Menlu Turki Tuduh Israel Bertujuan Mengusir Seluruh Warga Palestina dari Gaza
Internasional | Sabtu, 15 Agustus 2026
Reuters
Internasional | Sabtu, 15 Agustus 2026










Lokal

Pontianak - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak para pelajar di Kota Pontianak untuk membiasakan diri menabung sejak dini. Menurut Edi, ada banyak manfaat yang diperoleh dari menabung, terutama dalam meraih mimpin dimasa depan. Hal tersebut diungkapkannya dalam rangkaian Hari Indonesia Menabung dan Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) Prestasi Anak Indonesia (KREASI) di Ruang Pontive Center, Selasa (24/8/2021). "Kita berharap gerakan ini bisa menjadi sebuah gerakan yang menjadi penyemangat sekaligus mendorong para pelajar untuk menabung terutama di perbankan," ujarnya. Edi mengungkapkan, sejauh ini beberapa Bank di Kota Pontianak sudah bekerjasama dengan sekolah. "Kita juga menyerahkan secara simbolis tabungan pelajar kepada siswa termasuk cinderamata," ungkapnya. Peringatan Hari Indonesia Menabung secara serentak di seluruh Indonesia diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar. Kegiatan ini melibatkan perbankan yang ada di Kota Pontianak seperti Bank Mandiri, BTN, BNI, BSI dan Bank Kalbar. Pesertanya adalah para pelajar Se-Kota Pontianak, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA dan SMK. (Bella)
Lokal

Berita Sambas, PIFA – Satgas Pamtas Yonif Mekanis 643/Wns melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada warga perbatasan, tepatnya do Dusun Air Bening, Desa Sungai Bening, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. Hal ini merupakan bentuk kepedulian anggota Satgas kepada warga yang membutuhkan pelayanan dan penanganan kesehatan khusus. Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonif Mekanis 643/Wns, Letkol Inf Hendro Wicaksono, S.I.P dalam keterangan tertulisnya di Makotis Entikong, Kabupaten Sanggau pada Minggu (6/2/2022).mengatakan, tenaga kesehatan pos Sungai Bening Prada Yordan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kepada bapak Asparadi Nuru (59 th) warga dusun Sungai Bening yang mengalami sakit Diabetes selama ± 3 tahun dan menyebabkan tangan kanannya di amputasi untuk menhindari infeksi yang menjalar ke seluruh tubuh. Sebelumnya, Bapak Aspardi bekerja sebagai petani dalam menghidupi keluarganya, namun akibat sakit yang dideritanya maka yang bersangkutan tidak bekerja lagi. Hal ini di respon cepat oleh Danpos Sungai Bening dengan memberikan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan juga memberikan bantuan sembako guna membantu perekonomian keluarganya. Dansatgas mengatakan, pihaknya berkeinginan untuk selalu membantu warga perbatasan agar mereka juga merasakan kehadiran negara melalui anggota TNI. “Kami ingin selalu dapat membantu kesulitan masyarakat di sekitar pos Satgas Pamtas, sehingga masyarakat dapat merasakan kehadiran negara melalui Satgas Pamtas,” katanya, dikutip dari rilis Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonif Mekanis 643/Wns, Minggu (6/2). Sementara di tempat terpisah Danpos Sungai Bening Sertu Rail mengatakan pemeriksaan kesehatan secara rutin terhadap bapak Aspardi ini merupakan bentuk kepedulian Satgas Pamtas kepada warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan juga sebagai sarana silaturahmi kepada warga di sekitar pos. “Pemeriksaan kesehatan ini meliputi pemeriksaan suhu tubuh, tensi dan kadar gula dengan mengkonsultasikan kepada dokter Satgas sehingga dapat tertangani dengan baik,” pungkas Danpos. Bapak Aspardi pun turut mengucapkan terima kasih kepada anggota Pos Sungai Bening yang melakukan pemeriksaan rutin dan selalu memberikan sembako kepada dirinya. Bagi Aspardi, bantuan tersebut sangat membantu mengingat letak puskesmas yang cukup jauh dari rumahnya dan membutuhkan biaya yang banyak untuk akses tempuhnya. (yd)
Nasional

PIFA, Jateng - Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kembali padam di awal tahun 2026. Fenomena ini membuat geger masyarakat dan pengunjung wisata yang biasanya menjadikan api tersebut sebagai ikon utama. Kini, kolam api yang biasanya menyala terus‑menerus hanya tampak gelap, menyisakan kekecewaan dan pertanyaan tentang penyebab dan masa depan objek wisata legendaris tersebut.Menurut Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, Annas Rofiqi, api mulai mengecil sejak akhir tahun 2025 dan benar‑benar padam pada awal Januari 2026. “Sebelumnya kita sudah laporan tanggal 28 Desember 2025 itu apinya sudah mengecil,” kata Annas saat ditemui detikJateng, Minggu (1/2/2026). “Kemarin 1 Januari tepatnya itu jam 07.00 WIB saya cek ke sini, kondisinya sudah padam. Padahal malamnya jam 23.00 WIB itu masih hidup,” ujarnya. Pengelola menduga padamnya api disebabkan saluran gas yang tertutup lumpur sehingga gas tidak lagi mencapai permukaan.Kabar padamnya Api Abadi Mrapen pun ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah video berdurasi pendek beredar di platform seperti TikTok. Dalam salah satu unggahan, wisatawan terlihat berkelakar bahwa api abadi padam karena “gasnya habis”. Kepala Seksi Energi Cabdin ESDM Kendeng Selatan, Slamet Widodo, membenarkan bahwa Api Abadi Mrapen memang sedang padam, meski awalnya belum dapat menyebut secara pasti sejak kapan kondisi itu terjadi.Ini bukan kali pertama Api Abadi Mrapen mengalami mati total. Pada September 2020, api sempat padam akibat kebocoran dan eksploitasi gas di sekitar lokasi oleh warga. Setelah penataan ulang dan penemuan sumber gas baru, api berhasil dinyalakan kembali pada April 2021. Pengulangan peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kondisi geologi dan pengelolaan gas bawah tanah perlu ditinjau ulang agar fenomena alam tersebut tetap lestari.Dari sisi wisata, padamnya Api Abadi Mrapen berdampak langsung pada minat kunjungan. Wisatawan yang datang dari luar kota mengaku kaget dan kecewa ketika tiba di lokasi hanya melihat kolam kosong tanpa nyala api. Beberapa pengunjung memilih tetap berfoto di sekitar lokasi, namun suasana yang biasanya khidmat dan magis kini terasa hampa tanpa cahaya api yang selama ini menjadi simbol spiritual dan sejarah.Secara historis, Api Abadi Mrapen bukan hanya objek wisata, tetapi juga bagian dari narasi legenda Sunan Kalijaga. Menurut cerita rakyat, api tersebut muncul ketika sang wali menancapkan tongkat ke tanah, lalu menyemburkan api yang terus menyala karena gas alam dari dalam bumi. Dalam keseharian, api bisa padam jika terkena hujan deras dan angin kencang, namun cukup disulut kembali dengan korek api sehingga masyarakat menyebutnya “api abadi”. Kini, ketika api padam tanpa bisa langsung dinyalakan kembali, muncul pertanyaan apakah ini masih sekadar gangguan teknis atau tanda perubahan kondisi sumber gas secara permanen.