Warga Israel Kecewa, Anggap Trump Khianati Sekutu Setelah Damai dengan Iran
Internasional | Sabtu, 20 Juni 2026
Kesepakatan damai yang diteken Amerika Serikat dan Iran memicu kekecewaan di kalangan warga Israel. Sejumlah warga menilai Presiden AS, Donald Trump, telah mengkhianati sekutu dekatnya dengan memilih jalur diplomasi ketimbang melanjutkan tekanan militer terhadap Teheran.
"Kami sudah dikhianati oleh Presiden Trump," kata Avi Perez, warga Kota Rehovot, Israel.
Kekecewaan itu muncul setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian pada 17 Juni. Penandatanganan dilakukan secara jarak jauh oleh Trump dan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
MoU tersebut memuat 14 poin kesepakatan yang masih akan dibahas lebih lanjut dalam proses negosiasi selama 60 hari ke depan. Sejumlah pihak menilai isi kesepakatan itu lebih menguntungkan Iran dibandingkan pihak lain yang terlibat dalam konflik kawasan.
Menurut laporan yang mengutip seorang pejabat Israel, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, disebut berupaya memengaruhi isi kesepakatan yang masih akan dirundingkan lebih lanjut oleh delegasi AS dan Iran di Swiss.
Bagi sebagian warga Israel, keputusan Trump terasa mengejutkan karena mereka sebelumnya berharap Washington akan tetap memberikan tekanan keras terhadap Iran.
"Aneh sekali. Suatu hari kami berada di tempat perlindungan bom, keesokan harinya semua seharusnya normal. Tetapi tidak ada yang terselesaikan," kata Shaham Nowick, warga Rehovot yang tinggal tidak jauh dari Tel Aviv.
Kemarahan publik Israel semakin meningkat setelah Trump mendorong Israel untuk menghormati gencatan senjata dengan Hizbullah di Lebanon. Langkah itu diambil setelah Iran mengancam akan membatalkan kesepakatan damai apabila Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon.
Menurut analis politik Israel, Udi Tenne, banyak warga Israel memandang konflik di Lebanon sebagai bagian dari konfrontasi yang lebih luas dengan Iran.
"Warga Israel percaya bahwa perang di Lebanon adalah perang yang adil. Semua orang yang tinggal di Israel memahami bahwa Iran dan Hizbullah adalah satu dan sama," ujarnya.
Di tengah kritik tersebut, Trump justru meminta Israel bersikap lebih rasional dan tidak terus mendorong eskalasi konflik dengan Iran.
"Terkadang kamu hanya perlu tenang dan menggunakan akal sehatmu," kata Trump dalam wawancara dengan NBC.
Trump juga menjelaskan bahwa keputusan menempuh jalur diplomasi tidak terlepas dari kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Menurutnya, penutupan Selat Hormuz dapat memicu gangguan serius terhadap distribusi minyak dunia.
Ia memperingatkan bahwa cadangan minyak global bisa mengalami tekanan besar apabila jalur pelayaran strategis tersebut tidak kembali dibuka.
Pernyataan dan kebijakan terbaru Trump itu menandai perubahan dinamika hubungan AS-Israel dalam isu Iran. Meski kedua negara tetap bersekutu, perbedaan pendekatan terhadap Teheran kini mulai memunculkan ketegangan, baik di tingkat pemerintahan maupun di kalangan masyarakat Israel.



















