Ilustrasi  - Antara

Ilustrasi - Antara

Berandascoped-by-BerandaNasionalscoped-by-NasionalKoalisi Sipil Tolak Pelibatan TNI dalam Pengawasan Wajib Pajak, Nilai Berpotensi Timbulkan Intimidasi

Koalisi Sipil Tolak Pelibatan TNI dalam Pengawasan Wajib Pajak, Nilai Berpotensi Timbulkan Intimidasi

Nasional | Selasa, 21 Juli 2026

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menolak kebijakan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan yang membuka ruang pelibatan aparat TNI dalam pengawasan kepatuhan wajib pajak melalui pembangunan jejaring informasi hingga tingkat desa dan kelurahan.

Penolakan itu disampaikan menyusul terbitnya Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-8/PJ/2026 yang mengatur pelibatan Tentara Nasional Indonesia melalui Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui Bhabinkamtibmas dalam kegiatan pembangunan jejaring informasi perpajakan.

Dalam pernyataan bersama yang diterima Selasa (21/7/2026), koalisi menilai kebijakan tersebut berpotensi mengaburkan batas kewenangan antara institusi sipil dan militer.

"Kebijakan ini berbahaya karena mengaburkan batas kewenangan sipil dan militer, memperluas fungsi pengawasan negara terhadap warga tanpa dasar hukum yang memadai, serta berpotensi menimbulkan intimidasi dalam relasi antara masyarakat dan otoritas pajak," demikian pernyataan koalisi.

Koalisi tersebut terdiri atas sejumlah organisasi masyarakat sipil, di antaranya Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Amnesty International Indonesia, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Imparsial, Indonesia Corruption Watch, SETARA Institute, Institute for Criminal Justice Reform, Lembaga Bantuan Hukum Pers, dan Aliansi Jurnalis Independen.

Menurut koalisi, dalam sistem perpajakan self-assessment, kewenangan pembinaan, pengawasan, pemeriksaan, dan penegakan hukum semestinya dilakukan oleh otoritas pajak serta aparat penegak hukum sipil yang memiliki dasar hukum, prosedur, dan mekanisme pengawasan yang jelas.

"Melibatkan Babinsa dalam rantai pengumpulan informasi perpajakan justru menggeser pendekatan kepatuhan sukarela menjadi pendekatan keamanan," tulis koalisi.

Mereka juga menilai pelibatan Babinsa hingga tingkat desa dapat menciptakan "politik ketakutan" bagi masyarakat, terutama kelompok rentan seperti pelaku usaha kecil, petani, nelayan, dan pekerja informal.

Selain itu, koalisi mengingatkan kebijakan tersebut berpotensi melanggar prinsip kerahasiaan data wajib pajak dan hak atas privasi karena menyangkut informasi sensitif mengenai penghasilan, aset, transaksi, hingga kondisi ekonomi warga.

Dari sisi hukum, koalisi berpandangan pengawasan kepatuhan pajak bukan merupakan tugas pokok TNI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang TNI. Menurut mereka, fungsi pertahanan negara tidak dapat diperluas hanya melalui surat edaran administratif.

Atas dasar itu, koalisi mendesak pemerintah, khususnya DJP, mencabut ketentuan yang membuka ruang pelibatan Babinsa dalam pengawasan kepatuhan wajib pajak. Mereka juga meminta pemerintah dan DPR mengevaluasi kebijakan tersebut agar tetap sejalan dengan prinsip supremasi sipil, perlindungan hak asasi manusia, serta kerahasiaan data perpajakan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menegaskan pelibatan Babinsa dan Bhabinkamtibmas hanya sebatas koordinasi dan pembangunan jejaring informasi, bukan untuk melakukan pemeriksaan ataupun pemungutan pajak.

"Sekali lagi, ini merupakan SE yang ditujukan untuk internal DJP. Jadi enggak perlu dipolemikkan dan digoreng-goreng bahwa nanti petugas pajak melibatkan Babinsa dan segala macam. Itu koordinasi informasi saja," ujar Bimo.

