Sekutu AS di Timur Tengah Desak Trump Tahan Diri dari Opsi Serangan ke Iran
Internasional | Kamis, 29 Januari 2026
PIFA, Internasional - Sejumlah sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah dilaporkan berupaya menahan langkah Presiden AS Donald Trump terkait rencana serangan terhadap Iran. Upaya diplomatik tersebut dilakukan dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan regional.
The New York Times melaporkan, negara-negara sekutu AS khawatir serangan militer terhadap Iran berpotensi memicu konflik berskala besar yang dapat mengguncang stabilitas Timur Tengah secara menyeluruh. Kekhawatiran itu mendorong intensifikasi komunikasi dengan Washington agar opsi militer tidak menjadi pilihan utama.
Sebagaimana dilaporkan Sputnik pada Kamis, para sekutu AS menilai eskalasi konflik dengan Iran akan membawa dampak luas, tidak hanya bagi kawasan Teluk, tetapi juga bagi kepentingan global.
Sejumlah negara Teluk disebut aktif melakukan pendekatan langsung kepada Presiden Trump. Qatar, Arab Saudi, dan Oman dilaporkan telah menyampaikan pesan agar AS menghindari langkah militer terhadap Teheran.
Menurut laporan News Nation awal bulan ini, negara-negara tersebut meminta Trump untuk “memberi Iran kesempatan.” Permintaan itu disampaikan melalui jalur diplomatik dengan harapan ketegangan dapat diredam tanpa penggunaan kekuatan bersenjata.
Di sisi lain, situasi di dalam negeri Iran sendiri tengah memanas. Sejak akhir Desember 2025, gelombang protes meluas di berbagai wilayah menyusul kekhawatiran publik terhadap meningkatnya inflasi akibat melemahnya nilai tukar mata uang rial.
Aksi unjuk rasa dilaporkan semakin intens sejak 8 Januari, setelah seruan yang disampaikan Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979. Pada hari yang sama, pemerintah Iran memblokir akses internet di seluruh negeri.
Di sejumlah kota, protes tersebut berubah menjadi bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan. Para pengunjuk rasa meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik pemerintah, sementara laporan menyebutkan adanya korban di pihak demonstran maupun aparat.
Sebelumnya, pada akhir Desember, Presiden Trump menyatakan akan mendukung serangan baru terhadap Iran apabila Teheran berupaya melanjutkan pengembangan program rudal dan nuklirnya. Pernyataan itu kembali mempertegas sikap keras Washington terhadap Iran.
Ketegangan semakin meningkat ketika Trump, di tengah gelombang protes di Iran, mengancam akan melancarkan serangan besar terhadap negara tersebut jika ada demonstran yang terbunuh. Ancaman itu menambah kekhawatiran berbagai pihak akan potensi eskalasi konflik di kawasan.




















