Psikolog: Pendampingan Emosi dan Literasi Digital Penting Tekan Dampak Negatif Media Sosial pada Remaja
Lifestyle | Rabu, 17 Desember 2025
PIFA, Lifestyle - Psikolog Vera Itabiliana mengemukakan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk menekan dampak negatif penggunaan media sosial terhadap perkembangan psikologis dan emosi remaja. Menurutnya, pembatasan penggunaan gawai dan akses ke media sosial saja belum cukup untuk melindungi remaja dari pengaruh buruk penggunaan media sosial secara berlebihan.
Saat dihubungi dari Jakarta pada Kamis, Vera menekankan bahwa remaja membutuhkan dukungan dan pendampingan agar mampu mengelola emosi mereka ketika berinteraksi di media sosial. Psikolog dari Universitas Indonesia itu juga menyoroti pentingnya menanamkan pemahaman tentang nilai dan identitas diri sejak dini.
“Meningkatkan self-awareness membantu remaja memahami bahwa identitas dan nilai diri tidak bergantung pada angka digital,” kata Vera, merujuk pada indikator seperti jumlah likes, komentar, atau repost di media sosial.
Ia juga menilai literasi digital sebagai aspek penting dalam pendampingan remaja. Dengan memahami cara kerja algoritma media sosial, remaja dapat melihat interaksi di ruang digital secara lebih objektif dan tidak mudah terpengaruh oleh popularitas semu.
Selain itu, Vera menekankan pentingnya lingkungan sosial yang aman dan suportif, baik di dunia nyata maupun ruang digital. Orang tua dan pendidik disarankan mendorong remaja membangun pertemanan yang sehat agar mereka memiliki ruang ekspresi tanpa tekanan untuk selalu tampil sempurna, yang kerap memicu kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri.
Pengaturan keseimbangan antara aktivitas daring dan luring juga dinilai krusial untuk menjaga stabilitas emosi remaja. Vera menyarankan remaja didorong untuk aktif berolahraga, menekuni hobi, atau terlibat dalam kegiatan sosial agar tidak terlalu bergantung pada media sosial.
Menurutnya, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi cara remaja membangun identitas diri, karena mereka terpapar berbagai standar sosial, tren, dan opini orang lain dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat proses pencarian jati diri menjadi lebih kompleks.
“Pengaruh media sosial terhadap rasa percaya diri remaja sangat besar. Media sosial sering menjadi ‘cermin kedua’ bagi mereka, sehingga reaksi orang lain dapat membuat kepercayaan diri naik atau turun dengan cepat,” ujar Vera.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berisiko memicu gangguan tidur, yang dapat meningkatkan stres, kecemasan, hingga depresi. Jika remaja mulai menunjukkan perubahan suasana hati ekstrem atau menarik diri dari lingkungan sosial, pendampingan intensif perlu segera dilakukan.
“Validasi perasaan remaja, bantu mereka membangun konsep diri yang sehat, kurangi paparan konten yang memicu perbandingan diri, dan dorong aktivitas offline,” katanya.
Apabila dampak penggunaan media sosial sudah mengganggu aktivitas dan fungsi harian remaja, Vera menganjurkan orang tua untuk tidak ragu mencari bantuan profesional melalui terapi atau konseling.




















