Rupiah Melemah, Ini 10 Cara Masak Hemat agar Pengeluaran Makan Tak Membengkak
Lifestyle | Selasa, 16 Juni 2026
JAKARTA — Pelemahan nilai rupiah membuat sebagian masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, termasuk biaya makan sehari-hari.
Kebiasaan membeli makanan di luar memang terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan hampir setiap hari, pengeluaran kecil tersebut bisa berubah menjadi beban besar dalam anggaran rumah tangga.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghemat biaya makan adalah kembali memasak sendiri di rumah. Selain lebih mudah mengatur jumlah porsi, memasak juga memberi kontrol lebih besar terhadap bahan dan biaya yang dikeluarkan.
Berikut sejumlah tips masak hemat yang bisa diterapkan:
1. Rencanakan menu sebelum belanja
Sebelum pergi ke pasar atau supermarket, buat daftar menu untuk beberapa hari ke depan.
Perencanaan ini membantu menentukan bahan yang benar-benar diperlukan dan menghindari pembelian barang yang akhirnya tidak terpakai.
Misalnya, ayam bisa digunakan untuk beberapa menu berbeda, sementara telur dapat disiapkan sebagai lauk cadangan saat kondisi mendesak.
2. Cek isi kulkas terlebih dahulu
Sebelum berbelanja, periksa stok makanan di rumah. Anda bisa mencatat atau memotret isi kulkas agar tidak membeli bahan yang masih tersedia.
Cara sederhana ini dapat mengurangi risiko makanan menumpuk dan terbuang karena melewati masa konsumsi.
3. Gunakan bahan murah yang mudah diolah
Bahan sederhana seperti telur, tahu, tempe, ikan, ayam, sayuran, beras, serta bumbu dasar dapat menjadi pilihan untuk memasak hemat.
Dengan bahan yang fleksibel, satu jenis bahan bisa diolah menjadi berbagai menu seperti tumisan, sup, nasi goreng, hingga lauk berbumbu.
4. Beli bahan tahan lama dalam jumlah lebih besar
Beberapa bahan yang sering digunakan dan tidak cepat rusak bisa dibeli dalam jumlah lebih banyak, seperti beras, minyak goreng, gula, tepung, bumbu kering, atau kacang-kacangan.
Namun, pastikan bahan tersebut memang rutin digunakan agar tidak berakhir terbuang.
5. Pilih bahan yang sedang musim
Harga buah dan sayuran biasanya lebih murah ketika sedang musim panen.
Tidak harus terpaku pada satu jenis sayuran. Jika harga brokoli sedang tinggi, misalnya, bisa diganti dengan pilihan lain seperti kangkung, bayam, sawi, kol, atau wortel.
6. Jangan terpaku pada tampilan bahan makanan
Buah dan sayuran dengan bentuk kurang sempurna sering kali dijual lebih murah, padahal tetap memiliki nilai gizi yang sama selama kondisinya masih baik.
Tomat yang tidak sempurna bisa digunakan untuk sambal, sementara pisang matang dapat diolah menjadi makanan lain.
7. Bandingkan harga berdasarkan ukuran
Jangan hanya melihat harga di label kemasan. Perhatikan harga per kilogram, liter, atau 100 gram untuk mengetahui produk mana yang sebenarnya lebih hemat.
Kemasan besar tidak selalu lebih murah jika dihitung berdasarkan jumlah isinya.
8. Pertimbangkan produk tanpa merek besar
Produk generik atau merek toko untuk kebutuhan dasar seperti gula, garam, minyak, tepung, dan bahan makanan tertentu sering memiliki harga lebih rendah.
Untuk kebutuhan sehari-hari, pilihan ini dapat membantu mengurangi biaya belanja tanpa mengubah pola makan secara signifikan.
9. Siapkan bahan siap masak
Kesibukan sering membuat seseorang memilih membeli makanan jadi. Untuk menghindarinya, siapkan bahan yang sudah diproses sebagian.
Contohnya ayam ungkep, ayam suwir, sambal, bumbu dasar, atau lauk kering yang bisa langsung dimasak saat dibutuhkan.
10. Olah kembali makanan sisa
Sisa makanan tidak selalu harus dibuang. Dengan kreativitas, makanan tersebut bisa diubah menjadi menu baru.
Nasi sisa dapat dibuat menjadi nasi goreng, ayam sisa bisa menjadi isian mi atau topping, sementara sayuran sisa dapat diolah menjadi telur dadar.
Memasak hemat bukan berarti harus mengurangi kualitas makanan. Kuncinya adalah mengatur belanja, memilih bahan dengan cerdas, dan memaksimalkan setiap bahan agar pengeluaran tetap terkendali.



















