Iran Klaim Lebih Siap Hadapi Serangan, Ketegangan dengan AS Kian Memuncak
Internasional | Selasa, 27 Januari 2026
PIFA, Internasional - Pemerintah Iran menegaskan kesiapan penuh untuk menghadapi segala bentuk potensi serangan, di tengah meningkatnya ketegangan secara signifikan dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, menyusul gelombang protes besar yang melanda Iran dan berujung pada bentrokan berdarah.
Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut kondisi yang dihadapi negaranya sebagai bentuk “perang hibrida”. Ia merujuk pada konflik selama 12 hari yang terjadi pada Juni lalu, serta aksi protes kekerasan terbaru yang menurut Teheran dipicu oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.
Baghaei mengatakan Iran terus menghadapi ancaman dan “klaim tanpa dasar” dari AS dan Israel. Ia menyinggung pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump serta laporan pergerakan kapal-kapal perang Amerika menuju kawasan Teluk Persia sebagai bagian dari tekanan yang semakin meningkat terhadap Teheran.
Menurut Baghaei, negara-negara di kawasan memahami bahwa instabilitas regional tidak akan berhenti pada satu negara saja. Ia menekankan adanya kekhawatiran bersama di antara negara-negara tetangga Iran mengenai dampak luas yang bisa ditimbulkan apabila AS melancarkan serangan militer, seraya mendesak mereka untuk “mengambil sikap yang jelas” terhadap ancaman tersebut.
“Dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri serta pengalaman berharga di masa lalu, Iran lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara komprehensif, tegas, dan dengan cara yang akan disesalkan terhadap setiap potensi agresi,” tegas Baghaei.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat setelah aksi protes di Iran berubah menjadi kekerasan dan menewaskan lebih dari 3.000 orang, menurut klaim pemerintah Iran. Situasi tersebut memicu serangkaian pernyataan keras dari Presiden AS Donald Trump.
Pada puncak gelombang protes awal bulan ini, Trump memperingatkan bahwa ia akan “datang menyelamatkan” para demonstran jika pemerintah Iran menggunakan kekuatan mematikan. Beberapa hari kemudian, ia kembali mendorong para pengunjuk rasa untuk terus berdemonstrasi dan mengambil alih lembaga-lembaga negara dengan menyatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan.
Trump juga menyatakan bahwa sudah waktunya terjadi perubahan kepemimpinan di Iran. Pernyataan tersebut ditafsirkan luas di Teheran sebagai ancaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi kian memanas setelah pada Sabtu lalu Trump mengumumkan bahwa sebuah “armada” militer Amerika Serikat sedang bergerak menuju Timur Tengah. Ia menegaskan AS memantau kondisi Iran secara cermat, sekaligus mengonfirmasi laporan bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali akan tiba di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Pengumuman itu memicu reaksi keras dari pimpinan politik dan militer Iran, yang memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan respons kuat dan tegas.




















