Sering Cemas dan Overthinking? Bisa Jadi Berkaitan dengan Kepribadian
Lifestyle | Kamis, 2 Juli 2026
Pernah merasa mudah khawatir, memikirkan sesuatu secara berlebihan, atau cemas terhadap hal-hal kecil? Sebagian orang menganggapnya hanya sebagai sifat pribadi. Namun, dalam psikologi, kecenderungan mudah cemas ternyata bisa berkaitan dengan pola kepribadian seseorang.
Salah satu konsep yang sering dikaitkan dengan kondisi ini adalah neuroticism, yaitu salah satu dimensi dalam teori Big Five Personality.
Neuroticism menggambarkan kecenderungan seseorang untuk lebih mudah mengalami emosi negatif, seperti rasa khawatir, tegang, takut, atau lebih sensitif terhadap tekanan.
Mengapa sebagian orang lebih mudah cemas?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang dengan tingkat neuroticism yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko kecemasan yang lebih besar.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychiatry menemukan hubungan yang konsisten antara neuroticism dan tingkat kecemasan. Artinya, seseorang dengan kecenderungan ini biasanya lebih cepat merespons situasi yang dianggap mengancam.
Sementara penelitian lain dalam BMC Psychology menunjukkan bahwa kecenderungan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti:
- lebih sensitif terhadap ketidakpastian,
- lebih mudah menganggap sensasi tubuh sebagai tanda bahaya,
- cenderung menghindari situasi yang memicu stres.
Misalnya, seseorang yang merasakan jantung berdebar mungkin langsung berpikir bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi, sementara orang lain bisa menganggapnya sebagai respons normal tubuh.
Cemas belum tentu berarti gangguan
Meski sering merasa khawatir, tidak semua orang yang mudah cemas mengalami gangguan kecemasan.
Kecemasan dalam batas tertentu merupakan bagian normal dari kehidupan. Rasa takut dan waspada justru membantu seseorang menghadapi risiko dan mengambil keputusan.
Perbedaannya terletak pada tingkat intensitas dan dampaknya.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gangguan kecemasan biasanya ditandai dengan rasa cemas yang berlebihan, berlangsung lama, sulit dikendalikan, serta mulai mengganggu kehidupan sehari-hari seperti:
- sulit tidur,
- terganggunya pekerjaan,
- sulit menjalani hubungan sosial,
- menghindari banyak aktivitas karena rasa takut.
Bukan berarti seseorang lemah
Orang yang mudah cemas sering kali dianggap terlalu sensitif atau terlalu banyak berpikir. Padahal, kondisi tersebut berkaitan dengan cara tubuh dan otak merespons tekanan.
Seseorang dengan kecenderungan mudah cemas bisa memiliki sistem respons stres yang lebih aktif. Mereka mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang setelah menghadapi situasi yang menegangkan.
Dengan kata lain, rasa cemas bukan semata-mata karena seseorang "lemah", tetapi bisa menjadi bagian dari cara sistem emosi bekerja.
Cara mengelola kecenderungan mudah cemas
Meskipun faktor kepribadian berperan, kecemasan tetap dapat dikelola melalui kebiasaan sehat, seperti:
- mengenali pola pikiran yang memicu kecemasan,
- membatasi kebiasaan overthinking,
- rutin berolahraga,
- menjaga kualitas tidur,
- melakukan teknik relaksasi atau pernapasan,
- berbicara dengan orang terpercaya.
Mudah cemas memang bisa menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Namun, penting untuk memahami batas antara sifat alami dan kondisi yang mulai mengganggu kehidupan. Jika kecemasan terasa sulit dikendalikan atau menghambat aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan yang tepat.



















