Korban Tewas Ledakan Tambang Batu Bara di China Bertambah Jadi 90 Orang
Internasional | Sabtu, 23 Mei 2026
Jumlah korban tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, China, bertambah menjadi 90 orang pada Sabtu (23/5/2026).
Insiden tersebut kini menjadi bencana tambang batu bara paling mematikan di China dalam lebih dari satu dekade.
Ledakan terjadi pada Jumat malam (22/5/2026) saat ratusan pekerja berada di bawah tanah. Berdasarkan laporan media setempat, sebanyak 247 orang sedang bekerja ketika ledakan terjadi.
Sebagian besar pekerja berhasil dievakuasi pada Sabtu pagi. Namun hingga kini, sembilan orang masih dinyatakan hilang karena diduga terjebak di dalam tambang.
Presiden China Xi Jinping meminta seluruh pihak melakukan upaya maksimal dalam penanganan korban dan menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab ledakan.
“Semua wilayah dan departemen harus mengambil pelajaran dari kecelakaan ini. Tetap waspada terhadap keselamatan kerja,” ujar Xi.
Laporan kantor berita Xinhua menyebut sejumlah eksekutif perusahaan tambang yang bertanggung jawab atas lokasi tersebut telah ditahan aparat berwenang.
Penyebab pasti ledakan masih diselidiki. Namun laporan awal menyebut kadar karbon monoksida di tambang diduga telah melampaui batas aman.
Provinsi Shanxi dikenal sebagai salah satu pusat industri batu bara terbesar di China. Meski standar keselamatan pertambangan di negara itu disebut meningkat dalam beberapa tahun terakhir, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat lemahnya penerapan protokol keselamatan kerja.
Data Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China mencatat lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di negara tersebut sepanjang 2010 hingga 2025.



