Rekomendasi

Foto: Gagal Party Masuk Bui, Pria di Pontianak Ditangkap Usai Ngamuk Tak Bisa Masuk ke Tempat Hiburan | Pifa Net

Gagal Party Masuk Bui, Pria di Pontianak Ditangkap Usai Ngamuk Tak Bisa Masuk ke Tempat Hiburan

Lokal
| Selasa, 3 Juni 2025
Foto: Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Klarifikasi Gestur ‘Mencibir’ Saat Terima Demonstran | Pifa Net

Ketua Komisi III DPRD Gorontalo Utara Klarifikasi Gestur ‘Mencibir’ Saat Terima Demonstran

Nasional
| Rabu, 15 Oktober 2025
Foto: DPR Panggil Menhut Raja Juli Antoni untuk Bahas Ribuan Kayu Hanyut di Sumatra | Pifa Net

DPR Panggil Menhut Raja Juli Antoni untuk Bahas Ribuan Kayu Hanyut di Sumatra

Nasional
| Senin, 1 Desember 2025
Foto: Dari Bawa Belanja hingga Climbing Sambil Boncengan, GEAR ULTIMA Tampil Perkasa di Grebek Pasar Rame Palembang | Pifa Net

Dari Bawa Belanja hingga Climbing Sambil Boncengan, GEAR ULTIMA Tampil Perkasa di Grebek Pasar Rame Palembang

Otomotif
| Sabtu, 12 Juli 2025
Foto: Lazio Terpuruk di Norwegia, Langkah ke Semifinal Liga Europa Terancam | Pifa Net

Lazio Terpuruk di Norwegia, Langkah ke Semifinal Liga Europa Terancam

Eropa
| Jumat, 11 April 2025
Foto: Kejari Pontianak Musnahkan Barang Bukti 95 Perkara, Termasuk Sabu, Sajam, dan 19 Ton Beras Oplosan | Pifa Net

Kejari Pontianak Musnahkan Barang Bukti 95 Perkara, Termasuk Sabu, Sajam, dan 19 Ton Beras Oplosan

Pontianak
| Jumat, 17 Oktober 2025
Foto: Tips Menu Sahur yang Bisa Bikin Perut Kenyang Lebih Lama | Pifa Net

Tips Menu Sahur yang Bisa Bikin Perut Kenyang Lebih Lama

Indonesia
| Selasa, 4 Maret 2025
Foto: Uji Kinerja Yamalube TURBO Matic, Puluhan Biker MAXi Yamaha Touring Ratusan kilometer ke Pantai Selatan Jawa | Pifa Net

Uji Kinerja Yamalube TURBO Matic, Puluhan Biker MAXi Yamaha Touring Ratusan kilometer ke Pantai Selatan Jawa

Indonesia
| Sabtu, 24 Mei 2025
Foto: Ditetapkan Tersangka, Ini Kronologi Kasus Persetubuhan-Aborsi Vadel Badjideh ke Anak Nikita Mirzani | Pifa Net

Ditetapkan Tersangka, Ini Kronologi Kasus Persetubuhan-Aborsi Vadel Badjideh ke Anak Nikita Mirzani

Indonesia
| Sabtu, 15 Februari 2025
Foto: Komedian Senior Nunung Jual Aset dan Tinggal di Kos Demi Keluarga dan Kesehatan | Pifa Net

Komedian Senior Nunung Jual Aset dan Tinggal di Kos Demi Keluarga dan Kesehatan

Jakarta
| Selasa, 25 Februari 2025

Berita Terkait

Lokal

Foto: Siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak Raih Prestasi di Lomba Cepat Tepat IPA Pekan Kimia FKIP Untan 2025 | Pifa Net

Siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak Raih Prestasi di Lomba Cepat Tepat IPA Pekan Kimia FKIP Untan 2025

