Militer AS Gunakan AI Serang 1.000 Target Iran dalam 24 Jam
Teknologi | Sabtu, 7 Maret 2026
PIFA, Tekno - Militer Amerika Serikat mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efektivitas operasi militernya dalam konflik bersama Israel melawan Iran. Salah satu dampaknya terlihat dari serangan terhadap sekitar 1.000 target dalam 24 jam pertama operasi militer.
Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), AI digunakan untuk mengelola dan menyaring jumlah data yang sangat besar secara cepat selama operasi berlangsung.
Sejak dimulainya serangan militer pekan lalu, Amerika Serikat dilaporkan telah menyerang lebih dari 2.000 target di Iran, termasuk sekitar 1.000 target yang dihantam dalam hari pertama operasi.
Kepala Komando Pusat AS, Brad Cooper, menyebut skala operasi tersebut hampir dua kali lebih besar dibandingkan operasi militer “shock and awe” yang dilakukan AS saat Invasi Irak 2003.
Juru bicara Komando Pusat AS, Timothy Hawkins, mengatakan teknologi AI berperan penting dalam proses penyaringan awal data, sehingga analis manusia dapat lebih fokus pada analisis tingkat lanjut dan verifikasi target.
“Komando pusat menggunakan berbagai alat kecerdasan buatan, dan itulah tepatnya mereka—alat—untuk membantu para ahli manusia dalam proses yang ketat yang sejalan dengan kebijakan AS, doktrin militer, dan hukum,” kata Hawkins, dikutip dari Bloomberg.
Namun Hawkins menolak mengungkapkan nama teknologi AI maupun perusahaan yang menyediakan sistem tersebut kepada militer.
Teknologi AI Maven dan Claude Digunakan
Salah satu sistem yang disebut digunakan dalam operasi ini adalah Maven Smart System, sebuah platform kontrol misi digital yang dikembangkan oleh Palantir Technologies.
Sistem ini menggabungkan lebih dari 150 sumber data berbeda untuk membantu analisis dan pengambilan keputusan militer secara cepat.
Platform tersebut juga menggunakan model AI Claude yang dikembangkan oleh perusahaan AI Anthropic sebagai salah satu model bahasa besar yang terintegrasi dalam sistem.
Menurut sumber yang mengetahui operasi tersebut, Claude berfungsi dengan baik dan menjadi bagian penting dalam operasi militer AS terhadap Iran, sekaligus mempercepat kemampuan analisis dalam sistem AI Maven.
Konflik AI Picu Ketegangan dengan Anthropic
Penggunaan AI dalam konflik ini juga memicu perdebatan global mengenai peran teknologi kecerdasan buatan dalam peperangan modern.
Ketegangan bahkan muncul antara pejabat pertahanan AS dan Anthropic setelah perusahaan tersebut menolak melonggarkan batasan penggunaan teknologinya untuk pengawasan massal dan pengembangan senjata otonom.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian menyebut Anthropic sebagai risiko rantai pasokan dan memberi kontraktor militer waktu enam bulan untuk menghentikan kerja sama dengan perusahaan tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan lembaga federal menghentikan kerja sama dengan Anthropic, menyebut perusahaan itu sebagai “perusahaan AI sayap kiri radikal yang tidak terkendali.”
Meski begitu, CEO Anthropic Dario Amodei dilaporkan masih melanjutkan pembicaraan dengan pejabat pertahanan AS untuk mencari kemungkinan kesepakatan baru terkait penggunaan teknologi AI dalam operasi militer.



















