Review Film Gohan: Hangat, Menguras Air Mata, dan Penuh Makna Kehidupan
Pifabiz | Jumat, 22 Mei 2026
Film Thailand Gohan bukan sekadar kisah tentang seekor anjing yang berpindah dari satu pemilik ke pemilik lainnya. Lebih dari itu, film ini menjadi refleksi mendalam tentang kehidupan, kehilangan, kesepian, dan arti kehadiran seseorang dalam hidup manusia.
Sejak awal promosi, Gohan memang sudah memberi sinyal bahwa film ini akan menjadi sajian emosional yang siap menguras air mata penonton. Namun, selama 140 menit durasinya, film ini tidak hanya membuat penonton menangis, tetapi juga meninggalkan kehangatan yang menetap lama setelah layar bioskop gelap.
Naskah yang ditulis oleh Chayanop Boonprakob bersama Sopana Chaowwiwatkul, Atta Hemwadee, Baz Poonpiriya, dan Thodsapon Thiptinnakorn terasa seperti “sup ayam hangat” setelah melewati badai kehidupan. Ceritanya sederhana, tetapi kaya emosi dan penuh detail yang membekas.
Film ini dibagi menjadi tiga fase kehidupan Gohan bersama manusia yang berbeda-beda. Masing-masing fase menghadirkan persoalan hidup tersendiri dengan pendekatan emosional yang berbeda pula.
Babak pertama bersama Hiro, lansia yang diperankan Kitachima Yasushi, dipenuhi humor ringan dan hubungan hangat yang natural. Chemistry Yasushi dengan anjing puppy bernama Kori berhasil menjadi pembuka yang menyentuh.
Memasuki fase kedua, cerita berubah lebih dramatis ketika Gohan hidup bersama Namcha yang diperankan Poe Mamhe Thar. Di fase ini, film mulai menggali sisi kehilangan dan perjuangan hidup yang lebih kelam.
Puncak emosional film hadir pada fase ketiga ketika Gohan bersama Pele dan Jaidee, yang diperankan Jaonaay Jinjett Wattanasin dan Tu Tontawan Tantivejakul. Hubungan mereka dengan Gohan menjadi “algojo” utama air mata penonton.
Selain kekuatan cerita, visual film ini juga digarap dengan sangat detail. Sinematografi yang dikerjakan Phaklao Jiraungkoonkun, Pasit Tandaechanurat, dan Tawanwad Wanavit secara konsisten mengajak penonton melihat dunia dari perspektif seekor anjing.
Perubahan palet warna dari hangat menuju nuansa biru melankolis turut memperkuat perjalanan emosional film. Detail kostum dan atmosfer Bangkok modern yang muncul di fase akhir juga memberi sentuhan visual yang menarik.
Secara keseluruhan, Gohan berhasil menjadi film yang hangat, sederhana, tetapi sangat menyentuh. Film ini membuktikan bahwa karya emosional yang kuat tidak harus selalu megah, melainkan cukup dengan cerita yang jujur dan karakter yang hidup.
Seperti film-film produksi GDH 559 lainnya, termasuk How to Make Millions Before Grandma Dies, Gohan terasa lebih dari sekadar hiburan. Film ini menjadi pengingat bahwa hidup dipenuhi perpisahan, tetapi kenangan dan kasih sayang akan selalu tinggal.



