PIFA.CO.ID, LOKAL – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak dalam ajang Lomba Cepat Tepat (LCT) IPA Pekan Kimia FKIP Untan 2025. Kompetisi yang diikuti oleh sekolah-sekolah dari Pontianak dan Kubu Raya ini berlangsung dari 8 Februari hingga 15 Februari 2025 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura.Tim SMP Muhammadiyah 1 Pontianak berhasil meraih juara 3 atas nama Mikail Hafeez Assaini, Fatih Hawwari, dan Asha Latisha Ardinia serta juara 4 yang diraih oleh Rifqy Zulfiqar Daaris, Aqil Syafiq Arrafif, dan Kayyisah Andini Raiqa. Keberhasilan ini semakin memperkuat posisi SMP Muhammadiyah 1 Pontianak sebagai sekolah yang unggul dalam bidang akademik, khususnya sains.Dukungan Sekolah dan Proses Seleksi KetatDeni Ariyanto, Guru Pembina Olimpiade IPA, menyatakan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian siswa-siswinya.“Alhamdulillah, perasaan saya sangat senang dan bangga. Setiap tahun, siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak selalu berhasil lolos ke babak final dan meraih juara di ajang ini. Ini menunjukkan bahwa proses pembinaan dan seleksi yang ketat telah membuahkan hasil yang maksimal,” ujarnya.Seleksi peserta dilakukan secara bertahap dari siswa kelas 7, 8, dan 9 melalui tes penjaringan kelas persiapan olimpiade. Para siswa yang memiliki kemampuan akademik konsisten di bidang IPA akan mendapatkan bimbingan intensif sebelum mengikuti kompetisi.“Sekolah memberikan dukungan penuh dengan menyediakan sesi pembinaan selama dua pekan sebelum lomba. Siswa diberikan materi dan latihan soal sesuai kisi-kisi, serta tips menjawab soal dengan cepat dan tepat. Selain itu, motivasi juga terus diberikan agar mereka semakin percaya diri dan pantang menyerah,” tambahnya.Tak hanya sukses di LCT IPA Pekan Kimia, siswa SMP Muhammadiyah 1 Pontianak juga mencetak prestasi gemilang di ajang Science Competition FKIP Untan tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Dalam kompetisi ini, Fatih Hawwari berhasil meraih juara 1, sementara Mikail Hafeez Assaini mendapatkan juara 2.Pengalaman Berharga Bagi Mikail Hafeez AssainiSalah satu peserta, Mikail Hafeez Assaini, mengungkapkan bahwa kemenangan ini memiliki arti khusus baginya, mengingat ini adalah tahun terakhirnya sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA.“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan hasil ini. Lomba ini sangat spesial karena menjadi kesempatan terakhir saya bertanding di tingkat SMP. Tantangan terbesarnya adalah menghadapi soal-soal sulit dan strategi tim lawan, tetapi kami berhasil mengatasinya dengan baik,” ungkapnya.Mikail juga berbagi perjalanan kompetisi dari babak penyisihan hingga final. Dari 28 tim yang berpartisipasi, timnya berhasil lolos ke babak semifinal setelah menempati peringkat tiga besar. Pada semifinal, dua tim SMP Muhammadiyah 1 Pontianak berhasil masuk final, dan akhirnya meraih juara 3 dan 4.Harapan untuk Masa DepanMikail mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Deni Ariyanto, guru pembina yang telah membimbingnya selama tiga tahun terakhir.“Terima kasih Pak Deni Ariyanto atas ilmu dan bimbingannya selama ini. Terima kasih juga kepada para guru, orang tua, serta teman-teman yang selalu mendukung saya. Pengalaman ini sangat berharga, dan saya berharap SMP Muhammadiyah 1 Pontianak terus sukses di bidang akademik maupun non-akademik,” pungkasnya.Prestasi ini menjadi motivasi bagi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Pontianak untuk terus berjuang dan mengembangkan potensi mereka di berbagai bidang. Semoga capaian ini menjadi langkah awal menuju kesuksesan yang lebih besar di masa depan.

Pontianak
| Rabu, 19 Februari 2025

Nasional

Foto: Kapolri Tegas Tolak Polri Dibawah Kementerian: “Lebih Baik Jadi Petani Daripada Menteri” | Pifa Net

Kapolri Tegas Tolak Polri Dibawah Kementerian: “Lebih Baik Jadi Petani Daripada Menteri”

