Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Ancam Iran dengan Serangan 100 Kali Lebih Keras
Internasional | Sabtu, 15 Agustus 2026
Reuters
Internasional | Sabtu, 15 Agustus 2026










Lokal

Sebanyak 260 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat mengikuti vaksinasi massal COVID-19, Sabtu (3/7/2021). Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Pontianak, Kalbar, Jaleha Khairan Noor menerangkan, tidak hanya warga binaan yang ikut divaksin, namun juga para pegawai lapas dan masyarakat sekitarnya. Namun, menurut Jaleh, tidak semua pegawai lapas divaksin karena ada sebagian yang sudah divaksin di Kantor Bupati Kubu Raya beberapa waktu lalu. Selain itu bagi yang divaksin, jumlahnya juga tergantung dari hasil screening yang dilakukan dokter. “Jadi semuanya yang divaksin ini di screening dulu dan mereka-mereka yang memenuhi syarat dari hasil screening itulah yang boleh diberikan vaksin,” katanya melansir antaranews.com. Beberapa waktu yang lalu, pihaknya juga telah melakukan swab antigen baik kepada warga binaan maupun kepada para pegawai lapas. Lapas Perempuan Pontianak juga membatasi masuknya pengunjung yang akan membesuk tahanan. Hal itu, guna mencegah penularan COVID-19 di lingkungan Lapas Perempuan Kelas IIA Pontianak. Bahkan, saat ini masyarakat yang akan berkunjung ke lapas sudah tidak diperbolehkan, dan diganti dengan besuk melalui video call. “Kemudian untuk meningkatkan imunitas warga binaan, kami menyiapkan program berolahraga, pembinaan mental, pembinaan keterampilan dan lain sebagainya,” tutup Jaleha.
Nasional

Berita Nasional, PIFA - Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menyita aset milik para tersangka kasus investasi bodong di Indonesia. Total aset yang disita mencapai Rp1,5 triliun. Kabareskrim Polri Komjen Agus Andrianto mengatakan bahwa penyitaan aset dilakukan sebagai langkah penegakan hukum dalam menangani aset-aset yang terindikasi merupakan hasil dari tindak pidana. "Kalau tidak salah, sudah lebih dari 1,5 triliun yang sudah kami sita. Nanti berkembang karena kerja sama kami yang baik dengan PPATK," katanya kepada wartawan, Kamis (10/3). Namun pada konferensi persnya, Agus tak mengungkapkan secara detail aset tersebut mereka yang menjadi tersangka dalam penyitaan aset. Agus menjelaskan bahwa saat ini banyak kaus-kasus investasi ilegal yang ditangani oleh kepolisian. Fenomena itu, kata dia, marak terjadi di tengah masyarakat. Dia menerangkan, beberapa kasus investasi bodong oleh tersangka dilakukan dengan beragam modus operandi dan model kejahatan ekonomi. Berkaitan dengan hal itu, Agus pun meminta agar masyarakat lebih berhati-hati lagi bila hendak berinvestasi. "Oleh sebab itu, mohon kepada masyarakat agar terhindar dari praktik investasi ilegal tersebut. Kami dari jajaran kepolisian mengimbau masyarakat berhati-hati dan tidak mudah tergiur dengan penawaran investasi yang menjanjikan keuntungan sangat tinggi," pintanya. Melansir CNN Indonesia, pihak penyidik kepolisian telah mengungkapkan beberapa kasus investasi bodong dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu bentuk investasinya ialah menggunakan modus binary option atau opsi biner yang dipromosikan oleh para influencer. Adapun dua tersangka yang telah ditangkap dan ditahan oleh polisi adalah Indra Kesuma alias Indra Kenz serta Doni Kesuma. Dari hasil penyelidikan kepolisian, keduanya memanfaatkan medium pesan singkat telegram untuk mencari member dan berbagi informasi terkait opsi biner. Pihak kepolisian mencatat anggota dari para tersangka yang tergabung dalam investasi mencapai lebih dari 20 ribu orang. (yd)
Lifestyle

PIFA.CO.ID, LIFESTYLE - Penggunaan gawai secara berlebihan pada anak usia dini berpotensi memunculkan gejala yang menyerupai autisme, meski bukan termasuk dalam gangguan spektrum autisme (GSA). Fenomena ini disebut sebagai autisme virtual, demikian diungkapkan oleh dokter spesialis anak subspesialis neurologi, dr. Amanda Soebadi, Sp.A, Subsp.Neuro.(K), M.Med.Dalam webinar yang dipantau secara daring dari Jakarta pada Selasa (15/4), Amanda menjelaskan bahwa autisme virtual merupakan istilah medis yang terdapat dalam literatur, dan menggambarkan pola perilaku anak yang menyerupai autisme akibat paparan gawai yang berlebihan.“Ini istilah betulan yang ada di literatur, pola perilakunya mirip autisme,” ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) tersebut.Amanda menyebutkan, anak usia 1-3 tahun yang terlalu sering menggunakan gawai bisa menunjukkan gejala seperti kesulitan komunikasi sosial, perilaku repetitif, serta ekspresi dan respon yang tidak lazim. Namun, gejala-gejala ini umumnya akan membaik secara signifikan ketika penggunaan gawai dikurangi.“Jika paparan gawai dikurangi, gejala bisa membaik secara cepat, seperti kontak mata saat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi wajah,” jelasnya.Ia menambahkan, pada usia tersebut anak membutuhkan stimulasi yang tepat melalui interaksi sosial langsung, bukan dari layar. Kurangnya pengalaman komunikasi dan interaksi sosial dapat menyebabkan anak tidak merespons saat dipanggil, tidak melakukan kontak mata, serta menunjukkan ekspresi wajah yang minim atau tidak sesuai.“Dia bisa menunjukkan perilaku autisme kalau misalnya dipanggil tidak merespon, kontak matanya kurang, ekspresi wajah kurang atau tidak sesuai. Itu karena kurang atau salah stimulasi,” kata Amanda.Meskipun autisme virtual bisa menunjukkan perbaikan ketika gawai dikurangi, situasi berbeda terjadi pada anak dengan autisme sesungguhnya. Pada anak dengan autisme, ketertarikan pada pola berulang dalam permainan gawai justru menjadi cerminan dari sifat autistik itu sendiri.“Perilaku autistik masih akan tetap ada walau gawai itu sebagai faktor lingkungan, bukan sebagai modifier (pengubah). Bisa saja anak dengan autisme ini mungkin perilaku ada perbaikan sedikit, tapi sifat autistik masih akan tetap ada,” lanjut Amanda.Ia juga menegaskan bahwa faktor genetik berperan besar dalam autisme. Seorang anak memiliki risiko sembilan kali lebih tinggi untuk mengalami gangguan spektrum autisme jika memiliki saudara kandung dengan kondisi serupa.Dengan temuan ini, Amanda mengimbau orang tua untuk lebih bijak dalam memberikan akses gawai pada anak usia dini. Interaksi langsung dengan orang tua, permainan fisik, dan pengalaman sosial nyata tetap menjadi kunci utama dalam tumbuh kembang yang optimal bagi anak.