Photovoice Bangun Kesadaran Baru soal Risiko Banjir di Pontianak
Lokal | Sabtu, 17 Januari 2026
PIFA, Lokal – Rangkaian kegiatan Diseminasi Photovoice bertajuk “Mata Warga Memaknai Risiko Banjir Pontianak” yang berlanjut pada Jumat (16/1/2026) memunculkan kesadaran baru di kalangan peserta dan pengunjung pameran. Banjir yang selama ini kerap dianggap sebagai kejadian rutin tahunan mulai dipahami sebagai ancaman serius yang terus meningkat.
Melalui foto dan cerita warga dalam program Photovoice yang digarap Yayasan Kolase bersama FINCAPES, risiko banjir di Pontianak dipotret dari pengalaman langsung masyarakat terdampak. Pendekatan ini menghadirkan perspektif personal sekaligus kritis terhadap persoalan banjir yang dihadapi kota tersebut.
Salah satu peserta Photovoice, Nasywa Raida Nisriena, mengaku kegiatan ini jauh melampaui ekspektasinya. Ia awalnya mengira agenda hanya berisi presentasi formal.
“Menurutku kegiatannya di luar ekspektasi. Kalau dilihat di rundown cuma presentasi-presentasi biasa, tapi ternyata jauh sekali dari ekspektasi,” ujarnya.
Dari paparan narasumber, Nasywa mendapat sudut pandang baru bahwa risiko banjir tidak bisa diperlakukan secara seragam karena berkaitan erat dengan keadilan sosial.
“Dari FINCAPES ngasih tahu ternyata risiko banjir ini tidak bisa disamaratakan. Penanganannya harus mempertimbangkan kesetaraan gender dan ekonomi. Misalnya saat banjir, kelompok paling rentan harus diprioritaskan. Itu jadi pengetahuan baru buat aku,” katanya.
Namun demikian, ia menilai respons pemerintah masih minim dan belum menyentuh solusi konkret.
“Dari Pemkot Pontianak, terutama Bapperida, waktu ditanya solusi jawabannya cuma masyarakat yang mengantisipasi. Padahal banjir 8 Desember itu tertinggi dalam 20 tahun. Harusnya sudah ada tindakan yang pasti,” ujarnya.
Melalui Photovoice, Nasywa merasa pesan yang ingin disampaikan warga dapat tersalurkan dengan lebih jujur.
“Photovoice itu foto yang bersuara. Aku benar-benar menjelaskan apa yang ada di foto dan apa yang aku rasakan. Menurut aku, semua perasaan soal banjir itu sudah tersampaikan,” katanya.
Kegiatan ini juga mengubah cara pandangnya terhadap banjir di Pontianak.
“Dulu aku nganggep banjir itu remeh, agenda tahunan aja. Tapi setelah Photovoice ini, aku sadar ini bukan banjir biasa. Dari penelitian, Pontianak bisa tenggelam,” ujarnya.
Menurut Nasywa, dampak kegiatan ini terasa nyata bagi peserta.
“Bener-bener nambah pengetahuan, relasi, dan kesadaran. Aku yakin 18 peserta Photovoice mengalami peningkatan awareness soal banjir,” katanya.
Ia juga menyoroti persoalan klasifikasi banjir yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Semoga ke depan banjir di Pontianak tidak cuma dianggap genangan karena harus 40 sentimeter dan 1/24 jam. Padahal itu banjir tinggi, tapi dianggap genangan sehingga tidak tercatat sebagai data banjir,” ujarnya.
Kesadaran serupa dirasakan para pengunjung pameran. Indri, salah satu pengunjung, mengaku tidak menyangka pameran foto ini menyimpan kisah yang emosional.
“Awalnya kirain cuma pameran foto banjir biasa. Ternyata fotografernya masyarakat yang ngalamin langsung. Ada cerita makam pamannya ikut terendam dan fotografernya sampai nangis. Ini bikin kita makin sadar kalau banjir di Pontianak nggak bisa dianggap sepele,” katanya.
Pengunjung lainnya, Wahyu, menilai foto-foto yang dipamerkan berhasil menyoroti dampak banjir terhadap kelompok rentan.
“Saya paling tertarik foto rumah disabilitas tuli yang terendam cukup tinggi. Foto-foto ini bikin kita sadar, banjir dirasakan semua orang tanpa memandang disabilitas atau kelompok rentan,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah tidak lagi memandang banjir rob sebagai kejadian biasa.
“Banjir ini bukan hal sepele. Kita berharap pemerintah punya solusi nyata. Banjir rob bukan cuma soal air dan bukan sesuatu yang bisa dibiarkan begitu saja,” katanya.
Melalui Photovoice, warga tidak sekadar memotret banjir, tetapi membangun kesadaran kolektif bahwa risiko banjir di Pontianak membutuhkan respons cepat, kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan, serta keterlibatan aktif warga sebagai bagian dari solusi.



















