Serangan Jantung Kini Banyak Menyerang Usia Muda, Dokter Ungkap Penyebabnya
Lifestyle | Senin, 22 Juni 2026
Penyakit jantung yang selama ini identik dengan kelompok usia lanjut kini mulai mengalami perubahan tren. Dokter menemukan semakin banyak kasus serangan jantung yang terjadi pada usia muda, bahkan pada pasien berusia di bawah 30 tahun.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PDS PatKLIn), Teguh Triyono, mengatakan penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia maupun dunia. Namun, yang menjadi perhatian adalah meningkatnya jumlah pasien muda yang mengalami gangguan kardiovaskular.
"Sekarang banyak ditemukan juga pasien-pasien serangan jantung di bawah 30 tahun," ujar Teguh dalam keterangannya usai menghadiri acara LabTalk Indonesia, Powering The Future of Smart Laboratories.
Menurutnya, perubahan gaya hidup menjadi salah satu faktor utama yang mendorong meningkatnya risiko penyakit jantung pada usia muda. Kebiasaan kurang bergerak, konsumsi makanan cepat saji, serta minim aktivitas fisik dapat memperburuk kesehatan pembuluh darah.
Gaya hidup modern jadi pemicu
Teguh menyebut pola hidup sedentari atau minim aktivitas fisik semakin banyak terjadi di masyarakat. Kemudahan teknologi seperti layanan pesan makanan dan transportasi online membuat banyak orang semakin jarang bergerak.
"Dikit-dikit naik kendaraan, pesan makanan online, aktivitas fisik jadi berkurang," katanya.
Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko berbagai faktor pemicu penyakit jantung, seperti obesitas, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, hingga gangguan metabolisme.
Kerusakan pembuluh darah akibat faktor-faktor tersebut dapat berdampak serius. Jika terjadi pada pembuluh darah otak, risikonya adalah stroke. Jika menyerang pembuluh darah jantung, kondisi tersebut dapat memicu serangan jantung.
Pemeriksaan dini penting dilakukan
Dokter menilai pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko penyakit jantung sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala.
Salah satu pemeriksaan yang umum dilakukan adalah profil lemak atau lipid profile untuk mengetahui kadar kolesterol dalam tubuh. Pemeriksaan ini dapat membantu memperkirakan risiko gangguan pembuluh darah dan penyakit jantung.
"Zaman dulu orang sakit jantung itu di atas 40 atau 50 tahun. Sekarang tidak lagi," kata Teguh.
Ia menambahkan, pemeriksaan laboratorium tidak hanya berfungsi untuk mendeteksi risiko, tetapi juga membantu diagnosis dan memantau kondisi pasien setelah menjalani pengobatan.
Teknologi laboratorium semakin berkembang
Perkembangan teknologi kesehatan juga membuat pemeriksaan laboratorium semakin cepat dan akurat. Salah satunya melalui penerapan sistem Total Laboratory Automation (TLA), yang mengintegrasikan perangkat laboratorium, perangkat lunak, kecerdasan buatan (AI), dan sistem informasi.
General Manager Mindray Medical Indonesia, Conan Chen, mengatakan teknologi tersebut memungkinkan proses pemeriksaan berjalan lebih otomatis dan efisien.
Menurutnya, sistem laboratorium pintar kini tidak hanya dapat diterapkan di rumah sakit besar, tetapi juga mulai memungkinkan laboratorium dengan kapasitas lebih kecil melakukan transformasi digital.
Dengan meningkatnya kasus penyakit jantung pada usia muda, para ahli mengingatkan masyarakat untuk mulai memperhatikan pola hidup sehat sejak dini. Aktivitas fisik rutin, pola makan seimbang, menjaga berat badan, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit jantung di masa depan.



















