Israel Disebut Siapkan Opsi Serangan Baru ke Iran di Tengah Memburuknya Ekonomi Teheran
Internasional | Selasa, 21 Juli 2026
Israel dilaporkan tengah mempertimbangkan kembali opsi melancarkan serangan terhadap Iran di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat.
Mengutip laporan CNN, tiga sumber Israel menyebut otoritas negara itu telah menyusun rencana operasional untuk kemungkinan eskalasi lebih lanjut dalam konflik dan menempatkan pasukan dalam status siaga tinggi.
Meski demikian, ketiga sumber tersebut mengatakan Amerika Serikat hingga kini belum meminta Israel untuk terlibat langsung dalam operasi militer yang dimulai pada awal Juli 2026.
"Kami akan siap," kata salah satu sumber saat ditanya mengenai kemungkinan Israel membantu jika sewaktu-waktu diminta oleh Washington.
Salah satu sumber menilai serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah jembatan di Iran telah memberikan pukulan besar terhadap jaringan transportasi dan perdagangan negara tersebut.
"Ekonomi Iran sedang runtuh, dan pada akhirnya ini akan semakin melemahkan rezim," ujar sumber itu.
Menurut sumber tersebut, Israel memandang kondisi ekonomi Iran sebagai salah satu titik lemah utama pemerintah Teheran. Penilaian itu turut didasarkan pada gelombang protes akibat tingginya inflasi yang terjadi di Iran pada Januari lalu.
Meski telah menyiapkan berbagai skenario, salah satu pejabat menyebut Israel sejauh ini masih merasa diuntungkan dengan tetap berada di luar konflik langsung, sementara Amerika Serikat dan Iran terus berhadapan dan belum mencapai kesepakatan terkait program nuklir.
Seorang pejabat senior Israel juga mengatakan risiko eskalasi di Selat Hormuz yang dapat menyeret Israel ke dalam perang meningkat dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan situasi masih sangat dinamis karena Tel Aviv terus memantau berbagai upaya mediasi regional untuk meredakan konflik.
"Situasinya dinamis," katanya.
Sumber lain mengungkapkan, jika Israel akhirnya terlibat dalam perang, sasaran utama yang akan dibidik adalah target bernilai strategis, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran.
"Ini adalah target yang bisa menentukan hasil akhir perang, tetapi juga membawa risiko besar bagi negara-negara Teluk dan harga minyak, dan sampai sekarang, Amerika belum ingin mengambil risiko itu," ujar sumber tersebut.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan telah menggelar rapat keamanan terbatas pada Senin malam untuk membahas perkembangan terbaru.
Dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah kemungkinan yang dapat membuat Israel ikut terlibat dalam konflik, mulai dari permintaan langsung Amerika Serikat, aksi Iran yang memicu serangan balasan, hingga kemungkinan serangan pendahuluan Israel untuk menggagalkan ancaman dari Teheran.
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF), Eyal Zamir, menegaskan kesiapan militernya.
"Kami siap untuk segera kembali berperang dan akan bertindak dengan kekuatan besar terhadap siapa pun yang membahayakan kami," kata Zamir.


















