Ilustrasi kawasan dago. Yoursay

Ilustrasi kawasan dago. Yoursay

Berandascoped-by-BerandaLokalscoped-by-LokalKawasan Dago dari Masa Kolonial hingga Destinasi Populer

Kawasan Dago dari Masa Kolonial hingga Destinasi Populer

Bandung | Kamis, 19 Februari 2026

PIFA, Lokal - Kawasan Dago merupakan salah satu wilayah paling ikonik di Bandung yang menyimpan jejak sejarah panjang sejak masa kolonial Hindia Belanda. Pada awal abad ke-20, Dago dikenal sebagai kawasan hunian elite bagi orang Eropa. Udara sejuk dan kontur perbukitan menjadikannya lokasi ideal untuk vila dan rumah peristirahatan.

Nama Dago sendiri melekat pada Jalan Ir. H. Juanda yang menjadi poros utama kawasan ini. Pada masa kolonial, wilayah tersebut berkembang sebagai area pemukiman bergaya arsitektur Eropa dengan taman-taman luas dan suasana tenang.

Memasuki era modern, Dago bertransformasi menjadi pusat gaya hidup. Deretan kafe, restoran, factory outlet, hingga hotel berdiri berdampingan dengan bangunan lama. Di bagian utara, kawasan Dago Atas menawarkan pemandangan kota Bandung dari ketinggian serta akses menuju area hutan dan taman wisata.

Kini, Dago dikenal sebagai destinasi favorit wisatawan maupun warga lokal. Perpaduan sejarah, alam, dan gaya hidup modern menjadikan kawasan ini tetap relevan dari masa kolonial hingga menjadi salah satu pusat aktivitas populer di Bandung.

Rekomendasi

Foto: Tips Mengelola THR di Tengah Keadaan Ekonomi yang Lesu | Pifa Net

Tips Mengelola THR di Tengah Keadaan Ekonomi yang Lesu

Indonesia
| Minggu, 23 Maret 2025
Foto: Politikus PDIP Pertanyakan Gugatan Mahasiswa soal Rakyat Bisa Pecat Anggota DPR | Pifa Net

Politikus PDIP Pertanyakan Gugatan Mahasiswa soal Rakyat Bisa Pecat Anggota DPR

Politik
| Jumat, 21 November 2025
Foto: Mulai Bertugas, Wagub Krisantus akan Tertibkan Perusahaan Tambang yang Tak Berdampak untuk Kalbar   PIFA, Lokal  | Pifa Net

Mulai Bertugas, Wagub Krisantus akan Tertibkan Perusahaan Tambang yang Tak Berdampak untuk Kalbar PIFA, Lokal

Kalbar
| Selasa, 25 Februari 2025
Foto: Patrick Kluivert dan Kontroversi Utang Judi Rp16 M, Layakkah Gantikan Shin Tae-yong? | Pifa Net

Patrick Kluivert dan Kontroversi Utang Judi Rp16 M, Layakkah Gantikan Shin Tae-yong?

Indonesia
| Selasa, 7 Januari 2025
Foto: BGN Ungkap Penyebab Maraknya Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis di Jawa Barat | Pifa Net

BGN Ungkap Penyebab Maraknya Keracunan pada Program Makan Bergizi Gratis di Jawa Barat

Nasional
| Kamis, 20 November 2025
Foto: Pemerintah Wacanakan Asuransi Wajib Kendaraan Bermotor, OJK Tunggu Payung Hukum | Pifa Net

Pemerintah Wacanakan Asuransi Wajib Kendaraan Bermotor, OJK Tunggu Payung Hukum

Indonesia
| Selasa, 4 Februari 2025
Foto: Ole Romeny Tak Sabar Bela Timnas Indonesia, Siap Kontribusi di Kualifikasi Piala Dunia | Pifa Net

Ole Romeny Tak Sabar Bela Timnas Indonesia, Siap Kontribusi di Kualifikasi Piala Dunia

Indonesia
| Senin, 10 Februari 2025
Foto: Yamaha Luncurkan Oli Baru YAMALUBE Power XP Matic di PRJ 2025, Siap Bikin Tarikan Motor Makin Enteng | Pifa Net

Yamaha Luncurkan Oli Baru YAMALUBE Power XP Matic di PRJ 2025, Siap Bikin Tarikan Motor Makin Enteng

Sports
| Sabtu, 12 Juli 2025
Foto: Peluang Liverpool Juara Liga Inggris 98,7 Persen Usai Hajar Newcastle 2-0 | Pifa Net

Peluang Liverpool Juara Liga Inggris 98,7 Persen Usai Hajar Newcastle 2-0

Inggris
| Kamis, 27 Februari 2025
Foto: Hotman Paris Tegaskan Nadiem Makarim Tak Terima Uang dari Kasus Chromebook | Pifa Net

