Indonesia Puncaki Klasemen Grup H Usai Bantai Laos 3-0
Timnas Indonesia | Kamis, 3 September 2026
Timnas Indonesia. (PSSI)
Timnas Indonesia | Kamis, 3 September 2026










Politik

SLEMAN – Kelompok Kagama Muda Bergerak menyatakan dukungan terhadap aksi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menggeruduk forum diskusi di Joglo GIK UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (15/6) malam. Forum diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” itu sebelumnya dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Kagama Muda Bergerak merupakan kelompok yang berasal dari kalangan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM), khususnya mereka yang memiliki latar belakang aktivisme sejak masa kuliah. Dalam pernyataannya, Kagama Muda Bergerak menilai aksi mahasiswa tersebut sebagai bentuk kritik terhadap dominasi narasi Pancasila di tengah berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik yang sedang dihadapi masyarakat. Mereka menyoroti sejumlah isu seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan nilai tukar rupiah, dugaan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), hingga ketimpangan kebijakan ekonomi yang dinilai belum berpihak pada masyarakat luas. Menurut mereka, ketika persoalan mendasar tersebut belum tertangani, penekanan berlebihan pada narasi persatuan dan Pancasila justru dapat dianggap mengabaikan realitas yang dihadapi publik. “Pada titik ini, kritik tersebut tidak lagi berada semata pada level ekspresi demokratis, tetapi telah bergerak menjadi tuntutan politik atas stagnasi perbaikan ekonomi dan ketidakmampuan negara menjawab persoalan material,” demikian pernyataan Kagama Muda Bergerak. Kelompok tersebut juga menyoroti meningkatnya peran aparat keamanan dalam ruang sipil yang mereka nilai sebagai indikasi kemunduran demokrasi. Atas dasar itu, Kagama Muda Bergerak menyatakan dukungan terhadap aksi mahasiswa UGM. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk ekspresi kegelisahan publik sekaligus perlawanan terhadap praktik yang dianggap otoriter. Selain itu, mereka menolak segala bentuk stigmatisasi, intimidasi, maupun delegitimasi terhadap mahasiswa yang menyampaikan kritik kepada pemerintah. Menurut mereka, kampus harus tetap menjadi ruang bebas bagi kebebasan berpikir dan berekspresi. Kagama Muda Bergerak juga mendorong pemerintah agar merespons kritik masyarakat secara substantif dan terbuka, bukan dengan pendekatan yang dianggap menekan suara kritis. Pernyataan tersebut ditutup dengan ajakan kepada masyarakat sipil untuk memperkuat solidaritas dalam menjaga ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia.
Lokal

PIFA.CO.ID, PONTIANAK - Sebanyak 12 tim yang terdiri dari pelajar dan seniman di Pontianak, Kalimantan Barat mengikuti lomba mural di Taman Budaya, pada Kamis (15/5/2025). Kegiatan tersebut merupakan dari rangkaian acara “Semarak Taman Budaya, Nyanyian Negeriku” yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdik) Provinsi Kalbar.Sejak pagi para peserta tampak semangat dan antusias menghias tembok panjang Taman Budaya dengan berbagai karya mural yang mencerminkan kekayaan budaya dan identitas Kalimantan Barat.Salah satunya adalah Manhsa Salsabila, pelajar asal SMA Negeri 1 Pontianak, Kalbar. Ia bersama temannya mengangkat tema tindayu dalam muralnya.“Mural kita mengangkat tiga suku yang paling banyak di Kalbar, pertama itu ada suku melayu, dayak dan tionghoa. Sebelumnya sudah kami rancang dalam bentuk sketsa, jadi lebih mudah saat diaplikasikan ke tembok,” ungkap Mahsa disela-sela melukis.Meski ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba mural di luar sekolah, Manhsa mengaku tidak mengalami banyak kesulitan karena sudah terbiasa menggambar sejak duduk di bangku sekolah dasar. Timnya menargetkan penyelesaian mural dalam waktu dua hari.“Tidak ada tantangan karena sebelum mengaplikasikan ke media tembok sudah merencanakan sketsa. Target selesai mungkin 2 hari,” ujarnya.Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdik Provinsi Kalbar, Luh Gede Supryani, menyampaikan bahwa lomba mural ini merupakan bagian dari rangkaian acara selama empat hari dalam Semarak Taman Budaya 2025.“Kegiatan ini kita laksanakan selama 4 hari, mulai hari ini tanggal 15, 16, 17 dan puncaknya nanti adalah pada tanggal 18. Kita akan melaksanakan kegiatan pagelaran seni di pukul 19.00 di malam hari,” ujarnya.Supryani mengungkapkan untuk peserta lomba mural terdiri dari 12 tim yang masing-masing beranggotakan 2 sampai 3 orang. Tema yang diangkat berkaitan dengan keberagaman budaya Kalimantan Barat.“Dari kegiatan ini kami melihat ternyata memang provinsi Kalimantan Barat ini mempunyai seniman-seniman yang potensial, mempunyai bakat-bakat yang luar biasa. Jadi dari sketchnya saja kita sudah bisa melihat bahwa mereka itu bisa untuk mengangkat isu-isu yang ada di Kalimantan Barat, baik itu isu sosial, baik itu isu seni budaya, yang diangkat melalui lukisan-lukisan yang luar biasa,” jelasnya.Meskipun pada tahun ini peserta masih terbatas dari Kota Pontianak dan sekitarnya, pihaknya berharap ke depan kegiatan serupa bisa diperluas hingga melibatkan seniman dari seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. “Mungkin untuk kedepannya mudah-mudahan kita bisa membuat event yang lebih besar dengan melibatkan seluruh seniman perupa baik dari kota Pontianak maupun di luar kota Pontianak, seluruh kabupaten-kota se-Kalimantan Barat,” harapnya.