Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Diduga Pelajari Aksi Massal dari Internet
Internasional | Sabtu, 8 Agustus 2026
REUTERS
Internasional | Sabtu, 8 Agustus 2026









Lokal

Berita Ketapang, PIFA - Selain ziarah kubur salah satu tradisi masyarakat Kalimantan Barat khususnya Kabupaten Ketapang di bulan ramadhan yaitu permainan Keriang Bandong. Nama Keriang Bandong sebenarnya diambil dari kata Keriang dan Bandong. Keriang diambil dari nama serangga yang sangat menyukai serangga. Sedangkan kata Bandong berasal dari kata berbondong-bondong. Hal ini dikarenakan kebiasaan keriang yang selalu datang berbondong-bondong mendatangi cahaya. Keriang bandong ini hanya dimainkan di bulan Ramadhan saja yang biasa dimulai pada hari ke 21 Ramadhan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri. Dari hal itu Wakil Bupati Ketapang H. Farhan, SE.,M.Si menyatakan jika situasi pandemi reda tahun depan PLK Negeri Matan Tanjung Pura akan melaksanakan Festival Keriang Bandong, yang merupakan salah satu upaya merawat dan melestarikan tradisi budaya melayu. Pernyataan tersebut dikatakan Wabup usai kegiatan buka bersama dengan 50 anak yatim piatu yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Lawang Kekayun (PLK) Negeri Matan Tanjung Pura Ketapang, pada Rabu (28/04/2022) bertempat di Pendopo Wakil Bupati Ketapang. Selain itu Beliau juga menyalakan Keriang Bandong bersama Ketua MABM Ketapang, Dewan Penasehat IKKRAMAT, Ketua IKKRAMAT, Ketua Perkumpulan Lawang Kekayun, dan Camat Delta Pawan. Sementara itu, ketua PLK Negeri Matan Tanjung Pura Ketapang, Agus Kurniawan, S.Sos.,I, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian kerja manfaat perkumpulan, yakni manfaat secara sosial. "Insyaallah, tradisi orang-orang Melayu ini akan terus kita lestarikan. Semoga pandemi cepat berlalu sehingga kita dapat mengadakan dengan event yang lebih besar, seperti festival Keriang Bandong, yang akan melibatkan banyak ormas dan komunitas," tuturnya. (rs)
Nasional

PIFA, Nasional — Seorang mahasiswa bernama Arjuna Tamaraya (21) tewas setelah dikeroyok tiga pria hanya karena tidur di Masjid Agung, Jalan Diponegoro, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga, Provinsi Sumatra Utara, pada Jumat (31/10/2025) dini hari. Kasat Reskrim Polres Sibolga, AKP Rustam E. Silaban, menjelaskan peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 03.30 WIB saat korban hendak beristirahat di dalam masjid. Namun, salah satu tersangka, ZP alias A (57), menegur korban dan melarangnya tidur di sana. “Dari pemeriksaan, korban semula berniat beristirahat di masjid. Namun salah satu tersangka menegurnya. Karena larangannya tidak digubris, tersangka merasa tersinggung dan memanggil dua rekannya, HB alias K (46) dan SS alias J (40),” ujar AKP Rustam, Minggu (2/11/2025). Ketiganya kemudian menganiaya korban secara brutal di dalam masjid. Korban diinjak dan dipukuli sebelum diseret ke luar. Saat diseret, kepala korban sempat terbentur anak tangga. Tidak berhenti di situ, pelaku juga melempar kepala korban dengan buah kelapa, sementara tersangka SS mencuri uang Rp10.000 dari saku celana korban. Akibat penganiayaan tersebut, Arjuna mengalami luka parah di bagian kepala dan sempat dilarikan ke RSUD Dr. F.L. Tobing Sibolga, namun nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia pada Sabtu (1/11) pukul 05.55 WIB. Polisi yang menerima laporan segera melakukan penyelidikan dengan memeriksa saksi dan rekaman CCTV di sekitar lokasi. Ketiga tersangka akhirnya ditangkap saat berusaha melarikan diri. “Para tersangka dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, atau Pasal 170 Ayat (3) KUHP tentang kekerasan bersama-sama yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Untuk tersangka SS, ditambahkan Pasal 365 Ayat (3) KUHP tentang pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan kematian,” jelas AKP Rustam. Kasus ini menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban sekaligus kecaman dari warga setempat atas tindakan keji yang terjadi di tempat ibadah.
Lokal

Berita Sintang, PIFA - Banjir yang sudah dua pekan melanda kabupaten sintang kembali memakan korban jiwa, kali ini tiga orang warga di kabupaten sintang tersengat listrik, yang menewaskan satu orang, Rabu (10/11/2021). Hamdani selaku, Ketua RT 1 di Kelurahan Mengkurai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mengatakan banyak warga yang tersetrum listrik selama banjir menerjang wilayahnya. Hamdani menyebut sampai saat ini sedikitnya ada tiga korban yang tersetrum. Hamdani berkata, tiga korban itu adalah warga yang rumahnya tak jauh dari kediamannya. "Yang kesetrum banyak, Kesetrum listrik. Yang saya tahu sampai tadi malam tiga korban," ujarnya dilansir dari CNNIndonesia.com, Lebih lanjut, Hamdani menyatakan satu dari tiga orang itu meninggal dunia. Sementara dua lainnya masih bisa diselamatkan. Hamdani menjelaskan, tiga orang itu tersetrum saat tinggi muka air yang merendam rumah mereka sedang tinggi-tingginya. "Yang tadi malam masih dibawa ke Pontianak. Kalau yang satu meninggal. Satu lagi masih selamat," tuturnya. "Mereka tersetrum di rumah pribadinya," kata dia. Berdasarkan pengakuan Hamdani, banjir di Sintang masih terbilang parah. Tinggi air mencapai dua sampai tiga meter. "Tinggi air kurang lebih dua meter. Orang dewasa sampai enggak sampai lagi. Rumah kita ini ada panggung nih. Hampir tiga meter lah airnya," kata dia. Sampai saat ini, kata Hamdani, warga masih mengungsi di posko yang disediakan. Selain di posko, banyak juga warga yang mengungsi ke rumah kerabat atau tetangganya yang tidak terdampak parah. "Pada mengungsi ke pos, tetangga," ucapnya. Padahal, banjir sudah melanda sejak Kamis pagi (21/10) atau 20 hari. BNPB mengklaim telah menggelontorkan bantuan senilai Rp500 juta untuk percepatan penanggulangan bencana di Sintang. BNPB juga memberikan bantuan logistik dan obat obatan. Namun, beberapa pengakuan warga mereka masih kesulitan untuk mendapat air minum dan makanan.