Hotman Paris Tegaskan Nadiem Makarim Tak Terima Uang dari Kasus Chromebook

Nasional
| Jumat, 5 September 2025

Berita Terkait

Lifestyle

Foto: 5 Tradisi Unik Iduladha di Indonesia | Pifa Net

5 Tradisi Unik Iduladha di Indonesia

PIFA, Lifestyle - Hari Raya Iduladha jatuh pada tanggal 17 Juni 2024. Di Indonesia, Iduladha tidak hanya diwarnai dengan penyembelihan hewan kurban saja. Lebih dari itu, di berbagai daerah di Indonesia perayaan Idul Adha juga diwarnai dengan berbagai tradisi. Tradisi ini sangat beragam, bisa dilaksanakan sebelum dan sesudah Iduladha. Berikut tradisi Iduladha di berbagai daerah di Indonesia, seperti dirangkum dari berbagai sumber. 1. Manten Sapi, Pasuruan Manten Sapi merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Pasuruan. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada hewan kurban yang akan disembelih. Sebelum dikurbankan, sapi-sapi tersebut akan didandani secantik mungkin bak pengantin. Hewan tersebut juga dikalungkan bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan kain kafan, serban, dan sajadah. Pada tradisi ini, kain kafan menjadi tanda kesucian orang yang berkurban. Setelah didandani, semua sapi akan diarak menuju masjid setempat untuk diserahkan kepada panitia kurban. Setelah diarak dan dan disembelih, daging kurban tersebut akan diolah dan disantap bersama-sama oleh warga. 2. Mepe Kasur, Banyuwangi Mepe kasur merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kemiren, sebagai daerah asli tempat tinggal masyarakat Suku Osing. Ritual ini digelar setiap tanggal 1 Dzulhijjah atau menjelang Hari Raya Idul Adha dan bagian dari ritual bersih desa. Warga di sana akan mengeluarkan kasur dari dalam rumah lalu dijemur di luar agar terhindar dari segala macam penyakit. Kasur dianggap sebagai benda yang sangat dekat manusia sehingga wajib dibersihkan agar kotoran yang ada di kasur hilang. 3. Apitan, Semarang Di Semarang perayaan Idul Adha diwarnai dengan Apitan, tradisi sebagai salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini biasa diawali dengan pembacaan doa dilanjutkan dengan arak-arakan hasil tani, ternak, dan nantinya hasil tani yang diarak ini akan diambil secara berebutan oleh masyarakat setempat. 4. Gamelan Sekaten, Cirebon Ada sebuah tradisi perayaan Idul Adha yang dipercaya merupakan dakwah dari Sunan Gunung Jati sebagai penyebar agama islam di taah Cirebon. Ialah Gamelan Sekaten, tradisi ini selalu dilakukan setiap perayaan hari besar agama Islam yaitu, Idul Fitri dan Idul Adha. Alunan Gamelan yang berada di sekitar area Keraton Kasepuhan Cirebon, menjadi penanda bahwa umat Muslim di Cirebon merayakan hari kemenangan. Rangkaian Gamelan dibunyikan sesaat setelah sultan Keraton Kasepuhan keluar dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa. 5. Meugang, Aceh Berasal dari kata Makmeugang, tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu ini sudah sangat familiar untuk masyarakat Aceh terutama di saat hari-hari besar keagamaan. Tradisi ini identik dengan makan daging sapi atau kerbau bersama yang diolah dengan beraneka ragam masakan. Sejarah Meugang awal diselenggarakan pada masa kerajaan Aceh dengan memotong hewan dan dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Tradisi ini merupakan ungkapan syukur atas kemakmuran tanah Aceh dan sampai saat ini tetap dilestarikan oleh seluruh masyarakat Aceh saat menyambut hari-hari besar suci umat Islam. (ly)

Indonesia
| Minggu, 16 Juni 2024

Lokal

Foto: Keributan Dua Kelompok di Sungai Raya, Kapolres Jerrold Sebut Murni Sistem Kerja  | Pifa Net

