Status Siaga, Aktivitas Vulkanik Gunung Semeru Masih Tinggi
Jawa Timur | Kamis, 15 Januari 2026
PIFA, Jawa Timur - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang berada pada Level III atau Siaga masih tergolong tinggi. Kondisi tersebut ditandai dengan terjadinya awan panas guguran yang berulang, terutama mengarah ke sektor tenggara.
“Hal itu ditandai oleh kejadian awan panas guguran yang berulang, terutama mengarah ke sektor tenggara dengan jarak luncur sejauh 5.000 meter dari puncak ke arah Besuk Kobokan,” ujar Lana dalam keterangan tertulis yang diterima di Lumajang, Kamis.
Berdasarkan pemantauan visual dan instrumental, pada Rabu (14/1) teramati dua kali kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 5.000 meter dari puncak ke arah tenggara. Selain itu, selama periode 7–14 Januari 2026, awan panas guguran juga beberapa kali teramati dengan jarak luncur serupa dan disertai aktivitas guguran material.
Menurut Lana, aktivitas kegempaan Gunung Semeru saat ini didominasi oleh gempa letusan, gempa guguran, gempa embusan, serta tremor harmonik. Rekaman gempa tersebut mengindikasikan masih adanya suplai material dari bawah permukaan yang disertai pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan hembusan.
“Gempa-gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan hembusan,” jelasnya.
Ia menambahkan, parameter variasi kecepatan seismik (dv/v) menunjukkan fluktuasi dengan nilai simpangan yang besar. Kondisi ini menandakan sistem vulkanik Gunung Semeru berada dalam fase relaksasi dan tidak mengalami pressurisasi, namun masih sangat rentan terhadap peningkatan tekanan.
Sementara itu, hasil pemantauan deformasi menunjukkan pola yang relatif stabil. Hal tersebut diinterpretasikan tidak adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh Gunung Semeru.
“Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi, tingkat aktivitas Gunung Semeru tetap pada Level III (Siaga),” kata Lana.
Dengan status tersebut, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat, pengunjung, dan pendaki dilarang melakukan aktivitas dalam radius lima kilometer dari Kawah Jonggring Seloko. Masyarakat juga diimbau tidak memasuki sektor tenggara sejauh 13 kilometer dari puncak, yang berpotensi meluas hingga 17 kilometer di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Selain itu, warga diminta mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, khususnya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan.
Berdasarkan laporan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, pada Kamis pukul 06.00–12.00 WIB, aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih didominasi oleh gempa letusan atau erupsi sebanyak 35 kali, disertai satu kali gempa guguran, satu kali gempa embusan, dan satu kali gempa vulkanik dalam.




