PIFA, Nasional - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara tegas menolak wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian tertentu, termasuk di bawah Kementerian Dalam Negeri. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Kerja bersama Komisi III DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026). Sikap ini menuai sorotan luas karena menyentuh isu sensitif struktur kelembagaan negara dan posisi Polri dalam sistem pemerintahan.Dalam paparannya, Kapolri menyatakan, “Mohon maaf Bapak‑bapak, Ibu‑ibu sekalian, kami tentunya institusi Polri menolak kalau sampai ada usulan Polri berada di bawah kementerian khusus, karena bagi kami posisi institusi Polri seperti saat ini adalah posisi yang sangat ideal,” dilansir dari laporan detikNews yang mengabarkan langsung dari ruang rapat Komisi III DPR. Menurut Sigit, posisi Polri yang langsung berada di bawah Presiden memungkinkan institusi kepolisian bergerak cepat tanpa terkendala rantai birokrasi kementerian.Kapolri juga menilai, penempatan Polri di bawah kementerian akan menimbulkan potensi “matahari kembar”, yakni tumpang tindih kewenangan dan komando yang bisa melemahkan efektivitas penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan. “Di satu sisi kita betul‑betul bisa berada langsung di bawah Bapak Presiden sehingga pada saat Presiden membutuhkan kami, maka kami bisa bergerak tanpa harus ada kementerian‑kementerian,” ujarnya. Menurutnya, hal itu justru akan menguatkan posisi kepala negara dalam mengendalikan situasi keamanan nasional.Dalam kesempatan itu, Sigit juga menyinggung tawaran jabatan menteri kepolisian yang pernah disampaikan kepadanya. “Dalam hal ini saya tegaskan di hadapan Bapak‑Bapak Ibu‑Ibu sekalian dan seluruh jajaran, bahwa saya menolak polisi di bawah kementerian. Dan kalaupun saya yang menjadi menteri kepolisian, saya lebih baik menjadi petani saja,” tegas Kapolri. Pernyataan itu disambut tepuk tangan di ruang rapat dan kemudian menyebar luas di media massa dan media sosial.​Penolakan Kapolri tidak hanya soal jabatan pribadi, melainkan prinsip kelembagaan. “Saya anggap meletakkan Polri di bawah kementerian sama saja melemahkan institusi Polri, melemahkan negara dan melemahkan presiden,” ujar Sigit. Ia meminta seluruh jajaran Polri memahami dan memegang teguh prinsip ini, serta memperjuangkan posisi Polri tetap berada langsung di bawah Presiden.Sikap Kapolri ini menimbulkan reaksi beragam di kalangan pengamat politik dan hukum. Sebagian menilai penolakan tersebut wajar demi menjaga independensi Polri dari intervensi politik kementerian tertentu. Namun ada pula yang berpendapat bahwa perlu dilakukan kajian mendalam tentang efisiensi dan akuntabilitas Polri jika tetap berada di luar struktur kementerian. Diskusi publik pun kembali menghangat soal perlunya revisi undang‑undang yang mengatur kedudukan Polri dalam tata kelola negara.Hingga kini, pemerintah dan DPR belum mengambil keputusan final terkait wacana penempatan Polri di bawah kementerian. Namun pernyataan Kapolri jelas menegaskan sikap institusi kepolisian untuk mempertahankan posisinya langsung di bawah Presiden. Dengan demikian, wacana “Polri di bawah kementerian” dipastikan akan menghadapi resistensi kuat dari internal Polri sendiri, setidaknya selama Listyo Sigit masih menjabat sebagai Kapolri.

Nasional
| Rabu, 28 Januari 2026

Nasional

Foto: Goenawan Mohammad: Kalau Mau Bikin Partai Harus Jual Diri seperti PSI    | Pifa Net

Goenawan Mohammad: Kalau Mau Bikin Partai Harus Jual Diri seperti PSI  

PIFA, Nasional - Budayawan dan jurnalis senior, Goenawan Mohamad, mengungkapkan kritiknya terhadap sistem kepartaian di Indonesia dalam acara penyampaian maklumat untuk Jokowi dari Komunitas Utan Kayu menjelang Pemilu 2024. Goenawan menilai bahwa sistem saat ini menyulitkan partai baru untuk berkembang, mengharuskan mereka mengikuti arus partai besar untuk bertahan. Menurut Goenawan, partai saat ini menjadi barang yang mahal, dan kekuasaan oligarki membuat orang miskin sulit untuk membentuk partai. Sebagai contoh, ia menyebut Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kesulitan berkembang dan akhirnya harus menjual diri ke kekuasaan, dengan Kaesang Pangarep, putra Jokowi, menjadi ketuanya agar bisa mendapatkan suntikan dana. "Kalau mau bikin partai harus jual diri seperti PSI. PSI kan kekurangan dana ya itu kan harus jualan kan," ujar Goenawan Mohamad seperti dikutip dari suara.com jejaring Pontianak Informasi. Goenawan mengungkapkan bahwa ia pernah bergabung dengan PSI dan memilihnya saat Pemilu 2019, namun kini menyebut PSI sebagai antek Prabowo Subianto. "Kalau tersinggung nggak apa-apa saya anggota PSI. PSI yang sekarang ya, kalau yang dulu gak tahu. Sekarang saya tidak tahu PSI jadi apa, yang jelas jadi antek Prabowo," ungkap Goenawan. Goenawan menganggap fenomena ini sebagai kemunduran dalam sistem demokrasi Indonesia. Ia menekankan bahwa partai baru seharusnya berani menjadi pembeda, membawa ideologi untuk menentang kekuasaan, dan membela kepentingan rakyat. "Ini suatu kemunduran tapi juga pelajaran bagi kita bahwa selama partai-partai berbentuk oligarki ongkos politik berbentuk mahal, selama orang mau menjual dirinya sebagai pelacur, ya demokrasi pasti berat," tegas Goenawan Mohamad. (ad)

Indonesia
| Sabtu, 10 Februari 2024
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5
2
4
8
9
3
5