Rudal Balistik Iran Hantam Asrama Pasukan AS di Yordania, Tiga Tentara Dilaporkan Tewas
Internasional | Selasa, 21 Juli 2026
Amman – Serangan rudal balistik Iran yang diluncurkan ke Yordania pada Sabtu (18/7) dilaporkan menghantam fasilitas militer Amerika Serikat, termasuk unit hunian prefabrikasi yang digunakan sebagai asrama personel di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, dua pejabat Amerika Serikat menyebut pangkalan tersebut menjadi sasaran tiga serangan rudal dalam rentang waktu 24 jam.
Menurut laporan yang dikutip Al Jazeera, awalnya dua tentara AS dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Namun, kemudian ditemukan satu jenazah lagi di lokasi yang masih menjalani proses identifikasi, sehingga jumlah korban tewas diduga bertambah menjadi tiga orang.
Tiga Rudal Hantam Fasilitas Berbeda
Serangan pertama dilaporkan menghantam gedung pusat kebugaran (gym) di dalam pangkalan sesaat setelah sirene peringatan berbunyi. Sejumlah personel mengalami luka-luka ketika berupaya mencari perlindungan.
Rudal kedua menghantam hanggar pesawat yang saat itu dilaporkan dalam kondisi kosong.
Sementara rudal ketiga mengenai unit hunian berbentuk kontainer yang difungsikan sebagai tempat tinggal personel militer Amerika Serikat.
Pentagon telah mengidentifikasi dua korban tewas, yakni:
- First Lieutenant Tyler J. Feehan asal Hawaii.
- Prajurit Isabella Gonzales asal Texas.
Sementara itu, satu korban lainnya masih dalam proses identifikasi dan satu personel militer AS lainnya dilaporkan masih hilang.
Trump Ancam Balasan Lebih Keras
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin (20/7), Trump menyatakan telah memerintahkan jajaran pimpinan militer, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, untuk mengambil tindakan tegas apabila kembali ada prajurit AS yang menjadi korban.
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu berkali-kali lipat," tulis Trump.
Pernyataan tersebut mempertegas sikap Washington yang mengancam akan meningkatkan respons militer apabila eskalasi konflik di Timur Tengah terus menelan korban dari pihak Amerika Serikat.


















