Trump Ingin Bertemu Pemimpin Tertinggi Iran di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Internasional | Rabu, 3 Juni 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keinginannya untuk bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip AFP, Trump mengatakan pertemuan tersebut mungkin saja terjadi di masa mendatang, tergantung pada perkembangan situasi diplomatik antara Washington dan Teheran.
“Saya ingin bertemu dengannya, dan kami mungkin akan bertemu suatu saat nanti, tergantung bagaimana semuanya berjalan,” ujar Trump.
Trump juga menyebut dirinya menerima informasi bahwa kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei kurang baik. Ia bahkan mengklaim mendengar laporan bahwa pemimpin Iran tersebut mengalami luka-luka akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
“Saya tidak mendengar kabar bahwa kondisinya baik. Jika Anda percaya cerita-cerita itu, dia mengalami banyak luka di tubuh,” tambahnya.
Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat lain, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, memberikan gambaran berbeda terkait kondisi Mojtaba Khamenei. Dalam pernyataannya di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rubio menyebut ada indikasi bahwa Mojtaba masih hidup dan mulai mengambil peran lebih aktif dalam kepemimpinan Iran.
Rubio juga menyebut bahwa Mojtaba diduga mulai terlibat dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington terkait proses negosiasi pascagencatan senjata yang terjadi pada April lalu. Meski demikian, komunikasi tersebut dikabarkan dilakukan melalui perantara dan dalam bentuk tertulis.
Hingga kini, Mojtaba Khamenei belum terlihat di publik sejak serangan awal yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan melukai dirinya di Teheran. Kondisi ini memunculkan spekulasi terkait peran dan keberadaannya dalam struktur kepemimpinan Iran saat ini.
Sementara itu, proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung secara terbatas. Teheran disebut masih menelaah proposal terbaru dari Washington, di tengah belum adanya komunikasi langsung kedua negara dalam beberapa hari terakhir.



















