UNICEF: Hampir 700 Ribu Warga Mengungsi Akibat Eskalasi Konflik Israel-Lebanon
Internasionald | Selasa, 10 Maret 2026
PIFA, Internasional - Eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon memaksa hampir 700.000 orang meninggalkan rumah mereka, termasuk sekitar 200.000 anak-anak. Hal tersebut disampaikan oleh UNICEF dalam pernyataan resminya pada Senin (9/3).
Menurut badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut, pengungsian massal terjadi di berbagai wilayah Lebanon akibat meningkatnya intensitas pertempuran dalam beberapa hari terakhir.
“Pengungsian massal di seluruh Lebanon telah memaksa hampir 700.000 orang – termasuk sekitar 200.000 anak – meninggalkan rumah mereka, menambah jumlah puluhan ribu orang yang sebelumnya sudah mengungsi akibat eskalasi,” demikian pernyataan UNICEF.
UNICEF juga melaporkan sedikitnya 83 anak tewas dan 254 lainnya terluka sejak pertempuran meningkat pada 2 Maret.
Secara keseluruhan, dalam 28 bulan terakhir konflik di Lebanon telah menyebabkan 329 anak tewas dan 1.632 lainnya mengalami luka-luka. Namun dalam enam hari terakhir saja, jumlah korban anak meningkat drastis.
“Hanya dalam enam hari terakhir, jumlah anak yang tewas naik 25 persen, sehingga totalnya mencapai angka yang mengerikan yakni 412 anak,” bunyi pernyataan tersebut.
Eskalasi konflik bermula pada 2 Maret ketika serentetan roket ditembakkan dari Lebanon ke wilayah Israel. Kelompok militan Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Sebagai balasan, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran ke sejumlah daerah berpenduduk di Lebanon, termasuk wilayah ibu kota Beirut.
Serangan tersebut memicu gelombang pengungsian besar-besaran, dengan ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka untuk mencari perlindungan di wilayah yang dianggap lebih aman di dalam negeri.



















