TEL AVIV – Pemerintah Israel resmi mendeportasi dua aktivis kemanusiaan asing yang ditangkap dari armada Global Sumud Flotilla saat berlayar menuju Jalur Gaza. Kedua aktivis tersebut, Saif Abu Keshek (warga negara Spanyol keturunan Palestina) dan Thiago Avila (warga negara Brasil), dipulangkan pada Minggu (10/10).
Kementerian Luar Negeri Israel melalui platform X mengonfirmasi bahwa pendeportasian dilakukan setelah proses penyelidikan selesai. "Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dari armada provokasi, dideportasi hari ini dari Israel," tulis pernyataan tersebut.
Abu Keshek mengonfirmasi kepulangannya melalui sebuah rekaman video yang dibagikan oleh Global Sumud Flotilla. Ia menyatakan telah tiba dengan selamat di Athena, Yunani. "Saya ingin berterima kasih kepada semua orang yang telah bergerak, tim hukum kami Adalah, keluarga saya, istri dan anak-anak saya, rekan-rekan saya dalam gerakan ini," ujarnya.
Tuduhan Israel dan Bantahan Aktivis
Penangkapan kedua aktivis ini memicu kontroversi karena dilakukan oleh Angkatan Laut Israel di perairan internasional, tepatnya di lepas pantai Pulau Kreta, Yunani, pada 30 April lalu. Saat itu, kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan dicegat oleh militer Israel.
Pihak Israel menuduh Abu Keshek memiliki afiliasi dengan organisasi teroris, sementara Thiago Avila dituduh melakukan aktivitas ilegal. Namun, keduanya dengan tegas membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa misi tersebut murni bersifat kemanusiaan untuk membantu warga sipil di Gaza yang menderita akibat blokade. Mereka juga menekankan bahwa penangkapan di perairan internasional merupakan tindakan melanggar hukum.
Tekanan Internasional dan Kondisi Gaza
Kasus ini sempat memicu reaksi diplomatik dari Spanyol, Brasil, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mendesak pembebasan segera kedua pria tersebut. Meski demikian, pengadilan Israel sempat menolak permohonan banding yang diajukan tim hukum aktivis pada Rabu lalu, sebuah putusan yang disebut oleh kelompok hak asasi manusia sebagai langkah "melanggar hukum".
Global Sumud Flotilla sendiri merupakan gerakan bantuan yang berlayar dari Prancis, Spanyol, dan Italia dengan misi menembus blokade Israel di Gaza.
Kondisi di Gaza saat ini berada dalam titik terendah akibat perang genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023. Blokade total yang diterapkan Israel sejak 2007 membuat pasokan kebutuhan pokok sangat terbatas. Lembaga kemanusiaan internasional terus memperingatkan bahwa bantuan yang masuk sangat lambat dan sering kali dihentikan sepenuhnya oleh otoritas Israel, sementara sebagian besar penduduk Gaza kini kehilangan tempat tinggal dan terancam kelaparan.