Intelijen Latvia Peringatkan Rusia Siapkan Serangan Hibrida ke Baltik dan Polandia
Internasional | Selasa, 23 Juni 2026
Badan intelijen Latvia memperingatkan bahwa Rusia diduga sedang mempersiapkan serangan hibrida terhadap negara-negara Baltik dan Polandia sebagai upaya menekan anggota NATO agar menghentikan dukungan kepada Ukraina.
Menurut penilaian intelijen Latvia, ancaman tersebut kemungkinan tidak berupa invasi militer skala penuh, melainkan serangan hibrida yang dapat melibatkan drone, rudal, serangan siber, atau bentuk provokasi lain yang bertujuan mengintimidasi negara-negara Barat.
"Kami melihat indikasi Rusia sedang mempersiapkan provokasi militer terhadap Baltik atau Polandia, bukan perang konvensional karena Rusia belum mampu," demikian pernyataan intelijen Latvia.
Mereka menilai bentuk serangan yang mungkin dilakukan adalah aksi yang dirancang untuk mengirim pesan politik kepada NATO.
"Tetapi bentuk serangan hibrida, seperti rudal, drone, atau tindakan lain yang dirancang mengirimkan sinyal: hentikan dukungan untuk Ukraina atau Anda akan menghadapi masalah Anda sendiri," lanjut pernyataan tersebut.
Meski demikian, intelijen Latvia menegaskan saat ini belum ada ancaman langsung berupa serangan militer besar terhadap negaranya.
Menurut mereka, Rusia masih membutuhkan waktu antara tiga hingga lima tahun untuk memulihkan kapasitas militernya setelah perang di Ukraina, bahkan jika konflik tersebut berakhir dalam waktu dekat.
Selain ancaman serangan hibrida, Latvia juga menyoroti risiko kesalahan perhitungan dari Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Intelijen Latvia menilai Putin terus mencari cara untuk menekan negara-negara anggota NATO agar mengurangi dukungan kepada Ukraina. Namun, mereka khawatir pemimpin Rusia itu menerima informasi yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi sebenarnya.
"Kekhawatiran terbesar adalah salah perhitungan. Lembaga-lembaga Rusia mengatakan ke Putin apa yang dia dengar, dan itu menciptakan siklus bahaya yang bisa memicu keputusan bodoh dan tak masuk akal," kata intelijen Latvia.
Mereka juga menyebut semakin banyak indikasi bahwa Putin hanya menerima laporan yang bernada positif dari lingkaran dalam pemerintahannya.
"Dia terisolasi, dan itu membuat pengambilan keputusan semakin bermasalah karena keputusan tak berdasarkan situasi sebenarnya," lanjut mereka.
Peringatan dari Latvia sejalan dengan kekhawatiran yang sebelumnya disampaikan pejabat Polandia. Pada awal Juni, pemerintah Polandia menyebut perang hibrida Rusia terhadap wilayah timur NATO sebenarnya sudah berlangsung dalam berbagai bentuk.
Wakil Menteri Luar Negeri Polandia, Marcin Bosacki, menyebut ancaman tersebut mencakup serangan siber, aktivitas drone, sabotase infrastruktur penting, hingga berbagai tindakan yang diduga melibatkan Rusia.
Latvia, bersama Estonia, Lithuania, dan Polandia, merupakan anggota NATO yang berbatasan atau berada dekat dengan wilayah pengaruh Rusia. Karena itu, setiap provokasi terhadap negara-negara tersebut berpotensi menguji komitmen pertahanan kolektif NATO dan meningkatkan risiko ketegangan yang lebih luas di kawasan Eropa.



















