end,” ujar Nailul.
Ia menambahkan, pasar tersebut biasanya berasal dari konsumen kelas menengah yang ingin memperbarui perangkat mereka. Pasar ponsel bekas di segmen ini juga semakin berkembang melalui berbagai platform media sosial.
Di sisi lain, pasar ponsel low-end diperkirakan akan mengalami perubahan berbeda. Nailul memprediksi produsen kemungkinan merilis model baru dengan spesifikasi yang tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya, namun dengan harga yang lebih tinggi.
“Pasar low-end akan cenderung kualitas serupa, namun harganya meningkat dengan model yang berbeda,” jelasnya.
Meski demikian, segmen low-end diperkirakan tetap memiliki pasar besar di Indonesia, terutama di wilayah luar Jabodetabek.
Kenaikan harga smartphone pada 2026 terjadi di hampir semua segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Besaran kenaikan harga bervariasi, mulai dari sekitar 10 persen hingga 25 persen dibandingkan generasi sebelumnya.
Sebagai contoh, ponsel kelas entry-level dan midrange seperti Xiaomi Redmi Note 15 Series dan Oppo Reno 15 Series mengalami kenaikan harga mulai dari sekitar Rp200 ribu hingga Rp700 ribu.
Sementara itu, lini flagship seperti Samsung Galaxy S26 Series dan Xiaomi 17 Series mengalami kenaikan harga yang lebih tinggi, yakni sekitar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibandingkan generasi sebelumnya.



