Keributan Dua Kelompok di Sungai Raya, Kapolres Jerrold Sebut Murni Sistem Kerja 

Berita Kubu Raya, PIFA - Viral di Sosial media, terjadi Kericuhan antara dua kelompok yang melakukan keributan merupakan kelompok buruh bongkar muat. Kejadian tersebut terjadi di depan kantor Bumi Raya Grup, Parit Baru, Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (9/2/2022) siang. Kapolres Kubu Raya, AKBP Jerold Kumontoy, memastikan keributan antar kelompok buruh di depan Kantor Bumi Raya Grup, Parit Baru, Jalan Adi Sucipto, tidak ada kaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA. “Saya pastikan, tidak ada kaitan dengan suku ras, dan agama apapun. Ini murni soal sistem kerja yang belum deal,” tegas AKBP Jerold Kumontoy mengutip SuaraKalbar.id, Rabu (09/02/2022). Karena itu, dia meminta masyarakat Kubu Raya tenang. Masalah ini dipastikan telah ditangani. Kedua kelompok buruh yang terlibat keributan, kini sedang dimediasi dengan difasilitasi aparat kepolisian Polres Kubu Raya. “Saat ini, polisi telah mempertemukan kedua massa dan sudah berhasil diredam. Tinggal menunggu keputusan pemerintah kabupaten,” terangnya. Menurut Jerold, kedua kelompok buruh bersitegang karena dipicu kesepakatan kerja yang tidak jelas, akibat dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya membentuk koperasi baru bernama Mitra Jaya Perkasa (MJP). Ini lah yang memicu konflik antarkelompok buruh ini. (rs)

Kubu Raya
| Rabu, 9 Februari 2022

Sports

Foto: Barcelona Terhenti Tanpa Gol Lawan Getafe di Pertarungan Sengit Laga Perdana Liga Spanyol | Pifa Net

Barcelona Terhenti Tanpa Gol Lawan Getafe di Pertarungan Sengit Laga Perdana Liga Spanyol

PIFA, Sports - Laga penuh tensi antara Getafe dan Barcelona pada pekan perdana Liga Spanyol 2023/2024 berakhir tanpa gol. Meskipun tanpa gol, pertandingan ini tak luput dari sorotan dengan total 8 kartu kuning dan 3 kartu merah yang dikeluarkan oleh wasit. Pertandingan sengit ini berlangsung di Coliseum Alfonso Perez pada Senin (14/8/2023) dini hari WIB.  Pelatih FC Barcelona, Xavi Hernández, memberikan pandangannya terkait hasil imbang 0-0 ini. Meskipun hasilnya bukan yang diharapkan untuk awal musim, Xavi menyampaikan pandangannya tentang gol yang tak kunjung terjadi melawan Getafe. Ditanya tentang hasil pertandingan, Xavi menyatakan, dia merasa bahwa timya pantas  untuk menang.   "Kami berusaha keras dan pantas menang. Kami mendapatkan satu poin yang kami rasa tidak cukup," kata dia dikutip PIFA dari laman resmi klub. Dirinya  juga menyinggung pengusiran dirinya dari lapangan selama pertandingan yang intens. Xavi juga membahas mengenai kemungkinan penalti yang mungkin saja diberikan kepada timnya. Ia menyatakan bahwa wasit tampaknya hanya akan memberikan penalti untuk tangan yang sangat jelas, yang pada kasus ini tidak terjadi. Xavi juga mengomentari kartu merah yang diberikan kepada beberapa pemainnya. "Pengusiran saya tidak penting. Kami berusaha keras dan pantas menang. Tidak perlu terlalu memikirkannya. Kami juga memulai musim lalu dengan buruk, tetapi semuanya berjalan dengan baik pada akhirnya. Kami bermain bagus dengan sepuluh orang dan masih memiliki peluang. Kami tahu kami tidak akan mendapatkan banyak dan bahwa kami akan harus mengambil yang datang. Mereka merasa nyaman dengan hasil imbang 0-0, dan dengan senang hati membuang waktu dan menyebabkan gangguan," jelas Xavi. Tentang waktu tambahan yang panjang dan buang-buang waktu dalam pertandingan ini, Xavi mengungkapkan ketidakpuasannya. Lebih dari 20 menit waktu tambahan dianggapnya memalukan dan ia mengkritik kebijakan wasit terkait hal ini. Ia berpendapat bahwa peraturan harus ditegakkan dengan lebih baik agar La Liga tetap menjaga integritasnya sebagai produk olahraga yang berkualitas. “Saya pikir terlalu banyak peluit dan jika mereka ingin menjual La Liga sebagai produk maka itu tidak akan menguntungkan siapa pun, Lebih dari 20 menit waktu tambahan memalukan. Hanya menghitung waktu bermain yang akan mengakhiri semua ini. Saya sudah mengatakannya jutaan kali," tutup  dia. Meski berakhir dengan hasil imbang, pertandingan ini menyisakan banyak kontroversi dan perbincangan. Barcelona dan Getafe harus memulai kembali perjuangan mereka di musim ini dengan pandangan lebih tajam terhadap strategi dan keputusan di lapangan. (hs)

Spanyol
| Senin, 14 Agustus 2023
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5