Sutradara Miracle in Cell No. 7 Garap Film Baru Berlatar Indonesia
Pifabiz | Sabtu, 23 Mei 2026
Sutradara Lee Hwan-kyung yang dikenal lewat film fenomenal Miracle in Cell No. 7 dipastikan akan menggarap proyek film baru berlatar Indonesia berjudul Gasigogi.
Film tersebut diproduksi Falcon Pictures dan dijadwalkan mulai proses syuting dalam beberapa bulan mendatang. Proyek ini akan kembali mengangkat tema emosional mengenai hubungan ayah dan anak, tema yang sebelumnya sukses besar dalam Miracle in Cell No. 7.
Lee Hwan-kyung mengaku memilih Falcon Pictures karena merasa memiliki visi emosional yang sama dalam membangun cerita.
“Untuk cerita yang begitu intim, saya mencari kemitraan yang dibangun berdasarkan resonansi emosional daripada sekadar skala komersial,” ujar Lee seperti dikutip Variety.
Ia juga memuji produser Falcon Pictures, Frederica dan HB Naveen, yang dinilai memiliki dedikasi tinggi terhadap inti dari proses pembuatan film.
Judul Gasigogi sendiri diambil dari istilah Korea yang merujuk pada ikan stickleback amur, spesies ikan kecil yang dikenal memiliki perilaku unik dan penuh pengorbanan.
Ikan jantan dari spesies tersebut menjaga telur sendirian setelah induk betina pergi. Mereka membangun sarang, mengusir predator, hingga menjaga anak-anaknya sampai kelelahan, bahkan rela menjadi makanan pertama bagi anaknya sendiri.
Makna simbolis itu menjadi dasar cerita yang ingin diangkat Lee Hwan-kyung dalam film terbarunya.
Menurut laporan Variety, Lee sebelumnya sempat ragu membawa kisah ini ke layar lebar karena merasa cerita tersebut terlalu menyakitkan secara emosional. Bila Miracle in Cell No. 7 disebut sebagai penghormatan kepada putrinya, maka Gasigogi akan menjadi refleksi tentang sosok ayah dan keluarga.
Lee juga menegaskan bahwa film ini tidak sekadar memindahkan sentimen Korea ke Indonesia, melainkan menjadi karya baru yang benar-benar berakar pada budaya dan nilai lokal Indonesia.
Ia ingin menampilkan kuatnya nilai keluarga, agama, dan hubungan sosial yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.
“Saya ingin menciptakan film yang begitu jujur dan beresonansi sehingga ketika kredit film berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan penonton adalah menelepon ayah mereka,” kata Lee.
“Saya ingin mereka memahami keheningan orang tua mereka sebelum terlambat,” lanjutnya.



















